CATATAN SEDIH SEORANG B.J HABIBIE

#CATATAN SEDIH SEORANG B.J HABIBIE#

habibie

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim …

Pada usianya 74 tahun, mantan Presiden RI, BJ Habibie secara mendadak mengunjungi fasilitas Garuda Indonesia didampingi oleh putra sulung, Ilham Habibie dan keponakannya, Adri Subono, juragan Java Musikindo.

Kunjungan beliau dan rombongan disambut oleh President & CEO, Bapak Emirsyah Satar disertai seluruh Direksi dan para VP serta Area Manager yang sedang berada di Jakarta.

Dalam kunjungan ini, diputar video mengenai Garuda Indonesia Experience dan presentasi perjalanan kinerja Garuda Indonesia sejak tahun 2005 hingga tahun 2015 menuju Quantum Leap.

Sebagai “balasan” pak Habibie memutarkan video tentang penerbangan perdana N250 di landasan bandara Husein Sastranegara, IPTN Bandung tahun 1995 (tujuh belas tahun yang lalu!).

Entah, apa pasalnya dengan memutar video ini?

Video N250 bernama Gatotkaca terlihat roll-out kemudian tinggal landas secara mulus di-escort oleh satu pesawat latih dan sebuah pesawat N235. Pesawat N250 jenis Turboprop dan teknologi glass cockpit dengan kapasitas 50 penumpang terus mengudara di angkasa Bandung.

Dalam video tsb, tampak hadirin yang menyaksikan di pelataran parkir, antara lain Presiden RI Bapak Soeharto dan ibu, Wapres RI bapak Soedarmono, para Menteri dan para pejabat teras Indonesia serta para teknisi IPTN.

Semua bertepuk tangan dan mengumbar senyum kebanggaan atas keberhasilan kinerja N250. Bapak Presiden kemudian berbincang melalui radio komunikasi dengan pilot N250 yang di udara, terlihat pak Habibie mencoba mendekatkan telinganya di headset yang dipergunakan oleh Presiden Soeharto karena ingin ikut mendengar dengan pilot N250.

N250 sang Gatotkaca kembali pangkalan setelah melakukan pendaratan mulus di landasan………………

Di hadapan kami, BJ Habibie yang berusia 74 tahun menyampaikan cerita yang lebih kurang sbb:

“Dik, anda tahu…………..saya ini lulus SMA tahun 1954!” beliau membuka pembicaraan dengan gayanya yang khas penuh semangat dan memanggil semua hadirin dengan kata “Dik” kemudian secara lancar beliau melanjutkan……………..

“Presiden Soekarno, Bapak Proklamator RI, orator paling unggul, …….itu sebenarnya memiliki visi yang luar biasa cemerlang! Ia adalah Penyambung Lidah Rakyat! Ia tahu persis sebagai Insinyur………Indonesia dengan geografis ribuan pulau, memerlukan penguasaan Teknologi yang berwawasan nasional yakni Teknologi Maritim dan Teknologi Dirgantara.

Kala itu, tak ada ITB dan tak ada UI. Para pelajar SMA unggulan berbondong-bondong disekolahkan oleh Presiden Soekarno ke luar negeri untuk menimba ilmu teknologi Maritim dan teknologi dirgantara.

Saya adalah rombongan kedua diantara ratusan pelajar SMA yang secara khusus dikirim ke berbagai negara. Pendidikan kami di luar negeri itu bukan pendidikan kursus kilat tapi sekolah bertahun-tahun sambil bekerja praktek. Sejak awal saya hanya tertarik dengan ‘how to build commercial aircraft’ bagi Indonesia.

Jadi sebenarnya Pak Soeharto, Presiden RI kedua hanya melanjutkan saja program itu, beliau juga bukan pencetus ide penerapan ‘teknologi’ berwawasan nasional di Indonesia. Lantas kita bangun perusahaan-perusahaan strategis, ada PT PAL dan salah satunya adalah IPTN”.

“Sekarang Dik,…………anda semua lihat sendiri…………..N250 itu bukan pesawat asal-asalan dibikin! Pesawat itu sudah terbang tanpa mengalami ‘Dutch Roll’ (istilah penerbangan untuk pesawat yang ‘oleng’) berlebihan, tenologi pesawat itu sangat canggih dan dipersiapkan untuk 30 tahun kedepan, diperlukan waktu 5 tahun untuk melengkapi desain awal, satu-satunya pesawat turboprop di dunia yang mempergunakan teknologi ‘Fly by Wire’ bahkan sampai hari ini.

Rakyat dan negara kita ini membutuhkan itu! Pesawat itu sudah terbang 900 jam (saya lupa persisnya 900 atau 1900 jam) dan selangkah lagi masuk program sertifikasi FAA. IPTN membangun khusus pabrik pesawat N250 di Amerika dan Eropa untuk pasar negara-negara itu.Namun, orang Indonesia selalu saja gemar bersikap sinis dan mengejek diri sendiri ‘apa mungkin orang Indonesia bikin pesawat terbang?”

Tiba-tiba, Presiden memutuskan agar IPTN ditutup dan begitu pula dengan industri strategis lainnya.

“Dik tahu…………….di dunia ini hanya 3 negara yang menutup industri strategisnya, satu Jerman karena trauma dengan Nazi, lalu Cina (?) dan Indonesia………….”

“Sekarang, semua tenaga ahli teknologi Indonesia terpaksa diusir dari negeri sendiri dan mereka bertebaran di berbagai negara, khususnya pabrik pesawat di Bazil, Canada, Amerika dan Eropa…………….”

“Hati siapa yang tidak sakit menyaksikan itu semua…………………?”

“Saya bilang ke Presiden, kasih saya uang 500 juta Dollar dan N250 akan menjadi pesawat yang terhebat yang mengalahkan ATR, Bombardier, Dornier, Embraer dll dan kita tak perlu tergantung dengan negara manapun”.

“Tapi keputusan telah diambil dan para karyawan IPTN yang berjumlah 16 ribu harus mengais rejeki di negeri orang dan gilanya lagi kita yang beli pesawat negara mereka!”

Pak Habibie menghela nafas…………………..

***

Ini pandangan saya mengenai cerita pak Habibie di atas;

Sekitar tahun 1995, saya ditugaskan oleh Manager Operasi (JKTOF) kala itu, Capt. Susatyawanto untuk masuk sebagai salah satu anggota tim Airline Working Group di IPTN dalam kaitan produksi pesawat jet sekelas B737 yang dikenal sebagai N2130 (kapasitas 130 penumpang).

Saya bersyukur, akhirnya ditunjuk sebagai Co-Chairman Preliminary Flight Deck Design N2130 yang langsung bekerja dibawah kepala proyek N2130 adalah Ilham Habibie. Kala itu N250 sedang uji coba terus-menerus oleh penerbang test pilot (almarhum) Erwin.

Saya turut mendesain rancang-bangun kokpit N2130 yang serba canggih berdasarkan pengetahuan teknis saat menerbangkan McDonnel Douglas MD11. Kokpit N2130 akan menjadi mirip MD11 dan merupakan kokpit pesawat pertama di dunia yang mempergunakan LCD pada panel instrumen (bukan CRT sebagaimana kita lihat sekarang yang ada di pesawat B737NG).

Sebagian besar fungsi tampilan layar di kokpit juga mempergunakan “track ball atau touch pad” sebagaimana kita lihat di laptop.

N2130 juga merupakan pesawat jet single aisle dengan head room yang sangat besar yang memungkinkan penumpang memasuki tempat duduk tanpa perlu membungkukkan badan. Selain high speed sub-sonic, N2130 juga sangat efisien bahan bakar karena mempergunakan winglet, jauh sebelum winglet dipergunakan di beberapa pesawat generasi masa kini.

Saya juga pernah menguji coba simulator N250 yang masih prototipe pertama……………..

N2130 narrow body jet engine dan N250 twin turboprop, keduanya sangat handal dan canggih kala itu………bahkan hingga kini.

Lamunan saya ini, berkecamuk di dalam kepala manakala pak Habibie bercerita soal N250, saya memiliki kekecewaan yang yang sama dengan beliau, seandainya N2130 benar-benar lahir………….kita tak perlu susah-susah membeli B737 atau Airbus 320.

***

Pak Habibie melanjutkan pembicaraannya………………..

“Hal yang sama terjadi pada prototipe pesawat jet twin engines narrow body, itu saya tunjuk Ilham sebagai Kepala Proyek N2130. Ia bukan karena anak Habibie, tapi Ilham ini memang sekolah khusus mengenai manufakturing pesawat terbang, kalau saya sebenarnya hanya ahli dalam bidang metalurgi pesawat terbang. Kalau saja N2130 diteruskan, kita semua tak perlu tergantung dari Boeing dan Airbus untuk membangun jembatan udara di Indonesia”.

“Dik, dalam industri apapun kuncinya itu hanya satu QCD,

Q itu Quality, Dik, anda harus buat segala sesuatunya berkualitas tinggi dan konsisten? C itu Cost, Dik, tekan harga serendah mungkin agar mampu bersaing dengan produsen sejenis? D itu Delivery, biasakan semua produksi dan outcome berkualitas tinggi dengan biaya paling efisien dan disampaikan tepat waktu!Itu saja!”

Pak Habibie melanjutkan penjelasan tentang QCD sbb:

“Kalau saya upamakan, Q itu nilainya 1, C nilainya juga 1 lantas D nilainya 1 pula, jika dijumlah maka menjadi 3. Tapi cara kerja QCD tidak begitu Dik………….organisasi itu bekerja saling sinergi sehingga yang namanya QCD itu bisa menjadi 300 atau 3000 atau bahkan 30.000 sangat tergantung bagaimana anda semua mengerjakannya, bekerjanya harus pakai hati Dik………………”

Tiba-tiba, pak Habibie seperti merenung sejenak mengingat-ingat sesuatu ………………………

“Dik, ……….saya ini memulai segala sesuatunya dari bawah, sampai saya ditunjuk menjadi Wakil Dirut perusahaan terkemuka di Jerman dan akhirnya menjadi Presiden RI, itu semua bukan kejadian tiba-tiba. Selama 48 tahun saya tidak pernah dipisahkan dengan Ainun, ………..ibu Ainun istri saya. Ia ikuti kemana saja saya pergi dengan penuh kasih sayang dan rasa sabar.

Dik, kalian barangkali sudah biasa hidup terpisah dengan istri, you pergi dinas dan istri di rumah, tapi tidak dengan saya. Gini ya…………saya mau kasih informasi……….. Saya ini baru tahu bahwa ibu Ainun mengidap kanker hanya 3 hari sebelumnya, tak pernah ada tanda-tanda dan tak pernah ada keluhan keluar dari ibu……………………”

Pak Habibie menghela nafas panjang dan tampak sekali ia sangat emosional serta mengalami luka hati yang mendalam…………… seisi ruangan hening dan turut serta larut dalam emosi kepedihan pak Habibie, apalagi aku tanpa terasa air mata mulai menggenang.

Dengan suara bergetar dan setengah terisak pak Habibie melanjutkan……………………

“Dik, kalian tau……………..2 minggu setelah ditinggalkan ibu…………suatu hari, saya pakai piyama tanpa alas kaki dan berjalan mondar-mandir di ruang keluarga sendirian sambil memanggil-manggil nama ibu……… Ainun……… Ainun …………….. Ainun …………..saya mencari ibu di semua sudut rumah.

Para dokter yang melihat perkembangan saya sepeninggal ibu berpendapat ‘Habibie bisa mati dalam waktu 3 bulan jika terus begini…………..’ mereka bilang ‘Kita (para dokter) harus tolong Habibie’.

Para Dokter dari Jerman dan Indonesia berkumpul lalu saya diberinya 3 pilihan;

1. Pertama, saya harus dirawat, diberi obat khusus sampai saya dapat mandiri meneruskan hidup. Artinya saya ini gila dan harus dirawat di Rumah Sakit Jiwa!

2. Opsi kedua, para dokter akan mengunjungi saya di rumah, saya harus berkonsultasi terus-menerus dengan mereka dan saya harus mengkonsumsi obat khusus. Sama saja, artinya saya sudah gila dan harus diawasi terus……………

3. Opsi ketiga, saya disuruh mereka untuk menuliskan apa saja mengenai Ainun, anggaplah saya bercerita dengan Ainun seolah ibu masih hidup.

Saya pilih opsi yang ketiga……………………….”

Tiba-tiba, pak Habibie seperti teringat sesuatu (kita yang biasa mendengarkan beliau juga pasti maklum bahwa gaya bicara pak Habibie seperti meloncat kesana-kemari dan kadang terputus karena proses berpikir beliau sepertinya lebih cepat dibandingkan kecepatan berbicara dalam menyampaikan sesuatu) …………………. ia melanjutkan pembicaraannya;

“Dik, hari ini persis 600 hari saya ditinggal Ainun…………..dan hari ini persis 597 hari Garuda Indonesia menjemput dan memulangkan ibu Ainun dari Jerman ke tanah air Indonesia…….

Saya tidak mau menyampaikan ucapan terima kasih melalui surat…………. saya menunggu hari baik, berminggu-minggu dan berbulan-bulan untuk mencari momen yang tepat guna menyampaikan isi hati saya. Hari ini didampingi anak saya Ilham dan keponakan saya, Adri maka saya, Habibie atas nama seluruh keluarga besar Habibie mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya, kalian, Garuda Indonesia telah mengirimkan sebuah Boeing B747-400 untuk menjemput kami di Jerman dan memulangkan ibu Ainun ke tanah air bahkan memakamkannya di Taman Makam Pahlawan. Sungguh suatu kehormatan besar bagi kami sekeluarga. Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih atas bantuan Garuda Indonesia”

Seluruh hadirin terhenyak dan saya tak kuasa lagi membendung air mata…………………………

Setelah jeda beberapa waktu, pak Habibie melanjutkan pembicaraannya;

“Dik, sebegitu banyak ungkapan isi hati kepada Ainun, lalu beberapa kerabat menyarankan agar semua tulisan saya dibukukan saja, dan saya menyetujui…………………

Buku itu sebenarnya bercerita tentang jalinan kasih antara dua anak manusia. Tak ada unsur kesukuan, agama, atau ras tertentu. Isi buku ini sangat universal, dengan muatan budaya nasional Indonesia. Sekarang buku ini atas permintaan banyak orang telah diterjemahkan ke beberapa bahasa, antara lain Inggris, Arab, Jepang….. (saya lupa persisnya, namun pak Habibie menyebut 4 atau 5 bahasa asing).

Sayangnya buku ini hanya dijual di satu toko buku (pak Habibie menyebut nama satu toko buku besar), sudah dicetak 75.000 eksemplar dan langsung habis. Banyak orang yang ingin membaca buku ini tapi tak tahu dimana belinya. Beberapa orang di daerah di luar kota besar di Indonesia juga mengeluhkan dimana bisa beli buku ini di kota mereka.

Dik, asal you tahu…………semua uang hasil penjualan buku ini tak satu rupiahpun untuk memperkaya Habibie atau keluarga Habibie. Semua uang hasil penjualan buku ini dimasukkan ke rekening Yayasan yang dibentuk oleh saya dan ibu Ainun untuk menyantuni orang cacat, salah satunya adalah para penyandang tuna netra. Kasihan mereka ini sesungguhnya bisa bekerja dengan nyaman jika bisa melihat.

Saya berikan diskon 30% bagi pembeli buku yang jumlah besar bahkan saya tambahkan lagi diskon 10% bagi mereka karena saya tahu, mereka membeli banyak buku pasti untuk dijual kembali ke yang lain.

Sekali lagi, buku ini kisah kasih universal anak manusia dari sejak tidak punya apa-apa sampai menjadi Presiden Republik Indonesia dan Ibu Negara. Isinya sangat inspiratif……………….”

***
Saya menuliskan kembali pertemuan pak BJ Habibie dengan jajaran Garuda Indonesia karena banyak kisah inspiratif dari obrolan tersebut yang barangkali berguna bagi siapapun yang tidak sempat menghadiri pertemuan tsb. Sekaligus mohon maaf jika ada kekurangan penulisan disana-sini karena tulisan ini disusun berdasarkan ingatan tanpa catatan maupun rekaman apapun.

Jakarta, 12 Januari 2012

Salam,
Capt. Novianto Herupratomo

***
Cerita itu saya kutip dari notes facebook disini, sebuah renungan yang seharusnya menjadi perhatian bagi kita. Betapa menyedihkan sebuah bangsa yang tak pernah menghargai orang berilmu! Tak pernah memberi kesempatan kepada anak bangsa untuk menjadikan bangsanya mandiri! Entah ada apa dengan negara ini…! Entah dimana mata dan telinga para penguasa diletakkan!

Saya seorang peneliti, yang tahu betul bagaimana kami dilatih untuk bertindak. Bahwa kami harus melakukan segala macam upaya agar output yang dihasilkan adalah output yang QCD!

Tak sekali dua kali proposal yang sudah kami susun berhari-hari bahkan berminggu-minggu mengalami pernyempurnaan di segala sisi? Tak sekali dua kali para evaluator selalu menjadi pendamping kami dalam melaksanakan serangkaian percobaan.

Tak sedikit pikiran dan tenaga kami habis untuk bagaimana selalu menyempurnakan metode hingga output tercapai. Kami juga kadang tak berontak saat kerja bertahun-tahun tapi gaji yang kami dapat hanya setara dengan goyangan ngebor Inul satu jam! dan yang lebih menyedihkan, karya kami hanya mendapat cibiran, jika tidak akhirnya dipinggirkan!

Entah apa yang ada di benak para penguasa negeri ini! sepertinya posisi orang berilmu memang sudah tak lagi mendapat tempat, jadi siapa yang salah jika akhirnya mereka mencari tempat lain?

Dan saya perempuan, dan seorang muslimah. Maka apapun profesi saya, saya tetaplah muslimah dan perempuan. Seseorang yang mendapat kehormatan dan kemuliaan menjadi seorang Ummu warobatul bait, Istri sekaligus Ibu dan pengatur rumah tangga.

Maka jika aktivitas dan profesi yang kutekuni menjadikanku abai terhadap peranku, aku akan meninggalkannya dan memilih tempat yang lebih memuliakanku, yaitu menjadi Ibu dan pengatur rumah tangga. Bukan seorang Ibu semu, yang hanya berperan melahirkan dan memberi makan, tanpa pernah menjadi teladan, pengajar, pendengar dan teman untuk anak-anaknya…

Dan entah apa yang ada di benak para penguasa negeri ini, jika RUU Kesetaraan Gender lalu diketok palu menjadi UU!… bersiaplah menjadi orang-orang yang menggoreskan catatan sedih, dengan kebijakan negeri ini…

***
…. Segala puji bagi Allah, yang dengan nikmat-Nya sempurnalah semua kebaikan ….

sumber : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=458251830922394&set=a.201766856570894.51875.190961617651418&type=1
http://iptn-n250.blogspot.com/2013/04/catatan-dari-bj-habibie.html

dari beberapa Komentar di Facebook link di atas, saya akan tampilkan beberapa komentar saja dr sekitar hampir 700 komentar.

Eka Susanto
Kisah ditutupnya IPTN dialami langsung oleh Paman (adik kandung bapak)..
Disini sy bingung, apa yg harus diutamakan, Nasionalisme atau Kebutuhan Keluarga?
Ketika masih tercatat sebagai karyawan IPTN keadaan ekonomi Paman dibilang pas2an sehingga sering menghubungi Bapak untuk meminta pertolongan..
Namun setelah IPTN bubar, Paman ditarik sebagai tenaga ahli Industri Pesawat Terbang Malaysia dan kehidupan pun mulai membaik hingga sekarang alhamdulillah bisa dibilang berkecukupan, telah bisa membiayai anak sulung menjadi seorang dokter..
Akankah ini terjadi jikalau IPTN tidak dibubarkan? Negara kita kadang lupa akan kesejahteraan orang2 yg ingin membangunNya..

Gad Pascalis
Andai banyak orang tau.. Fokker,salah satu produsen pesawat asal Belanda,dulu bangkrut,salah satu faktornya karena teknologi jet aircraftnya kalahh dgn N250 yg notabene Turbopropeller aircraft.. Stlh proyek ditutup,insinyur IPTN keluar negri dan banyak yg masuk ke prusahaan penerbangan luar..dan salah satu pengembang dr winglet Boeing 737 800/900 ini adalah insinyur IPTN yg pindah mjd warga negara Amerika.. Miris ya..

Putra Islam Ubay Diar
Ketemu langsung dengan pak habibi di acada dialog di hotel bidakara basa duduk di kursi vip….mendengar langsung orasi bliau tentang demokrasi perjalanan bliau sampai menjadi presiden,sampai kisah bersama bu ainupun bliau selipkan,nampak dari wajah dan ktulusannya bliau bnar2 berjuang dengan cinta meminpin dengan cinta…sosok luar biasa,agamanya kuat, cerdas,ini bener2 orang baik
lantas saat dia bilang umur sy 80 walau sebenarnya 74 tp bliau beberapa langkah memajukan umurnya karena bliau selalu ingin percepatan….untk maju,berfikir kdepan,lantas bliau menyinggung masalah mati…tanpa sadar mata bergelinang air mata…..waduuuuuh gk kuat lg deh …….l love u pak habibi

Desi Melinda Aufit
Jd inggat ketika ikut kirab remaja nosional 93 pernah ke IPTN kunjungan ke pabrik pesawat terbang nusantara dan mendapat penjelasan kehebatan N 250 atau gatot kaca rasa bangga sebagai putra bangsa indonesia banyak juga perwakilan negara asean dan jepang australia mereka memberi pertanyaan tentang pesawat si gatot kaca krisis moneter membuyarkan mimpi habibie dan bangsa kita banyak karyawan IPTN orang pintar jd penganguran sekarang banyak anak bangsa ini bekerja dipabrik pesawat air bus dan boing kita dengan bangga bisa membeli nya semoga mimpi habibie bisa jadi nyata u menghidupkan kembali IPTN

Rimba Papua
Tahun 2008 sy sempat bertandang ke iptn Dan bertemu dengan salah satu teman disana, Dlm pertemuan tsb sy diperlihatkan tumpukan berkas cv para engineer yang Akan dismal urban ke luar negeri, karena program IMF Yg melarang pemerintah mengucurkan Dana untuk perusahaan profit. Akhirnya para engineer itu kerja Di industri strategies diluar negeri, Bahkan Iran,, karena kita tertipu Oleh IMF, Yg ingin mencegah bangsa ini bisa bersaing dengan produsen Pesawat Dari America Dan eropa.

ALie Ridlo M
Saya sangat bangga sebagai mantan karyawan IPTN. Apalgi padabsaat first flightbN250.ini adalh pesawt tercanggih dan paling safe di kelasnya.Bila N250 didukung oleh rakyat dan pemerintah Indonesia…tidak ada ATR 72 buatan Perancis….Fokker pun lansungtutup….sayang bangsa kita tidak bangga dengan punya sendiri. Segala sesuatu yang berbau asing dianggap bagus. Menal feodal….tentunya akan susah maju bila tidak diubah….sekali lagi I am very very proud with N250, dan Tentunya dengan Pak Habibie…walopun saya sudah tifak kerja lagi di IPTN. T

Kika Sri Utami Wirawijaya
Uumm kenapa ya dulu N250 gagal? Bukankah sudah berhasil terbang? Saya teringat dulu yg beli ada beberapa negara.. tp dalam ingatan saya yg agak lucu, pesawatnya ditukar komoditas pangan? Apa ada yg bisa ceritakan?

balesan u Kika Sri Utami
Sigit Setiawan
Tidak gagal, tapi tidak bisa menjalani sertifikasi karena kekurangan dana. Hal ini disebabkan salah satu syarat IMF untuk meminjamkan uang ke Indonesia adalah tidak memberikan lagi subsidi ke IPTN. CN235 memang dibeli dengan ditukar dengan beras ketan. Tetapi menurut saya itu biasa aja, kan yang penting dibayar sesuai harganya, metoda pembayarannya sih terserah aja, mau beras ketan, uang tunai, atau emas yaa biasa aja. Coba jika N-250 dan N-2130 bisa selesai dibuat dan dipasarkan, pasti ATR 72 & ATR 42 nggak laku dijual atau bahkan tidak dibuat karena ada N-250 yang lebih dulu dan lebih canggih, Boeing 737 dan Airbus A320 juga mendapat saingan berat dari N-2130. Pada saat itu IPTN mau membuka pabrik pesawat di Mobile, Alabama, Amerika Serikat untuk merakit N-250 dan nantinya N2130. Hanya Indonesia yang mampu seperti itu, negara dunia ketiga membuat pabrik di negara maju. Sayang semua buyar

Nurhayati Bizzy
Waktu saya ke jerman, di bandara Frankfurt saya ketemu org Indonesia yg buat macam2 alat elektronik tuk Jerman. Dia org Surabaya yg kerja di Hamburg. Katanya banyak org Ind. disana. Saya pikir setelah jadi nanti alat yg bermacam2 itu dijual ke Ind. Kita beli tapi sebenarnya yg buat org Ind. Ironi memang.

Imawati Teguh
Skripsiku kebetulan di IPTN…tiap pagi ke IPTN ambil data..ketemu org2 di sana..pegawai IPTN ramah2..pabriknya bersih…biasanya pagi ilham habibie udah dateng naik bentley-nya…waktu keputusan penutupan IPTN….diriku termasuk org yg paling sedih….pegawainya pinter2..industrinya strategis…pasti ada desakan pihak asing utk menutup pabrik tsb….

Ira Mutiara Sari
saya juga bekerja di JKTOF dan baru menyadari penulis note ini Cp. Novianto H, beliau menjabat sbg Direktur Oprasi di Garuda Indonesia. Sangat terharu dan bangga dgn kisah Pak Habibi yg beliau tuliskan dalam note d atas.

Iskandar Zulkarnain Nasution
Itulah negara kita Indonesia Raya Merdeka-merdeka. Tahun 2010 Pemerintah Singapore melalui konjennya di Medan memberikan fasilitas bagi para pemuda Indonesia sbb : Pemuda Indonesia pemenang olimpiade saints minimal tingkat provinsi dapat melanjutkan kuliah di Singapore dengan fasilitas diberikan bea siswa hinggah tamat kuliah, diberikan kredit dan pembayarannya nanti kalau sudah bekerja, seluruh akomodasi ditanggung pemerintah Singapore. Sementara Pemerintah Indonesia hanya memberikan kemudahan kepada mereka untuk masuk PTN. Mereka tidak dipermudah juga lulus masuk PTN, mereka pintar2.

Elly Suradikusumah
Kekecewaan pak Habibie sangat wajar,dan walau tdk nengertisama sekali ttg teknologi penetbangan, saya yakin, seandaibya tdk dihentikan, negeri kita akan maju oesat. Saya ingat suatu wkt yng telah lama berlalu, di LN. Seorang dari asia tdk percaya bhw kami orang indonesia, sdh punta tv pribadi, tdk hrs nonton di lapangan. Dia tetap tdk percaya. Kemudian saya bilang, negeriku nalah sdh bikin pesawat, wkt itu Nurtanio yg bikin. Dia makin tdk percaya. Gila.
Bagian akhir tentang jenangan beliau pada ibu Ainun, menguras air nata saya. Semoga ibu ainun diberi tempat terbaik oleh Alloh swt, dan pak Habibi diberi kesabaran n jetawakkalan , karena oada dasarnya beliau memang tawakkal od Alloh. Aamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s