Air Terjun Sindang Gila (perjalanan di kaki gunung rinjani jilid 1)

Kamis 06 juni 2013

Sindang Gila Waterfall

Sindang Gila Waterfall by Caderabdul

Sudah hampir 4 bulan saya tinggal di mataram. tepatnya 3 bulan 23 hari, saya tinggal di provinsi Mataram. selama 4 bulanan itu, saya sudah mengunjungi beberapa pantai, mulai dari pantai yang paling kotor (long baloq, sekarang wis agak bersih karena pihak swasta bersedia mengolahnya) sampai ke pantai paling bersih di pantai mawun. Mulai dari pantai pasir hitam di pantai induk sampai dengan pantai pasir putih di Pantai Tanjung Aan. Alhamdulillah pada liburan yang bertepatan dengan hari israk mikraj ini, beberapa kawan kantor yang tidak pulang kampung mengajak saya untuk jalan-jalan yang bernuansa pegunungan yaitu air terjun Sindang Gila dan Tiu Kelep di kabupaten Lombok utara.

Sindang Gila

Sindang Gila

Pukul 08.00 pagi, rombongan sudah siap dengan dua mobil. Rombongan terdiri dari 11 orang, 6 orang cewek dan 5 orang cowok. Perjalanan menuju ke Lombok utara bisa menggunakan 2 jalur. Jalur pegunungan dengan menggunakan jalur tengah, dan jalur pantai dengan melewati pesisir pantai termasuk pantai senggigi. Telah diputuskan bahwa berangkatnya akan menggunakan jalur pegunungan karena jaraknya lebih pendek. Sedangkan untuk jalur pantai lebih jauh karena harus bergerak memutar mengikuti pesisir pantai.

sindangGila1

Setelah berjalan selama 30 menit. Kami melewati rimbunnya pohon-pohon daerah pegunungan. Di sinilah saya melihat beberapa pohon coklat dan salak mataram. tapi sayang pohon-pohon tersebut sedang tidak berbuah. di samping kiri jalan ada mata air “Semat Semaya”. Saya jadi penasaran ingin ke mata air tersebut. Sementara pembalap kita, Reza semakin kencang menancapkan gasnya. Sesekali saya melihat ke jalan raya. Ternyata bebebapa kawanan kera berada di samping kanan kiri jalan raya.

Pose

Pose

Saya mencoba berpikir kenapa kawanan kera tersebut berada di pinggir-pinggir jalan. Apakah stok makanan di dalam pegunungan telah habis?. Atau memang kera-kera tersebut terbiasa menunggu makanan dari para pengendara?. Mungkin seandainya saya bisa mengerti bahasa kera, saya bisa tau jawabannya. Kawan saya yang ada di Lombok Utara, dia bilang “jangan mengganggu kera-kera yang ada disini apalagi membunuhnya, karena kamu akan dicari sampai kapan pun”.
Kawan itu lalu bercerita bahwa dulu ada temannya yang pernah menabrak kawanan kera tersebut. kawannya yang menabrak kera tersebut ditungguin saat dia melewati jalur pegunungan itu lagi. Jadi walaupun teman kawanku itu telah lama tidak melewati jalur ini. ketika dia melewati jalur ini, kawanan kera (keluarga kera yang meninggal tersebut) sudah menungguinya. Si kera tersebut mungkin mengingat-ngingat tanda-tanda mobil penabrak keluarganya. Begitu lah salah satu bukti kecerdasan kera.

trekkingSetelah 1 Jam perjalanan akhirnya kami sampai di daerah Pemenang, kabupaten Lombok Utara. ku         liat jam tangan menunjukkan pukul 9.00. kanan kiri jalan sudah banyak bangunan-bangunan seperti toko-toko, komplek perkantoran dan pasar. Di depan saya, saya melihat gapura “Welcome to Bangsal”. Rikky yang duduk di samping kiri saya menjelaskan bahwa kalo lurus ke penyeberangan gili trawangan sedangkan kalo ke kiri ke arah senggigi. Saya mencoba mengingat saat saya dan andri pernah backpakeran ke gili trawangan tahun 2010 melewati gapura tersebut.

Tidak jauh dari gapura tersebut, ada pantai dengan pohon kelapanya, itulah pantai “Medana bay Marina”. Pantai akan terasa lebih indah saat menikmati sunset dengan pohon nyiurnya. Sungguh Indaaaah kawan. Lupakan dulu Medana bay Marina, mari kita beralih ke pantai Sire dengan lapangan golfnya. Dari nama-nama yang terlihat di pinggir jalan tersebut, membuatku semakin penasaran. Sayang itu bukan tujuan kami yang sebenarnya. Setelah perjalanan 30 menit dari pemenang. Saya melihat penunjuk arah air terjun “Welcome to Pupus Waterfall”. Kami pun rela melewati air terjun tersebut. Rikky menjelaskan kepada kami bahwa air terjun Pupus ini berada di kaki gunung Rinjani. Tidak jauh dari air terjun Pupus, ada lagi air terjun, “Gangga Waterfall” namanya. Di petunjuk air terjun Gangga tersebut tertulis sekitar 7 Km.

Kalau di India ada sungai gangga maka di Lombok ada air terjun gangga. Berdasarkan dari twitterland @kelilinglombok. Ada 3 air terjun jenis “gangga “. Dan itu ada di beberapa lokasi, dimana antara gangga yang satu dengan gangga yang lain memiliki kekhasan yang juga berbeda. Saya baru menemukan satu air terjun gangga, yang lain ntah ada di sebelah mana. Semoga suatu saat bisa mengunjungi ke tiga jenis air terjun Gangga tersebut.

Jalan II sedang diperbaiki

trekking II sedang diperbaiki

Si Reza makin melaju kecepatannya. Para penumpang kursi bagian belakang harus lebih waspada. Si Sopir sering lupa/tidak tau kalau ada penumpang di bagian belakang. Sering si sopir membuat kaget para penumpangnya, misal ada jalan yang berlubang, atau jalan yang kontur tanahnya naik turun. Begitulah seseorang ketika dia masih memimpin, kadang sering lupa terhadap yang dipimpinnya dan juga sering bikin kaget para rakyatnya.

Jam menunjukkan pukul 09.45 Wita. Ada pertigaan jalan. petunjuk arah menunjukkan ke kanan menuju kecamatan Santong, lurus menuju ke kecamatan Bayan. Karena Sindang Gila berada di kawasan kecamatan Bayan, kami pun mengambil arah kecamatan Bayan.

Rikky bercerita bahwa Warga Bayan bukan warga lombok maupun warga sumbawa. Disini ada suku bayan sendiri. Bahasa yang digunakan pun menggunakan bahasa suku Bayan. Biasanya orang-orang yang terhormat disini menggunakan gelar Raden sebagaimana gelar kehormatan di Suku Jawa. Konon katanya, murid Sunan Giri yang bernama Raden Sunan Bayan adalah orang yang menyebarkan islam pertama kali di kawasan bayan. Sehingga untuk mengenang Sunan Bayan tersebut dijadikanlah nama kecamatan di kawasan Bayan. Tapi apakah bahasa suku bayan yang digunakan masyarakat bayan akan mirip dengan bahasa jawa. Saya pun belum tahu.

jalan menuju Sindang Gila

trekking III Sindang Gila

Tidak jauh dari pertigaan kami langsung disuguhi “Selamat datang di desa akar-akar”, desa sukadana. Saya pun mulai menerka apa maksud kawasan desa akar-akar tersebut. Apakah karena di desanya banyak akar-akar pohon besar ataukah rumah-rumah adatnya terbuat dari akar-akar?. Apakah rasa penasaran saya akan terobati perjalanan pulang nanti?. Gapura besar dengan tulisan “selamat Datang Kawasan Tradisional Akar-akar” membuat Reza juga penasaran dan ingin juga ke kawasan tersebut. Keinginan saya ternyata sama dengan keinginan reza. Reza berhasrat mampir setelah pulang dari air terjun. Aku hanya mengamini dalam hati “amin”.

Tidak jauh dari kawasan Rumah adat akar-akar ada kawasan rumah adat segenter. Beberapa kawasan yang kami lewati hanya membuatku semakin penasaran saja.

Saat melewati kawasan pedesaan yang asri tersebut, saya melihat cerobong Asap yang mengeluarkan asap yang saat tebal. Saya tidak tau pabrik itu, si Rikky menduga bahwa itu pabrik coral. Harusnya setiap perusahaan memiliki AMDAL yang bagus. sehingga hal-hal yang merusak alam dapat dikurangi.

Memasuki desa Anyar. Tidak ada yang unik di desa Anyar ini. Hanya ada dua aliran sungai. Sebetulnya bukan aliran sungai lebih tepatnya bekas aliran lahar dan lava saat gunung rinjani masih aktif. Jarak antara sungai satu dengan yang lainnya sekitar 2 km.

Di kawasan ada yang agak unik karena banyak kebun kacang yang dibagian pinggir ladangnya ditanami kacang polong. Pada kacang polong tersebut ditancapkan kayu-kayuan/bambu yang sudah mati. Sehingga kacang polong tersebut akan merambat sesuai dengan bentuk kayunya.
“Selamat Datang di Desa Karang Bajo”, “Desa siaga aktif”. Itulah tulisan di gapura selamat datang memasuki desa karang bajo.

Tepat jam 10.20 Wita, kami memasuki kawasan desa Senaru. Untuk membedakan desa senaru dengan desa yang lain sangatlah gampang. Cukup hanya dengan membedakan rumah-rumah di pinggir kanan kiri jalan. Di samping kanan kiri jalan kawasan senaru banyak dipenuhi homestay, Resort, Restoran, penginapan, cafe termasuk pemandu trekking ke gunung rinjani. Anda tidak akan merasa asing disini. Yakinlah karena disini anda akan menikmati hal-hal yang seru apalagi kalau sempat bermalam disini walau hanya semalam. Unforgetable experience.

Akhirnya kami tiba di kawasan Sindang Gila, terminal Senaru pada jam 10.30. kami pun parkir mobil di kawasan terminal senaru. Karena cuaca alam sedang gerimis, akhirnya kami berteduh dulu di Cafe Edelweiss. Sambil menunggu hujan reda, kami pun mencoba melihat-lihat di dalam cafe Edelweiss. Ternyata cafe Edelweiss tidak hanya menawarkan makanan minuman, tetapi lebih dari semuanya. Mulai soft trekking sampai hard trekking ke gunung Rinjani.

Cafe Edelweiss

Cafe Edelweiss

Ada beberapa paket untuk trekking ke Rinjani. Mulai harga paket 1 day, 1 night (1.100.000 rupiah) sampai dengan paket 3 days, 4 night (4.000.000 rupiah). Teman kami pun, Dina, minta kartu nama cafe Edelweiss. Semoga akhirnya tahun ini ada kesempatan waktu dan dana yang memadai. Amin..(semoga dikabulkan).

Di senaru ternyata ada 3 kawasan air terjun. Waktu tempuh terdekat adalah Sindang Gila sekitar 20 menit, Tiu Kelep sekitar 40 menit, dan Air terjun terjauh adalah Betara Lenjang sekitar 7 km. Pemandu cafe Edelweiss menyarankan ke kami untuk tidak trekking ke Betara Lenjang karena lokasinya terlalu jauh.

Hujan Sudah reda, langit pun mulai cerah. Kami pun siap terjun ke Sindang Gila. Untuk memasuki dua air terjun Sindang Gila dan Tiu Kelep, kami hanya membayar 5 ribu rupiah. Cukup murah kawan.

Trekking menurun, dan cukup bagus dan ada pegangannya. Ternyata di akhir trekking ada tempat beristirahat seperti Gazebo. Trekking yang kedua adalah trekking yang sedang diperbaiki. Sehingga kami harus berjalan di bagian pinggir. Di sini ada tempat istirahatnya. Dan trekking yang ketiga adalah trekking lama, tapi masih cukup bagus untuk dilalui. Disini pun ada tempat pemberhentiannya. Di Gazebo terakhir inilah, ada semacam terowongan air yang keluar dari dalam tanah.

Terowongan tersebut cukup untuk seseorang untuk jalan jongkok. Dari Gazebo terakhir inilah, kita bisa melihat air terjun Sindang Gila. Sayang tidak bisa di foto dari sini karena terhalang oleh pepohonan. Saya dan kawan-kawan pun turun lagi menuju air terjun Sindang Gila. Orang-orang yang berkunjung cukup ramai. Ada beberapa rombongan lain yang menggunakan bus pariwisata dan beberapa mobil. Maklum hari ini adalah hari libur, sehingga cukup ada banyak waktu jalan-jalan bareng keluarga. Saya pun langsung mengabadikan beberapa foto sebagai kenang-kenangan. Pengunjungnya ada yang berasal dari wisatawan dalam negeri maupun wisatawan luar negeri.

Jujur saya cukup bingung, akan mengambil dari sudut bagian mana. Maklum saya hanyalah pemula. Beberapa kawan yang membawa kamera sibuk dengan kameranya. Sebagian yang lain menikmati derasnya air terjun sambil merasakan dinginnya suasana pegunungan. Saya pun sibuk dengan aktivitas memotret dari berbagai sisi. Sisi depan, kanan, dan kiri. Hampir sekitar 40 menit kami di Sindang Gila ini. Sungguh seger, menikmati segernya air terjun dengan angin sepoy-sepoynya.

saat mau mengambil foto di batuan yang dialiri air Sindang Gila, kaki saya terkilir. saya pun terjatuh, siku tangan berusaha nahan benturan dengan batu. seketika itu saya harus menjaga kamera saya. kamera saya kena benturan sedikit dengan batu, sedikit percikan air. buru-buru saya bangun, mumpung kawan-kawan ku tidak melihatnya. pundakku terasa ngilu, siku-siku tangan yang berbenturan
agak sakit. sempat kepala saya tersujud ke batu kecil. dahi kelihatan sedikit benjol seperti jari anak kecil. tak seorang pun dari kawanku yang melihat kejadian itu. cukup kaget saya dengan kejadian itu. akhirnya cepat-cepat pergi mengambil spot bagian lain. alhamdulillah kamera ku masih cukup baik untuk digunakan.

aku terlalu kurang hati-hati, maklum air terjun yang sering saya kunjungi waktu di kupang, batu-batunya kesat dan tidak licin. memang, mata air di kupang banyak mengandung kapur sehingga batu-batu tersebut tidak licin.

inilah pengalaman saya di air terjun Sindang Gila ini, walau tidak membawa hasil foto yang bagus, minimal masih bisa membawa pegel-pegel di pundak dan benjolan di kepala sampai saya menyelesaikan tulisan ini. indah kawan eh sakit kawan

jam menunjukkan semakin siang, tapi suasana pegunungan membuat kami lupa bahwa kami harus melanjutkan ke air terjun yang selanjutnya, Tiu Kelep. menurut penjelasan pemandu di Cafe Edelweiss tadi, air terjun Tiu Kelep lebih lama ditempuhnya dan lebih menantang sepertinya. akhirnya, saya dan rombongan memutuskan menyudahi suasana air terjun Sindang Gila.

Selamat menikmati trekking selanjutnya yang lebih menantang.

welcome

2 thoughts on “Air Terjun Sindang Gila (perjalanan di kaki gunung rinjani jilid 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s