Cerita di balik Air Terjun Tiu Kelep dan Jembatan Setengah Gila (perjalanan di kaki gunung rinjani jilid 2)

Kamis 06 juni 2013

Jalan menuju Jembatan

Jalan menuju Jembatan

Kalau trekking ke air terjun Sindang Gila disuguhi trekking yang menurun, maka awal trekking ke air terjun Tiu Kelep ini langsung disuguhi tanjakan. Tidak hanya masalah tanjakan, tapi trekking yang harus kami lewati seperti memasuki kawasan hutan. Kalau trekking ke Sindang Gila menggunakan semen maka trekking ke Tiu Kelep menggunakan tanah asli yang diratakan sebagian.

Perjuangan tidak hanya sampai disitu, kami harus menaiki anak tangga menuju jembatan penyeberangan yang tingginya sekitar 20 meter. Setelah sampai di atas jembatan, ada seorang pemandu turis yang menawarkan ke kami untuk masuk ke terowongan air. Aku hanya menjawab sekenanya saja, akh ngak pak, kami takut, kataku. Dan memang, tujuan kami bukan untuk menjawab tantangan melewati terowongan air tersebut.

Sebetulnya saya dalam hati pengin melewati terowongan tersebut.  Asal, ada pemandunya tentunya. Mungkin bisa di kesempatan lain. Tentunya, itu akan jadi pengalaman tersendiri. Jalan-jalan di dalam air melewati terowongan yang seperempatnya dipenuh air.

Terowongan air tersebut sepertinya sengaja dibuat menembus bukit yang berada di samping saya. Saya menduga terowongan air tersebut sengaja digunakan untuk mengaliri sawah-sawah yang ada di sekitar air terjun. Terowongan tersebut cukup luas, cukup untuk jalan setengah berdiri. Terowongan itu mungkin hanya seperempatnya saja yang dialiri sungai. Oh ya perlu aku kasih tahu bahwa ujung terowongan ini tepat berada di gazebo yang ketiga di jalur trekking Sindang Gila. Sumber air dari terowongan ini kemungkinan berasal dari air terjun Tiu Kelep.

Saya lupakan tawaran dari pemandu turis tersebut dulu. Saya harus melewati jembatan yang lebarnya hanya 1 meter, panjangnya sekitar 30 meter. Di bawah jurang sudah menanti, kalau jatuh batu batu cadas khas pegunungan siap menangkap. Untung diantara kawan-kawanku, tidak ada yang takut ketinggian. menurut saya, Jembatan ini agak unik. Di bagian kiri saya ada pegangannya, sedangkan bagian kanan saya tidak ada pegangannya sama sekali. Saya menduga tujuan utama dari pembangunan jembatan ini tidak untuk dilalui manusia tapi khusus air. Kalau memang ditujukan untuk dilalui manusia, seharusnya pegangannya ada di bagian kiri dan bagian kanan.

Jembatan Sindang Gila

Jembatan Sindang Gila

Uniknya lagi, jembatan ini ada jalan setapaknya. Jadi, dalam 1 meter itu, setengah untuk pijakan kaki, setengahnya lagi lubang air. Sehingga kami yang berjalan di atas jembatan ini harus melihat ke bawah bisa-bisa menginjak yang tidak ada pijakannya. Saat berjalan itu kita bisa melihat air mengalir di bawah kaki kita. Hati-hati anda jangan coba-coba tidak melihat ke bawah apalagi berlarian di atas jembatan ini.hehehehe….Kalaupun tujuan jembatan ini untuk dilalui air saja, maka sebetulnya tidak perlu pegangan dan pijakan untuk kaki. Benar-benar setengah untuk manusia dan setengah untuk air

Karena konstruksi yang seperti itu saya namai jembatan Sindang Gila ini sebagai Jembatan setengah Air dan setengah manusia/Jembatan Setengah Gila bukan setengah manusia gila. Hehe..

Alhamdulillah kawan saya semuanya bisa melewati jembatan setengah gila ini…..tidak lupa saya mencoba mengabadikan jembatan setengah gila ini. Kami pun langsung disuguhi jalan setapak khas pegunungan.  Disamping kiri jalan setapak ini, ada aliran air pegunungan, jernih dan bersih. Sesekali saya mengabadikan keindahan ini. Karena sering berhenti, kadang aku ketinggalan dari rombongan. Setelah selesai memotret, saya kejar kembali mereka. Cukup lama menikmati air mengalir ini. Terpaksa kami harus menyudahi indahnya air mengalir saat pintu air mulai terlihat. Pintu air itulah pembatas kenikmatan ini.

Setelah melewati pintu air tersebut, kami harus melewati kawasan baru lagi. Kawasannya terlihat lebih hutan dari yang pertama. Di pinggir-pinggir jalan ada beberapa material bangunan seperti pasir dan batu. Jalan hutan ini benar-benar khas hutan. Walaupun duri-duri tidak ada di sepanjang perjalanan, tapi kami harus melewati pohon yang roboh menghalangi jalan. Mungkin, karena jalan ini khusus pejalan kaki, pohon tumbang tersebut juga tidak akan dipindahkan.

Tidak jauh dari pohon tumbang tersebut, ada pohon tumbang yang lain. Bedanya pohon tumbang yang kedua ini tidak menghalangi pejalan kaki. Pohon tumbang kedua ini roboh dengan kemiringan sekitar 45 derajat. Usianya kelihatan cukup tua dan cukup lama tumbangnya. Usianya bisa dilihat dari besarnya diameter pohon tersebut. Sedangkan, lama tumbangnya bisa diukur dari banyaknya lumut hijau yang menempel di dinding pohon tersebut.

Reza di antara 2 batu

Reza di antara 2 batu

Tidak lupa saya mengabadikan pohon tua tersebut. Eh ternyata, temanku Reza juga ikut mengabadikan pohon tua tersebut. Tidak hanya itu, si Reza minta ikut diabadikan bersama dengan pohon tua tersebut… asal Reza tidak ikut diabadikan seperti pohon tua itu yaa zaa…hehe

Jadilah saya dan reza menjadi peserta rombongan yang terakhir. Alhamdulillah ada temannya. Hehe.

Jembatan setengah gila sudah kami lalui!!!!

Jalan dengan gemiricik air juga sudah!!!

Melewati pohon tumbang juga sudah!!!

Sekarang tinggal menyeberangi sungai yang belum!!

Yups betul, setelah melewati pohon tua tumbang, kita akan masih bersama dengan pohon tumbang yang selanjutnya. Bedanya adalah pohon tumbang yang ini, ada di atas batuan sungai . si Reza cepat-cepat meninggalkan saya. Si Reza sepertinya, ingin menyusul teman-teman yang lain.

Saat mau menyeberang, banyak orang-orang yang sudah mau balik. Termasuk dua wanita turis asing. Tampak dua turis asing tersebut berusaha menyeberangi sungai dengan cara memegangi kain bajunya agar tidak basah.

Yang terakhir dari rombongan adalah lagi-lagi saya tapi kali ini saya ditemani Yudi, suami dari yanti.  Ketinggalan bukan karena tidak mau bersama rombongan, tapi ada momen yang ingin saya abadikan dulu. Ditengah-tengah derasnya air sungai, Yudi langsung mengeluarkan Tripod dan kameranya. Dia langsung mengambil posisi wuenak untuk memotret. Sedangkan saya masih bingung mau motret dari sebelah mana. Teryata ada batu yang agak tinggi, besar, dan lumayan datar. Setidaknya cukup untuk tempat saya duduk, pikirku.

Saya langsung menaiki batu tersebut dan mengeluarkan kamera. Kameranya saya taruh di batu yang agak datar sebagai pengganti tripod. Penutup lensanya saya pegangi. Sebetulnya saya ingin memotret derasnya aliran sungai tanpa Yudi. karena keadaan sudah begitu posisinya, Nikmati aja alurnya. Saya melihat Yudi sedang sibuk memotret dan tidak bergerak. Mendapat momen yang pas itu, saya  langsung memotret Yudi dengan latar belakang derasnya air sungai. Setelah cukup mengambil dua foto, saya bergegas untuk turun dan menyeberangi sungai. Saat hendak turun itulah, penutup lensa yang saya  pegangi jatuh ke dalam sungai. Saya pun mengejar dan berusaha untuk mengambilnya.

Aku mencoba memasukkan tangan ke tempat jatuhnya penutup lensa tersebut. Ternyata, tempat yang saya raba itu ada lubang kecil, yang cukup untuk menelan penutup lensa saya. Saya meraba pelan-pelan takut-takut yang saya raba bukan penutup lensa tapi ular yang hidup di balik batu itu. Aku tetap usaha mencari di tengah derasnya air. Saya lihat takut-takut penutupnya dibawa aliran sungai. Tapi, instingku menyatakan bahwa kalau penutup itu masuk ke dalam lubang tersebut.

Aku ikhlaskan saja penutup lensa itu, dan biarlah foto dan batu besar itu yang menjadi saksi.

sungai penyeberangan

sungai penyeberangan

Aku mencoba untuk menyeberangi sungai. Ternyata arusnya cukup kuat. Agar tidak tersungkur seperti di Sindang Gila, saya harus lebih hati-hati lagi. Setelah melewati sungai tersebut, saya pun bisa menyusul rombongan lagi. Orang yang terakhir dalam rombongan itu adalah Reza. Untuk mencapai Air Terjun Tiu Kelep, harus melalui dua pasang batu yang mengapit jalan. Satu pasang pertama ada jauh dari air terjun sedangkan yang kedua dekat dengan air terjun Tiu Kelep.

Tiu Kelep Waterfall

Tiu Kelep Waterfall

Aku langsung memotret dari yang jauh terus semakin dekat. Kira-kira 20 meter dari air terjun, saya merasakan semakin derasnya percikan air terjun tersebut. Andri sudah siap dengan bidikannya. Yudi mencari posisi di dekat andri, dan saya pun mendekat ke Yudi. Sesekali Andri dan Yudi minta tisu ke saya untuk mengelap lensa yang terkena air. Setelah dibersihkan lensa itu basah lagi. Begitu seterusnya. percikan air terjun Tiu Kelep lebih banyak dibandingkan air terjun yang sebelumnya

saya harus sering membersihkan kamera dengan tisu padahal Jarak kira-kira 20 meter saja apalagi kalo semakin dekat. aku putuskan untuk mengandangkan kamera saja. Saya ingin menikmati guyuran air terjun Tiu Kelep aja. Saya lihat beberapa teman cewek belum ada yang nyebur. Mungkin karena takut dengan arusnya yang kuat. Tidak afdol rasanya jika ke sini tidak ikut mandi di air terjunnya. Akhirnya aku ikut menyebur bersama dengan Andri dan Reza yang sudah duluan mandi.

Brrrrrrrr….. airnya dingin dan segar… saya lihat satu turis wanita dan pemandunya sedang mandi ditengah-tengah guyuran air terjun yang deras. Hanya turis dan pemandunya yang ada di tengah. Pengunjung lain termasuk saya belum berani ketengah. Tidak selang berapa lama, kawan-kawanku yang wanita ikut turun gunung merasakan dingin dan segarnya  kecuali Dina yang tidak membawa ganti baju. Jadi yang ikut nyebur adalah Saya, Andri, Reza, Hanna, Chaca, Ika, dan Dewi. Sayang saat Ika mau jalan ke tengah, kaki ika kram. Ika terpaksa dipapah oleh Hanna.

Turis nyeberang

Turis nyeberang

Dina lah yang bertugas memotret kami yang sedang asyik bermain dengan menggunakan kamera pocket-nya.

Hari masih mendung. Saat matahari mulai muncul,tiba-tiba saya melihat pelangi yang muncul di atas permukaan air terjun. Saya perhatikan pelangi itu tidak hilang-hilang. Jujur saya melihat pelangi biasanya di langit bukan di atas permukaan air terjun. Saya hanya takjub dengan pemandangan ini, saya pun juga tidak tahu apakah pelangi di atas permukaan air terjun bisa dipotret menggunakan kamera. Teori fisikanya sih bahwa pelangi itu terbentuk karena adanya pembiasan cahaya atau sinar matahari pada butiran air yang ada atau muncul. Proses pembiasan melewati air ini sama prosesnya dengan pembiasan cahaya saat melewati prisma kaca. Hayo coba bayangkan.

Kita tahu bahwa matahari merupakan sumber cahaya yang mempunyai banyak warna. Meski kita hanya melihat sinar matahari putih saja. Itu sebetulnya gabungan berbagai gelombang cahaya yang panjangnya berbeda.

Yang menjadi pertanyaan saya adalah gimana menciptakan pelangi di pekarangan kita sehari-hari? Seperti kolam renang di rumah kita?atau yang lebih kecil dari itu, bak mandi?yang suka penasaran silahkan diprakttekkan.

Lupakan sejenak yang berbau ilmiah ini…..oh ya bagi kawan-kawan penasaran ingin menangkap pelangi, sebaiknya dipikirkan sejak sekarang untuk membawa kamera anti air. Sapa tau bisa memotret di atas permukaan air terjun.

Turis wanita itu pindah ke air terjun yang kurang deras dan duduk di atas kayu sambil menikmati guyuran air terjun.  Aku pun iri. Saya pun sudah mengincer tempat itu setelah turis itu pindah. Begitu pindah, saya langsung bergegas kesana. Saya pun sempat menanyai nama turis tersebut. Saya tanya namanya, asalnya dan pendapatnya tentang air terjun ini. Dia jawab my name is Emily. I am from Canada. its wonderfull waterfall. Dia pun menanyai namaku?. Aku jawab “my name is Cader (dibaca Cade)”. Maklum turis kan susah ngomong “R”. sehingga namaku  disingkat menjadi “Cade” hehe.

Puas menikmati guyuran air terjun dan pelanginya. Kami pun siap-siap beranjak untuk pulang. Sungguh perjalanan yang menyenangkan. Pengunjung semakin banyak yang datang. Turis-turisnya pun juga banyak yang datang.

See U Tiu Kelep Waterfall. So amazing

Saat perjalanan pulang, kami pun kembali melewati jalur yang saya. Saat melewati sungai di tempat hilangnya penutup lensa itu, teman-teman minta di foto bersama. Jadilah sungai ini menjadi sungai kenangan terutama buat saya. Begitu juga saat melewati jembatan setengah gila. Teman-teman mau foto bersama di balik jembatan ini.

Setelah selesai foto bersama, saya melihat prasasti yang agak samar-samar. Saya coba mendekat dan ternyata benar ini adalah prasasti jembatan.

Di prasasti jembatan penyeberangan Sindang Gila ini tertulis “LOMBOK BARAT, PATU PATUH PACU, PROYEK INPRES NO : 2 TH 77-78 KAB. LOBAR JEMB. TALANG AIR SINDANG GILA”, DIRESMIKAN PADA HUT KE.19 TGL 17-4-1978. KAB. DATI II LOBAR oleh BUPATI HL.L A.RACHMAN.

Kawasan daerah Sindang Gila awalnya memang termasuk kawasan kabupaten Lombok barat. Baru pada tanggal 24 juni 2008 lombok barat pecah menjadi 2 kabupaten, Lombok barat dan Lombok Utara.

Mungkin prasasti termasuk memberikan kesaksian tentang keunikan jembatan ini. Keunikan/keanehan yang pertama adalah jembatan ini seperti yang aku ceritakan di awal cerita, yaitu Jembatan setengah Air dan setengah manusia/Jembatan Setengah Gila. Keunikan yang kedua adalah Jembatan ini masih kokoh dan utuh sampai sekarang. Pada tahun 2013, proyek ini Sudah berumur 36 tahun. Sungguh ini merupakan fenomena-fenomena proyek indonesia jaman sekarang.

Eh setelah melewati jembatan, saat saya hendak mau turun. ada ibu-ibu yang tidak berani menyeberang. “saya disini saja, katanya”. Karena keburu ditinggal rombongan, saya cepat turun tangga jembatan. Saya tidak tau lagi apakah si ibu melanjutkan perjalanan atau tidak?. Saya jadi berpikir untung dari rombonganku tidak ada yang takut dengan ketinggian.

Kalo trekking saat berangkat turun, maka saat pulang adalah menanjak. Saat trekking sampai gazebo yang ketiga, kakinya andri kram. Teman-teman yang lain sudah duluan, saya pun menemani Andri . saat sampai gazebo yang pertama, Andri berhenti lagi. Total ada 2 orang yang kram. Ika saat mau mandi air terjun dan Andri saat mau trekking menanjak.

Akhirnya saya pun tiba di Café Edelweiss tepat jam 3.00 Wita. Tidak terasa hari sudah sore, perut pun mulai keroncongan. Ternyata rombongan kami belum makan siang.

Saya coba melontarkan pertanyaan. Sehabis ini kita mau ngapain?,. Dengan serentak mereka menjawab “makaaaaaaaaaaaaaaaaaan!!!!!”. Begitulah Jawaban orang-orang yang kelaparan setelah melewati trekking-trekking yang seru dan menanjak.

Perlu diingat, bila anda tidak mau kelaparan seperti kami, sebaiknya siap-siap membawa makanan dan minuman karena di area air terjun tidak ada penjual makanan.

Saya melihat Rikky (rikky tidak ikut ke lokasi air terjun karena dia males dan kebetulan dia memang sudah pernah ke sana, jadi dia hanya menunggu di Café Edelweiss) dan Reza sedang meminum 2 botol aqua sedang yang berisi cairan putih. Saya mencoba menelisiknya. “apa ini?”. Fermentasi tape, tuak khas sini, sahut Rikky. Si dina pun nanya terbuat dari apa?. Oh ini terbuat dari fermentasi beras ketan, sanggah Reza. Saya pun ikut menenggak Fermentasi tape beras, terasa hangat di kerongkongan sama seperti maem tape.

Saat perjalanan pulang kami mendapati rombongan “bule” naik pickup yang terbuka bagian belakangnya. Dina bilang kalau “bule” naik mobil pickup terbuka sih tetap keren. Aku pun menimpali, walaupun kita naik mobil bagus, orang akan menduga kalau itu pembantunya!. Itu kan kamu dir, kata Reza. Pembicaraan tadi Jadilah guyonan orang-orang yang capek dan kelaperan.

Jalan yang akan dilewati untuk adalah jalan pulang adalah jalur senggigi. Kami bisa menikmati pesisir pantai sampai tiba di tujuan terakhir yaitu Malimbu.

Perjalanan terakhir kami adalah menikmati sunset di Malimbu Hill. Di seberang sana beberapa pohon kelapa dengan latar belakang Gunung Agung dan Nusa Penida. Di sebelah kanan bisa melihat tiga Gili (pulau kecil) yaitu Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Menu. Sebelah kiri  bisa melihat pantai nipah dari ketinggian. 11 orang langsung bisa menikmati  ikan bakar dan es kelapa muda. Setelah melewati trakking yang melelahkan dan menahan lapar sejak tadi siang. Rasa “lapaaaaaaaaaaaaaaaar” yang tertunda akhirnya terbayar sudah dengan penuh kekenyangan. Bahkan hanna terlihat berat melangkah pulang dan mulai  mengantuk. Kami pulang melewati indahnya sengigi saat malam hari sama seperti melewati indahnya Legian bali pada malam hari

6 thoughts on “Cerita di balik Air Terjun Tiu Kelep dan Jembatan Setengah Gila (perjalanan di kaki gunung rinjani jilid 2)

  1. Der, lain kali kalau aku touring ke sana anterin ke RInjani ya.. btw ada rencana ke Rinjani gak? Kalau ada deket2 waktunya aku dikabarin ya biar bisa ngikut.
    Btw itu kata “gelombang cahaya yang panjangnya berbeda” itu gak pas, yang bener “panjang gelombangnya berbeda” hahahha. yang lain asyik aja kok😀

  2. yaaaa saya anterin sekalian aku ikut touring juga,…maklum, sama-sama belum pernah kesana hehe..teman-temanku sih pada ngajakin akhir desember kesananya,,,aku sih tergantung dana, dana dan waktu hehehe….yaaaa ma kasih atas koreksinya mas bek…..oh yaa tarif tour guide ke rinjani sekitar 1 juta – 4 juta…untuk yang 4 hari minimal 1,5 juta….doakan ada dana hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s