Gili Bidara, Pulau Tani di Selat Alas (Tour de Gili Kondo 3)

Tiba di Gili Bidara

Tiba di Gili Bidara (Teguh dan Dina)

Gili Bidara telah disebutkan di beberapa tulisan saya yang sebelumnya tentang serial “Tour De Gili Kondo”. Memang pulau yang bernama Gili Bidara ini bisa dilihat dari pantai Sambelia, gili Petagan, dan gili Kapal, bahkan bisa dilihat dari Gili Kondo yang akan kita kunjungi nanti . Gili Bidara ukurannya lebih kecil dari gili Kondo yang berada di seberang. Jarak gili Bidara ini cukup dekat dari Gili Kapal. Butuh waktu sekitar 10 menit bila dijangkau dari gili Kapal. Dilihat dari atas perahu, pulau ini benar-benar di kelilingi pasir putih.

Tiba di Gili Bidara lihat ke kiri seperti ini

Tiba di Gili Bidara lihat ke kiri seperti ini

Saat perahu kami semakin dekat. Begitu nampak keindahannya dari atas perahu. Kami tiba di gili Bidara pukul 11.30 Wita. Hari ini siang begitu terik. Saking teriknya kawan-kawan saya ingin cepat-cepat berteduh.

Lihat ke Kanan seperti ini pantainya...keren kan..ayo sini

Lihat ke Kanan seperti ini pantainya…keren kan..ayo ke sini

Kecuali saya, saya masih ingin menikmati keindahan pantai gili Bidara. Saya ingin menikmati pasir putih Gili Bidara. Saya ingin merasakan pasirnya. Saya ingin mendengar suara ombak kecilnya. Saya ingin merasakan teriknya Gili Bidara. Saya ingin semuanya

tiba di pulau ini langsung disambut para penduduk yang sudah memanen ketela

tiba di pulau ini langsung disambut para penduduk yang sudah memanen ketela

Setelah turun dari perahu, rombongan kami langsung di sambut di depan rumah penduduk. Langsung disambut dengan hasil tani yang baru saja diambil dari ladang. Rombongan kami pun berbincang-bincang dengan para petani yang ada di sini. Saat rombongan kami berteduh sambil berbincang dengan penduduk, saya memisahkan diri dari rombongan.

wujud rumah di gili Bidara

wujud rumah di gili Bidara

Tidak perlu lama untuk menghilang dari rombongan. Di dalam pikiran saya, dalam waktu yang sebentar di pulau Bidara ini, saya harus menyempatkan diri untuk mengelilingi pulau. Setidaknya, saya bisa mengelilingi separuhnya. Awan sepertinya lagi marahan dengan matahari, sehingga awan pun tak sudi mendekatinya. Bahkan sekedar berjalan dibawahnya.

ne pantainya putih bersih... bawah lautnya lebih keren loh

ne pantainya putih bersih… bawah lautnya lebih keren loh

Tidak nampak kemewahan di pulau ini. semuanya serba sederhana. beberapa rumah yang sederhana. Mungkin hanya sekitar delapan rumah yang ada di sini. Dinding dan atapnya seperti terbuat dari pelepah pohon lontar. Sederhana. tampak satu rumah  yang paling mewah yaitu rumah panggung yang langsung menghadap ke pantai. Rumah panggung itu memang tampak baru. Semuanya sederhana. Cara menikmati kebahagiaan di sini pun begitu sederhana.

ne para ibu-ibu di rumah. hanya satu kamar besar (dapur dan kamar tidur)

ne para ibu-ibu di rumah. hanya satu kamar besar (dapur dan kamar tidur)

Di depan rumah panggung yang mewah itu, ada beberapa pemancing yang berteduh. Mungkin karena suasana hari yang panas, mereka berteduh. memancing itu kebahagiaan. Begitu sederhananya bahagia itu. Rumah panggung itu seakan-akan disiapkan untuk para pemancing. Duh nikmatnya memancing di pulau yang sepi dan indah. saat saya berjalan di pantai depan rumah panggung tersebut, Beberapa pemancing itu memanggil saya. Saya pun mengiyakan panggilan mereka hanya dengan senyuman. Yups senyuman itu juga termasuk kebahagiaan sederhana.

jalan-jalan ke pekarangan belakang rumah. malah nemu ketela yang belum dipanen

jalan-jalan ke pekarangan belakang rumah. malah nemu ketela yang belum dipanen

Saya ingin melihat keindahan pulau kecil dan imut ini. semakin ke barat perjalanan saya semakin terik. mungkin karena saya merasa menikmati keindahan akan pulau bidara, sehingga panasnya matahari seakan tidak saya perdulikan. Tidak terasa saya sudah di dekat ujung pulau ini. saya pun dapat melihat gili Petagan (pulau bakau) yang saya kunjungi sebelumnya. Mungkin hanya 10 menit saya sudah bisa mengelilingi separuhnya.

jalan-jalan ke pesisir pantainya nemu rumput  beginian. tajam kayak landak

jalan-jalan ke pesisir pantainya nemu rumput beginian. tajam kayak landak

Karena saya takut ditinggal rombongan saya yang sedang berteduh di rumah penduduk, saya pun bergegas untuk balik arah. Saya ingat pesan Andri Anto Setiawan “kita disini jangan lama-lama, karena kita ingin cepat Snorkling di Gili Kondo”

walau panas terik jalan terusssss eh nemu rumah panggung tapi tetangganya ngak ada

walau panas terik jalan terusssss eh nemu rumah panggung tapi tetangganya ngak ada

Saya pun cepat-cepat balik arah.Saat menuju ke rombongan, eh saya menemukan beberapa rumput laut kering di pantai. Saya jadi ingat apa yang dibilang oleh petugas perahu “dulu, disini ada budidaya rumput laut”. Benar, ternyata rumput-rumput laut itu sekarang tidak dibudidayakan lagi. Tapi rumput laut itu masih berbekas di pantai ini. Saya tidak tahu kenapa budidaya rumput lautnya tidak dibudidayakan lagi.

rumput-rumput sudah mulai mengering si pesisir pantai

rumput-rumput sudah mulai mengering si pesisir pantai

Setelah melihat rumput laut tersebut, saya lanjutkan berjalan. Ternyata saya tidak menghiraukan rumput-rumput di pinggir pantai saat berangkat tadi. Bentuk rumput-rumputnya seperti bentuk landak bulat dan tajam-tajam. Saya tidak tau namanya. Saya namain saja “rumput Landak”. rumput landak itu ada yang masih hijau dan ada yang sudah mengering.

eh setelah berada di ujung pulau. kita bisa lihat gili petagan

eh setelah berada di ujung pulau. kita bisa lihat gili petagan

Tidak butuh waktu lama. Akhirnya, saya ikut bergabung lagi dengan rombongan. Ternyata, saya sudah ketinggalan. Bukan ketinggalan rombongan. Tapi ketinggalan makan-makan bersama rombongan. Kami dijamu dengan ketela yang sudah matang, yang diambil langsung dari ladang. Saya lihat tinggal beberapa ketela di piring yang ada di langgar. Cepat-cepat saya mengambil ketela itu. maklum takut kehabisan. Alhamdulillah masih dapat menyantab ketela khas pulau ini. saat saya makan, ketelanya enak, mungkin lebih enak di sini karena bisa makan ketela sambil menghadap ke pantai.

ku sendiri disini

ku sendiri disini

Rombongan kami berteduh di langgar kecil yang ada di pulau ini. langgarnya juga seperti rumah panggung yang terbuat dari anyaman bambu.

Pulau Bidara ini dihuni oleh delapan keluarga dengan delapan rumah. Delapan keluarga ini bukan asli penduduk Gili Bidara. Mereka berasal dari pulau salah satu desa di pulau lombok. Mereka sengaja datang ke gili Bidara ini untuk bertani di pulau kecil ini. jadi, sebetulnya gili Bidara ini awalnya tidak berpenghuni. Begitu hanya obrolan kami dengan penduduk yang ada di sini.

Gili Bidara dari atas Perahu

Gili Bidara dari atas Perahu

Mereka menggantungkan hidupnya di pulau ini. para petani ini kebanyakan menanam ketela dan wijen. Mereka tinggal di rumah sederhana ini. Pada hari jumat, mereka ke pulau lombok untuk melaksanakan sholat jumat disana. Kemudian mereka balik lagi ke pulau ini dengan membawa makanan pokok selama satu minggu ke depan. Selain membawa makanan pokok juga membawa air untuk minum dan keperluan memasak. Maklum, Air di pulau ini rasanya asin sehingga tidak cocok untuk minum dan masak.

Saya benar-benar ingin tahu dimana sebetulnya mereka menanam ketela dan wijen. Saat kawan-kawan saya sedang berbincang-bincang, secepat kilat saya langsung menyelinap ke belakang untuk melihat ladangnya. Beberapa kawan saya meneriaki saya karena sebentar lagi mau berangkat lagi ke pulau sebelah yaitu Gili Kondo. saya liat beberapa tanaman ketela dan wijen. Setelah melihat Saya pun bergegas untuk ke rombongan lagi.

perahu saat makin mendekati Gili Bidara

perahu saat makin mendekati Gili Bidara

Ternyata saya melihat  bapak Hari Eka sedang di-shooting oleh Reza. “Pulau ini dihuni oleh delapan orang yang berasal dari pulau lombok”. Intinya seperti itulah isi shooting-nya. Inilah simbiosis mutualisme. Kalau waktu di Gili Petagan, Reza yang di-shooting dan bapak Hari Eka yang melakukan shooting. dua orang ini sukses menjadi aktor di perjalanan kita hari ini. baik sebagai aktor maupun sebagai sutradara.

Mari Kita pulang, yuk kita narsis dulu

Mari Kita pulang, yuk kita narsis dulu

Saat saya masih di ladang tadi, ternyata sudah ada deal-deal untuk membeli beberapa ketela. Saya mendengar “berapa ini pak”, petani yang belum ku tahu namanya menjawab “akh ngak usah pak, gratis. Kawan saya, Nur Hidayat Budi langsung menyela “akh ngak pak, kita tetap bayar pak”. Akhirnya setelah kawan saya itu memaksa petani itu pun mengambilnya. Yaa begitulah kehidupan di desa semuanya penuh kekeluargaan, duh indahnya hidup di desa. Kebahagiaan yang sederhana.

ditutup dengan melihat Gili Bidara sekali lagi

ditutup dengan melihat Gili Bidara sekali lagi

Beberapa kawan saya nyeletuk “enak ya jadi petani di sini, tenang, adem, bisa melihat indahnya pantai sepanjang hari dan waktu”.

Memang  begitulah kehidupan di pulau ini. bagi saya, hanya keindahan yang ada di sini. Betapa tidak, mengelilingi pulau mungkin hanya perlu 30 menit dengan berjalan kaki di pantainya. Suasananya tenang tidak ada ada kebisingan. Yang ada adalah ketenangan.

Pak Wakhidin Pulang dengan membawa kabur ketela eh pengin narsis juga

Pak Wakhidin Pulang dengan membawa kabur ketela eh pengin narsis juga

Tidak terasa hampir 30 menit kami singgah di pulau kecil ini, banyak kenangan yang kami dapat. Banyak memori yang kita simpan. Memori keindahan pulau tani di Gili Bidara. Kami pun siap-siap untuk melanjutkan perjalanan ke Gili Kondo, gili terakhir yang akan kita kunjungi di sesi perjalanan kali ini.

terima kasih banget buat penduduk kampung Gili Bidara yang sangat baik hati. tak hanya bisa menyantab ketela tapi kami juga membawa oleh-oleh ketela. duh senengnya

(cad/bersambung)

One thought on “Gili Bidara, Pulau Tani di Selat Alas (Tour de Gili Kondo 3)

  1. Pingback: Menjelajahi Taman Laut Gili Bidara, Gili Petagan, dan Gili Kondo | CATATAN CADERABDUL PACKER

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s