Kubilai Khan bersemayam di Klenteng Eng An Kiong

Kubilai Khan bersemayam di Klenteng Eng An Kiong

Kwan Im Teng Eng An Kiong Gong Xi Fa Cai

Kwan Im Teng Eng An Kiong Gong Xi Fa Cai

Berjalan di kawasan pecinan di Kota Malang seperti memasuki kawasan kota tua yang benar-benar tua. Bangunan-bangunan tua khas Kolonial Belanda masih berdiri dan utuh. Perjalanan ku terhenti saat melihat bangunan yang lain daripada yang lain. Arsitekturnya bergaya cina. Warna merah yang begitu dominan seakan-akan meniadakan warna lain gedung itu. Suasananya begitu ceria. Orang biasa menyebutnya dengan sebutan Klenteng. Menurut sumber Wikipedia, Kata Klenteng ini berasal dari Kwan In Teng atau persembahan Dewi Kwan Im (Dewi kasih sayang). Di Gapura klenteng tertulis Yasasan “Eng An Kiong”.

Saya bersama istri saya mencoba mendekati salah satu petugas satpam. “Maaf mas mau kemana ?” kata salah seorang petugas satpamnya. “Maaf pak, bisa kami masuk untuk sekedar mengambil beberapa gambar,” kataku. “Ya Silahkan aja mas,asal jangan masuk terlalu ke dalam dan mengganggu orang beribadah. Mas harusnya datang tadi pagi sekitar jam 09.00,  ada atraksi barongsai di sini,” kata petugas satpam menambahkan.

Sang Budha dan Dewi Kasih Sayang, Kwan Im

Sang Budha dan Dewi Kasih Sayang, Kwan Im

Wahhh kalau gitu saya kelewat dong pak, imbuhku. Hari Ini memang hari yang Spesial bagi Tionghoa. Hari ini adalah hari ulang tahun Imlek ke 2565. Semua Klenteng merayakannya. Bahkan, di Negara Cina sendiri, Imlek dirayakan selama seminggu. Perayaan Imlek bagi Tionghoa ibarat hari Idul Fitri bagi umat Islam. Bagi anak-anak Tionghoa Imlek saatnya mengumpulkan ang pao sebanyaknya, begitu juga ketika hari Lebaran maka anak-anak muslim juga menunggu “angpao” lebaran.

Klenteng Eng An Kiong terdiri dari Satu Bangunan Utama, dua bangunan penyangga yang berada di kanan kiri. Dan satu bangunan lagi yang terpisah dari 3 bangunan lainnya. Itulah kantor “Yayasan Eng An Kiong”. saya mencoba berjalan dari sisi kiri bangunan. Lilin-lilin itu berjajar rapi laksana mercon raksasa yang bungkusnya dicat warna merah. Berjajar rapi dari yang terkecil hingga yang terbesar.

Lampion-Lampion Klenteng

Lampion-Lampion Klenteng

Lilin yang paling besar tingginya melebihi tinggi badanku. Diameternya menyamai diameter perut gendutku. Bahkan Lilin terbesar begitu angkuhnya memasang harga 7.500.000,00 Rupiah. Ku tolehkan kepada Lilin yang paling kecil itu. Tingginya hanya sepinggangku, diameternya seperti diameter lenganku. Mungkin lebih besar dikit. Lilin kecil itu begitu malu menunjukkan berapa harga dirinya. Bahkan harganya tak mau diketahui oleh para penganut Konghucu, Tao atau Budha (Tridharma kata sebagian orang).

Lilin-lilin ini seperti manusia saja, pikirku. Yang berkuasa dan besar merasa sombong dengan harganya yang mahal. Sedangkan, Lilin Kecil begitu malu menunjukkan harga dirinya yang sebenarnya. Saya coba memperhatikan lilin kecil itu lebih cermat. Ku mememutarinya- tak ada harga. Lilin kecil yang pemalu.

berpose dengan latar Lilin Raksasa

berpose dengan latar Lilin Raksasa

Lilin Besar vs Lilin Kecil, Lilin Congkak Vs Lilin pemalu.

“Kebencian tidak reda dengan kebencian. Kebencian hanya reda dengan kasih. Inilah hukum abadi, (Budha).

Jika seorang ingin memuja para dewa, seseorang haruslah memuja orang tua mereka karena orang tua adalah mahadewa (Samyuktagama).”

Itulah sebagian kata-kata yang tepat berada di depan-depan Lilin-lilin berwarna merah itu. Kata-katanya begitu menggugah. Itu lah sebagian ajaran dari kawasan Asia timur itu. Maka jangan heran, saat perayaan imlek, Tionghoa biasanya berkunjung kepada orang tua mereka sebelum perayaan imlek. Bahkan, orang-orang yang berjauhan dari orang tuanya, dan tak memungkinkan untuk berkunjung. Maka anak-anak mereka berlomba-lomba untuk mengucapkan hari raya imlek kepada orang tua-orang tua mereka.

Sembahyang

Sembahyang

Imlek sebetulnya adalah sebuah bentuk perayaan untuk menyambut musim semi. Saat itulah mereka menyambut kedatangan musim semi itu dengan ungkapan kebahagiaan. Ungkapan kebahagiaan itu salah satunya diwujudkan dalam bentuk warna-warna yang cerah. Menurut kepercayaan Tionghoa warna merah dan kuning adalah warna keceriaan. Sehingga tak jarang, klenteng-klenteng, baju-baju ditaburi dengan warna-warna merah. Semuanya serba merah.

Beribadah di Klenteng Eng An Kiong ini setidaknya ada beberapa tahapan yang harus dilalui. Mungkin sekitar 18 – 25 tahapan mas, kata salah seorang satpam klenteng. Wah banyak juga ya pak, kataku. Tahap yang pertama adalah pemujaan kepada sang Budha yang berada di pelataran utama. Nyaliku ciut seperti krupuk terkena cipratan air saat hendak melihat sang Budha itu. saya hanya meliriknya. nihil saya tak melihat apa-apa. tahapan selanjutnya tepat berada di sampingnya. “Kuil” ini saya bisa melihat dengan jelas. jelas sampai ke bagian Budha itu sendiri. di sini saya bisa melihat Sang Patung Budha dan Dewi Kwan Im.

terpaku ku di sini, memori yang hampir sirna itu kembali ke hadapan. kisah-kisah Perjalanan ke barat untuk mencari Kitab Suci yang dilakukan oleh Biksu Tong Hsuan-tsang (baca- Tong Sam Cong) ditemani ketiga muridnya Sun Go Kong, Chu Pa-chieh, dan Sha Ho-shang. saya kemudian larut dalam kisah-kisah perncarian kitab suci itu. ku coba perhatikan “kuil-kuil”. barangkali Tong Shuan-tsang dan tiga muridnya ada di sekitar Budha itu. Nihill. tak ada. ak barangkali mereka masih dalam perjalanan mencari kitab suci, batinku.

tak ingin dalam kisah-kisah Sun Go Kong yang sering diputar dalam serial Tv, saya terus melanjutkan perjalanan saya dalam “Kuil-kuil” ini. Di sebelah kiri ini tak kurang ada empat kamar pemujaan. tak ada hanya kamar-kamar itu ibarat labirin-labirin pemujaan kepada para dewa. tak terkecuali taman-taman yang berada di tengah-tengah itu salah satu yang dihormati. begitu lah seharusnya manusia menghargai alam dengan caranya masing-masing.

ini semacam dupa yang berbentuk unik. Bentuknya unikseperti terompet. ini biasanya di setiap pemujaan

ini semacam dupa yang berbentuk unik. Bentuknya unikseperti terompet. ini biasanya di setiap pemujaan

Saya coba perhatikan “kuil-kuil” pemujaan-pemujaan itu satu per satu. mulai dari labirin pertama yang berupa sang Budha dan Dewi Kwan Im. saat saya tahapan-tahapan selanjutnya, saya tertegun pada salah satu tahapan itu. Ku coba perhatikan lagi lebih detail lagi. Ku perhatikan wajah-wajah yang dipuja itu. Ku semakin larut dan hanyut. Otakku berputar. Ku seakan masuk ke lorong waktu tahun 1289 – 1293 saat Kubilai Khan ingin menaklukkan Kertanegara dari kerajaan Singhasari.

Cucu dari Jenghis Khan ini berhasil menaklukkan Cina hingga ke Vietnam. Tapi sayang, penaklukkan Kubilai Khan ke tanah jawa harus dipermalukan oleh Kertanegara, sang raja Singhasari waktu itu. Meng khi, utusan Kubilai Khan yang meminta Kertanegara agar tunduk kepada kekuasaan mongol terpaksa harus kehilangan satu telinga. Meng Khi pulang dengan kuping yang hanya tinggal satu. pendekar satu telinga, mungkin begitu lah panggilan yang cocok bagi Meng Khi.

Setelah mengetahui bahwa utusannya dipermalukan oleh Kertanegara. Kubilai Khan mengutus Ika Mese untuk kedua kalinya pada tahun 1293 untuk menaklukkan kerajaan Singhasari. Sayang, Kertanegara, sang Raja Singhasari sudah ditahlukkan oleh Raja Kadiri, Prabu Jayakatwang.

Kubilai Khan

Kubilai Khan

Pasukan Mongol utusan Kubilai Khan tak tahu harus berbuat apa saat tiba di kerajaan Singhasari. Keadaan ini dimanfaatkan oleh menantu Kertanegara, Raden Wijaya untuk membantunya memberontak melawan kerajaan Kadiri – yang telah menahlukkan Singhasari atau Singosari. Pasukan Kubilai Khan dan Raden Wijaya akhirnya berhasil menumpas Raja Jayakatwang, dan Raden Wijaya mendirikan kerajaan yang diberi nama Majapahit.

IMG_4550

Setelah berhasil menaklukkan kerajaan Kadiri, Raden Wijaya mengatur siasat agar bisa mengusir pasukan mongol dari tanah jawa. Pasukan Raden Wijaya akhirnya berhasil mengalahkan utusan Kubilai Khan. Akhirnya, pasukan Mongolia itu pulang dan tak pernah berhasil menaklukkan kerajaan Singhasari atau Majapahit.

Tiba-tiba Lorong waktu itu kembali ke alam kekinian. Inilah replika Kubilai Khan yang berada di Klenteng Eng An Kiong. ku sadar dan semakin yakin bahwa inilah Kubilai Khan itu. ku coba melangkahkan kaki melihat “kuil” yang lain dengan rupa yang berbeda. setidaknya berbeda dari Kubilai Khan atau Kakek Kubilai Khan, Jenghis Khan. ku Ingin melupakan keperkasaan Jenghis Khan dan Kubilai Khan saat berusaha menaklukkan jajahannya. tak terperi ku dibuatnya. ku langkahkan kaki menuju bagian yang lain.

ku coba meluruskan pandangan ke arah belakang kelenteng. ku liat patung-patung yang diukir oleh warna keemasan. tersembunyi di balik keangkeran bagian belakang klenteng Eng An Kiong. saya berusaha membidiknya dengan kamera yang saya pegang. saya bersusah puyah untuk memotretnya. tapi, saya tetep tak berhasil. sulit mendapatkan fokusnya karena terlalu gelap untuk ditangkap sensor kamera. untung, mata saya terlalu canggih sehingga patung-patung budha masih terlihat keemasannya.

Pemuda yang duduk-duduk santai itu hanya memperhatikan gerak gerikku. pencuci piring juga memandangiku. setiap orang yang datang untuk sembahyang, semuanya memperhatikan saya. keki juga saya dibuatnya. Mungkin para Tionghoa itu hendak memarahi saya yang masuk ke dalam kawasan peribadatan mereka. untung mereka sedang sembahyang, sehingga mereka membuang jauh-jauh kebencian itu. melumatnya dalam hati yang seluas samudra keikhlasan.

perasaanku mulai merasa tak enak di dalam vihara ini . saya berusaha keluar dari kawasan itu. satpam yang berkulit putih dengan wajah selalu senyum itu menyapaku. “Kenapa keluar mas,” katanya. wah saya ngak enak aja pak, kataku.

Ya udah liat yang sebelah kiri aja kalau gitue?, imbuhnya. oke pak ma kasih. saya pun bergegas ke sisi kiri kelinting/sisi kanan klenteng kalau dilihat dari jalan raya. tiba-tiba seorang satpam dengan wajah seram membuntutiku. “mau kemana mas?” katanya. akh mau liat-liat dan foto aja kug pak, kataku. awas ya jangan masuk ke dalam yach, katanya dengan nada mengancam. oh ya pak, saya kan diluar aja pak.

seakan tak percaya dengan omonganku. dia tetep membuntutiku. di depanku ada beberapa pengunjung lain yang juga melakukan hal yang sama dengan yang aku lakukan. bahkan, dia berusaha lebih mendekat ke dalam lagi. tak hanya itu, dia berhasil motret patung-patung budha yang berada di bagian belakang klenteng. Satpam itu tak menegornya. istriku yang berjalan di sampingku bilang serem ya klenteng bagian belakang. kesereman klenteng bagian belakang memang terlihat dari auranya. kesereman itu dipadupadankan dengan warna lampu yang 5 watt berwarna merah. bertambah gelap dan serem lah klenteng belakang.

pengunjung di depan saya yang berhasil motret itupun pergi menjauhi saya. saya pun berusaha memotretnya, menggantikan posisinya. ku coba langkahkan kaki. tiba-tiba “mas, tidak boleh ke situ mas,”kata satpam itu dengan tanpang seremnya. saya langsung membatin “gimana ne pak satpam, tadi ada yang asik moto-moto ngak dilarang, lah giliran saya mau moto malah ngak boleh.” saya hanya bisa membatin sambil meninggalkan Klenteng Eng An Kiong dengan kekecewaan. kecewa karena satpam yang tak adil kepada semua pengunjung. kecewa. itulah perjalanan saya saat Imlek 1-1-2565 Tahun Kuda Kayu.

Selamat menyambut musim semi. Selamat bergembira. Semoga tambah sejahtera. Gong Xi Fa Cai.

Follow twitter kami di @caderabdulpaker

15 thoughts on “Kubilai Khan bersemayam di Klenteng Eng An Kiong

    • saya hanya turut mendoakan dan menengadahkan tangan sambil bilang amin….tapi kalau menurut ki Kusumo sebagai Tahun kenaasan. tapi menurut saya Tahun Kuda ini semoga bisa tahan banting dan perkasa seperti Kuda. Kuda menurut kepercayaan Tionghoa adalah hewan yang perkasa dan tak pernah lelah. dan elemen kayu di sini agar kita bisa seperti kayu memberikan manfaat sehingga akar-akarnya bisa menyerap air ketika hujan, menaungi kita saat kepanasan. mari kita jaga kayu-kayu yang menjadi pelindung kita…akh kug saya jadi bijak gini..haha

  1. Kalau menurut saya pribadi kok penggambaran Kubilai Khan nggak cocok ya hehehe… Entahlah, karena dia menginjak tanah Jawa hanya sekejap dan tanpa jejak catatan apapun, itupun yg ke Jawa hanya utusan dan pasukannya hehehe. Mending disandingkan dengan Laksamana Cheng Ho karena dia punya banyak pengaruh di Jawa walau dia beragama Islam🙂

    Tapi seru juga keliling klenteng🙂

    • Yups betul saya mengaitkan dengan Kubilai Khan karena Raja Mongol waktu itu ingin menguasai tanah jawa yang waktu itu dikuasai kerajaan Singhasari yang berada di daerah malang. kalau saya menceritakan tentang Laksamana Cheng Ho, maka Klenteng Sam Poo Kong yang berada di daerah semarang yang lebih cocok. hehe. ada juga pendapat lain memang mengaitkan tentang laksamana Cheng Ho dengan klenteng2 itu. by the way ma kasih dah sharing berbagi ilmu..kapan-kapan keliling Klenteng sam poo kong semarang hehe

  2. wah seru juga yah jalan2 ke Klenteng, ..bisa lihat langsung yg biasanya hanya ada di film kungfu..BTW itu kubilai khannya mirip Hakim BAO ya mas patungnya

    • yaaaa mas berkunjung ke Klenteng Malang akan teringat saat Kubilai Khan berusaha menaklukkan Kerajaan Singhasari yang berlokasi di malang. kita seakan memutar sejarah masa lampau ke masa kini.. wah imaginasi mas ronal bisa aja..ampe ke Hakim Bao haha..thank mas

    • wahhhh Kalo pas ke Malang jangan lupa mampir ke waduh selorejo. plis dateng agak pagi biar dapat refleksi airnya..nah tipsnya biar ngak diusir harus konpirasi ma satpamnya dulu haha..kalau bukan hari-hari keagamaan sepertinya bakal dibolehin deh..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s