Penjual Kelapa Muda di Pantai Batu Payung

Welcome to Batu Payung

Welcome to Batu Payung

Penjual Kelapa Muda di Pantai Batu Payung

Memasuki kawasan Pantai Batu Payung yang letaknya berdampingan dengan Pantai Tanjung Aan. Jalannya tak beraspal tapi tak berdebu. Lumayan keras. Mungkin karena jalan ini satu-satunya jalan menuju  kawasan batu payung sehingga menjadi jalan umum sehingga tanah liat itu lama-lama mengeras. Di ujung timur pantai Tanjung Aan ini berdiri sebuah kafe sederhana, hanya beberapa gazebo, itupun hanya seadanya aja. Café itu cukup membuatku tertarik. Setidaknya untuk rehat sejenak. Berlindung dari teriknya sinar matahari di siang hari. Menyeruput Lemon Squase sambil memandangi pantai Tanjung Aan.

Memasuki kawasan Parkir Kawasan pantai batu payung sama dengan masuk ke kawasan perkampungan kecil yang belum ku ketahui profesi sebenarnya. saya melewati palang pintu yang terbuat dari bamboo. Seseorang langsung turun dari Berugak (Gazebo dalam bahasa sasak) yang berada di kiri jalan. Wajahnya tirus dimakan zaman. langkahnya begitu cepat dan langsung mempersilahkan saya untuk parkir sepeda sambil memberi isyarat dengan tangannya.

Sudut batu Payung dari atas

Sudut batu Payung dan Gili Anakanjan dari atas bukit

“Rp 5000,00 Pak, katanya sambil menyodorkan karcis lusuh yang sudah tak jelas lagi tarifnya. Saya pun berusaha untuk menawarnya. “wah bukannya Rp 2000,00 pak”. “Tidak bisa mas, biaya parkir di sini standartnya segitu,”. Saya pun mengalah dengan menyerahkan uang Rp. 5000,00. Ku perhatikan tempat parkir bukannya selayaknya parkir. Atapnya terbuat dari pelepah daun kelapa yang sudah mengering, berwarna coklat kehitaman dan rapuh diterjang zaman. Daunnya sudah berguguran dimakan waktu. Susunannya pun seadanya. pelepah kelapa tersebut disanggah oleh bambu yang tak simetris. Mungkin seandainya ada angin yang cukup kencang. Pelepah kelapa itu yang akan terbang duluan.

Tak jauh dari tempatku berdiri, ada rumah yang juga terbuat dari Jerami. Rumahnya sederhana sesederhana pemiliknya yang duduk di teras rumahnya yang berlantai tanah bercampur pasir. Dindingnya berasal dari anyaman bambu-bambu.

Petugas parkir itu kembali ke Berugak itu lagi. Saya heran kenapa di berugak itu banyak bapak-bapak yang duduk melingkar. Saya mencoba mendekatinya. Eh ternyata mereka bermain catur. Dua yang bermain catur, yang lain hanya menonton atau mungkin mereka main secara bergantian. Tak ingin saya berlama-lama memperhatikan kampung yang berada di pinggir pantai batu payung, saya pun segera menyusul teman saya yang sudah tiba duluan. Empat teman saya itu Andri, Aryo, Tita dan Nur.

suasana parkir

suasana parkir

Kami pun menyusuri pantai batu payung yang sebagian pantainya terdiri batu-batu yang sudah dihaluskan oleh ganasnya pantai Selatan. Terjangan terus menerus mampu menghaluskan batu-batu keras itu. Lebarnya seluar lapangan volli, panjangnya hampir setu kilo. Kalau sekiranya tidak licin mungkin sangat cocok untuk bermain volli. Merasakan batu-batu ini saya, pikiran saya terlempar ke deretan pantai selatan yang lain di Lombok seperti Pantai Tlawas dan Pantai Munah dengan batu-batuan terjalnya. Batu-batu di kedua pantai bahkan tak mampu ditembus oleh hempasan gelombang yang besar.

Di sebelah kiri saya, terlihat panjangnya pantai berpasir putih dengan gelombang seadanya. Di kanan saya, tebing-tebing tinggi menjulang ke langit. Dalam hati, saya ingin menyusuri bukit bertebing itu. Ku coba lemparkan kepada kawan perjalanan saya. “ntar aja pulangnya naik bukit batu payungnya, kata salah satu temanku”. Hanya butuh sekitar 30 menit untuk sampai ke Batu Payung dengan berjalan kaki.

Sapi-sapi di bukit batu payung

Sapi-sapi di bukit batu payung

Ku liat langit yang masih diselimuti oleh awan kelabu yang menggelayut hingga ke batu payung tepat di atas kami. “Batu payung” begitulah orang Lombok memanggilnya. Saya tidak tahu kenapa Batu yang bentuknya tak mirip sama sekali dengan payung ini dipanggil sebagai batu payung. Batu ini sepertinya terbentuk dari hembasan gelombang Samudra Hindia yang sangat keras secara terus-menerus. Daratan-daratan yang tak kuat menahan hempasan gelombang akan hilang ditelan ganasnya sang ombak. Sedangkan Daratan yang perkasa menahan ombak pantai selatan, maka dia akan dianggap sang perkasa. Dan sekarang saya berdiri di bawah Batu Perkasa itu.

Saya pun coba menerka-nerka ukuran dari batu payung ini. tingginya menjulang kira-kira 10 meter, Lebarnya 3 meter, tebalnya sekitar 1 meter. Cukup unik dan satu-satunya yang ada di pulau Lombok. Keunikannya itu lah yang menarik rokok Dunhill mau menjadikan batu payung sebagai lokasi syuting iklan rokok Dun****. Sejak iklan rokok Dun**** pengunjung yang ingin tau batu payung sering berdatangan. Jangankan turis lokal, turis manca Negara pun juga ingin mencicipi indahnya batu payung. Tak jauh dari Lokasi Batu Payung ini ada sebuah Batu atau sejenis pulau kecil yang berjarak sekitar 10 meter.

Perjalanan ke Batu Payung

Perjalanan ke Batu Payung

Tiba di batu payung, saya langsung membuka bungkus sarapan yang saya bawa dari mataram. Teman-teman asik bernarsis ria dengan Batu payung, saya bernarsis dengan nasi bungkus berlabel Rp. 3000,00. Cukup lumayan mengganjal perut yang sedari tadi pagi belum terisi sama sekali. Puas menikmati sarapan pagi, saya langsung mengambil foto di beberapa bagian kemudian selonjoran di bawah batu payung yang teduh. Angin laut segar menembus sela-sela baju dan celanaku. Damai dan  tenang yang kami rasakan. hanya suara ombak dan semilir angin yang menyeringai ke gendang telinga yang menambah ketenangan. hanya kita berlima yang ada di sini, serasa punya kami berlima keindahan ini. Nikmat Tuhan yang mana yang kamu dustakan.

Mentari sesekali timbul tenggelam. Berkejar-kejaran dengan sang awan. Saat sang awan yang menyalip, maka seketika Batu Payung meredup. Saat mentari berhasil mengalahkan si awan, maka Batu Payung terlihat terang benderang. Di saat timbul tenggelam mentari itu lah, empat anak-anak penjual kelapa muda menghampiri kami yang lagi duduk santai. Rupanya anak-anak penjual kelapa muda itu membuntuti kami sejak dari lokasi parkir. Begitu mangsa muncul, di situlah mereka akan muncul.

Bersantai di Batu Payung sambil minum kelapa muda

Bersantai di Batu Payung sambil minum kelapa muda

Mas, kelapa muda mas, kata salah satu anak itu kepada kami. Teman yang lain pun menyusul “mas, kelapa muda mas.” Dua temanku Andri dan Nur langsung membelinya. Mas, kelapa muda massss, katanya dengan merengek-rengek. “Mas,” yaa kenapa?, Ya ntar saya beli kalau dah haus. La saya mau tanya kalian. “kug hari sabtu kalian pada ngak sekolah ne, malah jualan kelapa muda di sini?, kataku. Libur mas, kata salah satu dari mereka. Kayak pegawai kantor aja, kata yang lain. Dua jawaban yang bertolak belakang dari mereka sendiri. “Wah ngak kompag ne, ayo kalian bolos yach?, sejak kapan sekolah libur hari sabtu, sanggahku. Kenapa kalian bolos?,kataku. Males mas, jawabnya serempak. Dasar kalian ini, kataku.

Ku liat Teman-temanku yang lain semakin asyik duduk bersimpuh dibawah Gagahnya batu payung, minum es kelapa muda sambil mengobrol. Sedangkan saya semakin asyik dengan anak-anak yang bolos sekolah hanya untuk bisa berjualan kelapa muda yang harganya Rp 10.000,00 per biji. Ntah berapa keuntungannya hingga rela menggadaikan pendidikannya. Saya mencoba membetulkan posisinya, dari bersandar setengah tiduran menjadi duduk berdekatan dengan anak-anak harapan bangsa ini.

bernarsis ria dulu sebelum dikejar-kejar monyet hehe

bernarsis ria dulu sebelum dikejar-kejar monyet kelaparan hehe

Ayo saya pengin tahu siapa nama kalian semua, sekolah di mana, dan kelas berapa?. Nama saya Ochi, sebelah saya Abadi, trus Imam Syafii dan ini Jantan. Wah ini kug namanya jantan?, kataku. Ya mas, nama bapaknya kangkung, kata ochi sambil mentertawakan temannya sendiri. Semuanya kelas 3 di SMP 13 Pujut Gerupuk Satap (satu Atap) kecuali Jantan yang masih kelas 5 SD. Jantanlah yang memiliki perawakan tubuh yang paling kecil. Dan Jantan pula lah yang penampilannya paling aneh. Kopiah hitam itu selalu menempel di kepalanya.

empat sekawan penjual kelapa muda

empat sekawan penjual kelapa muda kiri ke kanan (Abadi, Jantan, Imam Syafii, dan Ochi

“Emangnya kalian ngak dimarahi tah oleh orang tua dan gurunya?.” Wah kalau guru sering hukum kami mas. Tapi kalau orang tua ngak pernah mas. Wah wah jangan-jangan kalian ini jualan kelapa muda ini disuruh orang tuanya, kataku. mereka berempat hanya tersenyum bisu. Bisu semua. Tiba-tiba rengekan itu keluar lagi dari salah satu mereka.”Mas, ayo beli kelapa muda mas, kata ochi yang kemudian disambut “iya saya juga belum mas” oleh Jantan. Memang, tinggal mereka berdua lah yang kelapa muda belum terbeli oleh kami berlima. Yaa ntar saya beli, kataku.

Dari Pengalaman mereka terlihat begitu pentingnya peran  orang tua, kalaupun gurunya menghukum tapi kalau orang tuanya ogah-ogahan, males ngurus anaknya atau bahkan acuh. Ya begini lah jadinya. Anak-anak yang harusnya males. Saya pun kemudian menceritakan bahwa saya dulu juga bekerja seperti kalian. “Saya juga terlahir dari orang tua yang nasibnya ngak jauh beda kalian. Kerjaanku dulu adalah mencari rumput untuk sapi-sapi orang tua.Tapi, saya tetap sekolah lah. Jadi kalian ini harusnya jualan kelapa muda sehabis datang sekolah bukan jam sekolah,” kataku. akh sok bijak aku ini, batinku.

ochi menawarkan kelapa muda kepada salah satu pengunjung

ochi menawarkan kelapa muda kepada salah satu pengunjung

Sebenarnya kalian ini bagus, sejak kecil sudah dilatih berbisnis. Ntar lama-kelamaan kalian bisa jadi pebisnis ulung, kataku pada mereka. Akh kamu ini dir, Bisnismu aja gagal terus malah nasehatin anak-anak, kata Andri langsung menyanggah nasehatku. mentah semua. Memang saya pernah berbisnis, mulai dari bisnis pulsa, Playstation dan yang terakhir adalah bisnis kuliner bakso. Semuanya berakhir dengan kegagalan. Tapi, Saya tak pernah berputus asa untuk berbisnis. Bukankah kegagalan itu merupakan kesuksesan yang tertunda. hahaha

Ku liat langit yang masih terselimutu awan kelabu. Dir, ayo kita ke puncak bukit, kata andri menyela. Tunggu bentar agak siangan lah biar bisa liat Birunya laut batu payung, lagian kan masih mendung gini, kataku.

Agak aneh juga saya ngobrol dengan Anak-anak yang wajahnya terlihat polos, lugu, imut. Saat ngobrol dengan saya.anak-anak itu sering menunduk karena malu atau? Bahkan, si Jantan yang berkopiah hitam hampir selalu menyentuhkan kepalanya dengan tanah lengkap. Eh Gerupuk itu apa artinya yach?,kataku pada anak-anak itu, si Imam Syafii langsung nyamber Gerupuk ituuuuu (sambil mikir) ya bertengkar, berkelahi. Yaaa soalnya orang gerupuk itu suka berkelahi, misal : Kakak berkelahi dengan adik, dan Suami berkelahi dengan istri, tapi, kalau suami istri kelahinya di ranjang, kata syafii menambahkan. Akh dasar loh, dah tahu gituan, kataku.

Ochi pun tak berhasil menjual kelapa muda itu. dia hanya duduk sendiri menunggu pengunjung kehausan

Ochi pun tak berhasil menjual kelapa muda itu. dia hanya duduk sendiri menunggu pengunjung kehausan

sebelum saya beranjak pergi dari peraduan batu payung dan empat penjual kelapa muda itu. Saya harus melunaskan janji saya untuk memesan satu kelapa muda. Pilihannya jatuh kepada ochi. Anak yang paling kurus dan jungkring. Akh tapi, si jantan menyapaku akh kelapa saya belum dibeli mas. Sayang, perutku dah ngak mampu lagi. Saat kami hendak pergi, beberapa pengunjung mulai berdatangan. Ada yang menggunakan perahu dan ada yang berjalan seperti saya. Dan saya meninggalkan Batu Payung yang penuh pesona

Matahari menjelang siang, saya dan rombongan memutuskan untuk naik ke puncak Batu Payung yang berketinggian 80 MDPL itu. Dari atas bukit ini saya memperhatikan batu payung yang tetap memberikan pesona walau langit masih tertutup awan kelabu. Gili Anakanjan yang berada tak jauh dari batu payung juga menambah memperindah kawasan batu payung. Dari puncak bukit Batu payung ini, saya menyaksikan sapi-sapi yang dilepas bebas oleh pemiliknya. Dari puncak bukit ini kami bisa menyaksikan ke segala arah. Pantai Tanjung Aan yang garis pantainya panjang, Pantai Batu Payung yang mempesona, bahkan kami bisa menyaksikan pantai-pantai indah yang belum ku ketahui namanya. Hanya pasir putihnya yang nampak mengelilingi kami.  Di dekat Pantai Tanjung Aan ada pantai Remisi, disitu banyak kura-kura bersemayam, begitulah kata Imam Syafii. Saat melihat ke sekeliling batu payung, saya melihat dua turis cowok yang bertelanjang di ujung bukit. Sepi. Benarkah dua turis itu hanya memandangi keindahan Pantai Batu Payung di bawah sana. Timbul pertanyaan kenapa dua turis cowok, kenapa bukan sepasang, dan pertanyaan kenapa-kenapa lainnya bermunculan di otak saya.

Sudut Batu payung

Sudut Batu payung dan Gili Anakanjan

Sang Monyet

Tiba-tiba.

Seekor Monyet hendak menyerang kami berlima. Howk howk howk….tak ada perintah kami semua langsung membentuk lingkaran penyok. Saking kagetnya dengan monyet dadakan itu, Nur tak sengaja melempar jaketnya Ita. Itu Jaketku, Kata Ita sambil mengambil jaket secepat kilat. Monyet bertubuh tambun mengarahkan pandangan ke arahku. Matanya tajam, fokus, dan tak berkedip sedikitpun. Saya pun memandanginya dan tatapan mata saya bertemu. hatiku dag dig dug ngak karuan… bulu kudukku yang berdiri tambah berdiri. Huwk huwk huwk huwk, monyet itu bersuara hendak mau menerkam.  Ambil batu, andri berteriak keras. Saya berusaha bersembunyi kemudian mengambil batu kecil.

Lempar batunya, kata andri.

Saya ragu untuk melempar takut dia mencariku kemanapun saya pergi. Saya mengurung niatku. badanku  gemeteran. Dia terus memandangi kameraku yang ku pegang erat-erat di dada. Mungkin karena kameraku ini, dia selalu melihatku terus menerus.

Monyet tak bertuan itu akhirnya makan roti hasil perkelahiannya dengan kami.

Monyet tak bertuan itu akhirnya makan roti hasil perkelahiannya dengan kami. begitu rakusnya dia makan roti yang kami berikan. mulutnya mengunyah tapi matanya tetep membuntuti kami

Masukkan kameranya ke dalam tas, mas cadeeeeer, kata andri.

Ingin ku masukkan ke dalam tas. Tapi pandangan tajamnya tak sedikitpun melengahkanku. Saya takut saat berusaha memasukkan ke dalam tas, dia tahu-tahu menerkam wajahku. Saya hanya berusaha mengalihkan pandangannya terhadapku. Tapi dia tetap mencari wajahku. Kenapa wajahku?kenapa aku yang menjadi pusat perhatiannya. Saya kemudian berusaha melakukan gerakan loncat menghindar. Brukkkkkkkkkkkk… saya terpeleset…ku cepet berdiri lagi, takut-takut dia langsung menerkam mukaku. Ku liat tangan siku kiriku. Darah segar keluar. Bercucuran.

setelah berkelahi dengan monyet, kami pun bergegas turun bersama dua turis

setelah berkelahi dengan monyet, kami pun bergegas turun bersama dua turis

Saya langsung fokus lagi ke monyet tak bertuan dan kurang ajar itu. Satu monyet tambun melawan lima orang manusia dewasa. Dan kami merasa kami berlima yang kalah. Tiba-tiba Aryo memisahkan dari rombongan dengan memegang kreksek. Sang Monyet langsung menerkam bungkusan itu secepat kilat. Aryo dan monyet berhadapan saling berebut kreksek dan aryo menjadi pemenangnya.

Berani pegang kayu pas monyetnya wis ngak kejar hahaha

Berani pegang kayu pas monyetnya wis ngak kejar hahaha. tetep gaya sok nakutin monyet haha

Tiba-tiba semua teringat bahwa ada roti di dalam tas kresek itu. Lempar rotinya, kata andri berteriak kepada Aryo. Aryo secepat kilat melemparkan sebungkus roti itu. Monyet seakan tak pernah luput dalam menangkap mangsanya. Monyet itu langsung merobek bungkus dan langsung memakannya. Kami pun secepat kilat kabur. Ku liat monyet itu begitu lahap memakan sebungkus roti. Mulutnya mengunyah, Pandangan tajamnya tetap tertuju kami yang lari tunggang langgang menjauhi sang monyet. Kami pun mendekati dua turis tersebut.

He still coming to the beach, kata dua turis itu kepada kami – sambil mengarahkan kameranya kepada rombonganku yang ketakutan. “Yes,” kata kami berbarengan. Damn, kata turis. Saya dan rombongan plus dua turis menuruni bukit menakutkan ini. Sesekali melihat ke belakang. Jangan-jangan monyet masih kelaparan dan mengejar kami sampai ke pantai. Huft…sepanjang perjalanan kami dari Puncak Bukit ke lokasi pemukiman yang menjadi topic pembicaraan adalah monyet-monyet itu bukan tentang keindahan pantai Batu Payung  yang mempesona iklan rokok itu.

Dua Turis itu

Dua Turis itu

33 thoughts on “Penjual Kelapa Muda di Pantai Batu Payung

  1. Kebanyakan monyet mengejar kita karena kelaparan.
    Soalnya pernah pengalaman di pantai dikejar monyet juga. Pikiran awalnya mungkin mau mencuri kamera atau pakaian. Lama-lama kok mikirnya lebih bego dari monyet ya, kok monyet butuh camera atau pakaian?? Hahaha. Ya uda saya lemparin snack aja, nah monyetnya diem. Habis kenyang langsung pergi gak ganggu lagi.

    • yaaaa perasaan mas aaron setiawan sama dengan pemikiran saya. yaa karena ngak dapat makanan biasanya monyet-monyet itu suka ngambilin kamera. saya pernah melihat kejadian ini di uluwatu bali. kamera SLR salah satu wisatawan jepang dirampas trus dibawa kabur..hehe….ya alhamdulillah setelah dikasih roti dia diam tapi sorot matanya tetap ngeliat kami yang lari terbirit-birit hehe

      • Hahaha berarti monyetnya belum kenyang.
        Ada triknya juga kok dalam memberi makanan : beri langsung makanan yang banyak.
        Nah pertanyaannya, bagaimana kalau stok makanannya sedikit? Pengalaman spontan dulu waktu dikejar monyet, beri makanan dalam ukuran kecil-kecil contohnya kacang, kuaci, atau makanan ringan yang kecil-kecil. Contoh : roti itu dicuil kecil-kecil kemudian ditebar, pasti monyetnya sibuk makan dan ngumpulin tuh makanan.

      • wahhh untung ada komentator cerdas kayak aaron setiawan yang sudah tahu seluk beluk tentang dunia permonyetan…sip sip…sangat berguna kawan masukannnya kawan soale roti itu kemarin tinggal satu-satunya juga…untung dah kita cepet kabur…..suwunnnnn…

  2. waah kisah seru diganggu monyet.. tapi kalo gak ada monyet nya ceritanya jadi kurang seru yah mas.. hahahahaha… tapi tetep aku terkagum kagum sama fotomu.. selalu bikin foto yang gak berasa kaya di Indonesia

    • waaahhhhh monyetnya tambah bikin seru yach…tapi gara-gara tuh monyet…siku tangan saya terluka. hadewh…atitttt..ne tetep masih belum sembuh lukaku. ma kasih mas Goig….ayo ke Lombok biar berasa di Lombok hehe

  3. Wah pantainya keren banget, kayak pantai di film2 hollywood..
    Ternyata monyet dimana-mana gitu yah, suka ganggu pengunjung. Sama kayak pengalamanku waktu main di ngarai sianok bukit tinggi..

    • Monyetnya hanya satu mas ronal tapi punya anak dua kecil kecil. so hanya ada 3 monyet..tapi galaknya ampun-ampunan. saya sampai terluka namun bukan karena digigit monyet tp karena terjatuh karena takut digigit monyet….yaa mas pantai batu payung emang cantikkk..ihirr kayak hollywood bukan bollywood yach hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s