Meniti Jejak sejarah di Dompu

Bunga di Lapangan alun-alun kabupaten dompu berlatar kantor dan Cemara dengan cahaya sinar senja

Bunga di Lapangan alun-alun kabupaten dompu berlatar kantor dan Cemara dengan cahaya sinar senja

Dompu mempunyai daya tarik tersendiri untuk menggaet wisatawawan. Dompu merupakan salah satu kabupaten yang berada di Pulau Sumbawa – pulau yang berada di antara pulau Lombok dan pulau Flores.  Lokasi kabupaten Dompu yang tak jauh dari gunung Tambora membuat Dompu menjadi daya tarik sendiri bagi para petualang, para hiking- penikmat suasana pegunungan. Selain suasana sejuk khas pegunungan, dompu juga menawarkan pantai berpasir putih dengan lambaian ombak yang indah.

Dompu bagian utara langsung berbatasan dengan pulau Moyo yang terkenal dengan amanwana resort  atau pulau satonda – yang menawarkan pesona danau air asin yang berada di tengah-tengah pulau. Di daerah utara, anda juga bisa menikmati indahnya pesona pegunungan tambora. Kita bisa merasakan suasana sejuk khas pegunungan. Bercengkrama dan bergaul dengan penduduk di kaki gunung Tambora tersebut.

Jika di sisi utara dompu menawarkan keindahan kawasan pegunungan. Maka di kawasan selatan, dompu menawarkan keindahan pantai Lakey yang menjadi icon baru dompu. Pantai berpasir putih dengan ombak-ombak besar khas samudra Hindia telah menyedot wisatawan-wisatawan asing. Bahkan, Ombak pantai Lakey termasuk lokasi tempat berselancar termpat terbaik di dunia. sayang, kepergian saya kali ini belum bisa menyicipi keindahan Lakey yang terletak di kecamatan Hu’u itu.

Icon dompu di senja hari

Icon dompu di senja hari

Dompu tak hanya menawarkan wisata alam, Dompu juga menawarkan wisata sejarah yang masih penuh teka teki yang perlu diteliti dan digali. bagaimana Ncuhi-Ncuhi (raja-raja kecil) di Dompu kemudian bermetamorfosis dari kerajaan kecil menjadi kerajaan besar – kerajaan Dompu. Teka-teki sejarah tahun berdirinya kerajaan Dompu dikaitkan dengan letusan Gunung Tambora yaitu pada tanggal 11 April 1815. Ingat kapan Gunung Tambora meletus, maka akan ingat kapan berdirinya kerajaan Dompu atau kabupaten Dompu.

Berbagai Informasi yang saya baca bahwa ada tiga kerajaan yang berada di lereng Gunung Tambora yaitu kerajaan Pekat, Sanggar dan kerajaan Tambora. Tiga kerajaan itu lenyap bersamaan dengan meletusnya gunung Tambora. Sejak saat itu, bekas kerajaan di lereng gunung tambora tersebut masuk dalam wilayah kerajaan Dompu. Masuknya bekas wilayah tiga kerajaan tersebut juga sebagai penanda kerajaan dompu baru dan tanggal 11 april 1815 dijadikan sebagai hari lahir kabupaten Dompu.

Mada Pangga, Perbatasan Bima Dompu

Kedatangan saya ke dompu pertama kali ditempuh dari Bima ke Dompu dalam suasana kegelapan, maklum saya berangkat dari Bima menjelang jam 07.00 Wita. Kami berangkat bersama rombongan yaitu Ibu Ani, pak Muhaimin, dan pak Agus. tak seperti di Kota Bima, Dompu berada di dataran tinggi. Saat memasuki perbatasan Kabupaten Bima, Mada Pangga. Jalan-jalan yang berkelok membuat mobil berjalan lebih pelan. Dalam kegelapan, perkampungan Mada pangga itu menjadi pelita kawasan perbatasan ini. Tak lama kami melewati jalan-jalan berkelok yang sepi, sunyi. Bunyi serangga hutan yang sedang bernyanyi mengurangi kesunyian.

Kuda-kuda yang menjadi icon kota dompu

Kuda-kuda yang menjadi icon kota dompu

Pak di sini, sering terjadi perampokan, kata pak Muhaimin memecah kesunyian.  Di kawasan Mada pangga yang gelap ini bulu kuduk saya berdiri. Hati-hati kalau jalan malam menggunakan motor di daerah sini, kata pak Muhaimin menambahkan.

“Banyak yang telah menjadi korban pak terutama yang menggunakan sepeda motor”.

“Kalau ada yang minta bantuan or ada ban bocor, jangan berhenti, jalan aja terus”.

“Dulu, istri saya pernah pulang malam dari desa sini. akhirnya, semua pemuda-pemuda desa mada pangga mengawal istri sampai ke rumah”.

“saya kaget, kug pemuda sekampung mengantar istri saya ke rumah”

“Wahhh keren ya pak istrinya bapak diarak ama pemuda kampung mada pangga, kataku menyela pak Muhaimin”.

“Istri saya dianter karena mengajar di kampung itu mas”

“Di sini juga sering jadi tempat pembuangan korban loh mas, kata pak agus yang asli Lombok itu”.

“Oh ya mas, kata pak Muhaimin seakan ingin memberitahu sesuatu kepada saya”

“Apa pak,” kataku

“Kata pemuda kampung yang menganter istri saya, kalau lewat jalan berkelok di kawasan mada pangga. Tiap melewati jalan berkelok, bunyikan aja klaksonnya. Klakson itu sebagai penanda bahwa yang mengendarai sepeda motor itu termasuk penduduk mada pangga.” Kata pak Muhaimin yang asli Dompu itu.

“Di sini ada sumber mata air dan tempat pemandiannya lok pak,” kata pak agus menambahkan.

Wah perbatasan Bima dan Dompu yang penuh misteri. Belakangan, saya baru mengetahui bahwa di Mada pangga juga terdapat pabrik air kemasan “Lam-lam” yang berlokasi di Mada pangga bahkan air kemasan yang terbesar di Bima dan sebagian sudah diekspor ke Flores.

Mada pangga selain sebagai tempat yang rawan dan menyeramkan di malam hari tetapi juga menawarkan kesejukan suasana dan ketenangan khas pegunungan di siang hari. Hampir dua jam, kami menempuh perjalanan Bima Dompu. Jam 09.00 kami tiba di hotel yang akan menjadi penginapan saya selama 3 hari di Dompu. Kemudian tidur melepaskan lelah untuk beraktivitas hari selanjutnya.

Bekas Istana kerajaan Dompu yang dirubah menjadi Masjid Baiturrahman Dompu

Bekas Istana kerajaan Dompu yang dirubah menjadi Masjid Baiturrahman Dompu

Saat saya turun dari masjid Baiturrahman yang berada di depan hotel saya. Saya melihat ada sesuatu yang aneh yang berada di samping kanan masjid. Makam ini berada dalam kawasan masjid Baiturrahman. Penasaran, Saya mendekati eh ternyata ini adalah makam raja Dompu kedua terakhir Sultan Muhammad Sirajuddin. Pagar masjid yang sekaligus berfungsi sebagai makam sultan itu tertulis.

“Sultan Muhammad Sirajuddin (Manuru Kupa). Lahir di Dompu dan meninggal di Kupang pada tahun 1937. Dimakamkan kembali di Dompu 22-1-2002”

Sultan Muhammad Sirajuddin diasingkan oleh Belanda ke Kupang pada tahun 1934. Sang Sultan diasingkan karena tidak mau patuh perjanjian yang sudah dibuat Belanda. Akhirnya, sang Sultan meninggal di kupang 3 tahun setelah diasingkan ke kota Kupang, NTT. Bupati Dompu, Abu Bakar Ahmad,  yang sangat mencintai sejarah ini kemudian berkomitmen untuk memindahkan jasad sang sultan Dompu itu. Keinginan Bupati itu akhirnya terlaksana pada tahun 2002. Jasad Raja Dompu yang tinggal tulang belulang itu kemudian dikafani dan dimakamkan kembali di Dompu. Lokasi pemakaman tepat berada di samping sebuah komplek pemakaman di masjid Baiturrahman.

Makam Sultan Muhammad Sirajuddin, raja kedua terakhir yang diasingkan ke Kupang, NTT

Makam Sultan Muhammad Sirajuddin, raja kedua terakhir yang diasingkan ke Kupang, NTT

Masjid Baiturrahman ini awalnya adalah istana terakhir kerajaan dompu. Letusan gunung Tambora mengakibatkan istana kerajaan Dompu hancur. Akhirnya, istana kerajaan Dompu dipindah ke lokasi masjid jamik Baiturrahman kabupaten Dompu. sayang, bukti sejarah tentang keberadaan istana kerajaan Dompu sudah tak membekas lagi. Hanya mahkota kerajaan Dompu yang masih di simpan di musium nasional Jakarta.

Berkeliling Kota Dompu

Musholla di tengah-tengah sawah-sawah yang sudah menguning di kabupaten Dompu

Musholla di tengah-tengah sawah-sawah yang sudah menguning di kabupaten Dompu

Kota Dompu yang kecil nan mungil ini tetep menawarkan keindahan yang kotanya masih diliputi sawah-sawah yang membentang luas, bukit-bukit hijau yang mengelilingi kota Dompu. Salah satunya di wilayah lingkar utara. Sawah-sawah yang menghijau membuat saya tertarik untuk berhenti. Mengabadikannya. Sebetulnya yang membuat saya tertarik adalah musholla permanen yang berdiri di tengah-tengah sawah. mushalla yang dikelinggi padi-padi yang hendak menguning. unik sekaligus asik.

Anton sang fotografer dengan modelnya.

Anton sang fotografer dengan modelnya.

Selesai moto, saya terus melaju motor pinjeman milik Muhaimin itu. tiba di pusat keramaian kota dompu saya berhenti. Ku liat alun-alun kabupaten dompu. di luar alun-alun, terlihat beberapa tempat hangout anak Dompu.hampir semuanya anak-anak muda. saat sore tiba, maka alun-alun dan sekitarnya berubah menjadi pusat hang out satu-satunya yang ada di kabupaten dompu itu. semuanya tumplek di sini.

bertemu Klub fotographer Alpharian di lapangan kabupaten Dompu

bertemu Klub fotographer Alpharian di lapangan kabupaten Dompu

Saya melongo ke dalam alun-alun yang pagarnya agak tinggi itu. di ufuk barat terlihat mentari yang mengeluarkan cahaya senja menyinari alun-alun Dompu. Ku liat beberapa fotografer model di dalam alun alun dalam temaram senja. Kota Dompu yang bermotto “Nggahi Rawi Pahu (berarti rencanakan laksanakan niscaya hasil kau dapatkan) itu” seketika begitu romantis.

Membidik cahaya (Kiyut dan modelnya)

Membidik cahaya (Kiyut dan modelnya)

Saya mendekati beberapa fotographer yang tergabung dalam alpharian Bima Dompu. di Lokasi ini akhirnya saya berkenalan dengan beberapa fotographer dari bima dan dompu. antara lain anton, Kiyut dan Teguh. Dari mereka lah saya baru tahu bahwa di Dompu juga ada kamara bura, ubudnya dompu. sayang, sampai kepulangan saya dari Dompu. saya belum bisa menginjakkan kaki ke Kamara bura – melihat indahnya sawah-sawah di dompu. Dalam petualangan selanjutnya, saya siap menjelajahi Kota Bima yang bersejarah. menelisik lebih dalam tentang kebudayaan rimpu. dan keindahan-keindahan kota Bima yang berada di kawasan teluk Bima itu.

Follow twitter kami di @caderabdulpaker

36 thoughts on “Meniti Jejak sejarah di Dompu

  1. suasananya masih hijau ya dan udaranya pasti masih bersih..
    Asyik juga yah kumpul2 komunitas photografernya..foto modelnya di masukin donk mas, biar kelihatan senyum manisnya hehe

    • yaaaa mas betull…mushallanya selalu mengademkan..adem batin merasakan ketenangan jiwa. adem di luar melihat sawah-sawah yang sudah menguning….ayoo luar pulau dimana dulu..saya juga mau luar pulau indonesia haha

      • wahhhh jangan salah mas…jujur jawa banyak yang harus digali, diexplore. sejarahnya budayanya, masyarakatnya..semuanya perlu digali…ayo jejajahi alam di sekitar kita. menurut saya perjalanan itu tak perlu jauh-jauh yang penting bermakna hehe….

    • bukan renovasi lagi mas masjidnya tapi sudah berubah total…sejarah itu hilang denga berdirinya masjid yang tidak jadi-jadi itu,,.sayang sejarah harus hilang..mungkin karena kita kurang menghargai sejarah

  2. Kondisi seperti itulah yang menjadi salah satu penghalang pariwisata. Tempat bagus tapi masih rawan kejahatan, entah kenapa mereka suka melakukan hal itu ya…. nice info der

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s