Air Terjun Coban Rondo dan Grojogan Sewu Malang

Air Terjun Grojogan Sewu dengan arsitektur Tiongkok

Air Terjun Grojogan Sewu dengan arsitektur Tiongkok

Hari sabtu menjelang siang hari saya siap berangkat menuju ngantang. Menjenguk rumah mertua yang terkena dampak letusan gunung kelut. Dari gang sempit kampung oro-oro dowo, kota malang saya bersama istri berangkat menggunakan sepeda motor. Ku liat langit yang diselimuti awan putih kelabu. Sepertinya akan segera turun hujan. Tak ada jas hujan, saya pun terus melaju menggunakan sepeda motor yang pajaknya baru dibayar sebulan lalu itu.

Memasuki kota batu langit semakin kelabu. Hawa dingin kota Batu menggelayuti tubuh saya. Sreng.. dingin, segar. saya pun terus melaju melewati kota yang terkenal dengan sebutan kota Apel itu. melewati alun-alun kota Batu saya jadi teringat bahwa alun-alun ini pernah menjadi tempat pengungsian orang-orang yang terkena dampak gunung kelut dari kecamatan Ngantang. 18 hari sejak gunung kelut meletus, lokasi pengungsian ini kembali seperti sedia kala. Tak ada tenda. Tak ada pengungsi. Tak ada relawan. Semua seperti sedia kala.

Setelah melewati kota batu yang dingin. Saya akan memasuki kawasan yang lebih dingin lagi. Melewati kecamatan yang terletak di antara kota Batu dan kecamatan Ngantang. Yaitu Pujon. Untuk memasuki kawasan kecamatan Pujon, ada dua alternatif jalan. bisa menggunakan alternatif jalur coban rondo atau jalur Songgoriti.

Jembatan Grojogan Sewu

Jembatan Grojogan Sewu

Jalur Coban rondo jarak tempuhnya lebih lama, berbelok-belok, memutar dan tanjankannya tak terlalu curam, dan anda pun bisa mengunjungi kawasan air terjun coban rondo yang terkenal di malang itu. nah jalur yang kedua adalah jalur Songgoriti. Jalur Songgoriti ini sebetulnya adalah jalur searah dari arah Pujon ke Batu. dan hanya cukup untuk satu mobil. Jadi untuk yang menggunakan mobil tidak disarankan melewati jalur ini dari batu ke Pujon. Di pintu masuk songgoriti terdapat tanda polisi “Minus” yang berarti dilarang melewati jalan ini.

Walaupun ini jalur searah, saya sering  melewati jalur songgoriti karena ini termasuk jalan tikus menuju pujon. Jalannya yang menanjak tak menyurutkan saya melewati jalur ini karena jarah tempuhnya pun lebih cepat. dan melanggar ketentuan lalu lintas. Songgoriti ini sebetulnya lebih dikenal sebagai kawasan “cisarua” nya Malang. Villa-villa banyak dibangun kawasan ini. saat saya memasuki kawasan Songgoriti, beberapa warga yang berada di pinggir-pinggir jalan meneriaki saya “Villa mas, Villa Mas, Villa Mas”. Sepanjang jalan saya ditawari “Villa Mas”.

Jembatan Grojogan Sewu

Jembatan Grojogan Sewu yang terkena dampak banjir bandang.

Bersahut-sahutan antara kanan dan kiri jalan. Setiap rumah di pinggir jalan itu seakan ada penunggunya. Dan penunggunya akan selalu menawarkan dan meneriakkan “Villa Mas”. Hebohnya lagi kalau di pinggir jalan berkumpul beberapa orang. Semuanya akan berteriak “Villa Mas”. Bahkan mereka pun semangat sekali mengejar saya menggunakan sepeda motor dan memepet sepeda motor saya kemudian menanyakan “Villa Mas”. tentu jawaban saya atas pertanyaan mereka adalah dengan tanggapan cuek “Ngak mas (setidaknya untuk saat ini). “

Saya berpikir mungkin karena saya boncengan dengan “cewek”. Sehingga mereka mengira bahwa saya ingin mencari penginapan. Ingat kawasan songgoriti, pikiran saya langsung ingat 4 tahun lalu tahun 2010. saat saya dan kawan-kawan saya berjalan di kawasan Legian, Bali. Tiap kaki melangkah selalu ada yang menawarkan “cewek mas, cewek mas, cewek mas”.

Ada yang menawarkan terang-terangan di depan saya atau di balik-balik toko atau dibalik gang-gang kecil di Legian. Sepanjang saya melangkahkan kaki di Legian tawaran itu tak pernah berhenti. Apalagi saat mendekati kawasan “Ground Zero nya ” Bali. Tawaran “Cewek mas” makin sering. Itu lah kawasan Legian Bali yang memiliki kemiripan dengan kawasan Songgoriti Malang.

Suasana Air Terjun Coban Rondo

Suasana Air Terjun Coban Rondo

Jalannya menanjak dan terjal. Di samping kiri adalah lembah-lembah yang ditumbuhi pohon-pohon cemara yang menghijau. Kanan kiri jalan dipenuhi pohon-pohon cemara-cemara berbaris rapi melambai-lambai diterpa angin pegunungan. Motor saya meliuk-liuk ke kanan kiri menghindari jalan-jalan yang berlubang. Di balik pohon-pohon cemara ada lembah songgoriti yang curam.

Di balik lembah itu ada mushalla yang berdiri di puncak bukitnya. rumah-rumah penduduk mengelilingi tepat berada di bawahnya. Di puncak bukit yang lain, kondominium perumahan berdiri di puncak bukit. Di puncak tanjakan, ku liat angin yang membawa awan putih merayap-rayap di jalan, menyusuri lembah, mengipas pohon-pohon cemara, membasuh-basuh tubuh saya yang mulai kedinginan.

Setelah mencapai puncak, kota kecil pujon menyambut saya dengan hawa dinginnya. Gerimis pun menghujani saya. Saya melongok ke atas. Awan putih kelabu menyelimuti. Pasir dan debu tumpahan gunung kelut yang beterbangan di pujon tak terlihat lagi. Angin dan hujan menyapunya dengan bersih. Relawan pun tak bermunculan.

Air Terjun Coban Rondo

Air Terjun Coban Rondo

Saya pun berlalu dengan kecepatan sedang. Melihat-lihat ke sekeliling pujon. Melewati koperasi susu sapi terbesar di Malang “Koperasi Susu SAE”. Di ujung jalan, terlihat puncak bukit. Awan-awan terbawa angin menangkupi pujon yang sejuk. Tak ada jejak gunung kelut . Tak ada jarak pandang yang dibatasi. Hanya bukit-bukit dan bangunan-bangunan toko di pinggir jalan yang membatasi jarak pandang saya.

Saya pun terus melaju menuruni keramaian pujon. Meliuk-liuk menuruni meninggalkan keramaian pujon menuju ke keramaian pujon yang lain, pusat-pusat oleh-oleh khas pujon. Terlihat berbagai sayuran dan buah-buahan di jual di sini. dan pastinya murah-murah. Apel-apel hijau, Ubi-ubian menggantung di pinggir-pinggir jalan.menunggu jamahan dan tawaran orang-orang yang ingin membawa pulang sebagai oleh-oleh.

Mobil di depan saya pun melambat trus makin melambat sampai terhenti dengan sempurna. sungai kali konto yang berada di samping jalan begitu derasnya. Membawa air dari hulu di gunung kawi mengalir menuju titik terendah menembus kecamatan Pujon dan ngantang melewati kabupaten jombang. bertemu dengan sungai kedua terpanjang di pulau jawa, kali brantas. Bercampur dengan aliran air kali widas yang membawa air dari gunung wilis di kediri. Mengalir menyusuri mojokerto. Bercabang ke arah porong dan surabaya. Kemudian Keduanya bersemayam di teluk madura di sisi timur surabaya.

Banjir Bandang yang menerjang rumah dan Escavator

Banjir Bandang yang menerjang rumah dan Escavator

Kali Konto tak sepertinya biasanya. Hujan yang begitu deras di ujung bulan Januari 2014 menghantam sawah-sawah. Banjir Bandang menimpa kecamatan Pujon dan Ngantang. Airnya meluber ke jalan-jalan. menerjang segala sesuatu yang menghalanginya. Pohon-pohon tumbang. Rumah-rumah di bantaran kali tersapu. setiap tikungan jalan, separuh jalannya tergerus dibawa ntah kemana. Sawah-sawah terlihat seperti disetrika oleh setrika alam. Halus dan berwarna kecoklatan. Air bah kali konto telah merusak sepanjang 15 Km di sepanjang aliran kali konto di Pujon dan Ngantang. rumah-rumah bantaran kali konto yang kuat bertahan hanya sebagian yang terbawa air, sebagian tersisa menggantung di pinggir sungai. Terlihat seperti manusia yang kakinya diamputasi separuhnya.

Petugas escavator yang berusaha membersihkan sungai kali konto tiba-tiba dihantam banjir bandang. Escavator dan petugasnya langsung terseret beberapa meter. Terpelanting. Escavator akhirnya didudukin oleh batu-batuan kali yang besar. Batu-batu kali konto begitu kuasa untuk menduduki escavator raksasa. Badannya dijepit oleh batu-batuan yang lain. Escavator tak berdaya. Dia begitu tak kuasa memindahkan satu dua buah batu yang mengelilingi tubuhnya. Banjir bandang telah mengubah semuanya. Batu tak bernyawa bisa berkuasa atas escavator. Escavator itu berada tak jauh dari rumah yang separuhnya terseret air bah.

Berbagai media memberitakan bahwa petugas itu hilang ditelan banjir bandang. Menjadi headlines di koran lokal malang. Sebetulnya, dia berhasil menyelamatkan diri dan menginap di salah satu rumah penduduk sekitar. Media tak mengendus berita itu. hanya berita mulut ke mulut yang mengetahui bahwa petugas escavator selamat dan berada di rumah penduduk.

Escavator diduduki batu-batu akibat terjangan banjir bandang

Escavator diduduki batu-batu akibat terjangan banjir bandang

Tak hanya jalan dan sawah yang diterjang oleh ganasnya banjir bandang. Jembatan yang menghubungkan ke air terjun Grojogan sewu terputus. Warnanya jembatan berwarna merah cerah. Sayang, ujungnya sudah diterjang banjir. Kecantikan jembatan memudar. Saya pun terus melaju dengan pelan. Sesekali terhenti oleh jalan yang separuhnya dimakan oleh amukan banjir. Pemuda kampung seketika menjadi petugas dadakan mengatur lalu lintas. Bergantian. Ketika kendaraan dari arah malang berjalan maka kendaraan yang dari arah jombang dan kediri terdiam merayap memaku jalan. begitu juga sebaliknya.

Saat terlepas dari jalan rusak, dari antrean panjang, saya langsung dihadapi pada antrean baru lagi. Motor terhenti. Ujung kemacetan tak terlihat. Sepertinya daya rusaknya lebih parah dari yang sebelumnya. Ku melongok ke depan sana, tak ada tanda-tanda bahwa kemacetan akan segera terurai. ku liat aliran deras sungai konto. Terlihat beberapa warga yang sedang gotong royong. Ku toleh ke kanan jalan. di Gapura kampung tertulis “Kel. bendosari “. Saya mencari waktu sejenak menghilangkan antrean yang tak berkesudahan. Saya mendekati keremunan penduduk. “ayo, kurang dowo,”  teriakan salah satu warga di atas jembatan kepada kawannya yang berada di bawah jembatan. “kurang dowo”. Saya melongo ingin tahu.  Ternyata tali yang digunakan untuk menarik bambu-bambu itu yang kurang panjang. Dowo dalam bahasa jawa berarti panjang.

Jembatan bambu Bendosari di kecamatan Pujon

Jembatan bambu Bendosari di kecamatan Pujon

Rupanya, warga di kampung bendosari bergotong royong membangun jembatan darurat dari bambu. Bambu-bambu yang baru ditebang langsung ditali temali kemudian dipasang untuk dijadikan jembatan. Mereka bahu membahu untuk membangun jembatan ini. tak perlu uluran tangan dari pemerintah yang tak jelas kapan akan dilakukan pembangunan kembali. Warga desa bendosari tak perlu itu. mereka hanya perlu bambu-bambu untuk menyambungkan dua daratan yang terpisah oleh kali konto. Di ujung jembatan, hanya ada satu rumah dengan tulisan “olah limbah jadi berkah.” Saya belum bisa menerka bangunan apakah itu. pengolahan susu sapi kah atau kah pengolahan limbah?.

Saya hanya sibuk memotret jembatan darurat dan orang-orang yang berjalan di jembatan dengan panjang sekitar 7 meter itu. beberapa warga melihat saya jeprat sana sini. saya terdiam dan melirik. mereka memberikan senyum manis kepada saya. Saya pun membales senyuman mereka sambil terus memotret jembatan bambu. Sebelum pertanyaan saya terjawab saya harus segera meninggalkan lokasi ini. ku toleh ke belakang melihat warga bersenda gurau di tengah kesibukan membangunan jembatan. Tertawanya begitu lepas seakan tak ada beban. Saya pun sempat merekam senyum mereka yang lepas. saya harus melanjutkan perjalanan lagi. Mungkin sebentar lagi kemacetan akan teurai dan siap melanjutkan perjalanan kembali.

Gelak tawa lepas warga bendosari

Gelak tawa lepas warga bendosari

Kecamatan Ngantang. Inilah kecamatan yang terkena dampak terparah letusan gunung kelut tanggal 13 Februari 2014 itu. Dua kali kecamatan ngantang di rundung kesedihan hanya dalam waktu tak lebih dari 15 hari. Banjir bandang dan gunung meletus.

Saat saya memasuki ngantang. Gundukan-gundukan pasir hitam mengkilat tertumpuk di pinggir jalan. setiap rumah penduduk pasti ada pasirnya bekas tumpahan gunung kelut yang belum terangkut. Beberapa rumah masih terlihat kusam kelabu seperti langit yang masih kelabu. Tak ada hiruk pikuk relawan yang bekerja. melawatan desa kaumrejo. Jalan-jalan masih diselimuti pasir setinggi 10 cm. siang hari, saya tiba di rumah mertua saya di ngantang. Tepat di kaki waduk selorejo. Merehatkan badan dan kaki untuk mempersiapkan perjalanan besok hari menelusuri dampak gunung kelut di Ngantang.

23 thoughts on “Air Terjun Coban Rondo dan Grojogan Sewu Malang

  1. wew… setahu saya Songgoriti itu populer karena pemandian air panasnya. Semoga tidak jadi populer karena “villanya”. Hahaha.

    Pas erupsi merapi di Jogja tahun 2010 silam, truk-truk pasir juga banyak yang tersapu banjir Mas. Ngeri ya penduduk yang tinggal dekat sungai…

    • oooh ada pemandian air panasnya tah…saya belum pernah nyoba tuh,,,yaaa sekarang lebih terkenal villanya tuh hehe….yaaa mas itu banjir lumpur….kalo yang saya ceritakan disini banjir karena hutan-hutan digundulin…

  2. warnanya ngejreng ya mas jembatan dan arsitek Tiongkoknya bikin mata seger

    itu serem juga pemandangan usai banjir bandang mas

    lihat Foto Foto di atas jadi inget Saat brd di kampung halaman pas ngunjungi wisata air terjun setempat walau kecewa sih airnya nggak sebanyak spt Foto di atas

    btw, Foto fotonya cantik mas, bikin adem yg ijo ijo itu😛

  3. Dulu pernah mampir ke Coban Rondo ini. Naik motor juga dari Malang. Seru, meski kena gerimis juga di jalan.

    Eh itu jembatan dan escavatornya kasihan ya, ngeri banjirnya..

  4. Eh mas keren tuh air terjun tapi ada arsitektur tionghoanya, Ada klenteng juga disana?
    waduh itu sampe longsong gitu mas kasian jadinya, tapi itu bapak2 ketawa2 aja ya hahaha

  5. Pingback: Pengalaman Detik cemas 'anak kapal' - KOPI LEKAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s