Amukan Gunung Kelud di Ngantang

Gunung setelah meletus. rumput-rumput gunung berwarna kecoklatan

Gunung setelah meletus. rumput-rumput gunung berwarna kecoklatan

Pagi ini begitu damai di salah satu dusun Gading, Desa Kaumrejo Ngantang. Mentari masih enggan. Terhalang oleh gunung Kawi yang tinggi menjulang. Awan putih menggelangtung di puncak gunung. Seperti kopiah Yahudi di ujung kepala. Kampung ini masih diselimuti  rasa dingin. Dingin selalu identik rasa malas. Termasuk rasa malas itu mulai merasuk ke dalam diri. Saya mulai males sekedar untuk mengabadikan matahari terbit di kampung ini. sunrise itu terlewat begitu saja tanpa bidikan kamera. Saya hanya mampu melirik dari bilik-bilik kaca tak tertembus angin dingin khas pegunungan.

Kedinginan harus dilawan dengan rasa dingin itu sendiri. Itu kuncinya. Dingin, maka mandilah dengan air dingin itu sendiri. Maka rasa dingin akan hilang dengan sendiri. Saya termasuk berhasil mengalahkan rasa dingin itu dengan langsung mandi dengan air yang tanpa terlebih dahulu dihangatkan. Rasa dingin juga bisa dilawan dengan minum sesuatu yang hangat seperti teh dan kopi hangat. Sehingga, tak jarang kebiasan penduduk pegunungan  suka hal-hal berbau manis dan hangat. Kopi dan teh selalu menjadi pertanyaan di setiap pagi. Mau Teh atau Kopi, kata nenek menawarkan. Teh aja nek, sahutku dengan agak ragu. Maklum saya termasuk orang yang jarang mengkonsumsi teh hangat setiap pagi. Rutinitas minum kopi atau teh telah menjadi kebiasaan di kampung ini. tidak tahu sejak kapan kebiasaan itu dimulai. dan sekarang saya merasakan kebiasaan kampung meminum segelas teh hangat. Mungkin karena hawanya dingin ini , teh itu terasa lebih nikmat saat masuk ke kerongkongan.

Kampung ini bagian timurnya berbatasan gunung Kawi, gunung Arjuno di sisi utara, gunung Kelut di sisi timur laut dan bagian selatannya langsung berbatasan dengan kaki waduk selorejo. Sepanjang aliran waduk selorejo mulai dari ujung barat sampai dengan ujung timur dikurung oleh bukit yang namanya selokurung. Setelah itu, disambung dengan gunung kelut dan gunung kawi.

Desa Pandansari di bawah gunung kelut

Desa Pandansari di bawah gunung kelut

Bukit Selokurung itu masih menjadi pertanyaan. Nama itu seperti gabungan Selo dan Kurung. Selo sendiri adalah legenda tokoh tanah jawa yang bernama Ki Ageng Selo, sang penangkap petir. Nama belakang dari sang penangkap petir itu kemudian digabung dengan salah satu bukit yang mengurung kampung ngantang menjadi “Selokurung”. Jadi tepatlah kampung ini bener-benar terkurung oleh bukit-bukit dan pegunungan. Kampung yang terkurung. Terselimuti oleh kedinginan.

Berjalan-jalan di kampung. Pak Yono, pemuda penggangguran setengah baya di kampung ini begitu semangatnya. Jalan-jalan kampung yang tertutupi oleh pasir dan debu gunung kelut dicangkulnya. Karung-karung disampingnya terisi penuh oleh pasir dan debu padahal pasir yang dicangkulnya tak lebih dari luas kasur spring bed. Tebalnya mencapai 10 cm. “wah sebelum turun hujan tebalnya lebih lagi mas,” kata pak Yono kepada saya. Air hujan itu telah membawa debu dan pasir ke selokan kampung kemudian berakhir di waduk selorejo. Jadi lah waduk selorejo semakin mendangkal. Pak Yono itu terus melanjutkan cangkulannya. Sapa bilang Pak Yono adalah pemuda pengangguran.

Setidaknya, selama pasir dan debu kelud ini masih numpuk di jalan. dia akan tetap berkarya membersihkan. menyeroknya kemudian memasukkan ke dalam karung. Karyanya akan berbuah imbalan dari penduduk yang merasakan manfaatnya. Bisa mendapatkan makanan gratis atau secuil ongkos untuk membeli baju baru. Dengan membersihkan debu, Dia ingin membuktikan dirinya bahwa dia bukanlah pemuda pengangguran sebagaimana digosipkan para warga kampung. Ini adalah sebagai bentuk aktualisasi dirinya. Dia ingin membuktikan bahwa saya bukanlah pengangguran tapi pekerja.

Sesekali penduduk memberhentikan kendaraanya kemudian menyapanya. Penduduk kampung yang jalan pun menyapanya. Senyum pun keluar bibirnya. Dia menyambut sapaan hangat yang menyapanya. Dia begitu eksis di kampung gading ini. setidaknya selama debu ini masih menumpuk di jalanan. hanya dia yang terlihat membersihkan jalanan kampung dari ujung barat ke timur. Akh pak Yono emang hebat.

“Kenapa bapak mau membersihkan pasir dan debu jalanan kampung ini,” kataku menyela pekerjaannya.

“Ya supaya jalannya kembali seperti dulu lagi mas, Lancar.” Katanya pelan. Tak ada embel-embel biar dikataian penduduk sebagai pemuda pengangguran. Atau aktualisasi seperti katanya Maslow. No.  just biar lancar.

Trus pasir yang dalam karung-karung itu mau dikemanain pak?. Wah ngak tau mas, jawabnya tegas.

Saya jadi teringat desas desus di kampung Ngantang bahwa pasir-pasir letusan gunung kelut ini tak boleh  diperjualbelikan. Desas desus itu antara lain Ada seorang warga yang menjual pasir letusan gunung kelut. Setelah pasir itu terjual dan uang diterima. Si penjual akhirnya jatuh sakit dan masuk ke rumah sakit. Akhirnya, si penduduk lain menyarankan agar pasir yang telah dijual agar dikembalikan kepada penjual. Dan si penjual akhirnya sembuh kembali setelah pasir-pasir itu kembali. Gimana kebenaran tentang pasir gunung kelut. Wallahuaklam. Jadi karena ada kejadian seperti itu, penduduk ngantang tak ada yang berani menjual pasir hasil letusan gunung kelut. Di beberapa rumah warga tumpukan pasir-pasir berwarna hitam menghiasi halaman rumah penduduk.

Saya pun berlalu meninggalkan pak Yono sendirian. Saya berjalan ke bibir waduk selorejo yang bibirnya jontor karena tumpukan sampah dan eceng gondok. Bahkan, ada bibir-bibir selorejo ada sebagian yang berubah fungsi menjadi warung-warung setengah permanen. Tak tahu ntah siapa yang mengatur hak penggunaan atas tanah dipinggir waduk ini. lama-lama kelamaan. Anak-anaknya mengakui bahwa tanah itu menjadi hak mereka. akh harusnya pemerintah aka PT. Jasa Tirta, pengelola waduk seloreja melarang bangunan-bangunan liar. Atau kah ada permainan sehingga memang sengaja dibiarkan.

Akh bibir waduk selorejo. Ini bibir yang diinjak orang. Para pemancing. Para petani yang wara wiri ke sawah yang berada di bawah bukit selokurung. Terlihat satu dua orang petani mengayuh perahu kecilnya. Menembus tenangnya air waduk selorejo menuju ke sawah-sawah. Suasana masih terlalu dingin. Para petani sudah bersemangat melihat hasil tani yang disiram oleh abu vulkanik merapi.

lembah pandansari dipenuhi oleh truk-truk bantuan dan relawan

lembah pandansari dipenuhi oleh truk-truk bantuan dan relawan

pagi ini saya berkesempatan melihat Gunung yang banyak memuntahkan debu itu sekitar 18 hari yang lalu. Mentari pagi bersinar begitu terang menyinari bagian puncaknya. lekuk-lekuk gunung kelut terlihat begitu jelas, cantik dan menenangkan laksana gadis cantik.  burung-burung pun tertarik untuk hinggap di punuk punggungnya. beterbangan ke sana ke mari di puncak gunung. Burung-burung itu tahu bahwa gunung sudah bersahabat dengan alam. Burung-burung itu juga sebagai pertanda bahwa suasana kelut sudah tidak mengeluarkan gas berbahaya lagi.Ketenangan dan kejernihan air waduk selorejo masih sebagian tertutupi oleh awan-awan yang menggelayutinya.

Sesaat  setelah gunung kelut meletus, sebelum hujan turun. Suasana waduk selorejo seperti waduk yang direkam oleh kamera hitam putih jaman dulu. Pepohonan, air waduk, sampah, perahu semuanya tertutup oleh abu persis seperti hasil jepretan kamera tahun 80 puluhan.

Kembali ke rumah, saya mohon ijin ke ibu mertua untuk melihat-lihat desa pandansari, desa terparah yang terkena dampak gunung kelut dan banjir lahar dingin. Jadi lah obrolan ngalor ngidul tentang gunung kelut. Ibu menceritakan awal-awal gunung kelut meletus. Ibu pun mulai mulai menceritakan tentang meletusnya gunung  kelut. Sebelum dan sesudah gunung itu meletus.

Sebelum kejadian letusnya gunung kelut. Ibu mengikuti pengajian di salah satu rumah teman. Waktu itu, ustadnya berceramah tentang dahsyatnya kekuatan shalawat. Jika anda sakit, bacalah shalawat. Jika punya banyak utang, baca lah shalawat. Jika ada musibah, bacalah shalawat. Itu salah satu inti pesan pengajian malem tertanggal 13 Februari 2013. Pengajian selesai, peserta pengajian pun bubar kembali ke rumah masing-masing. Ibu pun pulang ke rumah kemudian lanjut shalat dan bershalawat. Ibu merasa ada gempa tapi tak sadar. Kemudian ibu mencubit-cubit pipinya. Akh benar. Berarti saya sadar, batinnya. Gempa pun muncul lagi. Makin besar.. duarrrr…

Penyebrangan kali sambung menuju desa pandansari

Penyebrangan kali sambung menuju desa pandansari

Di tempat lain, BMKG telah mengubah status gunung kelut menjadi awas. Perubahan status ini begitu cepat dan mendadak, kata salah satu ahli di media.

Kampung yang terletak di zona “aman” ini tak dipersiapkan apapun. Masker ataupun tempat pengungsian. Para petugas pun tak ada yang bersiaga malam itu. satu jam berlalu. Tepat pada pukul 22.50 Wib. Gunung kelut benar-benar meletus. Mengagetkan semua pihak termasuk pengamat kegunungan yang paling tahu tentang seluk beluk tentang gunung. Unpredictable.  Semua tak menduga bahwa gunung kelut akan meletus secepat ini.

Dentuman keras gunung Kelud menimbulkan warna kemerahan di kaldera gunung kelut. Merah seperti darah. Batu-batuan vulkanik terhamburkan. Pasir dan debu beterbangan hingga 17 Km. menyerupai jamur raksasa yang terbang menuju langit. Menghambur ke sekelilingnya Blitar, Kediri, dan Malang. Di sisi Malang, kampung Ngantang seketika langsung panik. Mushalla dan Masjid langsung bersaut-sautan melantunkan Adzan. Di ujung sana terdengar suara diba’an. Ntah dari masjid atau mushalla. Penduduk panik berhamburan. Ada sebagian yang tak sadar bahwa kelut meletus. Kenapa ada adzan malam-malam gini, kata teriak salah satu warga kepada yang lain.

Abu-abu menjulang hendak menembus keperkasan langit. Angin membawa ke segala arah menembus batas kabupaten. Menyiram sebagian malang, blitar dan kediri. Debu menuju arah utara melewati surabaya. Terbang di atas jembatan terpanjang di Indonesia, Suramadu. Abu kelud akhirnya tiba di kampungku di dusun srapong, Torjun, Sampang pada saat pagi hari sebagaimana yang diutarakan oleh ibu saya melalui telepon “yaaa tadi sempat hujan sebentar,” katanya diujung telepon.

Jalan menuju dusun Bales, Pandansari

Jalan menuju dusun Bales, Pandansari

Angin membawa debu-debu kelut menuju ke arah barat laut melewati batas provinsi menuju jogja. Jogja diselimuti oleh abu kelud. Jika difoto, maka jogja seperti menggunakan kamera jadul. putih kelabu. Titik Nol Jogja, Bandara Adi sucipto termasuk pesawat-pesawatnya, Candi Prambanan dan Candi Borobudur semua diselimuti oleh debu kelud. Dalam jangka waktu kurang dari 12 jam Abu kelut telah menempuh ratusan kilo meter- sekitar 600 km.

Gunung kelut meletus, kata teriak warga yang lain. Warga desa kaumrejo berhamburan ke waduk selorejo di belakang rumah. Dari sini kilatan cahaya gunung kelut terlihat. Semua terekam dalam perekam alami otak manusia. Ibu hanya bershalawat seperti tausiyah ustad malam ini. pokoknya bershalawat, begitu pesan sang ustad. Hanya ibu yang tinggal di rumah. Rasa takut pun muncul. Akhirnya, ibu memutuskan pindah ke rumah nenek yang berada di seberang jalan. Dalam keluarga ini hanya shalawat yang menjadi andalan. Shalawat. Shalawat.

Kelud menyebarkan batu kerikil dan abu menghujani kampung ngantang. Makin lama abu makin menumpuk. Yang tak kuat menahan pasir dan abunya. Seketika akan menjadi letoy, roboh dan tak berdaya. Dubrakkk…… “ehh kanopi rumah ginik roboh. Kasian ya bu ginik tinggal sendirian di rumahnya. Kanopi bu ginik roboh, kanopi bu ginik roboh, kanopi bu ginik roboh”  teriak-teriak pemuda kampung yang suaranya sampai terdengar oleh ibu Ginik dari rumah nenek.

Penduduk sekitar gunung kelut diliputi ketakutan dan kegetiran. Tangisan-tangisan bersahut-sahutan. Shalawat menjadi andalan untuk menenangkan. Mengharap pada sang pencipta bahwa gunung kelut tak muntah lagi. Shalawat…shalawat, kata nenek berusaha menenangkan ibu yang masih sesenggukan sedari tadi. Shalawat itu menenangkan jiwa.

Berbagai media menyiarkan berita tentang meletusnya gunung kelut. Kediri yang menjadi sorotan, karena gunung kelut berada di wilayah kediri. Ngantang terlupakan. Padahal di sini tak ada bala bantuan.

Kampung kaumrejo masih terjaga. Siap siaga kalau-kalau kelut meletus lagi. pagi pun pecah. Awan kelabu menyelimuti. Jalanan penuh dengan pasir. Di seberang sana, rumah ibu dengan kanopi yang terseok-seok tak beraturan. Debu beterbangan. Jarak pandang tak jauh. Bau belerang menyengat menusuk-nusuk hidung.  Ibu berjalan menyeberang jalan dengan menggunakan sarung sebagai penutup kepala.

Rumah-rumahan sawah yang masih kokoh menahan terjangan banjir lahar dingin gunung kelut

Rumah-rumahan sawah yang masih kokoh menahan terjangan banjir lahar dingin gunung kelut

Ujungnya digunakan untuk menutupi hidung dan mulut. Persis seperti maling kesiangan.  Berjalan di antara di sela-sela kanebo rumahnya yang runtuh  tadi malam. Beberapa warga kampung sibuk untuk mengungsi dengan inistiatif sendiri. tak ada bantuan pemerintah yang katanya sudah menyiapkan segala keperluan khusus gunung kelut. Tak usah muluk-muluk. Masker aja tak ada, gerutu penduduk kampung mengumpat pemerintah. Bu Ginik (nama panggilan Mertua) ayo mengungsi, teriak salah satu warga di kampung gading. Mereka berjalan dengan menggunakan alat masker-maskeran. Sarung dan kerudung bisa berfungsi sebagai masker.

Ibu bergegas mengemas baju-baju yang hendak dibawanya. tak tahu mau kemana. Yang pasti keluar dari kampung ini secepatnya. Setelah siap, ibu berjalan bersama kakek nenek yang jalannya terseok-seok oleh debu jalanan yang sudah menumpuk. Berjalan di pasir dan debu kelut seperti berjalan di pasir pantai. Berjalan sedikit saja sudah terasa capek. Terpaksa berhenti. Kemudian berjalan lagi menyusuri jalan-jalan yang dipenuhi pasir dan debu. Debu beterbangan ke  sana kemari masuk ke dalam sela-sela rumah, tempat tidur, pepohonan. Bau busuk menyengat ke dalam hidung. Membuat pusing bagi penghirupnya. Gas belerang beterbangan memenuhi udara ngantang.

Sebagian masuk ke dalam paru-paru makhluk hidup termasuk manusia. Ibu bersama kakek nenek berjalan sejauh dua kilometer. Berharap ada tumpangan yang mau mengangkutnya. Sepanjang perjalanan tak ada polisi, tak ada tentara ataupun pemerintah yang siap siaga untuk memberikan tumpangan ataupun memberikan masker atau sekedar menyemangati penduduk. Hanya satu polisi yang terlihat. Itupun bukan mau menolong tapi juga ikut mengungsi. Kosong dan kelabu. Itulah suasana saat itu.

Saat ada truk-truk yang datang, maka seketika itu juga warga berhamburan berebut naik. Shalawat itu berbuah manis. Sebuah mobil avanza lewat di depan ibu. Ibu mencegatnya agar diberi tumpangan. Alhamdulillah.. ibu dan kakek nenek mendapatkan tumpangan yang enak. Mungkinkan itu buah dari shalawat seperti kata pak ustad. Bisa jadi. Wallahuaklam. Semua rejeki datangnya dari tuhan termasuk rejeki dapat tumpangan.

Anaknya di malang sudah siap-siap menyambut ibu dan kakek neneknya dari perjalanan yang menggetirkan. Menembus kelambu debu-debu yang beterbangan yang menyesakkan dada. Setelah menempuh satu jam perjalanan, Mereka sekeluarga pun tiba selamat dengan berselimutkan debu. Semua Tak kurang suatu apapun. Hanya debu-debu kelut yang menyelimuti.

Saya sendiri tak tahu tentang keadaan kelut pada saat kejadian malam itu. Saya hanya mendengarkan dari istri saya yang langsung menghubungi saya malam itu sekitar 2 jam setelah gunung kelut meletus. Di Mataram, dampak gunung kelud tidak terasa. Siang itu, matahari tertahan menyinari lombok. awan kah atau debu kelut yang memenuhi angkasa. Ku hanya mampu menebak.

Gunung kelud menjadi headlines di berbagai media cetak. Topnews di berbagai media televisi. Itulah kelud. Gunung dengan ketinggian 1.731 mdpl mampu menyedot perhatian seluruh indonesia, bahkan dunia termasuk Nasa.Nasa menggabarkan bahwa debu-debu yang beterbangan seperti jamur raksasa yang menuju langit dengan ketinggian sekitar 20 km.

Dusun Munjung yang sebagian atapnya beratapkan terpal

Dusun Munjung yang sebagian atapnya beratapkan terpal, sebagian sudah diganti genteng baru, sebagian lagi beratapkan langit

—-

Langit hari itu begitu kontras dengan jalanan di ngantang. Langit yang cerah dengan Jalanan berdebu yang beterbangan dibawa kendaraan yang hilir mudik. masuk ke rongga-rongga mulut yang ngak ditutup. Kali ini saya ingin melihat desa terparah yang terkena dampak erupsi gunung kelud. Melewati masjid Agung Ngantang yang kanebonya ambruk tak kuat menahan beratnya beban abu kelud. Atau SMP 1 Ngantang yang atapnya sudah rubah. Beberapa relawan sibuk menggali dan mengangkut pasir ke dalam truk pengangkut yang sudah berjejer di depan masjid. Mahasiswa, polisi, tentara semua sibuk menjadi relawan.

Debu beterbangan terbawa angin.  Pohon-pohon masih diselimutu abu. Hijau keputihan. Kantor Jasa Tirta sudah tak beraturan. Escavator ikut andil meratakan. Di balik puing-puing kantor, terlihat gunung kelut dengan gagahnya. tak ada pos polisi. Semua polisi sudah berdiri di pintu masuk kawasan desa pandansari siap menghadang dan mengintrogasi orang-orang yang ingin masuk. Debu beterbangan dipadu dengan polisi dan tentara berbaris rapi. seorang polisi menjaga portal pintu masuk. suasananya seperti memasuki kawasan konflik berkepanjanan. Tak sembarangan orang bisa masuk kawasan ini, hanya orang-orang yang telah diijinkan yang bisa masuk kawasan pandansari. Anda warga kampung pandansari silahkan masuk, kalau bukan silahkan anda parkir di tempat yang disediakan. Titik.

Saat saya hendak menembus barikade polisi yang berdiri, dua orang polisi langsung menghadang sepeda motor saya. Mau kemana?, kata seorang polisi yang menginterogasi saya. Saya mau lihat desa pandansari pak, kataku. silahkan parkir di sana, katanya dengan tegas sambil menunjukkan lokasi parkir khusus para pengunjung. saya tunggu di sini aja, kata istriku. Akh istriku tak mau capek rupanya, batinku

Saya pun berjalan dengan rasa kehawatiran. Tak tahu ntah kenapa. Saya seperti memasuki kawasan konflik. Saya pun berjalan menembus barikade polisi. Tak ada teguran dan sapaan. Saya hanya sempat motret barikade polisi itu kemudian berlalu.

Menyusuri jalanan berdebu. Debu beterbangan dibawa angin. Saat sebuah truk lewat, abu kelut itu membasuh-basuh muka. Saya memicingkan mata, mengusap debu yang menempel di muka. Pohon-pohon cemara di pinggir jalan masih diselimuti debu kelud.  Kamp-kamp raksasa polisi dan tentara berbaris rapi di pinggir jalanan yang berdebu.

Tiba di dekat Spillway Waduk Selorejo. saya langsung bisa melihat desa pandansari yang terisolir itu di kejauhan. Terlihat rumah-rumah yang beratapkan langit dan terpal berwarna kebiruan. Rupanya itu adalah terpal-terpal yang digunakan untuk menutupi rumah-rumah yang atapnya ambruk oleh abu gunung kelud. untuk menuju desa pandansari ini, saya harus melewati lembah, menembus sungai kali sambung.

Posisi Saya saat ini berada di puncak di sisi waduk selorejo. Dari puncak ini, saya melihat truk-truk, mobil-mobil relawan yang memenuhi salah satu lembah yang berada di antara dua bukit. di sini lah pusat transportasi relawan. Di sinilah para relawan berkumpul. Terlihat beberapa relawan berjalan mengular menyusuri kali sambung menuju desa pandansari.

Desa Pandansari dilewati oleh kali sambung yang dengan hulu di gunung kelud melewati kediri bermuara di kali brantas. Kali sambung membelah desa pandansari menjadi dua bagian. Satu dusun berada di sisi kiri kali sambung. Dusun Bales. Sedangkan di sisi kanan kali sambung ada lima dusun yaitu Dusun Munjung, pahit, Kutut, Klangon, dan sedawun. Jembatan yang menuju ke lima dusun inilah yang terputus akibat terjangan banjir lahar dingin. Jembatan kali sambung menghubungkan desa pandansari dengan desa-desa lain di kecamatan Ngantang.

Desa Pandansari dilihat dari sisi waduk selorejo

Desa Pandansari dilihat dari sisi waduk selorejo

Saat hujan turun, maka kali sambung akan memutus mata rantai bantuan. Maka terisolirlah desa pandansari. Terisolir juga lah bantuannya.

Untuk mengatasi meluapnya kali sambung saat hujan turun, para relawan harus sudah kembali menjelang siang hari.

Kali sambung dijadikan jalan utama menuju desa pandansari. Polisi diturunkan bertugas lalu lintas di kali sambung. Kali sambung menjadi kawasan lalu lintas barang yang paling sibuk di desa pandansari. Manusia hilir mudik di kali ini. bantuan pun datang dari berbagai penjuru. Beras berkwintal-kwintal siap didistribusikan.

Ada pemandangan yang aneh di aliran kali sambung ini. banjir lahar yang mampu menerjang jembatan kali sambung ternyata tak cukup mampu merubuhkan gubuk reyot. Dia tetep berdiri kokoh. Saat saya berusaha menggoyangnya, gubuk itu tak bergoyang sedikitpun. Akh di tengah bencana ternyata ada sebuah keajaiban. Keajaiban dari benda mati yang tak tergoyahkan oleh ganasnya terjangan lahar dingin.

Mitos sejarah Gunung Kelud.

Bbeberapa warga masyarakat masih mempercayai mitos tentang lembu sura yang telah mengeluarkan kutukan gunungan kelud. ada berbagai versi tentang mitos sejarah lisan gunung kelud itu sendiri. namun, semuanya bertutur tentang peranan wanita cantik. al kisah Dyah Ayu Pusparani adalah seorang putri dari Raja Brawijaya, Kerajaaan Majapahit yang terakhir. kecnatikan tersohor hingga ke berbagai penjuru. banyak pria yang ingin mempersuntingnya. sayang, pelamarnya adalah Lembu Sura seorang buruk rupa. makhluk berkepala lembu.sang putri pun mengatur siasat bagaimana dia bisa menolak secara halus tanpa menyakiti sang pelamar. dibuatlah prasyarat yang tak mampu diselesaikan dalam waktu semalam. Sang putri bersama sang Raja memberikan pra syarat bahwa sang Lembu Sura harus bisa membuat sumur dalam waktu semalam agar bisa menikahi sang putri. Lembu sura punya kekuatan sehingga dia menyanggupinya. Saat Tuan Putri mendengar kabar bahwa lembu suro akan berhasil, tuan putri bersedih. dia pun curhat kepada ayahnya, Brawijaya.

ayahnya kemudian memerintahkan para prajurit kerajaan untuk menimbun Lembu Sura yang masih terus menggali sumur. saat batu hendak dilemparkan. Lembu Suro memohon agar tak ditimbun. melihat gelagat bahwa permohonannya tak akan terkabulkan. Lembu Suro memberikan kutukan Yoh, Kediri mbesuk bakal pethuk piwalesku sing makaping-kaping, yaiku Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, lan Tulungagung dadi kedung. Kediri jadi Kali, Blitar jadi latar-halaman, Tulungngagung jadi kedung-penampungan.tumpukan-tumpukan batu makin lama makin besar hingga menjadi gunung kelud. itulah kisah tentang Lembu Suro. kutukan ini hanya menimpa kepada daerah-daerah yang ada dalam kutukan seperti Blitar akan menjadi halaman debu, Kediri jadi kali aliran lahar dingin. dan Tulungagung jadi penampungan lahar dingin kediri.

Apabila kutukan Lembu Suro dikaitkan dengan letusan Gunung Kelud ter tanggal 13 ferbruari 2014. semuanya meleset. Ngantang dan Kediri telah menjadi latar, bahkan Jogja nun jauh disana berselimutkan debu. bahkan Blitar yang dikutuk menjadi halaman abu nampak begitu cerah sehari setelah letusan. media pun memberitakan blitar setelah letusan. Tak hanya kediri yang terkena kutukan Lembu Suro bahkan desa pandansari, Ngantang menjadi desa terisolir terkena dampak aliran banjir lahar dingin. akh ternyata Lembu Suro keliru dalam memberikan kutukan.

Kisah tentang Lembu Suro ini akhirnya diabadikan dalam sebuah patung Lembu Suro yang ada Blitar.

Itulah sekelumit perjalanan saya menelusuri dahsyatnya amukan gunung kelud.

12 thoughts on “Amukan Gunung Kelud di Ngantang

  1. Pemuda itu dipanggil Pak ya hehehe…
    Waktu itu saya ikutan baksos membantu pengungsi di wilayah Jombang, harap maklum kalau memang ada bencana ada saja daerah2 yang tidak tersentuh. Malah kata temen ada yang dijarah mobil bantuannya sampai teriak2. ckckck… sekarang para korban sudah mulai move on.

    fotonya tetep ciamik ^^

    • Pemuda yang agak berumur kawan hehe….sebelum kelud meletus, bupati malang berseloroh bahwa kabupaten malang siap menghadapi gunung kelud. akh ternyata itu hanya pemanis di bibir saja. saat kelud benar2 meletus..bupati tak siap sama sekali. bahkan, di pusat kecamatan ngantang aja tak ada persiapan blas terpaksa masyarakat kabur serabutan mencari tumpangan

  2. Saya sendiri kadang juga bingung, ngapain dingin2, habis subuh, udah bertengger di lereng gunung buat motret. Kalau dipikir bener juga kata orang2 setempat, klo kelakuan saya itu seperti orang kurang kerjaan, hahaha.

    Jangankan Ngantang yang ada di Malang, Jogja pun juga ikut-ikutan kena abu Gunung Kelud Mas. Gimana Gunung Kelud bakal erupsi dan ke arah mana abunya nggak bisa diprediksi. Gimana ya? Selain berserah diri kepada Tuhan kita sendiri sebagai manusia harus mencari cara gimana untuk menghindari bencana. Misal, pas sudah diumumkan status waspada, langsung kita mengungsi sejauh-jauhnya. Tapi ya susah juga, lha di Jogja yang jauh saja masih kena abu Gunung Kelud.

    Kalau begini semua hanya bisa pasrah sambil melakukan yang terbaik yang bisa dilakukan. Katanya, sebaik-baik orang adalah orang yang bersabar, dan warga Ngantang semoga menjadi orang-orang yang sabar.

    • yaaa betul mas justru krena ngak ada kerjaan makanya bikin kerjaan berupa moto-moto hehe…alhamdulillah kelud sudah tidak ada tanda erupsi semoga aman dah amin…ya mas kita harus bersabar dan pasrah… ma kasih sarannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s