Romantisme Air Terjun Kerta Gangga Dusun Kerta

Air Terjun Kerta Gangga menyembul di balik rindangnya pepohonan

Air Terjun Kerta Gangga menyembul di balik rindangnya pepohonan

Lombok Utara dikelilingi oleh Gunung, Bukit dan Laut. Ibukotanya berada di antara bukit dan laut. Lombok utara bisa ditempuh dengan menggunakan jalur perbukitan pusuk pass atau melalui jalur Senggigi dengan hamparan pantai yang berpasir putih. Karena Lombok utara diapit oleh pegunungan dan pantai, profesi penduduknya tak jauh dari nelayan atau petani. Saat musim hujan tiba, hamparan sawah membentang luas di bawah bukit-bukit. Padi tumbuh subur. Jika menanam padi, maka rumput pun akan ikut tumbuh. Tapi jika menanam rumput, jangan berharap padi akan ikut tumbuh.

Perjalanan ke air terjun Kerta Gangga, terlihat petani-petani menyiangi dan mencabuti rumput-rumput sawah. Di sisi kanan jalan, Gunung Agung terlihat samar-samar di balik awan dan kabut. Kata Jauh telah menghalangi jarak pandangnya. Gunung Agung menjulang tinggi samar berada di balik pohon-pohon yang berbaris di punggung-punggung sawah. Seorang petani menunduk sambil menanam padi. Wajahnya tertutup caping kayunya. Sabit pencabut rumput berukuran kecil tersembul dari balik pinggulnya. Petani dan samarnya Gunung Agung di sawah-sawah Lombok Utara.

Petani mencabuti rumput sawah dengan latar gunung Agung Bali yang samar-samar

Petani menanam padi dengan latar gunung Agung Bali yang samar-samar

Di sisi kanan jalan, Petani-petani lain bergotong royong membersihkan rumput-rumput sawah. Bergerak bersama-sama maju mundur. Sesekali meluruskan punggung. Alatnya terbuat dari kayu. Pangkalnya sebagai pegangan. Ujungnya berupa kayu berbentuk segi empat. Tak jauh dari komplek persawahan, pantai berpasir putih dengan laut berwarna kebiruan berada di balik pohon kelapa yang berbaris rapi.

Berjalan menyusuri persawahan-persawahan hijau. Pohon kelapa yang melambai-lambai. Angin berhembus sedang. Menambah kesejukan saat menyusuri jalanan yang tak begitu ramai. Berbelok kanan kiri menyusuri jalan. memasuki Dusun Kerta, Desa Genggelang. Pintu gerbang menuju kawasan “Air Terjun Kerta Gangga” terlihat jelas dan baru. Pohon kelapa menjulang melambai-lambai. Saat menuju kawasan wisata air terjun ada garis batas yang jelas. Jalanan yang halus berubah menjadi jalanan beraspalkan tanah yang bergelombang. Pintu gerbang air terjun Kerta Gangga menjadi garis batasnya. Siapa yang memisahkan ini. siapa yang menciptakan pelosok negeri yang berbeda-beda ini.

Petani bergotong royong membersihkan rumput-rumput sawah

Petani bergotong royong membersihkan rumput-rumput sawah

Jalan yang beraspalkan tanah dengan sebagian batu-batu menyembul. Kubangan air yang tergenang. Semua itu bertolak belakang dengan pohon-pohon kelapa yang berbaris rapi, Pohon-pohon rindang yang menyejukkan.  anak-anak lugu riang gembira bermain sepeda di jalanan yang bergelombang.

Di bawah pohon-pohon rindang dengan segarnya desiran angin pedesaan. Di kanan kiri jalan, Penduduk Kerta memukul batu-batu kali yang berukuran besar. Pria dan Wanita sama-sama bekerja. emansipasi wanita telah lahir sejak dari nenek moyang kampung Kerta. Mereka tak diajarkan emansipasi di kampus-kampus atau workshop-workshop. Para wanita di kampung Kerta ini tak mengenal emansipasi. Wanita sama-sama bekerja membelah batu-batu keras agar bisa mendapatkan sesuap nasi. Ini adalah masalah perut.

Kampung Kerta dialiri air terjun Kerta Gangga di atas sana. Kampung Kerta Gangga mendapatkan berkahnya air terjun Kerta Gangga. berkahnya Gunung Rinjani. Berkahnya kampung di dekat kawasan pegunungan. Air mengaliri perkampungan Kerta yang tak pernah mengering. Jalanan bergelombang tak tersentuh pembangunan. Dana Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan tak tahu ntah kemana. Kenapa dana pemberdayaan tak menyentuh kawasan pariwisata ini.

Pintu Masuk air Terjun Kerta Gangga

Pintu Masuk air Terjun Kerta Gangga

Di sisi lain, terlihat ibu-ibu menggendong anak bayinya, Anak-anak kampung yang bermain sepeda.  Lepas dari kampung Kerta menuju kampung kerta yang lain. Melewati jalanan dengan gemericik air di kiri jalan yang tak beraspal. Di kanan jalan, sawah hijau membentang  luas. Warna hijau itu selalu menenangkan, termasuk saat mata ini memandang sawah yang menghijau, Pandangan saya beralih dari sawah-sawah hijau bukit-bukit hijau yang dipenuhi pohon-pohon rindang. Terlihat kebun pohon-pohon kelapa di perbukitan yang menjadi pembatas dusun Kerta.  Pandangan saya terhenti oleh kampung Kerta Gangga lain yang juga berfungsi sebagai pintu masuk menuju tiga Air Terjun Kerta Gangga.

Parkir kemudian mempersiapkan segala sesuatu sebelum menuju kawasan air terjun. satu pesan saya jangan lupa bawa bekal minuman. Anda bisa minuman di kampung ini. Tiket parkir motor Rp 2.000,00 sedangkan tiket masuk ke tiga kawasan air terjun Kerta Gangga ini hanya Rp 5.000,00. Komplit dah.

Wadah Kopi khas Desa Kerta Gangga

Wadah Kopi khas Desa Kerta Gangga

Saya pernah mendengar bahwa di Lombok Utara ada sebuah kampung yang umatnya beragama Budha. Kampung asli sasak. Kampung Kerta merepresentikan kampung itu. setidaknya nama kampung dan nama air terjun yang bukan berasal dari bahasa sasak. Kerta dan Gangga. kata Kerta merupakan akar kata dari Sangsekerta yang memiliki arti bahasa yang berbudaya atau sempurna. Gangga merupakan sungai suci yang berada di India. Baik itu kata Kerta maupun Gangga berasal dari India. Mungkin kah kampung ini dulunya adalah kampung hindu atau budha sebelum datangnya islam di Lombok. Mungkin kah ini kampung budha itu.

Satu-satunya Ibu yang menjual minuman-minuman di kawasan kampung Kerta  duduk di salah berugak, saya mendekatinya dan menanyakan tentang Kampung Budha itu. Pertanyaan saya adalah pertanyaan dugaan bahwa inilah kampung Budha. Ibu, di sini kampung budha kah?, kataku. “Kampung ini muslim semua mas. Kalau kampung Budha itu sebelum masuk belokan desa Genggelang mas. adanya di kampung Lenek, Kampungnya itu rapi mas,“imbuhnya. Wah saya jadi bertanya kepada diri sendiri “orang Kampung Kerta bilang bahwa kampung Lenek itu Rapi.”

Papan Informasi Kerta Gangga

Papan Informasi Kerta Gangga

Seorang petugas parkir yang bernama Madi merangkap penjaga kampung, merangkap guide menjelaskan tentang air terjun Kerta Gangga. Dia pun berjalan ke salah satu papan informasi yang juga menampilkan foto tiga air terjun Kerta Gangga.

“Di sini ada tiga air terjun. yang ini Air Terjun Gangga pertama, yang ini Air Terjun Gangga kedua. Dan ini adalah Air Terjun Gangga yang ketiga. Dia bilang sambil menunjukkan gambar-gambar air terjun Kerta Gangga. Dua Air Terjun Gangga bisa ditempuh dengan jalan sedangkan Air Terjun Gangga tiga harus menggunakan pemandu mas. Belum ada akses ke Air Terjun Gangga  tiga. Ke sananya pun harus menyeberangi sungai. Jadi, kami siap untuk mengantarkan ke tiga Air Terjun Gangga dengan biaya lima puluh ribu rupiah.” Wah mahal amir mas, kataku.  Andri mengerutu . rasanya tak ikhlas untuk mengeluarkan duit lima puluh ribu sekedar untuk melihat air terjun.  “akh waktu kita ke air terjun Sendang Gile dan Tiu Kelep di Senaru sana juga tak menggunakan guide.  Ayo kita jalan aja,” andri membisikkan mulutnya ke telingaku.

hamparan sawah membentang saat menyeberang dari Kerta Gangga satu menuju Kerta Gangga dua

hamparan sawah membentang saat menyeberang dari Kerta Gangga satu menuju Kerta Gangga dua

Kami berlima siap melihat air terjun yang airnya mengalir ke rumah-rumah di kampung Kerta. Menyusuri jalan setapak beraspalkan tanah. Gemericik air terjun Gangga mengalir di sepanjang jalannya. Beberapa turis berpapasan dengan rombongan kami. Sebuah Berugak-semacam Gazebo yang baru dibangun berada di persimpangan jalan. Dari berugak ini, kita bisa memandangi sawah hijau membentang luas, kebun pohon-pohon kelapa di ujung sana. Jalan menanjak dengan tangga-tangga yang sudah dirabat sempurna. Kanan kiri dipenuhi semak-semak.

Tak jauh dari berugak, Air yang berasal dari air terjun gangga dibagi-bagi sesuai peruntukannya. Sebagian mengalir ke kampung Kerta, sebagian mengalir ke sawah-sawah kampung Kerta. Jalan menanjak dipenuhi pohon-pohon rindang yang menggelapkan jalan. Suara burung-burung yang bertengger di pepohonan. Gemericik air mengalir deras di samping jalan.

anak-anak smp saat jam sekolah di kerta gangga

anak-anak smp saat jam sekolah di kerta gangga

Air Terjun Kerta Gangga berada di kaki Gunung Rinjani di sisi utara, di balik jalanan gelap pohon-pohon rindang. Langit pagi itu begitu cerah berpadu dengan air terjun Gangga yang beraura dingin. Terlihat anak-anak sekolah  mandi di tiu (kolam dalam bahasa sasak) dengan menggunakan seragam Sekolah menengah Pertama. Akh bukannya masih jam sekolah, batinku. Anak-anak ini ternyata sedang berbolos ria. Mereka berenang, bermain air dengan wajah riang gembira. Tak mungkin akan ada guru atau wali murid yang akan mencari anak didiknya yang bolos ke Air Terjun Kerta Gangga. Uniknya yang bolos adalah empat  cewek berwajah polos mengulum senyum.

Air Terjun Gangga mengaliri kerasnya batu-batu berwarna kehitaman. Airnya tidak terjun tapi mengalir deras di tengah pepohonan yang rimbun. Langit yang cerah, awan tak menghalanginya. Langit berwarna kebiruan. Dari Air Terjun Kerta Gangga, sawah-sawah menghijau, kampung muslim Kerta menjadi hidup, kampung Budha di Lenek menjadi rapi dan hijau. Sebagian airnya juga terus mengaliri sungai-sungai di Desa Genggelang. Air Terjun Kerta Gangga yang terpecah-pecah menjadi tiga kemudian bersatu kembali di  Air Terjun Tiu Pupus.

Air Terjun Kerta Gangga Dua yang Romantis

Air Terjun Kerta Gangga dua dibaik tebing-tebing

Air Terjun Kerta Gangga dua dibaik tebing-tebing

Untuk menuju ke lokasi air terjun Gangga yang kedua, rombongan kami harus melewati kolam air terjun Gangga. hanya ini jalan satu-satunyan. Tak ada jalan selain ini. adek sekolah yang unyu-unyu juga menyarankan melewati “jalan” yang ada di pinggir jurang. Jika jatuh ke kiri, maka kita akan basah kuyup. Jika terguling ke kanan, tubuh kita siap dihempaskan ke batu-batuan keras berwarna hitam, nyangkut di semak-semak kemudian terseret ke sawah-sawah.

Akh tak masalah. Ayo kita nyebrang, kataku kepada  rombongan yang lain. Sandal gunung saya copot, menghindari jalan yang licin. Ada pemandangan yang tersaji saat menyebrangi dari Air Terjun Kerta Gangga satu menuju Air Terjun Kerta Gangga dua. Hamparan sawah hijau membentang luas di bawah kami. Seharusnya kami bisa melihat pantai di ujung sana seandainya perbukitan dan kebun-kebun kelapa tak menghalangi pemandangan. Dibalik perbukitan dan perkebunan kelapa itu, pantai indah tersaji. Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air malu-malu berada dibalik pohon-pohon kelapa

Air terjun di balik tebing-tebing. Hanya suara gemuruh air terjun yang terdengar . tak ada hiruk pikuk manusia. Jembatan besi selebar setengah meter menjadi salah penghubung antara dua Air Terjun Kerta Gangga. air mengalir deras di bawah jembatan besi. Dari ujung jembatan besi, air terjun Kerta Gangga masih bersembunyi dibalik tebing-tebing. Kami masih harus naik ke jembatan kayu yang dibuat seadanya tapi masih terlihat kokoh. Jembatan kayu ini ditopang oleh kuda kayu-kayu. Ujung-ujungnya didudukkan kepada tebing-tebing.

Romantisme Kerta Gangga ala turis

Romantisme Kerta Gangga ala turis

Air Terjun Kerta Gangga dua yang terkurung dalam tebing-tebing pun tersaji. Air mengalir deras. Hanya kita berlima yang merasakan kesejukan air terjun ini. saya tak ingin menyiak-nyiakan pijitan guyuran air terjun Kerta  Gangga menyusul dua kawan saya yang sudah mandi duluan pak Neldy dan Pak Meidy. Andri menjadi fotografer andalan kami saat kami bertiga mandi. kami bertiga mandi secara bergantian merasakan guyuran air terjun. saat saya mandi, maka yang lain menunggu giliran. Saat berada di bawah guyuran air, pundak dan punggung serasa seperti di-massage dan diterapi oleh alam. merasakan terjangan guyuran air pegunungan yang berasal Gunung Rinjani. Akh tenang rasanya, airnya dingin sangat cocok untuk melepaskan semua kepenatan pekerjaan.

Setelah lumayan lama mandi, seorang anak muda bersama ceweknya. Eka namanya, Pemuda asli lombok Utara tapi sudah lama tinggal di Mataram. Dia juga memperkenalkan “cewek” yang katanya istrinya itu.

Romantisme ala Kerta Gangga

Romantisme ala Kerta Gangga

Tak berapa lama, empat turis yang berpasang-pasangan menyusul memenuhi Kerta Gangga.  dua turis cowok langsung mandi merasakan guyuran dan dinginnya air terjun Kerta Gangga. dua turis cewek hanya menunggu pasangannya mandi. setelah selesai merasakan guyuran air, mereka balik ke pasanganya masing-masing. Sepasang diantara mereka langsung memadu kasih di depan mata kami. Kedua bibir itu bertemu merasakan kehangatan dalam suasana kedinginan. Disaksikan oleh semua pengunjung.

Setelah merasakan ciuman hot, dua turis cowok itu kembali mandi guyuran air kemudian mendekati pasangan masing-masing lagi. sepasang turis kembali mengulang menghangatkan badan yang menggigil. Dua bibir bertemu lagi berciuman mesra di depan pengunjung lain. Sepasang kekasih mengulang sampai beberapa kali. Akh dasarrrrr bule….. bikin ngiri aja, batinku…hahaha. Rasa dingin bisa diminimalisir dengan mengalirkan setruman kehangatan. Rasa dingin dekat dengan “pingsan” sehingga harus dibantu dengan “bantuan” pernafasan.  Air terjun Kerta Gangga dua menjadi saksi terhadap semua keromantisan dua manusia yang memadu kasih. Biarlah air terjun Kerta Gangga yang menjaga rahasia itu. Dengan momen keromantisan air terjun Kerta Gangga,  saya dan pengunjung lain siap meninggalkan air terjun Kerta Gangga.

berpose dengan Latar Air Terjun Kerta Gangga

berpose dengan Latar Air Terjun Kerta Gangga

Sebetulnya Air Terjun Kerta Gangga ada tiga buah. Sayang, satu air terjun Kerta Gangga tiga belum ada aksesnya, kami harus menyebrang sungai untuk mencapainya. Jangan lupa, kalau anda ingin oleh-oleh khas Kerta Gangga ada Kopi dengan wadah unik dengan campuran coklat dan Vanilla. Ini lah pelosok negeri yang kami jelajahi. Masih banyak pelosok negeri yang lain yang perlu kita jamah dan kita lestarikan.

24 thoughts on “Romantisme Air Terjun Kerta Gangga Dusun Kerta

  1. Waah… waaah… waah… nggak bener ini air terjun. Setahu saya air terjun itu dikelilingi hutan sama bukit, lha ini kok air terjun dikelilingi sawah, waah menipu banget ini air terjunnya, bikin penasaran >.<

    Ini ya kok banyak foto-foto nyerempet seronok di artikel ini. Macamnya itu foto bule ciuman (2 kali fotonya dipajang bo!) dan foto siswi SMP lagi basah-basahan (buka sithik joss itu…). Wah… bener-bener nggak bener ini, mending saya langsung aja ke Kerta Gangga buat menikmati hal-hal yang saya sebut barusan. Aku yo pingin, hehehe.

    btw, sebagian fotomu di awal-awal horizonnya miring yo Mas? Aku suka foto yang ada dangau di tengah hamparan sawah itu!

    • yaaaa air terjun ini berada di kaki gunung rinjani. jadi gunungnya ada di atas. sawahnya ada di bawah air terjun….akh bukan seronok…ini hanya kejadian moment yang tak terduga sebelumnya. sesuai temanya tentang romantisme air terjun kerta gangga….akh masak sih horizonnya miring. akh ngak tuh… yang awal itu emang gitu air terjunnya karena motonya dari samping

  2. Air Terjun Kerta Gangga ini kurang terkenal, atau saya yang ga banyak baca ya.

    Air terjunnya keren, apalagi pemandangan sawah dan lautnya yang terlihat saat perjalanan. Keren! Keren lagi ada bule yang berpose. Hehehe.

    Tapi itu kenapa anak-anak sekolah mandi di situ? Ga bener.

  3. Wah foto cader kali ini ada unsur iklan jamu madura dengan memasang foto-foto seronok bin nonok wkwkwkwk….. btw foto terakhir apakah bener ada yang tampak samar itu??? *cari info tersembunyi*

  4. wah pemandangannya bener2 hijau dan indah banget…
    sempet2nya yah foto2in bule yg lagi ciuman wkwkwk..yg lokal ada ngak yg lagi romantisan ala bule ciakaka

  5. bandeng duri lunak adalah makanan khas Indonesia yang berasal dari daerah Pati dan Semarang, Jawa Tengah.

    bandneg presto ini dibuat dari ikan bandeng (Chanos chanos) yang dibumbui
    dengan bawang putih, kunyit dan garam. Ikan bandeng ini
    kemudian dimasak pada alas daun pisang dengan cara presto.
    Presto adalah cara memasak dengan uap air yang bertekanan tinggi.
    Makanan yang dimasak dengan cara ini diletakkan dalam panci yang dapat dikunci dengan rapat.
    Air yang berada di dalam panci ini kemudian dipanaskan hingga mendidih.
    Uap air yang timbul akan memasak makanan yang berada di dalam panci ini.

    Karena ikan bandeng terkenal memiliki banyak duri, bandeng presto adalah makanan
    yang digemari karena dengan cara masak presto duri-duri ini menjadi sangat lunak.

    Heheh.. bangga juga sih karena saya pernah tinggal di kedua kota yang
    disebutkan diatas sebagai daerah asal bandeng Presto :
    Pati dan Semarang. Tiga tahun lalu saya kerja dan tinggal di Semarang.
    Sekarang saya tinggal di Pati. Istri saya orang Pati asli.
    Itulah mengapa situs ini lahir, sebagai wujud kebanggaan
    akan produk asli lokal sendiri : Bandeng Presto.

    Sistem presto membantu kita para penikmat bandeng agar bisa mengkonsumsi ikan ini tanpa khawatir dengan durinya.
    Sekarang sudah banyak varian makanan lain berbahan
    bandeng. Bandeng tanpa duri, otak-otak bandeng, bakso bandeng, nugget bandeng, krupuk bandeng, keripik bandeng,
    abon bandeng,… dan mungkin banyak lain yang
    belum saya sebutkan.

    Bandeng presto semarang memang ikan istimewa, selain enak dan bergizi,
    juga membawa berkah bagi banyak orang
    sumber :
    bandeng presto
    bandeng duri lunak
    bandeng duri lunak
    bandneg presto semarang
    Bandeng presto duri lunak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s