Ayadi, Penjaga Air Terjun Tiu Pupus.

Ayadi, Penjaga Air Terjun Tiu Pupus.

Air Terjun Tiu Pupus

Air Terjun Tiu Pupus

Pulang dari air terjun Kerta Gangga. jalanan menurun dan sepi. Tak tik tuk bunyi batu yang dipukul tak terdengar lagi. beberapa orang berteduh di rumah-rumah sederhana. sesekali motor lewat begitu saja. Kami ber lima siap meninggalkan kampung Kerta Gangga. siap berpisah dengan jalanan berlubang tak beraspal. menjauhi perkampungan yang dikelilingi air terjun dan sawah membentang luas. Perbatasan kampung Kerta Gangga semakin jelas. Di luar pintu masuk kawasan air terjun Kerta Gangga, Warung-warung kecil menjajakan durian hasil panen. Pak Neldy dan Meidy mendekati warung-warung. Hanya sekedar untuk menanyakan harga bukan membeli. Setelah bertanya harga, pak Neldy meninggalkan penjual durian itu lagi.

keluar dari pintu gerbang Air Terjun Kerta Gangga, jalanan mulus membentang. Semilir angin membilas-bilas wajah. dedaunan bergerak-gerak tertiup angin membawa angin segar khas pegunungan. Angin-angin membasuh-basuh kandang sapi perahan punya kelompok tani yang berada jauh dari Kampung Kerta, desa Genggelang. Kandang sapi termasuk kandang sapi kolektif yang merupakan program pemerintah dalam rangka untuk swasembada daging “Program Bumi Sejuta Sapi” yang dicanangkan oleh gubernur NTB, TGB Zainul Majdi. selain tujuan swasembada daging, program ini bertujuan untuk menyasar kantong-kantong kemiskinan di Lombok utara. banyak di antara mereka adalah buruh yang sering disebut dengan pengarat atau pengadas

Tiap Kandang muat untuk dua sapi. Kandang-kandang itu berjajar rapi terkurung dalam pagar. Atap kandang terbuat dari jerami yang sudah dikeringkan. Dari atas sepeda, Ku hanya bisa melongok sapi-sapi yang ditinggal oleh pemiliknya.

Buah Cacao yang bergelantungan saat menuju Air Terjun Tiu Pupus

Buah Cacao yang bergelantungan saat menuju Air Terjun Tiu Pupus

Angin segar terus membilas jalanan yang lengang. Dari kejauhan terlihat mobil angkot yang bentuknya mirip dengan mobil si “si Doel Anak Betawi Asli”. Mobil ini tak mengangkut manusia tapi barang-barang segala kebutuhan rumah tangga. Mobil ini siap mendekati rumah-rumah penduduk menawarkan barang-barang rumah tangga yang terbuat dari bahan plastik. Ku lirik sopirnya, akh ternyata bukan si Mandra dengan khas topi angkotnya. Di Lombok Utara, Mobil angkot model si Doel begini selain difungsikan untuk mengangkut manusia, juga banyak digunakan untuk mengangkat barang-barang kebutuhan rumah tangga. Mengambil di pasar, kemudian dijajakan ke kampung-kampung.

Perut mulai keroncongan, rombongan kami harus mengisi bensin dulu untuk mengumpulkan tenaga saat berjalan menuju air terjun Tiu Pupus. Jalanan Air Terjun Kerta Gangga cukup menguras tenaga. Tak Jauh dari pintu gerbang air terjun Tiu Pupus, ada sebuah warung yang menurut pak Neldy masakannya lumayan enak. Pak Neldy ternyata bukan isapan jempol belaka. Masakannya benar-benar enak dan masih hangat. Minuman dingin sangat pas diminum saat mentari begitu teriknya. Berleyeh-leyehan di salah satu berugak di warung sederhana ini. semilir angin bertiup. Alhamdulillah, kenyang menghinggapi.

Muara Air Terjun Tiu Pupus, Bendungan Sengkukun

Muara Air Terjun Tiu Pupus, Bendungan Sengkukun

Perjalanan menjelajahi pelosok negeri segera akan dimulai. Pak Neldy mengingatkan “Ayo kita shalat dulu aja”. Kami tak menjawab dengan kata-kata. Kami hanya berjalan mengikuti pak Neldy melangkah. Sebuah masjid kecil berdiri tak jauh dari rumah makan. Kewajiban ditunaikan untuk merasakan ketenangan dan bersyukur atas keindahan alam yang kami nikmati.

“Welcome to Tiu Pupus Waterfall” tertulis jelas saat kami hendak memasuki kawasan Air Terjun Tiu Pupus. Di bawahnya tertulis “Selamat Datang”. Akh tulisan berbahasa inggris ternyata lebih didahulukan di pintu gerbang air terjun ini. kenapa?. Apakah ini semacam kode bahwa pengunjung air terjun ini kebanyakan adalah turis asing ataukah adanya faktor kesalahan pemerintah atau desa setempat. Atakah ini merupakan suatu bentuk rasa rendah diri. Akh ntahlah. Bahasa Inggris lebih utama daripada bahasa Indonesia. Perasaan inferior itu selalu dan masih ada dalam diri bangsa Indonesia yang pernah terjajah lebih dari 300 tahun.

Rumah-rumah berderet di sepanjang jalan. Rumah itu, makin lama makin jarang kemudian menghilang ditelan pepohonan rimbun.

Jembatan menuju air terjun

suasana air terjun tiu pupus

Terlihat beberapa orang sedang melempar-lempar kelapa muda ke dalam sebuah truk yang terparkir di pinggir jalan. Lemparan itu sesekali tidak tepat mengena ke dalam bak truk. Meleset dari bk truk kemudian terjerembab ke badan jalan. Motor saya melambat kemudian tertambat dan berhenti ada perasaan kalau saya lewat, bisa-bisa kepala yang terkena lemparan kelapa muda itu. ku coba mengerling ke sekeliling, terlihat Pohon-pohon kelapa muda berbaris rapi di ladang. Akh Para pelempar kelapa itu ternyata mengerti kami. Mereka mempersilahkan rombongan kami lewat “silahkan”. Kami hanya menebar senyuman. “terima kasih”.

Pelosok negeri ini selalu identik dengan jeleknya infrastruktur. Semakin mendekat ke tempat wisata, maka semakin jelek lah infrastrukturnya. Jalanan beraspal mulai banyak terkelupas, Batu-batu kecil yang keluar dari sarangnya. Saat bersalip-Salipan dengan truk. Truk itu menerbangkan debu-debu jalanan. Alhamdulillah, jalanan di Air Terjun Tiu Pupus masih lebih baik dengan jalanan ke Air Terjun Kerta Gangga.

Tumpukan batu-batu kali kecil hasil pukulan penduduk kampung teronggok di pinggir-pinggir jalan. tertumpuk ditinggal oleh para pemukulnya yang sedang beristirahat melepaskan rasa capek. Tidur di teras rumah , disapu angin pegunungan. Nyanyian burung-burung berseliweran bersaing dengan bunyi sepeda motor bertumbuk dengan batu jalanan. Mengurangi kesepian jalanan di siang bolong.

Aliran deras Air Terjun Tiu Pupus

Aliran deras Air Terjun Tiu Pupus

Motor kami terhenti setelah menempuh dua puluh menit perjalanan. Seorang petugas parkir mempersilahkan kami. Tiu Pupus berasal dari dua kata, kata petugas itu kepada rombongan kami. Tiu berarti genangan atau kolam. Sedangkan Pupus berasal dari akar tumbuhan pupus yang tumbuh di air terjun Tiu Pupus. “Bentuk akar pupur ini seperti ular. Sayang, Akar pupus itu sekarang sudah tak ada lagi,” kata tambahnya.

Pohon-pohon Cacao tumbuh subur di sekitar Air terjun Tiu Pupus ini, buah-buah Coklat menyambut kami saat kami hendak menuruni tempat parkir. Kanan Kiri ditumbuhi pohon coklat yang berbuah ranum kekuningan. Buah cacao bergelantungan di kanan kiri jalan.

Lombok Utara memang sangat dikenal dengan komuditas pertaniannya. Coklat menjadi salah satu komuditas unggulannya. Misalnya : Saat saya memasuki air terjun Tiu Teja, Pohon-pohon coklat berjajar rapi di sepanjang pintu masuknya. Begitu pun, Saat saya berkunjung ke salah satu kampung teman saya di desa Lombok Utara. Coklat juga menjadi salah satu andalan kampung tersebut. Bahkan, saya diberikan sebuah coklat yang sudah menguning yang langsung dipetikkan dari pohon yang ada di pekarangan rumahnya. Buahnya hanya bisa diemmut dari daging-daging yang menempel pada biji-biji coklat. Rasanya kecut. Sedangkan Biji-biji coklat itu dikeringkan kemudian dijual kepada para pengepul. Para pengepul kemudian mengirimkan barang itu ke pabrik-pabrik pengolah coklat.

Jalan menuju air terjun Tiu Pupus laksana bukan jalanan air terjun pada umumnya. Air terjun selalu identik dengan jalan menanjak atau menurun. Tiu Pupus jalannya datar-datar saja. Kami berpapasan dengan wanita-wanita desa pupus dengan pakaian basah kuyup, membawa pakaian yang sudah dicuci di Tiu Pupus. Senyuman keluar dari wajah polos mereka.

Berpose bersama

Berpose bersama

Air Terjun Tiu Pupus bermuara pada sebuah Bendungan Sengkukun. Kali besar ini selain berfungsi sebagai daerah aliran air yang bersumber dari Tiu Pupus juga berfungsi sebagai waduk untuk menampung air yang berasal dari Air Tiu Pupus. Saat musim kemarau Bendungan Sengkukun menggunakan sistem buka tutup. Saat pagi hari, waduk ditutup sehingga kali besar menuju Air Terjun Tiu Pupus dipenuhi air, menjelang malam waduk-waduk itu dibuka sedikit-sedikit untuk mengaliri Sawah-sawah.

Air Terjun Tiu Pupus memiliki ketinggian sekitar 30 meter. Airnya mengalir deras menghujam dasar. Air Terjun ini dilengkapi dengan kolam alami yang disebut dengan “Tiu”. Jam 13.00, Mentari begitu terik menyinari Tiu Pupus. Langit biru membentang luas. Pepohonan hijau membawa angin segar, burung-burung gereja beterbangan. Sebuah pipa berbentuk kabel raksasa melintang di tengah-tengah air terjun. Pipa ini yang menghubungkan antara kampung pupus dengan air terjun tiu pupus. Pipa air ini langsung diambil dari aliran air di puncak Tiu Pupus. “Dulu, penduduk kampung kami yang memasang pipa-pipa ini, sehingga kampung kami langsung dialiri aliran puncak air Tiu Pupus, kata seorang penjaga Tiu Pupus menjelaskan kepada kami”. Ayadi namanya. Badannya kurus dan berambut gondrong.

Dari Ayani, kami diberitahu bahwa kalau berenang sebaiknya berjalan di sisi kanan. “Lewat sini, kalau yang kiri banyak batu-batunya,” katanya kepada saya dan Neldy yang hendak berenang. Lalu dia pun mencontohkan jalan menuju ke tengah-tengah guyuran air terjun Tiu Pupus. Burung-burung beterbangan di atas kami . Burung itu terbang menukik menyentuh air kemudian terbang lagi menuju angkasa.

Ayadi sedang mengantar turis

Ayadi sedang mengantar turis

Ayadi bercerita bahwa dia sering mandi menemani tamu yang datang tapi tidak semua tamu yang akan mandi selalu ditemaninya. Kalau banyak tamu yang datang, dia hanya mandi sesekali saja. Capek mas kalau setiap ada pengunjung mandi. Dari sejak tadi hingga siang ini, tak kurang sudah lima kali dia mandi di air terjun Tiu Pupus.

Air terjun jatuh terhempas ke badan kami, tak kuat rasanya berdiri mematung di bawah guyuran air terjun. cepat-cepat saya menghindari jatuhnya guyuran air terjun. sebagian guyuran air terjun beterbangan ke sana ke mari tertangkap cahaya kemudian memendarkan cahaya pelangi. Pelangi itu bergerak cepat secepat air yang mengalir. Melebar dan membesar kemudian hilang dibawa angin. Pelangi muncul lagi. hilang lagi dibawa angin. begitu seterusnya sepanjang matahari masih bersinar menyinari air yang beterbangan. Terlihat beberapa pengunjung lokal berenang di Tiu pupus.

Rupanya air terjun Tiu Pupus belum memiliki tarif tiket masuk secara resmi. Itu terbukti saat saya hendak membayar kepada Ayadi, sang penjaga. Wah terserah bapak aja, katanya. Kami berlima akhirnya bersepakat untuk membayar Rp 5.000 per orang dan Kami pun siap meninggalkan air terjun Tiu Pupus .

19 thoughts on “Ayadi, Penjaga Air Terjun Tiu Pupus.

  1. Wuih, dari Kerta Gangga masih terus blusukan nyari air terjun, hehehe. Dari foto yang pertama, saya dah nebak ini pasti siang bolong panas-panasan perginya, hehehe. Jaraknya dari Kerta Gangga berapa km ini kira-kira? Kalau naik kendaraan roda 4 jalannya bersahabat ga?

    Sepintas, ini Tiu Pupus kayaknya udah tertata jadi obyek wisata yang baik ya? Tapi kok belum diberlakukan tiket masuk ya? Apa karena berkunjungnya di hari kerja?

    • hahahaa siang bolong yang bikin kulit gosong tapi ngak segosong kalo siang2 di pantai heheh….akh bentar aja dari kerta gangga hanya 30 menit dari kerta gangga..akh Tiu Pupus belum dikelola dengan baik…tapi sudah ada sedikit perhatian dari pemda setidaknya ada bantuan berugak untuk berteduh hehe

  2. cantik ya mas air terjunnya, byk lagi airnya, terkahir ke tanah air mau lihat air terjun di sana, hampir nggak ada airnya deh padahal musim penghujan ya😦

  3. Waktu ke lombok ditawarin nyambangin beberapa air terjun, tapi cuma kesampaian satu. dan bener banget salah satu kendala tempat wisata di sana adalah infrastruktur. Haduh waktu ke lombok timur sampai muntah-muntah di mobil gara2 jalannya jelek hehehehe.

    • yaaaa di sini surganya pantai dan air terjun. hampir semua Air Terjun di Lombok bersumber dari gunung Rinjani. ke Lombok Timur kemana tuh mbak, ke pantai Pink kah?muntah-muntah tapi seru kan hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s