Begerusuk melihat Air Terjun di Pantai Nambung

Begerusuk ke Nambung

Terjangan ombak di Pantai Nambung

Terjangan ombak di Pantai Nambung laksana air terjun

Saat saya dan bersama rombongan tiba di pinggiran pantai Nambung, langit tepat di atas kami yang bersinar terik tak terhalang oleh awan-awan yang beriringan. Setelah menempuh perjalanan 2.5 jam dari mataram, petualangan ke salah satu sudut pulau Lombok akan dimulai. Nambung begitu orang mengenalnya. Dusun Nambung yang hampir terlupakan di perbatasan Lombok Barat. Kampung Nambung termasuk dalam wilayah Mawun Mas, Sekotong, Lombok Barat yang langsung berbatasan dengan Lombok Tengah. Ini lah garis batas yang sesungguhnya. Barisan Bukit-bukit hijau dengan pantai-pantai berpasir putih membentang merupakan garis batas kampung Nambung. Garis Pantai Nambung bersambung dengan Pantai Pengantap kemudian berujung pada sebuah bukit. Dua pantai ini berbentuk cekung –tipikal pantai-pantai di Lombok yang di setiap ujung pantai biasannya berbukit. Di balik bukit di ujung pantai pengantap bersambung dengan kawasan-kawasan wisata yang masih perawan, Pantai Meang dan Pantai Jurang Maling dan Teluk Sepi.

Dari barisan-barisan bukit-bukit yang menjadi pembatas Lombok Barat dan Lombok Timur, tersembul kawasan teluk sepi yang selalu mencerminkan kesepian dan ketenangan di balik bukit-bukit pengantap. Ketenangan dan kesepian, kehampaan begitu sangat kental terasa di kawasan teluk sepi yang dikelilingi bukit-bukit hijau ini. Dari bukit garis batas ini, saya menyaksikan barisan pantai berpasir putih dengan warna laut Toschanya. Cekungan pasir putih pantai Pengantap dan Penambung.

Pengantap dari bukit

Pengantap dari bukit

Di puncak Bukit, tiang-tiang Pembangkit Listrik Tenaga Angin berputar kencang yang berasal dari angin Laut pantai Nambung dan Pantai Pengantap yang langsung menghadap ke Samudra Hindia itu. Tiang-tiang kincir angin berukuran kecil menjadi pemandangan mencolok dibandingkan dengan bukit-bukit lain di daerah sekotong. inilah Pembangkit Listrik Tenaga Angin yang pertama kali saya liat secara langsung. Saya melambatkan motor saya yang menuruni bukit, melirik barisan pembangkit listrik itu. Ada rasa ingin tau melihat keadaan kampung pengantap di ujung bukit at least mengabadikan satu-satunya PLTA di Lombok ini. Tapi, rasa khawatir dan rasa takut ditinggal teman-teman rombongan yang menuruni perbukitan. Tiang dan putaran kincir menjauh kemudian menghilang ditelan bukit-bukit sekotong yang hijau

Teriknya sinar mentari menyinari kampung Nambung yang berbatasan dengan pantai ini. Di Kampung Nambung, beberapa pemuda memakai pakaian adat berupa sarung sebetis yang dililitkan ke pinggang. Acara Nyangkolan-pernikahan ala Lombok dengan iringin lagu-lagu sasak dipadu dengan tarian gendang Belek yang selalu mengiringi pernikahan adat sasak. Hakikat Nyangkolan adalah memperkenalkan kedua mempelai kepada masyarakat dengan cara diarak di jalanan. Pemuda-pemudi berhias untuk mengiringi acara nyangkolan dengan cara berjoget dan bernyanyi.

memandang ke segala arah di pantai Nambung

memandang ke segala arah di pantai Nambung

Nyangkolan sudah menjadi tradisi dan identitas. Nyangkolan salah satu adat wajib yang selalu ada di pernikahan-pernikahan adat lombok. Akhir-akhir ini,acara Nyangkolan yang berfungsi sebagai sarana mempertahankan adat dan kebudayaan itu berubah sarana hiburan yang lebih modern. Suara Sound System membahana mengalahkan alunan gendang. Lagu-lagu sasak tergantikan dengan lagu-lagu dangdut dari jawa. Identitas dan tradisi masih bertahan dengan subtansi budaya yang bergeser. Kecimol, begitu orang mengistilahkannya. Budaya dan lagu-lagu saya yang sudah modifikasi.

Budaya Nyangkolan menjadi salah satu hiburan bagi warga di Desa Nambung yang dikelilingi bukit-bukit menghijau. Termasuk bagi Pak Muhnam yang tak pergi menambang emas di puncak-puncak bukit sekotong.

Daya Tarik Sekotong

Salah satu tambang rakyat di Mawun Lombok Tengah

Salah satu tambang rakyat di Mawun Lombok Tengah

Beberapa tahun terakhir sekotong mulai dikenal sebagai salah satu tujuan wisata di pulau Lombok. Hendak menyaingi kawasan Trio Gili di Lombok Utara yang sudah terlebih dahulu dikenal. Sebelumnya Gili Trawangan termasuk bagian dari Lombok Barat. Sejak tahun 2008, Lombok Barat dipecah menjadi Lombok Utara dan Lombok Barat. Sejak saat itu, Lombok memfokuskan diri untuk mengembangkan kawasan gili-gili di sekitar sekotong. Gili Nanggu, Gili Sudak, Gili Tangkong, dan Gili Kedis dirancang untuk menggaet wisatawan. Investor diundang untuk berinvestasi di sekotong. Sebuah Resort dibangun di Gili Nanggu. Terdengar kabar rumor bahwa pulau ini hendak dijual.

Dalam sepuluh tahun terakhir, banyak perubahan-perubahan di daerah wisata sekotong. Tempat-tempat wisata dipromosikan. Investor-investor baru digaet untuk membangun pesisir barat Lombok. Dalam sepuluh tahun terakhir, Lombok tidak hanya mengundang industri wisata, tapi juga industri pertambangan. Bukit-bukit sekotong di Lombok Barat diduga mengandung emas dan Tembaga sebanyak 1.500an Ton. Kabar ini berawal dari explorasi yang dilakukan PT Newmon Nusa Tenggara, PT. NNT pada tahun 1980an. Kabar itu pun menyebar. Gubernur NTB langsung mengantisipasi penemuan itu dengan menerbitkan peraturan daerah no. 11 pada tahun 2006 tentang RTRW (Tata Ruang dan Wilayah) yang membatasi persetujuan penambangan. Pemprov Lombok ingin melindungi pulau lombok sebagai kawasan bebas industri pertambangan skala besar.

Kabar bukit-bukit sekotong yang mengandung emas menyebar ke berbagai pelosok. Menyebar hingga menembus batas-batas pulau lombok hingga ke Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Ribuan orang berdatangan dari berbagai daerah untuk mengambil potongan batu-batu emas di sekotong. Larangan penambangan tak diindahkan. Hutan-hutan ditebas, Bukit-bukit digali, ladang-ladang mulai beralih fungsi menjadi lahan-lahan emas. Bukit-bukit menjadi gundul. Masyarakat bersama dengan para pendatang bersama-sama menggali potongan batu-batu emas dengan peralatan sederhana seperti Linggis dan karung. Masyarakat beralih dari yang awalnya berprofesi sebagai petani dan nelayan mulai beralih profesi menjadi penambang-penambang emas. Masuk ke hutan ke luar hutan. Menggali puluhan hingga ratusan meter mencari batu-batu emas. Membuat lorong-lorong tikus ukuran manusia dewasa.

Sejak maraknya penambangan liar, menurut data dari pemerintah kabupaten Lombok Barat ada puluhan orang yang sudah tertimbun karena longsor lorong-lorong tikus para penambang Liar.

Penunggu batu Nambung

Penunggu batu Nambung

Tak tahu ntah bagaimana, PT NNT pun seakan tak mau ketinggalan untuk membancak bukit emas di sekotong, Lombok Barat. Perusahaan PT. Indonesia Tambang (Indotan) didirikan, anak perusahaan PT Newmont Nusa Tenggara. Aturan pembatasan penambangan berskala besar mungkin sudah direvisi menjadi pembolehan penambangan skala besar. PT Indotan mulai mengerahkan alat-alat berat di daerah Kedaro, Sekotong. Datangnya alat-alat berat milik PT Indotan menyulut keresahan dan kemarahan masyarakat sekotong. Mereka takut mata pencaharian mereka berkurang. Masyarakat sekotong yang dulu berprofesi sebagai petani dan nelayan benar-benar sudah bertransformasi menjadi penambang. Emas menjadi mata pencahariannya. Tak pelak masyarakat pun mulai melakukan perlawanan-perlawanan ringan hingga perlawanan berat. Puncak kemarahan warga terjadi pada tahun 2011 dengan cara membakar peralatan berat yang dimiliki oleh PT. Indotan yang berinduk di Amerika itu.

Para pembakar ditangkap oleh aparat kepolisian. Warga masyarakat berusaha membebaskan kawan seperjuangan. Warga berunjuk rasa meminta kebebasan atas teman-temannya. Unjuk rasa pun berlanjut saling serang antara warga dan aparat kepolisian. Batu-batu dilemparkan. Dua kubu saling serang. Tembakan peringatan dikeluarkan. Unjuk rasa berujung maut. Salah seorang warga terkena tembakan. Meninggal dunia di ujung peluru. Warga Masyarakat Vs aparat. Semuanya berawal dari sebuah beroperasinya alat berat penambangan emas oleh PT Indotan.

Ketika Para Pemilik Pemodal masuk ke Pelosok-pelosok desa di Lombok

perkampungan Nambung yang tak berhasil digusur oleh aparat

perkampungan Nambung yang tak berhasil digusur oleh aparat

Di pinggiran pantai Nambung, saya menghampiri sebuah rumah milik pak Muhnam, salah seorang penambang emas. Di depan teras rumahnya, dia bersandar pada sebuah tiang rumahnya. Mulutnya tak berhenti mengunyah daun sirih yang bercampur pinang. Bibir dan giginya memerah seperti sedang bergincu dengan daun-daun sirih. Dalam diamnya wajahnya selalu memancarkan wajah ceria. beberapa pertanyaan saya terkait dengan kampung Nambung dijawab dengan tuntas termasuk terkait dengan wisata Pantai Nambung. Dia menghela nafas panjang. Kemudian mulutnya membuka dan kata-kata itu keluar juga “Bukit-bukit itu sudah dibeli orang asing mas,” katanya padaku sambil tangannya menunjuk bukit-bukit yang sudah berpindah kepemilikan. Saya hanya bisa mengelus dada. “Bukit-bukit ini sudah dibeli orang asing atas nama penduduk warga di sini,” katanya berusaha menjelaskan lebih jauh tentang bukit-bukit yang mengelilingi perkampungan mereka.

Di Indonesia, Orang asing tidak diberi kebebasan untuk memiliki tanah. Pihak asing tak kekurangan akal. Tanah-tanah yang dibeli oleh orang asing diatasnamakan kepada para penduduk yang dipercaya atau para tuan tanah yang bekerja sama dengan orang asing tersebut. Jadilah tanah-tanah yang secara substansi dimiliki pemodal asing tersebut, tapi secara formal dimiliki oleh warga atau para tuan tanah.

Berteduh

Berteduh

“Bapak harus siap-siap pak, kalau bukit-bukit itu sudah dimiliki oleh asing. Lambat laun rumah pak Muhnam dan penduduk sekitar akan diincer untuk dibeli asing juga loh pak,” kataku berusaha meyakinkan pak Muhnam. “Kalau bapak diusir dari sini emang bapak mau pindah kemana?. Sebaiknya tanah-tanah yang bapak miliki harus segera disertifikasi. Agar hak kepemilikan atas tanah yang bapak tempati menjadi berkekuatan hukum,” imbuhku berusaha sok menasehati.

Tebakanku terhadap kampung Nambung ternyaan bukanlah dugaan belaka. Ternyata, Pihak asing sudah berusaha membujuk mereka agar mereka mau pindah ke tempat lain. Dengan wajah tenangnya, Pak Muhnam membetulkan punggung yang bersandar pada sebuah tiang di terah rumahnya. “kampung kami ini sudah didatangi aparat mas beberapa bulan yang lalu. Mereka hendak mengusir kami dari kampung kami. Tapi alhamdulillah, kami punya bukti bahwa tanah kampung ini menjadi hak kami, aparat-aparat tidak berhasil mengusir kami.” Pak Muhnam berkali-kali menjelaskan kembali kepada saya bahwa Mereka (aparat dan Asing) tak mungkin bisa mengusir kami mas, kami punya bukti,” imbuhnya.

Dalam hati aku sedikit bersyukur bahwa mereka sudah mempersiapkan semuanya. Sebuah kampung mungil di pinggir pantai berpasir putih yang dikelilingi bukit-bukit yang sudah berpindah kepemilikan kepada para pemilik modal. Berkaitan dengan kepemilikan hak atas tanah-tanah di pinggir pantai. Lombok menjadi surga untuk para pemilik modal. Tak jauh dari pantai nambung, ada kawasan teluk mekaki yang juga sudah dikuasai para pemilik modal. Para pengunjung tak bebas lagi berlenggang menikmati panorama alam yang ditawarkan pulau lombok atau seperti Tanjung Bloam, Lombok Timur yang menjadi kawasan private itu. Benarkah panorama-panorama indah hanya dinikmati oleh para kaum proletar. Pengunjung umum tak bisa lagi untuk sekedar menginjakkan kaki di kawasan Tanjung Bloam. Kawasan bloam sudah dikuasai oleh pengelola resort Jeeva Bloam. Yang bisa berkunjung ke sana hanya golongan orang-orang yang cukup mampu untuk mengambil sedikit recehan menikmati deburan ombak di sebuah resort yang berada bukit-bukit Tanjung Bloam.

Hikmah Pemilihan Kepala Desa di Nambung

Pak Muhnam bersama anaknya duduk di depan teras rumahnya

Pak Muhnam bersama anaknya duduk di depan teras rumahnya

Kampung Nambung mempunyai cerita. Cerita pemilihan kepada desa yang menyebabkan Desa Nambung terang benderang. Demokrasi sangat membekas di kampung ini. Bahkan Demokrasi ikut berperan terhadap terang tidaknya kampung yang dikelilingi perbukitan ini. Perang janji kampanye antar kepala desa ternyata cukup berpengaruh terhadap kampung Nambung. Rumah-rumah di Desa Nambung sudah teraliri listrik PLN sejak empat tahun lalu. Herannya di kampung sebelah, Pengantap. ada sebuah PLTA yang berada di puncak bukit.

“Dulu, di sini juga menggunakan PLTA juga mas,” Kata pak Muhnam kepada saya. Wahhhh keren dunk pak menggunakan PLTA, kataku . lebih lanjut pak Muhnam menceritakan asal muasal kampung Nambung ditinjau dari kelistrikannya. Dulu, sebelum periode pemilihan kepala Desa yang sekarang. Nambung terkenal dengan sebutan kampungnya PLTA. Tiang-tiang PLTA berbaris rapi di puncak-puncak bukit Nambung kemudian listrik-listriknya dialirkan ke kampung-kampung penduduk Nambung. kampung yang gelap pelan-pelan terang-benderang dengan aliran listrik kincir angin. Tiang-tiang Kincir Angin bukan berasal dari PLN tapi berasal dari janji-janji kampanye politik kepada desa di Nambung. Delapan tahun kepala desa terpilih menjabat Kepala Desa, delapan tahun pula Kincir Angin menerangi kampung Nambung.

Pemuda-pemuda Nambung berpakaian adat u acara Nyangkolan

Pemuda-pemuda Nambung berpakaian adat u acara Nyangkolan

Tiang-tiang Kincir angin itu sekarang sudah tak berbekas lagi. Satu pun tak ada penduduk yang menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Angin. Tiang-Tiang kincin angin itu berubah menjadi tiang-tiang listrik jaringan PLN. Demokrasi juga lah yang mengubah tiang-tiang kincir angin menjadi tiang-tiang listrik. Kepala desa yang terpilih sekarang menjanjikan akan mengganti tiang-tiang kincir angin yang green energy dengan tiang-tiang jaringan kabel PLN.

Jika kampung Nambung punya cerita dengan tergantikannya tiang-tiang kincir angin dengan tiang listrik PLN. Maka Pengantap punya cerita dengan tiang-tiang kincir angin yang berada puncak bukit pengantap. “akh sebentar lagi, kincir-kincir angin juga akan dipindah pak ke daerah meang yang juga belum teraliri listrik, kata pak Muhnam kepada saya. Rupanya, di daerah sekitar Nambung ini masih ada beberapa desa yang juga belum merasakan terangnya listrik. Alasan dipindah mungkin karena daerah pengantap sudah teraliri listrik PLN walaupun daerah puncak bukit itu lumayan jauh dari jalur PLN. Meang memang susah dijangkau dengan jaringan PLN. Alasan utamanya adalah medan berat menuju Meang.

Flashback ke setahun Lalu di Pantai Nambung

Beberapa tahun lalu pantai-pantai di pesisir barat ini terlalu perawan sekaligus rawan. Tak ada atau jarang para pengunjung bersusah payah hanya untuk memburu pantai di ujung barat sini. Pak Muhnam membenarkan bahwa pantai ini begitu sepi. Mungkin hanya beberapa saja yang memang bertujuan mengunjungi pantai di pesisir selatan lombok. “Akh Dulu siapa mas yang mau ke pantai Nambung ini,” keluh pak Muhnam kepada saya. Sejak setahun terakhir pantai Nambung memang mulai dikenal dan banyak dikunjungi wisatawan. usut punya usut ternyata pantai Nambung bukan mengalir begitu saja.

Bukit-bukit Nambung

Bukit-bukit Nambung

Setahun lalu, Pantai Nambung bagian dari pantai yang terlupakan. Setahun lalu, tiga wisatawan datang ke Nambung. “Setahun lalu, ada 3 wisatawan datang ke sini, dua nya bule, satunya dari cina. Mereka datang ke sini minta ditemanin ke ujung pantai pantai Nambung,” kata Pak Muhnam kepada saya. Tepatnya sih saya ngak tau. Seingat saya, mereka datang bertepatan dengan pembangunan rumah ini, kata pak Muhnam kepada saya sambil menunjukkan rumah bertembok yang berada di depan rumah lamanya. Lalu apa yang menjadi daya tarik di ujung pantai nambung hingga wisatawan minta dianterin ke sana. Bukan kah di ujung sana hanya batu-batu besar yang terlihat samar-samar. Justru barisan batu-batu cadas yang diterjang oleh ganasnya ombak samudra Hindia yang menjadi daya tarik pantai Nambung. Saat ombak besar datang menghantam batu-batu, seketika ombak menghambur ke atas kemudian turun mengaliri bebatuan. Pemandangan Air terjun Air Asin nampak di depan mata. Seketika bidikan kamera diarahkan secepat mungkin ke “Air Terjun Air Asin”. Batuan-batuan cadas hitam seketika berubah wahana menjadi kawasan air terjun. Ini lah keunikan dari ujung pantai Nambung.

Pemandangan Air Terjun Air Asin inilah yang diabadikan oleh turis-turis asing dan kemudian menunjukkannya kepada pak Muhnam “bapak liat Foto ini, sebulan lagi foto-foto ini akan dimuat di majalah,” kata pak Muhnam menirukan turis yang datang setahun yang lalu itu. Sayang, bapak Muhnam tidak ditunjukkan di majalah apa dan dimana foto-foto air terjun Nambung akan dimuat?.

Rupanya turis asing tidak hanya ingin memamerkan keindahan Air Terjun Air Asin yang dibidiknya, namun dia juga sudah membeli bukit-bukit yang mengelilingi kampung Nambung. Bahkan, sang turis hendak membeli kampung pak Muhnam. Aparat dikerahkan untuk memindahkan kampung Nambung. Sayang, penduduk nambung tak mau dipindah dan memang begitulah seharusnya. Setahun telah berlalu. Nambung sudah tidak sesepi dulu. Wisatawan domestik mulai berdatangan ingin melihat Air Terjun Air Asin tersebut. Sejak kunjungan wisatawan luar negeri yang kemudian membeli bukit-bukit nambung, Nambung kebanjiran tamu-tamu wisatawan. Halaman-halaman rumah penduduk menjadi lahan parkir dadakan. Retribusi parkir mengalir kepada rumah-rumah yang halaman rumahnya dijadikan lahan parkir.

Begerusuk di Nambung

Tanaman Rumput laut di Pantai Nambung

Tanaman Rumput laut di Pantai Nambung

Ngobrol bersama pak Tahir di salah satu berugak

Ngobrol bersama pak Tahir di salah satu berugak

Siang ini, Matahari bersinar begitu teriknya. Tak ada awan hilir mudik sekedar untuk mengurangi panasnya. Saya bersama rombongan hendak menyusuri pesisir pantai nambung. Terlihat beberapa rumput laut kering berbentuk persegi. Teriknya matahari tak menghalangi banyak jumlahnya pengunjung. Media sosial ikut andil dalam mempromosikan pantai Nambung. Nambung menjadi Tren. Wisatawan-wisatawan hanya punya satu tujuan ketika menuju Nambung yaitu “Air Terjun Air Asin”.

Air terjun

Air terjun

Pengunjung Nambung berjalan beriringan hendaknya menuju surga dengan melalui siratul multaqim. Menuju ke arah yang sama, jalan yang sama. Berpanas-panasan bersama demi sebuah air terjun. Berteduh dari sengatan mentari di siang hari di ujung selatan Lombok sebuah keniscayaan. beberapa pengunjung berteduh di pinggir-pinggir pantai. Semak-semak yang biasanya sepi seketika menjadi rame tempat berkumpulnya orang-orang yang ingin menikmati pantai tanpa merasakan panasnya terik matahari. Sebuah Batu besar berdiri kokoh di ujung pantai berpasir putih. Naluri kemanusiaan saya dan kawan-kawan muncul “kenapa kita tidak berteduh saja sejenak merasakan hembusan angin laut. berteduh dari sengatan sinar mentari di bawah bebatuan besar yang ditumbuhi pepohonan adalah kenikmatan sendiri. semilir angin laut menyapu bebatuan, membilas wajah-wajah yang kecapean. Seteguk air masuk dalam kerongkongan yang kehausan dengan semilir angin laut. Akh seakan tak mau beranjak dari teduhnya bebatuan

Berteduh sejenak di bawah bebatuan pantai Nambung

Berteduh sejenak di bawah bebatuan pantai Nambung

Pantai berpasir berubah berganti pantai berbatu. Gemuruk ombak yang tenang semakin menderu-deru menerjang sang batu. seketika hamburan sang ombak membentuk air terjun kecil menggelayuti batu-batuan karang. Sebuah “komplek” pantai-pantai berbatu di ujung Nambung membuat daya tarik tersendiri. Airnya yang tenang dan bening. Lumut-lumut berwarna hijau menjadi background sang air. Komplek ini dikelilingi oleh batu-batu besar yang langsung menghadang sang ombak. Gumpalan gemuruh ombak pecah seketika menghantam karang. Air jatuh membilas sang karang kemudian mengalir ke dalam komplek pantai berbatu. Ikan-ikan kecil berenang di sela-sela bebatuan yang ditumbuhi terumbu karang.

Di ujung pantai, berdiri batu karang tinggi menjulang bertahan dari terjangan ombak samudra. Beberapa beriringin Wisatawan masuk melalui lorong-lorong batu menuju pusat air terjun itu. Semua terpaku dan menunggu sang ombak. Akh ini seperti hendak menunggu permainan sirkus saja. Lima menit berlalu, sang pemain juga belum muncul. Pengunjung kecewa. 10 menit telah berlalu, sang lakon juga tak menunjukkan batang hidungnya. Hanya gemuruh ombak yang menderu-deru. Sesekali terdengar seperti suara kerbau yang sedang bernafas. Pengunjung pun makin kecewa. Harap-harap cemas. Beberapa beberapa pengunjung berdiri di ceruk bebatuan. Mata memandang ke arah yang sama. Suara gemuruh itu datang lagi. Kali ini suaranya lebih keras lagi. Byurrrr………. Mata dan pandangan menuju ke sebuah batu. Berbagai jenis kamera serempak membidik objek yang sama. jeprat jepret… berbagai macam gaya foto ditampilkan, selfie, dan lain-lain. 15 menit berlalu. Air terjun ini muncul setelah 15 menit penantian.

Suasana air terjun Nambung. terlihat beberapa pengunjung menunggu datangnya sang ombak

Suasana air terjun Nambung. terlihat beberapa pengunjung menunggu datangnya sang ombak

Wajah yang terlihat kusut seketika berubah menjadi cerah gembira. Persis seperti anak-anak dikasih manisan Lollipop. Bulan Lalu, ombaknya sering dan besar mas, kata pak Tahir. Pak Tahir adalah penduduk kampung Nambung yang ikut menemani dua wisatawan dari Ampenan Lombok sebulan lalu. Sayang, kunjungan dua cewek dari kota mataram berujung duka. Pinggang salah satu cewek keseleo terkena sapuhan sang ombak samudra. Kug bisa?. Alkisah. Sekitar bulan Maret 2013, dua pengunjung cewek itu datang ke Pak Tahir agar ditemeni jalan-jalan ke Nambung. salah seorang dari mereka ingin foto dengan latar ombak nambung yang besar itu. Sang di cewek berdiri bersama dengan pak Tahir di batu-batu yang langsung berbatasan dengan laut Nambung. Pak Tahir bertugas untuk ikut memegang salah seorang cewek dari mereka. Rupanya ombak yang datang begitu besar. Seorang cewek tersebut tak kuat menahan hamburan sang ombak begitu juga pak Tahir tak mampu untuk menahan sang cewek. Pak Tahir hanya mampu menjaga dirinya agar tetap seimbang. Sang cewek itu pun tersungkur dan pinggangnya jatuh mengenai batuan karang.

Petualangan di pesisir Selatan

ujung jalan Desa Montong Ajak, Lombok Tengah

Petualangan ke pesisir selatan di Desa Montong Ajak, Lombok Tengah

Langit semakin cerah. Panasnya mentari semakin menusuk-nusuk. Kami harus pulang. Perjalanan masih akan dilanjutkan ke Lombok Tengah melalui jalur selatan Lombok. saya dan rombongan belum pernah mencoba jalur ini sebelumnya. Tujuan kami jelas – petualangan untuk menemukan spot-spot baru tujuan wisata lombok yang belum terjamah. kami hendak mencari Tanjung Pelangi.

Sebetulnya ada dua jalur untuk menuju Lombok Tengah. Bisa melewati jalan beraspal tapi minim pemandangan atau melewati jalur baru, tak beraspal dan hanya pengerasan tapi petualangan kami akan menemukan hal-hal baru yang tak terduga sebelumnya. Mungkin kalau sedang hujan, kami tak akan berani melewati jalur pengerasan. Beruntungnya adalah hari ini benar-benar cerah walaupun masih dalam suasana musim hujan. Motor kami berjalan di jalanan Montong Ajak yang berdebu. Anak-anak muncul dari gorong-gorong jembatan kemudian meneriakkan “selamat siang mas”. Kami disambut hangat di desa ini. Sapaan hangat anak-anak SD ini mengingatkan saya saat saya melakukan perjalanan di kampung-kampung di kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT sana. Bagaimana tidak, setiap anak-anak yang bersalip-salipan dengan pengandara baik itu menggunakan motor ataupun mobil tertutup, mereka akan selalu menyapa dengan penuh rasa keakraban. “selamat pagi” atau “selamat siang”.

Jalan membelah bukit di Dusun Torok Aik Belek, Lombok Tengah

Jalan membelah bukit di Dusun Torok Aik Belek, Lombok Tengah

Di pelosok-pelosok desa ini saya menemukan persahabatan dan keakraban khas penduduk desa. Petualangan trus kami lanjutkan menyusuri jalanan yang berdebu dan berharap menemukan jalan yang bersahabat. Di ujung, Desa Montong Ajak, kami berhenti sejenak berteduh di bawah pohon-pohon kelapa yang melambai. Di ujung desa ini, kami melihat Samudra luas membentang berwarna kebiruan. Angin sepoi sepoi membilas wajah wajah yang kepanasan. Kami terbuai dengan terpaan angin samudra yang membilas wajah tapi harus tetap melanjutkan perjalanan.

Kami berpindah dari puncak bukit yang satu ke puncak bukit yang lain dengan hamparan sawah-sawah membentang. Kami berjalan dari ketinggian menuju ke titik Nol melewati jalanan yang berbatu dan berdebu. Kuncinya satu “hati-hati”. Saya terhenti di puncak Dusun Torok Aik Belek. Di ujung Jalanan berbatu dan berdebu, beberapa orang sibuk mengaspal jalan. Mereka bukan mengaspal jalan tapi jalan menuju puncak tapi ntah lah puncak apakah. Jalanan beraspal ini membelah sebuah bukit dan berujung pada puncak bukit yang ntah akan digunakan untuk apa.

Perlintasan jalan. tebing di antara Dusun Serangan dengan dusun Tomang Omang

Perlintasan jalan. tebing di antara Dusun Serangan dengan dusun Tomang Omang

Bukan kah kawasan ini masih sepi dan tak berpenghuni. Mungkin begitu lah kelakukan para investor atau apalah namanya. Mereka memburu tanah-tanah yang jalan rayanya baru saja dibuka. Saya sudah tertinggal jauh dari rombongan saya. Ada rasa khawatir dalam diri saya. Saya terus menuruni jalanan berdebu menuju titik terendah, mengejar teman-teman yang jauh di depan sana. Kami memasuki kawasan Serangan. Desa serangan juga mempunyai pantai indah dengan barisan pohon kelapa yang melambai. Saya hanya melambaikan tangan saja terhadap rayuan pohon kelapa di pantai serangan.

Lombok Tengah lima tahun terakhir memang sedang melakukan pembukaan jalan-jalan baru. Akses-akses jalan ke tujuan wisata banyak yang diperlebar dan diaspal hotmix. Salah satunya jalur selatan ini Nambung – Tomang Omang. Para tuan tanah dan investor “wait and see”. Tanah-tanah yang dilewati jalan-jalan baru langsung menjadi inceran.

Desa Serangan adalah desa terakhir yang kami harus taklukkan sebelum menuju desa Tomang Omang. Di ujung perbatasan desa serangan, kami berjalan membelah bukit dan tebing berwarna keemasan yang terkena cahaya mentari. Serangan penuh kenangan bagi salah satu teman kami, Indra. Indra terjatuh saat hendak menaklukkan bukit serangan. Sepeda motornya mencium batu-batu serangan. Di ujung serangan, kami bisa melihat gugusan pantai Tomang Omang. Dalam diam, saya merasakan pelukan tebing-tebing serangan.

29 thoughts on “Begerusuk melihat Air Terjun di Pantai Nambung

  1. Gambarnya super ekstra besarnya sampai lama loadingnya🙂
    lombok menyimpan segudang kekayaan alam. pesonanya tetap memancar. jika nanti tambang berdiri, siap-siap deh pencemaran kan terjadi.

  2. Wah kenapa gak kamu shot pake slow speed der, cakep banget tuh kalo dishot pake slow speed… ngiler aku kesana

  3. eh mas itu rumput lautnya unik deket bgt sama pantai, biasanya ditanamnya jauh dari pantai dan pakai streovoam untuk ngambanginnya,
    miris ya byk penambang liar, belom lagi ngerusak lingkungan😦

    • wahhhh saya tidak tau sama sekali tentang metode penanaman rumput laut,,hehe…thank sharenya…ya beginilah mas lambat laut bekas-bekas tambang liar akan menjadi tanah-tanah tandus n marginal

  4. waahhhh keren tu air terjunnya, eehh ombak terjun mngkin… hehehe
    sy baru tw lho ne lokasi, gara2 liat tmen FB yang upload foto, jd pnasaran pengen cari tw..
    jai pngen k sana deh….
    kpn ya..???:/

  5. Sayangnya skrg nambung beach keamanannya dipertanyakan.. udh bbrpk kali perampokan terjadi di sana.. komplotannya malah pke modus ikutan foto2 gt.. rame2 temennya n smua pada bawa parang n benda tajam lainnya.. biarpun ke snanya rame2 ber enam ato lebih ttp ja ga berkutik klo udh ditodong kyk gt.. harta benda lenyap smua..
    Pdhl nambung udh mulai dikenal byk orang.. gimana bisa maju pariwisata lombok klo ga didukung masyarakat setempat n aparat yg berwenang..
    Hmm mirisss…

    • duh saya ngak pernah mendengar berita ataupun desas desus semacam ini dari penduduk lokal maupun para backpacker atau media lokal di sini. saya banyak mendapatkan cerita tentang nambung tapi tidak tentang perampokannya termasuk berita ttg incident yang terjadi di nambung… darimana mbak shanti mendapatkan informasi seperti itu atau menyaksikan sendiri biar tidak misiformasi..

      • Kebetulan kmrn ada tmn buat stts di FB ttg temannya yg kerampokan sewaktu ke sana sama suami dan tmn2nya.. orangnya sndiri jg komen di sana dan ceritain kronologinya.. smua hp dan dompet yg dibawa diambil sama perampok yg bersenjatakan parang.
        Trus ada temen lagi yg komen klo temannya jg kerampokan.. pdhl mereka rame2 ke sana..tp komplotan perampok jg rame2 plus membawa senjata tajam..
        Sudah lapor polisi.. perampoknya warga sekitar sekotong katanya.. semoga bisa segera tertangkap agar tdk meresahkan wisatawan lain.. kasian..mw cari happy malah dapetnya apes gara2 oknum2 ga bertanggungjawab..
        Sy awal Mei kmrn ini ke Nambung..untungnya aman2 saja..mgkin krn sy ke sananya dari pagi smp siang trus suasana jg sedang rame bgt..
        Harap lbh waspada saja buat yg ingin ke sana..

      • wahhhhh terima kasih mbak shanti…sangat berguna informasi bagi saya pribadi dan pembaca blog ini… semoga kita lebih waspada. dapt kabar dari kawan kalau pelaku sedang diproses di pengadilan… semoga masyarakat lokal makin sadar atas potensi wisata daerahnya sehingga ikut menjaga dan mengamankan aminnnn

  6. Pingback: 6 Pantai Cantik di Sekotong, Lombok Barat - Yuk Piknik
  7. Pingback: Krisna Bungalows & Restaurant

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s