Bangsal

Berburu Sunrise dan Sunset di Bangsal, dan pantai Sira

Sang Perahu

Sang Perahu

Saya akan tinggal selama 10 hari di salah satu hotel yang berdekatan dengan pelabuhan bangsal. Nama hotelnya ini : “New Taman Sari”. Hotel ini dimiliki oleh pengusaha asal Australia yang pengelolaannya diserahkan kepada seorang wanita berparas cantik asli Bali. Aku sudah menginap di hotel untuk kedua kalinya. Tahun lalu dan sekarang. Saya menginap di sini dalam rangka tugas di PDAM Lombok Utara yang baru berdiri 15 April 2013 itu.

Saya suka menginap di hotel ini karena dua hal yaitu: Kamar Mandi dan Sarapan. Kamar Mandinya ada di luar kamar dan disamping kamar mandi, ada taman terbukanya. Di ruang belakang ini kita bisa merasakan udara bebas tanpa kita harus ke luar kamar. Pun kita juga bisa duduk santai di taman sambil sesekali melihat burung-burung terbang ke sana ke mari hinggap dari pohon satu ke pohon lain.

Pemancing di Bangsal

Pemancing di Bangsal

Memancing

Memancing

Sarapan yang paling aku suka adalah ini: Omelette dengan Toast Butter Jam. Omelette yang paling aku suka adalah Cheese Tomato Onion dan Omelette yang paling saya benci adalah Cheese Tomato Onion garlic.Restoran masih sepi saat saya sarapan, tapi akan begitu ramai oleh para bule pada saat sarapan menjelang siang yaitu pukul 09.00. “New Taman Sari” selain sebagai tempat menginap dan Restoran juga sebagai Transit. Lokasinya yang tak jauh ke lokasi penyeberangan ke tiga gili membuatnya cukup strategis. Di seberang jalan adalah lokasi parkir umum. Semua penumpang yang akan menyebrang ke berbagai harus diturunkan di sini.

Portal selalu siap sedia menghalang para wisatawan. Dua petugas Dishub penjaganya selalu siap menyemprit para wisatawan yang nakal menerobos palang pintu. “hanya mobil-mobil yang tanpa penumpang dan motor saja yang bisa langsung masuk ke Bangsal. Itupun mereka harus memberitahu kepada petugas dishub” Itu lah aturan yang harus dipatuhi oleh seluruh pengunjung dan wisatawan yang akan menyebrang ke Gil Trawangan dkk. Pengunjung yang turun di terminal bisa berjalan kaki ke bangsal yang berjarak 500 meter itu atau menggunakan cidomo-alat transportasi menggunakan kuda.

Memegang mentari

Memegang mentari

Pagi ini, aktivitas terminal Bangsal sepi dan tenang. Hanya ada dua orang pemilik cidomo yang secara sukarela menyapu dan membakar daun-daun yang berjatuhan. Asap pun mengepul menuju langit. Langit cerah tak berawan. Mentari bersembunyi dari balik kegagahan Rinjani, membungkus embun-embun. Pohon-pohon diselimuti embun-embun pagi berwarna putih tak sempurna, Burung-burung beterbangan hinggap dari satu pohon yang lain. Terbang ke sana ke mari menghibur para penikmat pagi seperti saya.

Pagi yang santai dan tenang, jauh dari hiruk pikuk pelabuhan internasional yang disematkan kepada pelabuhan bangsal karena menjadi tempat bertemuanya warga dari berbagai bangsa dan Negara. Tak ada lalu lalang cidomo, tak ada lalu lintas penumpang. Tak ada wajah-wajah asing berambut pirang. Hanya orang-orang kampung yang hendak pergi ke sawah atau nelayan yang hendak ingin berlayar.

Gili Trawangan, Gili Air dan Gili Meno telah menjadi menjadi primadona tujuan wisata di Lombok. wisatawan berdatangan menjejali tiga pulau kecil itu. Bertambahnya wisatawan yang datang, juga berdampak terhadap kesejahteraan penduduk sekitar pelabuhan yang rumahnya berada di pinggir jalan raya. Perubahannya adalah ini : Rumah Parkir.

Rumah Parkir

Rumah Parkir

parkir

parkir

Pada tahun 2010, saat saya pertama kali saya menginjakkan kaki pertama kali di pulau lombok. saya hanya bisa parkir di halaman rumah penduduk. Tak ada halaman khusus parkir, tak ada tarif khusus berapa biayanya. Saya ibarat menitip mobil untuk diinapkan di rumah penduduk dengan tarif seikhlasnya. Rumah-rumah penduduk pun masih seperti suasana perkampungan dengan halaman yang semrawut. Sekarang, Rumah -rumah penduduk dipermak menjadi rumah kecil dengan halaman yang luas. Semakin luas halaman parkir, maka semakin banyak potensi pendapatan yang akan diraup. Akhirnya, masyarakat pun berlomba-lomba saling adu luas halaman parkir, saling permak halaman parkir. Rumah Parkir berjejer rapi di sepanjang bibir-bibir pelabuhan. Pagi itu, saya berjalan di jalan bangsal yang tenang, melihat pegawai rumah parkir yang menyapu halaman parkirnya.

Pelabuhan bangsal pagi relatif masih kosong. Kosong dari ruwetnya pelabuhan, kosong dari wisatawan yang hendak menyebrang. Perahu-perahu hanya teronggok di pinggir pantai berpasir hitam. Terombang-ambing oleh deburan ombak yang menghempaskannya. Hanya beberapa pemancing yang sibuk dengan alat pancingnya. Berharap ikan-ikan yang sudi memakan umpannya.

Warna merah jingga berpendar menembus rayuan pohon kelapa. Mentari pagi menyinari Gunung Rinjani masih begitu kokohnya. Menyinari lekuk-lekuk keindahan rinjani.

Gagahnya Rinjani

Gagahnya Rinjani

Saat menjelang sore hari, Pelabuhan Bangsal bersolek diri, para penikmat senja berdatangan ingin melihat sang mentari tenggelam di lautan tepat di samping Gili Trawangan. Perahu-perahu nelayan menghalangi sang mentari. Langit memendarkan warna merah jingga yang mempesona. Awan pun ikut memerah.

Bangsal pun ikut beristirahat menikmati sang senja. Hiruk pikuk pun terhenti. Keramaian tergantikan menikmati keheningan. Perahu-perahu yang sedari tadi siang berlalu lalang mengantarkan para pengunjung Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno juga ikut terhenti. Sang Mentari semakin memendarkan warna jingganya meliputi alam. Terlihat, para pemancing ikan masih sibuk menggerak-gerakkan alat pancingnya. Mereka lah yang paling setia dengan pelabuhan ini. status setia tidak bisa saya sematkan kepada petugas pelabuhan ataupun kepada pemilik kapal yang hilir mudik. Status ini pantas saya sematkan kepada para pemancing di pelabuhan bangsal. Sedari tadi mulai mentari terbit hingga mentari hendak tenggelam, mereka tetap betah setia memancing di anjungan pelabuhan bangsal.

Guyuran Cahaya

Lonely

lonely

Guyuran Cahaya at Sira Beach

Salah satu spot sunrise yang patut kita datangi adalah Pantai Sira (dibaca Sire)- Pantai yan terletak di sebelah timur bangsal. Kurang lebih 3 Km dengan jarak tempuh sekitar 15 menit jika ditempuh dari Bangsal. Pantai yang daratannya paling dekat dengan Gili Air ini dijadikan sebagai jalur pemasangan jaringan kabel Listrik dan Pipa PDAM bawah laut. Jaringan kabel Listrik PLN dan Pipa PDAM ini akan digunakan untuk mensupplai kebutuhan listrik dan air di tiga gili.

Berteduh

Berteduh

Sire begitu orang biasanya memanggilnya. Pantai berpasir putih bersih dengan laut berwarna biru. Masih belum banyak penduduk yang tinggal di pinggiran pantai Sira sehingga pantainya masih perawan dan bersih. Lokasi pantai Sire yang dekat dengan wisata tiga gili membuat Pantai Sira juga mulai banyak bersolek. Pantai ini sudah banyak dipenuhi hotel-hotel berbintang dan Villa pribadi yang berdiri di sepanjang pinggir pantai Sira.

suasana alam yang sunyi sambil membayangkan bisa menginap di salah satu Villa di Pantai Sira. apalah daya. hayalan tinggal hayalan. hayalanku terbawa angin pagi ini.  Sayang, Villa dan penginapan di sepanjang Pantai Sira tidak cocok dengan kantong saya yang tipis.

24 thoughts on “Bangsal

    • ini punya masyarkat pak… rumah-rumah penduduk secara sukarela mempermak rumahnya menjadi lahan parkir…tentunya ini juga sebagai tambhan pendapatan bagi penduduk setempat. malah, yang punya pemerintah kalah saing dengan yang masyarakat hehe…yaaa ini bangsal pelabuhan menuju 3 gili

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s