Pagi di Kaumrejo, Ngantang

Sunrise kampung di bawah bukit

Sunrise kampung di bawah bukit

Kampung Kaumrejo, Ngantang

Kampung Kaumrejo, Ngantang

Pagi itu, kesunyian dan keheningan melingkupi Dukuh Gading, kampung yang berbatasan langsung dengan Bendungan Selorejo. Suara adzan subuh berkumandang memecah keheningan malam di satu-satunya mushalla kampung ini. terdengar suara kakek-kakek yang terseok-terseok-disebabkan giginya yang sudah tanggal-melantunkan adzan panggilan shalat. Beberapa warga berjalan menuju sumber suara. Di Mushalla kampung ini, sebagian besar jamaahnya adalah para laki-laki dan perempuan yang sudah cukup lanjut usia, yang kepada mereka lebih tepat dipanggil dengan sebutan “Kakek/nenek”.

Suasana Kampung terasa dingin, dan pada bulan Juli kampung ini terasa lebih dingin. Dingin yang membuat malas sekedar untuk bangun apalagi menunaikan kewajiban shalat subuh. Dingin ini membuat badan menggigil. Dingin membuat semua orang malas untuk mandi pagi. Akh lebih baik menarik selimut lagi daripada harus mandi pagi. Tapi, ini tidak berlaku Kakek dan Nenekku. Aku sering memanggilnya sebutan mbah Kung dan Mba Uti. Kakek Nenekku membiasakan mandi sehabis bangun tidur. Tujuan adalah: untuk menghilangkan rasa dingin itu sendiri. Aku sering mencontohnya, tapi sering juga gagal. Gagal melawan rasa dingin saat air pegunungan itu menjalar mengaliri bagian tubuh saya. Hrrrrrrrrr…. Akh mungkin kalau sudah terbiasa pasti rasa dingin tak akan mampir lagi.

Lembayung warna

Keheningan

Setelah saya bertemu beberapa orang termasuk istri saya sendiri. Dia bilang kepada saya bahwa dia alergi dingin. Saya sampai sekarang belum bisa memahami orang-orang yang terlahir dan tumbuh besar di pegunungan bisa terkena penyakit alergi dingin. Gejalanya: Panas,Pilek dan dll. Dingin kadang memang menimbulkan keanehan. Keanehan bagi orang-orang gunung yang sekarang menjadi alergi dingin.

Kampung ini berada di lembah-begitu saya menyebutnya. Kampung ini dikelilingi bukit-bukit dan pegunungan. Barat-Timurnya adalah bukit, selatan utaranya adalah bukit bersambung Gunung Kelud yang letusannya paling tersohor itu. Di bawah bukit sebelah barat dan selatan ada Waduk Selorejo yang sering jadi tempat memancing dan camping.di Malam 28 Puasa Ramadhan ini, saya menginap di rumah mertua yang jaraknya beberapa langkah saja dari Mushalla Kampung. Selama 4 hari saya akan tinggal di kampung ini, melihat aktivitas warga kampung yang berprofesi sebagai pemerah susu ini.

IMG_8026

berteduh

berteduh

Langit pagi semakin cerah, Warna Senja bersembunyi di balik bukit. Aktivitas warga kampung ini sudah dimulai. Sebagian ada yang memerah susu, sebagian ada yang hendak pergi ke sawah di seberang waduk, sebagian lagi memancing.

Aku berjalan menyusuri jalan kampung menuju ke bibir waduk. Angin segar berhembus, sesekali aroma kotoran sapi perah yang baru keluar bercampur dengan hembusan angin lalu… itu suatu yang alami, hanya di kampung ini bisa melihat sapi perah. Jujur, baru di kampung inilah saya bisa bertemu dengan sapi perah. Selama ini saya hanya membayangkan sapi perah seperti di buku-buku SD.

Aku selalu punya kesempatan dan menyempatkan diri untuk sekedar bersantai ria di bibir waduk kalau mudik ke kampung istri. Ntah gimana, aku selalu tertarik main-main di sini. Teduh di bawah rindangnya pepohonan memandangi gagahnya gunung kelud yang sedang tidur. Di sini saya duduk santai melihat refleksi orang-orang yang lalu lintas. Yang paling membuat kesal adalah perahu motor. Saat perahu motor melintas, waduk seketika berubah. Air yang tenang menjadi kawanan ombak yang menggulung pelan menuju ke tepian.

Kampung Gading di waktu pagi

Kampung Gading, Kaumrejo di waktu pagi

Hal yang paling saya suka adalah melihat burung-burung bangau putih terbang ke sana kemari mencari ikan. paruhnya yang panjang sangat cocok untuk mencari ikan-ikan kecil yang berada di bawah air yang tenang. Burung bangau memiliki insting yang kuat sehingga bisa melihat aktivitas di bawah air. Lain bangau, lain lagi dengan si burung walet. Komunitas burung ini merupakan yang terbanyak yang sering terbang di atas waduk. Tubuhnya yang kecil membuatnya lincah dan suka bergerak. Barangkali burung walet ini lah yang paling suka terbang. Tiba-tiba dia terbang bersama para petani yang membawa hasil pertanian atau bersama para pemancing. Saat dia melihat mangsa di bawah air, seketika itu juga dia langsung mematuk untuk kemudian terbang lagi dan terbang trus.

Aktivitas pagi di waduk selorejo begitu banyak dan beragam. Banyak orang yang melintas hanya sekedar untuk sekedar melintas. ada yang mengayuh perahu kecil untuk menyeberang ke sawah miliknya di Selatan waduk. Ada yang membawa rumput, ada yang membawa jaring. Jika saat musim durian, banyak para petani yang membawa durian. Bertumpuk-tumpuk di perahu kecil yang cukup untuk satu dua orang itu. Kecamatan Ngantang memang terkenal dengan hasil duriannya. Saat musim durian datang, banyak yang datang ke Ngantang hanya sekedar untuk berburu durian.

Pelintas

Pelintas bersama burung waduk

Pelintas

Pelintas

Hari itu, termasuk dalam pelintas waduk Selorejo adalah seekor anjing yang dibawa oleh majikannya. Anjingnya berada di ujung perahu. Majikan yang mungkin profesinya tidak jauh beda dengan pelintas yang lain yaitu Penjaring Ikan. Antara Majikan dan Anjing ada sebuah jaring-jaring ikan.

Kabut pagi menjalar lembah Ngantang. Waduk-waduk pun berkabut, air waduk seperti mengeluarkan asap putih. Nafasku pun ikut berkabut. Mentari pagi masih berada di balik bukit, mengeluarkan warna merah senja yang semakin memperjelas lekuk-lekuk bukit yang mengelilingi Ngantang. Suara shalawatan keluar dari salah satu masjid Agung Baiturrahman Ngantang. Memecah kesunyian dan keheningan kampung. Kampung terasa lebih hidup

Shalaatullah, Shalamullah Alaa Tooha Rasulillah. Shalaatullah, Shalamullah.

Koperasi

Koperasi

Sapi Perah

Sapi Perah

Shalawat pagi itu menemani aktivitas di Desa Kaumrejo dan Desa Sumber Agung. Dua Desa termaju dan saling bersebelahan di kecamatan Ngantang. Shalawat itu juga memberkati salah satu rumah yang cukup sibuk. Sepagi ini, di salah satu “rumah” sudah penuh dengan orang-orang kampung yang mengantarkan susu. Susu segar yang diperah langsung oleh para peternak akan disetor ke penampungan susu. “rumah” itu adalah KUD Sumber Makmur yang berada di dusun Gading, Desa Kaumrejo. Rumah ini sebagai tempat penampungan susu sebelum dikirimkan ke Pabrik Nestle. KUD ini mendapatkan pelatihan dan pembinaan dari Nestle, Indonesia. Motto KUD ini adalah Air Susu Asli, Bersih, dan Cepat.

Asli berarti susu tidak ditambah apapun artinya susu yang akan disetorkan harus yang asli keluar dari susu sapi, Susu juga harus bersih baik Pemerah, Sapi, Kandang, dan Peralatan, dan yang ketiga adalah Cepat, susu yang sudah diperah harus langsung ditampung di bak penampungan berpendingin.

Nelayan dan seekor anjing

Sang Tuan dan seekor anjing

Dalam Bayang-bayang

Dalam Bayang-bayang

Untuk menjaga kualitas susu, KUD bersama Nestle sudah melakukan sosialisasi dengan cara menempelkan selebaran di tembok-tembok KUD antara lain: bagaimana mencuci milk can, sumber pencemaran bakteri dalam susu. selain itu, untuk membantu warga dan meningkatkan produksi susu, Nestle memberikan subsidi pemasangan tempat minum otomatis untuk para sapi.

Menyebar Jala

Menyebar Jala

Shalawat-shalawat nabi masih melantun shahdu di desa yang tenang. Masjid ini memang sering memperdengarkan shalawat kepada warganya di saat warga hendak melaksanakan aktivitas pagi. Tapi, perasaanku ada sesuatu yang lain. Shalawat seakan menandakan bahwa besok pagi akan datang idul fitri yang sangat dinanti oleh penduduk kampung. Warga sangat berharap penentuan 1 syawal itu.

Berharap tidak ada politisasi penentuan syawal 1 atau 2 diatas derajat.

 

 

16 thoughts on “Pagi di Kaumrejo, Ngantang

  1. Kakak … Maaf lahir batin, aku perna ke desa itu diajak nenek waktu zaman jadul. Ternyata dah rame banget, dan aku suka foto nya cuman aku tidak suka ada tower2 itu sangat menganggu keindahan hahaha

    • Aduh maaf lahir batin juga bang cumi.. Yaaa aku suasana pedesaannya… Tiang tiang tuh untuk menghalau eceng gondok bang cumi… Tahun lalu eceng gondokny hampir memenuhi waduk sehingga menghalangi aktivitas warga yg mau mancing ataupun ke sawah.. Sehingga jasa tirta mengakali dengan mengikatkan tali tali pada tiang tiang tersebut.

  2. suasananya tenang banget🙂 eh, itu yang ada di ujung danau, yang keliatan seperti bukit apa gunung kelud ya? Aku terakhir main ke ngantang ketika masih mahasiswa, dulu pernah ikut acara kemah kerja mahasiswa didekat sana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s