Ziarah Makam Loang Baloq

 

Ziarah

Ziarah

Pada saat lebaran ketupat, Sasak, suku asli lombok punya ziarah akbar. Makam-makam yang seram akan nampak begitu cerah. pusat-pusat ziarah bersolek diri. Makam-makam dihias laksana dua mempelai pengantin yang akan melangsungkan pernikahan. janur-janur kuning dipasang di jalan komplek makam.

orang-orang akan berduyun-duyun menuju pusat ziarah. puncaknya pada saat matahari sudah lengser dari waktu dhuha. suasana makam tumpah ruah lautan manusia yang hendak berziarah. suasana makam persis seperti arena antrian sembako. para peziarah berbaris menunggu antrian.

dari para peziarah itu banyak juga anak-anak yang belum tahu makna ziarah itu sendiri. bocah-bocah ingusan yang tak bisa jalan juga akan digendongnya demi sebuah ziarah. Ziarah di Lombok sudah menjadi salah satu ritual keagamaan yang menurut sebagian orang adalah perbuatan syirik. tapi itu lah budaya yang masih digandrungi oleh hampir sebagian masyarakat muslim Lombok.

ini bukanlah masalah akidah, ini adalah budaya, begitu kata sebagian orang.

saat lebaran telah usai, tujuh hari berikutnya adalah ziarah. hari ini juga bertepatan dengan hari raya lebaran ketupat yang tak kalah meriah. kalau saya boleh mengistilahkan Hari Raya Ketupat adalah puncak dari segala perayaan itu sendiri. setiap jiwa akan berbondong-bondong menuju pusat ziarah. ziarah ini bisa dilakukan secara sendiri atau satu keluarga atau se kampung.

ziarah adalah kepuasan batin. Yang jauh terasa dekat. ada rasa kepuasan tersendiri saat sudah berziarah. sebaliknya, bagi yang belum ziarah akan merasakan suatu kebimbangan. itulah kepuasan batin. tak jarang untuk memuaskan rasa kepuasan batin itu perlu usaha lebih. yang tak punya alat angkut, akan berjalan menyusuri jalan. yang jauh bisa rombongan untuk patungan bayar sewa alat angkut atau sekedar untuk urunan bayar bensin.

pusat-pusat ziarah yang paling banyak dikunjungi adalah makam-makam orang sholeh yang dianggap keramat. salah satu yang keramat itu adalah Makam Loang Baloq.

Makam Loang Baloq terletak di pesisir pantai, Mataram. Makam Loang Baloq terletak di jalur lingkar selatan, yaitu lingkar luar lombok di selatan. Jalur lingkar selatan ini merupakan salah satu jalur utama lombok yang menghubungkan Bandara dengan kuta tua Ampenan dan kawasan wisata Senggigi. Dulunya jalur lingkar selatan adalah jalanan kecil yang dijadikan jalur dua arah. Kawasan rawa-rawa marginal mulai menggeliat. Sepanjang jalur-jalur lingkar selatan banyak muncul kawasan-kawasan pertokoan, perumahan, dan kantor-kantor pemerintahan. Tepat di depan Makam Loang Baloq dibangun Taman Loang Baloq lengkap dengan taman air berbentuk pulau lombok.

Pulang ziarah

Pulang ziarah

Kawasan Loang Baloq adalah kawasan rawa-rawa yang langsung berbatasan dengan selat lombok. Dari pantai Loang Baloq kita bisa menyaksikan Gunung Agung, Bali. Di Makam Loang Baloq terdiri dari 3 makam utama yang sering dikunjungi yaitu Makam Maulana Syech Gaus Abdurrazak, Makam Datuk Laut, dan yang terakhir adalah makam seorang anak yatim piatu. Tiga makam inilah yang menjadi pusat perziarahan. Setiap minggu dan setiap tahun orang-orang berziarah hingga membludak hingga hari ini.

Suasana Ziarah

Suasana Ziarah

Tahun 1744, Kerajaan Islam Selaparang berhasil ditaklukkan oleh gabungan pasukan Kerajaan Karangasem dari Bali dan Arya Banjar Getas yang merupakan keluarga kerajaan yang berkhianat terhadap Kerajaan Selaparang. Kekuasaan berpindah dari islam menjadi hindu. Tanah-tanah yang dikuasai kerajaan selaparang lantas menjadi milik kerajaan Karangasem. Pemukiman-pemukiman hindu banyak dibangun berdampingan dengan kampung muslim. 150 tahun kerajaan Karangasem menguasai Lombok sebelum akhirnya dikalahkan oleh Hindia Belanda. Akulturasi budaya antara umat islam lombok dengan budaya hindu bali pun terjadi. Budaya dan kesenian bercampur dengan kebudayaan islam.

Budaya Islam hindu, budaya lombok bali bercampur menjadi budaya lombok yanh ada saat ini. Pohon Ficus Benjamina/beringin sangat akrab dengan kebudayaan Indonesia. Akrab dengan kebudayaan Hindu Budha. Ficus Benjamina sekilas mirip dengan pohon Bodhi, pohon suci agama Budha. Ficus Benjamina memiliki pohon yang besar dan rimbun. Akarnya sering tumbuh di batang-batang pohon yang menjuntai ke tanah. Orang sering menganggap pohon ini memiliki kekuatan magis dan suci. Tak jarang, di setiap pura-pura hindu, pohon beringin sering ditanam di halaman pura. Itulah pohon suci yang terlihat seperti menyeramkan.

Untaian akar Beringin di pusat ziarah

Untaian akar Beringin di pusat ziarah

Akulturasi kebudayaan hindu dan kebudayaan muslim juga ada di Makam Loang Baloq. Sebuah pohon Ficus Menjamina yang tumbuh lebat di tengah-tengah komplek Pemakaman. Batangnya dikelilingi akar. Akar-akar pohon sering jadi tempat/alat perjanjian suci dengan cara diikatkan satu akar dengan akar yang lain. orang-orang yang memiliki keinginan/cita-cita seperti minta rejeki, enteng jodoh, biasanya mengutarakan niatnya dibawah pohon ini kemudian mengikatkan akar beringin ini dengan akar beringin yang lain atau mengikat akar Ficus menjamina dengan alat pengikat janji setia lainnya seperti plastik atau talia rafia. Tali temali baru akan dilepas, jika keinginannya tercapai. Semakin banyak orang-orang yang keinginannya belum tercapai, semakin banyak pula akar pohon beringin yang berbunga plastik/rafia. Banyaknya ikatan-ikatan di akar pohon beringin tergantung juga bergantung pada momen tertentu seperti musim kawin dan pergantian ajaran baru, penerimaan PNS.

Pada moment-moment tersebut ikatan di akar beringin semakin banyak seiring dengan musimnya. Di tengah-tengah pohon beringin ini, ada sebuah makam Syech Maulana Syech Gaus Abdurrazak yang berada tepat di tengah pohon beringin. Makam-makamnya dikelilingi akar-akar pohon beringin sehingga makam ini terlihat menyatu dengan pohon beringin. Alkisah, pada tahun 1866, seorang ulama besar bernama Maulana Syech Gaus Abdurrazak yang berasal dari dari jazirah arab datang ke Palembang.

Dari Palembang, ulama besar itu melanjutkan perjalanan dan mendarat dipesisir pantai ampenan, kota mataram. Beliau kemudian menyampaikan ajaran-ajaran islam hingga ke pelosok-pelosok desa. Kehidupan dan ajaran dari sang syech menjadi panutan. Siang itu, panas begitu teriknya. Angin berhembus sedang. Suasana makam Loang Baloq begitu ramainya. Jalan-jalan menuju dihiasi oleh rumbai-rumbai pohon janur kuning laksana orang-orang yang hendak melakukan hajatan pernikahan. Orang-orang berjubelan memenuhi areal makam Loang Baloq. salah satu pusat ziarah keramat penuh lautan manusia. untuk memasuki areal dan menuju kita harus rela antri. Saat aku memasuki memasuki areal pemakaman.

antri

antri

Dalam koridor itu, semua untuk tujuan yang sama yaitu 3 makam keramat yang dipuja-puja. Di beberapa sudut makam, terlihat orang-orang yang sudah berziarah membuka bekal makanan yang dibawa dari rumah. Sebuah makam Syech Datuk Laut yang terpisah dari makam yang lain. saya meliriknya. Terlihat daun pisang, bekas-bekas botol minuman, dan sebuah teko pengisi air berserakan di atas makam. Di depan saya, sudah banyak orang-orang yang berkerumun di bawah naungan beringin yang rindang. Auranya penuh sesak, aksi desak-desakkan pun sering terjadi. Saling sikut pun sudah biasa. Anak-anak kecil sering terhimpit dalam dekapan ibuknya. Semuanya demi sebuah “ziarah”.

Seorang pemuda remaja bersama pacarnya datang jauh dari lombok tengah. Mereka sudah sering datang setiap tahun mulai sejak masih kecil hingga masa remajanya yang sekarang. Dulu, Ia datang bersama ibunya. Sekarang, dia datang bersama pacarnya dengan balutan kerudung berwarna biru. Banyak peziarah-peziarah lain yang seperti pemuda tersebut. Mereka datang dari jauh, dari ujung timur hingga ujung barat lombok, dari utara hingga selatan lombok, bahkan tak jarang, peziarah juga datang dari pelintas pulau seberang seperti sumbawa. Inilah pusat ziarah itu. Setiap jiwa akan merasa tenang ketika mengunjungi makam-makam keramat seperti makam Loang Baloq.

Makam Datuk Laut

Makam Datuk Laut

Areal makam yang luas seakan terasa sempit. Semakin dekat dengan pusat ziarah, semakin mengerucut. Lautan manusia memenuhi pusaran makam. Semakin berebut pula orang-orang yang ingin memasuki makam. Anak-anak kecil yang terhimpit terpaksa dipisah sementara dengan ibuknya. Tepat di pintu masuk menuju ruang sang Syech, dua penjaga selalu berjaga-jaga untuk menertibkan para peziarah. Pekikan-pekikan terikan sang penjaga memekakkan telinga.

“Sabar bu, jangan dorong-dorong !”, Bapak, jangan dorong-dorong pak”, pekikan dari salah satu penjaga saat penjaga merasakan daya dorong di tubuhnya.

“Lepaskan anaknya, biarkan anaknya ibu masuk duluan.”

Sang anak pun terlepas dari ibuknya. Menunggu sang ibu yang masih tertahan oleh kuatnya penjagaan para penjaga. Jalan dengan lebar 1 meter dengan tinggi setinggi orang dewasa ini terasa sempit. Penjaga selalu siap siaga. Umurnya sekitar 25an. Tangannya menjadi palang pintu. Dua penjaga mengatur lalu lintas para peziarah agar area makam cukup menampung. Tak berdesak-desakan. Sehingga sang peziarah pun bisa khusuk berdoa. Setelah mengantri kurang lebih 30 menit, saya bisa memasuki lorong makam Syech Gauz yang dinding-dindingnya diselimutkan kain putih bersih.

Tiap-tiap peziarah memegang airnya sendiri-sendiri. Air itu diambil dari mushalla yang terletak tak jauh dari makam syech Gauz. Peziarah-peziarah langsung mengelilingi makam syech yang masih kosong. Ada perasaan yang lain yang datang pada diri saya. Aku telah berada di pusaran para peziarah. Makam salah satu Syech penyebar agama islam lombok. Makam yang berbau mistis dikelilingi oleh akar-akar pohon beringin yang menjuntai laksana rumah yang ada di tengah-tengah hutan belantara. Sebuah makam keramat yang tersohor di seluruh lombok. makam yang keramat yang berlantai tegel itu becek terkena cipratan air yang disiram ke pusara makam. Semua peziarah dari anak hingga dewasa sibuk dengan ziarahannya.

Air-air kembang tujuh rupa itu dituangkan pada pusara makam, lalu diusapkannya pada batu nisan berkain putih yang berlumuran sisa kembang tujuh rupa. Sisanya diusapkan pada sekujur tubuh, dari kepala hingga kaki, perut, leher, dan paha dengan mulut yang terus berkomat kamit. Setiap ziarah akan begitu detail agar tubuhnya terlumuri air “suci” kembang tujuh rupa yang diberkati. Mulutnya terus saling berkomat-komat melafalkan ayat-ayat alquran yang dibarengi wiritan doa.

suasana ziarah di makam Syech Gauz

suasana ziarah di makam Syech Gauz

IMG_8351 Suasana nampak hening. Ruangan makam dipenuhi aroma kembang tujuh rupa. Setiap peziarah sibuk dengan dirinya sendiri. Gerakannya bergantian dan cenderung monoton. Menyiramkan air, mengusap nisan, mengusap sekujur tubuh dengan mulut tak henti berkomat kamit. Semua begitu seterusnya. Sama tak terperi. Jika bersama anak-anaknya, air berkat tujuh rupa akan diusapkan ubun-ubun. Saya pun tak lupa untuk berziarah dengan caraku sendiri dan keyakinanku sendiri. Saya memilih berdiri di pojok makam agar saya tidak terlalu mencolok di antara peziarah lain. saya tak membawa kembang tujuh rupa ataupun air sebagaimana peziarah pada umumnya. Sesekali saya ikut memegang batu nisan, mencium bunganya sekaligus berpamitan kepada Sang Syech yang telah menyebarkan ajaran islam di Bumi Gora Selaparang. Banyak cara orang untuk melakukan ziarah dengan budayanya masing-masing.

Di jawa, ziarah pun hampir mirip-mirip. Di pusat-pusat ziarah selalu dipenuhi oleh air. Air yang menurut sebagian orang adalah keramat. Sehingga tak jarang, saat berziarah juga membawa air untuk dibawa pulang. sejak Lombok ditaklukkan kerajaan Karangasem, Bali dalam kurun waktu satu setengah abad lebih. Perpaduan Kebudayaan Islam dan hindu. Kampung Muslim hidup berdampingan dengan kampung Hindu. Jejak-jejak percampuran dua kebudayaan itu masih ada hingga sekarang. Islam Watu Telu dan Kemaliq Lingsar adalah bagian dari percampuran budaya itu. Pura Lingsar (Hindu) dan Kemaliq Lingsar (Muslim).

diupload dari kamar 209, Hotel Puri Saron, Senggigi

29 thoughts on “Ziarah Makam Loang Baloq

  1. Kalau saya tidak salah ingat, air itu kan elemen suci dalam umat Hindu dan karena kebudayaan kita itu mendapat pengaruh dari budaya Hindu makanya penggunaan air dalam berziarah umum dijumpai. Kalau melihat dari foto-fotonya, saya bisa membayangkan bagaimana padatnya tempat ini. Mungkin lebih padat dari pasar,😀. Saya tidak bisa membayangkan gimana caranya saya bisa berdoa dengan khusyuk di tempat macam itu. Apalagi makamnya terkesan kotor oleh daun pisang, ceret, botol plastik dan ditambah kondisi sekitar makam yang dirimu bilang becek oleh air cipratan.

    Mungkin kalau para Syekh itu bisa bangkit dari makamnya, mereka bakal marah-marah ke peziarah, menyuruh mereka tertib, dan tidak mengotori “rumah masa depan” mereka. Hahaha.

    Saya penasaran juga. Ini tempat kapan sepinya ya?

    • yaaaa bener kawan airrr di seluruh agama menjadi suatu yang suci. termasuk di ummat islam diharuskan bersuci dulu sebelum menghadap kepada sang Pencipta. Bahkan, air zam zam yang ada di mekkah sana sangat digandrungi umat islam dunia.

      Makam Loang Baloq akan selalu ramai-ramai setiap akhir pekan. lebih-lebih ziarah yang bertepatan dengan hari raya ketupat. makam akan sepi dengan sendirinya saat hari-hari biasa.

      kotoran-kotoran seperti bekas-bekas daun pisang, botol minuman dan ceret semua dalam rangka petirtaan/penyucian. wadah-wadah daun pisang dll hanya alat untuk mengangkut air yang disiramkan pada pusara makam sang syech…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s