Senggigi dan Seekor Anak Anjing

Pagi yang tenang di Senggigi

Pagi yang tenang di Senggigi

 

Dulu, kawasan wisata Senggigi adalah kawasan hutan belantara yang kering dan tak cocok untuk pertanian. sepanjang jalan hanya bisa ditanam tanaman yang tak banyak membutuhkan air seperti pohon kelapa. Tak Ayal, sepanjang jalur mulai dari Mataram hingga Pemenang hanya tanaman pohon kelapa yang tumbuh subur menjamur. Menjamurnya pohon kelapa di pesisir pantai sepanjang jalur Senggigi, Lombok Barat hingga Pemenang Lombok Utara mengakibatkan pantai-pantai ini dikenal dengan sebutan “Coconut Beach”.

Pesisir pantai sepanjang jalur Senggigi adalah perpaduan dua panorama alam. Perbukitan dan Pantai. Di tengah-tengah adalah jalan satu jalur. Jalan ini satu-satunya yang memisahkan Pantai dan Bukit.

Pada tahun 1980an, Kawasan Sengigi diperkenalkan sebagai Kawasan Wisata. Konsep-konsep wisata bermunculan. Tanah-tanah pesisir pantai dan perbukitan banyak diperjualbelikan. Kepemilikan berpindah dari penduduk kepada para pemilik modal dengan harga wajar saat itu.

Kawasan Pantai Kuta, Bali menjadi rujukan dalam pengembangan kawasan wisata bali. Sayang, kawasan Kuta Square tidak cocok untuk diimplementasikan di Senggigi Lombok. Kawasan Kuta merupakan kawasan pantai dan tak berbukit sehingga cocok pengembangan Kawasan Square. Kawasan Lombok memiliki kekhasan tersendiri. Bukit dan Pantai.

Sejak dipernalkan sebagai Kawasan Wisata. Penginapan-penginapan pun bermunculan sepanjang pantai. Di sisi Pantai, penginapan kelas kere seperti Homestay hingga Hotel berbintang seperti Aston dan Sheraton tumbuh subur. Kawasan pantai menawarkan pantai berpasir putih, Laut biru, terumbu karang yang memanjakan mata. Di waktu sore, Kawasan Sengigi menawarkan panorama matahari tenggelam. Di Lombok, Kawasan Wisata Senggigi adalah salah satu spot tercantik melihat matahari tenggelam dengan latar belakang Gunung Agung, Bali.

Pagi yang tenang

Pagi yang tenang

Di sisi Bukit, juga menawarkan panorama yang tak kalah menarik. Kita bisa menyaksikan panorama pantai berpasir putih dengan langit biru. Penginapan-penginapan dengan nuansa Villa menjadi salah satu daya tariknya. Dari Puncak bukit, kita bisa menyaksikan mentari tenggelam dengan semburat warna senja dengan barisan pohon kelapa sebagai foreground, Gunung Agung sebagai background.

Keindahan barisan pohon kelapa di pesisir terasa kontras dengan tumpukan sampah. Kawasan tanah lapang yang ditanami pohon kelapa sering menjadi tempat buangan sampah masyarakat. Sekarang, kawasan sampah sudah berganti menjadi tumpukan penginapan menjejali kawasan wisata Senggigi. Lambat laun Tumpukan sampah tergeserkan dengan villa dan penginapan. Kampung-kampung nelayan yang terkesan kumuh mulai terlihat cantik.

Kawasan Wisata tumbuh, ekonomi tumbuh subur. Masyarakat kawasan Senggigi kebanyakan berprofesi sebagai nelayan dan petani berubah menjadi pelayan-pelayan. Para pemuda dan pemudi Senggigi mulai tertarik untuk bekerja jadi pekerja-pekerja di hotel-hotel dan villa.

Di kawasan wisata Senggigi mulai bermunculan Café-café dan Klun Malam. Glamour dan hedon menjadi iconnya. Kehidupan malam menjadi primadona. Budaya-budaya lombok berpadu dengan kebudayan barat. Para Bule sering memenuhi kawasan wisata ini. Kawasan Senggigi mirip dengan kawasan di Legian, Bali. Suasana malam terasa hidup dan semarak. Café dan Klub malam yang menjadi icon. Happy Café dan Marina Cafe menjadi primadonanya.

Pantai Senggigi di Sore hari

Pantai Senggigi di Sore hari

Senggigi yang berada di kabupaten Lombok Barat telah menjadi salah icon wisata di Lombok hingga saat ini.

Langit sudah gelap, saat melewati gemerlapnya senggigi. Dentuman musik cadas menggelegar memecah heningnya malam bersamaan dengan anggukan kepala para pengunjungnya. Lampu-lampu Café menyala kerlap kerlip seperti lampu yang kurang tegangan. Terlihat para pengunjung dimabukkan alunan musik dengan segelas wine. Tangan-tangan diacungkan dengan sebotol bir. Saya berlalu meninggalkan riuh gemerlapnya kawasan Senggigi.

saya tiba di Puri Saron Hotel di kawasan wisata Senggigi menjelang pukul 21.30 Wita. Lokasinya berada di pantai Krandangan. Tepatnya berada di antara dua pantai, Senggigi Beach dan Krandangan Beach. Di Hotel ini aku akan menginap selama 5 hari untuk mengikutin Pendidikan dan pelatihan. Saya mendapatkan kamar 209 yang satu bangunan dengan gedung utama. Kamar yang cukup strategis dan langsung menghadap ke taman hotel dengan tumbuhan pohon kelapa yang berjajar. Kamar-kamarnya berbentuk sistem cluster sehingga setiap kamar akan langsung menghadap ke taman hotel.

Saya suka dengan hotel-hotel di kawasan wisata Senggigi yang berbentuk cluster dengan taman-taman hijau dan pohon kelapa. Pantai-pantai berpasir putih dan barisan perbukitan selalu memanjakan mata. kawasan wisata Senggigi menjadi primadona wisata lombok dengan fasilitas fasilitas yang cukup memadai.

memasuki malam at sheraton Senggigi

memasuki malam at sheraton Senggigi

Saya tidur terlelap di kamar 209 ini dengan gemerlapnya cahaya lampu taman 10 Watt.

Pagi itu, Hawa dingin menusuk tubuhku saat berjalan di taman hotel. Lampu-lampu taman yang berjejer. Terlihat semburat cahaya merah berada di balik barisan perbukitan desa Senggigi. Suasana desa senggigi pagi ini begitu tenang setelah tadi malam penuh hingar bingar suasana pesta. Angin dingin berhembus saat motor ku laju dengan kecepatan 40 km/jam untuk melawan rasa dingin.

Krandangan Beach bersebelahan dengan Hotel Puri Saron. Krandangan Beach dengan Puri Saron hanya dipisahkan oleh sungai-sungai yang berlumut. Sebetulnya aku bisa menyusuri pantai hingga tembus ke Krandangan Beach. Namun ntah kenapa saya ingin aja bersepeda menembus hawa sejuk desa Senggigi.

Pintu itu masih setengah terbuka saat saya memasuki kawasan ini. sepagi ini petugas penjaga pantai pun tak ada. Memasuki kawasan coconut beach “Krandangan”. Krandangan Beach ada dua pantai yang terpisahkan oleh pembatas buatan manusia. Pantai Krandangan berada di dusun Krandangan. Di sisi barat berbatasan pantai Klui-Mangsit. Di sisi timur berbatasan dengan pantai Senggigi.

Sungai Lumut dan barisan pohon kelapa

Sungai Lumut dan barisan pohon kelapa

Kawasan Pantai di sepanjang jalan Senggigi dibatasi kawasan perbukitan dan daratan yang menjorok ke laut. Tak ayal, kita sering melihat indahnya barisan pantai indah saat kita melintasi sepanjang jalur Senggigi, Lombok Barat hingga Pemenang Lombok Utara.

Pantai krandangan hanya barisan kelapa yang berjajar. Di pesisir pantainya, gubuk-gubuk penjual ikan segar dan kelapa muda berbaris rapi. Gubuk-gubuk itu berjumlah belasan. Gubuknya terbuat dari pelepah dahan pohon kelapa. Dalam satu gubuk biasanya dibuat sekat-sekat untuk para pengunjung yang beristirahat untuk menikmati segarnya suguhan kepala muda dan ikan bakar. Dari Lokasi Pantai Krandangan kita bisa menyaksikan pesona temaram senja yang membilas-bilas barisan pohon kelapa.

Seekor Anjing mengikuti saya saat saya menyusuri kawasan pantai Krandangan. Motor saya melaju dengan pelan. Dan seekor anjing mengikuti motor saya. Ku toleh ke belakang, anjing masih tetap mengikuti motorku. Ku lambatkan laju motorku sambil menunggu anjing yang berlari mengikuti motor saya. Saya berjalan ke sisi kiri pantai yang langsung berbatasan sungai lumut. Anjing berdiri di samping saya. Di seberang sungai lumut, Hotel Puri Saron menyambut pagi dengan keheningan.

Kelapa di dalam sungai lumut

Kelapa di dalam sungai lumut

Sepagi ini angin berhembus kencang menyapa barisan kelapa yang berbaris rapi. Sepagi ini juga penguasa pantai ini hanya lah saya dan seekor anak anjing yang menemani saya. Pantai ini masih kosong, kosong dari segala aktivitas. Pagi ini penuh ketenangan dengan hembusan angin dan seekor anak anjing.

Anjing itu selalu mengikuti ku. Aku berjalan ke manapun dia selalu ikut mengejar. Aku berhenti pun, anjing itu pun ikut berhenti. Sesekali hidungnya mengendus tanah mencari bekas-bekas makanan yang tersisa. Anak Anjing itu berhenti mengikutiku saat keluar dari pantai Krandangan.

Di Pantai Krandangan banyak anjing yang berkeliaran. Namun, pagi ini aku hanya ditemani seekor anjing. Mungkinkah anjing-anjing yang lain bersama tuannya. Lalu, apakah anjing ini tak bertuan.

Memacning di sungai lumut

Memacning di sungai lumut

Aku diikuti seekor anjing ini saat memasuki kawasan pantai Krandangan. Mungkinkah itu Anjing Penjaga Pantai Krandangan?

Saya teringat seekor anjing yang ku beri nama “JOY”. Seekor anjing yang ku pelihara di Komplek Kelimutu di Kupang beberapa tahun lalu. Dulunya, Joy dipelihara oleh sang Tuan yang meninggalkannya karena dimutasi ke wilayah Kalimantan. Saya menggantikan rumahnya sekaligus anjingnya. Jujur, ada perasaan risih saat pertama kali saya memelihara anjing ini. Selama ini saya memang takut terhadap anjing. Saya seorang muslim. Bagaimana hukumnya seorang muslim yang menjaga anjing di rumahnya. Bukan kah malaikat tidak akan masuk ke suatu rumah yang di rumahnya ada anjing?. Perasaan itu berkecamuk dalam diri saya. Antara menjaga anjing yang ditinggal tuan ataukah membiarkannya mati kelaparan.

Di Komplek Kelimutu, kami memiliki seorang pembantu. Bu Valens namanya. Bu Valens seorang Katolik yang taat. Setiap minggu pagi, dia selalu datang ke Katedral yang lokasinya tak jauh dari komplek. Dia juga pembantu komplek kelimutu tertua sekaligus yang paling disegani diantara pembantu yang lain. Bu Valens bisa mengurus beberapa rumah sekaligus. Wajah tuanya tak menghilangkan kegesitan kerjanya. Bu Valens suka bergaul dengan para penghuni komplek yang lain. saya suka Bu Valens karena kesupelannya. Suka bergaul dan menyapa.

Suatu saat dia menanyakan anjing yang sering berada di depan rumah saya. Sepertinya Bu Valens tau keresahanku tentang seekor anjing yang bernama “Joy”. Seeorang muslim yang seharusnya tak memelihara anjing di dalam rumahnya. “Ntar, saya akan suruh orang untuk bawa anjing ini, kata bu Valens.

Senggigi identik dengan Pantai dan perbukitan

Senggigi identik dengan Pantai dan perbukitan

Bukankah Anjing Ashabul Kahfi juga telah dijamin masuk surga. Bukankah ada seorang pelacur yang masuk surga karena memberi makan anjing yang kelaparan. Pertanyaan-pertanyaan itu seperti menggelayut dalam pikiranku.

Kenapa saya tak mencontohnya. Pikiran itu tiba-tiba terbesit dalam pikiranku saat melihat seekor anjing yang duduk di depan rumah sepulang kantor. Ku buka pintu rumahku. Dia ikut di belakangku. Dia sepertinya Ingin juga masuk ke rumah. Ku larang dia. Dia pun berhenti dan sejak saat itu anjing itu tak pernah masuk ke dalam rumah. Sejak saat itu pula saya mulai memberinya makan. Pagi sebelum berangkat kerja dan sepulang kerja.

Tak jarang, saya sering berbagi makanan dengan Joy. Makanan yang saya bungkus langsung saya bagi dua. Separuh buat saya dan separuhnya buat si Joy. Malam itu, saya beli ayam dan tempe penyet. Tempe buatku, Ayamnya buat si Joy. Begitulah persahabatan kami. Saya tahu kebiasaan Joy. Joy pun mulai mengetahui kebiasaanku: Berangkat Kantor di waktu pagi, Pulang Kantor di sore hari.

Aku mulai suka terhadap Joy. Rasa benciku terhadap seekor anjing itu tergantikan rasa kasih terhadap seekor binatang yang setia: mengantar dan menunggu.

Anjing yang mengikuti saya di pantai krandangan

Anjing yang mengikuti saya di pantai krandangan

“Di waktu pagi, Dia selalu mengantarku ke kantor hingga pintu gerbang komplek, Di sore hari, Dia selalu menunggu ku di depan rumah. Joy si Anjing itu tak akan pernah lupa dan alpa untuk mengantarkan atau menunggu kepulanganku.

Persahabatan kami telah melewati hari, bulan, tahun. Tahun-tahun berganti. Tapi Joy tetap tak tergantikan. Setia-nya tetap tak tergantikan: Mengantar hingga Pintu Gerbang dan Menunggu di depan rumah.

Hingga suatu saat saya tak menjumpai Joy seharian. Ku cari di samping rumah, di belakang rumah dan seluruh komplek Kelimutu. Jawabannya: Tak ada Joy. Kemanakah dia??

Ku dekati Bu Valens yang melintas di jalanan komplek untuk menanyakan keberadaan “Joy”. “Joy” mungkin dibunuh orang mas, katanya. Jawabannya membuatku kelu dan lemas. Ada perasaan berbeda dalam diriku. Diriku yan sempat benci seakan merasa kehilangan. Ku coba cari-cari kuburannya di belakang Komplek. Jawabannya Nihil.

Aku mulai menduga Joy dibunuh orang untuk dimakan. Kebiasaan orang-orang sini yang biasa memakan anjing menguatkan dugaanku.

Joy telah mengajarkan ku tentang apa arti sebuah kesetiaan dan kepercayaan. Seekor binatang tak berakal itu banyak mengajarkan manusia yang katanya berakal tentang sebuah kepercayaan dan kesetiaan.

Terima kasih Joy.

22 thoughts on “Senggigi dan Seekor Anak Anjing

  1. Di kawasan Senggigi/Krandangan jumlah anjingnya sebanyak yang ada di Kuta, Bali kah? Kalau menurut saya anjing-anjing yang ada di kawasan pantai ini sepertinya dirawat. Paling tidak dikasih makan dari sisa-sisa makanan warga. Ya mirip kucing kampung gitu.

    Hmmm, saya muslim tapi nggak terlalu taat, hahaha. Maksud saya itu, asalkan anjing nggak masuk ke dalam bangunan rumah menurut saya sih nggak apa-apa. Secara logis kan najisnya tidak bakal masuk ke rumah. Lagipula kalau sekedar berbelas kasihan pada hewan, saya kira sih juga tidak apa-apa. Toh Allah SWT itu kan maha pengasih dan penyayang. CMIIW.

    • yaaa kawan…di kawasan pantai senggigi anjingnya banyak…yaaa kawan saya akhirnya pelihara tuh anjing…anjing termasuk yang setia dan dapat dipercaya…

      sebelum joy meninggal, dia selalu mengantarku hingga ke gerbang komplek. .
      thank kawan

  2. Endingnya sedihhh hiks… Saya sendiri nggak pernah pelihara anjing di rumah tapi suka dengan keakraban anjing di luar rumah yang terkadang mendekat malu-malu minta belaian tangan karena pada dasarnya mereka mahkluk yang setia dan punya perasaan sensitif dengan lawan ( manusia )🙂
    Oh iyaa di sungai lumut itu sepintas banyak terlihat sampah mengapung… belum dijaga kebersihannya ama penduduk setempat kah?

    • saya pernah pelihara anjing karena anjing yang ditinggal oleh pemilik lamanya.. jadi saya hanya sebagai tuan pengganti.. sayang, saya tak mampu jaga si joy karena ulah usil orang yang tak bertanggung jawab..hiyaaa sungai lumut hanyalah kamuflase dari sampah-sampah yang lama tergenang lama di sungai hingga sampah-sampah berubah warna menjadi hijau… rata-rata sungai lombok sebagai tempat pembuangan sampah mas..

    • Rate 500 ribuan ke atas mbak…waktu itu kami lagi ada acara sehingga mendapatkan potongan…ya mbak terima kasih atas kritiknya… ya lagi pengin ngubah kebiasaan kata saya dengan aku tapi sering kembali ke kebiasaan lama..jadinya kata “saya” sering ikut nimbrung deh..thank yach atas advise nya

  3. waaah bagus daah pantai sengiginya mas ^_^
    Aku pengen kesana juga sih, spot fotonya bagus-bagus bener mas. Dari pagi sampai sore menjelang tetep istimewa mas.🙂
    Tapi sayangnya, saya belum punya kamera DSLR yang pas buat foto-foto.

    • yaaaa untuk merekam keindahan alam senggigi bisa menggunakan kamera canggih buatan sang Pencipta. tak ada yang lebih canggih dari Mata.hehe..lombok bisa dinikmati menggunakan hp. saya juga sering kug menggunakan kamera hp

  4. Hiks….sebagai peyayang anjing jadi terharu baca ini😦 aku punya anjing juga di sini, namanya Dante😉 memang anjing mengajarkan kita untuk setia dan mengasihi seseorang tanpa menghakimi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s