Terdampar di Pelabuhan Poto Tano

 

IMG_0046

Terdampar

Terdampar

“Mas Cader tidak ikut ke Kenawa?”, tanya Indra saat snorkling di Kecinan siang itu. Sejak dulu, saya memang pengin ke Kenawa tapi setiap kali rombongan Lombok Backpacker ke sana, saya selalu berhalangan -lebih banyak pulang kampung ke Malang. Menjenguk istri tercinta yang masih tinggal di sana. Keluarga kecilku memang sudah terbiasa LDR sejak awal mula hubungan kami.

Pertanyaan itu tak mampir sebentar saja dalam fikiranku. Mulut saya langsung reflek mengiyakan ajakan itu. “Bilang ke Mbak Ifath kalau emang mau ikut,” kata indra lagi. Maklum untuk trips Lombok Backpacker kali ini akan dipimpin Mbak Ifath, salah satu anggota Lombok Backpacker yang punya nama alias sebagai “Om Ifath”.

Lombok Backpacker, akhir-akhir ini memang sering rutin snorkling yang lokasinya tak jauh dari seputar Kota Mataram. Kalau tidak di Senggigi pasti lah di Kecinan. Minggu ini, di Kecinan, Minggu depan lagi di Senggigi. Begitu seterusnya secara bergantian. Dua tempat ini memang sama-sama memiliki terumbu karang yang cantik dengan berbagai jenis terumbu karang dan ikan. dan ini: keduanya sama-sama menjadi habitat penyu. tapi keduanya sangat berbeda dalam hal ketenangan air lautnya. Pantai Kecinan yang pantainya relatif landai identik dengan ombaknya yang tenang. Sedangkan Pantai Senggigi, Ombaknya besar dan agak dalam. karena ombak Senggigi yang besar, Senggigi sering menjadi tempat surfing. sehingga jangan heran, jika anda menjumpai para surfer dan snorkeler hidup berdampingan. semacam ada batas kasat mata antara surfer dan snorkler. ya begitu lah Senggigi

Telah disepakati bahwa rombongan akan berangkat jam 10.00 dari Mataram, Jumat Malam tanggal 24 Oktober 2014. Kita akan berkumpul di hotel Lombok Plaza, General Managernya juga salah satu anggota Lombok Backpacker, Rahma FDP. Rombongan akan dibagi dua: Grup Mobil dan Grup Motor. Total rombongan kami sebanyak 17 orang. Rombongan kami seperti para pendaki gunung. Ransel kami penuh dan besar-besar.

Kami berangkat lebih cepat dari rencana semula. Kami akan menempuh kurang lebih dua hingga tiga jam perjalanan menuju Pelabuhan Kayangan, Lombok Timur. Ini lah pertama kali saya berjalan pada malam hari dengan jarak tempuh yang lumayan jauh. Siap menembus melawan hawa dingin angin malam. Saya dan mas Yeng boncengan menggunakan sepeda motor bersama lima sepeda motor lainnya.

Saya dan Yeng didaulat untuk memimpin rombongan. Alhamdulillah, tak ada halangan sama sekali dalam perjalanan. Melipat jalan berlebur bersama sang waktu. Kami akan bertemu dengan kawan kami di Aikmel , Lombok Timur. Satria Ahmadi namanya.

wake up

wake up

pukul 11.00 kami sudah tiba di Pelabuhan Kayangan. Tri Prasetyo adalah seorang anggota polisi langsung mendekati salah satu anggota kepolisian dan terjadi obrolan singkat. Saya tidak mengerti apa yang mereka obrolkan, saya hanya melihat obrolan sesama anggota kepolisian itu terasa akrab. Sedangkan kami, Kami langsung dipersilahkan untuk parkir kendaraan di komplek polres tersebut.

Salah satu anggota kepolisian bersama Tri bergegas meninggalkan kami menuju pelabuhan. Sedangkan kami, kami sibuk berpose bersama dengan latar belakang Pelabuhan Kayangan. Mungkin rombongan kami sangat menarik perhatian. 17 orang lengkap dengan Tas Backpack. Penampilan kami seperti seorang pendaki Gunung Rinjani yang akan menghabiskan beberapa hari di perjalanan. Tas Backpack itu seakan mengisyaratkan bahwa kami adalah para pejalan.

Tiba di pintu masuk ke Pelabuhan, beberapa petugas mencegat. “kalian sudah punya tiket, kalau belum silahkan beli tiket dulu di pojok sana”, kata salah petugas kepada kami. Baru beberapa langkah kami berjalan, seorang muncul dari dalam arah pelabuhan berteriak-teriak memanggil kami. “ayo ayo lewat sini, katanya. Dalam sekejap kami berlarian menuju pintu gerbang. Petugas pelabuhan itu tak bisa melarang kami. Kami balik kanan dan langsung slonong boy tanpa ada petugas yang menegur kami.Bayangkan 17 orang masuk dengan peralatan lengkap ala Backpacker. Dalam hati saya berfikir untung teman kami ada yang anggota polisi.

IMG_9995 IMG_9986

Pintu masuk pelabuhan itu heboh dengan aksi-aksi kami. Setiap kesempatan, setiap saat, kami menyempatkan diri untuk bernarsis ria di berbagai tempat, di Pintu masuk kapal Ferry, di tangga kapal ferry, di ruang tunggu kapal ferry, di mana saja kami akan selalu rebutan untuk selalu eksis.

Kami siap meninggalkan pelabuhan Kayangan Lombok menuju Pelabuhan Poto tano di Sumbawa saat tengah malam teng 00.00.waktu yang misterius se misterius kami malam ini. Penyeberangan ini akan memakan waktu kira-kira satu hingga dua jam. Alhamdulillah, akhirnya kami bisa beristirahat dengan ditemani film Harry Potter “SORCEREER STONE-Batu Bertuah-Film pertama Harry Potter”. Suasana kapal malam itu nampak sepi, hanya beberapa nyanyian sumbang para pengamin berharap belas kasihan dari pelintas pulau. Kami asik sendiri dengan kenarsisan ala anak-anak alay. Indra dan Ifath didaulat sebagai tukang rekam kami. Bang Satria, sang Maestro di Lombok Backpacker juga terkesan acuh padahal gitar sudah dibawanya.

Peluit berbunyi sebagai tanda bahwa kapal Ferry akan merapat ke Pelabuhan Poto tano. Peluit itu sebagai tanda ketidakjelasan kami malam ini: Menginap di manakah kita?. Sebelum berangkat, saya sudah tahu kalau kita akan menginap di Mercusuar. tapi, saya tidak tau seperti apa lokasi mercusuar itu, apakah di sana ada rumah penduduk yang bisa kami tumpangi, atau sejenis homestay yang bisa kami sewa, ataukah sekedar Mercusuar aja-sebuah bangunan menara tak berpenghuni dengan sumber cahaya di puncaknya untuk membantu navigasi kapal laut.

Tujuan kami hanya satu: sumber cahaya itu. Malam sudah berganti pagi sejak kami masih di atas Kapal Ferry. Sekarang kami akan menyusuri jalanan berdebu di pinggiran bukit Poto tano. Gelap dan tak ada penerangan jalan. Beberapa tahi kerbau terlihat dari cahaya senter kawan kami. Rasa capek berbaur dengan bau keringat yang mulai bercucuran.

Siap menyeberang ke Poto Tano

Siap menyeberang ke Poto Tano

Saya hanya terpaku ketika tiba di sumber cahaya itu, menyaksikan bangunan setinggi ratusan meter dari dekat. Tak ada bangunan lain selain pasir dan Bongkahan batu besar. batu-batu itu sebagai penghalang kami sehingga tak terlihat dari pelabuhan. Ada rasa kecewa, capek, laper sekaligus mengantuk. Mbak Rahma sang GM salah hotel juga sontak kaget dengan mengusulkan untuk balik ke Pelabuhan Tano. Semua diam.

Jangankan mbak Rahma yang dah biasa di kasur empuk hotel berbintang, saya juga merasa kaget. kami tak membawa perlengkapan sedikitpun. Tas Backpack saya penuh dengan baju dan perlengkapan mandi saja. Tak ada matras, sleeping bag.

Semua langsung berinisiatif untuk mengambil posisi masing-masing. Mas Tri langsung menghamparkan materasnya di sampingku. Capek, saya mau istirahat, katanya. Sedangkan Saya, saya langsung mendelosor beralaskan pasir putih dengan beratapkan langit yang bertaburkan bintang-bintang. Ini Kamar saya, kata mbak Echie untuk menunjukkan eksistensi bahwa setiap petak pantai seukuran tubuh manusia itu punya pemilik. Begitulah kami, saling mengakui batas-batas pantai malam itu. Batas kamar adalah garis semu yang tak jelas dan gelap.

Di Pinggir pantai ini, di balik batu-batu ini, di bawah mercusuar kami mulai aktivitas. Mbak Riza membidikkan kamera untuk merekam Milky way dan taburan bintang-bintang yang membentuk pola cahaya laksana sang singa yang hendak menerkam. Yang lain mengambil posisi tidur masing-masing dengan beralaskan pasir, Matras, Kain, Sleeping Bag, sajadah dan apa saja yang bisa dijadikan alas sebagai tidur kami malam ini. Sleeping Bag Bang Satria adalah yang paling banyak muatannya, empat orang: Yeng, Philips, Fitria Agustina, dan dan Bang Satria sendiri. Sleepig bag masih cukup muat untuk nampung saya, pikirku. Ku beranjak. Mas Yeng bergeser sedikit. Saya tidur di ujung utara. Tak lama kemudian Mbak Echie ikut-ikutan tidur bersama di ujung sleeping di ujung selatan. Satu sleeping bag dengan muatan enam orang. Dua cewek dan empat cowok.

Kebersamaan dan berbagi adalah kunci perjalanan kami ini. ini motto Lombok Backpacker. Berbagi perjalanan. Mengajak bersama orang-orang yang ingin mencari keakraban dalam kebersamaan. Dalam perjalanan kami kali ini, juga ada seorang pejalan yang berasal Dari Bandung, Daffa namanya. Sudah sepuluh hari dia mengembara dengan berjalan darat dari Bandung hingga Lombok.

Di Pantai ini, di balik batu-batu, di bawah Mercusuar yang tinggi menjulang. Dalam keheningan dan kegelapan malam di tepi pantai Poto Tano, dengan ditemani lagu-lagu pengantar tidur dan petikan gitar dari Sang Maestro, Bang Satria. Lantunan musik pukul 03.00 pagi itu terbang bebas bersama hembusan angin pantai. Kami menikmatinya hingga kami semua tidur nyenyak. Dari balik batu besar itu di pinggir pantai itu, terang benderang lampu pelabuhan Poto Tano yang diselimuti oleh gelap dan pekatnya malam.

Bagi Bang Satria, music ada soulmate-nya, Perjalanan adalah urat nadinya, dan gitar adalah jantungnya. Gitar adalah pemicu kehidupannya. gitar lah yang selalu menemaninya dalam keadaan sunyi maupun ramai. Jam 03.00 di pagi hari, di dunia antah berantah dia masih setia dengan gitarnya. Tak perduli sunyi senyap atau di depan halayak ramai. Mungkin hanya ombak laut yang selalu setia mendengarkan nyanyiannya. beginilah malam yang kami lalui di pesisir pantai Poto Tano.

Pukul 05.00, Semburat cahaya jingga kemerah-merahan membangunkan kami. Mataku masih berat tapi sang awan senja membuatku bersemangat tuk melawan rasa kantuk. Di tengah laut, perahu nelayan berbunyi menderu-deru memecah kesunyian pagi ini. Sejak pagi buta, para nelayan sudah mengais rejeki. sedangkan kami, Ya kami masih tidur terlelap oleh pelukan angin laut yang dingin.

Bangun langsung mengelilingi api unggun

Bangun langsung mengelilingi api unggun

Di ujung sana, terlihat Jefry sedang menghampar kain sajadahnya mendirikan shalat subuh. Jefry adalah paling “Backpacker” dengan celana robek di bagian dilutut dan betis kakinya. Modelnya seperti celana model terbaru anak jaman sekarang. Tapi, warna kusamnya tak bisa terkamuflase . Teringat kata-katanya saat aku mengomentari celananya yang terlihat lebih “gaul” itu. “Bukan mas cader, ini bukan celana gaul, tapi emang robek sendiri dan tak dibuat-buat, katanya saat hendak berangkat dari Lombok Plaza.

Jefri, tak bisa dilihat secara kasat mata. Jefry dengan penampilannya yang “biasa”. Tapi luar biasa dalam ketaatannya kepada Penciptanya. Dia tak menomorduakan Tuhan dalam perjalanan. Tak jarang, kita akan menjumpai shalat di pinggir pantai, di atas berugak atau dimana pun itu saat tiba waktu shalat. Dia selalu mendahului shalat saat teman-teman santai dan tidur terlelap. Saat semua beranjak tidur, Jefry dan Daffa sibuk membuat perapian di pinggir pantai. Mereka begadang di depan perapian. tak tanggung-tangung, mereka begadang semalaman.

Pagi ini, semburat senja berada di balik perbukitan. Memendarkan warna merah ke segala arah. Kami sibuk melakukan aktivitas pagi seperti pipis, sikat gigi dan berwudhu untuk shalat. Ada yang berwudhu dan sikat gigi dengan bekal air tawar yang dibawanya dan ada yang menggunakan air laut. tak jarang yang tak sikat gigi pagi ini termasuk saya. Pagi ini, kami lebih banyak menikmati mentari pagi memutari perapian, bernyanyi bersama serta teriakan-teriakan keheningan pagi itu. packing-packing untuk melanjutkan perjalanan ke pulau seberang, Kenawa dan Paserang.

di sini lah kami terdampar di Mercusuar Pelabuhan Tano

di sini lah kami terdampar di Mercusuar Pelabuhan Tano

Hal yang paling susah yang saya alami selama di Pelabuhan Poto Tano adalah tempat Pipis. Laki-laki maupun perempuan sama saja. Kami melampiaskan hasrat kami di semak-semak, di balik batu. Untungnya kebiasaan buang hajat setiap pagi tak terhasratkan pagi ini. Mungkin alam sedang bersahabat dengan saya. Pagi ini, di antara kami ada yang sikat gigi dan ada yang tidak. Dan dipastikan diantara kami tidak ada yang mandi kecuali Om Jefry yang memang bersahabat dengan air laut. Dan pagi ini juga siap-siap berangkat menuju Kenawa dan Paserang.

42 thoughts on “Terdampar di Pelabuhan Poto Tano

  1. Keren! Benar-benar backpacker sejati :))
    Poto Tano memang indah dengan bukit dan pantainya. Jadi ingat masa-masa kecil ketika saya suka mudik ke Sumbawa. Ah, semoga saja suatu hari nanti bisa backpacker-an seperti Mas dan teman-teman juga :))
    Ikut, Mas! :hihi

    • yaaa ma kasih mbak indah…ya neh…sepertinya bukan sibuk jalan-jalan aja tp sibuk ama pekerjaan sehingga nulisnya tertunda hehe… jalan-jalan jalan trus tapi nulisnya yg belum sempat hehe… Alhamdulillah siap nulis lanjutannya kisahnya dah.. ma kasih mbak…

    • okh itu bukan bekas camping tapi itu emang tas-tas kami dan segala perlengkapan kami.. dan kami tidak seenaknya membuang sembarang terhadap sampah-sampah yang kami bawa. by the way ma kasih atas saran dan perhatiannya.

      • ya mas dedy..bahkan kami sering kegiatan memungut sampah-sampah orang.. pada hari kemerdekaan Indonesia kemarin, kami melakukan snorkeling di senggigi sekalgus upacara. selesai upacara kami memunguti sampah-sampah yang berenang bersama kita dan yang menempel di terumbu karang.

        ya kami seharusnya lebih banyak mengedukasi masyarakat untuk tidak buang sampah sembarangan.. terima kasih

  2. Seruuuu bangett… Baru tahu kalau Lombok Backpacker ngumpul asyik beginian ( jarang buka fanpage mereka ) hehehe… Lombok Backpacker adain trip lagi kapan ya? Siapa tahu bisa nyempil hehehe

    • ya begitu lah mas halim…wahhh kami, Lombok backpacker hampir selalu punya kegiatan mingguan. ntah itu jalan bareng, snorkeling bareng, bahkan pengajian bareng… wahhhh kami biasanya jalan bareng tiap minggu, silahkan infokan di Grup FB Lombok Backpacker kalau emang mau ikut…

  3. Mas, saya mau tanya dong. Di pelabuhan poto tano, ada penginapan/hotel/cottage murah? Soalnya pagi-pagi ny kita mau langsung ke pulau kenawa, jd cuma numpang tidur aja. Mohon informasinya ya..

  4. Mas, mau tanya dong. Di sekitar pelabuhan poto tano ada penginapan atau tempat untuk camp dengan aman?
    Saya ada rencana mau ke pulau kenawa minggu ini, dan belum dapat info untuk penginapan sekitar pelabuhan.
    Mohon info nya mas.

    Terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s