Terombang ambing menuju Paserang

IMG_0173

Matahari pukul 01.30 WITA Pulau Kenawa benar-benar menyengat. Teriknya matahari bercampur dengan hembusan angin laut dari sisi pulau Sumbawa. Campuran panas dan angin membuat sensasi tersendiri. Tak terlalu terasa panas tapi akan cepat membuat kulit gosong sekaligus cepat haus. Padang rumput yang tumbuh rapi tak menafikan teriknya sang mentari. Bahkan, rumput-rumput itu menjadi daya tarik tersendiri bagi dua cewek: Fitria Agustina dan Echie.

Mas cader, tolong fotoin kita-kita, kata mbak Fitria saat melihat saya baru saja selesai snorkling dan berjalan ke arah mereka. Keindahan pola rumput-rumput kenawa telah membuat mereka tak mempan dengan panasnya matahari di siang bolong. Mereka berdua seakan tak mengindahkan panasnya sang mentari di siang ini. mereka berpose secara bergantian : duduk, berdiri, bersama rerumputan hijau dengan latar belakang bukit kenawa yang kering meranggas.

Ketika mereka berdiri terlalu lama mereka berseru-seru kepanasan karena kaki-kaki yang bersentuhan langsung dengan tanah Kenawa.

Menjelang pukul 02.00 WITA, sebagian teman-teman sudah selesai snorkling. Sebagian beristirahat di berugak bolong, sebagian yang lain berjalan menyusuri padang savana Kenawa hingga ke Puncak Bukit di Ujung Utara pulau.

Mentari terbit di pulau Paserang

Mentari terbit di Padang Savana pulau Paserang

Di salah satu berugak yang langsung berbatasan dengan pantai barat Kenawa, ada seseorang yang sedang melakukan gerakan shalat. Tak jauh dari Berugak, Daffa tiduran santai di dalam hammock yang tergantung di dahan pohon Kenawa yang rindang. Saya juga belum shalat, batinku. Saya bergegas berwudhu dengan air laut tempat kami snorkling. Di seberang sana, Pulau Sumbawa bertabur rumput kering meranggas kecoklatan. Angin berhembus kencang ke segala arah. Sajadah yang sedianya digunakan untuk alas tak bisa digunakan karena angin-angin laut berhembus dengan kencangnya. Akhirnya, saya shalat di atas kayu-kayu berugak dengan tanpa alas sajadah.

Kapan berangkat ke Paserang, kata seseorang di antara kami. Trips Kenawa sudah selesai. Kami harus segera beranjak ke Paserang. Setidaknya kami bisa menikmati suasana matahari tenggelam di pulau yang penuh dengan padang rumput Paserang yang masih terjaga.

Mbak Ifath menghubungi mas agus sang boatman. Mas Agus menjadi orang yang paling kami nantikan. kami beristirahat sambil lalu menunggu. Cukup lama, tapi tak juga datang. Sudah satu jam kami nunggu. Kami sudah siap-siap. Tas backpack sudah ditaruh di pesisir pantai. Matahari bergeser semakin ke barat, awan putih menghalangi sinarnya. Pak agus datang dan langsung menyandarkan perahunya. Kloter pertama berangkat. saya tertinggal dari Kloter pertama. Harapan untuk hunting sunset di Paserang pun menguap bersama hembusan angin laut.

Begadang di Cottage Paserang (terima kasih bu Tendri yang ngasih tumpangan gratis)

Begadang di Cottage Paserang (terima kasih bu Tendri yang ngasih tumpangan gratis)

Perkiraan kami, Paserang bisa ditempuh dalam waktu satu jam PP. ternyata dugaan saya meleset. Sudah satu jam kami menunggu. Perahu itu juga belum juga datang. Matahari semakin bersembunyi dalam awan putih kelabu. Awan putih kelabu tidak selalu membawa nasib kelabu. Setidaknya untuk saat ini. walaupun pak Agus yang kami tunggu belum datang, kami mendapatkan tawaran makanan dari rombongan lain. Mereka memanggil-manggil kami agar bergabung ikut begibung-makan bersama di salah satu berugak.

Kami seperti anak ayam yang dipanggil induknya. Dalam sekejap kami berlarian menuju berugak yang bagian belakang terbuka langsung berhadapan padang savana Kenawa . Saya, Jefry, Tendou, Philips ikut-ikutan makan sambil berdiri. Menu ikan sarden menjadi bumbu penyemangat. Kurang lebih 15 orang yang ikut begibung. Berugak kelebihan muatan. Sebagian duduk, sebagian berdiri di luar berugak.

Perahu yang kami tunggu belum juga muncul. Kami menyempatkan untuk shalat asar terlebih dahulu di salah satu berugak. Selesai sembahyang, kami melihat kapal wisatawan yang hendak bersandar. Dermaga kayu di Kenawa hilang diterjang ombak. Nahkoda itu kebingungan, pengunjung keluar berhamburan lengkap dengan perlengkapan snorkling. Seorang anak buah kapal melemparkan jangkar sekenanya ke lokasi bekas dermaga. Tendou seketika menjadi geram melihat perilaku orang-orang yang katanya pecinta alam, alisnya beradu.

Three Cottage under the Hill of Paserang

Three Cottage under the Hill of Paserang

Mulutnya mengeluarkan kata amarah yang sangat kepada kami. “katanya mereka pecinta alam, tapi kug mereka malah merusak alam.” Dia seakan tidak terima, amarahnya masih meluap-luap. Saya hanya mengangguk “ya begitu lah mereka. Kemudian, Saya dan Jefry hanya terdiam menunggu apa-apa yang akan diucapkannya. Namun, amarah itu seakan sirna dibawa oleh gadis-gadis jepang berbikini. Pandangan matanya tertuju pada gadis jepang yang berbikini. Mas cader, ayo difoto, katanya. “Males akh, kamera saya udah tak masukkan ke dalam tas, sanggahku.” Dia tak mendebatku.

Saya berjalan menyusuri pesisir pantai, dua orang mendekati saya hendak meminjam perlengkapan snorkling. “Mas, boleh pinjam alat snorklingnya untuk kawan saya, dia datang dari Jawa tapi kami ngak membawa alat snorkling,” katanya kepada saya. “Maaf mas, saya sedang menunggu jemputan kapal ke Paserang mas. Ya sayang sekali, kalau sudah ke sini tapi tidak membawa alat snorkling. Di kenawa tak ada penyewaan alat snorkling, kataku sambil berjalan ke arah pantai.

Perahu kecil yang kami tunggu-tunggu akhirnya muncul juga dari arah Barat daya. Pulau Paserang terletak di arah barat daya jika dilihat dari pulau Kenawa. “Waktu tempuh ke Paserang satu jam karena melawan arus,” katanya menjawab kebimbangan kami.

Paserang adalah tujuan kami. Awan kelabu berjalan beriringan menggelantung di langit selat alas. Perahu kami sudah mengaung. Paserang terlihat dekat. Perahu berjalan dengan suasana ombak yang bergelombang. Semakin ke tengah, semakin bergelombang. Kalau dilukiskan Paserang berada di tengah-tengah selat alas yang memisahkan Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Untuk mencapainya. Kami harus melawan arus laut yang ganas.

The Cottage

The Cottage

Begitu tiba di tengah laut, saya mulai ketakutan. Pulau Kenawa dan Sumbawa tak lagi jadi penghalang ganasnya ombak di sore hari. Saya berada di tengah. Mbak Echie di samping saya. Philips dan seorang Nahkoda di ujung depan perahu. Tendou, Daffa dan jefry di ujung yang lain. Perahu terombang-ambing. Mesin meraung-raung. Laju kapal melambat menyesuaikan irama sang ombak. Saat ombak besar datang, perahu melambat agar tidak langsung melawan ombak. Ikuti iramanya. Nikmati permainannya. Semakin lama semakin terombang ambing.

Paserang yang dekat terasa jauh. Air laut tumpah sebagian ke dalam perahu. Philips panik. Philips bergegas memakai pelampung. Saya juga takut. Pelampungku sempat ku lirik yang tergeletak di lambung kapal. Mbak Echie juga melirik pelampung. Kami bertiga adalah termasuk rombongan yang tak bisa berenang.

Ku berusaha untuk bersikap sok tenang. Di dalam hati saya mengumpat “mengapa saya ikut petualangan yang seperti ini, bagaimana kalau perahu ini terbalik di tengah laut. Saya seakan menyesal ikut petualangan yang mempertaruhkan nyawa. Ku bershalawat. Istriku yang sedang hamil muda terngiang-ngiang. Orang tuaku terlintas di dalam fikiranku. Kenapa aku tak pamit. Kenapa aku harus ikut ini, kenapa kenapa?. Semua pertanyaan pertanyaan muncul seketika.

terumbu karang paserang yang muncul saat air surut

terumbu karang paserang yang muncul saat air surut

Kalau kami terhempas gelombang pasang. Ntah apa jadinya kami. Yang pasti saya dan mbak Echie akan rebutan pelampung. Kekawatiran-kekawatiran itu muncul hinggap di fikiranku. Di kejauahan sana, Paserang diliputi oleh rumput kecoklatan yang ditaburi senja. Cantik. Sayang, kecantikan semburat senja bercampur dengan percikan ombak yang menggoyang-goyang perahu kami.

Mendekati pulau Paserang, perahu kami semakin jinak, ombaknya berangsung-angsur tenang. Kamera yang sedari tidur terbungkus rapat di tas anti air menyeruak. Matahari hampir tenggelam. Akh senang rasanya. Setelah melewati dahsyatnya ombak selat alas, kami bisa menikmati indahnya matahari tenggelam dari tengah laut Selat Alas. Seketika hatiku senang tak terkira. Tak mungkin saya bisa menikmati keindahan ini tanpa melalui badai. Badai berlalu dan alam pun semakin indah.

33 thoughts on “Terombang ambing menuju Paserang

  1. Itu padang savana kalo lebih tinggi lagi pasti cekep buat foto2 uh lala ala syahrini hehehe. Btw mu dikenalin ama ibu tendri biar bisa numpang gratisan di cottage nya nanti hahaha🙂

  2. Keren banget. Tempat di mana kita bisa betul-betul merasa kecil; menyerah pada kemahakuasan-Nya.
    Tidak ada kata yang terucap untuk alam yang demikian spektakuler, yang diabadikan dengan begitu apik.
    Terima kasih sudah menyitir alam yang demikian indah ini, Mas! :))

    • ini Pulau Paserang kak… Sunset dan sunrisenya sama-sama cakep…startnya dari pelabuhan pototano kak.. di sekitar pelabuhan tano ada kampong tano. sewanya bisa tawar menawar dengan nelayan di kampong tersebut. kalau kenawa mungkin 200 ribu bisa kak. kalau kenawa paserang mungkin sekitar 400-500. pokoknya pinter pinter menawar.. saya kemarin bersama 17 orang ke kenawa paserang abis 800 ribu dengan dua perahu. kita waktu itu nginap di paserang..kalau mau contact person ntar saya kasih nakoda kapalnya.namanya pak agus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s