Menelusuri Jejak Jokowi di Solo

Dari Lantai dua, Kartika Sari (Caderabdul)

Dari Lantai dua, Kartika Sari (Caderabdul)

Pukul 07.00 WIB saya tiba di Bandara Adi Soemarmo, Solo. lokasinya terletak di luar kota Solo sebagaimana bandara-bandara pada umumnya di Indonesia seperti Soekarno Hatta yang berada di wilayah Provinsi Banten atau Bandara Juanda yang berada di Sidoarjo. Saya menyempatkan diri untuk shalat Magrib terlebih dahulu di Bandara. Suasana Bandara yang biasanya tampak terlalu ramai dan sibuk tak terlihat di sini. Tujuan saya adalah salah satu hotel di sekitar Kampus UNS, Solo. Saya hendak menuju terminal Solo kemudian naik bis yang menuju ke arah sana. Bis Damri yang biasanya menunggu penumpang turun, waktu itu nampak diam di bawah pohon dengan penerangan temaram lampu.

Polisi dan Petugas bandara memberitahuku agar naik Bis Damri tersebut. Setelah kutunggu beberapa lama, bis tak beranjak dan tak seorang penumpang yang ingin naik bis salah satu BUMN transportasi ini. diam. Saya pun ikutan diam sendiri di salah satu trotoar taman bandara tak jauh dari Bis Damri tersebut. Daripada menunggu Bis Damri tak jelas kapan berangkatnya, saya memutuskan untuk naik taksi. Harganya 120 ribu. Lumayan mengoras dompet yang mulai menipis.

Tujuanku adalah hotel di sekitar kampus Solo, hotel Kartika Sari atau Hotel Bintang. Sopir taksi menyarankanku di Kartika Sari karena Hotelnya lebih besar dan bagus. Saya memutuskan memilih Kartika Sari sesuai saran sopir. Taksi kami berjalan menyusuri pinggiran Kota Solo. Keluar dari komplek Bandara, kami melewati jalan pintas yang membelah sawah-sawah. Sedikit gelap dan sepi. Ada rasa kawatir. Lewat jalan sini lebih cepat mas, kata Sopir saat kutanyai kenapa lewat jalan ini. Setelah itu, kami hanya melewati pinggiran kota Solo. Rumah pinggiran dengan trotoar jalan seadanya.

Di atas mobil taksi ini, obrolanku teringat Mantan Walikota Solo yang menjadi Presiden sekitar lima tahun lalu. Sopir taksi itu diam sejenak saat saya menanyainya tentang perkembangan Kota Solo sejak Jokowi mimpin Solo dengan gaya blusukannya itu. banyak perubahan yang dia lakukan mas pas jadi walikota, namun, pas sudah jadi presdien belum banyak perubahan mas. Saya hanya mengangguk dan mendengarkan sang sopir taksi.

Sejatinya, saya mengenal Jokowi sebelum jadi presiden bahkan sebelum terkenal seperti sekarang. Pada tanggal 26 Oktober 2009 Jokowi hadir dalam acara Forum Kehumasan salah satu instansi Pemerintah Bidang Pengawasan di Hotel Kusuma Sahid,Solo. Jokowi menjadi salah satu pembicara dan memaparkan kesuksesan pemindahan Pedagang Kaki Lima-PKL tersebut dengan tema “Slum Ugrading in Solo, Indonesia” dengan latar belakang suksesnya kirab pemindahan PKL di Kawasan Monumen 45 ke Pasar Klithikan Notoharjo. Bahkan, saya juga pada akhirnya bisa menyaksikan pasar Klithikan yang menjadi lokasi pemindahan PKL Monumen 45. Kawasan PKL ini memanjang dan berjejer di pinggir jalan. Di depannya komplek PKL, ada railbus yang akan menjadi salah satu andalan transportasi bus yang menggunakan rel di Kota Solo. Di tengah-tengah rel, ada sebuah panggung kecil dan sederhana. Ini lah panggung karaoke sederhana di tengah-tengah rail. Sederhana tapi tetap berkesan. Para pengunjung PKL bisa menyumbangkan suaranya di lokasi Karaoke ini.

Kamarku yang penuh dengan kasur-kasur

Kamarku yang penuh dengan kasur-kasur (hanya nginap semalam)

Yang membedakan pemindahan PKL di Solo adalah caranya: memanusiakan manusia, memuliakan warga. Berdiskusi dan diajak untuk memecahkan permasalahan kota bersama-sama. Sejatinya, kebijakan-kebijakan pemerintah daerah perlu dikomunikasikan kepada warga masyarakat yang akan terkena langsung dengan kebijakan tersebut.Satpol PP tidak dikerahkan untuk memukuli para PKL tapi untuk mengayomi mereka. Bahkan untuk mensukseskan proses pemindahan PKL tersebut, Jokowi menjadikan pemindahan ini sebagai sebuah acara Agung: Kirab, yang biasanya dilakukan hanya untuk acara-acara besar keraton juga dilakukan untuk memindahkan para PKL.

Para PKL kami undang untuk duduk bersama membahas masalah PKL. Untuk memindahkan mereka, kami traktir mereka makan malam. Mungkin sudah puluhan kali, kami mentraktir mereka, paparnya waktu itu. Saya yang ikut duduk menyaksikan pemaparan Jokowi terbesit agar Jokowi menjadi Gubenur Jakarta.

Jokowi sukses membawa perubahan besar untuk Kota Solo, hingga ia dilirik untuk mengubah wajah Jakarta. Jokowi pun akhirnya rela melepas jabatan walikotanya untuk menjadi Gubernur Jakarta. Jokowi terpilih jadi Gubernur Jakarta bersama wakilnya, Basuki Cahya Purnama atau biasa dipanggil “Ahok” mengalahkan Gubernur Incumbent Fauzi Bowo yang dinilai gagal oleh banyak kalangan dalam membenahi Jakarta. Sesuai dugaan dan firasatku Jokowi menjadi Gubernur Jakarta. Namun, jabatan gubernur ini tak berlangsung lama. Jabatan Gubernur hanyalah menjadi loncatan Jokowi sebelum menjadi presiden.

Banyak pekerjaan rumah janji kampanye yang belum terlesaikan di Jakarta. Banjir, Macet, PKL, Monorail, dan Subway adalah problem utama Jakarta yang belum teruraiakan. Membereskan Jakarta ibarat menguraikan benang kusut yang bercampur lumpur hitam. Susah dan perlu kesabaran. Tapi, ketika benang itu mulai kelihatan, maka program penyelesainnya akan terasa lebih gampang.

Banjir dan Macet adalah bisa dipecahkan. “Dananya ada, kita tinggal mau atau tidak,” katanya dalam suatu saat ketika kampanye Gubernur Jakarta. Permasalahan Jakarta belum usai, Jokowi menerima mandat dari Ibu Suri “Megawati” untuk menjadi Calon Presiden. Permasalahan Jakarta akan cepat terselesaikan kalau saya jadi presiden, katanya ketika ditanya permasalahan Jakarta yang menumpuk. Jokowi terpilih menjadi Presiden Indonesia setelah mengalahkan Prabowo dengan selisih tak terlalu jauh. Kebijakan-kebijakan yang kontra-produktif dan kontroversial mengemuka. Kabinet ramping yang dia janjikan tak terlaksana. BBM naik saat harga minyak turun bahkan pada masa Jokowi lah BBM sudah tidak disubsidi lagi mengikuti harga pasar dunia. Jabatan Jaksa Agung dan Kapolri terus menjadi polemik. Bahkan, KPK pesimis dengan kepemerintahan Jokowi. Kerjasama antara Proton (Malaysia) dengan PT Adiperkasa yang disaksikan Langsung oleh Jokowi dan Mahathir Muhammad seakan menambah ketidakberdayaan Jokowi menegakkan akal sehat. Program dan kebijakannya banyak yang ditujukan untuk sekedar balas budi saat kampanye. PT Adiperkasa adalah perusahaan AM Hendropriyono, yang tak lain adalah salah satu tim sukses Jokowi.

Pemaparan Jokowi saat menjadi walikota Solo

Pemaparan Jokowi saat menjadi walikota Solo

Kerjasama ini digadang-gadang akan menjadikan proton sebagai Mobil Nasional Indonesia. Kerjasama ini dinilai sebagai balas jasa. Jokowi membantah bahwa kerjasama ini adalah murni business to business. Lalu yang menjadi pertanyaannya adalah kemana kah mobil Esemka besutan anak-anak SMK di Solo yang dulu digadang-gadang akan menjadi Mobil Nasional?.

Kemanakah Jokowi yang dulu pro rakyat saat dulu memimpin solo dengan hati itu?.kemana kah Jokowi yang saya saksikan lima tahun lalu saat memaparkan gebrakan-gebrakan di kota Solo? Akh Jokowi sudah banyak dikelilingi para politikus yang hanya memikirkan kepentingannya sendiri. “Anda belum move on yach,” begitu kata para pendukungnya ketika kebijakan-kebijakan banyak ditentang di ranah dunia maya.

Dalam keremangan Kota Solo, taksi yang saya tumpangi memasuki Kusuma Kartika Sari Hotel. Kemegahan dan luasnya Gedung tertelan oleh pekatnya malam. Saya langsung disambut oleh seorang resepsionis. Seorang resepsionis setengah baya menyodorkan saya daftar harga kamarnya. Ku lirik harga yang paling murah Rp175.000 dengan fasilitas pendingin ruangan. Saya berniat bermalam di sini semalam saja. Karena mulai besok, hotel ini akan dibooking pelajar dari Jakarta. Tiap kamar sudah ditambahi extra bed termasuk kamar saya yang akan digunakan malam ini. Bunyi pendingin yang menderek-derek karena terlalu uzur. Malam ini saya terlelap ditemani pendingin ruangan yang terlambat dimasukkan ke tukang loak.

18 thoughts on “Menelusuri Jejak Jokowi di Solo

  1. Agak menurun memang kinerja Jokowi, saya harus akui itu. Dan bukan hanya Mas yang kehilangan sosok Jokowi yang dulu. Saya yakin banyak warga Solo yang juga merasa demikian. Ah, apakah kita berharap terlalu banyak padanya?

  2. Politik itu mumet. Tidak bisa membela semua pihak. Sedangkan semua ingin dibela. Jadi harus ada yang mengalah atau sengaja dikalahkan. Tapi semuanya ingin menang.

  3. Saya bolak balik ke Solo, menemui orang yang berbeda-beda mulai dari mahasiswa, saudara, blogger. Semuanya punya kesan sama terhadap Jokowi: tak seperti yang diheboh-hebohkan media.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s