Toleransi ala Kasinem, berbisnis ala Tahok

Tahok

Tahok

Kasinem dan Tahok. Dua nama yang saya ingat saat mengunjungi Solo. Kepada dua orang ini harus banyak belajar tentang toleransi dan berbisnis. Seorang Ibu rumah tangga sekaligus penjaga warung di samping gereja HKBP Solo di daerah Sutami dekat kampus UNS Solo. Sedangkan, Riadi atau biasa dipanggil dengan sebutan “Tahok” adalah pemilik kos-kosan yang lokasinya tak jauh dari Gereja HKBP dan warung Kasinem.Saya datang ke Solo untuk mengikuti program Beasiswa STAR di Solo. Walau saya tak lulus program beasiswa, beruntung saya bertemu dengan mereka berdua.

Pertemuan saya dengan mereka juga tak disangka-sangka. Setelah tidur nyenyak di Hotel Kusuma Kartika Sari semaleman, saya ingin mencari hotel yang lebih dekat ke kampus UNS sekaligus ingin menghirup udara pagi di pinggiran kota Solo. Bukan udara pagi segar yang saya dapatkan, tapi polusi udara kendaraan bermotor bercampur dengan udara yang masuk ke dalam hidung saya. Aktivitas pagi ini begitu ramai. Kendaraan-kendaraan menuju ke arah kota solo. Dari luar kota maupun pinggiran kota solo. Daerah Sutami termasuk jalan lalu lintas utama jalur bis antar Provinsi. Bis-bis angkutan provinsi hilir mudik, Anak-anak berangkat sekolah, para pegawai dan karyawan juga tak kalah hilir mudik

Beberapa warung kopi pinggir jalan mulai dijajakan. saya menyusuri pinggir jalan raya yang nampak sepi yang ketika malam hari akan dipenuhi pangkalan pedagang kaki lima. di deretan pedagang kaki lima, ada warung SS-Special Sambel. Pedesnya sesuai namanya membuat bibir bergetar, keringat bercucuran bahkan air matapun tak tahan untuk tidak keluar. Tadi malam, saya ingin mencoba cicipi warung SS. Menu makanan hampir semuanya berawalan S alias “Sambe” Seperti Sambel Bawang merah, Sambel Bawang Putih, Sambel Teri, Sambel Mangga, dan berbagai jenis macam sambel lainnya.

Warung Ibu Kasinem disamping gereja Solo

Warung Ibu Kasinem disamping gereja Solo

Sambel yang paling banyak diminati dalam seminggu akan ditulis di papan pengumuman di pojok warung dekat dengan kasir. Sambel mangga termasuk salah satu sambel yang paling banyak diminati minggu ini. saya langsung memesan sambel mangga dan teri dengan segelas es jeruk. Lumayan lama menunggu untuk saya yang sudah merasakan kelaparan. Malam ini, pengunjung lumayan ramai. Beberapa pengunjung yang sedang makan merasakan aura pedas. Bibirnya bergerak-gerak merasakan aura kepedesan.

Beberapa menit kemudian, pesanan saya pun tiba juga. Sensasinya langsung menjalar. Bukan nikmatnya teri goreng yang saya nikmati, tapi mulut yang menari-nari kepedasan. Saya sering makan pedes tapi tak sepedas ini. saya paling hobi dengan sambel apalagi sambel mangga. Tapi, kali ini saya harus pasrah tak mampu menghabiskan sambel kesukaan saya. Bibirnya saya sudah ngilu. Saya tak menyangka, Solo yang selalu diidentikkan dengan masakan manis itu seketika berubah haluan menjadi serba pedes. Ampun wong solo.

Taman Budaya, Jawa Tengah

Taman Budaya, Jawa Tengah

Pagi ini, saya memesan bubur ayam di seberang Hotel Bintang, Samping pintu gerbang UNS. Rp5.000,00 cukup untuk mengisi perut pagi ini. duduk duduk santai di sekitar pintu gerbang sambil melihat hilir mudik mahasiswa. Melihat pengangkut sampah bertuliskan “inventaris kampung” sejenis motor Bajai buatan india berkaki tiga dengan gerobak di bagian belakangnya. Sangat cocok untuk mengangkut sampah sampah dari komplek atau di pedesaan. Beberapa mahasiswa sedang menunggu Bis kampus. Tak disangka, saya bertemu dengan kawan kerja saya, Budi. Dia baru saja tiba dari Jogja. Tiap hari dia pulang pergi Solo – Jogja. Dia berangkat sejak pagi buta. Budi asli jogja. Istrinya juga ditinggal Jogja. Budi juga sedang menunggu Bis kampus.

Mendekati jam masuk, banyak mahasiswa yang berdatangan. Terlihat tergesa-gesa memasuki pintu gerbang. Lalu lintas di pintu gerbang semakin ramai. Saya hampir ditabrak oleh seorang cewek yang mengemudikan mobil terburu-buru yang hendak masuk ke UNS walau saya sudah memberikan tanda “sign”. Dalam hati saya berfikir, saya sekali lagi telah salah menilai tentang orang Solo. Solo yang selalu diidentikkan dengan kelemahlembutan nampak begitu bringas. Saya cepat berlalu ingin mencari-cari penginapan.

Pertama, saya memasuki Hotel Bintang yang minimalis. Cukup Rp150.000,00 untuk kamar standar. Sayang seribu sayang, kamar dengan tarif 150.000,00 sudah habis dibooking oleh UNS. Yang tersisa kamar dengan harga 275.000,00. Alhasil, saya pun pergi meninggalkan hotel tersebut dengan sedikit kecewa. Kecewa tapi tak perlu terlalu dipikir.

Kosku selama 3 hari di Solo

Kosku selama 3 hari di Solo

Dengan langkah gontai, saya pulang. Melihat orang di sekitar warung di samping Gereja. saya berhenti dan menanyai seorang bapak berumur yang berada di samping warung. Suami ibu kasinem. dari sini, saya mendapatkan informasi bahwa rumah pak Parno yang menyewakan kamar harian. Tak perlu menunggu lama, saya langsung meluncur ke rumah bertingkat dengan sebuah warung sederhana.

Alhamdulillah mendapatkan kos harian dengan tarif Rp200.000,00 selama tiga hari. Lumayan hemat daripada menginap di hotel. Sebetulnya kamar yang ingin saya tempati ini kamar yang biasa ditempati Tahok-Riadi. Akhirnya, Tahok mengalah tidur bersama orang tuanya di warung sederhananya. Tahok sesederhana warungnya. Tampangnya kurus, suka tidur, dan cenderung males-malesan. Umurnya dah melebihi kepala tiga, tapi belum berencana menikah. Saat kutanyai kenapa belum menikah. Dengan santai dia menjawab “belum ada yang mau sama saya”. Kampungnya dekat kampus tapi dia hanya lulusan sekolah menengah atas. Ntah lah kenapa dia tak melanjutkan sekolah lagi.

Bus Kampus

Bus Kampus

Karena tampangnya yang selalu santai dan bermalas-malasan, saya menyarankan dia agar mencari kerja. Itu sebelum saya tahu bahwa dia sudah membangun kos-kosan sebanyak 15 kamar dengan tarif per kamar sekitar Rp500.000,00. Tanpa bekerja pun alias bermalas-malasan dia sudah menghasilkan Rp90.000.000 per tahun. Atau paling apes 60 jutaan per tahun masih lumayan besar dibanding penghasilanku. Sebuah penghasilan menakjubkan tanpa bekerja. Dia hanya menunggu passive income itu datang sendiri. Kamarnya rata-rata di kos secara tahunan. Sebagian dari penghasilan dia sisihkan untuk menyicil pinjaman di bank. Tahok tidak serta merta langsung memperoleh penghasilan sebesar itu. Dia mengawalinya dari sebuah hobi pertamanya-playsation. Lambat laun playstationnya maju dan berkembang. Melihat tanah bapaknya yang kosong, dia mencoba peruntungan lain di hobi keduanya-tidur alias membangun tempat tidur bagi yang suka tidur.

Playstationnya dia jual. Sebagian hasil penjualannya dan uang bapaknya dia gunakan untuk membangun pondasi pertama kos-kosan. Kekurangan dia pinjam ke Bank sekitar Rp100.000.000,00. Dari hasil kos-kosan itu, dia bisa nyicil hutang ke bank. Tentu dengan hanya bermodalkan hobi-tidur. setelah pinjamannya lunas dia berencana membangun warung ibunya menjadi kos-kosan dan warung. Walaupun dia mendapatkan passive income tanpa bekerja-penghasilannya melebihi saya menjadi pegawai, dia tetaplah Tahok yang seperti dulu: sederhana, kurus, dan tidak neko-neko. Akhir-akhir ini hobinya nambah satu lagi: bermain badminton.

menyusuri jalan utami

menyusuri jalan utami

Lain Tahok, lain juga Ibu Kasinem. penjual warung di samping tembok Gereja HKBP. Ibu Kasinem beragama islam, suaminya beragama Kristen. Dia bisa berjualan di samping gereja karena suaminya. Saya bertemu dengan Kasinem di warungnya saat saya mau sarapan pagi. Dia bercerita awalnya suaminya ketika masuk islam namun ketika sudah menikah suaminya kembali ke agama asalnya. Ibu Kasinem tidak marah atau benci. Dia tetap cinta dan bersama suaminya hingga akhirnya dikarunia tiga orang anak. Anak pertamanya cewek tinggal di Tangerang bersama suaminya.

Keyakinan anak ibu kasinem pun ikut suaminya yang beragama Kristen dan dua orang cowok. yang kedua terpaksa menikah karena hamil. Hamil ketika masa sekolah. Dia pun terpaksa membuka bengkel di samping warung ibunya. Anak yang kedua juga ikut agama istrinya, Kristen. saat menantu dari anak keduanya masuk warung, Ibu Kasinem memberikan tanda ke saya itulah “menantunya”. Ibu Kasinem pun menceritakan asal muasal menantunya yang berasal dari anak dosen di kampus UNS.

Warung Kopi

Warung Kopi

Anak ketiganya kerja di bagian pelayaran dan belum menikah dan beragama islam. Dan semoga tetap beragama islam bersama ibunya. Biar seimbang hehe..Ibu Kasinem pun sering mengingatkan anaknya agar shalat. “saya sering ingatkan anak saya agar shalat dan tak lupa Tuhan, katanya meyakinkan saya. anaknya selalu mengirimkan ibunya duit belanja. Sebagian hasilnya juga sudah dibelikan motor yang pernah hilang tapi ketemu lagi. Duit yang dikirimkan anaknya beliau tabung. “Sapa tahu bisa bangun atau perbaiki rumah ini mas,” katanya kepada saya.

Penghasilan anaknya sebulan lumayan besar bagi saya. Ya setidaknya beberapa kali lipat dari penghasilan saya sebulan.

“Tak perlu lah meributkan agama mas, Yang penting kan hatinya baik,” katanya saat menjelaskan kepada saya. Itu lah makna toleransi yang sebenarnya. Hubungan manusia dengan manusia tetaplah harus dijaga. Ibu Kasinem mengajarkan bagaimana cara bertoleransi walau kedua anaknya berpindah agama bahkan ketika suaminya kembali ke agama asalnya. Ibu Kasinem sudah berusaha tapi itulah takdirnya. Penganut antar umat agama saling menghormati. Ketika anak-anak dan suaminya merayakan hari besar agama, Ibu Kasinem menghormatinya sebagaimana mereka juga menghormati ketika dirinya merayakan hari besar agamanya.

Di gang Pucang Sawit RT 04 RW 01, tak jauh Gereja HKBP Solo, saya menemukan orang-orang dimana saya harus mengambil pelajaran kehidupan dari keduanya tentang Toleransi ala Ibu Kasinem dan Berbisnis ala Tahok.

31 thoughts on “Toleransi ala Kasinem, berbisnis ala Tahok

  1. Hebat yo Mas. Belajar dari orang-orang sederhana itu memang hikmah dan pencerahan itu banyak banget. Salut dengan Mas Riadi yang ternyata tetap bersahaja dan tetap sederhana, dan buat Bu Kasinem yang tetap toleran, sebuah sikap yang sepintas lalu mulai jarang ditemukan dalam masyarakat kita.
    Semoga kita juga bisa jadi orang-orang hebat seperti mereka :)).

  2. Nice experience. Belajar dari kesederhanaan memang luar biasa. Saya jg pernah belajar dg lewat kesederhanaan pak Marzuki ketika di Florea dulu. Banyak cerita beliay yang menginspirasi. Ahhh kangen traveling

  3. Seandainya semua bisa seperti Bu Kasinem yang ikhlas dan tidak meributkan perbedaan, tapi sedih juga lho mas kalo anaknya pindah agama, tetep ngrasa kehilangan, tapi mungkin dengan berjalannya waktu rasa sakit itu akan hilang ya. Salam

    • mungkin pelajaran dari ibu kasinem adanya pentingnya toleransi dan saling menghormati antar umat beragama maupun yang tak beragama. pelajaran yang lain adalah agar kita bisa mendidik anak-anak kita ttg agama sehingga agama diyakini bukan karena dogmanya tp juga karena masuk akal.

  4. cerita tahok jadi inspiring …. kata orang kaya juga … apa resources yang anda miliki … optimalkanlah ….
    si tahok punya tanah kosong jadi kos2-an …. kita ini kadang bikin repot sendiri, nyari2 kesana kemari … persis pepatah .. gajah di pelupuk mata tidak keliatan .. semut si seberang kelihatan … he he …

  5. elah warung ini tiap hari lewat saya mas..btw itu keterangan fotonya bukan taman budaya jawa tengah mas, tapi rektorat UNS🙂 #koreksi ya mas

  6. memang kadang suka pusing lihat orang ribut masalah agama. Ngga usah ribut yang beda agama. satu agama aja kadang suka ribut sendiri. Duuuh.. Urusin iman masing-masing aja dulu deh.

  7. Saya sangat terkesan dengan bu kasinem dan pak tahok. Agama memang tak lantas menjadi jurang pemisah bagi sesama manusia, bahkan di semua agama saling mengajarkan untuk berbuat baik pada sesama.
    salam kenal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s