Mada Oi Hodo dan Oi Rao, Mata Air Pantai

“Mada Oi Hodo” adalah mata air yang berada di pinggir jalan lintas tambora. Sekitar 3 jam perjalanan dari Pusat Kota Dompu.

Mata Air Hodo yang langsung berbatasan dengan Pantai Hodo

Mada Oi Hodo berasal dari bahasa lokal yang berarti Mata Air Hodo.
Hodo sendiri berarti Jantung.

Jadi, terjemahan bebasnya Mada Oi Hodo adalah Mata air yang menjadi jantung bagi masyarakat sekitar. Mata Air Oi Hodo terletak di desa Oi Hodo, Kec. Kempo, Kab Dompu. Uniknya Mata airnya keluar dari celah-celah bebatuan di pinggir jalan. Dan langsung berbatasan dengan pantai Oi Hodo.

Pantai yang identik dengan panas, seketika menjadi sejuk dengan adanya pemandian air hodo. Pohonnya rindang, anginnya pun semilir. Banyak yang memanfaatkan mata air oi hodo sekedar untuk beristirahat seperti shalat, makan, atau sekedar cuci muka bagi para pelintas jalan lintas tambora ini. Mata air Oi Hodo adalah detak jantung bagi masyarakat dan ternak-ternak.

Di saat siang hari, banyak masyarakat yang mandi, mencuci baju, dan berwudhu untuk kemudian shalat di mushalla yang berada tak jauh dari lokasi pemandian ini. sedangkan, bagi para ternak, mata air oi hodo juga sebagai surga para kerbau. Kerbau kerbau itu juga akan mandi di kubangan pemandian tesebut. Ada bagian waktu untuk kerbau dan ada bagian waktu untuk manusia.

Mata air Oi Hodo memiliki 2 sumber mata air. Antara keduanya dipisahkan oleh jalan menuju pantai. Mata Airnya deras. Saking derasnya, airny menyembur keluar dari celah bebatuan. Saya tak tahan ingin merasakan deras dan segarnya mata air Oi Hodo.

Mencuci, Mandi di Mada Oi Hodo

Saya ingin membasuh muka setelah 2,5 jam perjalanan dari Kota Dompu. Dingin terasa saat ku usapkan ke wajah untuk berwudhu. Seger dan rasanya juga enak. Saya bersama rombongan PDAM Dompu singgah untuk istirahat dan shalat Dhuhur sebelum melanjutkan trips selanjutnya menuju Satonda.

Saya heran kenapa mata air malah keluar dari celah bebatuan yang berada pinggir pantai, bukan di bawah kaki Gunung Tambora yang jauh di sana.

Mata air selalu identik dengan kawasan puncak, dataran tinggi dan dikelilingi pepohonan yang rindang. PDAM adalah perusahaan yang menjadikan air sebagai bahan baku utama. Tanpa air, pdam tidak bisa menghasilkan. Maka, salah satu program PDAM adalah menjaga kelestarian alam di sekitar sumber mata air.

Namun, mata air Oi Hodo dan Oi Rao adalah salah satu keunikan Dompu. Selain berada di dataran rendah juga tak ada kawasan hutan rindang yang berfungsi untuk menjaga menurunnya debit air. Di sekitar mata air ini, yang ada hanyalah padang sabana yang membentang luas. lalu dari mana datangnya mata air itu, dari Gunung Tambora yang jauh di atas sana. Kalau benar, inilah salah satu anugerah Gunung Tambora bagi Dompu.

Setelah shalat Dhuhur dan Asar (jamak), saya bersama rombongan PDAM langsung bergegas menuju Pulau Satonda. Namun, Direktur PDAM Dompu, Pak Agus mengatakan bahwa kami akan singgah di Mata Air Oi Rao untuk makan siang bersama. Menurut penjelasan Pak Agus, ada 2 mata air lagi yang mata airnya dekat dari pantai. So, ada 3 mata air yang lokasinya berada di pantai.

Wudhu langsung dari Mata air

Tak lama setelah meninggalkan Mata air Oi Hodo, kami memasuki kawasan Gunung Tambora, Padang Savana luas membentang, kering dan terlihat gersang. Maklum, kami melintasi awal bulan September, awal musim hujan. Kepulan debu beterbangan saat melintasi padang tanah tak beraspal. Pak Agus menunjuk awan putih kelabu nan jauh di sana “ Gunung Tambora ada di balik awan itu”. Saya tak melihat tambora yang bersembunyi di balik selimut putihnya, yang ku lihat hanyalah padang sabana luas membentang. Padang Sabana afrika rasa Dompu.

Kami mulai memasuki kecamatan lain yaitu kecamatan Pekat. Di Kecamatan inilah padang sabana membentang luas, Padang Sabana Ndoro Ncanga. Kawasan Gunung Tambora berada di kecamatan Pekat. Karena itu Kecamatan Pekat banyak memiliki sumber mata air.

Padang Sabana Ndoro Ncanga. Inilah pintu gerbang bagi para hiking, para pengelana, para pencari ketinggian. Sebuah pintu gerbang Gunung Tambora sebagai penanda. Setelah melewati padang sabana, kami melihat sebagian tebu-tebu. Tebu-tebu dikelola oleh sebuah perusahaan.

Pabrik Gula pun dibangun di beberapa tempat di kecamatan Pekat. Saat malam, Pabrik-pabrik bercahaya laksana kunang-kunang yang bercahaya di kegelapan malam. Begitu juga, pabrik-pabrik gula tersebut, mereka bercahaya di antara gelapnya padang sabana luas membentang.

Setengah jam lebih (tepatnya 40 menit) kami melintasi padang sabana, kemudian berbelok ke jalanan tanah tak beraspal. Gersang dan kering, panasnya begitu terik. Debu-debu beterbangan, berbelok ke kanan, ke kiri, dan menurun. Ntah lah, saya tak tahu akan dibawa kemana. Pak Agus nyeletuk “kita akan ke arah Mata Air Oi Rao”. “Nanti, di sana kita akan melihat dua air bertemu yaitu antara air laut dan air tawar.” Yang dimaksud pak Agus adalah titik pertemuan antara air laut dengan mata air Oi Rao. Wah seru, kataku menyahut.

Saya ingin menyaksikan bagaimana titik pertemuan dua air ini sebagaimana dituturkan oleh Pak Agus. Rasa asin dan tawar.

Mada Oi Rao

Kami tiba di lokasi mata air Oi Rao pukul 13.26 WITA. Tandanya adalah pepohonan waru yang rindang. Untuk mencapainya, kami harus melewati padang sabana. Mata airnya berada dibalik pepohonan waru tepat berada di tengah-tengah pepohonan waru. Mata airnya muncul dari celah celah akar pepohonan waru. Alirannya deras dan dingin. Ketinggian mata airnya 0 DPL. Dibalik pepohonan waru itulah pantai Rao. Saat kami tiba di sini, tak ada seorang pun warga sekitar yang mengambil air. Hanya rombongan PDAM Dompu. Di sinilah titik pertemuan dua air itu. Asin dan tawar.

Warga kampung yang mengambil air

Mada Oi Rao terletak di Desa Sori Tatanga, Kecamatan Pekat. Mata air Rao dikelilingi oleh Pepohonan warunya meliuk meliuk dan saling bersilang sehingga bisa dijadikan tempat duduk alami.

Saya duduk di salah satu satu batang yang berada di atas mata air. Menyantap makanan yang sudah dibawa dari Dompu. Sambil melihat air yang menyebul dari celah akar pepohonan waru. Deras sekali. Air semilir berhembus, angin laut pun berseliweran…teduhnya pepohonan waru…

Tak lupa, saya ingin merasakan airnya…rasanya seger dan dingin..khas mata air pegunungan. Namun uniknya, mata air Oi Rao berada tak jauh dari pantai. Bukan di pegunungan.

Ketika kami hendak pergi, beberapa warga datang ingin mengambil air menggunakan air menggunakan drigen. Saat ada event “Tambora menyapa Dunia” yang dilaksanakan selama 3 hari.

Mada Oi Rao menjadi penyuplai airnya. Balai Wilayah Sungai merencanakan akan membangun jaringan sistem perpipaan dengan menggunakan sistem perpompaan.

ceritanya sedang pose

karena mata air Oi Rao berada di dataran rendah, Mata Oi Rao tak bisa dialirkan secara gravitasi ke lokasi event Tambora di Pintu Gerbang Doro Ncanga, dimana elevasinya jauh lebih tinggi. Salah satu solusinya adalah menggunakan sistem perpompaan.
Kami melihat sekumpulan kerbau yang dilepas bebas di padang Sabana saat kami pergi hendak meninggalkan Mada Oi Rao.

Satonda Island akan menjadi tujuan perjalanan selanjutnya.
Pulau yang mempunyai danau dibagian tengahnya. Danau yang katanya terbentuk dari letusan gunung purba sebelum letusan Gunung Tambora. Bentuknya Danau segara anak Rinjani…

6 thoughts on “Mada Oi Hodo dan Oi Rao, Mata Air Pantai

  1. Unik banget mata airnya di pinggir pantai… Kalau liat sumber air, jadi ingat PDAM2 di NTT 😀

    Mas Kadir,, ayo aktif nulis lagi dong.. ini kok kayanya updatenya lama bgt yaa ahaha..

    -Traveler Paruh Waktu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s