Mada Oi Hodo dan Oi Rao, Mata Air Pantai

“Mada Oi Hodo” adalah mata air yang berada di pinggir jalan lintas tambora. Sekitar 3 jam perjalanan dari Pusat Kota Dompu.

Mata Air Hodo yang langsung berbatasan dengan Pantai Hodo

Mada Oi Hodo berasal dari bahasa lokal yang berarti Mata Air Hodo.
Hodo sendiri berarti Jantung.

Jadi, terjemahan bebasnya Mada Oi Hodo adalah Mata air yang menjadi jantung bagi masyarakat sekitar. Mata Air Oi Hodo terletak di desa Oi Hodo, Kec. Kempo, Kab Dompu. Uniknya Mata airnya keluar dari celah-celah bebatuan di pinggir jalan. Dan langsung berbatasan dengan pantai Oi Hodo.

Pantai yang identik dengan panas, seketika menjadi sejuk dengan adanya pemandian air hodo. Pohonnya rindang, anginnya pun semilir. Banyak yang memanfaatkan mata air oi hodo sekedar untuk beristirahat seperti shalat, makan, atau sekedar cuci muka bagi para pelintas jalan lintas tambora ini. Mata air Oi Hodo adalah detak jantung bagi masyarakat dan ternak-ternak.

Di saat siang hari, banyak masyarakat yang mandi, mencuci baju, dan berwudhu untuk kemudian shalat di mushalla yang berada tak jauh dari lokasi pemandian ini. sedangkan, bagi para ternak, mata air oi hodo juga sebagai surga para kerbau. Kerbau kerbau itu juga akan mandi di kubangan pemandian tesebut. Ada bagian waktu untuk kerbau dan ada bagian waktu untuk manusia.

Mata air Oi Hodo memiliki 2 sumber mata air. Antara keduanya dipisahkan oleh jalan menuju pantai. Mata Airnya deras. Saking derasnya, airny menyembur keluar dari celah bebatuan. Saya tak tahan ingin merasakan deras dan segarnya mata air Oi Hodo.

Mencuci, Mandi di Mada Oi Hodo

Saya ingin membasuh muka setelah 2,5 jam perjalanan dari Kota Dompu. Dingin terasa saat ku usapkan ke wajah untuk berwudhu. Seger dan rasanya juga enak. Saya bersama rombongan PDAM Dompu singgah untuk istirahat dan shalat Dhuhur sebelum melanjutkan trips selanjutnya menuju Satonda.

Saya heran kenapa mata air malah keluar dari celah bebatuan yang berada pinggir pantai, bukan di bawah kaki Gunung Tambora yang jauh di sana.

Mata air selalu identik dengan kawasan puncak, dataran tinggi dan dikelilingi pepohonan yang rindang. PDAM adalah perusahaan yang menjadikan air sebagai bahan baku utama. Tanpa air, pdam tidak bisa menghasilkan. Maka, salah satu program PDAM adalah menjaga kelestarian alam di sekitar sumber mata air.

Namun, mata air Oi Hodo dan Oi Rao adalah salah satu keunikan Dompu. Selain berada di dataran rendah juga tak ada kawasan hutan rindang yang berfungsi untuk menjaga menurunnya debit air. Di sekitar mata air ini, yang ada hanyalah padang sabana yang membentang luas. lalu dari mana datangnya mata air itu, dari Gunung Tambora yang jauh di atas sana. Kalau benar, inilah salah satu anugerah Gunung Tambora bagi Dompu.

Setelah shalat Dhuhur dan Asar (jamak), saya bersama rombongan PDAM langsung bergegas menuju Pulau Satonda. Namun, Direktur PDAM Dompu, Pak Agus mengatakan bahwa kami akan singgah di Mata Air Oi Rao untuk makan siang bersama. Menurut penjelasan Pak Agus, ada 2 mata air lagi yang mata airnya dekat dari pantai. So, ada 3 mata air yang lokasinya berada di pantai.

Wudhu langsung dari Mata air

Tak lama setelah meninggalkan Mata air Oi Hodo, kami memasuki kawasan Gunung Tambora, Padang Savana luas membentang, kering dan terlihat gersang. Maklum, kami melintasi awal bulan September, awal musim hujan. Kepulan debu beterbangan saat melintasi padang tanah tak beraspal. Pak Agus menunjuk awan putih kelabu nan jauh di sana “ Gunung Tambora ada di balik awan itu”. Saya tak melihat tambora yang bersembunyi di balik selimut putihnya, yang ku lihat hanyalah padang sabana luas membentang. Padang Sabana afrika rasa Dompu.

Kami mulai memasuki kecamatan lain yaitu kecamatan Pekat. Di Kecamatan inilah padang sabana membentang luas, Padang Sabana Ndoro Ncanga. Kawasan Gunung Tambora berada di kecamatan Pekat. Karena itu Kecamatan Pekat banyak memiliki sumber mata air.

Padang Sabana Ndoro Ncanga. Inilah pintu gerbang bagi para hiking, para pengelana, para pencari ketinggian. Sebuah pintu gerbang Gunung Tambora sebagai penanda. Setelah melewati padang sabana, kami melihat sebagian tebu-tebu. Tebu-tebu dikelola oleh sebuah perusahaan.

Pabrik Gula pun dibangun di beberapa tempat di kecamatan Pekat. Saat malam, Pabrik-pabrik bercahaya laksana kunang-kunang yang bercahaya di kegelapan malam. Begitu juga, pabrik-pabrik gula tersebut, mereka bercahaya di antara gelapnya padang sabana luas membentang.

Setengah jam lebih (tepatnya 40 menit) kami melintasi padang sabana, kemudian berbelok ke jalanan tanah tak beraspal. Gersang dan kering, panasnya begitu terik. Debu-debu beterbangan, berbelok ke kanan, ke kiri, dan menurun. Ntah lah, saya tak tahu akan dibawa kemana. Pak Agus nyeletuk “kita akan ke arah Mata Air Oi Rao”. “Nanti, di sana kita akan melihat dua air bertemu yaitu antara air laut dan air tawar.” Yang dimaksud pak Agus adalah titik pertemuan antara air laut dengan mata air Oi Rao. Wah seru, kataku menyahut.

Saya ingin menyaksikan bagaimana titik pertemuan dua air ini sebagaimana dituturkan oleh Pak Agus. Rasa asin dan tawar.

Mada Oi Rao

Kami tiba di lokasi mata air Oi Rao pukul 13.26 WITA. Tandanya adalah pepohonan waru yang rindang. Untuk mencapainya, kami harus melewati padang sabana. Mata airnya berada dibalik pepohonan waru tepat berada di tengah-tengah pepohonan waru. Mata airnya muncul dari celah celah akar pepohonan waru. Alirannya deras dan dingin. Ketinggian mata airnya 0 DPL. Dibalik pepohonan waru itulah pantai Rao. Saat kami tiba di sini, tak ada seorang pun warga sekitar yang mengambil air. Hanya rombongan PDAM Dompu. Di sinilah titik pertemuan dua air itu. Asin dan tawar.

Warga kampung yang mengambil air

Mada Oi Rao terletak di Desa Sori Tatanga, Kecamatan Pekat. Mata air Rao dikelilingi oleh Pepohonan warunya meliuk meliuk dan saling bersilang sehingga bisa dijadikan tempat duduk alami.

Saya duduk di salah satu satu batang yang berada di atas mata air. Menyantap makanan yang sudah dibawa dari Dompu. Sambil melihat air yang menyebul dari celah akar pepohonan waru. Deras sekali. Air semilir berhembus, angin laut pun berseliweran…teduhnya pepohonan waru…

Tak lupa, saya ingin merasakan airnya…rasanya seger dan dingin..khas mata air pegunungan. Namun uniknya, mata air Oi Rao berada tak jauh dari pantai. Bukan di pegunungan.

Ketika kami hendak pergi, beberapa warga datang ingin mengambil air menggunakan air menggunakan drigen. Saat ada event “Tambora menyapa Dunia” yang dilaksanakan selama 3 hari.

Mada Oi Rao menjadi penyuplai airnya. Balai Wilayah Sungai merencanakan akan membangun jaringan sistem perpipaan dengan menggunakan sistem perpompaan.

ceritanya sedang pose

karena mata air Oi Rao berada di dataran rendah, Mata Oi Rao tak bisa dialirkan secara gravitasi ke lokasi event Tambora di Pintu Gerbang Doro Ncanga, dimana elevasinya jauh lebih tinggi. Salah satu solusinya adalah menggunakan sistem perpompaan.
Kami melihat sekumpulan kerbau yang dilepas bebas di padang Sabana saat kami pergi hendak meninggalkan Mada Oi Rao.

Satonda Island akan menjadi tujuan perjalanan selanjutnya.
Pulau yang mempunyai danau dibagian tengahnya. Danau yang katanya terbentuk dari letusan gunung purba sebelum letusan Gunung Tambora. Bentuknya Danau segara anak Rinjani…

Advertisements

Paserang, satu di antara delapan

 

Paserang From the Top Hill

Paserang From the Top Hill

Nanjak Bukit Padang Savana

Nanjak Bukit Padang Savana

Paserang. Saya sudah jatuh cinta dengan pulau ini sejak berada di tengah laut. Menyaksikan indahnya mentari sore dari atas laut. Baru kali ini saya menyaksikan mentari terbenam langsung dari tengah laut. Di perairan Selat Alas. Bersama 7 kawan kami.

Mendarat di pulau ini, saya semakin cinta dengan pulau ini. Pulau dengan bukitnya dengan rumput rumput meranggas berwarna kecoklatan dengan ditaburi cahaya senja yang indah.

Pulau Paserang termasuk salah satu pulau dari delapan pulau-pulau yang berada di selat Alas yang lebih dikenal dengan sebutan Gili Balu’. Gili Balu’ itu antara lain P. Belang, P. Kambing, Paserang, Kenawa, Ular, Mandiki, Namo dan Kalong. Gili Balu’ akan dikembangkan menjadi calon kawasan Konservasi perairan daerah pemerintah daerah kabupten Sumbawa Barat (KSB).

Dulu sebelum lalu lintas Lombok Sumbawa menggunakan Kapal Ferry, Paserang pernah menjadi pulau barter-tempat bertemunya pedagang dari pulau Lombok dan pulau Sumbawa. Hingga sekarang, pulau ini dikenal dengan sebutan pulau Pasar/Paserang. Pulau Paserang ini tak berpenghuni layaknya pulau-pulau kecil di Nusa Tenggara Barat.

Kesunyian akan hilang seiring dengan majunya parisawata di Nusa Tenggara Barat. Pemerintah Provinsi NTB sedang giat-giatnya meningkatkan jumlah wisatawan yang akan datang ke NTB. Target 1 juta wisatawan telah terlewati beberapa tahun lalu. Beberapa penerbangan internasional digalakkan. Lombok-Perth dan Lombok-Malaysia. Sayang, pada bulan Oktober 2014, penerbangan Lombok Pert terhenti. Perusahaan penerbangan Jetstar asal australia mengaku rugi karena rendahnya tingkat keterisian pesawat. Pemerintah menilai bahwa perusahaan penerbangan itu mengalami kesulitan keuangan bukan karena load factor. Penutupan penerbangan Lombok Perth berpengaruh kepada jumlah wisatawan asal Australia.

Romantisme padang savana

Romantisme padang savana

Bahkan, Pemerintah daerah akan membantu Jetstar dengan mengalokasikan anggaran sebesar Rp1 miliar sebagai bentuk kerja sama promosi pariwisata melalui perluasan basis pasar.

Namun manajemen Jetstar tetap akan menutup rute Lombok Perth. Pemerintah berusaha menggaet perusahaan lain seperti Garuda dll. Semoga ini menjadi titik terang solusi penerbangan internasional di lombok.

Wisatawan Australia menganggap bahwa Lombok adalah sister island-Bali 1980an. Lombok masih alami dengan alam yang masih terjaga. Kealamian Itulah yang menjadi alasan kenapa Lombok punya daya tarik tersendiri daripada Bali yang terlalu overexploitasi.

Majunya pariwisata lombok juga berpengaruh terhadap pulau-pulau tak berpenghuni termasuk di daerah perairan alas ini. Investor-investor akan melirik pulau-pulau yang masih perawan.

Pulau-pulau tak berpenghuni itu akan dikelola secara profesional. Pemerintah mendapatkan hak penyewaanya. Simbiosis mutualisme. Pulau Kenawa akan dikelola oleh PT ESL sedangkan Pulau Paserang dikelola oleh PT. NOP Perwakilan NTB (Nusantara Oriental Permai).

Sebuah Resor “Paradise Ressort dan Cottage” akan dikembangkan di Paserang dengan 350 Cottage termasuk 90 Cottage dengan konsep Water Villa. Paserang akan dikembangkan menjadi “Maldives” Indonesia. Ada enam Cottage yang sudah dibangun. Kayu-kayu Cottage dan pekerjanya dibawa langsung dari tomohon. Inilah bangunan satu-satunya yang benar asli dari Tomohon yang ada di sumbawa.

Paserang akan menjadi salah satu daya tarik wisatawan. Pulau Paserang berbentuk bulat dengan sebuah bukit yang dikelilingi barisan pasir putih. Terumbu karang yang cantik di sekitar dermaga.Tak hanya itu, Paserang memiliki daya tarik dengan konsep “padang savana “ nya. Rumput-rumput kering meranggas berwarna kecoklatan memanjakan mata.

puncak bukit itu

puncak bukit itu

Semburat warna jingga kemerahan menghiasi langit pulau Paserang. Seorang perempuan setengah baya dan dan beberapa pekerja menyambut kami dan mempersilahkan untuk menempati dua Cottage. Rombongan kami berjumlah 17 orang. Seorang Perempuan itu adalah Tendri Niwik, Direktur PT NOP NTB.

Rombongan kami sebanyak 17 orang akan menginap di dua Cottage malam ini secara gratis. Ya gratis. Hadiah terindah dalam perjalanan kami malam ini. Cottage ini masih gratis karena memang belum dibuka untuk umum. Terima kasih Bu Tendri. Kami akan kembali insyaalloh.

Alhamdulillah malam ini akan menginap di Cottage tanpa springbed setelah sebelumnya kami sudah tidur di atas pasir pototano. Cottage ini belum ada fasilitas air tawar maupun segala fasilitas yang biasanya tersedia di cottage.walaupun seperti itu, fasilitas penerangan sudah ada di pulau ini. ini lah yang terpenting.

air tawar di Paserang sangat mahal karena harus dibawa dari pulau Sumbawa. Air tawar hanya ada di bak penampungan yang hanya dipergunakan untuk keperluan tertentu seperti berwudhu. Air untuk mandi dan buang air besar kami menggunakan air laut.

Berpose

Berpose

Kami melewati malam di pelataran Cottage dengan bermain kartu dan bernyanyi. Kecuali jefry dan Daffa yang akan melewati malam di paserang di pinggir pantai dengan api unggun yang menyala-nyala.

Pagi-pagi buta, langit-langit Sumbawa dihiasi semburan cahaya merah matahari terbit. Sinarnya bersinar menembus kamar Cottage kami. Melewati sela-sela padang savana meranggas kecoklatan. banyak cara kami melewati pagi ini dengan saling bernarsia ria, berteriak-teriak tidak jelas di antara padang savana paserang. Merasakan deburan ombak dengan semilir angin di pagi hari.

Pagi ini, kami menaiki bukit paserang. Dari Puncak bukit, kami lebih leluasa menikmati keindahan pulau paserang dengan padang savananya. Mentari pagi yang memendarkan warna merah menyelimuti paserang pagi ini. saya membayangkan kalau Paradise Ressort dan Cottage sudah semuanya selesai dibangun. Tanah lapang dan pantai pesisir barat Paserang akan dipenuhi Cottage dengan berbagai fasilitas. Dalam hati saya berfikir agar bisa kembali setelah pembangunannya selesai.

Inside of Cottage

Inside of Cottage

Di tepian pantai, dua kawan saya, Jefry dan Daffa sedang berjalan seperti sedang menginjak sesuatu di dalam air. Pagi ini air laut sedang surut sehingga terumbu karang-terumbu karang yang biasanya di dalam laut muncul ke permukaan. Jefry dan Daffa mencari sesuatu dibalik terumbu karang : ikan Sebelah.

Di Pinggiran pantai, saya hanya memperhatikan jefry dan daffa yang sedang mencari ikan sebelah. Beberapa kali Daffa menginjak pasir-pasir agak keras. Jeffry duduk dengan cara jongkok tepat di samping Daffa. Ya begitulah cara mencari ikan sebelah: menginjak-nginjak pasir. Kawan-kawan lain siap siaga untuk mengambil ikan yang yang biasa bersembunyi di balik pasir itu.

Beberapa Daffa dan Jefry berpindah-pindah tempat. Lumayan cukup susah menangkap ikan bertubuh licin. Perjuangan jefry akhirnya terbayarkan setelah beberapa kali berpindah. Ikan berwarna belang dengan bentuk yang cukup unik. Separuhnya badannya berkulit gelap, separuhnya lagi tanpa kulit dengan warna dasar putih. Persis seperti ikan yang separuhnya diambil kulitnya. Inilah keunikan ikan sebelah.

Flatfish atau Ikan sebelah hidup seperti bunglon dengan menyesuaikan warna tubuhnya dengan lingkungannya. Ikan sebelah sering disebut juga sebutan ikan sisa nabi. Orang-orang nelayan Bajo yang saya temui di sana juga menyebutnya sebagai ikan Sisa Nabi.

Alkisah, Nabi musa akan bertemu dengan Nabi Hidir di perbatasan dua laut. Keberadaan Nabi Hidir ditandai dengan hidupnya ikan yang separuh badannya sudah dimakan oleh Nabi Musa tersebut. Itu terjadi saat Nabi Musa beristirahat setelah melakukan perjalanan panjang. Nabi Musa dan pembantunya beristirahat dan kemudian memakan bekal yang dibawanya dari tadi termasuk ikan yang baru dimakan separuhnya. Setelah melepas lelah, Nabi Musa dan Pembantu melanjutkan perjalanan kembali.

Hari ini, di pulau paserang ini saya baru merasakan lezatnya ikan sebelah atau ikan sisa nabi ini. dagingnya sedikit kenyal tapi empuk. Cara memakannya unik: dimulai dari tubuh terluar kedalam seperti seorang yang sedang menguliti daging kambing. Bagi kawan-kawan yang sempat menginap di Paserang, sempatkanlah merasakan lezatnya daging ikan sebelah ini.

Pagi ini, kami akan menikmati hamparan terumbu karang pulau Paserang. Sejak pagi, sebelum kami snorkling. Saya sudah melihat hamparan terumbu karang yang muncul di permukaan. Bagi yang tak ingin berbasah-basahan kita bisa menikmati terumbu karang dari atas Dermaga. Paserang memang menawarkan wisata bahari yang sangat memukau. Terumbu karangnya beragam dan dangkal. Saking dangkalnya, jika kita snorkling kurang berhati-hati, anggota badan kita bisa terluka terkena goresan terumbu karang yang terlalu dangkal.

Bu Tendri Niwik dan anaknya saat menyambangi kami sebelum kami pulang

Bu Tendri Niwik dan anaknya saat menyambangi kami sebelum kami pulang

seorang anak laki-laki Ibu Tendri Niwik, Oki namanya. Dia sedang duduk bersama pekerja di atas darmaga. Oki banyak bercerita tentang keadaan pulau paserang serta progres pembangunan resort di paserang. pagi itu, kami lebih banyak menikmati indahnya terumbu karang di sekitar dermaga. Melihat kawan-kawan kami yang mengejar penyu yang berenang dan merasakan deburan ombaknya. Melihat arus laut yang memutar-mutar tak jauh dari tempat snorkling. Arus laut yang cukup membayakan bagi snorkler pemula seperti saya. para snorkler kadang sering tak sadar bahwa dia telah dibawa ke tengah laut. Tau-tau kita sudah berada di tengah laut.

“Cottage ini dibuat oleh orang Tomohon asli. Mereka langsung dibawa dari sana. Kayu-kayunya juga dibawa langsung dari Tomohon. Kayu-kayunya berasal kayu besi. Atapnya juga berasal kayu besi. Kayu besi ini bisa bertahan 50 tahun dan tahan terhadap segala cuaca”, kata Oki yakin. Bahkan, Istana Kerajaan Sumbawa terbuat dari Kayu, imbuhnya. Saya hanya mengangguk mengiyakan semua jawabannya. Kayu Besi memang merupakan salah satu yang kuat terhadap Cuaca: Panas dan Hujan. Di Tomohon sana, Kayu besi banyak digunakan untuk membuat kapal-kapal Phinisi yang terkenal seantero dunia.

Dari Dermaga, saya merasakan desiran angin laut sambil memandangi pulau kambing dan pulau Belang yang bersebelahan. di Pulau Belang banyak danau-danau air asin yang berada di tengah-tengah pulau. Itu lah penjelasan yang kami dapatkan dari anak perempuan Ibu Tendri. Bahkan kami disuruh agar menyempatkan pergi ke pulau belang melihat laguna-lagunanya dan merasakan masakan-masakan lautnya yang lezatnya. Akh mungkin suatu saat saya bisa mengunjungi laguna-laguna seperti yang disarankan.

Saat matahari sedang teriknya, Ibu Tendri Niwik, Direktur PT NOP mendekati kami yang sedang berkemas-kemas untuk meninggalkan paserang. Bu Tendri datang bersama anak perempuannya lengkap dengan topi khas pantainya. Beliau berpesan bahwa “kalau ada orang atau wartawan tanya apakah kami menarik tarif atau tidak. Bilang aja tidak. Cottage ini masih gratis karena memang dibuka kepada umum.” Di Sumbawa Barat ini ada delapan gili “Gili Balu’ ,“imbuhnya. Di sana ada pulau tikus-maksudnya pulau Kenawa karena bentuknya seperti tikus, katanya sambil telunjuknya menuding nuding pulau kenawa. Memang, ketika pulau Kenawa dilihat dari Google Maps seperti tikus. Tikus raksasa. Masyarakat Sumbawa terbiasa menyebut pulau Kenawa dengan sebutan pulau tikus.

Di sisi barat pulau Paserang, ada dua pulau yang saling bersebelahan: Pulau Belang dan Pulau Kambing. jaraknya dari paserang juga tak terlalu. Ntah lah apakah Pulau kambing juga dinamai sesuai bentuknya yang seperti kambing. “kalau ke sini, sekalian aja main ke Pulau Belang, di sana banyak ikan-ikan enak dan murah-murah seperti Kepiting dan Gurita. 20 ribu sampai 30 ribu dah kenyang tuh. Di pulau Belang juga ada laguna-lagunanya. Mending pulangnya sekalian mampir sana, nanggung dah ke sini” kata anak perempuan Bu Tendri mengiming-imingi kami. Akh sayang, batinku. informasi tersebut hanya membuat kami penasaran saja. Semoga suatu saat nanti kita bisa kembali ke sini dan mampir ke pulau Belang.

Di depan Cottage kami, ada gubug kecil yang terletak di tengah-tengah padang rumput. Gubug kecil milik nelayan suku Bajo yang mencari ikan di pulau Paserang. di gubug kecil itu, mereka bisa beristirahat, makan, dan shalat. Di samping gubug itu, kawan-kawan kami sedang membakar ikan Sebelah yang ditangkap tadi pagi. Bumbu-bumbunya kami minta kepada nelayan Suku Bajo tersebut. Mereka selalu datang setiap pagi ke Paserang dan kembali ke Pulau Sumbawa di siang hari. Gubug suku bajo ini memang sengaja dibiarkan oleh pihak pengelola. “yang penting mereka tidak mengganggu kami,” kata Ibu Tendri.

Saat perahu kami meninggalkan pulau paserang, Agus sang nakoda perahu menanyai seperti apa yang telah diperingatkan oleh Ibu Tendri. Matanya menyelidik. Tatapan tajam. “Kalian ditarik bayaran ngak?kalau kalian ditarik bayaran oleh Mereka, laporkan kepada kami,” agus memastikan bahwa kami benar-benar tak ditarik bayaran. “Mereka itu dah mangkir. Kerjasama sejak dulu tapi baru dibangun sekarang,” imbuhnya tegas. Papan informasi di Pulau Paserang memang menunjukkan bahwa PT NOP menjadi pengelola satu-satunya di Paserang sejak tahun 2012.

pertanyaan-perntayaan yang membuatku bingung. Bukankah sah sah saja seandainya pihak pengelola pulau paserang menarik bayaran kepada wisatawan yang menginap di Cottage-nya. Kan mereka yang membangun. Akh saya semakin tak mengerti. Ada apa?.

Pak Agus bercerita bahwa dulunya dia juga pegawai di PT NOP. “Setahun lalu, saya juga bekerja di sana pak, tapi saya keluar. Ngak enak, saya harus menginap di paserang. keluarga saya di sumbawa Pulang seminggu sekali, gajinya pun kecil. Tak cocoknya mas, makanya saya lebih baik sewa perahu aja” katanya kepada kami saat perahu kami melintasi selat alas meninggalkan Pulau Paserang. setelah itu kami cenderung diam sesekali bercanda. Memotret indahnya pasir putih sumbawa dan memandangi pulau Paserang yang akan kami tinggalkan

Paserang. Saya sudah jatuh cinta dengan pulau ini sejak berada di tengah laut. Menyaksikan indahnya mentari sore dari atas laut. Baru kali ini saya menyaksikan mentari terbenam langsung dari tengah laut. Di perairan Selat Alas. Bersama 7 kawan kami. Berlabuh di pulau ini, saya semakin cinta dengan pulau ini. Pulau dengan bukitnya dengan rumput rumput meranggas berwarna kecoklatan dengan ditaburi cahaya senja yang indah.

Pulau Paserang termasuk salah satu pulau dari delapan pulau-pulau yang berada di selat Alas yang lebih dikenal dengan sebutan Gili Balu’. Gili Balu’ itu antara lain P. Belang, P. Kambing, Paserang, Kenawa, Ular, Mandiki, Namo dan Kalong. Gili Balu’ akan dikembangkan menjadi calon kawasan Konservasi perairan daerah pemerintah daerah kabupten Sumbawa Barat (KSB).

Dulu sebelum lalu lintas Lombok Sumbawa menggunakan Kapal Ferry, Paserang pernah menjadi pulau barter-tempat bertemunya pedagang dari pulau Lombok dan pulau Sumbawa. Hingga sekarang, pulau ini dikenal dengan sebutan pulau Pasar/Paserang. Pulau Paserang ini tak berpenghuni.

Kesunyian akan hilang seiring dengan majunya parisawata di Nusa Tenggara Barat. Pemerintah Provinsi NTB sedang giat-giatnya meningkatkan jumlah wisatawan yang akan datang ke NTB. Target 1 juta wisatawan telah terlewati beberapa tahun lalu. Beberapa penerbangan internasional digalakkan. Lombok-Perth dan Lombok-Malaysia. Sayang, pada bulan Oktober 2014, penerbangan Lombok Pert terhenti. Perusahaan penerbangan Jetstar asal australia mengaku rugi karena rendahnya tingkat keterisian pesawat. Pemerintah menilai bahwa perusahaan penerbangan itu mengalami kesulitan keuangan bukan karena load factor. Penutupan penerbangan Lombok Perth berpengaruh kepada jumlah wisatawan asal Australia.

Bahkan, Pemerintah daerah akan membantu Jetstar dengan mengalokasikan anggaran sebesar Rp1 miliar sebagai bentuk kerja sama promosi pariwisata melalui perluasan basis pasar.

Namun manajemen Jetstar tetap akan menutup rute Lombok Perth. Pemerintah berusaha menggaet perusahaan lain seperti Garuda dll. Semoga ini menjadi titik terang solusi penerbangan internasional di lombok.

Wisatawan Australia menganggap bahwa Lombok adalah sister island-Bali 1980an. Lombok masih alami dengan alam yang masih terjaga. Kealamian Itulah yang menjadi alasan kenapa Lombok punya daya tarik tersendiri daripada Bali yang terlalu overexploitasi.

Majunya pariwisata lombok juga berpengaruh terhadap pulau-pulau tak berpenghuni termasuk di daerah perairan alas ini. Investor-investor akan melirik pulau-pulau yang masih perawan.

Pulau-pulau tak berpenghuni itu akan dikelola secara profesional. Pemerintah mendapatkan hak penyewaanya. Simbiosis mutualisme. Pulau Kenawa akan dikelola oleh PT ESL sedangkan Pulau Paserang dikelola oleh PT. NOP Perwakilan NTB (Nusantara Oriental Permai).

Sebuah Resor “Paradise Ressort dan Cottage” akan dikembangkan di Paserang dengan 350 Cottage termasuk 90 Cottage dengan konsep Water Villa. Paserang akan dikembangkan menjadi “Maldives” Indonesia. Ada enam Cottage yang sudah dibangun. Kayu-kayu Cottage dan pekerjanya dibawa langsung dari tomohon. Inilah bangunan satu-satunya yang benar asli dari Tomohon yang ada di sumbawa.

Paserang akan menjadi salah satu daya tarik wisatawan. Pulau Paserang berbentuk bulat dengan sebuah bukit yang dikelilingi barisan pasir putih. Terumbu karang yang cantik di sekitar dermaga.Tak hanya itu, Paserang memiliki daya tarik dengan konsep “padang savana “ nya. Rumput-rumput kering meranggas berwarna kecoklatan memanjakan mata.

Semburat warna jingga kemerahan menghiasi langit pulau Paserang. Seorang perempuan setengah baya dan dan beberapa pekerja menyambut kami dan mempersilahkan untuk menempati dua Cottage. Rombongan kami berjumlah 17 orang. Seorang Perempuan itu adalah Tendri Niwik. Direktur PT NOP NTB.

Rombongan kami sebanyak 17 orang akan menginap di dua Cottage malam ini secara gratis. Ya gratis. Hadiah terindah dalam perjalanan kami malam ini. Cottage ini masih gratis karena memang belum dibuka untuk umum. Terima kasih Bu Tendri. Kami akan kembali insyaalloh.

Alhamdulillah malam ini akan menginap di Cottage tanpa springbed setelah sebelumnya kami sudah tidur di atas pasir pototano. Cottage ini belum ada fasilitas air tawar maupun segala fasilitas yang biasanya tersedia di cottage.walaupun seperti itu, fasilitas penerangan sudah ada di pulau ini. ini lah yang terpenting terutama untuk mengecharge alat komukasi kami yang sudah mati.

air tawar di Paserang sangat mahal karena harus dibawa dari pulau Sumbawa. Air tawar hanya ada di bak penampungan yang hanya dipergunakan untuk keperluan tertentu seperti berwudhu. Air untuk mandi dan buang air besar kami menggunakan air laut.

Kami melewati malam di pelataran Cottage dengan bermain kartu dan bernyanyi. Kecuali jefry dan Daffa yang akan melewati malam di paserang di pinggir pantai dengan api unggun yang menyala-nyala.

Pagi-pagi buta, langit-langit Sumbawa dihiasi semburan cahaya merah matahari terbit. Sinarnya bersinar menembus kamar Cottage kami. Melewati sela-sela padang savana meranggas kecoklatan. banyak cara kami melewati pagi ini dengan saling bernarsia ria, berteriak-teriak tidak jelas di antara padang savana paserang. Merasakan deburan ombak dengan semilir angin di pagi hari.

Pagi ini, kami menaiki bukit paserang. Dari Puncak bukit, kami lebih leluasa menikmati keindahan pulau paserang dengan padang savananya. Mentari pagi yang memendarkan warna merah menyelimuti paserang pagi ini. saya membayangkan kalau Paradise Ressort dan Cottage sudah semuanya selesai dibangun. Tanah lapang dan pantai pesisir barat Paserang akan dipenuhi Cottage dengan berbagai fasilitas. Dalam hati saya berfikir agar bisa kembali setelah pembangunannya selesai.

Mencari Ikan

Mencari Ikan

Di tepian pantai, dua kawan saya, Jefry dan Daffa sedang berjalan seperti sedang menginjak sesuatu di dalam air. Pagi ini air laut sedang surut sehingga terumbu karang-terumbu karang yang biasanya di dalam laut muncul ke permukaan. Jefry dan Daffa mencari sesuatu dibalik terumbu karang : ikan Sebelah.

Di Pinggiran pantai, saya hanya memperhatikan jefry dan daffa yang sedang mencari ikan sebelah. Beberapa kali Daffa menginjak pasir-pasir agak keras. Jeffry duduk dengan cara jongkok tepat di samping Daffa. Ya begitulah cara mencari ikan sebelah: menginjak-nginjak pasir. Kawan-kawan lain siap siaga untuk mengambil ikan yang yang biasa bersembunyi di balik pasir itu.

Beberapa Daffa dan Jefry berpindah-pindah tempat. Lumayan cukup susah menangkap ikan bertubuh licin. Perjuangan jefry akhirnya terbayarkan setelah beberapa kali berpindah. Ikan berwarna belang dengan bentuk yang cukup unik. Separuhnya badannya berkulit gelap, separuhnya lagi tanpa kulit dengan warna dasar putih. Persis seperti ikan yang separuhnya diambil kulitnya. Inilah keunikan ikan sebelah.

Flatfish atau Ikan sebelah hidup seperti bunglon dengan menyesuaikan warna tubuhnya dengan lingkungannya. Ikan sebelah sering disebut juga sebutan ikan sisa nabi. Orang-orang nelayan Bajo yang saya temui di sana juga menyebutnya sebagai ikan Sisa Nabi.

Alkisah, Nabi musa akan bertemu dengan Nabi Hidir di perbatasan dua laut. Keberadaan Nabi Hidir ditandai dengan hidupnya ikan yang separuh badannya sudah dimakan oleh Nabi Musa tersebut. Itu terjadi saat Nabi Musa beristirahat setelah melakukan perjalanan panjang. Nabi Musa dan pembantunya beristirahat dan kemudian memakan bekal yang dibawanya dari tadi termasuk ikan yang baru dimakan separuhnya. Setelah melepas lelah, Nabi Musa dan Pembantu melanjutkan perjalanan kembali.

Hari ini, di pulau paserang ini saya baru merasakan lezatnya ikan sebelah atau ikan sisa nabi ini. dagingnya sedikit kenyal tapi empuk. Cara memakannya unik: dimulai dari tubuh terluar kedalam seperti seorang yang sedang menguliti daging kambing. Bagi kawan-kawan yang sempat menginap di Paserang, sempatkanlah merasakan lezatnya daging ikan sebelah ini.

Pagi ini, kami akan menikmati hamparan terumbu karang pulau Paserang. Sejak pagi, sebelum kami snorkling. Saya sudah melihat hamparan terumbu karang yang muncul di permukaan. Bagi yang tak ingin berbasah-basahan kita bisa menikmati terumbu karang dari atas Dermaga. Paserang memang menawarkan wisata bahari yang sangat memukau. Terumbu karangnya beragam dan dangkal. Saking dangkalnya, jika kita snorkling kurang berhati-hati, anggota badan kita bisa terluka terkena goresan terumbu karang yang terlalu dangkal.

seorang anak laki-laki Ibu Tendri Niwik, Oki namanya. Dia sedang duduk bersama pekerja di atas darmaga. Oki banyak bercerita tentang keadaan pulau paserang serta progres pembangunan resort di paserang. pagi itu, kami lebih banyak menikmati indahnya terumbu karang di sekitar dermaga. Melihat kawan-kawan kami yang mengejar penyu yang berenang di Merasakan deburan ombaknya. Melihat arus laut yang memutar-mutar tak jauh dari tempat snorkling. Arus laut yang cukup membayakan bagi snorkler pemula seperti saya. Sehingga para snorkler pemula tak sadar bahwa dia telah dibawa ke tengah laut.

Dari Dermaga, saya merasakan desiran angin laut sambil memandangi pulau kambing dan pulau Belang yang bersebelahan. di Pulau Belang banyak danau-danau air asin yang berada di tengah-tengah pulau. Itu lah penjelasan yang kami dapatkan dari anak perempuan Ibu Tendri. Bahkan kami disuruh agar menyempatkan pergi ke pulau belang melihat laguna-lagunanya dan merasakan masakan-masakan lautnya yang lezatnya. Akh mungkin suatu saat saya bisa mengunjungi laguna-laguna seperti yang disarankan.

Saat matahari sedang teriknya, Ibu Tendri Niwik, Direktur PT NOP mendekati kami yang sedang berkemas-kemas untuk meninggalkan paserang. Bu Tendri datang bersama anak perempuannya dengan topi khas pantainya. Beliau share dan cerita banyak kepada rombongan kami. Beliau bercerita bahwa Cottage ini masih gratis karena memang dibuka kepada umum. Beliau juga berpesan bahwa “kalau ada orang atau wartawan bertanya apakah kami menarik tarif. Bilang aja tidak. Kami sampai dengan saat ini belum menarik bayaran kepada wisatawan yang menginap di tempat kami, imbuhnya.

saat perahu kami meninggalkan pulau paserang, Agus sang nakoda perahu menanyai seperti apa yang telah diperingatkan oleh Ibu Tendri. Kalian ditarik bayaran tidak?kalau kalian ditarik bayaran oleh Mereka, laporkan kepada kami. Ada pertanyaan-perntayaan yang membuatku bingung. Bukankah sebetulnya seandainya pihak pengelola pulau paserang menarik bayaran kepada wisatawan yang menginap di Cottage-nya. Tapi kenapa seakan-akan ketika pihak pengelola menarik bayaran, mereka akan disalahkan bahkan dilaporkan. Ada apa?..

Pak Agus bercerita bahwa dulunya dia juga pegawai di PT NOP. “Setahun lalu, saya juga bekerja di situ pak, tapi saya keluar. Ngak enak, saya harus menginap di paserang. keluarga saya di sumbawa Pulang seminggu sekali, gajinya pun kecil. Tak cocoknya mas,” katanya kepada kami saat perahu kami melintasi selat alas meninggalkan Pulau Paserang.