Menyusuri Padang Savana Pulau Kenawa

Hiruk pikuk Poto tano yang terhenti

Hiruk pikuk Poto tano yang terhenti

Jembatan Pelabuhan Poto Tano

Jembatan Pelabuhan Poto Tano

Pagi ini kami harus segera beranjak menuju perjalanan selanjutnya yaitu Kenawa dan Paserang. Kalau tadi malam kami melewati jalan setapak, maka pagi ini kami akan berjalan menyusuri pesisir pantai yang membentang dari Mercusuar hingga ke Pelabuhan Tano, melewati padang rumput bunga berwarna kuning kecoklatan. Padang rumput berduri yang biasanya tumbuh di pesisir pantai. Langit pagi ini begitu cerah dengan lembayung senja. Awan terbang rendah di atas pelabuhan Poto Tano.

Pelabuhan Poto Tano berada di kawasan teluk Tano yang dikelilingi perbukitan-perbukitan berwarna kecoklatan. Poto Tano pagi ini terdiam, ombak pun tenang dengan diliputi pagi yang tenang. Pelabuhan Poto Tano nampak sepi dan lengang menawarkan pesona tersendiri. Kalau dilihat dari atas bukit, Poto tano akan menawarkan panorama indah di kawasan teluk yang berbentuk seperti bulan sabit separuh lingkaran. Matahari terbit muncul di balik bukit-bukit sumbawa dengan temaram warna jingga .

Bunga-bunga yang berbunga di bulan Oktober- Desember mulai bermunculan dengan aneka warna. Kebanyakan didominasi warna merah sepadan dengan tiang-tiang koridor jalan yang dicat berwarna merah. Di kejauhan sana, Desa Poto tano lengkap lanscape bukit kecoklatannya terlihat asri. Saya menyukai Pelabuhan Poto tano di waktu pagi pada bulan oktober. Di saat bunga itu sedang bermekaran. Saat air laut sedang surutnya. Hiruk pikuk pelabuhan tak kami jumpai di pelabuhan ini. ini lah pelabuhan terapik yang pernah saya liat dengan lanscape yang memanjakan mata.

 

Melintasi selat alas

Melintasi selat alas

Seeorang lelaki setengah baya dengan badannya yang tegap mendekati saya yang berjalan seorang diri dengan setengah buru-buru mengejar kawan yang sudah tiba duluan di sebuah warung di pojokan terminal pelabuhan. “mas, ojek mas, katanya. Dia kemudian meninggalkan saya setelah melihat gelengan kepalaku. Kami akan menyeberang ke Pulau Kenawa dan Paserang menggunakan satu kapal untuk mengangkut rombongan kami yang berjumlah 17 orang. Daya tampung perahu tak cukup mengangkut kami sekaligus. Sehingga kami diangkut secara bergantian. Rencananya kami akan menginap di Pulau Paserang. Tujuan pertama kami adalah Kenawa. Si Pulau Tikus itu.

untuk mencapai Pulau Kenawa satu-satunya cara adalah menyewa perahu. Tarif sewa perahu biasanya tergantung banyaknya penumpang. Bisa Rp150.000 hingga Rp350.000 dengan waktu tempuh sekitar 50 menit. Sepanjang perjalanan dari pelabuhan hingga pulau Kenawa, saya hanya melihat bukit-bukit gersang kecoklatan, pasir-pasir putih dan air laut yang berwarna biru dengan gradasi warnanya. Dari kejauhan, Pulau Kenawa menawarkan pesonanya dengan gradasi warna air lautnya. Meneduhkan.

Menginjakkan kaki di Pulau Kenawa, pulau ini seakan memperjelas tentang keberadaannya. Gersang dan tak berpenghuni. Bukitnya gundul berwarna kecoklatan. begitu kontras dengan pemandangan alamnya. Pulau Kenawa seperti pulau telah lama ditinggal pemiliknya. Beberapa berugak berdiri di sepanjang pesisir pulau. Bahkan, hampir mengelilingi pulau ini. Berugak-berugak itu katanya dibangun oleh pemerintah kemudian dibiarkan begitu saja. sebagian atapnya sudah banyak yang bolong. Terbang bersama angin. Satu-satunya tower penampung airnya karatan. Penampung airnya tak ada sama sekali. Kosong tak berbekas.

Pulau Kenawa sudah disewakan kepada perusahaan asal Swedia yang bernama PT. Eco Solutions Lombok (ESL) selama 30 tahun. Tapi, hingga saat ini Perusahaan Swedia ini juga belum beroperasi. Pulau dengan luas 13,8 hektar ini memiliki panorama alam yang indah menjadi incaran para investor: Bukit yang berada di sisi utara pulau, pasir putih dengan terumbu karang yang masih alami.

 

Bersiap-siap landing di pulau Kenawa

Bersiap-siap landing di pulau Kenawa

Investor-investor anyar dalam dunia pariwisata di Provinsi Nusa Tenggara Barat memang banyak. Pariwisata di Lombok dan Sumbawa sedang tumbuh-tumbuhnya. Target satu juta wisatawan yang ditergetkan oleh Gubernur sudah tercapai beberapa tahun yang lalu. Pemerintah-pemerintah daerah belum siap. Investor yang datang, langsung diberikan hak pengelolaan. Ijin-ijin diobral. Conflict of interest pun tak terelakkan. Perwakilan daerah pun ikut-ikutan meradang. “Bupati sebaiknya tidak mengobral obral perijinan pengelolaan pulau, kata perwakilan rakyat di salah satu media lokal. Lihat pulau-pulau ini ijin sudah dikeluarkan tapi tak ada aktivitas sama sekali, tambahnya.” Dan hari ini, saya menyaksikan geliat Pulau Kenawa yang jalan di tempat.

Jika kita berada di tengah-tengah pulau Kenawa atau berada di atas bukit. Kita akan memandangi rerumputan kering berwarna kecoklatan bercampur dengan warna hijau. Bukit Kenawa itu gersang Meranggas bercampur dengan teriknya panas mentari. Tak ada rumput sekalipun. Pulau kenawa pernah terbakar tiga bulan lalu sekitar tanggal 3 agustus 2014. Ntah lah terbakar oleh proses kimiawi alam karena gesekan gesekan rerumputan kering atau sengaja dibakar oleh orang-orang yang tak berkepentingan.

Padang Savana Kenawa di musim kemarau tergantikan oleh bukit gundul bulat laksana rambut kepala yang dicukur plontos. Tiga bulan telah berlalu. Rerumputan itu mulai tumbuh lagi. Berpola dan berbentuk sedemikian rupa. Berbentuk satu ikatan rumput laksana padi dengan jarak yang seragam. Keajaiban yang saya saksikan dengan mata kepala sendiri. Heran bercampur takjub. Bingung hingga pertanyaan-pertanyaan liar mengalir begitu saja di fikiranku. Kug bisa?, Biarlah pola dan bentuk rumput rumput ini menggelayut di otakku. Sebagai kenangan dari pulaunya padang Savana.

terkapar kecapean di berugak

terkapar kecapean di berugak

Nama Pulau Kenawa berasal dari Pohon Kenawa yang tumbuh subur di sisi barat pulau. Pohon Kenawa ini hanya tumbuh di salah satu sisi pulau ini. Dan saya tidak menemukannya tumbuh di sisi lainnya dari pulau kenawa ini. saya tidak tahu kenapa hanya tumbuh di sisi baratnya saja. Apakah di sisi barat pulau ini relatif subur, saya juga belum bisa memastikannya, ataukah Pohon Kenawa sendiri memiliki karasteristik tersendiri sehingga hanya tumbuh bagian tertentu saja?. Pertanyaan-pertanyaan liar ini akhirnya terjawab oleh kawan saya, Baktiar Sontani namanya. Itu lah satu pengetahuan survival der-mengenal lingkungan untuk bertahan hidup, katanya saat memberikan komentar di salah satu statusku.

Di sisi barat pulau Kenawa, langsung berbatasan dengan pulau Sumbawa dengan jarak lumayan dekat. sedangkan di sisi lainnya, tak ada pulau-pulau yang berbatasan secara langsung. Pohon-pohon biasanya tumbuh subur di daerah yang lebih terlindungi seperti karena di depannya ada pulau atau gugusan atol yang menyebabkan pepohonan terlindungi dari gelombang besar.

Pulau Kenawa ini banyak dikenal dengan sebutan Pulau Tikus. Masyarakat sekitarnya lebih familiar dengan sebutan Pulau Tikus. Sebutan itu bukan karena pulau kenawa banyak dihuni oleh tikus-tikus besar. Tapi karena Pulau Kenawa terlihat seperti seekor tikus jika dilihat dari kejauhan. Baik dari Pelabuhan Poto Tano maupun dari Pulau Paserang.

Tiba di pulau ini, kami langsung tepar di Berugak salah sudut di bagian barat laut pulau Kenawa. Berbatasan langsung dengan pepohonan Kenawa di sisi barat pulau. Di Luar, Panas begitu menyengat di pulau yang hanya ditumbuhi rerumputan ini. Angin sepoi-sepoi berhembus kencang dari pepohonan Kenawa membuat kami males beranjak dari berugak yang sebagian atapnya bolong. Atapnya terbuat dari rumah adat khas Sumbawa yaitu: Bambu yang dibentuk sedemikian rupa.

 

Rerumputan Kenawa yang terlihat dari Bukit Kenawa

Rerumputan Kenawa yang terlihat dari Bukit Kenawa

Perjalanan malam dari Mataram ke Kayangan kemudian menyeberang ke Poto Tano. Di sana lah kami terdampar di sekitar Mercusuar Poto Tano dengan beralaskan pasir dan beratapkan langit dengan taburan bintang. Kami baru bisa sedikit berisitirahat jam 03.00 pagi. Capek tak terperi. Siang ini adalah pembalasannya. Istirahat melepaskan penat. Perutku mulai keroncongan, rasa kantukku terkalahkan oleh rasa lapar. Bekal satu bungkus nasi seharga Rp10.000,00 yang dibeli di Pelabuhan Poto tano. Hampir semuanya membawa bekal nasi kecuali om Jefry. Om Jefry sudah siap backpacking dengan cara survival. Wajan, kompor gas, lengkap dengan makanan dan bumbunya sudah dibawanya. Makanan-makanan itu sekarang sudah siap diracik oleh Chef Jefry.

Istirahat bergeser menjadi permainan. Permainan lebih seru daripada sekedar tidur istirahat di berugak. Entah siapa yang memulai di antara kami, Permainan kartu dimulai secara bergantian: Jendral dan 7up. Yang kalah, wajahnya dicoret-coret menggunakan arang hitam oleh yang lain. Wajah yang awalnya bersih bercampur lesu menjadi belang-belang hitam dengan menanggung malu. Yang paling sering kalah adalah Tri Prasetyo. Wajahnya paling banyak coretannya. tak lupa Sandy, kawan sepermainannya mengabadikannya dalam kamera Hp, untuk kemudian diupload di sosial media. Begitu lah kami meluapkan rasa capek. Bercanda, bermain, kemudian tertawa lepas bersama. Saling ejek adalah hal biasa, tak perlu Saling mengular benci dan memupuk kedengkian. Yang kalah maupun yang menang sama-sama tertawa. itu lah kami dan Itulah tujuannya.

IMG_0137

Pose terbaik

Pose terbaik

Di tengah-tengah berugak, Satria Ahmadi memetik-memetik gitar kesayangannya melentingkan suara emasnya dengan referensi lagu-lagu yang segudang. Di antara kami, satria adalah vokalis sekaligus gitaris dan paling banyak hafal lagu-lagu. Dangdut hingga barat, India hingga Jepang. Lagu cinta atau lagu lucu-lucu. Itulah Satria dengan segala keunikannya.

Hampir satu jam, kami beristirahat. Jefry dan Daffa sudah snorkling sejak tadi. Kami masih terkapar di salah satu berugak bolong dengan muatan manusia lebih dari selusin. Tak afdal rasanya, jauh-jauh ke Kenawa tapi tak menyicipi indahnya taman laut di Pulau Kenawa. Satu persatu di antara kami akhirnya turun nyebur ke laut lengkap perlengkapan snorkling. Hanya beberapa saja yang memang tak hobi dan tak bisa berenang. Perlengkapan snorkling kami bawa sendiri. Di Kenawa tak ada penyewaan alat snorkling. Jangan kan penyewaan alat snorkling. Pulaunya saja tak berpenghuni.

 

Begibung alias makan bersama

Begibung alias makan bersama

Keindahan varietas terumbu karang yang beranika ragam dengan corak warna warni, baik yang hard corals maupun yang soft corals seperti karang meja-table corals, Brain Corals, dan Cabbage Corals.Varietas terumbu karang yang saya temui adalah soft corals laksana pepohonan dan dedauanan yang melambai-lambai saat ada arus air atau ada ikan-ikan berenang-renang di sekitarnya. berbagai jenis ikan terumbu karang dengan warna-warna cerah memperindah taman-taman laut di sisi selatan pulau Kenawa. Ikan-ikan badut yang bersembunyi di balik anemon-anemon yang melambai-lambai. Yang mengagetkan saya adalah ini: sekumpulan ikan-ikan kecil yang jumlahnya ratusan bahkan ribuan berenang ke sana ke mari menabrakkan tubuhnya dengan tubuhku.

Ada rasa takjub saat melihatnya. Heran sekaligus bingung. Ikan apakah ini?. sayang, saya tak punya kamera underwater untuk merekam gerak-gerik ikan-ikan kecil yang menggodaku. Menabrakkan diri dengan betis, kaki dan tubuh serta pelampungku yang masih kuat menempel di tubuh ku.

Semua keindahan itu terekam dalam ingatan kami. Tak cukup itu, Indrayana juga mengabadikan momen bawah air itu. Di antara kami, ada dua orang yang membawa kamera anti air. Kanjeng Mami Rahma dan Indrayana. Mereka berdualah yang bertugas untuk mengabadikan. Baik video maupun capture foto.

Semoga ikan-ikan kecil yang menggodaku bukan karena alasan pelampungku yang masih menempel kuat di tubuhku!!!.

siap-siap meninggalkan Kenawa

siap-siap meninggalkan Kenawa

Romantisme Air Terjun Kerta Gangga Dusun Kerta

Air Terjun Kerta Gangga menyembul di balik rindangnya pepohonan

Air Terjun Kerta Gangga menyembul di balik rindangnya pepohonan

Lombok Utara dikelilingi oleh Gunung, Bukit dan Laut. Ibukotanya berada di antara bukit dan laut. Lombok utara bisa ditempuh dengan menggunakan jalur perbukitan pusuk pass atau melalui jalur Senggigi dengan hamparan pantai yang berpasir putih. Karena Lombok utara diapit oleh pegunungan dan pantai, profesi penduduknya tak jauh dari nelayan atau petani. Saat musim hujan tiba, hamparan sawah membentang luas di bawah bukit-bukit. Padi tumbuh subur. Jika menanam padi, maka rumput pun akan ikut tumbuh. Tapi jika menanam rumput, jangan berharap padi akan ikut tumbuh.

Perjalanan ke air terjun Kerta Gangga, terlihat petani-petani menyiangi dan mencabuti rumput-rumput sawah. Di sisi kanan jalan, Gunung Agung terlihat samar-samar di balik awan dan kabut. Kata Jauh telah menghalangi jarak pandangnya. Gunung Agung menjulang tinggi samar berada di balik pohon-pohon yang berbaris di punggung-punggung sawah. Seorang petani menunduk sambil menanam padi. Wajahnya tertutup caping kayunya. Sabit pencabut rumput berukuran kecil tersembul dari balik pinggulnya. Petani dan samarnya Gunung Agung di sawah-sawah Lombok Utara.

Petani mencabuti rumput sawah dengan latar gunung Agung Bali yang samar-samar

Petani menanam padi dengan latar gunung Agung Bali yang samar-samar

Di sisi kanan jalan, Petani-petani lain bergotong royong membersihkan rumput-rumput sawah. Bergerak bersama-sama maju mundur. Sesekali meluruskan punggung. Alatnya terbuat dari kayu. Pangkalnya sebagai pegangan. Ujungnya berupa kayu berbentuk segi empat. Tak jauh dari komplek persawahan, pantai berpasir putih dengan laut berwarna kebiruan berada di balik pohon kelapa yang berbaris rapi.

Berjalan menyusuri persawahan-persawahan hijau. Pohon kelapa yang melambai-lambai. Angin berhembus sedang. Menambah kesejukan saat menyusuri jalanan yang tak begitu ramai. Berbelok kanan kiri menyusuri jalan. memasuki Dusun Kerta, Desa Genggelang. Pintu gerbang menuju kawasan “Air Terjun Kerta Gangga” terlihat jelas dan baru. Pohon kelapa menjulang melambai-lambai. Saat menuju kawasan wisata air terjun ada garis batas yang jelas. Jalanan yang halus berubah menjadi jalanan beraspalkan tanah yang bergelombang. Pintu gerbang air terjun Kerta Gangga menjadi garis batasnya. Siapa yang memisahkan ini. siapa yang menciptakan pelosok negeri yang berbeda-beda ini.

Petani bergotong royong membersihkan rumput-rumput sawah

Petani bergotong royong membersihkan rumput-rumput sawah

Jalan yang beraspalkan tanah dengan sebagian batu-batu menyembul. Kubangan air yang tergenang. Semua itu bertolak belakang dengan pohon-pohon kelapa yang berbaris rapi, Pohon-pohon rindang yang menyejukkan.  anak-anak lugu riang gembira bermain sepeda di jalanan yang bergelombang.

Di bawah pohon-pohon rindang dengan segarnya desiran angin pedesaan. Di kanan kiri jalan, Penduduk Kerta memukul batu-batu kali yang berukuran besar. Pria dan Wanita sama-sama bekerja. emansipasi wanita telah lahir sejak dari nenek moyang kampung Kerta. Mereka tak diajarkan emansipasi di kampus-kampus atau workshop-workshop. Para wanita di kampung Kerta ini tak mengenal emansipasi. Wanita sama-sama bekerja membelah batu-batu keras agar bisa mendapatkan sesuap nasi. Ini adalah masalah perut.

Kampung Kerta dialiri air terjun Kerta Gangga di atas sana. Kampung Kerta Gangga mendapatkan berkahnya air terjun Kerta Gangga. berkahnya Gunung Rinjani. Berkahnya kampung di dekat kawasan pegunungan. Air mengaliri perkampungan Kerta yang tak pernah mengering. Jalanan bergelombang tak tersentuh pembangunan. Dana Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan tak tahu ntah kemana. Kenapa dana pemberdayaan tak menyentuh kawasan pariwisata ini.

Pintu Masuk air Terjun Kerta Gangga

Pintu Masuk air Terjun Kerta Gangga

Di sisi lain, terlihat ibu-ibu menggendong anak bayinya, Anak-anak kampung yang bermain sepeda.  Lepas dari kampung Kerta menuju kampung kerta yang lain. Melewati jalanan dengan gemericik air di kiri jalan yang tak beraspal. Di kanan jalan, sawah hijau membentang  luas. Warna hijau itu selalu menenangkan, termasuk saat mata ini memandang sawah yang menghijau, Pandangan saya beralih dari sawah-sawah hijau bukit-bukit hijau yang dipenuhi pohon-pohon rindang. Terlihat kebun pohon-pohon kelapa di perbukitan yang menjadi pembatas dusun Kerta.  Pandangan saya terhenti oleh kampung Kerta Gangga lain yang juga berfungsi sebagai pintu masuk menuju tiga Air Terjun Kerta Gangga.

Parkir kemudian mempersiapkan segala sesuatu sebelum menuju kawasan air terjun. satu pesan saya jangan lupa bawa bekal minuman. Anda bisa minuman di kampung ini. Tiket parkir motor Rp 2.000,00 sedangkan tiket masuk ke tiga kawasan air terjun Kerta Gangga ini hanya Rp 5.000,00. Komplit dah.

Wadah Kopi khas Desa Kerta Gangga

Wadah Kopi khas Desa Kerta Gangga

Saya pernah mendengar bahwa di Lombok Utara ada sebuah kampung yang umatnya beragama Budha. Kampung asli sasak. Kampung Kerta merepresentikan kampung itu. setidaknya nama kampung dan nama air terjun yang bukan berasal dari bahasa sasak. Kerta dan Gangga. kata Kerta merupakan akar kata dari Sangsekerta yang memiliki arti bahasa yang berbudaya atau sempurna. Gangga merupakan sungai suci yang berada di India. Baik itu kata Kerta maupun Gangga berasal dari India. Mungkin kah kampung ini dulunya adalah kampung hindu atau budha sebelum datangnya islam di Lombok. Mungkin kah ini kampung budha itu.

Satu-satunya Ibu yang menjual minuman-minuman di kawasan kampung Kerta  duduk di salah berugak, saya mendekatinya dan menanyakan tentang Kampung Budha itu. Pertanyaan saya adalah pertanyaan dugaan bahwa inilah kampung Budha. Ibu, di sini kampung budha kah?, kataku. “Kampung ini muslim semua mas. Kalau kampung Budha itu sebelum masuk belokan desa Genggelang mas. adanya di kampung Lenek, Kampungnya itu rapi mas,“imbuhnya. Wah saya jadi bertanya kepada diri sendiri “orang Kampung Kerta bilang bahwa kampung Lenek itu Rapi.”

Papan Informasi Kerta Gangga

Papan Informasi Kerta Gangga

Seorang petugas parkir yang bernama Madi merangkap penjaga kampung, merangkap guide menjelaskan tentang air terjun Kerta Gangga. Dia pun berjalan ke salah satu papan informasi yang juga menampilkan foto tiga air terjun Kerta Gangga.

“Di sini ada tiga air terjun. yang ini Air Terjun Gangga pertama, yang ini Air Terjun Gangga kedua. Dan ini adalah Air Terjun Gangga yang ketiga. Dia bilang sambil menunjukkan gambar-gambar air terjun Kerta Gangga. Dua Air Terjun Gangga bisa ditempuh dengan jalan sedangkan Air Terjun Gangga tiga harus menggunakan pemandu mas. Belum ada akses ke Air Terjun Gangga  tiga. Ke sananya pun harus menyeberangi sungai. Jadi, kami siap untuk mengantarkan ke tiga Air Terjun Gangga dengan biaya lima puluh ribu rupiah.” Wah mahal amir mas, kataku.  Andri mengerutu . rasanya tak ikhlas untuk mengeluarkan duit lima puluh ribu sekedar untuk melihat air terjun.  “akh waktu kita ke air terjun Sendang Gile dan Tiu Kelep di Senaru sana juga tak menggunakan guide.  Ayo kita jalan aja,” andri membisikkan mulutnya ke telingaku.

hamparan sawah membentang saat menyeberang dari Kerta Gangga satu menuju Kerta Gangga dua

hamparan sawah membentang saat menyeberang dari Kerta Gangga satu menuju Kerta Gangga dua

Kami berlima siap melihat air terjun yang airnya mengalir ke rumah-rumah di kampung Kerta. Menyusuri jalan setapak beraspalkan tanah. Gemericik air terjun Gangga mengalir di sepanjang jalannya. Beberapa turis berpapasan dengan rombongan kami. Sebuah Berugak-semacam Gazebo yang baru dibangun berada di persimpangan jalan. Dari berugak ini, kita bisa memandangi sawah hijau membentang luas, kebun pohon-pohon kelapa di ujung sana. Jalan menanjak dengan tangga-tangga yang sudah dirabat sempurna. Kanan kiri dipenuhi semak-semak.

Tak jauh dari berugak, Air yang berasal dari air terjun gangga dibagi-bagi sesuai peruntukannya. Sebagian mengalir ke kampung Kerta, sebagian mengalir ke sawah-sawah kampung Kerta. Jalan menanjak dipenuhi pohon-pohon rindang yang menggelapkan jalan. Suara burung-burung yang bertengger di pepohonan. Gemericik air mengalir deras di samping jalan.

anak-anak smp saat jam sekolah di kerta gangga

anak-anak smp saat jam sekolah di kerta gangga

Air Terjun Kerta Gangga berada di kaki Gunung Rinjani di sisi utara, di balik jalanan gelap pohon-pohon rindang. Langit pagi itu begitu cerah berpadu dengan air terjun Gangga yang beraura dingin. Terlihat anak-anak sekolah  mandi di tiu (kolam dalam bahasa sasak) dengan menggunakan seragam Sekolah menengah Pertama. Akh bukannya masih jam sekolah, batinku. Anak-anak ini ternyata sedang berbolos ria. Mereka berenang, bermain air dengan wajah riang gembira. Tak mungkin akan ada guru atau wali murid yang akan mencari anak didiknya yang bolos ke Air Terjun Kerta Gangga. Uniknya yang bolos adalah empat  cewek berwajah polos mengulum senyum.

Air Terjun Gangga mengaliri kerasnya batu-batu berwarna kehitaman. Airnya tidak terjun tapi mengalir deras di tengah pepohonan yang rimbun. Langit yang cerah, awan tak menghalanginya. Langit berwarna kebiruan. Dari Air Terjun Kerta Gangga, sawah-sawah menghijau, kampung muslim Kerta menjadi hidup, kampung Budha di Lenek menjadi rapi dan hijau. Sebagian airnya juga terus mengaliri sungai-sungai di Desa Genggelang. Air Terjun Kerta Gangga yang terpecah-pecah menjadi tiga kemudian bersatu kembali di  Air Terjun Tiu Pupus.

Air Terjun Kerta Gangga Dua yang Romantis

Air Terjun Kerta Gangga dua dibaik tebing-tebing

Air Terjun Kerta Gangga dua dibaik tebing-tebing

Untuk menuju ke lokasi air terjun Gangga yang kedua, rombongan kami harus melewati kolam air terjun Gangga. hanya ini jalan satu-satunyan. Tak ada jalan selain ini. adek sekolah yang unyu-unyu juga menyarankan melewati “jalan” yang ada di pinggir jurang. Jika jatuh ke kiri, maka kita akan basah kuyup. Jika terguling ke kanan, tubuh kita siap dihempaskan ke batu-batuan keras berwarna hitam, nyangkut di semak-semak kemudian terseret ke sawah-sawah.

Akh tak masalah. Ayo kita nyebrang, kataku kepada  rombongan yang lain. Sandal gunung saya copot, menghindari jalan yang licin. Ada pemandangan yang tersaji saat menyebrangi dari Air Terjun Kerta Gangga satu menuju Air Terjun Kerta Gangga dua. Hamparan sawah hijau membentang luas di bawah kami. Seharusnya kami bisa melihat pantai di ujung sana seandainya perbukitan dan kebun-kebun kelapa tak menghalangi pemandangan. Dibalik perbukitan dan perkebunan kelapa itu, pantai indah tersaji. Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air malu-malu berada dibalik pohon-pohon kelapa

Air terjun di balik tebing-tebing. Hanya suara gemuruh air terjun yang terdengar . tak ada hiruk pikuk manusia. Jembatan besi selebar setengah meter menjadi salah penghubung antara dua Air Terjun Kerta Gangga. air mengalir deras di bawah jembatan besi. Dari ujung jembatan besi, air terjun Kerta Gangga masih bersembunyi dibalik tebing-tebing. Kami masih harus naik ke jembatan kayu yang dibuat seadanya tapi masih terlihat kokoh. Jembatan kayu ini ditopang oleh kuda kayu-kayu. Ujung-ujungnya didudukkan kepada tebing-tebing.

Romantisme Kerta Gangga ala turis

Romantisme Kerta Gangga ala turis

Air Terjun Kerta Gangga dua yang terkurung dalam tebing-tebing pun tersaji. Air mengalir deras. Hanya kita berlima yang merasakan kesejukan air terjun ini. saya tak ingin menyiak-nyiakan pijitan guyuran air terjun Kerta  Gangga menyusul dua kawan saya yang sudah mandi duluan pak Neldy dan Pak Meidy. Andri menjadi fotografer andalan kami saat kami bertiga mandi. kami bertiga mandi secara bergantian merasakan guyuran air terjun. saat saya mandi, maka yang lain menunggu giliran. Saat berada di bawah guyuran air, pundak dan punggung serasa seperti di-massage dan diterapi oleh alam. merasakan terjangan guyuran air pegunungan yang berasal Gunung Rinjani. Akh tenang rasanya, airnya dingin sangat cocok untuk melepaskan semua kepenatan pekerjaan.

Setelah lumayan lama mandi, seorang anak muda bersama ceweknya. Eka namanya, Pemuda asli lombok Utara tapi sudah lama tinggal di Mataram. Dia juga memperkenalkan “cewek” yang katanya istrinya itu.

Romantisme ala Kerta Gangga

Romantisme ala Kerta Gangga

Tak berapa lama, empat turis yang berpasang-pasangan menyusul memenuhi Kerta Gangga.  dua turis cowok langsung mandi merasakan guyuran dan dinginnya air terjun Kerta Gangga. dua turis cewek hanya menunggu pasangannya mandi. setelah selesai merasakan guyuran air, mereka balik ke pasanganya masing-masing. Sepasang diantara mereka langsung memadu kasih di depan mata kami. Kedua bibir itu bertemu merasakan kehangatan dalam suasana kedinginan. Disaksikan oleh semua pengunjung.

Setelah merasakan ciuman hot, dua turis cowok itu kembali mandi guyuran air kemudian mendekati pasangan masing-masing lagi. sepasang turis kembali mengulang menghangatkan badan yang menggigil. Dua bibir bertemu lagi berciuman mesra di depan pengunjung lain. Sepasang kekasih mengulang sampai beberapa kali. Akh dasarrrrr bule….. bikin ngiri aja, batinku…hahaha. Rasa dingin bisa diminimalisir dengan mengalirkan setruman kehangatan. Rasa dingin dekat dengan “pingsan” sehingga harus dibantu dengan “bantuan” pernafasan.  Air terjun Kerta Gangga dua menjadi saksi terhadap semua keromantisan dua manusia yang memadu kasih. Biarlah air terjun Kerta Gangga yang menjaga rahasia itu. Dengan momen keromantisan air terjun Kerta Gangga,  saya dan pengunjung lain siap meninggalkan air terjun Kerta Gangga.

berpose dengan Latar Air Terjun Kerta Gangga

berpose dengan Latar Air Terjun Kerta Gangga

Sebetulnya Air Terjun Kerta Gangga ada tiga buah. Sayang, satu air terjun Kerta Gangga tiga belum ada aksesnya, kami harus menyebrang sungai untuk mencapainya. Jangan lupa, kalau anda ingin oleh-oleh khas Kerta Gangga ada Kopi dengan wadah unik dengan campuran coklat dan Vanilla. Ini lah pelosok negeri yang kami jelajahi. Masih banyak pelosok negeri yang lain yang perlu kita jamah dan kita lestarikan.