Begerusuk melihat Air Terjun di Pantai Nambung

Begerusuk ke Nambung

Terjangan ombak di Pantai Nambung

Terjangan ombak di Pantai Nambung laksana air terjun

Saat saya dan bersama rombongan tiba di pinggiran pantai Nambung, langit tepat di atas kami yang bersinar terik tak terhalang oleh awan-awan yang beriringan. Setelah menempuh perjalanan 2.5 jam dari mataram, petualangan ke salah satu sudut pulau Lombok akan dimulai. Nambung begitu orang mengenalnya. Dusun Nambung yang hampir terlupakan di perbatasan Lombok Barat. Kampung Nambung termasuk dalam wilayah Mawun Mas, Sekotong, Lombok Barat yang langsung berbatasan dengan Lombok Tengah. Ini lah garis batas yang sesungguhnya. Barisan Bukit-bukit hijau dengan pantai-pantai berpasir putih membentang merupakan garis batas kampung Nambung. Garis Pantai Nambung bersambung dengan Pantai Pengantap kemudian berujung pada sebuah bukit. Dua pantai ini berbentuk cekung –tipikal pantai-pantai di Lombok yang di setiap ujung pantai biasannya berbukit. Di balik bukit di ujung pantai pengantap bersambung dengan kawasan-kawasan wisata yang masih perawan, Pantai Meang dan Pantai Jurang Maling dan Teluk Sepi.

Dari barisan-barisan bukit-bukit yang menjadi pembatas Lombok Barat dan Lombok Timur, tersembul kawasan teluk sepi yang selalu mencerminkan kesepian dan ketenangan di balik bukit-bukit pengantap. Ketenangan dan kesepian, kehampaan begitu sangat kental terasa di kawasan teluk sepi yang dikelilingi bukit-bukit hijau ini. Dari bukit garis batas ini, saya menyaksikan barisan pantai berpasir putih dengan warna laut Toschanya. Cekungan pasir putih pantai Pengantap dan Penambung.

Pengantap dari bukit

Pengantap dari bukit

Di puncak Bukit, tiang-tiang Pembangkit Listrik Tenaga Angin berputar kencang yang berasal dari angin Laut pantai Nambung dan Pantai Pengantap yang langsung menghadap ke Samudra Hindia itu. Tiang-tiang kincir angin berukuran kecil menjadi pemandangan mencolok dibandingkan dengan bukit-bukit lain di daerah sekotong. inilah Pembangkit Listrik Tenaga Angin yang pertama kali saya liat secara langsung. Saya melambatkan motor saya yang menuruni bukit, melirik barisan pembangkit listrik itu. Ada rasa ingin tau melihat keadaan kampung pengantap di ujung bukit at least mengabadikan satu-satunya PLTA di Lombok ini. Tapi, rasa khawatir dan rasa takut ditinggal teman-teman rombongan yang menuruni perbukitan. Tiang dan putaran kincir menjauh kemudian menghilang ditelan bukit-bukit sekotong yang hijau

Teriknya sinar mentari menyinari kampung Nambung yang berbatasan dengan pantai ini. Di Kampung Nambung, beberapa pemuda memakai pakaian adat berupa sarung sebetis yang dililitkan ke pinggang. Acara Nyangkolan-pernikahan ala Lombok dengan iringin lagu-lagu sasak dipadu dengan tarian gendang Belek yang selalu mengiringi pernikahan adat sasak. Hakikat Nyangkolan adalah memperkenalkan kedua mempelai kepada masyarakat dengan cara diarak di jalanan. Pemuda-pemudi berhias untuk mengiringi acara nyangkolan dengan cara berjoget dan bernyanyi.

memandang ke segala arah di pantai Nambung

memandang ke segala arah di pantai Nambung

Nyangkolan sudah menjadi tradisi dan identitas. Nyangkolan salah satu adat wajib yang selalu ada di pernikahan-pernikahan adat lombok. Akhir-akhir ini,acara Nyangkolan yang berfungsi sebagai sarana mempertahankan adat dan kebudayaan itu berubah sarana hiburan yang lebih modern. Suara Sound System membahana mengalahkan alunan gendang. Lagu-lagu sasak tergantikan dengan lagu-lagu dangdut dari jawa. Identitas dan tradisi masih bertahan dengan subtansi budaya yang bergeser. Kecimol, begitu orang mengistilahkannya. Budaya dan lagu-lagu saya yang sudah modifikasi.

Budaya Nyangkolan menjadi salah satu hiburan bagi warga di Desa Nambung yang dikelilingi bukit-bukit menghijau. Termasuk bagi Pak Muhnam yang tak pergi menambang emas di puncak-puncak bukit sekotong.

Daya Tarik Sekotong

Salah satu tambang rakyat di Mawun Lombok Tengah

Salah satu tambang rakyat di Mawun Lombok Tengah

Beberapa tahun terakhir sekotong mulai dikenal sebagai salah satu tujuan wisata di pulau Lombok. Hendak menyaingi kawasan Trio Gili di Lombok Utara yang sudah terlebih dahulu dikenal. Sebelumnya Gili Trawangan termasuk bagian dari Lombok Barat. Sejak tahun 2008, Lombok Barat dipecah menjadi Lombok Utara dan Lombok Barat. Sejak saat itu, Lombok memfokuskan diri untuk mengembangkan kawasan gili-gili di sekitar sekotong. Gili Nanggu, Gili Sudak, Gili Tangkong, dan Gili Kedis dirancang untuk menggaet wisatawan. Investor diundang untuk berinvestasi di sekotong. Sebuah Resort dibangun di Gili Nanggu. Terdengar kabar rumor bahwa pulau ini hendak dijual.

Dalam sepuluh tahun terakhir, banyak perubahan-perubahan di daerah wisata sekotong. Tempat-tempat wisata dipromosikan. Investor-investor baru digaet untuk membangun pesisir barat Lombok. Dalam sepuluh tahun terakhir, Lombok tidak hanya mengundang industri wisata, tapi juga industri pertambangan. Bukit-bukit sekotong di Lombok Barat diduga mengandung emas dan Tembaga sebanyak 1.500an Ton. Kabar ini berawal dari explorasi yang dilakukan PT Newmon Nusa Tenggara, PT. NNT pada tahun 1980an. Kabar itu pun menyebar. Gubernur NTB langsung mengantisipasi penemuan itu dengan menerbitkan peraturan daerah no. 11 pada tahun 2006 tentang RTRW (Tata Ruang dan Wilayah) yang membatasi persetujuan penambangan. Pemprov Lombok ingin melindungi pulau lombok sebagai kawasan bebas industri pertambangan skala besar.

Kabar bukit-bukit sekotong yang mengandung emas menyebar ke berbagai pelosok. Menyebar hingga menembus batas-batas pulau lombok hingga ke Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Ribuan orang berdatangan dari berbagai daerah untuk mengambil potongan batu-batu emas di sekotong. Larangan penambangan tak diindahkan. Hutan-hutan ditebas, Bukit-bukit digali, ladang-ladang mulai beralih fungsi menjadi lahan-lahan emas. Bukit-bukit menjadi gundul. Masyarakat bersama dengan para pendatang bersama-sama menggali potongan batu-batu emas dengan peralatan sederhana seperti Linggis dan karung. Masyarakat beralih dari yang awalnya berprofesi sebagai petani dan nelayan mulai beralih profesi menjadi penambang-penambang emas. Masuk ke hutan ke luar hutan. Menggali puluhan hingga ratusan meter mencari batu-batu emas. Membuat lorong-lorong tikus ukuran manusia dewasa.

Sejak maraknya penambangan liar, menurut data dari pemerintah kabupaten Lombok Barat ada puluhan orang yang sudah tertimbun karena longsor lorong-lorong tikus para penambang Liar.

Penunggu batu Nambung

Penunggu batu Nambung

Tak tahu ntah bagaimana, PT NNT pun seakan tak mau ketinggalan untuk membancak bukit emas di sekotong, Lombok Barat. Perusahaan PT. Indonesia Tambang (Indotan) didirikan, anak perusahaan PT Newmont Nusa Tenggara. Aturan pembatasan penambangan berskala besar mungkin sudah direvisi menjadi pembolehan penambangan skala besar. PT Indotan mulai mengerahkan alat-alat berat di daerah Kedaro, Sekotong. Datangnya alat-alat berat milik PT Indotan menyulut keresahan dan kemarahan masyarakat sekotong. Mereka takut mata pencaharian mereka berkurang. Masyarakat sekotong yang dulu berprofesi sebagai petani dan nelayan benar-benar sudah bertransformasi menjadi penambang. Emas menjadi mata pencahariannya. Tak pelak masyarakat pun mulai melakukan perlawanan-perlawanan ringan hingga perlawanan berat. Puncak kemarahan warga terjadi pada tahun 2011 dengan cara membakar peralatan berat yang dimiliki oleh PT. Indotan yang berinduk di Amerika itu.

Para pembakar ditangkap oleh aparat kepolisian. Warga masyarakat berusaha membebaskan kawan seperjuangan. Warga berunjuk rasa meminta kebebasan atas teman-temannya. Unjuk rasa pun berlanjut saling serang antara warga dan aparat kepolisian. Batu-batu dilemparkan. Dua kubu saling serang. Tembakan peringatan dikeluarkan. Unjuk rasa berujung maut. Salah seorang warga terkena tembakan. Meninggal dunia di ujung peluru. Warga Masyarakat Vs aparat. Semuanya berawal dari sebuah beroperasinya alat berat penambangan emas oleh PT Indotan.

Ketika Para Pemilik Pemodal masuk ke Pelosok-pelosok desa di Lombok

perkampungan Nambung yang tak berhasil digusur oleh aparat

perkampungan Nambung yang tak berhasil digusur oleh aparat

Di pinggiran pantai Nambung, saya menghampiri sebuah rumah milik pak Muhnam, salah seorang penambang emas. Di depan teras rumahnya, dia bersandar pada sebuah tiang rumahnya. Mulutnya tak berhenti mengunyah daun sirih yang bercampur pinang. Bibir dan giginya memerah seperti sedang bergincu dengan daun-daun sirih. Dalam diamnya wajahnya selalu memancarkan wajah ceria. beberapa pertanyaan saya terkait dengan kampung Nambung dijawab dengan tuntas termasuk terkait dengan wisata Pantai Nambung. Dia menghela nafas panjang. Kemudian mulutnya membuka dan kata-kata itu keluar juga “Bukit-bukit itu sudah dibeli orang asing mas,” katanya padaku sambil tangannya menunjuk bukit-bukit yang sudah berpindah kepemilikan. Saya hanya bisa mengelus dada. “Bukit-bukit ini sudah dibeli orang asing atas nama penduduk warga di sini,” katanya berusaha menjelaskan lebih jauh tentang bukit-bukit yang mengelilingi perkampungan mereka.

Di Indonesia, Orang asing tidak diberi kebebasan untuk memiliki tanah. Pihak asing tak kekurangan akal. Tanah-tanah yang dibeli oleh orang asing diatasnamakan kepada para penduduk yang dipercaya atau para tuan tanah yang bekerja sama dengan orang asing tersebut. Jadilah tanah-tanah yang secara substansi dimiliki pemodal asing tersebut, tapi secara formal dimiliki oleh warga atau para tuan tanah.

Berteduh

Berteduh

“Bapak harus siap-siap pak, kalau bukit-bukit itu sudah dimiliki oleh asing. Lambat laun rumah pak Muhnam dan penduduk sekitar akan diincer untuk dibeli asing juga loh pak,” kataku berusaha meyakinkan pak Muhnam. “Kalau bapak diusir dari sini emang bapak mau pindah kemana?. Sebaiknya tanah-tanah yang bapak miliki harus segera disertifikasi. Agar hak kepemilikan atas tanah yang bapak tempati menjadi berkekuatan hukum,” imbuhku berusaha sok menasehati.

Tebakanku terhadap kampung Nambung ternyaan bukanlah dugaan belaka. Ternyata, Pihak asing sudah berusaha membujuk mereka agar mereka mau pindah ke tempat lain. Dengan wajah tenangnya, Pak Muhnam membetulkan punggung yang bersandar pada sebuah tiang di terah rumahnya. “kampung kami ini sudah didatangi aparat mas beberapa bulan yang lalu. Mereka hendak mengusir kami dari kampung kami. Tapi alhamdulillah, kami punya bukti bahwa tanah kampung ini menjadi hak kami, aparat-aparat tidak berhasil mengusir kami.” Pak Muhnam berkali-kali menjelaskan kembali kepada saya bahwa Mereka (aparat dan Asing) tak mungkin bisa mengusir kami mas, kami punya bukti,” imbuhnya.

Dalam hati aku sedikit bersyukur bahwa mereka sudah mempersiapkan semuanya. Sebuah kampung mungil di pinggir pantai berpasir putih yang dikelilingi bukit-bukit yang sudah berpindah kepemilikan kepada para pemilik modal. Berkaitan dengan kepemilikan hak atas tanah-tanah di pinggir pantai. Lombok menjadi surga untuk para pemilik modal. Tak jauh dari pantai nambung, ada kawasan teluk mekaki yang juga sudah dikuasai para pemilik modal. Para pengunjung tak bebas lagi berlenggang menikmati panorama alam yang ditawarkan pulau lombok atau seperti Tanjung Bloam, Lombok Timur yang menjadi kawasan private itu. Benarkah panorama-panorama indah hanya dinikmati oleh para kaum proletar. Pengunjung umum tak bisa lagi untuk sekedar menginjakkan kaki di kawasan Tanjung Bloam. Kawasan bloam sudah dikuasai oleh pengelola resort Jeeva Bloam. Yang bisa berkunjung ke sana hanya golongan orang-orang yang cukup mampu untuk mengambil sedikit recehan menikmati deburan ombak di sebuah resort yang berada bukit-bukit Tanjung Bloam.

Hikmah Pemilihan Kepala Desa di Nambung

Pak Muhnam bersama anaknya duduk di depan teras rumahnya

Pak Muhnam bersama anaknya duduk di depan teras rumahnya

Kampung Nambung mempunyai cerita. Cerita pemilihan kepada desa yang menyebabkan Desa Nambung terang benderang. Demokrasi sangat membekas di kampung ini. Bahkan Demokrasi ikut berperan terhadap terang tidaknya kampung yang dikelilingi perbukitan ini. Perang janji kampanye antar kepala desa ternyata cukup berpengaruh terhadap kampung Nambung. Rumah-rumah di Desa Nambung sudah teraliri listrik PLN sejak empat tahun lalu. Herannya di kampung sebelah, Pengantap. ada sebuah PLTA yang berada di puncak bukit.

“Dulu, di sini juga menggunakan PLTA juga mas,” Kata pak Muhnam kepada saya. Wahhhh keren dunk pak menggunakan PLTA, kataku . lebih lanjut pak Muhnam menceritakan asal muasal kampung Nambung ditinjau dari kelistrikannya. Dulu, sebelum periode pemilihan kepala Desa yang sekarang. Nambung terkenal dengan sebutan kampungnya PLTA. Tiang-tiang PLTA berbaris rapi di puncak-puncak bukit Nambung kemudian listrik-listriknya dialirkan ke kampung-kampung penduduk Nambung. kampung yang gelap pelan-pelan terang-benderang dengan aliran listrik kincir angin. Tiang-tiang Kincir Angin bukan berasal dari PLN tapi berasal dari janji-janji kampanye politik kepada desa di Nambung. Delapan tahun kepala desa terpilih menjabat Kepala Desa, delapan tahun pula Kincir Angin menerangi kampung Nambung.

Pemuda-pemuda Nambung berpakaian adat u acara Nyangkolan

Pemuda-pemuda Nambung berpakaian adat u acara Nyangkolan

Tiang-tiang Kincir angin itu sekarang sudah tak berbekas lagi. Satu pun tak ada penduduk yang menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Angin. Tiang-Tiang kincin angin itu berubah menjadi tiang-tiang listrik jaringan PLN. Demokrasi juga lah yang mengubah tiang-tiang kincir angin menjadi tiang-tiang listrik. Kepala desa yang terpilih sekarang menjanjikan akan mengganti tiang-tiang kincir angin yang green energy dengan tiang-tiang jaringan kabel PLN.

Jika kampung Nambung punya cerita dengan tergantikannya tiang-tiang kincir angin dengan tiang listrik PLN. Maka Pengantap punya cerita dengan tiang-tiang kincir angin yang berada puncak bukit pengantap. “akh sebentar lagi, kincir-kincir angin juga akan dipindah pak ke daerah meang yang juga belum teraliri listrik, kata pak Muhnam kepada saya. Rupanya, di daerah sekitar Nambung ini masih ada beberapa desa yang juga belum merasakan terangnya listrik. Alasan dipindah mungkin karena daerah pengantap sudah teraliri listrik PLN walaupun daerah puncak bukit itu lumayan jauh dari jalur PLN. Meang memang susah dijangkau dengan jaringan PLN. Alasan utamanya adalah medan berat menuju Meang.

Flashback ke setahun Lalu di Pantai Nambung

Beberapa tahun lalu pantai-pantai di pesisir barat ini terlalu perawan sekaligus rawan. Tak ada atau jarang para pengunjung bersusah payah hanya untuk memburu pantai di ujung barat sini. Pak Muhnam membenarkan bahwa pantai ini begitu sepi. Mungkin hanya beberapa saja yang memang bertujuan mengunjungi pantai di pesisir selatan lombok. “Akh Dulu siapa mas yang mau ke pantai Nambung ini,” keluh pak Muhnam kepada saya. Sejak setahun terakhir pantai Nambung memang mulai dikenal dan banyak dikunjungi wisatawan. usut punya usut ternyata pantai Nambung bukan mengalir begitu saja.

Bukit-bukit Nambung

Bukit-bukit Nambung

Setahun lalu, Pantai Nambung bagian dari pantai yang terlupakan. Setahun lalu, tiga wisatawan datang ke Nambung. “Setahun lalu, ada 3 wisatawan datang ke sini, dua nya bule, satunya dari cina. Mereka datang ke sini minta ditemanin ke ujung pantai pantai Nambung,” kata Pak Muhnam kepada saya. Tepatnya sih saya ngak tau. Seingat saya, mereka datang bertepatan dengan pembangunan rumah ini, kata pak Muhnam kepada saya sambil menunjukkan rumah bertembok yang berada di depan rumah lamanya. Lalu apa yang menjadi daya tarik di ujung pantai nambung hingga wisatawan minta dianterin ke sana. Bukan kah di ujung sana hanya batu-batu besar yang terlihat samar-samar. Justru barisan batu-batu cadas yang diterjang oleh ganasnya ombak samudra Hindia yang menjadi daya tarik pantai Nambung. Saat ombak besar datang menghantam batu-batu, seketika ombak menghambur ke atas kemudian turun mengaliri bebatuan. Pemandangan Air terjun Air Asin nampak di depan mata. Seketika bidikan kamera diarahkan secepat mungkin ke “Air Terjun Air Asin”. Batuan-batuan cadas hitam seketika berubah wahana menjadi kawasan air terjun. Ini lah keunikan dari ujung pantai Nambung.

Pemandangan Air Terjun Air Asin inilah yang diabadikan oleh turis-turis asing dan kemudian menunjukkannya kepada pak Muhnam “bapak liat Foto ini, sebulan lagi foto-foto ini akan dimuat di majalah,” kata pak Muhnam menirukan turis yang datang setahun yang lalu itu. Sayang, bapak Muhnam tidak ditunjukkan di majalah apa dan dimana foto-foto air terjun Nambung akan dimuat?.

Rupanya turis asing tidak hanya ingin memamerkan keindahan Air Terjun Air Asin yang dibidiknya, namun dia juga sudah membeli bukit-bukit yang mengelilingi kampung Nambung. Bahkan, sang turis hendak membeli kampung pak Muhnam. Aparat dikerahkan untuk memindahkan kampung Nambung. Sayang, penduduk nambung tak mau dipindah dan memang begitulah seharusnya. Setahun telah berlalu. Nambung sudah tidak sesepi dulu. Wisatawan domestik mulai berdatangan ingin melihat Air Terjun Air Asin tersebut. Sejak kunjungan wisatawan luar negeri yang kemudian membeli bukit-bukit nambung, Nambung kebanjiran tamu-tamu wisatawan. Halaman-halaman rumah penduduk menjadi lahan parkir dadakan. Retribusi parkir mengalir kepada rumah-rumah yang halaman rumahnya dijadikan lahan parkir.

Begerusuk di Nambung

Tanaman Rumput laut di Pantai Nambung

Tanaman Rumput laut di Pantai Nambung

Ngobrol bersama pak Tahir di salah satu berugak

Ngobrol bersama pak Tahir di salah satu berugak

Siang ini, Matahari bersinar begitu teriknya. Tak ada awan hilir mudik sekedar untuk mengurangi panasnya. Saya bersama rombongan hendak menyusuri pesisir pantai nambung. Terlihat beberapa rumput laut kering berbentuk persegi. Teriknya matahari tak menghalangi banyak jumlahnya pengunjung. Media sosial ikut andil dalam mempromosikan pantai Nambung. Nambung menjadi Tren. Wisatawan-wisatawan hanya punya satu tujuan ketika menuju Nambung yaitu “Air Terjun Air Asin”.

Air terjun

Air terjun

Pengunjung Nambung berjalan beriringan hendaknya menuju surga dengan melalui siratul multaqim. Menuju ke arah yang sama, jalan yang sama. Berpanas-panasan bersama demi sebuah air terjun. Berteduh dari sengatan mentari di siang hari di ujung selatan Lombok sebuah keniscayaan. beberapa pengunjung berteduh di pinggir-pinggir pantai. Semak-semak yang biasanya sepi seketika menjadi rame tempat berkumpulnya orang-orang yang ingin menikmati pantai tanpa merasakan panasnya terik matahari. Sebuah Batu besar berdiri kokoh di ujung pantai berpasir putih. Naluri kemanusiaan saya dan kawan-kawan muncul “kenapa kita tidak berteduh saja sejenak merasakan hembusan angin laut. berteduh dari sengatan sinar mentari di bawah bebatuan besar yang ditumbuhi pepohonan adalah kenikmatan sendiri. semilir angin laut menyapu bebatuan, membilas wajah-wajah yang kecapean. Seteguk air masuk dalam kerongkongan yang kehausan dengan semilir angin laut. Akh seakan tak mau beranjak dari teduhnya bebatuan

Berteduh sejenak di bawah bebatuan pantai Nambung

Berteduh sejenak di bawah bebatuan pantai Nambung

Pantai berpasir berubah berganti pantai berbatu. Gemuruk ombak yang tenang semakin menderu-deru menerjang sang batu. seketika hamburan sang ombak membentuk air terjun kecil menggelayuti batu-batuan karang. Sebuah “komplek” pantai-pantai berbatu di ujung Nambung membuat daya tarik tersendiri. Airnya yang tenang dan bening. Lumut-lumut berwarna hijau menjadi background sang air. Komplek ini dikelilingi oleh batu-batu besar yang langsung menghadang sang ombak. Gumpalan gemuruh ombak pecah seketika menghantam karang. Air jatuh membilas sang karang kemudian mengalir ke dalam komplek pantai berbatu. Ikan-ikan kecil berenang di sela-sela bebatuan yang ditumbuhi terumbu karang.

Di ujung pantai, berdiri batu karang tinggi menjulang bertahan dari terjangan ombak samudra. Beberapa beriringin Wisatawan masuk melalui lorong-lorong batu menuju pusat air terjun itu. Semua terpaku dan menunggu sang ombak. Akh ini seperti hendak menunggu permainan sirkus saja. Lima menit berlalu, sang pemain juga belum muncul. Pengunjung kecewa. 10 menit telah berlalu, sang lakon juga tak menunjukkan batang hidungnya. Hanya gemuruh ombak yang menderu-deru. Sesekali terdengar seperti suara kerbau yang sedang bernafas. Pengunjung pun makin kecewa. Harap-harap cemas. Beberapa beberapa pengunjung berdiri di ceruk bebatuan. Mata memandang ke arah yang sama. Suara gemuruh itu datang lagi. Kali ini suaranya lebih keras lagi. Byurrrr………. Mata dan pandangan menuju ke sebuah batu. Berbagai jenis kamera serempak membidik objek yang sama. jeprat jepret… berbagai macam gaya foto ditampilkan, selfie, dan lain-lain. 15 menit berlalu. Air terjun ini muncul setelah 15 menit penantian.

Suasana air terjun Nambung. terlihat beberapa pengunjung menunggu datangnya sang ombak

Suasana air terjun Nambung. terlihat beberapa pengunjung menunggu datangnya sang ombak

Wajah yang terlihat kusut seketika berubah menjadi cerah gembira. Persis seperti anak-anak dikasih manisan Lollipop. Bulan Lalu, ombaknya sering dan besar mas, kata pak Tahir. Pak Tahir adalah penduduk kampung Nambung yang ikut menemani dua wisatawan dari Ampenan Lombok sebulan lalu. Sayang, kunjungan dua cewek dari kota mataram berujung duka. Pinggang salah satu cewek keseleo terkena sapuhan sang ombak samudra. Kug bisa?. Alkisah. Sekitar bulan Maret 2013, dua pengunjung cewek itu datang ke Pak Tahir agar ditemeni jalan-jalan ke Nambung. salah seorang dari mereka ingin foto dengan latar ombak nambung yang besar itu. Sang di cewek berdiri bersama dengan pak Tahir di batu-batu yang langsung berbatasan dengan laut Nambung. Pak Tahir bertugas untuk ikut memegang salah seorang cewek dari mereka. Rupanya ombak yang datang begitu besar. Seorang cewek tersebut tak kuat menahan hamburan sang ombak begitu juga pak Tahir tak mampu untuk menahan sang cewek. Pak Tahir hanya mampu menjaga dirinya agar tetap seimbang. Sang cewek itu pun tersungkur dan pinggangnya jatuh mengenai batuan karang.

Petualangan di pesisir Selatan

ujung jalan Desa Montong Ajak, Lombok Tengah

Petualangan ke pesisir selatan di Desa Montong Ajak, Lombok Tengah

Langit semakin cerah. Panasnya mentari semakin menusuk-nusuk. Kami harus pulang. Perjalanan masih akan dilanjutkan ke Lombok Tengah melalui jalur selatan Lombok. saya dan rombongan belum pernah mencoba jalur ini sebelumnya. Tujuan kami jelas – petualangan untuk menemukan spot-spot baru tujuan wisata lombok yang belum terjamah. kami hendak mencari Tanjung Pelangi.

Sebetulnya ada dua jalur untuk menuju Lombok Tengah. Bisa melewati jalan beraspal tapi minim pemandangan atau melewati jalur baru, tak beraspal dan hanya pengerasan tapi petualangan kami akan menemukan hal-hal baru yang tak terduga sebelumnya. Mungkin kalau sedang hujan, kami tak akan berani melewati jalur pengerasan. Beruntungnya adalah hari ini benar-benar cerah walaupun masih dalam suasana musim hujan. Motor kami berjalan di jalanan Montong Ajak yang berdebu. Anak-anak muncul dari gorong-gorong jembatan kemudian meneriakkan “selamat siang mas”. Kami disambut hangat di desa ini. Sapaan hangat anak-anak SD ini mengingatkan saya saat saya melakukan perjalanan di kampung-kampung di kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT sana. Bagaimana tidak, setiap anak-anak yang bersalip-salipan dengan pengandara baik itu menggunakan motor ataupun mobil tertutup, mereka akan selalu menyapa dengan penuh rasa keakraban. “selamat pagi” atau “selamat siang”.

Jalan membelah bukit di Dusun Torok Aik Belek, Lombok Tengah

Jalan membelah bukit di Dusun Torok Aik Belek, Lombok Tengah

Di pelosok-pelosok desa ini saya menemukan persahabatan dan keakraban khas penduduk desa. Petualangan trus kami lanjutkan menyusuri jalanan yang berdebu dan berharap menemukan jalan yang bersahabat. Di ujung, Desa Montong Ajak, kami berhenti sejenak berteduh di bawah pohon-pohon kelapa yang melambai. Di ujung desa ini, kami melihat Samudra luas membentang berwarna kebiruan. Angin sepoi sepoi membilas wajah wajah yang kepanasan. Kami terbuai dengan terpaan angin samudra yang membilas wajah tapi harus tetap melanjutkan perjalanan.

Kami berpindah dari puncak bukit yang satu ke puncak bukit yang lain dengan hamparan sawah-sawah membentang. Kami berjalan dari ketinggian menuju ke titik Nol melewati jalanan yang berbatu dan berdebu. Kuncinya satu “hati-hati”. Saya terhenti di puncak Dusun Torok Aik Belek. Di ujung Jalanan berbatu dan berdebu, beberapa orang sibuk mengaspal jalan. Mereka bukan mengaspal jalan tapi jalan menuju puncak tapi ntah lah puncak apakah. Jalanan beraspal ini membelah sebuah bukit dan berujung pada puncak bukit yang ntah akan digunakan untuk apa.

Perlintasan jalan. tebing di antara Dusun Serangan dengan dusun Tomang Omang

Perlintasan jalan. tebing di antara Dusun Serangan dengan dusun Tomang Omang

Bukan kah kawasan ini masih sepi dan tak berpenghuni. Mungkin begitu lah kelakukan para investor atau apalah namanya. Mereka memburu tanah-tanah yang jalan rayanya baru saja dibuka. Saya sudah tertinggal jauh dari rombongan saya. Ada rasa khawatir dalam diri saya. Saya terus menuruni jalanan berdebu menuju titik terendah, mengejar teman-teman yang jauh di depan sana. Kami memasuki kawasan Serangan. Desa serangan juga mempunyai pantai indah dengan barisan pohon kelapa yang melambai. Saya hanya melambaikan tangan saja terhadap rayuan pohon kelapa di pantai serangan.

Lombok Tengah lima tahun terakhir memang sedang melakukan pembukaan jalan-jalan baru. Akses-akses jalan ke tujuan wisata banyak yang diperlebar dan diaspal hotmix. Salah satunya jalur selatan ini Nambung – Tomang Omang. Para tuan tanah dan investor “wait and see”. Tanah-tanah yang dilewati jalan-jalan baru langsung menjadi inceran.

Desa Serangan adalah desa terakhir yang kami harus taklukkan sebelum menuju desa Tomang Omang. Di ujung perbatasan desa serangan, kami berjalan membelah bukit dan tebing berwarna keemasan yang terkena cahaya mentari. Serangan penuh kenangan bagi salah satu teman kami, Indra. Indra terjatuh saat hendak menaklukkan bukit serangan. Sepeda motornya mencium batu-batu serangan. Di ujung serangan, kami bisa melihat gugusan pantai Tomang Omang. Dalam diam, saya merasakan pelukan tebing-tebing serangan.

Advertisements

Ayadi, Penjaga Air Terjun Tiu Pupus.

Ayadi, Penjaga Air Terjun Tiu Pupus.

Air Terjun Tiu Pupus

Air Terjun Tiu Pupus

Pulang dari air terjun Kerta Gangga. jalanan menurun dan sepi. Tak tik tuk bunyi batu yang dipukul tak terdengar lagi. beberapa orang berteduh di rumah-rumah sederhana. sesekali motor lewat begitu saja. Kami ber lima siap meninggalkan kampung Kerta Gangga. siap berpisah dengan jalanan berlubang tak beraspal. menjauhi perkampungan yang dikelilingi air terjun dan sawah membentang luas. Perbatasan kampung Kerta Gangga semakin jelas. Di luar pintu masuk kawasan air terjun Kerta Gangga, Warung-warung kecil menjajakan durian hasil panen. Pak Neldy dan Meidy mendekati warung-warung. Hanya sekedar untuk menanyakan harga bukan membeli. Setelah bertanya harga, pak Neldy meninggalkan penjual durian itu lagi.

keluar dari pintu gerbang Air Terjun Kerta Gangga, jalanan mulus membentang. Semilir angin membilas-bilas wajah. dedaunan bergerak-gerak tertiup angin membawa angin segar khas pegunungan. Angin-angin membasuh-basuh kandang sapi perahan punya kelompok tani yang berada jauh dari Kampung Kerta, desa Genggelang. Kandang sapi termasuk kandang sapi kolektif yang merupakan program pemerintah dalam rangka untuk swasembada daging “Program Bumi Sejuta Sapi” yang dicanangkan oleh gubernur NTB, TGB Zainul Majdi. selain tujuan swasembada daging, program ini bertujuan untuk menyasar kantong-kantong kemiskinan di Lombok utara. banyak di antara mereka adalah buruh yang sering disebut dengan pengarat atau pengadas

Tiap Kandang muat untuk dua sapi. Kandang-kandang itu berjajar rapi terkurung dalam pagar. Atap kandang terbuat dari jerami yang sudah dikeringkan. Dari atas sepeda, Ku hanya bisa melongok sapi-sapi yang ditinggal oleh pemiliknya.

Buah Cacao yang bergelantungan saat menuju Air Terjun Tiu Pupus

Buah Cacao yang bergelantungan saat menuju Air Terjun Tiu Pupus

Angin segar terus membilas jalanan yang lengang. Dari kejauhan terlihat mobil angkot yang bentuknya mirip dengan mobil si “si Doel Anak Betawi Asli”. Mobil ini tak mengangkut manusia tapi barang-barang segala kebutuhan rumah tangga. Mobil ini siap mendekati rumah-rumah penduduk menawarkan barang-barang rumah tangga yang terbuat dari bahan plastik. Ku lirik sopirnya, akh ternyata bukan si Mandra dengan khas topi angkotnya. Di Lombok Utara, Mobil angkot model si Doel begini selain difungsikan untuk mengangkut manusia, juga banyak digunakan untuk mengangkat barang-barang kebutuhan rumah tangga. Mengambil di pasar, kemudian dijajakan ke kampung-kampung.

Perut mulai keroncongan, rombongan kami harus mengisi bensin dulu untuk mengumpulkan tenaga saat berjalan menuju air terjun Tiu Pupus. Jalanan Air Terjun Kerta Gangga cukup menguras tenaga. Tak Jauh dari pintu gerbang air terjun Tiu Pupus, ada sebuah warung yang menurut pak Neldy masakannya lumayan enak. Pak Neldy ternyata bukan isapan jempol belaka. Masakannya benar-benar enak dan masih hangat. Minuman dingin sangat pas diminum saat mentari begitu teriknya. Berleyeh-leyehan di salah satu berugak di warung sederhana ini. semilir angin bertiup. Alhamdulillah, kenyang menghinggapi.

Muara Air Terjun Tiu Pupus, Bendungan Sengkukun

Muara Air Terjun Tiu Pupus, Bendungan Sengkukun

Perjalanan menjelajahi pelosok negeri segera akan dimulai. Pak Neldy mengingatkan “Ayo kita shalat dulu aja”. Kami tak menjawab dengan kata-kata. Kami hanya berjalan mengikuti pak Neldy melangkah. Sebuah masjid kecil berdiri tak jauh dari rumah makan. Kewajiban ditunaikan untuk merasakan ketenangan dan bersyukur atas keindahan alam yang kami nikmati.

“Welcome to Tiu Pupus Waterfall” tertulis jelas saat kami hendak memasuki kawasan Air Terjun Tiu Pupus. Di bawahnya tertulis “Selamat Datang”. Akh tulisan berbahasa inggris ternyata lebih didahulukan di pintu gerbang air terjun ini. kenapa?. Apakah ini semacam kode bahwa pengunjung air terjun ini kebanyakan adalah turis asing ataukah adanya faktor kesalahan pemerintah atau desa setempat. Atakah ini merupakan suatu bentuk rasa rendah diri. Akh ntahlah. Bahasa Inggris lebih utama daripada bahasa Indonesia. Perasaan inferior itu selalu dan masih ada dalam diri bangsa Indonesia yang pernah terjajah lebih dari 300 tahun.

Rumah-rumah berderet di sepanjang jalan. Rumah itu, makin lama makin jarang kemudian menghilang ditelan pepohonan rimbun.

Jembatan menuju air terjun

suasana air terjun tiu pupus

Terlihat beberapa orang sedang melempar-lempar kelapa muda ke dalam sebuah truk yang terparkir di pinggir jalan. Lemparan itu sesekali tidak tepat mengena ke dalam bak truk. Meleset dari bk truk kemudian terjerembab ke badan jalan. Motor saya melambat kemudian tertambat dan berhenti ada perasaan kalau saya lewat, bisa-bisa kepala yang terkena lemparan kelapa muda itu. ku coba mengerling ke sekeliling, terlihat Pohon-pohon kelapa muda berbaris rapi di ladang. Akh Para pelempar kelapa itu ternyata mengerti kami. Mereka mempersilahkan rombongan kami lewat “silahkan”. Kami hanya menebar senyuman. “terima kasih”.

Pelosok negeri ini selalu identik dengan jeleknya infrastruktur. Semakin mendekat ke tempat wisata, maka semakin jelek lah infrastrukturnya. Jalanan beraspal mulai banyak terkelupas, Batu-batu kecil yang keluar dari sarangnya. Saat bersalip-Salipan dengan truk. Truk itu menerbangkan debu-debu jalanan. Alhamdulillah, jalanan di Air Terjun Tiu Pupus masih lebih baik dengan jalanan ke Air Terjun Kerta Gangga.

Tumpukan batu-batu kali kecil hasil pukulan penduduk kampung teronggok di pinggir-pinggir jalan. tertumpuk ditinggal oleh para pemukulnya yang sedang beristirahat melepaskan rasa capek. Tidur di teras rumah , disapu angin pegunungan. Nyanyian burung-burung berseliweran bersaing dengan bunyi sepeda motor bertumbuk dengan batu jalanan. Mengurangi kesepian jalanan di siang bolong.

Aliran deras Air Terjun Tiu Pupus

Aliran deras Air Terjun Tiu Pupus

Motor kami terhenti setelah menempuh dua puluh menit perjalanan. Seorang petugas parkir mempersilahkan kami. Tiu Pupus berasal dari dua kata, kata petugas itu kepada rombongan kami. Tiu berarti genangan atau kolam. Sedangkan Pupus berasal dari akar tumbuhan pupus yang tumbuh di air terjun Tiu Pupus. “Bentuk akar pupur ini seperti ular. Sayang, Akar pupus itu sekarang sudah tak ada lagi,” kata tambahnya.

Pohon-pohon Cacao tumbuh subur di sekitar Air terjun Tiu Pupus ini, buah-buah Coklat menyambut kami saat kami hendak menuruni tempat parkir. Kanan Kiri ditumbuhi pohon coklat yang berbuah ranum kekuningan. Buah cacao bergelantungan di kanan kiri jalan.

Lombok Utara memang sangat dikenal dengan komuditas pertaniannya. Coklat menjadi salah satu komuditas unggulannya. Misalnya : Saat saya memasuki air terjun Tiu Teja, Pohon-pohon coklat berjajar rapi di sepanjang pintu masuknya. Begitu pun, Saat saya berkunjung ke salah satu kampung teman saya di desa Lombok Utara. Coklat juga menjadi salah satu andalan kampung tersebut. Bahkan, saya diberikan sebuah coklat yang sudah menguning yang langsung dipetikkan dari pohon yang ada di pekarangan rumahnya. Buahnya hanya bisa diemmut dari daging-daging yang menempel pada biji-biji coklat. Rasanya kecut. Sedangkan Biji-biji coklat itu dikeringkan kemudian dijual kepada para pengepul. Para pengepul kemudian mengirimkan barang itu ke pabrik-pabrik pengolah coklat.

Jalan menuju air terjun Tiu Pupus laksana bukan jalanan air terjun pada umumnya. Air terjun selalu identik dengan jalan menanjak atau menurun. Tiu Pupus jalannya datar-datar saja. Kami berpapasan dengan wanita-wanita desa pupus dengan pakaian basah kuyup, membawa pakaian yang sudah dicuci di Tiu Pupus. Senyuman keluar dari wajah polos mereka.

Berpose bersama

Berpose bersama

Air Terjun Tiu Pupus bermuara pada sebuah Bendungan Sengkukun. Kali besar ini selain berfungsi sebagai daerah aliran air yang bersumber dari Tiu Pupus juga berfungsi sebagai waduk untuk menampung air yang berasal dari Air Tiu Pupus. Saat musim kemarau Bendungan Sengkukun menggunakan sistem buka tutup. Saat pagi hari, waduk ditutup sehingga kali besar menuju Air Terjun Tiu Pupus dipenuhi air, menjelang malam waduk-waduk itu dibuka sedikit-sedikit untuk mengaliri Sawah-sawah.

Air Terjun Tiu Pupus memiliki ketinggian sekitar 30 meter. Airnya mengalir deras menghujam dasar. Air Terjun ini dilengkapi dengan kolam alami yang disebut dengan “Tiu”. Jam 13.00, Mentari begitu terik menyinari Tiu Pupus. Langit biru membentang luas. Pepohonan hijau membawa angin segar, burung-burung gereja beterbangan. Sebuah pipa berbentuk kabel raksasa melintang di tengah-tengah air terjun. Pipa ini yang menghubungkan antara kampung pupus dengan air terjun tiu pupus. Pipa air ini langsung diambil dari aliran air di puncak Tiu Pupus. “Dulu, penduduk kampung kami yang memasang pipa-pipa ini, sehingga kampung kami langsung dialiri aliran puncak air Tiu Pupus, kata seorang penjaga Tiu Pupus menjelaskan kepada kami”. Ayadi namanya. Badannya kurus dan berambut gondrong.

Dari Ayani, kami diberitahu bahwa kalau berenang sebaiknya berjalan di sisi kanan. “Lewat sini, kalau yang kiri banyak batu-batunya,” katanya kepada saya dan Neldy yang hendak berenang. Lalu dia pun mencontohkan jalan menuju ke tengah-tengah guyuran air terjun Tiu Pupus. Burung-burung beterbangan di atas kami . Burung itu terbang menukik menyentuh air kemudian terbang lagi menuju angkasa.

Ayadi sedang mengantar turis

Ayadi sedang mengantar turis

Ayadi bercerita bahwa dia sering mandi menemani tamu yang datang tapi tidak semua tamu yang akan mandi selalu ditemaninya. Kalau banyak tamu yang datang, dia hanya mandi sesekali saja. Capek mas kalau setiap ada pengunjung mandi. Dari sejak tadi hingga siang ini, tak kurang sudah lima kali dia mandi di air terjun Tiu Pupus.

Air terjun jatuh terhempas ke badan kami, tak kuat rasanya berdiri mematung di bawah guyuran air terjun. cepat-cepat saya menghindari jatuhnya guyuran air terjun. sebagian guyuran air terjun beterbangan ke sana ke mari tertangkap cahaya kemudian memendarkan cahaya pelangi. Pelangi itu bergerak cepat secepat air yang mengalir. Melebar dan membesar kemudian hilang dibawa angin. Pelangi muncul lagi. hilang lagi dibawa angin. begitu seterusnya sepanjang matahari masih bersinar menyinari air yang beterbangan. Terlihat beberapa pengunjung lokal berenang di Tiu pupus.

Rupanya air terjun Tiu Pupus belum memiliki tarif tiket masuk secara resmi. Itu terbukti saat saya hendak membayar kepada Ayadi, sang penjaga. Wah terserah bapak aja, katanya. Kami berlima akhirnya bersepakat untuk membayar Rp 5.000 per orang dan Kami pun siap meninggalkan air terjun Tiu Pupus .

Romantisme Air Terjun Kerta Gangga Dusun Kerta

Air Terjun Kerta Gangga menyembul di balik rindangnya pepohonan

Air Terjun Kerta Gangga menyembul di balik rindangnya pepohonan

Lombok Utara dikelilingi oleh Gunung, Bukit dan Laut. Ibukotanya berada di antara bukit dan laut. Lombok utara bisa ditempuh dengan menggunakan jalur perbukitan pusuk pass atau melalui jalur Senggigi dengan hamparan pantai yang berpasir putih. Karena Lombok utara diapit oleh pegunungan dan pantai, profesi penduduknya tak jauh dari nelayan atau petani. Saat musim hujan tiba, hamparan sawah membentang luas di bawah bukit-bukit. Padi tumbuh subur. Jika menanam padi, maka rumput pun akan ikut tumbuh. Tapi jika menanam rumput, jangan berharap padi akan ikut tumbuh.

Perjalanan ke air terjun Kerta Gangga, terlihat petani-petani menyiangi dan mencabuti rumput-rumput sawah. Di sisi kanan jalan, Gunung Agung terlihat samar-samar di balik awan dan kabut. Kata Jauh telah menghalangi jarak pandangnya. Gunung Agung menjulang tinggi samar berada di balik pohon-pohon yang berbaris di punggung-punggung sawah. Seorang petani menunduk sambil menanam padi. Wajahnya tertutup caping kayunya. Sabit pencabut rumput berukuran kecil tersembul dari balik pinggulnya. Petani dan samarnya Gunung Agung di sawah-sawah Lombok Utara.

Petani mencabuti rumput sawah dengan latar gunung Agung Bali yang samar-samar

Petani menanam padi dengan latar gunung Agung Bali yang samar-samar

Di sisi kanan jalan, Petani-petani lain bergotong royong membersihkan rumput-rumput sawah. Bergerak bersama-sama maju mundur. Sesekali meluruskan punggung. Alatnya terbuat dari kayu. Pangkalnya sebagai pegangan. Ujungnya berupa kayu berbentuk segi empat. Tak jauh dari komplek persawahan, pantai berpasir putih dengan laut berwarna kebiruan berada di balik pohon kelapa yang berbaris rapi.

Berjalan menyusuri persawahan-persawahan hijau. Pohon kelapa yang melambai-lambai. Angin berhembus sedang. Menambah kesejukan saat menyusuri jalanan yang tak begitu ramai. Berbelok kanan kiri menyusuri jalan. memasuki Dusun Kerta, Desa Genggelang. Pintu gerbang menuju kawasan “Air Terjun Kerta Gangga” terlihat jelas dan baru. Pohon kelapa menjulang melambai-lambai. Saat menuju kawasan wisata air terjun ada garis batas yang jelas. Jalanan yang halus berubah menjadi jalanan beraspalkan tanah yang bergelombang. Pintu gerbang air terjun Kerta Gangga menjadi garis batasnya. Siapa yang memisahkan ini. siapa yang menciptakan pelosok negeri yang berbeda-beda ini.

Petani bergotong royong membersihkan rumput-rumput sawah

Petani bergotong royong membersihkan rumput-rumput sawah

Jalan yang beraspalkan tanah dengan sebagian batu-batu menyembul. Kubangan air yang tergenang. Semua itu bertolak belakang dengan pohon-pohon kelapa yang berbaris rapi, Pohon-pohon rindang yang menyejukkan.  anak-anak lugu riang gembira bermain sepeda di jalanan yang bergelombang.

Di bawah pohon-pohon rindang dengan segarnya desiran angin pedesaan. Di kanan kiri jalan, Penduduk Kerta memukul batu-batu kali yang berukuran besar. Pria dan Wanita sama-sama bekerja. emansipasi wanita telah lahir sejak dari nenek moyang kampung Kerta. Mereka tak diajarkan emansipasi di kampus-kampus atau workshop-workshop. Para wanita di kampung Kerta ini tak mengenal emansipasi. Wanita sama-sama bekerja membelah batu-batu keras agar bisa mendapatkan sesuap nasi. Ini adalah masalah perut.

Kampung Kerta dialiri air terjun Kerta Gangga di atas sana. Kampung Kerta Gangga mendapatkan berkahnya air terjun Kerta Gangga. berkahnya Gunung Rinjani. Berkahnya kampung di dekat kawasan pegunungan. Air mengaliri perkampungan Kerta yang tak pernah mengering. Jalanan bergelombang tak tersentuh pembangunan. Dana Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan tak tahu ntah kemana. Kenapa dana pemberdayaan tak menyentuh kawasan pariwisata ini.

Pintu Masuk air Terjun Kerta Gangga

Pintu Masuk air Terjun Kerta Gangga

Di sisi lain, terlihat ibu-ibu menggendong anak bayinya, Anak-anak kampung yang bermain sepeda.  Lepas dari kampung Kerta menuju kampung kerta yang lain. Melewati jalanan dengan gemericik air di kiri jalan yang tak beraspal. Di kanan jalan, sawah hijau membentang  luas. Warna hijau itu selalu menenangkan, termasuk saat mata ini memandang sawah yang menghijau, Pandangan saya beralih dari sawah-sawah hijau bukit-bukit hijau yang dipenuhi pohon-pohon rindang. Terlihat kebun pohon-pohon kelapa di perbukitan yang menjadi pembatas dusun Kerta.  Pandangan saya terhenti oleh kampung Kerta Gangga lain yang juga berfungsi sebagai pintu masuk menuju tiga Air Terjun Kerta Gangga.

Parkir kemudian mempersiapkan segala sesuatu sebelum menuju kawasan air terjun. satu pesan saya jangan lupa bawa bekal minuman. Anda bisa minuman di kampung ini. Tiket parkir motor Rp 2.000,00 sedangkan tiket masuk ke tiga kawasan air terjun Kerta Gangga ini hanya Rp 5.000,00. Komplit dah.

Wadah Kopi khas Desa Kerta Gangga

Wadah Kopi khas Desa Kerta Gangga

Saya pernah mendengar bahwa di Lombok Utara ada sebuah kampung yang umatnya beragama Budha. Kampung asli sasak. Kampung Kerta merepresentikan kampung itu. setidaknya nama kampung dan nama air terjun yang bukan berasal dari bahasa sasak. Kerta dan Gangga. kata Kerta merupakan akar kata dari Sangsekerta yang memiliki arti bahasa yang berbudaya atau sempurna. Gangga merupakan sungai suci yang berada di India. Baik itu kata Kerta maupun Gangga berasal dari India. Mungkin kah kampung ini dulunya adalah kampung hindu atau budha sebelum datangnya islam di Lombok. Mungkin kah ini kampung budha itu.

Satu-satunya Ibu yang menjual minuman-minuman di kawasan kampung Kerta  duduk di salah berugak, saya mendekatinya dan menanyakan tentang Kampung Budha itu. Pertanyaan saya adalah pertanyaan dugaan bahwa inilah kampung Budha. Ibu, di sini kampung budha kah?, kataku. “Kampung ini muslim semua mas. Kalau kampung Budha itu sebelum masuk belokan desa Genggelang mas. adanya di kampung Lenek, Kampungnya itu rapi mas,“imbuhnya. Wah saya jadi bertanya kepada diri sendiri “orang Kampung Kerta bilang bahwa kampung Lenek itu Rapi.”

Papan Informasi Kerta Gangga

Papan Informasi Kerta Gangga

Seorang petugas parkir yang bernama Madi merangkap penjaga kampung, merangkap guide menjelaskan tentang air terjun Kerta Gangga. Dia pun berjalan ke salah satu papan informasi yang juga menampilkan foto tiga air terjun Kerta Gangga.

“Di sini ada tiga air terjun. yang ini Air Terjun Gangga pertama, yang ini Air Terjun Gangga kedua. Dan ini adalah Air Terjun Gangga yang ketiga. Dia bilang sambil menunjukkan gambar-gambar air terjun Kerta Gangga. Dua Air Terjun Gangga bisa ditempuh dengan jalan sedangkan Air Terjun Gangga tiga harus menggunakan pemandu mas. Belum ada akses ke Air Terjun Gangga  tiga. Ke sananya pun harus menyeberangi sungai. Jadi, kami siap untuk mengantarkan ke tiga Air Terjun Gangga dengan biaya lima puluh ribu rupiah.” Wah mahal amir mas, kataku.  Andri mengerutu . rasanya tak ikhlas untuk mengeluarkan duit lima puluh ribu sekedar untuk melihat air terjun.  “akh waktu kita ke air terjun Sendang Gile dan Tiu Kelep di Senaru sana juga tak menggunakan guide.  Ayo kita jalan aja,” andri membisikkan mulutnya ke telingaku.

hamparan sawah membentang saat menyeberang dari Kerta Gangga satu menuju Kerta Gangga dua

hamparan sawah membentang saat menyeberang dari Kerta Gangga satu menuju Kerta Gangga dua

Kami berlima siap melihat air terjun yang airnya mengalir ke rumah-rumah di kampung Kerta. Menyusuri jalan setapak beraspalkan tanah. Gemericik air terjun Gangga mengalir di sepanjang jalannya. Beberapa turis berpapasan dengan rombongan kami. Sebuah Berugak-semacam Gazebo yang baru dibangun berada di persimpangan jalan. Dari berugak ini, kita bisa memandangi sawah hijau membentang luas, kebun pohon-pohon kelapa di ujung sana. Jalan menanjak dengan tangga-tangga yang sudah dirabat sempurna. Kanan kiri dipenuhi semak-semak.

Tak jauh dari berugak, Air yang berasal dari air terjun gangga dibagi-bagi sesuai peruntukannya. Sebagian mengalir ke kampung Kerta, sebagian mengalir ke sawah-sawah kampung Kerta. Jalan menanjak dipenuhi pohon-pohon rindang yang menggelapkan jalan. Suara burung-burung yang bertengger di pepohonan. Gemericik air mengalir deras di samping jalan.

anak-anak smp saat jam sekolah di kerta gangga

anak-anak smp saat jam sekolah di kerta gangga

Air Terjun Kerta Gangga berada di kaki Gunung Rinjani di sisi utara, di balik jalanan gelap pohon-pohon rindang. Langit pagi itu begitu cerah berpadu dengan air terjun Gangga yang beraura dingin. Terlihat anak-anak sekolah  mandi di tiu (kolam dalam bahasa sasak) dengan menggunakan seragam Sekolah menengah Pertama. Akh bukannya masih jam sekolah, batinku. Anak-anak ini ternyata sedang berbolos ria. Mereka berenang, bermain air dengan wajah riang gembira. Tak mungkin akan ada guru atau wali murid yang akan mencari anak didiknya yang bolos ke Air Terjun Kerta Gangga. Uniknya yang bolos adalah empat  cewek berwajah polos mengulum senyum.

Air Terjun Gangga mengaliri kerasnya batu-batu berwarna kehitaman. Airnya tidak terjun tapi mengalir deras di tengah pepohonan yang rimbun. Langit yang cerah, awan tak menghalanginya. Langit berwarna kebiruan. Dari Air Terjun Kerta Gangga, sawah-sawah menghijau, kampung muslim Kerta menjadi hidup, kampung Budha di Lenek menjadi rapi dan hijau. Sebagian airnya juga terus mengaliri sungai-sungai di Desa Genggelang. Air Terjun Kerta Gangga yang terpecah-pecah menjadi tiga kemudian bersatu kembali di  Air Terjun Tiu Pupus.

Air Terjun Kerta Gangga Dua yang Romantis

Air Terjun Kerta Gangga dua dibaik tebing-tebing

Air Terjun Kerta Gangga dua dibaik tebing-tebing

Untuk menuju ke lokasi air terjun Gangga yang kedua, rombongan kami harus melewati kolam air terjun Gangga. hanya ini jalan satu-satunyan. Tak ada jalan selain ini. adek sekolah yang unyu-unyu juga menyarankan melewati “jalan” yang ada di pinggir jurang. Jika jatuh ke kiri, maka kita akan basah kuyup. Jika terguling ke kanan, tubuh kita siap dihempaskan ke batu-batuan keras berwarna hitam, nyangkut di semak-semak kemudian terseret ke sawah-sawah.

Akh tak masalah. Ayo kita nyebrang, kataku kepada  rombongan yang lain. Sandal gunung saya copot, menghindari jalan yang licin. Ada pemandangan yang tersaji saat menyebrangi dari Air Terjun Kerta Gangga satu menuju Air Terjun Kerta Gangga dua. Hamparan sawah hijau membentang luas di bawah kami. Seharusnya kami bisa melihat pantai di ujung sana seandainya perbukitan dan kebun-kebun kelapa tak menghalangi pemandangan. Dibalik perbukitan dan perkebunan kelapa itu, pantai indah tersaji. Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air malu-malu berada dibalik pohon-pohon kelapa

Air terjun di balik tebing-tebing. Hanya suara gemuruh air terjun yang terdengar . tak ada hiruk pikuk manusia. Jembatan besi selebar setengah meter menjadi salah penghubung antara dua Air Terjun Kerta Gangga. air mengalir deras di bawah jembatan besi. Dari ujung jembatan besi, air terjun Kerta Gangga masih bersembunyi dibalik tebing-tebing. Kami masih harus naik ke jembatan kayu yang dibuat seadanya tapi masih terlihat kokoh. Jembatan kayu ini ditopang oleh kuda kayu-kayu. Ujung-ujungnya didudukkan kepada tebing-tebing.

Romantisme Kerta Gangga ala turis

Romantisme Kerta Gangga ala turis

Air Terjun Kerta Gangga dua yang terkurung dalam tebing-tebing pun tersaji. Air mengalir deras. Hanya kita berlima yang merasakan kesejukan air terjun ini. saya tak ingin menyiak-nyiakan pijitan guyuran air terjun Kerta  Gangga menyusul dua kawan saya yang sudah mandi duluan pak Neldy dan Pak Meidy. Andri menjadi fotografer andalan kami saat kami bertiga mandi. kami bertiga mandi secara bergantian merasakan guyuran air terjun. saat saya mandi, maka yang lain menunggu giliran. Saat berada di bawah guyuran air, pundak dan punggung serasa seperti di-massage dan diterapi oleh alam. merasakan terjangan guyuran air pegunungan yang berasal Gunung Rinjani. Akh tenang rasanya, airnya dingin sangat cocok untuk melepaskan semua kepenatan pekerjaan.

Setelah lumayan lama mandi, seorang anak muda bersama ceweknya. Eka namanya, Pemuda asli lombok Utara tapi sudah lama tinggal di Mataram. Dia juga memperkenalkan “cewek” yang katanya istrinya itu.

Romantisme ala Kerta Gangga

Romantisme ala Kerta Gangga

Tak berapa lama, empat turis yang berpasang-pasangan menyusul memenuhi Kerta Gangga.  dua turis cowok langsung mandi merasakan guyuran dan dinginnya air terjun Kerta Gangga. dua turis cewek hanya menunggu pasangannya mandi. setelah selesai merasakan guyuran air, mereka balik ke pasanganya masing-masing. Sepasang diantara mereka langsung memadu kasih di depan mata kami. Kedua bibir itu bertemu merasakan kehangatan dalam suasana kedinginan. Disaksikan oleh semua pengunjung.

Setelah merasakan ciuman hot, dua turis cowok itu kembali mandi guyuran air kemudian mendekati pasangan masing-masing lagi. sepasang turis kembali mengulang menghangatkan badan yang menggigil. Dua bibir bertemu lagi berciuman mesra di depan pengunjung lain. Sepasang kekasih mengulang sampai beberapa kali. Akh dasarrrrr bule….. bikin ngiri aja, batinku…hahaha. Rasa dingin bisa diminimalisir dengan mengalirkan setruman kehangatan. Rasa dingin dekat dengan “pingsan” sehingga harus dibantu dengan “bantuan” pernafasan.  Air terjun Kerta Gangga dua menjadi saksi terhadap semua keromantisan dua manusia yang memadu kasih. Biarlah air terjun Kerta Gangga yang menjaga rahasia itu. Dengan momen keromantisan air terjun Kerta Gangga,  saya dan pengunjung lain siap meninggalkan air terjun Kerta Gangga.

berpose dengan Latar Air Terjun Kerta Gangga

berpose dengan Latar Air Terjun Kerta Gangga

Sebetulnya Air Terjun Kerta Gangga ada tiga buah. Sayang, satu air terjun Kerta Gangga tiga belum ada aksesnya, kami harus menyebrang sungai untuk mencapainya. Jangan lupa, kalau anda ingin oleh-oleh khas Kerta Gangga ada Kopi dengan wadah unik dengan campuran coklat dan Vanilla. Ini lah pelosok negeri yang kami jelajahi. Masih banyak pelosok negeri yang lain yang perlu kita jamah dan kita lestarikan.

Air Terjun Coban Rondo dan Grojogan Sewu Malang

Air Terjun Grojogan Sewu dengan arsitektur Tiongkok

Air Terjun Grojogan Sewu dengan arsitektur Tiongkok

Hari sabtu menjelang siang hari saya siap berangkat menuju ngantang. Menjenguk rumah mertua yang terkena dampak letusan gunung kelut. Dari gang sempit kampung oro-oro dowo, kota malang saya bersama istri berangkat menggunakan sepeda motor. Ku liat langit yang diselimuti awan putih kelabu. Sepertinya akan segera turun hujan. Tak ada jas hujan, saya pun terus melaju menggunakan sepeda motor yang pajaknya baru dibayar sebulan lalu itu.

Memasuki kota batu langit semakin kelabu. Hawa dingin kota Batu menggelayuti tubuh saya. Sreng.. dingin, segar. saya pun terus melaju melewati kota yang terkenal dengan sebutan kota Apel itu. melewati alun-alun kota Batu saya jadi teringat bahwa alun-alun ini pernah menjadi tempat pengungsian orang-orang yang terkena dampak gunung kelut dari kecamatan Ngantang. 18 hari sejak gunung kelut meletus, lokasi pengungsian ini kembali seperti sedia kala. Tak ada tenda. Tak ada pengungsi. Tak ada relawan. Semua seperti sedia kala.

Setelah melewati kota batu yang dingin. Saya akan memasuki kawasan yang lebih dingin lagi. Melewati kecamatan yang terletak di antara kota Batu dan kecamatan Ngantang. Yaitu Pujon. Untuk memasuki kawasan kecamatan Pujon, ada dua alternatif jalan. bisa menggunakan alternatif jalur coban rondo atau jalur Songgoriti.

Jembatan Grojogan Sewu

Jembatan Grojogan Sewu

Jalur Coban rondo jarak tempuhnya lebih lama, berbelok-belok, memutar dan tanjankannya tak terlalu curam, dan anda pun bisa mengunjungi kawasan air terjun coban rondo yang terkenal di malang itu. nah jalur yang kedua adalah jalur Songgoriti. Jalur Songgoriti ini sebetulnya adalah jalur searah dari arah Pujon ke Batu. dan hanya cukup untuk satu mobil. Jadi untuk yang menggunakan mobil tidak disarankan melewati jalur ini dari batu ke Pujon. Di pintu masuk songgoriti terdapat tanda polisi “Minus” yang berarti dilarang melewati jalan ini.

Walaupun ini jalur searah, saya sering  melewati jalur songgoriti karena ini termasuk jalan tikus menuju pujon. Jalannya yang menanjak tak menyurutkan saya melewati jalur ini karena jarah tempuhnya pun lebih cepat. dan melanggar ketentuan lalu lintas. Songgoriti ini sebetulnya lebih dikenal sebagai kawasan “cisarua” nya Malang. Villa-villa banyak dibangun kawasan ini. saat saya memasuki kawasan Songgoriti, beberapa warga yang berada di pinggir-pinggir jalan meneriaki saya “Villa mas, Villa Mas, Villa Mas”. Sepanjang jalan saya ditawari “Villa Mas”.

Jembatan Grojogan Sewu

Jembatan Grojogan Sewu yang terkena dampak banjir bandang.

Bersahut-sahutan antara kanan dan kiri jalan. Setiap rumah di pinggir jalan itu seakan ada penunggunya. Dan penunggunya akan selalu menawarkan dan meneriakkan “Villa Mas”. Hebohnya lagi kalau di pinggir jalan berkumpul beberapa orang. Semuanya akan berteriak “Villa Mas”. Bahkan mereka pun semangat sekali mengejar saya menggunakan sepeda motor dan memepet sepeda motor saya kemudian menanyakan “Villa Mas”. tentu jawaban saya atas pertanyaan mereka adalah dengan tanggapan cuek “Ngak mas (setidaknya untuk saat ini). “

Saya berpikir mungkin karena saya boncengan dengan “cewek”. Sehingga mereka mengira bahwa saya ingin mencari penginapan. Ingat kawasan songgoriti, pikiran saya langsung ingat 4 tahun lalu tahun 2010. saat saya dan kawan-kawan saya berjalan di kawasan Legian, Bali. Tiap kaki melangkah selalu ada yang menawarkan “cewek mas, cewek mas, cewek mas”.

Ada yang menawarkan terang-terangan di depan saya atau di balik-balik toko atau dibalik gang-gang kecil di Legian. Sepanjang saya melangkahkan kaki di Legian tawaran itu tak pernah berhenti. Apalagi saat mendekati kawasan “Ground Zero nya ” Bali. Tawaran “Cewek mas” makin sering. Itu lah kawasan Legian Bali yang memiliki kemiripan dengan kawasan Songgoriti Malang.

Suasana Air Terjun Coban Rondo

Suasana Air Terjun Coban Rondo

Jalannya menanjak dan terjal. Di samping kiri adalah lembah-lembah yang ditumbuhi pohon-pohon cemara yang menghijau. Kanan kiri jalan dipenuhi pohon-pohon cemara-cemara berbaris rapi melambai-lambai diterpa angin pegunungan. Motor saya meliuk-liuk ke kanan kiri menghindari jalan-jalan yang berlubang. Di balik pohon-pohon cemara ada lembah songgoriti yang curam.

Di balik lembah itu ada mushalla yang berdiri di puncak bukitnya. rumah-rumah penduduk mengelilingi tepat berada di bawahnya. Di puncak bukit yang lain, kondominium perumahan berdiri di puncak bukit. Di puncak tanjakan, ku liat angin yang membawa awan putih merayap-rayap di jalan, menyusuri lembah, mengipas pohon-pohon cemara, membasuh-basuh tubuh saya yang mulai kedinginan.

Setelah mencapai puncak, kota kecil pujon menyambut saya dengan hawa dinginnya. Gerimis pun menghujani saya. Saya melongok ke atas. Awan putih kelabu menyelimuti. Pasir dan debu tumpahan gunung kelut yang beterbangan di pujon tak terlihat lagi. Angin dan hujan menyapunya dengan bersih. Relawan pun tak bermunculan.

Air Terjun Coban Rondo

Air Terjun Coban Rondo

Saya pun berlalu dengan kecepatan sedang. Melihat-lihat ke sekeliling pujon. Melewati koperasi susu sapi terbesar di Malang “Koperasi Susu SAE”. Di ujung jalan, terlihat puncak bukit. Awan-awan terbawa angin menangkupi pujon yang sejuk. Tak ada jejak gunung kelut . Tak ada jarak pandang yang dibatasi. Hanya bukit-bukit dan bangunan-bangunan toko di pinggir jalan yang membatasi jarak pandang saya.

Saya pun terus melaju menuruni keramaian pujon. Meliuk-liuk menuruni meninggalkan keramaian pujon menuju ke keramaian pujon yang lain, pusat-pusat oleh-oleh khas pujon. Terlihat berbagai sayuran dan buah-buahan di jual di sini. dan pastinya murah-murah. Apel-apel hijau, Ubi-ubian menggantung di pinggir-pinggir jalan.menunggu jamahan dan tawaran orang-orang yang ingin membawa pulang sebagai oleh-oleh.

Mobil di depan saya pun melambat trus makin melambat sampai terhenti dengan sempurna. sungai kali konto yang berada di samping jalan begitu derasnya. Membawa air dari hulu di gunung kawi mengalir menuju titik terendah menembus kecamatan Pujon dan ngantang melewati kabupaten jombang. bertemu dengan sungai kedua terpanjang di pulau jawa, kali brantas. Bercampur dengan aliran air kali widas yang membawa air dari gunung wilis di kediri. Mengalir menyusuri mojokerto. Bercabang ke arah porong dan surabaya. Kemudian Keduanya bersemayam di teluk madura di sisi timur surabaya.

Banjir Bandang yang menerjang rumah dan Escavator

Banjir Bandang yang menerjang rumah dan Escavator

Kali Konto tak sepertinya biasanya. Hujan yang begitu deras di ujung bulan Januari 2014 menghantam sawah-sawah. Banjir Bandang menimpa kecamatan Pujon dan Ngantang. Airnya meluber ke jalan-jalan. menerjang segala sesuatu yang menghalanginya. Pohon-pohon tumbang. Rumah-rumah di bantaran kali tersapu. setiap tikungan jalan, separuh jalannya tergerus dibawa ntah kemana. Sawah-sawah terlihat seperti disetrika oleh setrika alam. Halus dan berwarna kecoklatan. Air bah kali konto telah merusak sepanjang 15 Km di sepanjang aliran kali konto di Pujon dan Ngantang. rumah-rumah bantaran kali konto yang kuat bertahan hanya sebagian yang terbawa air, sebagian tersisa menggantung di pinggir sungai. Terlihat seperti manusia yang kakinya diamputasi separuhnya.

Petugas escavator yang berusaha membersihkan sungai kali konto tiba-tiba dihantam banjir bandang. Escavator dan petugasnya langsung terseret beberapa meter. Terpelanting. Escavator akhirnya didudukin oleh batu-batuan kali yang besar. Batu-batu kali konto begitu kuasa untuk menduduki escavator raksasa. Badannya dijepit oleh batu-batuan yang lain. Escavator tak berdaya. Dia begitu tak kuasa memindahkan satu dua buah batu yang mengelilingi tubuhnya. Banjir bandang telah mengubah semuanya. Batu tak bernyawa bisa berkuasa atas escavator. Escavator itu berada tak jauh dari rumah yang separuhnya terseret air bah.

Berbagai media memberitakan bahwa petugas itu hilang ditelan banjir bandang. Menjadi headlines di koran lokal malang. Sebetulnya, dia berhasil menyelamatkan diri dan menginap di salah satu rumah penduduk sekitar. Media tak mengendus berita itu. hanya berita mulut ke mulut yang mengetahui bahwa petugas escavator selamat dan berada di rumah penduduk.

Escavator diduduki batu-batu akibat terjangan banjir bandang

Escavator diduduki batu-batu akibat terjangan banjir bandang

Tak hanya jalan dan sawah yang diterjang oleh ganasnya banjir bandang. Jembatan yang menghubungkan ke air terjun Grojogan sewu terputus. Warnanya jembatan berwarna merah cerah. Sayang, ujungnya sudah diterjang banjir. Kecantikan jembatan memudar. Saya pun terus melaju dengan pelan. Sesekali terhenti oleh jalan yang separuhnya dimakan oleh amukan banjir. Pemuda kampung seketika menjadi petugas dadakan mengatur lalu lintas. Bergantian. Ketika kendaraan dari arah malang berjalan maka kendaraan yang dari arah jombang dan kediri terdiam merayap memaku jalan. begitu juga sebaliknya.

Saat terlepas dari jalan rusak, dari antrean panjang, saya langsung dihadapi pada antrean baru lagi. Motor terhenti. Ujung kemacetan tak terlihat. Sepertinya daya rusaknya lebih parah dari yang sebelumnya. Ku melongok ke depan sana, tak ada tanda-tanda bahwa kemacetan akan segera terurai. ku liat aliran deras sungai konto. Terlihat beberapa warga yang sedang gotong royong. Ku toleh ke kanan jalan. di Gapura kampung tertulis “Kel. bendosari “. Saya mencari waktu sejenak menghilangkan antrean yang tak berkesudahan. Saya mendekati keremunan penduduk. “ayo, kurang dowo,”  teriakan salah satu warga di atas jembatan kepada kawannya yang berada di bawah jembatan. “kurang dowo”. Saya melongo ingin tahu.  Ternyata tali yang digunakan untuk menarik bambu-bambu itu yang kurang panjang. Dowo dalam bahasa jawa berarti panjang.

Jembatan bambu Bendosari di kecamatan Pujon

Jembatan bambu Bendosari di kecamatan Pujon

Rupanya, warga di kampung bendosari bergotong royong membangun jembatan darurat dari bambu. Bambu-bambu yang baru ditebang langsung ditali temali kemudian dipasang untuk dijadikan jembatan. Mereka bahu membahu untuk membangun jembatan ini. tak perlu uluran tangan dari pemerintah yang tak jelas kapan akan dilakukan pembangunan kembali. Warga desa bendosari tak perlu itu. mereka hanya perlu bambu-bambu untuk menyambungkan dua daratan yang terpisah oleh kali konto. Di ujung jembatan, hanya ada satu rumah dengan tulisan “olah limbah jadi berkah.” Saya belum bisa menerka bangunan apakah itu. pengolahan susu sapi kah atau kah pengolahan limbah?.

Saya hanya sibuk memotret jembatan darurat dan orang-orang yang berjalan di jembatan dengan panjang sekitar 7 meter itu. beberapa warga melihat saya jeprat sana sini. saya terdiam dan melirik. mereka memberikan senyum manis kepada saya. Saya pun membales senyuman mereka sambil terus memotret jembatan bambu. Sebelum pertanyaan saya terjawab saya harus segera meninggalkan lokasi ini. ku toleh ke belakang melihat warga bersenda gurau di tengah kesibukan membangunan jembatan. Tertawanya begitu lepas seakan tak ada beban. Saya pun sempat merekam senyum mereka yang lepas. saya harus melanjutkan perjalanan lagi. Mungkin sebentar lagi kemacetan akan teurai dan siap melanjutkan perjalanan kembali.

Gelak tawa lepas warga bendosari

Gelak tawa lepas warga bendosari

Kecamatan Ngantang. Inilah kecamatan yang terkena dampak terparah letusan gunung kelut tanggal 13 Februari 2014 itu. Dua kali kecamatan ngantang di rundung kesedihan hanya dalam waktu tak lebih dari 15 hari. Banjir bandang dan gunung meletus.

Saat saya memasuki ngantang. Gundukan-gundukan pasir hitam mengkilat tertumpuk di pinggir jalan. setiap rumah penduduk pasti ada pasirnya bekas tumpahan gunung kelut yang belum terangkut. Beberapa rumah masih terlihat kusam kelabu seperti langit yang masih kelabu. Tak ada hiruk pikuk relawan yang bekerja. melawatan desa kaumrejo. Jalan-jalan masih diselimuti pasir setinggi 10 cm. siang hari, saya tiba di rumah mertua saya di ngantang. Tepat di kaki waduk selorejo. Merehatkan badan dan kaki untuk mempersiapkan perjalanan besok hari menelusuri dampak gunung kelut di Ngantang.

Air Terjun Pelangi itu bernama Tiu Teja

Air Terjun Pelangi itu bernama Tiu Teja

Air Terjun Tiu Teja emang ajibbb

Air Terjun Tiu Teja emang ajibbb

Hari Minggu tanggal 1 Desember 2013 saya ada dua acara jalan-jalan. dua-duanya sangat bertolak belakang. acara yang pertama mau snorkeling dengan Lombok Backpacker di perairan tiga gili yaitu Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air. sebuah tawaran yang cukup menarik. dan saya sebetulnya memang ingin snorkeling di tiga gili tersebut. apalagi hari ini biaya kapalnya gratis.

batu-batu Tiu Teja

batu-batu Tiu Teja

acara yang kedua adalah jalan-jalan ke Gunung  Air Terjun Tiu Teja, di Kaki Gunung Rinjani. saya memutuskan untuk tetap pergi ke Air Terjun Tiu Teja dengan banyak alasan tentunya. yang pertama adalah saya sudah komitmen dengan teman saya andri untuk touring ke Air Terjun Tiu Teja. yang kedua adalah saya tak punya alat snorkeling. buat apa saya ikut rombongan snorkeling kalau saya tidak punya alat snorkelingnya. sedangkan teman Lombok Backpacker yang ber 11 itu sudah memiliki alat snorkeling. ya itulah alasan saya tetap memilih Air Terjun Tiu Teja.

hijaunya rumput di Air Terjun Tiu Teja

hijaunya rumput di Air Terjun Tiu Teja

saya mendengar Air Terjun Tiu Teja pada saat saya pergi ke Air Terjun Sendang Gila dan Tiu Kelep. di antara tiga air terjun itu hanya air terjun Tiu Teja yang belum saya kunjungi. Tiu Teja berasal dari bahasa sasak yang artinya Air Terjun Pelangi. Tiu (Air Terjun), Teja (Pelangi)

awalnya, yang akan berangkat ke Air Terjun Tiu Teja bertiga. tapi Adam tiba-tiba membatalkan. kami berangkat jam 07.15 dengan melalui jalur kawasan wisata pegunungan wisata Pusuk. sekalian mau nemuin kera-kera di Pusuk. eh pas di masuk kawasan pusuk, kera-kera itu benar berseliweran di pinggir jalan. bahkan duduk di tengah jalan raya. untung pas motor saya lewat, tuh kera mau minggir. kalau ngak minggir yaaa bisa kena tabrak.

Lanscape Tiu Teja

Lanscape Tiu Teja

Air Terjun Tiu Teja berada di kawasan Kaki Gunung Rinjani, Desa Santong, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara. waktu yang dimakan (dimakan emangnya makanan) oleh Tiu Teja sekitar 2 jam untuk menempuh jarak sejauh 86 Km. 2 Km sisanya jalannya hanya bisa dilalui Sepeda motor. so, bagi yang ingin ke air Terjun Tiu Teja lebih baik menggunakan sepeda motor. kalau mau pake mobil siap-siap jalan sejauh 2 Km. gempor gempor deh.

Air Terjun Tiu Teja

Air Terjun Tiu Teja

saat sudah memasuki kawasan Tiu Teja, saya langsung disuguhi pohon-pohon cacau di samping kanan kiri jalan. sayang, pohon coklat itu kurang terpelihara dengan baik. bahkan buah coklatnya ada yang sudah menguning dan ada juga buah sudah mengering di tanah. sebetulnya sih udah mau nyampe. dasar kitanya ngak tau jalan. akhirnya, nanya deh ama tuh kakek yang hendak mau ke kebun. alamak.. tuh kakek hanya tau bahasa sasak. ya udah akhirnya kita pake bahasa isyarat deh. tapi lumayan juga akhirnya ngerti juga apa maksudnya.

yukkk kita naikk

yukkk kita naikk ampe gempor

alhamdulillah jalannya baru aja selesai dibangun tapi lumayan cukup curam sih. suara air terjun sih ngak terlalu terdengar dari atas. jadi agak setengah ragu. keep fighting-semangat. eh setelah berjalan 15 menit akhirnya tuh air terjun nongol juga.

keren neh air terjun. air terjun lumayan deras dan tinggi. tingginya sekitar 20 km. neh air terjun benar-benar sepi. tak ada orang sama sekali. hanya saya dan andri. jadi, kami lebih leluasa untuk explore air terjun Tiu Teja.

Narsis dulu

Narsis dulu

air terjun Tiu Teja ini bisa dikatakan sebagai air terjun kembar. benar-benar ajib ne air terjun. inilah air terjun yang berada di kaki gunung Rinjani. kalau di kaki gunung Rinjani aja air terjun seperti ini. apalagi di kepala Gunung Rinjani yach. kita benar-benar yang menguasai air terjun Tiu Teja. tak ada pengunjung lain. mungkin karena medan ke air terjun Tiu Teja yang cukup susah, sehingga pengunjung males males yang mau kesini. padahal seandainya mau bersusah payah sedikit, bisa mendapatkan ajibnya air terjun Tiu Teja.

Air Terjun Tiu Teja emang bener2 adem n ajib

Air Terjun Tiu Teja emang bener2 adem n ajib

hampir sekitar 2 jam saya berada di air terjun ini, tak ada seorang yang datang. selama dua jam itu, saya dan andri hanya menghabiskan waktu untuk moto-moto air terjun tak ada yang lain. bahkan untuk mandi di air terjun pun tidak. jam sudah menunjukkan pukul 11.00. cukup puas saya berada di air terjun ini. kami pun sudah siap-siap untuk naik. eh saat hendak mau pergi, beberapa pengunjung datang. ada 5 orang.

akhirnya, ku coba tanyain dari mana mereka. kami berasal dari kampung sebelah, kata salah satu dari mereka. dan tujuan mereka ke sini hanya satu yaitu Mandi.

Pintu Gerbang ke Tiu Teja

Pintu Gerbang ke Tiu Teja

perjuangan saya lebih berat. kalau tadi berangkatnya menurun, maka sekarang adalah menanjak. lumayan bikin gempor. terpaksa saya dan andri harus dua kali berhenti dan meneguk minuman yang sudah kami bawa sebelumnya. kaki lunglai, mata mulai berkunang-kunang, mulut mulai berbusa. akhirnya kami berdua puas setelah tiba di atas. kami pun bertemu dengan 3 pengunjung. saya pun penasaran ingin asalnya dari mana dan mau kemana?,. benar sesuai perkiraanku, mereka berasal dari kampung di sini yang juga ingin mandi.

catatan :

  1. lebih baik menggunakan sepeda motor. hampir sekitar 2 km, jalan masuk ke Tiu Teja hanya bisa dilewati oleh sepeda motor.
  2. Air Terjun  Tiu Teja berarti Air Terjun Pelangi. dari mana asal usul nama itu yach. mungkin kalau Tiu Kelep disebut sebagai Air Terjun Pelangi sangat cocok. karena saya menyaksikan sendiri pelangi-pelangi itu menari-nari di pusaran air terjun Tiu Kelep. sedangkan di Tiu Teja, saya tidak menyaksikan pelangi-pelangi sama sekali.

 

Oehala, Air Terjun bertingkat tujuh

Kenangan di Pulau Timor

Oehala, Air Terjun bertingkat tujuh

Selamat datang di Air Terjun Oehala, SoE.

Selamat datang di Air Terjun Oehala, SoE.

Sejenak melupakan kepenatan dan panasnya kota kupang. Kupang sebetulnya dikelilingi oleh pantai. Sebut aja mulai dari pantai Lasiana, Pantai Teddys, pantai Pasir panjang, Pantai Paradiso, Pantai Tenau, Pantai Tablolong, dll. Tidak hanya itu, kupang akan menjadi kota yang indah pada bulan-bulan akhir tahun mulai dari September sampai dengan Desember.

menuruni jalan ke Lokasi Air Terjun

menuruni jalan ke Lokasi Air Terjun

Pada bulan-bulan itu kota kupang seperti kota tokyo di negeri Sakura. bunga-bunga yang biasanya berbunga pada bulan-bulan Desember serentak berbunga. Bunga Flamboyan dan bunga sejenisnya mulai berbunga. Saat itulah kupang benar-benar menjadi kota indah dengan penuh kasih.

Mata kita langsung disambut tangga air terjun Oehala

Mata kita langsung disambut tangga air terjun Oehala

Pada saat kota kupang dipenuhi oleh bunga-bunga yang bersemi. Saat itu juga cuaca kota kupang begitu panasnya. Bahkan Suhunya bisa sampai 42 derajat celcius. Nah saat cuaca yang kurang bersahabat, enaknya jalan-jalan ke pegunungan di daratan timor yaitu kabupaten Timor tengah Selatan (TTS) di SoE. Suhu di SoE beda dengan Kupang yang panas. Suhu disini begitu dingin. Dinginnya pun sangat tajam. Sebaiknya anda menggunakan jaket penghangat jika ingin menginap di SoE.

Oehala Waterfall

Oehala Waterfall

Mari lupakan sejenakkota kasih Kupang. Kali ini saya akan mengajak perjalanan saya ke Air Terjun bertingkat tujuh yang berada di bogor-nya kupang. Nama air terjunnya adalah Air terjun Oehala. Oe dalam bahasa suku timor berarti Air. Air terjun Oehala ini berada di kabupaten TTS. Jaraknya sekitar 100 km dari kota Kupang. Butuh dua jam untuk mencapainya.

Tangga Air terjun Oehala

Tangga Air terjun Oehala

Transportasi yang bisa digunakan adalah Bis antar kabupaten atau travel jurusan SoE. Dari terminal SoE anda bisa menggunakan ojek jurusan air terjun Oehala. Tarif ojeknya sekitar 25.000 pulang pergi. Namun jika anda ingin merasakan dinginnya puncak di pulau Timor ini. Anda bisa menginap di Hotel Bahagia atau Hotel Gajah Mada di SoE. Waktu tempuh dari kota SoE ke lokasi air terjun Oehala hanya 30 menit.

Infrastruktur jalan menuju air terjun Oehala belum terlalu mendapatkan perhatian dari pemerintah setempat. Begitu juga dengan fasilitas di lokasi air terjun belum begitu memadai. Kamar kecilnya belum begitu memadai.  Anda tidak akan menjumpai Penjual makanan dan minuman di lokasi. Sebaiknya anda membawa bekal makanan sendiri jika mau berwisata ke air terjun Oehala. Air terjun Oehala ini banyak dikunjungi oleh anak-anak muda pada saat hari libur.

Air Terjun Oehala semakin malam. semakin gelap. semakin takut juga. hanya saya yang moto disini

Air Terjun Oehala semakin malam. semakin gelap. semakin takut juga. hanya saya yang moto disini

Saat anda turun menuju lokasi  air terjun Oehala, anda akan mendengar gemuruh air terjun Oehala bertingkat tujuh ini. saya kesini saat menjelang sore hari. Tidak ada pengunjung kecuali saya dan tukang ojek.tukang ojeknya hanya menunggu di lapangan parkir. jadi, hanya saya yang benar-benar menuruni air terjun Oehala. benar-benar sepi dan sendiri. Jam sudah menunjukkan pukul 16.50 Wita.

Airnya begitu deras dan jernih khas mata air pegunungan. Deburan air terjun ini seakan menenangkan kesendirianku. Air terjunnya berbentuk tangga-tangga raksasa yang dibuat oleh alam. Tangga yang Begitu cantik dan ciamik dengan warna kehijau-hijauan. Sambil melihat tangga-tangga, aku ingin berdendang.

menyeruput kopi flores memandangi sunset dari Hotel Gajah Mada

menyeruput kopi flores memandangi sunset dari Hotel Gajah Mada

Sendiri ku di sini. Menatap tangga-tangga langit. Mendengarkan suara gemericik air membasahi jari-jemari.

Sepulang dari air terjun Oehala, sambil menikmati sunset dari lantai dua Hotel Gajah Mada sambil menyeruput kopi hangat khas flores untuk melawan hawa dingin suasana puncak SoE

Perjalanan Menuju kawasan wisata Moni, Ende

Bentuk Sawah-sawah saat perjalanan dari Ende ke Gunung Kelimutu

Bentuk Sawah-sawah saat perjalanan dari Ende ke Gunung Kelimutu

Sawah-Sawah dan Tebing-Tebing

Kali ini saya melanjutkan perjalanan saya ke Kawasan Wisata Moni. Jika kupang identik dengan panasnya maka di Ende sangat identik dengan ademnya. Kabupaten Ende termasuk dalam kawasan pegunungan. Tentunya gunung yang terkenal itu Gunung Kelimutu yang terkenal dengan Danau Kelimutu tiga warna.

IMG_4735

sawahnya keren ya di ende ini

Tidak hanya itu, sepanjang perjalanan saya ke kawasan Wisata Moni. Banyak kawasan pertanian dan perkebunan yang kami lewati. Banyak tanaman yang bisa kami jumpai dalam perjalanan ke Moni. Seperti perkebunan kemiri, cengkeh, coklat, dan hamparan tanaman padi. Dari berbagai kawasan pertanian ada yang satu hal yang sangat mencolok dan unik bagi rombongan kami. Akhirnya kami pun memutuskan untuk berhenti sejenak. Kawasan itu adalah kawasan pertanian padi. Bukan padi yang unik tapi bentuk petak-petak sawah itu yang unik. Mungkin bentuknya mirip apa ya…hayo ada yang bisa bantu sawah ini berbentuk apa?tentunya ya berbentuk sawah. Hehe.

Sepanjang perjalanan, kami dimanjakan oleh indahnya tebing-tebing pegunungan yang terjal. Saya tidak bisa membayangkan seandainya saya terhempas dari tebing-tebing tersebut. Selain itu, saya melihat beberapa warga yang mandi dari air terjun dadakan yang berada di pinggir-pinggir jalan raya. Terlihat aneh sih tapi tidak bagi mereka. Dari tebing-tebing keluar air. Air yang keluarnya cukup deras itu dipasanglah paralon. Nah warga hanya memanfaatkan air yang keluar dari paralon-paralon itu. ada yang mandi dan ada yang ngambil untuk keperluan lainnya. Jadilah pinggir-pinggir jalan raya penuh dengan warga atau anak-anak yang mandi.

Narcis dulu akh

Narcis dulu akh

Melewati kawasan pemandian dadakan. Kami pun disuguhi lagi pegunungan dan tebing-tebing. Sang supir lalu menunjuk sebuah kampung adat yang jauh disana. “di sana ada kampung adat, kampung adat itu baru terbakar”, ucap sang supir kepada kami. Karena insiden kebakaran itu, sang supir menyarankan agar kami tidak perlu datang kesana. Kami pun melanjutkan perjalanan lagi.

Wisata Air Panas Ae Oka Detusuko

IMG_4747

Wisata Air panas Ae Oka Detusuko Jaraknya sekitar  33 km. bisa ditempuh dalam satu jam dengan Mobil atau motor atau angkutan umum. Air panas Ae Oka Detusuko berada pertigaan jalan. Tepatnya di pertigaan pasar Detusuko. sekitar 500 meter dari Pasar Detusuko.

nah sebelum masuk. bayar karcis dulu. Ngak mahal, paling 2000 perak. Kolam renang air panas tidak terlalu luas. Pas lah buat manasin badan. Air Panas Detusuko ini biasa dikunjungi warga pada sore untuk mandi. Adanya air panas sangat cocok dengan kawasan yang dingin di daerah Detusuko. Menurut penjelasan penjaga air panas Ae Oka Detusuko, suhu di sini berkisar 36 s.d 45 derajat Celcius.

IMG_4740

Nah khusus untuk weekend. Air panas Ae Oka Detusuko banyak dikunjungi dari daerah-daerah lain. ada yang datang untuk sekedar mandi atau berendam atau ingin menyembuhkan penyakit kulit. menurut sebagian pengunjung, banyak orang-orang yang sembuh setelah mandi di pemandian Detusuko (mungkin ada benarnya kan airnya banyak ngandung mineral).

Danau Kelimutu itu berwarna-warni sesuai dengan kadar mineral. Yang pasti mineralnya lebih tinggi. Kalau yang air panas Ae Oka Detusuko aja bisa nyembuhin penyakit, apalagi yang danau kelimutu yang bermineral tinggi (hanya kesimpulan sang penulis hehe).

Jalan menuju pemandian air panas

Jalan menuju pemandian air panas

Kolam air yang ada di kawasan ada dua. Satu berukuran besar yang cukup untuk berenang. Dan satu lagi yang berukuran lebih kecil yang bisa untuk berendam beberapa orang saja. Nah sebelum mengalir ke kolam, air tersebut harus melalui kolam penampung yang ukurannya lebih kecil tapi suhunya lebih panas. Saya coba memasukkan tangan, cepat-cepat saya narik lagi karena panas. Untuk test lanjutan, saya coba menaruh telur puyuh mentah yang sudah saya beli. Tapi sebelum telur itu mateng, saya keburu lanjutin perjalanan lagi.

ngerebus telur puyuh

ngerebus telur puyuh

Nah waktunya berangkat lagi ke kawasan moni. Hanya butuh 30 menit untuk nyampe ke kawasan ini. beberapa penginapan dan Homestay sudah berjejer di sepanjang jalan kawasan moni. Termasuk hotel milik pemerintah daerah yang paling menonjol dan berada di pintu masuk kawasan Moni. Sayang, hotel itu sudah terlalu dirawat. Kesannya sih tak terawat gitu.

Nah sekarang lanjutin survey hotel sekaligus buat nginep bareng semalem. Akhirnya saya tiba di sebuah penginapan yang asri. Ketemu resepsionis, trus nanya-nanya harga. Eh hargae pake dollar (90 – 100 dollars). Akhirnya urungkan niat deh buat nginep situ..nyari-nyari akhirnya dapat di Bintang Lodge. Tarif kamar 350.000 per malam. Karena saya beritahu kalau saya sedang survey, si pemilik memberikan diskon 50.000. lumayan buat ngirit sih.

Air terjun Murundao

Air Terjun Murondao, Moni

Air Terjun Murondao, Moni

Hari sudah sore, tapi males kalau di kamar. Akhirnya nyoba nanya tempat wisata di sekitar Moni. Eh sang supir ngasih tahu di dekat sini ada Air Terjun, Air Terjun Murondao. Ya udah kita langsung cao. Harus secepatnya cao. Soalnya wis keburu malem. Jarum Jam wis nunjuk ke angka lima. Cayo

Murondao Waterfall

Murondao Waterfall

Tak perlu lama-lama. Hanya 5 menit dah tiba di lokasi. Air Terjun Murondao ne tak hanya berfungsi sebagai Air Terjun. Tapi juga sebagai irigasi, sayang irigasi itu juga masih jauh. Sehingga, untuk keperluan rumah tangga, beberapa warga perlu ngangkut air dari irigasi tersebut. Yang saya heran napa tuh irigasi tidak melewati perkampungan warga agar bisa dimanfaatin tak perlu angkut-angkut.  (bersambung)

Ikuti Perjalanan kami yang lain di Ende saat menggunjungi Pantai Penggajawa, Pantai dengan batu-batuan Hijau di

https://caderabdul.wordpress.com/2013/09/15/pesona-pantai-penggajawa-dengan-batu-hijaunya/

atau mau tahu Bagaimana Bung Karno menemukan Inspirasi 5 Dasar Pancasila dalam pohon Sukun sila ke

https://caderabdul.wordpress.com/2013/09/15/bung-karno-dan-pohon-sukun/

Follow twitter kami di @caderabdulpaker