Mengejar Sunrise Danau Kelimutu 3 Warna

Mengejar Sunrise Danau Kelimutu 3 Warna

Ende. salah satu nama kabupaten di pulau Flores, NTT. Namanya tak terlalu dikenal di jagat nusantara. tapi kabupaten ini begitu bersejarah bagi pilar Bangsa Indonesia. di Kabupaten Ende Bung Karno diasingkan. di Ende juga lah Bung Karno mendapatkan inspirasi untuk melahirkan Pancasila sebagai Dasar Negara. Penduduk Indonesia akan selalu mengingat kabupaten Ende setiap tanggal 1 Juni sebagai hari lahirnya Pancasila.

Karena Bung Karno juga lah, “Pohon Sukun” menjadi sesuatu yang sangat spesial di Taman Renungan Bung Karno. Lalu pertanyaannya adalah kenapa “Pohon Sukun” begitu spesial bagi spesial bagi lahirnya Pancasila. apa hubungannya antara Pohon Sukun, Bung Karno, dan Pancasila.

Ende tak hanya menawarkan perjalanan lahirnya Pancasila, tapi Ende juga menawarkan sejuta Pesona seperti pantai batu hijau Penggajawa dan Danau Kelimutu 3 warna. Danau Kelimutu yang selalu berganti-ganti warna. Danau Kelimutu yang menjadi pusat berkumpulnya arwah-arwah yang sudah meninggal. Pertanyaannya adalah kenapa Danau Kelimutu menjadi selalu berganti-ganti warna atau kenapa Danau Kelimutu menjadi pusat roh-roh. atau anda pengin tahu seorang Biker dunia yang menjelajahi Danau Kelimutu.

——————————————————————————————

Mengejar Mentari di Danau Kelimutu

Mengejar Mentari di Danau Kelimutu

Bintang Lodge

Itulah nama penginapan saya. Kamarnya ada 4 dan tanpa AC. Ngak pake AC karena kawasan Moni ini termasuk kawasan pegunungan kelimutu. Tempat tidurnya menggunakan kelambu. Selama berpuluh-puluh tempat penginapan, baru kali ini saya dapat tempat tidur yang berkelambu. Lain tempat tidur, lain pula bagi para tamu di hotel di kawasan Moni ini. setiap tamunya disuruh untuk mengisi data tamu seperti Nama, asal, tujuan ke sini dan lain sebagainya.

Menurut Tobias, sang pemilik hotel, tujuan pengisian data-data ini adalah untuk memonitor jumlah wisatawan dan asalnya. Biasanya secara Reguler, dinas pariwisata akan merekapitulasi wisatawan-wisatawan itu. nah sekarang waktunya dinner time. Biasanya para turis ramai datang ke moni pada bulan-bulan juni, juli dan agustus. Kebanyakan berasal dari benua Eropa. Saat itu kawasan ini seakan penuh dengan para turis. Ada pengalaman unik saat dinner yang di restoran Bintang Lodge.

Buku Tamu

Buku Tamu

Tamu hotel ini ada 6 orang. tiga orang luar negeri alias turis, tiga orang lagi rombongan saya. Tiga turis itu sudah berada di restoran saat saya mau ke  restoran. Bapak Tobias ini dibantu billyanes dalam mengelola hotel ini. Billyanes juga lah yang menawarkan saya menu-menu dinner. Desa tapi selera kota. Hampir semua menunya ini berbahasa inggris.

Tak hanya itu, Billyanes sering keceplosan ngomong inggris. Bahkan saat dia ngomong bahasa inggris, ada beberapa kata yang ngak ku ngerti. Terpaksa dah nanya apaan tuh. Eh ternyata krupuk. Baru nyadar kalau selama ini saya ngk pernah baca n denger bahasa inggrisnya krupuk. Tu kan lupa lagi pas mo nulis tulisan ini. apaa ya bahasa inggrisnya krupuk?. oh ya ma kasih buat komentarnya mas Badai yang ngasih tahu bahasa inggrisnya kerupuk = Crackers. hum..

Maklum tamu-tamu disini mayoritas turis.

Aku dan Anak Anjing “Bintang”

Billyanes dan "Bintang"

Billyanes dan “Bintang”

Sambil nunggu pesanan, tau-tau anak anjing mendekati saya. Nama anjing sama dengan nama hotelnya, bintang. Anjing semakin mendekat-dekat. Sepertinya dia memang mendekat untuk ngajak bermain. Sedangkan saya tidak mau diajak bermain. Akhirnya, saya menghindar dari anak anjing tersebut. Dari yang awalnya duduk sampai berdiri. Dari awalnya diam kemudian bergerak menghindari anak anjing itu. herannya, si bintang mengira bahwa saya ngajak bermain dengan cara berlari.

Tak ayal, akhirnya arena restoran bintang dalam sekejap menjadi taman berlari. Taman berlari bagi anak manusia dan anak anjing. Seru sih bagi yang melihatnya. Menakutkan bagi yang dikejar anjing. Saya terpaksa memutari meja makan para turis itu bahkan memutari restoran yang luasnya hanya 6 x 8 m2. Tiga kali saya memutarinya. para turis itu memandangi saya yang ketakutan dikejar anjing. Akhirnya kejar-kejaran itu terhenti karena saya keluar dari area restoran itu dan Billyanes membantu “menjinakkan” anak anjing itu.

Danau Tiwu Ata Polo (saat Mengambil Foto ini saya hampir terjatuh kedalam ini..iih ngeriii)

Danau Tiwu Ata Polo (saat Mengambil Foto ini saya hampir terjatuh kedalam ini..iih ngeriii)

setelah aksi kejar-kejaran antara anjing dan saya, suasana Restoran mulai kondusif. saya pun mulai berani duduk di dalam salah satu kursi restoran. Anak Anjing imut “bintang” terpaksa disembunyikan di luar restoran. saya pun bisa relax menunggu pesanan makananku datang. kembali ku jelaskan bahwa saya lari saat dikejar anak anjing “bintang” bukan karena saya takut pada anak anjing yang ingin “bermain” dengan saya, tapi karena saya takut sang anjing Bintang itu menjilat-jilat saya sehingga tubuh saya jadi najis tralala. soale menurut keyakinan saya membersihkan jilatan anjing perlu 7 kali cucian bro… satu dari 7 cucian itu harus dicampur dengan debu. so, ribet kan. ya mending saya lari daripada saya harus mencuci baju atau kulit saya dengan 7 kali cucian. itupun harus dicampur dengan debu lagi.. hadewh

Jacky berpose dengan Latar Danau Tiwu Ata Polo dan Danau Tiwu Nua Muri Ko’o Fai

Jacky berpose dengan Latar Danau Tiwu Ata Polo dan Danau Tiwu Nua Muri Ko’o Fai

saya melihat tiga turis itu duduk tepat di depan saya. saya tak terlalu mendengar apa yang sedang mereka obrolkan. saat saya sedang memperhatikan 3 turis itu, Billyanes mendekati saya dengan membawa nampan berisi makanan. ku liat 3 turis itu makin asyik obrolannya. sedangkan saya, langsung menyantap makanan yang sudah tersaji. saat saya menyudahi makan malam saya, turis itu meninggalkan restoran Bintang. ku duduk bersandar memperhatikan 3 turis yang meninggalkan restoran. semoga dalam pikiran para bule itu tidak ada bahwa “wisatawan lokal indonesia takut dengan anak anjing”.

Mengejar sunset di Kelimutu

Mengejar sunset di Kelimutu

Posisi dudukku tiba-tiba berubah ketika melihat sepeda yang sengaja disandarkan pada dinding restoran. ku coba mendekati sepeda itu. dari posisi bersandarnya, ku tahu bahwa sepeda ini bukan sepeda pemilik hotel atau restoran. saya pun berusaha meyakinkan pikiran saya. Mas Bilyaness ini sepeda siapa yach?, kataku pada pada pelayan yang masih seumuran aku itu. oh ini sepeda milik turis yang tadi makan di restoran ini. siapa nama pemiliknya dan darimana asal negaranya, kataku berusaha menyelidikinya. Namanya Steven berasal dari Jerman. memangnya dia naik sepeda dari mana dan mau kemana?kataku dengan nada heran. “wah saya ngak tahu mas, yang pasti dia tadi menurunkan sepedanya dari truk di depan hotel. truknya itu tujuan Ende. sepertinya turis itu, ngak kuat menempuh jalur pegunungan Maumere Ende yang begitu menyiksa sehingga dia menaikkan sepedanya ke dalam truk itu, kata Bilyaness kepada saya.” oh gitue, kataku dengan nada heran.

Mengejar Sunrise

Mengejar Sunrise

oh ya kira-kira Steven besok naik ke Danau Kelimutu juga kah?, kataku. yaaa dia mau naik ke kelimutu. saya sendiri yang mau anter dia besok pagi-pagi jam 04.00, kata bilyanes. wah kalau gituw saya besok harus bangun jam 04.00 agar bisa ketemu sunrise. sekalian, saya juga pengin ketemu sama Steven, kataku sambil berlalu meninggalkan restoran dan anjing “Bintang”.

saya pun bergegas masuk kamar agar saya bisa bangun pagi-pagi untuk menjemput sunrise di puncak kelimutu.

Danau Kelimutu Tiga Warna.

Danau Tiwu Ata Polo

Danau Tiwu Ata Polo

Tepat jam 04.00 saya sudah bangun. subuh belum tiba. akhirnya saya mandi dulu sambil menunggu waktu subuh. setelah shalat subuh, saya bergegas membangun sang sopir yang tidur di samping saya. ku menuruni tangga hotel. ku tanya kepada sang pemilik hotel “apakah turis-turis itu sudah berangkat?.” wah Bilyanes sudah berangkat mengantarkan turis menggunakan sepeda motor, kata sang pemilik kepada saya. oh gituw, wah saya pun harus buru-buru berangkat agar bisa mengejar sunrise “Danau Kelimutu”, imbuhku pada pemilik hotel.

kami bertiga berangkat menggunakan mobil. mobil yang sudah kami sewa sehari semalam. kami berjalan menembus suasana desa moni yang masih gelap. jalan-jalanan masih sepi.  saat tiba di pintu gerbang Danau Kelimutu, kami berhenti sejenak untuk membayar tiket masuk. awas kameranya jangan dibawa pada petugas jaga dan kalau penjaganya tanya bilang aja kalau tidak membawa kamera, kata sang sopir kepada saya sesaat sebelum saya membuka pintu mobil. dan saya menurutinya tanpa sepatah kata keluar dari mulutku.

Danau Tiwu Ata Bupu

Monyet Berpose di Danau Tiwu Ata Bupu

saya kemudian bergegas menuju penjaga itu. ruangan penjaga gelap. hanya satu penjaga, ku liat wajahnya dengar samar-samar kegelapan. dalam kegelapan itu ku coba menerka umurnya. mungkin umurnya sekitar 40an, batinku. perlu saya menulis buku tamu pak, kataku.oh tak perlu,kata penjaga itu pada saya. kenapa pak?. buku tamu itu khusus wisatawan luar negeri, kata penjaga pada saya. oh gitue ya pak. kemudian si penjaga itu langsung meminta bayar tiket masuk ke kawasan Danau Kelimutu.

dalam hati ku berdoa semoga penjaganya ngak nanya kamera. saya pun dag dig dug takut ditanyai tentang kamera itu. aku mulai bertanya-tanya kenapa kalau membawa kamera ke dalam kawasan kelimutu. akh ternyata sang penjaga tak menyinggung sama sekali tentang kamera HP atau kamera digital. setelah saya membayar tiket masuk, saya bergegas pergi meninggalkan sang penjaga.

danau Tiwu Ata Bupu

danau Tiwu Ata Bupu

saya pun segera mobil dan mempertanyakan tentang hal ihwal kamera itu pada sang sopir. memangnya kenapa pak kalau ketahuan membawa kamera?kataku pada si sopir. kalau ketahuan membawa kamera bisa-bisa nanti kita disuruh bayar mahal. dulu, ada yang ketahuan membawa kamera digital. akhirnya, mereka dimintai bayar mahal oleh sang penjaga itu. kata sang sopir pada saya. bahkan dulu ada yang bayar sampai bayar Rp5.000.000,00. huuuuuuuuhhhhh, kata ku dengan nada heran. masak bisa mahal gituw pak, kataku dengan perasaan tak percaya. dalam ketidakpercayaanku itu, aku tetap mempercayai sang sopir. setidaknya, saya percaya bahwa kita akan dibawa ke Danau Kelimutu bukan ke pantai. sebetulnya saya antara percaya dan tidak tentang membawa kamera ke dalam kawasan danau kelimutu itu. la masak iya membawa kamera ke dalam kawasan Danau Kelimutu harus bayar semahal itu. tapi, apakah juga iya masak si sopir itu boongin kita-kita.

Sunrise Danau Kelimutu

Sunrise Danau Kelimutu

antara ya dan tidak itu kami pun harus menembus kegelapan dengan jalan-jalan yang masih lengang dan sepi. hawa-hawa dingin khas pegunungan mulai terasa. semakin lama dinginnya makin terasa. sepi, sunyi.

tiba-tiba mobil kami berjalan semakin pelan-pelan. saya tidak tau kenapa?. Driver sekaligus merangkap guide itu hendak mengatakan sesuatu. “di sini ada batu keramat, kalau melewati batu itu kita harus pelan-pelan”, katanya. “Batu itu bertugas sebagai penjaga danau Kelimutu ini, kita dilarang menduduki batu itu”, imbuhnya. kami hanya diam, memperhatikan kata demi kata sang guide itu. bulu kuduk ku mulai merinding tak terkecuali Bu Yohana.

Sunrise dilihat dari  Puncak Danau Kelimutu

Sunrise dilihat dari Puncak Danau Kelimutu

bukannya saya ngak mau tau tentang hal mistis ini. tapi suasana yang masih pagi buta dan sepi itu yang membuat bulu kudukku berdiri. saya pun berusaha untuk melupakan hal-hal mistis itu. mobil pun melaju semakin cepat seperti sebelum ketemu batu bertuah itu. hawa dingin mulai merasuk ke sela-sela baju kemudian menembus kulit. makin lama makin dingin. saat itu lokasi Danau kelimutu juga semakin dekat.

mobil kami pun memasuki area parkir yang lebar itu. tak ada mobil kecuali mobil rombongan kami. saya melihat beberapa motor yang terparkir. setelah menempuh 30 menit, akhirnya kami tiba di Lokasi Danau ini. saya dan jaky berjalan paling depan. Begitu semangat untuk mengejar sunrise Danau Kelimutu.

Mengejar Mentari Pagi

Mengejar Mentari Danau Kelimutu

Mengejar Mentari Danau Kelimutu

Kadang tak perduli lagi itu jalur umum atau jalur sulit. Jalur sulit itu dikira jalan menuju Danau Kelimutu. Termasuk saya, yang ada dalam pikiran saya saat itu adalah bahwa danau kelimutu berada di gunung. Otomatis, untuk menuju danaunya pun susah dan menanjak. Saat pemandu memberi tahu bahwa jalan ini bisa menuju Danau kelimutu. Saya dan jaky langsung bersemangat untuk menaikin “jalan” yang tak biasa itu.

Setelah bersusah payah naik.nampak juga danau yang berukuran besar seperti kubang raksasa yang sanggup menelan siapa saja yang terpeleset. Saking takjubnya, saya langsung berkeliling di pinggiran danau itu. saking takjubnya, saya pun lupa bahwa nyawa saya bisa terancam oleh ganasnya danau yang berwarna hijau pekat ini.

salah satu Warna Danau Kelimutu di saat pagi

salah satu Warna Danau Kelimutu di saat pagi

tiba-tiba kaki saya serasa disedot danau ini. kepala saya terasa seperti memutar memandanginya. Mata saya seakan tak mampu melihat keindahan alam secara rasional. Keseimbangan mulai tidak stabil. Tak terasa kaki mundur beberapa langkah. Saya langsung membayangkan saya terpeleset sedikit saja. Danau ini mampu menyedot dengan sekali sedotan.

Saya ibaratkan Danau kelimutu itu seperti sebuah dua baskom raksasa. Bayangkan kita berdiri di pinggiran baskom-baskom. Ibu Yoh neriakin kami agar cepet turun. Dir, Jaky, Ayo cepetan Turun. kami diteriakin ibarat anak nakal yang telah melanggar petuah agama.

Sang Mentari Pagi di Danau Kelimutu

Sang Mentari Pagi di Danau Kelimutu

Saya dan jaky langsung meneriakkan bareng-bareng “ya turun, sebentar lagi”. kemudian pun segera bergegas turun. kami melihat ada seorang setengah baya yang berdiri di samping Bu Johana. ku tak tahu siapa dia. “ngapain kalian susah-susah naik ke atas sana”, kalau hanya mo liat, tuh disana ada jalannya”, kata orang setengah baya itu kepada kami berdua.

saya seperti merasa ditampar habis-habisan mendengar bahwa ada jalur umum dan gampang untuk melihat danau kelimutu. alamakkkk. macem mana puula awak ini (dengan logat medan). ngapain td kita susah-susah naik sini, dah gitu hampir kecelakaan lagi (pikirku dalam hati). biar saya ngak galau saya langsung mikir sisi positifnya “kan lumayan, walau susah kita jadi dapat sunrise”. sunrise dengan gaya foto miring.

Saat Danau Kelimutu menjadi pusat arwah-arwah

Tangga Tahap 1 Menuju Puncak Danau Kelimutu

Tangga Tahap 1 Menuju Puncak Danau Kelimutu

sambil berjalan pelan-pelan, bapak setengah baya itu menjelaskan tentang nama-nama Danau Kelimutu beserta penjelasannya. Danau-Danau sangat erat kaitannya dengan kepercayaan masyarakat sekitar, kata bapak itu kepada kami bertiga. kalau Danau yang mas naikin tadi itu namanya Danau Tiwu Ata Polo. apa pak namanya kurang jelas, kataku pada bapak itu. kemudian, bapak itu menjelaskan lagi dengan mengeja. Tiwuuuu Ataaaaaaaaaaa Polo. wah apaan tuh pak artinya pak, kataku. Danau Tiwu Ata Polo ini tempat bersemayam arwah-arwah yang selama hidupnya banyak melakukan kejahatan.

wah berarti kalau orang-orang jahat arwahnya tinggal disini dunk pak. saya pun langsung mikir, “wah jangan-jangan saya hampir jatuh ditarik arwah orang-orang jahat itu”. Kalau Danau yang kedua namanya Danau Tiwu Nua Muri Ko’o Fai. lagi lagi saya meminta mengulangi nama-nama itu. alhamdulillah sih bapaknya cukup sabar meladeni pertanyaan saya. Danau yang kedua ini tempat berkumpulnya arwah pemuda-pemudi. jadi, kalau ada anak muda yang meninggal, rohnya berkumpul di danau Tiwu Nua Muri Ko’o Fai ini.

Tangga Tahap II Menuju Puncak Danau Kelimutu

Tangga Tahap II Menuju Puncak Danau Kelimutu

laaa trus kalau yang danau ketiga apa dunk pak, kata ku bersemangat ingin  segera tahu danau yang ketiga ini. nah kalau danau yang ketiga namanya danau Tiwu Ata Bupu. Danau ini menjadi tempat berkumpulnya arwah orang-orang tua. jadi, kakek nenek kita bersemayam di Danau yang ketiga ini.

saya ibarat kucing ketemu ikan, seneng, takjub. campur aduk dah dengan semua keajaiban alam ini. keajaiban sang pencipta. keajaiban bisa ketemu bapak yang menjelaskan semua tentang Danau Kelimutu 3 warna ini. mungkin, bapak ini lebih cocok sebagai penunggu Danau Kelimutu. kalau di Jogjakarta ada mbah marijan, maka di Ende ada, ada bapak ini yang belum ku ketahui namanya ampe sekarang.

Puncak di Danau Kelimutu 3 warna. dari Puncak ini kita bisa melihat 3 Danau Kelimutu

Puncak di Danau Kelimutu 3 warna. dari Puncak ini kita bisa melihat 3 Danau Kelimutu

Pak katanya air danau di sini berganti-ganti warnanya pak?kataku pada bapak penunggu. yaaaa mas, warnanya berganti-ganti. dua hari yang lalu, Danau Tiwu Ata Polo berwarna merah. wah padahal saya tadi liat warnanya hijau lumut gitu pak, kataku penasaran dengan kejadian ini. Mas, kalau melihat Danau Kelimutu dari sini saja, kata bapak itu. wahhh bagus ya jalannnya, tak perlu susah-susah. naik jumpalitan segala. wah obrolan kami terhenti karena saya harus melihat dua danau kelimutu ini. sedangkan bapak penunggu itu, terus berjalan menuju puncak gunung. sampai ketemu di puncak, kata bapak penunggu sambil melambaikan tangannya kepada kami bertiga.

Jacky Berpose

Jacky Berpose

saat hendak mau ke anjungan Gunung Kelimutu, ada info penting tentang kedua danau yang akan kami liat. salah satunya adalah tentang luas dan kedalaman danau. Danau Tiwu Ata Polo misalnya memeliki luas 4 ha dengan kedalaman 64 m. sedangkan Danau Tiwu Nua Muri Ko’o Fai memeliki luas 5,5 ha dengan kedalaman 127 m. kemudian kami pun buru-buru berjalan menuju anjungan Danau Kelimutu.

tak sanggup berkata-kata, hanya ketakjuban yang kami sadari. dua danau ini benar-benar ajibbb… mantab… takjub… hebat.. hebat yang menciptakan semua ini. duh danau inilah yang saya inginkan beberapa tahun lalu. akhirnya saya bisa menyaksikan ini. semburat cahaya pagi muncul di ufuk timur. cahaya itu hendak menerjang kekokohan batu-batu yang mengelililngi dua danau ini. Dua danau ini dipisah oleh batu-batu tipis. hanya ketakjuban yang kami rasakan.

Danau Tiwu Ata Bupu

Danau Tiwu Ata Bupu

rasa penasaran terhadap kedalaman sekaligus keangkeran danau-danau kelimutu ini membuat saya dan Jacky mengambil beberapa batu untuk kemudian dilemparkan ke dalam danau kelimutu ini. secepat kilat batu-batu itu ditelan roh-roh jahat. sebelum batu-batu jatuh ke permukaan air, batu-batu sudah hilang dari pengliatan kami berdua. mungkinkan roh-roh itu lah yang menelannya, pikirku. ataukah kedalaman danaunya yang menelan batu-batu itu.

kami bertiga langsung ingin segera menyusul ke puncak gunung itu. saya yang terdepan, Jacky yang kedua, bu Yoh jauh tertinggal. begini lah jalan blingsatan. pokoknya yang penting sampai puncak. tak perduli lagi pada ibu-ibu. seharusnya Jacky nungguin ibunya. eh malah dia ngikutin saya yang berjalan setengah berlari. maklum saya harus, ngejar sunrise dari puncak itu. melihat danau di waktu sunrise.

After Sunrise dari Puncak Kelimutu

After Sunrise dari Puncak Kelimutu

kami harus menaklukkan anak tangga yang ratusan jumlahnya. tak tau berapa ratus. hanya ratusan. anak tangga ini terbagi dua. anak tangga tanpa pegangan dan anak dengan pegangan. ku ingin menaklukkan puncak kelimutu dengan berlari, Jacky pun juga gitue berlari di belakangku. Bu Yoh, agak jauh di belakang sana. heiiii, kadir, Jacky jangan cepat-cepat. ya beginilah jalan-jalan dengan ibu-ibu. harus sabar. dasar sayanya yang koplak, saya terus aja berjalan, sedangkan Jacky mulai memperlambat jalannya untuk menunggu bunda-nya.

saat hendak puncak, saya pun berhenti menunggu mereka berdua. menunggu sambil motret sunrise di Danau Kelimutu. setelah berkumpul, kami pun berangkat lagi. ayo cepetan, sudah mau nyampe puncak ni, kataku. sudah tau ibu-ibu masih aja diajak liat danau di gunung, kataku dalam hati.

Gunung kellimutu dari Kejauhan

Gunung kellimutu dari Kejauhan

ku liat puncak itu. beberapa orang sudah mengitarinya. mereka semua tak mau melepas sedetikpun untuk mengabadikan sunrise di Danau Kelimutu ini. nafasku mulai tersengal-sengal, mulut pun mulai mengering, kakiku sudah mulai gempor. ku ingin taklukkan Danau Kelimutu. kakiku yang gempor dan nafasku yang ngos-ngosan tergantikan oleh indahnya danau kelimutu 3 warna. dari puncak inilah, kita bisa melihat ke 3 danau kelimutu secara sempurna. horeeeeeeeeeeeeeeeeeeee….. inilah puncak danau kelimutu. seketika itu juga aku langsung update status di Facebook.

hampir semua penikmat sunrise ini adalah turis asing. tak ada wisatawan domestik kecuali kami bertiga dan bapak penunggu. saya pun tak kehilangan momen indah. SUNRISE DI PUNCAK KELIMUTU. Benar-benar indah dan ajib pemandanganya.. pegunungan-pegunungan yang hampir sejajar dengan Danau Kelimutu terpampang di depan saya. ku liat dua turis  menuruni lembah. mungkin melihat danau kelimutu dari angle yang lain. dan masih banyak aktivitas wisatawan untuk mengabadikan moment sunrise termasuk saya berhasil motret turis yang lagi motret dengan latar belakang Danau Kelimutu.

Kelimutu after the break

Kelimutu after the break

saya sedang mencari seorang turis di antara beberapa turis itu. turis yang  membuat saya terheran-heran. heran karena turis inilah hendak mengelilingi dunis dengan bersepeda. turis yang ku temui di Restoran Bilyanes tadi malam. di manakah dia sekarang. ku tahu dari pemilik restoran bahwa dia sudah berada di sini. ku liat turis yang menghadap ke Danau itu. ku coba mendekatinya.

Bertemu dengan Steven Billboy “sang Biker Dunia”

Saya dan Steven Billboy di Puncak Kelimutu

Saya dan Steven Billboy di Puncak Kelimutu

ku coba untuk menyapa dan memulai pembicaraan. Steven Billboy nama lengkapnya. berasal dari Jerman, Negaranya Hitler sang diktator. saya mendengar bahwa anda seorang biker, apakah anda ke Puncak Danau Kelimutu ini dengan bersepeda, kataku. “wah ngak, saya ke sini minta anter ke petugas Hotel, katanya. Maaf sejak kapan anda bersepeda dan sudah melewati Negara mana saja, kataku berusaha menggali informasi lebih jauh. saya sudah bersepeda sejak bulan juni tahun 2011, bersepeda dari Jerman, Eropa, Mediterania, Australia, Indonesia. dan now  I am in three colours Kelimutu Lake. wahhhhhhh… its amazing, Keren sekali anda bisa menaklukkan berbagai 3 benua, berbagai Negara hanya dengan bersepeda. sekali lagi dengan bersepeda, kata ku. dia hanya tersenyum mendengar kataku.

Mari Bergaya dulu

Mari Bergaya dulu

Then, di Indonesia sudah kemana aja mas Steven?, kataku. saya berangkat dari Autralia ke Papua Nugini, Timor Leste  then jalan darat ke Kupang, dari Kupang langsung terbang ke Maumere. Kemudian,saya bermalam di Maumere, Kata Steven. oh begitu, trus apa yang anda bisa liat-liat di Maumere saat malam hari, kataku ingin menelisiknya lebih jauh. “you have to visit Maria Statue, you can see Maumere City  from the hill. it’s wonderfull. Besok, jika kamu sempet ke Maumere, sebaiknya main ke patung Bunda Maria saat malam hari. anda akan menyaksikan Kota Maumere dari Puncak.” kata Steven berusaha meyakinkan saya.

kemudian Steven menceritakan perjalanannya dari Maumere ke Ende yang terpaksa harus digotong oleh truk. Saya hanya mampu menempuh separuhnya perjalanan dari Maumere ke Ende. separuhnya terpaksa saya digotong menggunakan truk pengangkut barang. saya membenarkan apa yang dia ceritakan bahwa dia tak sanggup menaklukkan jalur berat Maumere Ende. saya mendengar secara langsung dari petugas hotel tempat kami menginap.

Dua Danau Kelimutu

Dua Danau Kelimutu (Danau Tiwu Ata Polo dan Danau Tiwu Nua Muri Ko’o Fai)

Dasar Bule Gila. benar-benar gila. masak medan pegunungan dan berkelok-kelok dari Maumere ke Ende ditempuh dengan sepeda. hanya orang gila yang bisa menempuh jalanan  seperti itu.

saya tahu untuk perjalanan jauh dalam waktu yang lama. sangat-sangat membutuhkan dana yang cukup. saya pun iseng nanya tentang pekerjaan, rumah dan istri. eh si Steven malah tertawa. dia mengira pertanyaan saya adalah pertanyaan terlucu sepanjang perjalanannya. “saya ini tak ada punya pekerjaan, tak ada rumah dan juga tak ada istri, saya hanya jalan-jalan keliling dunia”. aku mulai bengong dibuatnya. maklum, saya waktu itu belum kenal dengan yang namanya jalan ala backpacker atau hidup ala backpacker yang bisa jalan sambil kerja atau kerja sambil jalan-jalan.

Kelimutu saat berubah Warna (foto ini diambil oleh kawan saya, Yanto pada tanggal 13-9-2013)

Kelimutu saat berubah Warna (foto ini diambil oleh kawan saya, Yanto pada tanggal 13-9-2013)

saya pun berusaha melisiknya dari mana uang untuk jalan-jalannya. dia dengan gayanya tetap ngak mau membuka apa sebetulnya pekerjaan dan dari mana dana jalannya. “Mungkin kamu berasal dari Orang tua yang kaya raya sehingga kamu bisa jalan-jalan semaunya?” kataku berusaha menelisiknya. Steven hanya menjawab dengan gelengan kepala. saya pun memakluminya. biarlah, saya tak mau membujuknya lagi. setelah beberapa lama, saat saya menuliskan cerita ini, toh saya banyak menemui wisatawan-wisatawan yang pekerjaannya memang fleksibel seperti Currency Trader (like Alex Sloven, dari Slovenia), Travel Writer or Programmer (Dina dan Ryan, DuaRansel), atau lainnya.

Kamu sudah menikah, kata Steven kepada saya. “ya saya sudah menikah”. huhhh kamu sudah menikah, kata Steven dengan nada keheranan. dalam keheranannya dia memperhatikan saya yang tepat berada di depannya. mungkin dia heran karena perawakan saya yang tak terlalu besar, tubuh ramping dan kecil. sedangkan, dia yang umurnya 30an lebih saja belum menikah. dia pun tersenyum melihat saya. tersenyum keheranan. “memang umurmu berapa?”. umur saya sekitar 28 tahun, kata saya. dia pun hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanpa sepatah kata pun yang keluar.

Siklus Perubahan Warna pada Danau Tiwu Ata Polo

Siklus Perubahan Warna pada Danau Tiwu Ata Polo

Anda mau melanjutkan perjalanan ke mana lagi sehabis dari Danau Kelimutu ini, kataku kepada Steven. “sehabis ini, saya mau melanjutkan ke Labuhan Bajo, Lombok, Bali, Java, Sumatra, then Singapura and Malaysia”. kamu mau menempuhnya dengan bersepeda, are you sure, kataku. “yaa, saya akan menempuhnya dengan bersepeda”. wauuuu keren, kataku sambil menggangguk-anggukan kepala dengan mimik wajah penuh keheranan. percakapan kami akhirnya ditutup dengan foto-foto dulu bersama Steven Billboy, sang biker. dia pun turun dari Puncak Danau Kelimutu 3 warna. Melanjutkan perjalanan dengan bersepeda. satu kata untuk Steven “Victory”. Kalau ngaku jago bersepeda atau hobi bersepeda. kalahkan Steven Billboy.

sejarah Terbentuk Danau Kelimutu

sejarah Terbentuk Danau Kelimutu

makin lama makin hilang wujud Steven. tiba-tiba saya teringat belum minta alamat email or Facebook. setidaknya saya pengin tahu lokasi dia saat dia. apakah sudah meninggalkan Indonesia menuju negara lain atau masih di sekitar indonesia. saat saya menyelesaikan tulisan ini, saya menghubungi pihak hotel dimana Steven nginap. sayang seribu sayang sang pemilik hotel juga tak punya CPnya. ya sudah saya berharap aja dia suatu saat muncul di media-media sebagai orang yang pertama kali di dunia yang telah menaklukkan dunia dengan bersepeda.

Tahun Aktivitas Gunung Kelimutu

Tahun Aktivitas Gunung Kelimutu

Perut mulai keroncongan, kerongkongan mulai terasa kering. suasana puncak danau kelimutu yang berhawa dingin sangat cocok dengan makanan-makanan dan minuman hangat. Sambil bersedekap menggunakan jaket saya mendekati penjual makanan dan minuman yang tak lain adalah bapak yang saya temui pagi-pagi buta. Penjual makanan sekaligus Penunggu Danau Kelimutu. saya langsung menyeruput kopi hitam dan pop mie yang masih hangat. enaknya…. menyeruput kopi di puncak Danau Kelimutu.

ku hanya bersyukur atas maha karya Tuhan bernama “Danau Kelimutu 3 Warna”. inilah keajaiban yang ada di Kabupaten Ende. Kabupaten yang pernah menjadi tempat Bung Karno diasingkan. Kabupaten Ende juga lah yang menjadi perenungan Bung Karno dalam melahirkan 5 butir Pancasila.

Kita Menuju ke

Kita Menuju ke

Setelah menghabiskan segelas kopi hangat, kami pun siap-siap pulang turun meninggalkan Keajaiban Tuhan itu. saya menggunakan kata Keajaiban terhadap 3 Danau ini, karena memang danau  ini begitu ajaib. adakah penelitian yang menjelaskan kenapa Danau ini bisa memiliki 3 warna, kenapa warnanya bisa berubah-rubah secara periodik?. Ataukah saya yang belum tahu bahwa penelitiannya sudah dilakukan tetapi jurnal penelitiannya belum keluar. bahkan, Kompas juga telah melakukan penelitian terhadap Danau Kelimutu ini. hal ini seperti yang diutarakan oleh Penunggu Danau Kelimutu itu.

Menuruni Tangga sambil menghitung jumlah tangga tapi ngak pernah bisa (4 kali nyoba

Menuruni Tangga sambil menghitung jumlah tangga tapi ngak pernah bisa (4 kali nyoba)

Perubahan warna terhadap danau-danau yang ada di kelimutu ini disebabkan oleh perubahan komposisi mineral yang ada di dalam danau itu sendiri, kata penunggu itu kepada saya. tapi saya merasa belum terjelaskan mineral-mineral apa saja yang menyebabkan perubahan warna terhadap danau-danau kelimutu itu. semoga suatu saat bisa tahu penyebab perubahan warna secara pasti setidaknya agar masyarakat kelimutu terjelaskan dengan semuanya.

Terima kasih saya kepada penunggu Danau Kelimutu yang menjelaskan sejarah kelimutu mulai tentang aura keangkeran Danau Kelimutu dan segala hal yang berbau kelimutu. cau… Trips to Maumere.

—————————————————–

Ikuti Perjalanan kami yang lain di Ende saat menggunjungi Pantai Penggajawa, Pantai dengan batu-batuan Hijau di

https://caderabdul.wordpress.com/2013/09/15/pesona-pantai-penggajawa-dengan-batu-hijaunya/

atau mau tahu Bagaimana Bung Karno menemukan Inspirasi 5 Dasar Pancasila dalam pohon Sukun sila ke

https://caderabdul.wordpress.com/2013/09/15/bung-karno-dan-pohon-sukun/

atau mau tahu tentang Perjalanan saya dari Ende ke Danau Kelimutu dimana anda bisa melihat bentuk sawah-sawah yang unik, pemandian air panas Detusuko, atau mau melihat Air Terjun Murondau. sila klik dibawah ini.

https://caderabdul.wordpress.com/2013/09/17/perjalanan-menuju-kawasan-wisata-moni-ende/

dan jangan lupa follow twitter kami @caderabdulpaker

Advertisements

Pesona Waduk Selorejo Kecamatan Ngantang

di salah satu sudut waduk Selorejo di Ngantang

Salah satu sudut waduk Selorejo di Ngantang

Ngantang merupakan salah satu kecamatan di Malang. dibagian barat langsung berbatasan dengan Bukit Selokurung yang terdapat makam Pangeran Trunojoyo. Ngantang berada di ketinggian sekitar 600 mdpl. Ngantang juga dikelilingi oleh 4 Gunung sekaligus. berturut-turur yaitu Gunung Kelud, Gunung Kawi, Gunung Arjuno, dan Gunung Anjasmoro. Saat tiba di Daerah Selorejo, anda diselimuti hawa sejuk khas pegunungan. saat memasuki kawasan wisata Waduk Selorejo, Anda akan disambut dengan Bangkai Pesawat Terbang.

Pesona Refleksi Waduk Selorejo

Pesona Refleksi Waduk Selorejo

tak hanya itu, Waduk Selorejo juga memiliki Jembatan Gantung yang lumayan bikin macu adrenalin. bagaimana tidak saat kaki menginjak jembatan, maka seluruh jembatan akan ikut bergerak. uniknya, para Mancing mania yang emang hobi memancing itu berada di bawah jembatan Gantung. dibawah jembatan gantung selorejo itu, para mancing mania beraksi menunggu ikan wader yang pingsan. tidak hanya itu, Waduk Selorejo juga menawarkan keindahan refleksi alam yang begitu sempurna. Waduk Selorejo seketika itu juga seperti laksana cermin alam. Langit-langit, Awan-awan, Pepohonan, Jembatan seketika juga terefleksi sempurna di atas cermin alam bernama waduk selorejo. indah kawan. ngak percaya silahkan datang dan buktikan sendiri keindahan Waduk Selorejo yang ada di Kabupaten Malang. Ngantang selain terkenal karena waduk Selorejo juga terkenal prasasti Ngantang yang diberikan oleh Raja Kadiri, Sri Maharaja Jayabhaya/Joyobhoyo sekitar tahun 1135. kenapa Ngantang diberikan penghargaan itu.

——–

Ngantang. Mendengar kata Ngantang ini saya jadi teringat Prasasti Ngantang (1035). Prasasti ini dikeluarkan oleh Sri Maharaja Jayabahaya Raja Kadiri yang berkuasa 1135 -1157 sebagai piagam pengesahan anugerah untuk penduduk desa Ngantang yang setia pada Kadiri (Panjalu) selama perang melawan Kerajaan Jenggala.

di antara perahu

di antara perahu

Ngantang merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Malang yang berbatasan langsung dengan Kediri. berada di ketinggian 600 mdpl dan dikelilingi oleh empat gunung merapi. berturut-turut adalah Gunung Kelut, Gunung Kawi, Gunung Arjuno, Gunung Anjasmoro. Bagian barat langsung berbatasan dengan Kabupaten Blitar. Bagian yang berbatasan dengan Blitar ditandai oleh Bukit Selokurung yang membentang dari Utara Ke Selatan. Bukit Selokurung ini juga terdapat Lokasi Makam Trunojoyo, seorang pangeran berasal keturunan dari Sultan Agung Hanyokrokusumo Kesultanan Mataram.

Gunung Kelud dilihat dari Ngantang

Gunung Kelud dilihat dari Ngantang

Di Tengah-tengah kecamatan Ngantang ini dibangun sebuah waduk Selorejo yang bertujuan untuk menampung sungai Konto, anak sungai Brantas, dan sungai Kwayangan agar mencegah banjir. pada saat Selorejo juga berfungsi untuk wisata, budidaya perikanan, irigasi, dan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Waduk dirintis pada tahun 1963 dan pembangunannya baru selesai pada 1970, dan langsung diresmikan oleh Presiden Suharto pada tanggal 22 Desember 1970.Waduk Selorejo ini sekarang dikelola oleh Perum Jasa  Tirta. salah satu BUMN yang berlokasi di Malang.

Gunung Kelud dari Kejauhan

Gunung Kelud dari Kejauhan

Sunrise di sudut Ngantang

Sunrise di sudut Ngantang

dari PLTA Waduk Selorejo ini dihasilkan Listrik yang sanggup mengalirkan listrik kepada penduduk kecamatan Ngantang. Penduduk Ngantang memanfaatkan waduk untuk mengairi sawah-sawah yang berada di sekitar waduk Selorejo tersebut. tak hanya itu, banyak penduduk dari luar ngantang juga memanfaatkan waduk selorejo sebagai arena memancing gratis. jadi jangan heran, jika anda berjalan-jalan di sekitar waduk Selorejo. anda akan akan banyak menemukan para pemancing di setiap sudut waduk Selorejo. tak jarang, para penghobi mancing sering bermalam di pinggir-pinggir waduk selorejo dengan menjadikan payung sebagai atapnya, sarung-sarung sebagai selimutnya.

Bangkai Pesawat Terbang di Waduk Selorejo

Bangkai Pesawat Terbang di Waduk Selorejo

Hobi memancing ini juga dilakoni oleh tetangga saya di Malang. dia rela menginap melawan hawa dingin waduk Selorejo untuk menyalurkan hobinya. iseng-iseng saya coba nanya “kenapa pak Heri sampai mau menginap-nginap di pinggir waduk Selorejo, memangnya ikan-ikan akan banyak yang naik kalau malam hari”, kataku berusaha menyelidikinya.

di Sudut Selorejo

di Sudut Selorejo

ya kalau malam hari ikan-ikan banyak yang naik, katanya berusaha yakin aku. saya tidak tahu apakah benar yang dikatannya tentang ikan-ikan itu. bukankah di tempat yang sama, sudah banyak orang yang melakukan hal-hal seperti yang dia lakukan. mungkin lokasinya saja berganti. lokasi yang dia tinggalkan kemudian dipakai oleh orang lain. kemudian dia juga menggantikan bekas orang lain juga. begitu seterusnya. mungkin bagi pak Heri, Hobi yang dianggap sebagai pekerjaaannya memang pantas untuk diperjuangkan. apapun alibinya. jadilah, waduk Selorejo bisa menyediakan lapangan pekerjaan untuk pemancing dari Kota Malang. bahkan waduk Selorejo sudah sangat familiar sebagai pusat Ikan air tawar di Malang.

salah Sudut waduk Selorejo

salah Sudut waduk Selorejo

Ngantang Vs Sampang

sekilas tentang Ngantang vs Sampang ini menjadi spesial bagi saya. setidaknya dua kata sama-sama mengandung akhiran ang. ya mungkin karena itulah saya berjodoh dengan salah warga ngantang. agak maksa yach.. hehe. berjodoh dengan penduduk Ngantang yang katanya Joyoboyo sebagai penduduk yang setia terhadap kerajaan Kadiri yang berperan melawan Jenggala. sehingga Joyoboyo akhirnya bisa mempersatukan kerajaan Jenggala dengan kerajaan Kadiri dengan semboyannya yang terkenal “Panjalu Jayati alias Kadiri Menang”. haha. dikit maksa.

Di antara dua perahu

Di antara dua perahu

Ngantang yang sejuk vs Sampang yang panas. Ngantang daerah pegunungan vs Sampang daerah pesisir. Masakan Ngantang cenderung hambar vs masakan pesisir yang cenderung asin. dua rasa menjadi satu yaitu keluarga. alah. plus kesimpulan kecil-kecilan. Daerah Pegunungan yang cenderung dingin membiasakan masyarakatnya dengan minuman hangat seperti Teh Manis hangat sehingga kecenderungan penyakitnya adalah Diabetes, sedangkan Sampang yang pesisir suka makan asin-asin, penyakitnya cenderung ke bagian jantung. alah kesimpulan kecil-kecilan alias asal-asalan. ya barangkali ada benernya.

Sudut Selorejo

Sudut Selorejo

Kurang afdol rasanya membicarakan Ngantang tanpa membicarakan Waduk Selorejo yang menjadi pusat kehidupan masyarakat Ngantang. Waduk Selorejo yang menjadi salah satu tujuan wisata setiap akhir pekan. Waduk Selorejo yang menghidupi listrik penduduk ngantang. Waduk Selorejo yang muaranya terletak di Desa Selorejo, Desa Kaumrejo menjadi hulunya. Kecamatan Ngantang hampir semuanya dikelilingi oleh waduh Selorejo ini.

Enaknya mancing disni.. pemandangannya itu loh

Enaknya mancing disni.. pemandangannya itu loh

Waduk Selorejo

pada tanggal 5 Agustus 2013, saya bersama Istri dan keponaan berkesempatan untuk mengunjungi pusat waduk Selorejo yang terletak di Dusun Selorejo, Desa Pandansari, Kec. Ngantang. karena kami berpura-pura menjadi penduduk kampung, kami tak membayar karcis yang hanya Rp10.000 haha (tak patut untuk dicontoh). setelah melewati pintu gerbang itu, kami memasuki kawasan waduk selorejo yang sejuk. pohon-pohon tinggi menjulang di sepanjang jalan pintu masuknya. saya memarkir sepeda motor saya tepat di depan kolam renang waduk selorejo.

Mari Mancing di atas Refleksi

Mari Mancing di atas Refleksi

Waduk Selorejo ini dibagi dua yang dipisahkan oleh air waduk selorejo: sisi kanan dan sisi kiri. di antara kedua sisi itu dihubungkan oleh sebuah Jembatan Gantung yang bertanggal 20  Januari 1976. jembatan gantung yang berada tepat di atas air waduk selorejo. Waduk Selorejo kanan dilengkapi sebuah Villa yang langsung menghadap ke waduk Selorejo. tak jauh dari Villa ada lapangan Bola yang cukup luas yang tepat berada berdampingan dengan Kolam Renang. sayang, karena suasana ramadhan kolam renangnya belum dibuka untuk umum. saya melihat beberapa pekerja yang sibuk membersihkan kolam renang yang sudah berlumut.

Maksimal 10 orang

Maksimal 10 orang

Jembatan Gantung Selorejo

Jembatan Gantung Selorejo. demikian sebutan jembatan itu. ku liat dibawah jembatan itu, beberapa orang yang hobi mancing sudah duduk rapi berjajar di bawah jembatan. mereka begitu enjoy memancing mengharapkan ikan-ikan yang capek berenang sehingga kesasar ke pancingan mereka. mereka tak segan menyapa saya yang mulai mendekati mereka. mereka menyapa saya sambil menawarkan jasa perahu keliling waduk. mungkin mereka inilah yang disebut penumpang gelap. alias jasa keliling waduk selorejo tanpa melalui Perum Jasa Tirta sebagai pengelola.

Jembatan Gantung Selorejo

Jembatan Gantung Selorejo

yang menarik perhatian saya selain pemancing itu sendiri adalah Pemandangan Bendungan Selorejo di pagi hari. semuanya berefleksi. langit langit, pohon-pohon, jembatan, para pemancing, perahu-perahu semuanya merefleksikan diri ke dalam air waduk selorejo yang begitu tenang. sungguh indah kawan. hanya kata itu yang keluar dari mulut saya untuk mengekspresikan keindahan waduk Selorejo.

Refleksi dari Jembatan Gantung

Refleksi dari Jembatan Gantung

sangat mengerikan bagi yang belum pernah mencobanya. ku liat papan informasi Jembatan gantung yang tertulis “Maksimal 10 orang”. saat saya menginjakkan kaki ke atas jembatan yang terbuat dari besi dan baja itu, maka seluruh rangka jembatan akan bergoyang. untung pengunjungnya masih sepi. hanya Saya, istri dan keponaan. saya tak perlu memberitahukan ketakutan wajah saya ke pengunjung yang lain. begini lah jembatan ini, saat kaki berhenti, kengerian itu pergi.

mari nyebrang jembatan gantung

mari nyebrang jembatan gantung

saat kami berjalan lagi, jembatan itu bergoyang lagi. begitu seterusnya. kengerian sepertinya terbang ntah kemana saat saya tepat berada di tengah-tengah jembatan. indah kawan. semuanya berefleksi begitu sempurna dilihat dari tengah-tengah jembatan gantung. sampai akhirnya kami bertiga berhasil menyeberang ke bagian kiri waduk Selorejo.

Refleksi dan Jembatan Gantung

Refleksi dan Jembatan Gantung

Waduk Selorejo bagian kiri dilengkapi dengan fasilitas bermain anak-anak, Kuliner area dan oleh-oleh khas waduk Selorejo. di bagian kanan waduk Selorejo ini juga menyediakan jasa transportasi perahu untuk mengelilingi Waduk Selorejo mulai dari Hilir waduk Selorejo sampai Hulu waduk Selorejo di Gading, Kaum Rejo Ngantang. alasan yang cukup menarik untuk menggunakan jasa perahu Perum Jasa Tirta adalah kita bisa melihat kebun-kebun jambu kemudian memetiknya, melihat pertanian-pertanian di sepanjang waduk selorejo, atau melihat para petani yang bercanoe menyeberang yang hendak mau ke sawah, atau melihat penghobi mancing yang berada di sudut-sudut waduk selorejo.

menyebar jala di waduk Selorejo

menyebar jala di waduk Selorejo

Tips ke Waduk Selorejo

  1. Waduk yang berjarak kurang lebih 43 Km dari malang ini bisa ditempuh menggunakan bus dari Terimanl Langdungsari jurusan Kediri atau Jombang . atau juga sebaliknya bisa ditempuh dari Kediri minta turun di Pertigaan Desa Selorejo.
  2. dari Pertigaan Selorejo bisa menggunakan angkutan bison atau ojek ke Waduk Selorejo

Follow twitter kami di @caderabdulpaker