Menyusuri Padang Savana Pulau Kenawa

Hiruk pikuk Poto tano yang terhenti

Hiruk pikuk Poto tano yang terhenti

Jembatan Pelabuhan Poto Tano

Jembatan Pelabuhan Poto Tano

Pagi ini kami harus segera beranjak menuju perjalanan selanjutnya yaitu Kenawa dan Paserang. Kalau tadi malam kami melewati jalan setapak, maka pagi ini kami akan berjalan menyusuri pesisir pantai yang membentang dari Mercusuar hingga ke Pelabuhan Tano, melewati padang rumput bunga berwarna kuning kecoklatan. Padang rumput berduri yang biasanya tumbuh di pesisir pantai. Langit pagi ini begitu cerah dengan lembayung senja. Awan terbang rendah di atas pelabuhan Poto Tano.

Pelabuhan Poto Tano berada di kawasan teluk Tano yang dikelilingi perbukitan-perbukitan berwarna kecoklatan. Poto Tano pagi ini terdiam, ombak pun tenang dengan diliputi pagi yang tenang. Pelabuhan Poto Tano nampak sepi dan lengang menawarkan pesona tersendiri. Kalau dilihat dari atas bukit, Poto tano akan menawarkan panorama indah di kawasan teluk yang berbentuk seperti bulan sabit separuh lingkaran. Matahari terbit muncul di balik bukit-bukit sumbawa dengan temaram warna jingga .

Bunga-bunga yang berbunga di bulan Oktober- Desember mulai bermunculan dengan aneka warna. Kebanyakan didominasi warna merah sepadan dengan tiang-tiang koridor jalan yang dicat berwarna merah. Di kejauhan sana, Desa Poto tano lengkap lanscape bukit kecoklatannya terlihat asri. Saya menyukai Pelabuhan Poto tano di waktu pagi pada bulan oktober. Di saat bunga itu sedang bermekaran. Saat air laut sedang surutnya. Hiruk pikuk pelabuhan tak kami jumpai di pelabuhan ini. ini lah pelabuhan terapik yang pernah saya liat dengan lanscape yang memanjakan mata.

 

Melintasi selat alas

Melintasi selat alas

Seeorang lelaki setengah baya dengan badannya yang tegap mendekati saya yang berjalan seorang diri dengan setengah buru-buru mengejar kawan yang sudah tiba duluan di sebuah warung di pojokan terminal pelabuhan. “mas, ojek mas, katanya. Dia kemudian meninggalkan saya setelah melihat gelengan kepalaku. Kami akan menyeberang ke Pulau Kenawa dan Paserang menggunakan satu kapal untuk mengangkut rombongan kami yang berjumlah 17 orang. Daya tampung perahu tak cukup mengangkut kami sekaligus. Sehingga kami diangkut secara bergantian. Rencananya kami akan menginap di Pulau Paserang. Tujuan pertama kami adalah Kenawa. Si Pulau Tikus itu.

untuk mencapai Pulau Kenawa satu-satunya cara adalah menyewa perahu. Tarif sewa perahu biasanya tergantung banyaknya penumpang. Bisa Rp150.000 hingga Rp350.000 dengan waktu tempuh sekitar 50 menit. Sepanjang perjalanan dari pelabuhan hingga pulau Kenawa, saya hanya melihat bukit-bukit gersang kecoklatan, pasir-pasir putih dan air laut yang berwarna biru dengan gradasi warnanya. Dari kejauhan, Pulau Kenawa menawarkan pesonanya dengan gradasi warna air lautnya. Meneduhkan.

Menginjakkan kaki di Pulau Kenawa, pulau ini seakan memperjelas tentang keberadaannya. Gersang dan tak berpenghuni. Bukitnya gundul berwarna kecoklatan. begitu kontras dengan pemandangan alamnya. Pulau Kenawa seperti pulau telah lama ditinggal pemiliknya. Beberapa berugak berdiri di sepanjang pesisir pulau. Bahkan, hampir mengelilingi pulau ini. Berugak-berugak itu katanya dibangun oleh pemerintah kemudian dibiarkan begitu saja. sebagian atapnya sudah banyak yang bolong. Terbang bersama angin. Satu-satunya tower penampung airnya karatan. Penampung airnya tak ada sama sekali. Kosong tak berbekas.

Pulau Kenawa sudah disewakan kepada perusahaan asal Swedia yang bernama PT. Eco Solutions Lombok (ESL) selama 30 tahun. Tapi, hingga saat ini Perusahaan Swedia ini juga belum beroperasi. Pulau dengan luas 13,8 hektar ini memiliki panorama alam yang indah menjadi incaran para investor: Bukit yang berada di sisi utara pulau, pasir putih dengan terumbu karang yang masih alami.

 

Bersiap-siap landing di pulau Kenawa

Bersiap-siap landing di pulau Kenawa

Investor-investor anyar dalam dunia pariwisata di Provinsi Nusa Tenggara Barat memang banyak. Pariwisata di Lombok dan Sumbawa sedang tumbuh-tumbuhnya. Target satu juta wisatawan yang ditergetkan oleh Gubernur sudah tercapai beberapa tahun yang lalu. Pemerintah-pemerintah daerah belum siap. Investor yang datang, langsung diberikan hak pengelolaan. Ijin-ijin diobral. Conflict of interest pun tak terelakkan. Perwakilan daerah pun ikut-ikutan meradang. “Bupati sebaiknya tidak mengobral obral perijinan pengelolaan pulau, kata perwakilan rakyat di salah satu media lokal. Lihat pulau-pulau ini ijin sudah dikeluarkan tapi tak ada aktivitas sama sekali, tambahnya.” Dan hari ini, saya menyaksikan geliat Pulau Kenawa yang jalan di tempat.

Jika kita berada di tengah-tengah pulau Kenawa atau berada di atas bukit. Kita akan memandangi rerumputan kering berwarna kecoklatan bercampur dengan warna hijau. Bukit Kenawa itu gersang Meranggas bercampur dengan teriknya panas mentari. Tak ada rumput sekalipun. Pulau kenawa pernah terbakar tiga bulan lalu sekitar tanggal 3 agustus 2014. Ntah lah terbakar oleh proses kimiawi alam karena gesekan gesekan rerumputan kering atau sengaja dibakar oleh orang-orang yang tak berkepentingan.

Padang Savana Kenawa di musim kemarau tergantikan oleh bukit gundul bulat laksana rambut kepala yang dicukur plontos. Tiga bulan telah berlalu. Rerumputan itu mulai tumbuh lagi. Berpola dan berbentuk sedemikian rupa. Berbentuk satu ikatan rumput laksana padi dengan jarak yang seragam. Keajaiban yang saya saksikan dengan mata kepala sendiri. Heran bercampur takjub. Bingung hingga pertanyaan-pertanyaan liar mengalir begitu saja di fikiranku. Kug bisa?, Biarlah pola dan bentuk rumput rumput ini menggelayut di otakku. Sebagai kenangan dari pulaunya padang Savana.

terkapar kecapean di berugak

terkapar kecapean di berugak

Nama Pulau Kenawa berasal dari Pohon Kenawa yang tumbuh subur di sisi barat pulau. Pohon Kenawa ini hanya tumbuh di salah satu sisi pulau ini. Dan saya tidak menemukannya tumbuh di sisi lainnya dari pulau kenawa ini. saya tidak tahu kenapa hanya tumbuh di sisi baratnya saja. Apakah di sisi barat pulau ini relatif subur, saya juga belum bisa memastikannya, ataukah Pohon Kenawa sendiri memiliki karasteristik tersendiri sehingga hanya tumbuh bagian tertentu saja?. Pertanyaan-pertanyaan liar ini akhirnya terjawab oleh kawan saya, Baktiar Sontani namanya. Itu lah satu pengetahuan survival der-mengenal lingkungan untuk bertahan hidup, katanya saat memberikan komentar di salah satu statusku.

Di sisi barat pulau Kenawa, langsung berbatasan dengan pulau Sumbawa dengan jarak lumayan dekat. sedangkan di sisi lainnya, tak ada pulau-pulau yang berbatasan secara langsung. Pohon-pohon biasanya tumbuh subur di daerah yang lebih terlindungi seperti karena di depannya ada pulau atau gugusan atol yang menyebabkan pepohonan terlindungi dari gelombang besar.

Pulau Kenawa ini banyak dikenal dengan sebutan Pulau Tikus. Masyarakat sekitarnya lebih familiar dengan sebutan Pulau Tikus. Sebutan itu bukan karena pulau kenawa banyak dihuni oleh tikus-tikus besar. Tapi karena Pulau Kenawa terlihat seperti seekor tikus jika dilihat dari kejauhan. Baik dari Pelabuhan Poto Tano maupun dari Pulau Paserang.

Tiba di pulau ini, kami langsung tepar di Berugak salah sudut di bagian barat laut pulau Kenawa. Berbatasan langsung dengan pepohonan Kenawa di sisi barat pulau. Di Luar, Panas begitu menyengat di pulau yang hanya ditumbuhi rerumputan ini. Angin sepoi-sepoi berhembus kencang dari pepohonan Kenawa membuat kami males beranjak dari berugak yang sebagian atapnya bolong. Atapnya terbuat dari rumah adat khas Sumbawa yaitu: Bambu yang dibentuk sedemikian rupa.

 

Rerumputan Kenawa yang terlihat dari Bukit Kenawa

Rerumputan Kenawa yang terlihat dari Bukit Kenawa

Perjalanan malam dari Mataram ke Kayangan kemudian menyeberang ke Poto Tano. Di sana lah kami terdampar di sekitar Mercusuar Poto Tano dengan beralaskan pasir dan beratapkan langit dengan taburan bintang. Kami baru bisa sedikit berisitirahat jam 03.00 pagi. Capek tak terperi. Siang ini adalah pembalasannya. Istirahat melepaskan penat. Perutku mulai keroncongan, rasa kantukku terkalahkan oleh rasa lapar. Bekal satu bungkus nasi seharga Rp10.000,00 yang dibeli di Pelabuhan Poto tano. Hampir semuanya membawa bekal nasi kecuali om Jefry. Om Jefry sudah siap backpacking dengan cara survival. Wajan, kompor gas, lengkap dengan makanan dan bumbunya sudah dibawanya. Makanan-makanan itu sekarang sudah siap diracik oleh Chef Jefry.

Istirahat bergeser menjadi permainan. Permainan lebih seru daripada sekedar tidur istirahat di berugak. Entah siapa yang memulai di antara kami, Permainan kartu dimulai secara bergantian: Jendral dan 7up. Yang kalah, wajahnya dicoret-coret menggunakan arang hitam oleh yang lain. Wajah yang awalnya bersih bercampur lesu menjadi belang-belang hitam dengan menanggung malu. Yang paling sering kalah adalah Tri Prasetyo. Wajahnya paling banyak coretannya. tak lupa Sandy, kawan sepermainannya mengabadikannya dalam kamera Hp, untuk kemudian diupload di sosial media. Begitu lah kami meluapkan rasa capek. Bercanda, bermain, kemudian tertawa lepas bersama. Saling ejek adalah hal biasa, tak perlu Saling mengular benci dan memupuk kedengkian. Yang kalah maupun yang menang sama-sama tertawa. itu lah kami dan Itulah tujuannya.

IMG_0137

Pose terbaik

Pose terbaik

Di tengah-tengah berugak, Satria Ahmadi memetik-memetik gitar kesayangannya melentingkan suara emasnya dengan referensi lagu-lagu yang segudang. Di antara kami, satria adalah vokalis sekaligus gitaris dan paling banyak hafal lagu-lagu. Dangdut hingga barat, India hingga Jepang. Lagu cinta atau lagu lucu-lucu. Itulah Satria dengan segala keunikannya.

Hampir satu jam, kami beristirahat. Jefry dan Daffa sudah snorkling sejak tadi. Kami masih terkapar di salah satu berugak bolong dengan muatan manusia lebih dari selusin. Tak afdal rasanya, jauh-jauh ke Kenawa tapi tak menyicipi indahnya taman laut di Pulau Kenawa. Satu persatu di antara kami akhirnya turun nyebur ke laut lengkap perlengkapan snorkling. Hanya beberapa saja yang memang tak hobi dan tak bisa berenang. Perlengkapan snorkling kami bawa sendiri. Di Kenawa tak ada penyewaan alat snorkling. Jangan kan penyewaan alat snorkling. Pulaunya saja tak berpenghuni.

 

Begibung alias makan bersama

Begibung alias makan bersama

Keindahan varietas terumbu karang yang beranika ragam dengan corak warna warni, baik yang hard corals maupun yang soft corals seperti karang meja-table corals, Brain Corals, dan Cabbage Corals.Varietas terumbu karang yang saya temui adalah soft corals laksana pepohonan dan dedauanan yang melambai-lambai saat ada arus air atau ada ikan-ikan berenang-renang di sekitarnya. berbagai jenis ikan terumbu karang dengan warna-warna cerah memperindah taman-taman laut di sisi selatan pulau Kenawa. Ikan-ikan badut yang bersembunyi di balik anemon-anemon yang melambai-lambai. Yang mengagetkan saya adalah ini: sekumpulan ikan-ikan kecil yang jumlahnya ratusan bahkan ribuan berenang ke sana ke mari menabrakkan tubuhnya dengan tubuhku.

Ada rasa takjub saat melihatnya. Heran sekaligus bingung. Ikan apakah ini?. sayang, saya tak punya kamera underwater untuk merekam gerak-gerik ikan-ikan kecil yang menggodaku. Menabrakkan diri dengan betis, kaki dan tubuh serta pelampungku yang masih kuat menempel di tubuh ku.

Semua keindahan itu terekam dalam ingatan kami. Tak cukup itu, Indrayana juga mengabadikan momen bawah air itu. Di antara kami, ada dua orang yang membawa kamera anti air. Kanjeng Mami Rahma dan Indrayana. Mereka berdualah yang bertugas untuk mengabadikan. Baik video maupun capture foto.

Semoga ikan-ikan kecil yang menggodaku bukan karena alasan pelampungku yang masih menempel kuat di tubuhku!!!.

siap-siap meninggalkan Kenawa

siap-siap meninggalkan Kenawa

Advertisements

Petualangan di Selat Alas

Di antara dua tenda

Di antara dua tenda

 

Hai dir, kakimu tuh hampir kena kepala Catrina, kata mbak Ifath kepada saya. saya kaget dan terbangun untuk membetulkan kembali pola tidurku. Berugak sempit berukuran 2 x 2 yang penuh sesak dengan tas-tas selempang terpaksa masih ditiduri oleh kerumunan manusia yang mengatakan dirinya Lombok Backpacker. Manusia-manusia alam yang rela berhimpitan penuh sesak dibandingkan tidur di salah satu penginapan di Gili Kondo beralaskan kasur-kasur empuk. Kami lebih memilih tidur di salah satu berugak diterpa angin laut dengan suara deburan ombak.

Pola tidur saya yang cenderung sporadis berubah menjadi “tenang”. Tenang bersama himpitan dan desakan. Saya dan kawan-kawan terbangun ketika mentari masih dalam peraduan, bersembunyi di balik pulau Sumbawa. Semburat Cahaya kuning emas menyelimuti pulau Sumbawa. beberapa orang bersuci dengan air laut yang rasanya asin. Shalat didirikan di antara tenda-tenda menghadap ke barat membelakangi semburat cahaya dengan beralaskan pasir putih yang tersamarkan.

Setelah shalat didirikan, Semua bergegas menuju ke pantai menunggu sang mentari muncul. Pantai yang biasanya nampak sepi sekarang begitu ramai oleh para penikmat petualangan yang bermalam di Gili Kondo. Merasakan ketenangan melupakan sejenak hiruk pikuk dan kepenatan. Perlahan kamera dibidikkan menangkap potongan spektrum cahaya berwarna jingga. Sebagian lain menikmati mentari terbit dengan berpose berbagai macam gaya dengan ide-ide kreatifnya. Seakan-akan tak mau semburat cahaya itu terlewatkan begitu saja tanpa ada kenangan yang berarti.

Penunggu sang mentari pagi

Penunggu sang mentari pagi

Kuning emas menyelimuti , matahari menembus cakrawala, memenuhi semesta alam. Nampak gugusan pulau Sumbawa diselimuti awan kelabu yang berbaris dari ujung ke ujung. Gugusan Pulau Mantar yang lebih dikenal dengan “Negeri di atas awan” benar-benar diselimuti awan kelabu keemasan. Gugusan pulau Kenawa pun juga diselimuti oleh awan-awan berwarna keemasan biasan dari sang mentari pagi. Dalam diam ku berharap suatu saat nanti saya ingin menginjakkan kaki ke dua pulau yang sudah tersohor di NTB itu.

Acara penungguan mentari telah usai. Pengunjung pun berhamburan kembali ke tenda masing-masing. Semua beraktivitas dengan kegiatan masing-masing. Sepagi ini, Catrina dan Nana sudah keluar membawa perlengkapan snorkeling. Mereka berdua ingin menikmati keindahan taman bawah laut Gili Kondo sepagi mungkin sebelum yang lain ikut menikmatinya. Sebagian yang lain berkumpul di depan tenda bealaskan pasir putih. Bercengkrama bersama melepaskan kepenetan pekerjaan. Bahagia itu begitu sederhana. Duduk bersimpuh di atas pasir-pasir gili Kondo itu sepotong kebahagiaan, menikmati aroma semerbak kopi dan menimum kopi hangat yang menembus lorong kerongkongan itu secuil kebahagiaan yang lain. Sajian seduhan kopi dan teh penghangat badan dengan terpaan angin laut kondo seakan memberikan kebahagiaan tersendiri. Bersama kawan-kawan sesama backpacker. Dalam hati ku berpikir alamak kapan lagi saya merasakan kebebasan ini lagi. hanya anak-anak pulau yang bisa merasakan suasana seperti ini setiap hari tanpa adanya batasan waktu seperti kami-kami para backpacker.

berbagai cara menikmati sunrise di Gili Kondo

berbagai cara menikmati sunrise di Gili Kondo

Perutku mules dan mulai melilit. Ku berlari ke ujung selatan pulau menuju penginapan yang masih coba bertahan setelah pengelolaanya diberhentikan. Dulu, pulau ini masih dikelola Perama. Sekarang perijinan tidak diperpanjang lagi. Saya memasuki komplek penginapan Perama yang sudah tak terawat itu. rasa-rasanya dari puluhan pengunjung tak ada yang menginap di sini. penginapan ini hanya terdiri satu rumah khas sasak dengan bagian bawah luar dikhususkan untuk Bar sederhana khas café barat. Bar berukuran setengah lingkaran itu tak ada pengunjung. hanya seorang penunggu hotel yang selalu setia menunggu. Seorang penunggu hotel yang sedang menyapu menunjukkan saya sebuah kamar kecil yang berada di luar hotel. Pagi ini saya tak mandi, mungkin begitu juga dengan kawan-kawanku. Saya hanya sikat pagi dengan air air asin yang membuat mulutku semakin kaku. Baru kali ini saya merasakan sikat gigi dengan air laut.

Matahari semakin meninggi, petualagan ke beberapa pulau yang direncanakan oleh rombongan masih harus menunggu pak Jefry, sang pemilik kapal. Kawan-kawanku sudah hampir semuanya nyebur mencari hamparan terumbu karang firdauzi yang disajikan oleh gili Kondo. Saya sendiri. tak tahu ntah mau kemana. Akh kenapa tidak mencoba mengelilingi pulau kecil yang luasnya beberapa hektar ini saja, pikirku. Rinjani pagi ini begitu gagahnya. Nampak sempurna kegagahannya dengan awan-awan putih yang mengitarinya.

Menyusuri pantai berfosil

Hamparan Pasir fosil di sisi barat Gili Kondo

Hamparan Pasir fosil di sisi barat Gili Kondo

Menyusuri pesisir pantai ini serasa milik pribadi. Saya tak menemukan siapa pun selama saya mengelilingi pulau ini. pasir-pasir putih dengan bentuk seperti bintang banyak dijumpai di pesisir barat pulau ini. kalangan akademisi menduga ini adalah sejenis fossil yang terbawa oleh gelombang laut hingga terhempas bersama dengan terumbu karang-terumbu karang. Pasir berbentuk bintang ini hanya banyak di jumpai di Bali dan Lombok, dan Flores. pasir bintang ini banyak dijumpai di pesisir pantai yang terumbu karangnya masih terawat dengan baik termasuk di kawasan Gili Kondo ini. Fosil ini sering disebut Baculogypsina sphaerulata dan Baculogypsinoides spinosus atau Schlumbergerella-floresiana. Akh daripada bingung coba baca terus kelanjutan dari tulisan ini.

Sebagaimana penelitian yang dilakukan Adisaputra pada tahun 1991, dalam tulisannya mengenai Pantai Benoa Bali, mengungkapkan adanya cangkang fosil Schlumbergerella floresiana yang telah diduga sebagai “pasir putih” tersebut, karena fosil ini mempunyai ukuran butir pasir dari medium sampai sangat kasar.

Di perairan ini, fosil ini berasosiasi dengan foraminifera bentos kecil lainnya seperti Amphistegina lessonii, Calcarina calcar, Tinoporus spengleri, Baculogypsina sphaerulata dan Operculina ammonoides yang kesemuanya biasa dijumpai di laut dangkal dengan kondisi laut terbuka dan air yang jernih serta sinar matahari yang cukup untuk dapat menembus ke tempat mereka hidup (Hottinger, 1983.” Dari segi ilmiah, Adisaputra telah menguraikan spesies Schlumbergerella floresiana yang banyak mendominasi  Pantai Nusa Dua, Bali. Fosil ini membentuk pantai dengan jumlah total sekitar 60 % dari total sedimen. Bentuknya hampir bundar, berwarna putih susu, dengan butiran medium sampai kasar. Besarnya bisa dibandingkan dengan mata uang yang terdapat dalam.”** 

Pasir Baculogypsina sphaerulata diambil dari http://foraminifera.eu/single.php?no=1006541&aktion=suche

Pasir Baculogypsina sphaerulata diambil dari http://foraminifera.eu/single.php?no=1006541&aktion=suche

“Pasir” yang sejenis berbentuk bintang juga banyak dijumpai di pantai Kecinan, Lombok Utara. Saya pernah menemukan pasir berbentuk bintang itu saat bercengkrama dengan para pemancing ikan yang sedang menikmati makan siang di bawah pepohonan.

Ada rasa takjub dengan gili kondo ini. tak hanya menikmati pulau ini, tapi saya bisa menemukan banyak hal-hal baru yang saya temukan. Ini merupakan salah satu aset yang sangat berharga.

Gagahnya gunung Rinjani terlihat jelas di balik hamparan pasir-pasir ber fosil. Kawanan padang lamun yang berwarna kehijauan tumbuh subur di pesisir barat pulau ini. kawanan kepiting kecil berlarian bersembunyi di balik bebatuan saat saya berjalan menyusuri pasir dan bebatuan Kondo.

Di ujung sana, pelabuhan kayangan dengan kawanan kapal-kapal yang siap berangkat menuju pulau Sumbawa. tak ada hiruk pikuk. Hanya dalam 15 menit saja, saya sudah mengelilingi ¾ pulaunya. Di ujung ¾ , ada sebuah pulau. Mungkin dulunya pulau ini masih satu pulau dengan Gili Kondo. Gili bagik namanya. Pepohonan rindang memenuhi pulau tak berpenghuni. Saya mencoba menyeberangi jalanan menuju gili bagik. Saya hanya ingin bertamu sejenak di pulau ini untuk kemudian pergi lagi sebelum air laut benar-benar pasang. Pagi ini, air laut belum begitu pasang. Setidaknya saya masih berjalan walau berbasah-basahan hingga lutut kaki.

bercengkrama di Gili Kondo sambil menyeduh kopi

bercengkrama di Gili Kondo sambil menyeduh kopi

Seorang nelayan tengah sibuk menghidupkan mesin perahunya di tengah laut. Terlihat sedari tadi, sang nelayan belum juga berhasil menghidupkan mesin perahunya. Keringat bercucuran keluar dari kulit eksotisnya. Sesekali sang nelayan mengelap keringatnya. Pulau Sumbawa yang diselimuti awan kelabu menjadi latar belakang sang nelayan. Sang mesin pun belum mau bersahabat dengan pemiliknya. Saya tak bisa berbuat apa-apa. Berlalu saja meninggalkannya menuju awal petualangan gili Kondo.

Saya telah salah menduga bahwa di pulau ini tak berpenghuni. Dalam perjalanan kepulangan saya, saya bertemu dengan beberapa petani di tengah-tengah pulau gili kondo. Saya melongoknya ke dalam pulau yang dikelilingi semak-semak dan rerumputan kering. Terlihat beberapa petani sibuk mencabuti rerumputan yang tumbuh di sela-sela ketela. Saya mendekati salah satu dari mereka. Pak Husni namanya. Saya berusaha menegur dan menyapanya. Dia langsung menawarkan ketela-ketela yang sudah dibelinya. Mau beli ?, katanya kepada saya. wah ngak pak.saya hanya ingin ngobrol-ngobrol dengan bapak aja, kataku.

Sang Nelayan yang berusaha menghidupkan mesin perahu

Sang Nelayan yang berusaha menghidupkan mesin perahu

Pak husni tinggal di tengah-tengah pulau bersama petani lainnya. tanpa listrik dan tanpa hiburan bahkan mandi pun belum tentu menggunakan air tawar. Pulau ini hanya memproduksi air asin. Air tawar harus diangkut dari pulau seberang menggunakan perahu.

Rumah Pak Husni hanyalah sebuah rumah gubuk reyotdi tengah-tengah sawah dengan berdindingkan pelepah-pelepah pohon dan beratapkan rumput-rumput kering. Cukup untuk berlindung dari rasa dingin dan panas ataupun cuaca ekstrim. Dikelilingi pematang sawah dan pasir putih berbentuk bintang dengan Gunung Rinjani tinggi menjulang menjadi wallpaper hidupnya. Sambil ngobrol pak husni sambil menggali ketela-ketela yang sudah tua. Desiran angin laut menerpa wajah pak Husni yang bermandikan keringat. Sesekali pak husni menyeka keringat yang membasahi wajah tirusnya.

Gubuk Pas Husni

Gubuk Pas Husni

Pak Husni, Petani di Gili Kondo saat menggali ketela hasil pertaniannya

Pak Husni, Petani di Gili Kondo saat menggali ketela hasil pertaniannya

Hembusan desiran angin laut menerpa perahu-perahu yang merapat di Gili Kondo. Perahu bergoyang bersama alunan ombak. Pak Jefry membawakan kami sarapan bungkus sebagai pengganjal perut kami selama dalam perjalanan nanti. Semua rombongan berangsek naik ke perahu masing-masing. Dua perahu rombongan siap melaju menembus sang laut biru menuju Gili Kapal. Hanya butuh 20 menit untuk merapat ke pulau pasir ini. pulau yang timbul tenggelam bersama air.

Saya membayangkan bagaimana suasana perairan selat alas di tahun-tahun sebelum masa kemerdekaan. Saat dimana selat alas dikuasai oleh Dai Nippon Jepang. Kapal-kapal dengan perlengkapan perang lengkap senjata pemusnah hilir mudik di selat alas hendak menerkam pihak sekutu yang siap menyerang kapan saja. Kapal jepang yang biasanya selalu hilir mudik di selat Alas itu, tiba-tiba teronggok kaku di pulau pasir tak kentara. Sang Nahkoda tak melihat bahwa pulau yang tak kentara ini begitu dangkal.

Berawal dari sejarah kapal jepang yang terdampar di pulau pasir ini sehingga pulau ini dikenal dengan sebutan Gili Kapal. Gili yang bersejarah karena berhasil membuat kapal jepang terdampar seperti paus yang terdampar di daratan.

Negeri di atas awan sumbawa

Negeri di atas awan sumbawa

Selat Alas begitu sangat strategis. Berada di antara dua pulau antara pulau Sumbawa dan Lombok. tersembunyi dari pelabuhan penyeberangan utama. Siap membidik musuh di balik persembunyian untuk melancarkan strategi penguasaan jepang melawan sekutu. Jepang memang ahli perang dengan strategi persembunyian. Tak jauh dari dari Gili Kapal, ada sebuah pulau yang dikelilingi pohon bakau. Dari kejauhan, pulau ini hanya barisan tanaman bakau berwarna hijau.

Dengan sistem kerja ala Romusha, jepang membangun benteng pertahanan di berbagai sisi pulau Lombok. Benteng-benteng pertahanan seperti Mercusuar dan Gua dibangun di pesisir tenggara Lombok yang langsung berbatasan dengan samudra Hindia dan pulau Sumbawa bagian selatan. Bekas-bekas Gua jepang dan Mercusuar masih bisa kita jumpai di daerah Tanjung Ringgit dan sekitar pantai Tangsi. Untuk memperkuat sistem pertahahan di sisi barat laut pulau Lombok yang langsung berbatasan dengan bali, jepang juga membangun sistem pertahanan di daerah Bangko-bangko, Lombok Barat.

Kembali ke Selat Alas dengan pulau yang dikelilingi hutan bakau. Hutan bakau ini diatur dengan sedemikian rupa. Untuk masuk ke dalam pulau, harus melewati barisan tanaman bakau, lorong-lorong pohon bakau yang diatur sedemikian rupa. Lorong-lorong tanaman bakau ini hanya bisa dilewati kawanan perahu yang kami tumpangi. Dulu, pulau ini hanyalah tanah kosong tak bertuan yang siap tergerus oleh dahsyatnya sang ombak. Jepang datang dengan menanam tanaman bakau mengelilingi pulau tak bertuan sebagai benteng pertahanan dengan sistem kerja paksa romusha.

Saat rombongan melintasi lorong-lorong bakau, perahu kami tersangkut oleh akar-akar bakau. Kami pun berhenti berusaha untuk mengankat kaki perahu bersama sang pengemudi. Dua rombongan perahu kami tertambat di lorong-lorong bukan karena akar-akar pohon tapi karena anak-anak kota yang merindukan permainan desa. Jadilah arena lorong bakau menjadi perhelatan loncat terindah dari atas perahu. Setiap orang yang melompat berusaha dengan loncatan terindah dengan bidikan kamera.

Brummmmm…… terdengar bunyi tubuh yang terhempas ke dalam air. begitu seterusnya bergantian. Ruben berenang dari perahu belakang menuju perahu depan. Bukan untuk menghindar dari serangan tentara sekutu tapi untuk mengikuti kontingen loncat indah di perahu depan. Lorong-lorong ini dulunya menjadi arena benteng pertahanan jepang saat melawan sekutu sekarang menjadi arena loncat indah para petualang.

Perjalanan dilanjutkan menuju lorong-lorong lain dengan formasi tananman bakau yang juga berbeda. Akh tak afdol rasanya menyusuri selat alas yang bertaburkan terumbu karang yang beraneka warna dan rupa tanpa menyicipi keindahan taman lautnya. Taman laut yang berbatasan dengan garis Wallace yang aneka terumbu karangnya serupa dengan terumbu karang di Autralia sana.

Bagi yang pinter free-diving. Berenang dengan berbagai macam gaya dan atraksi adalah salah satu satu keharusan saat berada di dalam air. beratraksi dengan terumbu karang-terumbu karang yang memanjakan mata, berenang bersama ikan-ikan beraneka rupa dan warna. Sedangkan saya hanya menjadi penikmat alam surgawi yang berada di dasar laut dengan bantuan pelampung yang selalu menempel di punggung.

Catrina dan rekan hahaha

Catrina dan rekan hahaha

Puas menikmati alam surgawi di selat alas di garis wallace, kami pun bergegas untuk menuju Gili Kondo untu berbilas dengan air tawar dengan membayar 10 ribu rupiah. Siang ini gili kondo benar-benar bersolek. Pasir putih berpadu dengan air laut yang bergradasi dari biru muda ke biru toscha. Pengunjung Gili Kondo mulai berdatangan. Mampir sejenak untuk sekedar menikmati sajian pasir putih dengan paduan warna biru toscha.

beristirahat sejenak di Cafe Perama

beristirahat sejenak di Cafe Perama

Sebelum pulang, kami pun berisitirahat sejenak melepas lelah, mandi dan shalat. Bercengkrama di dalam café yang sudah terurus. Obrolan-obrolan hangat dengan nyanyian-nyanyian merdu Tendou Souji berpadu dengan petikan gitar yang seirama. Catrina duduk bersama-sama. saya berfikir Catrina begitu kuatnya dengan sarapan biscuit dan makan siang pun biscuit. Tawaran kami berupa nasi tak diacuhkannya. Dia tak terbiasa dengan nasi. Mungkin dengan makanan ringan seperti biscuit, dia sudah merasa kenyang. Akh sedangkan saya dengan satu piring rasanya biasa saja. Catrina Tidur beralaskan batu-batu pasir di café. Sedangkan rombongan lain duduk sambil mendendangkan nyanyian kecapean. Saya mendekati Catrina karena penasaran dengan umurnya.

Mengintip Gili Kondo

Mengintip Gili Kondo

I am twenty, katanya. And you ?.

I am thirty. Dengan sedikit tidak percaya trus dia bilang

but you like twenty.

Saya hanya tersenyum ketika dibilang aku seperti umur 20an. Tak berselang berapa lama, dia melirik ke jari-jari manis yang terpasang cincin. Have u married?, katanya dengan perasaan campur aduk antara pengin tahu dan rasa heran. Ku hanya menjawab dengan anggukan kepala dan dia pun mengiyakan dengan anggukan kepala dengan perasaan heran.

 

Catatan kaki :

** http://www.mgi.esdm.go.id/content/panorama-nan-indah-sebuah-aset-wilayah-pantai-dominasi-schlumbergerella-floresiana

 

Serunya bermalam di Gili Kondo

Siap Berangkat ke Gili Kondo

Siap Berangkat ke Gili Kondo

 

Mendengar kata camping yang terekam dalam otak saya adalah proses kembalinya manusia ke habitat awal manusia yang selalu ingin hidup bebas. Hidup di alam bebas bersahabat dengan alam. Kali ini saya bersama kawan-kawan Lombok Backpacker akan camping di perbatasan antara pulau Lombok dan pulau Sumbawa yaitu di Gili Kondo. Persiapan seadanya, tenda hanya sebagian yang membawa yang lain hanya mempersiapkan diri untuk tidur beratapkan langit. Tak kurang ada 24 orang yang akan berangkat ke Gili Kondo. Satu diantaranya adalah turis asing yang berasal dari jerman.

Sepeda motor siap menempuh perjalanan selama 2.5 jam. Menjelang sore hari, seluruh rombongan sudah merapat di bibir pantai. Tak ada lapangan parkir khusus. Hanya tanah lapang dan pepohonan duri yang difungsikan sebagai parkir. Beberapa warga kampung duduk santai di berugak-berugak pantai. Mereka duduk sambil berharap penumpang-penumpang yang ingin diantar ke pulau seberang. Sedangkan rombongan kami sudah terlebih dahulu menghubungi awak kapal yang bernama Pak Jefry.

Sambil menunggu kedatangan perahu kami, kami kumpul di salah satu berugak yang terlihat baru. Suara riuh rendah anak-anak yang asik ngobrol satu dengan yang lain di salah satu berugak. Berugak ini selain berfungsi sebagai tempat duduk, juga berfungsi sebagai mushalla. Beberapa kawan Lombok Backpacker shalat bergantian di atas berugak. Tempat wudhunya berada tak jauh dari berugak kami. Airnya agak sedikit payau tapi cukup mensucikan badan kami yang kotor.

Senja di puncak Rinjani dari selat alas

Senja di puncak Rinjani dari selat alas

Tak berapa lama perahu yang kami tunggu merapat ke bibir pantai. Pak Jefry sudah menyiapkan dua perahu untuk penumpang sebanyak 24 orang. Tiap perahu bisa menampung sebanyak 12 orang. Kami siap menyeberang selat alas di sore hari. Temaram senja berada di balik awan putih kelabu. Perahu kami siap berjalan pelan menyusuri ombak yang tenang. Terlihat Gili Kondo di kejauhan sana. Senja semakin memperindah pesona rinjani. Suara riuh rendah di atas perahu bergantikan suara kamera ceklak ceklek mengabadikan Gagahnya rinjani dibalut senja. Rinjani yang bertudungkan awan kelabu tak mengurangi keelokannya. Pak Jefry duduk santai di atas perahu sambil sesekali bertelponan ria berlatarkan rinjani.

Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, perahu kami merapat ke Gili Kondo- pulau terdekat dengan Rinjani di selat Alas. Semua bergegas turun dengan tujuan masing-masing. Semuanya sibuk berfoto ria. Catrina dipanggil agar ikut foto bersama. Senja di puncak Rinjani berpendar ke sekitarnya. Senja akan segera berakhir tergantikan oleh pekatnya malam di pulau kecil nan sepi.

Beberapa rombongan lain berdatangan menginjakkan kaki di Gili Kondo. Ingin merasakan pekatnya malam, ditemani api unggun yang menyala dengan langit yang bertaburkan Bintang. Awan Gelap kelabu menyelimuti.Semua bergegegas ntah ke mana. Tenda-tenda didirikan dipinggir-pinggir pantai. sebagian berteduh di bawah berugak yang berdiri agak jauh dari pinggir pantai. Kayu-kayu bakar dikumpulkan untuk membuat api unggun yang menghangatkan badan. Menyalakan sepercik cahaya di tengah gelapnya pulau tak berpenghuni.

Temaram senja Rinjani

Temaram senja Rinjani

Adzan magrib berkumandang dari salah satu Handphone yang sudah disetel waktu adzan lima waktu. Beberapa orang bergegas untuk mendirikan shalat di pinggir pantai dengan beralaskan kain parasut yang dihamparkan di bibir pantai. Berjamaah secara bergantian. Memuji kebesaran Tuhan. Tenda-tenda berbaris rapi di pinggir pantai. Beberapa orang mengelilingi api unggun yang menyala-nyala laksana oase kegelapan. Terlihat tenda-tenda lain melakukan hal yang sama-membuat api unggun dan mengelilinginya.

Berugak yang menjadi basecamp rombongan kami dipenuhi tas-tas backpack. Dalam gelap dan sunyinya, Mas Bendot, Tendou Souji dan mas Nana melantunkan lagu-lagu dengan petikan gitar yang seirama. Bendot, Tendou Souji dan Nana ditemani oleh Catrina yang berada disampingnya. Bendot sesekali menawarkan agar Catrina menyanyikan sebuah lagu yang dikuasinya. I know the song, but I don’t know the lyric, kata Catrina. Wajah-wajah terlihat samar oleh gelapnya malam. Saya coba menghidupkan senter Hp jadul saya. Saya menyorotnya satu persatu. Bendot dan Tendou Souji bernyanyi bersama dengan petikan gitar sebagai rayuan. Mereka berdua berusaha romantis se romantisnya seolah-olah ingin menarik Catrina. Catrina lebih banyak diam dan berada di antara gerombolan cowok-cowok.

beberapa lagu bahasa inggris pernah dicoba dinyanyikan oleh Tendou Souji dan Bendot. sayang, lagu-lagu itu berakhir di tengah jalan. persis seperti radio jadul yang kehabisan baterai. akh I don’t know the lyric, kata Tendou Souji dengan bahasa inggris pas-pasan-sama seperti saya. dia sebetulnya ingin membela diri dan merasa malu karena selalu diperhatikan oleh Catrina. Mas Tendou Souji ibarat bocah ingusan yang ingin dipuji oleh Catrina- si bule Jerman. Tendou Souji dan Bendot tak patah semangat untuk menggaet hati sang pujaan hati. hahhaa…ampunnn

lagu  “You’re beautiful” karangan si bule Amerika Jame Blunt keluar dari mulut manis Tendou Souji dan Bendot.

My life is brilliant.
My love is pure.
I saw an angel.
Of that I’m sure.
She smiled at me on the subway.
She was with another man.
But I won’t lose no sleep on that,
‘Cause I’ve got a plan.

You’re beautiful. You’re beautiful.
You’re beautiful, it’s true.
I saw your face in a crowded place,
And I don’t know what to do,
‘Cause I’ll never be with you.

Mbak Catrina seakan tersihir oleh petikan Gitar dan nyanyian lagu oleh Tendou dan Bendot. saat tiba di lirik Your’re beautiful. Catrina ikut menyanyikan dengan suara lirihnya. terlihat bibirnya yang bergerak-gerak mengikuti irama lagu. Tendou dan Bendot berhasil. mereka berdua berhasil membuat Catrina sedikit bernyanyi mengikuti liriknya. Catrina mungkin merasa bahwa lagu itu ditujukan untuk dirinya “you’re beautiful, it’s true”.  Catrina bernyanyi sambil tersenyum kepada Tendou dan Bendot. bibir manisnya mengulum senyum.

barangkali ada lyric yang perlu diubah agar lagu itu sesuai kondisi Tendo dan Bendot saat ini. yaitu She smiled at me on the subway diganti menjadi She smile at me on the berugak. hahahaha

Mereka berdua akhirnya berhasil memfinish-kan lagu karya james Blunt itu dengan backsound Catrina yang terdengar lirih.

Yes, she caught my eye,
As we walked on by.
She could see from my face that I was,
Flying high. [kata ini yg udah kena sensor]
Fucking high. [versi asli yg udah diganti sama kata yg diatas]
And I don’t think that I’ll see her again,
But we shared a moment that will last ’til the end.

You’re beautiful. You’re beautiful.
You’re beautiful, it’s true.
I saw your face in a crowded place,
And I don’t know what to do,
‘Cause I’ll never be with you.

You’re beautiful. You’re beautiful.
You’re beautiful, it’s true.
There must be an angel with a smile on her face,
When she thought up that I should be with you.
But it’s time to face the truth,
I will never be with you.

Berpose di Gili Kondo

Berpose di Gili Kondo

Catrina adalah wisatawan yang berasal dari Jerman. Dia sudah sebulan tinggal di Indonesia. Dia coba menjelajahi wisata yang Indonesia. Saat tiba di Indonesia, dia hanya berjalan di Jakarta dan sekitarnya seperti Bandung dan Bogor – dua kota sejuk yang mengelilingi panasnya Jakarta. Setelah Jakarta dan sekitarnya, dia kemudian langsung berjalan-jalan di Bali. Lumayan lama Catrina tinggal di bali. Dan sekarang dia telah menjelajahi Lombok. banyak tempat wisata di Lombok yang dia jelajahi. Di Lombok dia berkenalan dengan Nana. Bilamana tujuan wisata yang ingin dia kunjungi tidak mewajibkan dia untuk menginap, maka dia akan tinggal bersama di rumah Nana, Lombok Tengah. “Ya dia menginap di rumah saya, kata mas Nana membenarkan. Catrina berlibur karena libur semesteran. dia mengambil jurusan ekonomi spesialisasi international economic and development.

Iseng-iseng saya bertanya kemana aja di Lombok. saya sudah ke Gili Trawangan, di sana saya menginap semalam kemudian Saya menginap dua malam di Gili Air, imbuhnya. Saya juga udah mengunjungi Gili Gede. dalam hati saya merasa iri karena bule asli jerman ini sudah mengunjungi Gili Gede. Sedangkan, saya belum pernah menginjakkan kaki di gili yang paling gede yang berada di wilayah Lombok Barat.

Awan Kelabu menyelimutu Gili Kondo yang berpasir putih

Awan Kelabu menyelimutu Gili Kondo yang berpasir putih

Dan malam ini, bermalam di Gili Kondo bersama rombongan Lombok Backpacker. Tidur ala backpacker. Hidup ala backpacker. Gimana ngak apa-apa tah dia tidur begini, kataku pada mas Nana. “Akh ngak apa-apa, saya sudah kasih tau ke Catrina kalau kita akan camping bersama orang-orang Lombok Backpacker, kata Nana kepada saya.

Mas Bendot terus bernyanyi menemani obrolan kami di tengah kegelapan malam, di bawah berugak dengan hembusan angin laut menerpa wajah. Awan hitam kelabu semakin gelap bersamaan dengan gelapnya malam.

Sebagian anggota Lombok Backpacker yang lain mengumpulkan kayu-kayu untuk membuat Api Unggun. Lama-lama api unggun itu semakin membesar. Api unggun laksana oase di tengah gurun gelapnya malam Gili Kondo. Rombongan Lombok Backpacker mengelilingi api unggun. Mencari kehangatan untuk melawan rasa dingin. Ikan-ikan segar siap dibakar untuk menjadi santapan malam rombongan Lombok Backpacker. Angin laut berhembus kencang. Api unggun tertiup angin, suara gemuruh parasut yang digantungkan di berugak menderu-deru.

Nayla, Camper termuda di Lombok Backpacker by Riza

Nayla, Camper termuda di Lombok Backpacker by Riza

 

Rasanya hujan seakan mau turun. Awan gelap itu mencair dan memercikkan air ke Api unggun yang bersinar terang. Awan gelap tak mampu menahan uap air yang menggelantung di atap bumi. Hujannnn, Hujannnnn teriak anggota yang lain. Ayo kita pindah ke belakang Café Perama, kata salah satu dari anggota kami. Hujan pun benar membasahi kami malam ini. Kalang kabut. Mungkin hanya kata itulah yang cocok untuk mengungkapkan kondisi kami malam ini. proses bakar-bakar ikan dihentikan untuk sementara sampai hujan mereda.

Bekas Café Perama

Rombongan kami terpecah menjadi dua, sebagian besar bergegas ke salah satu bilik Café Perama, sedangkan empat anggota backpacker lain termasuk Catrina tetap bertahan berteduh di bawah berugak yang tak jauh dari api unggun. Hujan terus mengguyur perkemahan kami malam ini,

Di Gili Kondo memang ada sebuah Cafe Perama yang sudah ditinggalkan oleh pengelolanya. Café Perama teronggok tak terurus di pinggir pantai. Setahun lalu, Café ini masih terkelola dengan baik, namun malam ini Café ini sudah tak bertuan lagi. Perama yang punya hak untuk mengelola Gili Kondo memutuskan untuk tidak meneruskan perijinan dengan pemda setempat. Café ini sudah tak terurus lagi sebagaimana tak terurusnya budidaya terumbu karang yang berada di depan café tersebut. Dan malam ini, rombongan kami akan berteduh di salah satu bilik Café yang dulunya difungsikan sebagai dapur. Kita sudah booking kamar ini untuk rombongan kita, kata salah satu teman di rombongan. Terlihat rombongan lain sudah mengisi ruang makan café di berbagai sudut. Yang membawa tenda pun ikut pindah ke sudut-sudut Café ini.

Api unggun menjelang malam

Api unggun menjelang malam

Tas-tas dan Backpack ditumpuk di sudut-sudut ruangan. Ruangan penuh sesak bersamaan dengan orang-orang berjubel di sini. Ayo buka kartunya, kata mas Yeng saat mengawal pembicaraan saat berada di bilik Café tak terurus. Mereka membentuk lingkaran dan kartu pun siap dibagikan. Lampu Senter dari Handphone dinyalakan. Disepakati bahwa mereka akan bermain Seven Up –permainan kartu yang dimulai dengan angka 7. Menurut saya yang menarik malam ini bukan permainan kartunya tapi seorang bocah yang berusia 1 tahun 3 bulan yang berada di lingkaran itu. Syahla namanya, anak dari Mbak Fairuz dan mas Ichwan Setiawan.

Bapak Ibu nya seorang backpacker sejati. Setiap bapak ibunya berpetualang Syahla selalu dibawanya. tak terkecuali saat mereka berdua naik gunung pergasingan sekitar satu bulan yang lalu. Waktu itu, saya merasa heran melihat bocah tangguh menaiki gunung pergasingan di Sembalun yang terpampang di Facebook Lombok Backpacker. Saya aja belum pernah sama sekali pun naik gunung. Akh Syahla sudah mengalahkan saya dalam hal petualangan. Dan malam ini, saya menyaksikan bocah ini camping di Gili Kondo. Duduk di pangkuan bapak ibunya secara bergantian. Menyaksikan bapak ibunya bermain kartu Seven up. Dia terdidik sebagai seorang petualang sejak kecil. terlatih untuk tidak manja dan terbiasa dengan kehidupan alam bebas. kehidupannya ditempa oleh alam. wajah lugu dan imutnya selalu menampakkan keceriaan. berteman dengan siapa saja yang ditemuinya. sejak kecil dia sudah terlatih untuk bergaul dengan siapa saja. tak jarang, Catrina juga sering senyum-senyum sendiri melihat keluguannya.

Kemonotonan. Barangkali kata itu yang cocok kondisi saya saat ini. saya termasuk golongan orang-orang yang tak tahu harus berbuat apa malam ini, sekali lagi monoton. Hujan semakin mereda. Langit di luar masih diselimuti awan kelabu. Bintang-bintang bersembunyi di balik awan dan pekatnya malam.

Mengitari api unggun mencari kehangatan

Mengitari api unggun mencari kehangatan

Bernyanyi sambil merasakan hangat api unggun yang diterpa angin malam

Bernyanyi sambil merasakan hangat api unggun yang diterpa angin malam

Saya bergegas menembus malam menuju sumber api. Melewati pasir putih samar dibalik gelapnya malam. Berjalan menghindari pohon-pohon yang tersamarkan. Bendot, Nana dan Catrina duduk mengitari api unggun yang baru dihidupkan. Lama kelamaan Api unggun semakin menyala-nyala diterpa angin malam. Hujan itu tak terlalu deras. Setidaknya api unggun masih bisa dihidupkan kembali. Ikan-ikan segar dibakar lagi. dan saat saya datang mas Nana mempersilahkan saya mencubit ikan-ikan yang sudah dibakar. Angin yang bertiup kencang tergantikan dengan semilir angin yang menenangkan.

Mungkin angin itu menyingkir setelah datangnya hujan. Kami duduk bersama api unggun yang menyala di tengah gelapnya malam. Merasakan ikan bakar tanpa bumbu kecap. Alami dan segar. Catrina pun juga ikut mencubit ikan-ikan itu. dia tak merasa canggung untuk mencubit ikan-ikan secara berbarengan. Dugaanku wanita asli jerman ini terbiasa hidup ala backpacker. Dugaanku langsung dipatahkan oleh Nana. “Akh Caterina itu kaya tapi gaya hidupnya sederhana,” kata Nana yang berusaha meyakinkan saya. Catrina adalah wanita Jerman dengan postur tinggi semampai. Rambutnya tergerai dan hidungnya mancung. Paduan celana pendek dan Tank Top selalu membalut tubuhnya. Dia hanya mengenakan bikini saat berenang tadi sore. Selesai berenang, dia membalut kain tipis di tubuhnya.

Bermain Seven Up di Bilik Cafe. terlihat Nayla bersama bapak ibunya Ikwan dan fairuz

Bermain Seven Up di Bilik Cafe. terlihat Nayla bersama bapak ibunya Ikwan dan fairuz

Catrina hidup di Jerman dengan berbagai fasilitas dan kemajuan bangsa jerman. Jerman terkenal dengan penguasaan teknologi yang sangat diakui dunia. Habibie sang bapak teknologi Indonesia, pemegang puluhan hak paten di bidang penerbangan juga karena mengenyam pendidikan ala Jerman. Jerman menjadi salah satu urat nadi habibie. Karena Habibie, hubungan Jerman dan Indonesia semakin mulus. Karena Habibie Jerman semakin kenal dengan Indonesia. Malam ini Catrina menjadi saksi pertemuan Indonesia dan Jerman. Catrina terbang ribuan kilometer menempuh perjalanan dari Jerman hingga Indonesia. Dia harus merogok kocek sebesar sepuluh juta rupiah untuk menempuh ribuan kilometer itu. Menembus batas-batas Negara. Melewati dua benua, ratusan Negara dan ribuan sungai-sungai. Menjelajahi sebagian pelosok negeri hingga akhirnya terdampar di pelosok negeri bernama Gili Kondo.

Snack Mr. P dan Catrina

Snack Mr. P dan Catrina

Tiba-tiba dia mengeluarkan snack dengan nama merek Mr P. dia menawar-nawarkan kepada kami termasuk saya. Saya dibuat tertawa olehnya melihat snack yang berjenis kelamin ini. Saya hanya tertawa tapi tak mengambil snack tawarannya. Melihat kelakukan saya yang hanya tertawa. Dia mulai kebingungan dan bertanya-tanya. Saya tak cukup berani untuk memberitahunya. Akhirnya, salah satu backpacker asli medan yang berada di dekarnya memberitahukan apa itu Mr. P. Dia hanya tersenyum dengan tersipu malu. Tak berapa lama dia sudah melupakan rasa malunya dan dia pun menganggap hal biasa. Kami pun ngobrol sambil mencubit ikan-ikan yang sudah matang.

Back Game or Backgammon

Catrina terlelap di berugak

Catrina terlelap di berugak

Malam semakin gelap. Api unggun yang kehabisan bahan bakar. Bintang-bintang bermunculan menghiasi langit. Awan kelabu hilang ditelan gelapnya malam. Rasa capek dan kantuk kadang tak bisa ditahan. Catrina pun tertidur pulas berselonjor di bawah berugak. Dalam pulasnya, Nana membangunkan Catrina. Dia pun terbangun dengan mengucek-ngucek matanya. Tak perlu berapa lama untuk sadar sesadarnya. Sebuah papan kecil keluar dari tasnya. Dia membukanya layaknya permainan catur. Papan berukuran kecil mungil. Di dalamnya ada garis-garis berdiri tegak dengan tinggi berbeda-beda. Dia bermain dengan teman serumahnya, Nana. Mungkin diantara kami, hanya Nana yang tahu permainan ini. saya hanya memperhatikan cara bermainnya. Inilah permainan Back Game or Backgammon.

Back Game dari segi namanya saja kalau diartikan ke Indonesia permainan kembali. Cara bermainnya pun sesuai dengan namanya yaitu “kembali” yaitu kembali ke pertahahanan. Saat pertama kali bermain Pion-pion diletakkan sebagian di papan kandang dan di papan tandang. Tujuan dari permainan hanya satu bagaimana prajurit pion yang ada di kandang lawan berpindah ke kandang kita. Pemenangnya ditentukan oleh seberapa banyak dan cepat prajurit-prajurit pion itu kembali ke kandang kita. Pion-pion tidak mengenal istilahnya raja dll layaknya catur. Semua sama.

Bermain BackGame

Bermain BackGame

Bagaimana cara agar pion-pion itu kembali pertahanan secepat mungkin mungkin. Bagaimana agar prajurit pion ini bisa pindah, dua buah dadu dilempar. Jadi, dadu-dadu ini lah yang jadi penentu kemenangan kita. Angka-angka dadu mulai dari satu sampai enam menjadi Penentu. Jika kita melemparkan dadu kemudian mendapatkan angka yang sama dalam dua dadu, maka itu akan mempercepat kemenangan. Misalnya jika dua dadu yang kita lemparkan muncul angka 6, maka angka itu dikalikan dua. Jadi kita bisa mendapatkan 24 kali langkah.

Simple tapi lumayan gambling. Buktinya Mas Nana selalu menelan kekalahan melawan Catrina. Catrina selalu mengambil kemenangan demi kemenangan. Permainan pun berakhir dengan Catrina sebagai Juaranya.

Bakar-bakar Ikan

Bakar-bakar Ikan

Menyantap ikan-ikan segar bersama di samping api unggun

Menyantap ikan-ikan segar bersama di samping api unggun

Kunang-kunang Laut

Malam semakin larut. Pulau ini semakin sunyi. Suara Derap langkah kaki teman-teman yang sedang menuju ke berugak. saya bergegas menuju laut yang tenang dengan gemerisik suara ombak di malam hari. Ku hanya ingin bersuci untuk menunaikan ibadah yang sempat tertunda. Kunang-kunang berwarna kebiruan berenang-berenang di air. Saya perhatikan dengan penuh keheranan. Saya mengambil air yang bercampur dengan kunang-kunang yang berwarna biru cerah dalam kegelapan malam. Kunang-kunang bercampur pasir sudah ditangan. Susahnya membedakan tekstur pasir dan kunang-kunang laut. Hanya warna cerah yang membedakannya. Baru kali ini saya menyaksikan kunang-kunang laut. Kunang-kunang ini sejenis plankton-plankton yang bercahaya, kata Indra kepada saya saat saya berusaha menanyakan jenis kunang-kunang itu.

Tenda-tenda di Gili Kondo

Tenda-tenda di Gili Kondo

Ku liat langit yang bertaburkan bintang-bintang. Ku lirik kunang-kunang yang ada dalam genggaman, ku perhatikan kunang-kunang yang berenang di dalam air. Ku tunaikan shalat dengan beralaskan pasir dengan suara gemerisik ombak berpasrah diri menghadap sang pencipta dalam keheningan malam.

Malam semakin larut, tapi permainan terus berlanjut. Kali ini berugak sudah dipenuhi oleh kawan-kawan Lombok Backpacker yang awalnya berteduh di bilik café. Sebagian tidur terlelap dan sebagian bermain kartu Seven Up. Saya, Catrina, Yeng dan Indra membentuk lingkaran. Catrina di samping kanan saya, Indra di kiri saya. Setiap pemain akan mencari sumber cahaya sehingga pemain sering memiring-miringkan kartunya. Otomatis pemain lain bisa mengetahui kartu tetangganya. Saya pun sering melirik kartu-kartu indra dan Catrina begitu juga sebaliknya. Akh kadang keseruan permainan ini muncul di pulau antah berantah yang tak berpenghuni. Saya senyum-senyum sendiri ketika kartu-kartu Indra dan Catrina terlihat.

Mejeng bersama di Gili Kondo

Mejeng bersama di Gili Kondo

bernarsis saat pertama kali menginjakkan kaki di gili Kondo

bernarsis saat pertama kali menginjakkan kaki di gili Kondo

Yang kalah adalah bertugas mengocok kartu dan siap untuk digantikan oleh pemain lain. Saat Catrina kalah, maka Nana menggantikan begitu juga ketika saya kalah, maka Catrina menggantikan posisi saya. Begitu juga dengan Yeng dan Indra. Begitu seterusnya hingga larut malam menjelang. Rasa kantuk dan capek mulai menghinggapi Catrina, dia mohon ijin untuk tidur duluan di berugak. kami berlanjut bermain, tak berapa lama rasa kantuk menghinggapi saya. Saya pun tertidur pulas di atas berugak. sejam kemudian semua pemain merasakan rasa kantuk sama. terpaksa saya dibangunkan agar berugak ini bisa ditiduri oleh delapan orang dengan masing-masing orang membawa tasnya sendiri-sendiri. begitu berjubelnya berugak ini. Kami semua tidur terlelap diterpa rasa capek dan angin malam di Gili kondo.

Menjelajahi Taman Laut Gili Bidara, Gili Petagan, dan Gili Kondo

Menjelajahi Taman Laut Gili Bidara, Gili Petagan, dan Gili Kondo

Port of Gili Bidara

Port of Gili Bidara

Hampir satu jam kami snorkling di Gili Kapal. ku liat Langit sekitar Gili Kapal yang diselimuti awan-awan. Gunung Rinjani yang nampak dari kejauhan juga ditutupi awan. Spot snorkling akan beralhih ke Gili Bidara. satu per satu Lombok Backpacker naik ke atas perahu. semuanya sudah naik ke perahu kecuali Mbak Wet dan Marlina yang masih sibuk memotret terumbu karang.

Runway of Gili Bidara

Runway of Gili Bidara

saat semua rombongan sudah berada di atas perahu, kami pun langsung berangkat ke Spot Snorkling selanjutnya yang tak jauh dari Gili Kapal. dari atas Perahu saya melihat Gili Kapal itu kecil terus mengecil sampai Gili Kapal tak terlihat lagi. saya hanya melihat garis pembatas laut di sekitar Gili kapal. sebelah kiri berwarna Hijau Muda,  yang sebelah kanan berwarna biru toscha. lama Kelamaan, Gili Kapal ditelan Tenangnya Selat Alas.

Hiakkkkkkk

Hiakkkkkkk

Gili Kapal tenggelam, Pulau lain yang lebih besar muncul di depan mata. Gili Bidara. Ku liat matahari masih malu menampakkan cahayanya. Tiang-tiang pancang berdiri kokoh. sepertinya Tiang Pancang itu untuk rencana pelabuhan di Gili Bidara. tak ada pekerja. hanya tenda-tenda sebagai pelindung panas.

I am free

I am free

Gili Bidara ini merupakan yang satu-satunya pulau yang berpenghuni yang berada di selat Alas. orang yang tinggal di sini kebanyakan berprofesi petani sekaligus nelayan. saya pernah mengupas tentang Gili Bidara yang menjadi satu-satunya pulau yang bisa menghasilkan pertanian. Klik sini

Alex menggendong Tita

Alex menggendong Tita

saat perahu sudah bersandar di Pantai Gili Bidara, beberapa rombongan langsung berteduh sambil menyantap bekal makanan yang sudah kami bawa. sebagian yang lain langsung foto-foto dengan latar belakang tiang-tiang pancang. Matahari sesekali muncul menyengat kulit kami yang memang hitam. berpose dibawah teriknya matahari. berpose sesuai dengan gayanya masing-masing. setelah  berpose satu-satu kami pun berpose ramai-ramai dengan gaya bebas.

Halo Tita, Halo Alex

Halo Tita, Halo Alex

tiba-tiba saya dikagetkan oleh tingkah laku Alex Sloven yang langsung mengangkat tubuh Mbak Tita. dalam sekejap Tubuh Tita nah nongkrong di Pundak si Alex Sloven. the Romantic Pose of this day.  Tak Cukup berpose Romantis. Alex Sloven berpose Layaknya three masketerr dengan para cowok. Alex benar-benar kocak orangnya. tak seperti bule pada umumnya. coba liat aksinya saat mengangkat kardus ke atas perahu. di satu pihak dia orangnya menyenangkan, di lain pihak dia mulai “menjengkelkan”.

three maskketers

three maskketers

menjengkelkan karena sering mengganggu teman yang ingin pose sendirian. eh tiba-tiba dia sudah berada di dekatnya.  dengan berbagai aksinya itu Alex termasuk salah satu rombongan yang paling  aktratif, agak narsis dan menyenangkan sekaligus “menjengkelkan”.

Pantai Gili Bidara

Pantai Gili Bidara

saat yang lain sibuk berpose foto, si Jefri sibuk melampiaskan rasa cintanya kepada sang Pencipta. Shalat. Shalat tidak perlu harus di tempat beribadah ataupun di rumah. bukankah alam semesta ini juga merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. tak semestinya kita lalai menunda-nunda ibadah. dia tak segan untuk menghamparkan alas kemudian shalat di atas pasir untuk memuji sang Pencipta. memuji kepada Tuhan yang menciptakan laut Indah, terumbu karang-terumbu karang yang beraneka jenis dan warna, Ikan-ikan Laut dengan berbagai jenis, warna dan ukuran. semuanya itu menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Pencipta.

memuji sang pencipta

Memuji sang Pencipta

Tak afdol rasanya hanya menikmati keindahan-keindahan Pasir dan lautnya. coba lah melihat terumbu karang-terumbu karang dengan berbagai jenisnya. cobalah snorkling di sisi kanan Tiang-tiang pancang Gili Bidara.  Terumbu karang-terumbu karang yang indah akan tersaji di sini. Terumbu karang kebanyakan didominasi oleh soft coral. Ikan-ikan dari berbagai Jenis, Warna dan Ukuran. Ikan-ikan di Sisi Kanan relatif lebih besar dan lebih banyak.

Karang Meja Gili Bidara

Karang Meja Gili Bidara by Marlina

Tak Puas dengan Sisi Kanan, beralihlah ke bagian Kiri yang menawarkan pesona terumbu karang yang lain. Terumbu karang-terumbu karang di sisi kiri memang lebih bagus dan lebih eksotis. kelebihan di sisi Kiri Pantai adalah Ikan-ikannya yang jauh banyak. kelebihan di sisi kiri adalah terumbu karangnya.

Cantiknya Karang Meja

Cantiknya Karang Meja by Marlina

seperti karang Meja yang berjejer rapi laksana permadani yang berundak-undak. karang meja ini berada di antara sisi. sisi pantai yang dangkal dengan sisi laut dalam yang gelap dan berbentuk tebing. laut dalam yang gelap terlihat seperti angker tak berpenghuni. tak berani saya snorkling di atasnya. Anemon-anemon laut dan Ikan Nemo yang berada tak jauh dari karang meja.

Ardi melakukan free diving

Ardi melakukan free diving by Wet

saat saya melewati karang-karang meja yang berjajar dan tersusun rapi, saya dikagetkan oleh Ikan mati di atas terumbu karang. kepalanya seperti ayam sehabis disembelih. tengkleng. warnanya sangat mencolok. kuning. ku makin mendekat, dia pun tak juga bergerak. ku perhatikan lebih detail. aku langsung teringat Ikan terganas Piranha yang berada di sungai Amazon.

Ikan Buntal by Wet

Ikan Buntal by Wet

kepalanya mirip, batinku. ikan berwarna mencolok ini pura-pura mati untuk mengelabui sang korban, batinku. kaburrrrrrr…ku hanya ingin kabur dengan cara berenang yang tidak melakukan banyak gerakan. saya takut tiba-tiba dia menyerang dari belakang. dag dig dug. Ku toleh ke belakang tak ada ikan itu yang menyusul saya kemudian menggigit kaki saya. alhamdulillah.

Ikan Tentara. by Marlina

Ikan Buntal Macan/Ikan Tentara . by Marlina

Mbak Wet pun berhasil moto ikan Buntal ini. saya tahu nama ikan baru belakangan setelah ngobrol dengan Mas Iyus yang memang lebih tahu dunia bawah air. Ikan ini termasuk jenis ikan yang beracun. jenis ikan tidak bisa dimakan begitu saja. perlu diolah sedemikian rupa agar ikan buntal ini bisa dimakan. Restoran-restoran Jepang biasanya ada yang menjual ikan-ikan buntal ini. jadi, jangan coba–coba makan ikan buntal. jika tidak, bisa-bisa nyawa anda bisa melayang. 

Sengaja saya mengupdate tulisan ini karena Ada 3 orang yang Meninggal di Daerah Sekotong Lombok Barat akibat memakan Ikan Buntal. Warga Sekotong tersebut hendak merayakan pesta detik-detik menjelang pergantian Tahun 2013 ke 2014. alhasil, sebanyak 26 orang keracunan. 3 meninggal seketika, 23 langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat. berita ini saya dapatkan dari Koran Lokal Lombok Post edisi 2 Januari 2014. untuk mengetahui lebih lanjut tentang keganasan ikan buntal ini, sila Klik di sini.

Karang apa ya namanya

Karang apa ya namanya by Wet

lebih dari satu jam kami snorkling di Gili Bidara. menikmati sajian terumbu karang-terumbu karang dengan berbagai jenis. ikan-ikan dengan beranika rupa dan warna. tak puas menikmati berbagai jenis terumbu karang di Gili Bidara. kami pun hendak mencari Spot lain, Gili Petagan. dalam perjalanan menuju Gili Petagan, saya mencoba bertanya tentang keindahan taman laut di Gili Kapal dan Gili Bidara kepada alex. what do you think about the coral and fish. where is the better Gili Kapal or Gili Bidara, kataku pada si Alex. I Think Gili Bidara is better than Gili Kapal becausevery much of fishes here in Gili Bidara.

Terumbu Karang Gili Petagan by Marlina

Terumbu Karang Bidara by Marlina

Ayo kita ke Gili Petagan, di sana lebih banyak ikan Nemonya, kata Mbak bersemangat memecahkan keheningan di atas perahu.  Gili Petagan bukan lah pulau pada umumnya. Pulau ini hanya kumpulan tanaman bakau yang ditanam di tengah-tengah laut oleh Tentara Jepang pada masa pra kemerdekaan. hanya 10 menit perjalanan dari Gili Bidara ke Gili  Petagan.  Mau tau seperti apa Tanaman bakau-bakau yang ditanam oleh tentara jepang silahkan klik

Karang Bunga Kol by Marlina

Karang Bunga Kol petagan by Marlina

Pak Jefry, spot mana yang banyak ikan Nemonya, teriakan mbak Wet kepada Guide sekaligus Pemilik Perahu. di sana mbak Wet, balas teriakan pak Jefry sambil menunjukkan Spot-spot yang di maksud. mendengar itu Mbak Wet langsung nyebur begitu saja. saya, Jefry,  Ardi, Marlina, Rahma, dan Tita langsung menyusul snorkling. Alex Sloven dan Echi tidak ikut turun snorkling.

Ikan Kambing

Ikan Kambing Petagan by Marlina

Ayo ke sini, di sini banyak Nemo, Kata Mbak yang memecahkan keheningan di tengah laut Selat Alas.  Arus ombak yang lumayan kuat memaksa saya dan kawan-kawan untuk menembus arus laut. perjuangan melawan arus tak begitu terasa karena kita akan dimanjakan terumbu karang- terumbu karang yang indah, ikan-ikan kecil yang lucu dan beraneka warna. Bulu Babi yang berwarna hitam banyak kami jumpai di Gili Petagan. di antara keempat Gili lainnya di Selat Alas. Gili Petagan menjadi habitat Bulu Babi.

Coba Perhatikan Kepala Ikan. mirip kambing kan?. by Marlina

Coba Perhatikan Kepala Ikan. mirip kambing kan?. by Marlina

akhirnya perjuangan kami terbayarkan oleh Anemon-anemon cantik yang bertengger di Batu Karang yang lumayan besar. Ikan Nemo berenang dan bersembunyi di balik Anemon-anemon yang cantik. Tak hanya Ikan-ikan cantik dan lucu yang bisa kami saksikan di Gili Petagan ini. bahkan ikan-ikan aneh seperti Ikan kambing benar-benar ada di Gili Petagan.

Ikan Nemo Petagan by Wet

Petagan. Ikan Nemo yang bersembunyi dibalik Anemon by Wet

Ikan Kambing ini bentuknya benar-benar mirip Kepala kambing. ku namain Ikan Kambing karena kepalanya benar-benar seperti kepala kambing itu. ntar kalau ada yang tahu jenis dan nama ikannya. saya ganti ke yang bener deh. ikan Kambing ini berukuran kecil dengan warna dominan coklat bercampur putih. tinggalnya berada di terumbu karang. tepatnya diapit oleh terumbu karang. Gili Petagan, Wonderfull, Beautifull.

Tetangga Ikan Nemo by Wet

Tetangga Ikan Nemo by Wet

rasa-rasanya mengelilingi Spot Snorkling di sisi Gili Petagan ini tak akan selesai dalam sehari. tapi kami dikejar waktu. Tim Lombok Backpacker masih harus mengunjungi spot snorkling terakhir di Gili Kondo. ku liat jam sudah menunjukkan pukul 03.15. kami harus segera KeGili Kondo. saat semua tim rombongan Lombok Backpacker sudah berada di atas perahu. Pak Jefry langsung mengarahkan perahunya ke Gili kondo. hanya butuh waktu 15 menit, perahu kami sudah merapat di Pantai Gili Kondo.

Nemo-nemo yang cantik by Wet

Nemo-nemo yang cantik by Wet

Langit-langit Gili Kondo sepenuhnya berawan. Gili Kondo sudah menjadi magnet tersendiri. ku liat beberapa wisatawan yang datang ke Gili Kondo. Gili Kondo memang lebih terkenal dan dikenal oleh beberapa wisatawan. sayang, Gili Kondo sekarang sudah tak terawat lagi. Pihak Swasta, PT Perama sudah tak mau memperpanjang lagi kepada Pemerintah Daerah setempat untuk mengelola Gili Kondo. saya sudah mengunjungi Gili Kondo kedua kalinya yang pertama pada tanggal 15 juni 2013. waktu itu, Gili Kondo benar-benar terawat, Restoran-restoran tersedia, penginapan-penginapan terjaga.

Nemo bersembunyi dibalik anemon

Nemo dan anemon bersimbiosis mutualisme by Wet

sekarang, Gili Kondo benar-benar tak berpenghuni, tak terawat, Restoran-restoran laksana onggokan bangunan-bangunan angker. sangat beda dengan Gili Kondo saat pertama kali ku kunjungi yang terkesan lebih waaaaah. kembalikan Gili Kondo ke Swasta saja, batinku dalam hati. setidaknya agar Gili Kondo lebih terurus dan terjaga.

Aksi Mbak Wet saat moto Ikan Nemo

Aksi Mbak Wet saat moto Ikan Nemo by Marlina

Yuk Melipir ke Tulisan Lain tentang Gili Kondo saat pertama kali ke sini.

Ikan-ikan Nemo yang bersembunyi

Ikan-ikan Nemo yang bersembunyi by Wet

Tujuan Tim Lombok Backpacker adalah snorkling ampe puas, ampe klimax, ampe menggelinjang, ampe kapok. tak perlu nunggu lama. setelah pose di depan Gili kondo. semuanya langsung nyebur kecuali Alex dan Echi. karena Echi mabuk laut dan muntah-muntah, dia tak ikut acara snorkling bareng.

Indahnya Terumbu Karang Petagan

Indahnya Terumbu Karang Petagan by Marlina

Terumbu Karang yang tepat berada di Halaman restoran Gili Kondo masih dalam tahap pengembangan. Pihak Pengelola yang lama,Perama berusaha untuk menjaga dan melestarikan Terumbu Karang Gili Kondo. ku semakin enjoy snorkling di Gili Kondo. mengikuti arus-arus yang membawa saya.

Terumbu Karang di Gili Kondo by Marlina

Terumbu Karang di Gili Kondo by Marlina

Langit semakin Gelap diliputi awan-awan pembawa uap air, Matahari masih enggan muncul setidaknya agak menyinari laut Gili Kondo agar terumbu karang semakin eksotis. saya semakin enjoy menikmati terumbu karang dan ikan-ikan di Gili Kondo. tak terasa arus itu menjauhkan saya dari pantai. sedangkan teman-teman Lombok Backpacker hampir semuanya sudah naik kecuali saya dan Marlina. saya pun berusaha melawan arus itu. usahaku sia-sia. mungkin ku capek seharian snorkling, batinku. arus itu benar-benar tak  bisa ku taklukkan. ku diam. tubuhku makin terbawa arus menjauhi pantai.

proses Pelestarian Terumbu Karang di Gili Kondo

Pelestarian Terumbu Karang di Gili Kondo

Mbak, saya sudah ngak kuat, kata ku ke Mbak Marlina. “Ya saya sudah tidak kuat juga melawan arus, saya juga tidak pakai Fins, Panggil aja si Jefry agar perahunya dibawa ke sini”, katanya pada saya. akhirnya saya berusaha berteriak memberitahu kawan-kawan agar perahu itu dibawa ke sini. Mbakkkkkk, suruuuuh pak Jefryyyyyyy agar Perahunyaaa dibawa ke sini, teriakku sambil memperagakan menggunakan tangan. kawanku bukannya memberitahu pak Jefry agar bawa perahunya. mereka malah datang ingin menyelamatkan kami berdua.

Mejeng sehabis Snorkling di Gili Kondo

Mejeng sehabis Snorkling di Gili Kondo

Mbak Rahma dan Jefry langsung turun menyelamatkan saya dan Mbak Marlina. bukan perkara mudah untuk kembali ke pantainya. ada dua rintangan yang harus dihadapi. Pertama menaklukkan arus dan yang kedua adalah menaklukkan ubur-ubur yang menggerayangi badan. Rintangan yang pertama berhasil kutaklukkan. dan yang kedua adalah ubur-ubur yang tak bisa ku taklukkan. akhirnya, bentol lah semua badan-badan saya.

alhamdulillah setelah nyampe di pantai.saya langsung terkapar. tidur di atas pasir. saya langsung dipotret bak artis kesorean. tragedi penyelamatan oleh Tim Rescue Lompok Backpacker.benar-benar snorkling ampe kapok puas ampe ngak berkutik. ngak berkutik karena terbawa arus di Gili Kondo yang lumayan kuat.

By by Gili Kondo

By by Gili Kondo

ini lah momen-momen terakhir untuk liburan weekend kali ini. waktunya narsis dan menjalankan ritual sebelum meninggalkan Gili Kondo. mengabadikan moment indah jauhhhh dibawah kaki Gunung Rinjani. Gunung Rinjani masih malu-malu. saya pengin camping di Kondo. ingin motret Mentari terbit dengan latar Gunung Rinjani. ayo kawan Lombok Backpacker kapan kita camping di sini. udah udah waktunya pulang. tepat pukul 04.30, kami tim rombongan Lombok Bacpacker meninggalkan Gili Kondo dengan lambaian tangan perpisahan.

On the way to Lombok Island

On the way to Lombok Island

nah bagi kawan yang pengin trip ke empat Gili di Selat Alas. Nih Tipsnya

  1. Dari Mataram ke Lokasi Penyeberangan Padakguar bisa menggunakan transportasi umum jurusan sumbawa. ntar minta turun aja di pertigaaan ke arah Sembalun. trus naik ojek minta turun di Padakguar. atau juga bisa sewa mobil. cari jurusan sembalun ya.. waktu tempuh mataram Padakguar kira-kira 2.5 jam
  2. Lokasi penyeberangan agak tersembunyi sih..masuk di kawasan komplek TNI AL.
  3. dari Padakguar sewa perahu seharga 300.000. itu belum termasuk sewa snorklingnya. oh ya 300.000 untuk tour keliling ke 4 Gili ampe menggelinjang kepuasan. nama empat Gili itu Gili Kapal, Gili Bidara, Gili petagan, dan Gili Kondo.
  4. sebaiknya membawa bekal untuk persiapan kalau kita kelaparan. maklum di Gili-gili tak ada yang jual makanan. so siapkan bekal makanan. kecuali mau survival dengan spearfishing.

Quate of the day : Jangan  Menunggu kaya untuk berlibur ke Lombok, Berliburlah ke Lombok niscaya kau akan merasa kaya.

@caderabdulpaker

Gili Kapal, Pulau Seluas kamar Terumbu Karang seluas Lapangan Bola

Pantai Gili Kapal

Pantai Gili Kapal

Gili Kapal memang hanya pulau yang hanya seluas kamar.

bahkan saat pasang pulau ini pun tertutup laut.

tapi Taman Lautnya begitu luas seluas lapangan sepakbola.

bahkan bisa lebih dengan aneka terumbu karang dengan segala jenis ikan.

jangan liat dari Luasnya Pulau tapi explore lah keindahan bawah lautnya.

Cabbage Coral by Marlina (Lombok Backpacker)

Cabbage Coral by Marlina (Lombok Backpacker)

Cinta dalam Tim Lombok Backpacker

tempat Penyeberangan ke Gili Kapal dengan pemandangan langit yang indah

tempat Penyeberangan ke Gili Kapal dengan pemandangan langit yang indah

Cinta itu tidak butuh Pengorbanan. karena memang Cinta itu tak butuh pengorbanan.  Cinta itu hanya memberi bukan menerima. Cinta itu akan berbuah ketenangan dan kesenangan. tidak ada cinta yang menyakitkan karena cinta selalu memberikan kebahagiaan.

Alex Sloven and Wet

Alex Sloven and Wet

lalu yang menjadi pertanyaan kita adalah bagaimana cinta yang harus ditempuh melalui pengorbanan. bagi para pencinta itu bukanlah sebuah pengorbanan, tapi itu merupakan pohon cinta itu sendiri yang akan berbuah kebahagiaan. kadang, cinta juga tak butuh alasan. jadi, jika seseorang sudah mencinta, maka pengorbanan itu tak akan terasa seperti pengorbanan. itulah buah cinta… ihirrrrrr….caderabdulpacker lagi kumat ne lagi bahas cinta-cintaan. ngak apa-apalah sesekali bahas cinta di Tim Lombok Backpacker, kan ngak ada yang larang. hehe. di Tim Lombok Backpacker sudah banyak timbul cinta loh.

Welcome to Gili Kapal

Welcome to Gili Kapal

ada yang cinta perjalanan tapi tak terlalu memperhatikan destinasinya. ada yang cinta destinasi tanpa tau proses perjalanannya.  nah Tim Lombok Bacpacker salah satu yang suka dua-duanya. halah apa pula ini. berikut perjalanan kami dengan berbagai versi cinta.

Sang Saka Merah Putih

Sang Saka Merah Putih

Mau ikut ke Gili Bidara?kata Mbak Wet kepada saya. Yaa tuh cader kan pengin tau jembatan Gili Bidara, kata Iyus ke mbak Wet. saya hanya menjawab dengan setengah keyakinan.  Boleh, kataku. maklum, bukannya ngak mau tapi karena saya sudah mengunjungi Gili Kapal dan pulau-pulau kecil lain yang ada di Selat Alas Lombok Timur itu. so, pasti ketika kunjungan yang kedua tidak terlalu surprise. Ajakan itu bermula saat Tim Lombok Backpacker mengunjungi salah satu teman Lombok Backpacker yang sakit, Fitri Agustina.

Selamat datang Di Gili Kapal

Selamat datang Di Gili Kapal

Kita kesana bersama dengan bule. ntar yang nanggung sewa mobilnya si bule, kata mbak Wet kepada teman-teman Lombok Backpacker. waktu yang disepakati pun sudah tiba. kami pun berkumpul di Hotel Viktor Mataram pukul 08.00. saya langsung diperkenalkan dengan Bule yang bernama Alex Sloven. asalnya dari Negara Slovenia, Negara pecahan Yugoslavia. Alex Sloven ditemani oleh Teman Indonesianya yang juga backpacker, mbak Marlina, asli jakarta.

Mari Jump-shoot di Gili Kapal

Mari Jump-shoot di Gili Kapal

saya pun ngobrol-ngobrol dengan Alex Sloven. ternyata dia adalah seorang Currency Trader di Slovenia. masakan Indonesia yang paling dia suka adalah nasi goreng. tepat pada pukul 8.30 Wita kami berangkat menuju Lombok Timur. perlu waktu 2.5 jam untuk nyampe di lokasi penyeberangan di Lombok Timur. yang menjadi tujuan pertama kami adalah Gili Kapal.

Tita, Wet dan Alex Sloven

Tita, Wet dan Alex Sloven

Gili Kapal

Tita dan Alex

Tita dan Alex

saat hendak mau naik perahu kami tim rombongan Lombok Backpacker dikagetkan oleh aksi Alex yang menaruh kardus yang berisi stok makanan dan minuman di atas bahunya. kardus itupun dibawanya hingga ke atas perahu. akh bule ini bener-bener gila, batinku. jadilah aksinya mengundang kawan-kawan lombok Backpacker untuk mengabadikannya. ku liat aksinya ini begitu spontan dan alami. bukan pencitraan.hahaha

ihirrr....mesranya...Mbak Tita dan Alex.

ihirrr….mesranya…Mbak Tita dan Alex.

saat semua sudah di atas perahu.langit  dengan formasi awan-awan itu memperindah suasana perjalanan. kericuhan muncul. satu persatu minta difoto dengan latar langit. tak hanya satu, bahkan semuanya ikut berkumpul di ujung perahu. rasa-rasanya ujung perahu tak mampu menampung 8 orang. ujung satu terisi 8 penumpang. ujung satunya lagi terisi 1 orang, Pak Jefri sang pengemudi. Tak cukup di situ sesi foto barengnya. sesi foto berlanjut dengan Alex Slovenia bersama Tita. akh mesranya… setelah itu si Alex yang kita kerjain. kita-kita suruh dia yang moto-moto kita. kan jarang-jarang kita bisa nyuruh-nyuruh bule moto.

Mbak Rahma dan Alex

Mbak Rahma dan Alex

perjalanan pun berlanjut. saya masih mengagumi keindahan formasi awan-awan langit yang begitu ciamik.  eh saya mau difoto lagi di sini, kata Mbak Wet kepada saya. eh tau-tau si Alek Sloven nongol lagi dengan gaya seperti Mbak Wet. ku liat raut muka Mbak Wet terlihat agak kesal dengan aksi bule yang ikut foto bersamanya.

Air Lautnya begitu menggoda untuk nyebur

Air Lautnya begitu menggoda untuk nyebur

wah hasilnya bagus loh, serasi. keren dah pokoknya, kataku. akhirnya, senyum-senyum malu itu keluar dari bibirnya Mbak Wet. dia pun buru-buru ingin melihat hasilnya. ayo saya difoto lagi tanpa tuh bule, pintanya. Oke, kataku.. baru kali ini saya melihat bule yang low profile plus narsis. si Alex benar-benar kocak haha. kami pun ngobrol bareng dengan backsound suara ombak dan mesin perahu.

Mari Nyebur...

Mari Nyebur…

perahu kami pun mulai melambat saat pulau kecil mungil itu sudah mendekat. pulau mungil yang berada di tengah-tengah laut nampak begitu ekotis. pulau ini tambah eksotis dengan warna gradasi air laut. saat kami hendak turun, ku liat seekor burung yang siap-siap terbang dari pulau kecil yang bernama Gili Kapal. akhirnya semua penumpang turun semua. kecuali saya.

Mbak Marlina posedulu sebelum nyebur

Mbak Marlina posedulu sebelum nyebur

saya bertugas untuk memotret aksi mereka saat mereka melakukan aksi jump-shoot di atas pulau yang berukuran 3 M2. ku liat awan-awan di langit nampak begitu indah. tak ingin kehilangan moment yang indah dengan warna air laut yang begitu menawan. saya pun didaulat fotografer dadakan. tiba-tiba si Alex melakukan aksi gaya renang sepatu roda. tangannya bergerak seperti memutar roda. tubuhnya bergaya jongkok. kami yang menyaksikan hanya terpingkal-pingkal melihatnya. kami semua heran dengan semua aksinya.

Mari..Snorkling Time

Mari..Snorkling Time

tak cukup di situ. saat hendak moto mbak Wet, eh tau-tau si Alek Sloven mendekat. dia pun bergaya tungkurep. saat hendak pose lain, eh si Alek pun ngambil posisi lain lagi. ku hanya tertawa melihat kelakukan si Alex Sloven ini. begitu juga dengan mbak tita. saat mbak Tita difoto dia malah berada di sampingnya. kemudian lebih mendekat. trus mendekat. bahkan sangat dekat. sampai akhirnya dengan gaya sandaran.. ihirr….saya ibarat motret orang yang sedang memadu kasih. begitu lah kelakukan si Alex Sloven. hampir semuanya teman-teman yang foto, pasti ada si Alex di sekitarnya.

awas tuh terumbu karangnya jangan sampai kena injak

awas tuh terumbu karangnya jangan sampai kena injak

Snorkling Time.

Ikan Badut/Nemo

Ikan Badut/Nemo by Marlina

setelah puas melakukan sesi foto, kami semua pun siap melakukan inti perjalanan yaitu snorklingggg.. ayuk kita nyeburr…. kebetulan yang punya kamera underwater adalah Mbak wet dan Mbak Marlina.

Ikan Badut sembunyi

Ikan Badut sembunyi by Marlina

saya hanya penikmat…. bukan, saya bukan penikmat. saya masih gemeteran. la wong snorkling aja masih pake pelampung. gimana mau motret keindahan taman-taman laut.

Nemo Hitam

Nemo Hitam by Marlina

saat udah nyeburr.. saya hanya dimanjakan indahnya taman-taman laut. Taman-taman laut hanya berjarak  50 cm dari permukaan laut kawan. salah satu taman laut itu yang cukup unik adalah karang kubis. karena bentuknya seperti sayur kubis.

Karang ini 30 cm dari Permukaan by Marlina

Karang ini 30 cm dari Permukaan by Marlina

ku namain aja karang kubis. karang kubis lumayan cukup luas. ikan-ikan kecil yang beraneka jenis dan warna berenang disekitar taman-taman laut. bahkan ikan-ikan itu kadang mendekat kadang menjauh.

Cabbage Coral by Marlina (Lombok Backpacker)

Cabbage Coral by Marlina (Lombok Backpacker)

anda tahu film yang Finding Nemo. dalam cerita itu kehidupan ikan hias laut seperti ikan Badut/Clownfish/Ikan Giru benar-benar digambarkan sangat menarik. saya melihat ikan Nemo-ikan Nemo yang berwarna Jingga, kuning atau hitam. ikan badut ini suka memakan aneka sisa makanan yang menempel pada tubuh anemon.

Karang-Karang Gili Kapal by Marlina (Lombok Backpacker)

Karang-Karang Gili Kapal by Marlina (Lombok Backpacker)

nah si anemon pun suka melindungi si ikan Badut. saat saya berusaha mendekatinya, dia mencoba bersembunyi dibalik anemon-anemon laut. mau tau tentang keindahan bawah laut yang lain atau ingin tahu kegilaan si Alex Sloven. tunggu di tulisan selanjutnya yach. @caderabdulpaker.

Terumbu Karang by Marlina

Terumbu Karang by Marlina

bagi yang ingin melipir ke catatan saya sebelumnya tentang Gili Kapal 

the Coral by Marlina

the Coral by Marlina

Snorkling, eh nemu Penyu cantik di Gili Meno

Snorkling Nemu Penyu

Karang-karang Meja yang cantik-cantik

Snorkling dikejar-kejar ubur-ubur laut

nemu banyak ikan di Gili Trawangan

Kapal Pesiar cantik melipir di Gili Air yang cantik

Kapal Pesiar cantik melipir di Gili Air yang cantik  saat suasana mendung

Snorkling… Snorkling….snorkling..itu yang terpikirkan saat hendak mau snorkeling di Gili Air, Lombok Utara. tiba-tiba gerimis yang tak diundang pun datang. “ayo”,  kata Andri melalui pesan BBM ke saya. Andri  mengirim pesan lagi “Gerimis”, “semakin deras”. “ya semakin deras, batalkan saja ntar kalau hujan”, kataku kepada Andri. ku liat Gerimis itu makin lama semakin hilang tapi awan-awan itu masih menutupi langit-langit di kawasan Lombok.  jadi lah kita putuskan untuk berangkat ke Gili Air menggunakan sepeda motor.

kapal pesiar dari depan

kapal pesiar dari depan

Rombongan saya kali ini hanya bertiga, saya, Andri, dan Ilul. hanya butuh kurang 1 jam ke Lokasi Penyeberangan Bangsal. tiket penyeberangan ke Gili Air hanya Rp10.000,00 dengan menggunakan public boat. Publik boat ini benar-benar publik boat. mulai dari wisatawaan, penjual sayur, ibu-ibu rumah tangga tumplek-plek di publik boat ini. nah waktu penyeberangannya pun ke Gili Air hanya 30 menit.

Langit yang mendung di Langit Lombok

Langit yang mendung di Langit Lombok

saat tiba di Gili Air, kami langsung clingak-clinguk mencari spot snorkeling yang bagus. karena ngak dapat yang sreg, diputuskanlah kalau kita akan Tour Snorkling ke 3 yaitu Gili Air, Gili Meno dan Gili Air, dan Gili Trawangan. eh ternyata, Publik boat untuk yang tour ke tiga Gili dah berangkat. terpaksa dah kita sewa perahu Glass Bottom Boat seharga @500.000 untuk tiga orang. ini sudah termasuk penyewaan alat snorkeling dan tetek bengeknya snorkling. kami ditemani oleh dua orang, satu kapten dan yang satu lagi adalah pemandu kami alias yang menemani snorkeling. namanya Adi.

Bar-bar berbaris rapi di Gili Air

Bar-bar berbaris rapi di Gili Air

suasana langit yang berawan dengan sedikit gerimis tak menyurutkan kami bertiga untuk snorkeling ria. Tujuan kami yang pertama adalah Gili Meno. langit yang tak begitu cerah tetap tidak bisa menyembunyikan indahnya pasir putih yang mengelilingi Gili Air.

setelah kami melewati Gili Air, kami langsung disambut dengan indahnya Gili Meno. Gili Meno emang benar-benar cantik. dari jauh pun kecantikannya pun tak memudar. bahkan mendung pun semakin menambah ketenangan dan keromantisan Gili Meno dengan perahu jenis “Glass Bottom Boat” yang kami naiki.

Gugusan gunung rinjani

Gugusan gunung rinjani

saat perahu yang kami tumpangi tiba di Lokasi Diving-Spot at Gili Meno, sang kapten memperlambat laju perahunya. di lokasi diving spot ini, Ombaknya lumayan gede sehingga tidak cocoknya untuk snorkling. lokasinya tepat di ujung selatan Gili Meno. kami bisa menyaksikan keindahan-keindahan Gili Meno dari sisi lain. Terumbu karang-terumbu karang indah benar-benar tersaji di perairan Gili Meno. karang-karang yang indah benar-benar jelas terlihat dari atas perahu. saya hanya termenung tak berkedip melihat keindahannya.

Jalan berpasir di Gili Air

Andri dan Ilul Jalan berpasir di Gili Air

Terumbu karang-terumbu karang itu semakin memanjakan mata saya yang tepat berada di atasnya. ajibbbb…..saya langsung berteriak…..”iiiih terumbu karangnya keren-keren”. karang mejanya indah..besar seperti meja makan , berjejer-jejer laksana meja makan prasmanan.

warnanya bermacam-macam. warna yang paling mencolok adalah warna-warna ngejreng seperti warna kuning dan Hijau. aku hanya bisa merekam semuanya dalam otak saya. tak satupun nyangkut di kamera saya.

Penyu berenang di perairan Gili Meno

Penyu berenang di perairan Gili Meno by @andrants

sebelumnya, saya pernah  mengulas tentang keindahan ombak ujung selatan. saya tidak menyangka bahwa di lokasi ujung selatan Gili Meno lah, “pusat” terumbu karang itu berada. sepertinya saya harus belajar snorkling lebih giat lagi, trus belajar diving, agar saya tidak hanya menyaksikan keindahan bawah laut Gili Meno dari atas perahu “Glass Bottom Boat”.

setelah cukup lama kami menikmati sajian terumbu karang dari “Glass Bottom Boat”. kami melewati perairan laut dalam, tapi tak begitu lama kami melewati perairan dalam. sang kapten langsung memperlambut laju perahunya. pada saat itu juga keindahan bawah laut tersaji dari atas perahun ini. perahu tak hanya melambat tapi berhenti. Guide kami, mas Adi langsung menyuruh kami bertiga agar snorkeling. “di sini banyak Penyu”, kata mas Adi memberitahu kami bertiga.

Sang Penyu siap-siap menuju dasar laut setelah menghirup oksigen di permukaan laut

Sang Penyu siap-siap menuju dasar laut setelah menghirup oksigen di permukaan laut by @andrants

kami pun langsung bergegas turun untuk melihat keindahan bawah laut di Gili Meno. tak hanya terumbu karang yang bisa kami saksikan tapi juga penyu alias si kura-kura. Di Spot ini mas Adi  ingin menunjukkan aksinya untuk melakukan free diving. posisi kuda-kudanya seperti kuda laut. secepat kilat mas Adi langsung melesat ke dalam laut. Laut dengan kedalaman 12 meter itu hanya ditembuh beberapa detik saja. saya tidak tahu apa yang akan dia lakukan di dasar laut.

Penyu lagi

Penyu lagi

ternyata, mas Adi langsung membangunkan kura-kura yang sedang tidur. sang kura-kura pun kaget dan langsung berenang. saya baru tahu itu kura-kura setelah kura-kura itu berenang. Mas Adi kemudian naik lagi ke atas untuk memberitahu kami. mas Adi kemudian turun lagi untuk membangunkan sang kura-kura. sedangkan teman saya, Andri siap memotret sang kura-kura dengan kamera bawah lautnya. aksi kedua mas adi tidak seperti sedia kala. bahkan dia berusaha mengangkat ke atas sang kura-kura yang berat itu. jadilah mas Adi berpose dengan kura-kura meno.

Adi beratraksi dengan Penyu di Gili Meno

Adi beratraksi dengan Penyu di Gili Meno

Puas kami di spot ini, sang kapten pun mengajak ke lokasi lain di Gili Meno. tiba di spot ini, Penyu tetap menjadi kekhasan free diving kali ini. selama di Meno ada 4 Penyu yang kami temukan. sayang, kegiatan snorkling yang kedua kami harus berperang dengan ubur-ubur.  badannya Lembut bahkan seperti lentur.coba ku pegang-pegang. lama-lama kelamaan ubur-ubur itu semakin banyak. dia berjalan beriringan bahkan bersentuhan dengan saya. masuk ke dalam baju-baju saya. tiba-tiba badan saya gatal semua. saya pun langsung berteriak mengejar perahu kami. jadi lah tubuh saya peuh gatal-gatal kemerah-merahan karena serangan ubur-ubur. bahkan, saat saya menyelesaikan tulisan ini, aura ubur-ubur masih terasa di sekujur tubuh saya.

Penyu di Gili Trawangan

Penyu di Gili Trawangan

akhirnya, kami pindah spot ke Gili Trawangan, di Spot snorkling gili Trawangan saya benar-benar dimanjakan oleh kawanan ikan yang berwarna-warni. saya pun snorkling mengikuti gerak ikan-ikan yang indah itu.  saya berusaha mendekati kawanan ikan-ikan itu. saat saya berusaha memegang ikan-ikan itu, kawanan ikan itu pun kabur menjauhi saya. begitu seterusnya. saya mencoba spot lain, tiba-tiba sekelompok ikan-ikan kecil berada di depan saya. saya pun berusaha menangkapnya. saat saya berusaha mendekati, mereka pun ikut pergi. perginya serampangan dengan menabrak-nabrakkan tubuhnya dengan ku.. serrruuuuuu…

Adi langsung berhadapan dengan penyu Gili meno

Adi langsung berhadapan dengan penyu Gili meno

setelah kawanan ikan-ikan kecil itu pergi, segerombolan ubur-ubur tumpah ruah di depan saya. saya hanya bisa pasrah. pasrah berenang sambil ditemani ubur-ubur yang selalu bikin gatal-gatal. alamak…. badan ini. banyak kenangan yang indah tapi tak sedikit kenangan kecewa dengan ubur-ubur yang selalu menganggu. snorkling kali benar-benar puas termasuk puas dikerjain oleh ubur-ubur. setelah menikmati snorkling di Gili Trawangan, kami pun siap-siap pulang ke Gili Air.

Klik coretan lain tentang Gili Meno di sini PULAU ROMANTIS ITU GILI MENO 

Mau ke Pantai Surga, malah tersesat di Pantai Sungkun

Mau ke Pantai Surga, malah tersesat di Pantai Sungkun

Paradise Beach tapi bukan Pantai Surga

Pantai Sungkun Emang Surga dan Ajib

Pantai Sungkun Emang Surga dan Ajib

Duduk-duduk di Berunggak Taman Long Baloq sambil mendengar nyanyian burung-burung yang merdu merupakan suatu anugerah/kenikmatan. duduk sambil menikmati segelas kopi hangat dengan pisang goreng merupakan suatu kenikmatan yang lain.

neh wujud Batu-batuan di Pantai Sungkun

neh wujud Batu-batuan di Pantai Sungkun

segelas Kopi di samping kiri saya, koran lokal  Lombok Post di samping kanan saya. salah satu berita yang paling menarik menurut saya adalah tentang Tiger Airways Mendarat Perdana di Bandara Internasional Lombok (BIL) pada tanggal 22 November 2013.

Pose di Pantai Sungkun

Pose di Pantai Sungkun

Tiger Airways melakukan penerbangan dari Singapura ke Lombok. Penerbangan Lombok Singapura akan terbang tiga kali dalam sepekan.

Kabar itu semakin menambah penerbangan-penerbangan internasional yang langsung ke Lombok. Air Asia rute Lombok – Malaysia. Jet Star melayani rute Lombok – Perts. dan yang terakhir adalah Tiger Airways yang berbasis di Singapura.

kita bergaya dulu yuk di sini

kita bergaya dulu yuk di sini

Lambat laun namun pasti Lombok akan semakin maju dengan bertambahnya penerbangan-penerbangan internasional lainnya.

Lupakan sejenak tentang penerbangan internasional. lemaskan otot yang tegang. mari menyeruput kopi hangat dan Pisang Goreng yang sudah tersaji. sesekali melihat sekeliling taman Long Balog, melihat burung-burung Gereja yang terbang di atas Kolam Long Baloq.

Pesona Pantai Sungkun dengan Pasir Putihnya

Pesona Pantai Sungkun dengan Pasir Putihnya

Di Taman Long Baloq, saya ingin menuliskan perjalanan saya saat ke Pantai Surga. Pantai yang berada Di Lombok Tengah.

perlu usaha agak keras dan kuat mental. mental berpetualangan. karena untuk menuju ke pantai Surga, kita harus melalui Jalan yang belum beraspal. Jalan pengerasan mengocok-ngocok perut saya. apalagi saya duduk paling belakang. setelah menempuh sekitar 5 Km jalanan Tak beraspal. harapan menuju ke pantai Surga makin jelas. di jalan semak-semak itu tertulis.  “menuju laut surga”.

Pasir terperangkap

Pasir terperangkap

jalan itu tak meyakinkan. semak-semak itu menambah keraguan kami. semua rombongan antara yakin dan tidak. benarkah ini jalan menuju pantai Surga.

air laut yang tergenang di batu-batuan Sungkun

air laut yang tergenang di batu-batuan Sungkun

tak jauh dari mobil kami berhenti. beberapa pemuda yang naik sepeda motor sepertinya juga merasa kebingungan. bingung jalan menuju Pantai Surga. Para bikers muda itu kemudian pergi. para pemuda itu mungkin mencari jalan yang sebenarnya menuju pantai surga. atau setidaknya jalan yang lebih “bersahabat”.

Istirahat setelah capek menyusuri Pantai Sungkun

Istirahat setelah capek menyusuri Pantai Sungkun

Rombongan kami pun ingin mencari jalan lain ke pantai. menaiki bukit. kemudian menuruninya. saat tiba di puncak bukit, kami melihat jalan lain, tak tahu ke arah mana jalan itu. tak kelihatan ujung jalannya. sementara, mobil terus melaju sesekali harus mengerem karena jalan yang tak rata. lubang dimana-mana.

ku namain Pulau Penyu karena mirip penyu.

ku namain Pulau Penyu karena mirip penyu.

ketakjelasan kami pun harus berakhir ketika kampung penduduk mulai terlihat. salah satu warga menenteng sebilah parang. kami pun berhenti untuk menanyai dimana kah sang pantai Surga itu. dimana surganya pantai itu.

Narsis dulu berlatar pulau penyu

Narsis dulu berlatar pulau penyu

kalau pantai Surga di sebelah sana (kata pemuda sambil memberikan petunjuk melalui telunjuk jarinya).

Sang Petualang, Ilul berjalan di atas pasir kuning

Sang Petualang, Ilul berjalan di atas pasir kuning

Terus kalau lurus terus ini tembus ke pantai apa pak?, kata salah satu dari rombongan kami

ini menuju pantai Sungkun, Jawab sang pemuda itu.

Ya sudah kita ke Pantai Sungkun saja. la wong sudah terlanjur nyampai sini, kata salah seorang dari kami.

Pola batu-batu di pantai Sungkun

Pola batu-batu di pantai Sungkun

kami pun melanjutkan perjalanan. tak perlu lama-lama, kita sudah tiba di pantai Sungkun. benar-benar surga ne pantai, kataku. kami semua tidak merasa kecewa, walaupun pantai yang kami kunjungi bukan pantai Surga. Penggantinya pun tak kalah, bahkan bisa jadi lebih cantik.

yang khas dari Pantai Sungkun ini adalah batu yang berada di tengah laut. batu itu berbentuk seperti Penyu. mungkin pantai ini cocoknya disebut pantai Penyu. tak hanya itu, pantai Sungkun Cukup unik. uniknya adalah pasirnya. yang berbatasan langsung dengan laut adalah batu. bukan pasir. jika ombak datang, maka pasir-pasir itu tak akan tersentuh oleh air laut. kecuali gelombang yang datang teramat besar.

Pola batu-batu Sungkun dari atas

Pola batu-batu Sungkun dari atas

kami pun terus berlanjut menyusuri pesisir pantai Sungkun yang indah. berjalan diatas batu-batu sungkun. Pantai Sungkun begitu Panjang sehingga kami pun tak sanggup menyusurinya. setidaknya untuk saat ini. kami hanya menyusuri separuhnya.

kami berjalan mendekati pulau penyu itu. semakin dekat, pulau ini semakin cantik. apalagi pulau cantik ini dipadu dengan pasir putih yang menguning. Pulau penyu itu ternyata juga berwarna kuning. lengkap lah kuningnya. Pulau berwarna kuning. pasir berwarna kuning. terus batu-batunya pun ikut kuning.

Foto Gaya Push up

Foto Gaya Push up

yups betul pasirnya tak putih bersih lagi. tapi bersih menguning. benar-benar ajibbbb ne pantai. horee…… yang menjadi pertanyaan saya selanjutnya adalah bagaimana semua benda itu berwarna kuning? apakah karena batu-batu sehingga pasirnya berubah warna menjadi kuning. ataukah karena pasir-pasir yang berwarna kuning sehingga batu-batu menjadi kuning.

mungkin pertanyaan ini seperti pertanyaan antara telur dan ayam. pertanyaan yang sampai sekarang masih menjadi perdebatan. mungkin saya akan memberikan kesimpulan khususnya terkait warna kuning di pantai Sungkun ini.

Melihat Pulau Penyu dari atas batu

Melihat Pulau Penyu dari atas batu

hampir semua batu-batu di pojok pantai Sungkun ini berwarna kuning. bahkan tebingnya juga berwarna kuning. so bisa dipastikan awalnya batu-batu itu memang warna dasar kuning. batu-batu itu kemudian “mempengaruhi” warna pasir-pasir yang di dekatnya, atau bahkan pasir itu yang terpengaruh oleh warna-warna batu itu. ibarat sebuah bunglon, pasir itu juga mempunyai naluri mengikuti lingkungan sekitarnya. pasir yang berwarna kuning luasnya mungkin hanya seperempat dari luas pantai di pantai Sungkun

alasan saya ini diperkuat juga pasir pantai Sungkun yang jauh dari batu-batu kuning. pasir-pasir yang tak terpengaruh batu kuning itu tetap berwarna putih bersih.

ne pantai keren banget dah. benar-benar juara dah pantainya. ngak nyesel bahkan bisa nagih ke Pantai Sungkun lagi. begitu alami. air laut yang berwarna menambah pesona pantai Sungkun.

Batu Tebing Sungkun berwarna kekuning-kuningan

Batu Tebing Sungkun berwarna kekuning-kuningan

di ujung pantai Sungkun ini, banyak batu-batuan yang sangat mempesona. batu-batuan Sungkun mengingatkan saya pada batu-batuan Belitong. memang tak sama, tapi batu-batu itu seakan memanggil memori sang pembuat novel Laskar Pelangi, Andrea Hirata. ngakkkkk menyesal… Sungkun sungguh surga. benar-benar gila ne pantai. wajib bagi yang ingin nikmatin alam di Pulau Lombok.

Ada Surga di balik Batu Sungkun

Ada Surga di balik Batu Sungkun

Tips ke Pantai Surga eh ke pantai Sungkun.

  • Silahkan membawa motor atau menyewa mobil. sewa motor dan sewa mobil di Mataram juga ada. untuk besarnya biaya sewa motor, saya kurang tahu. silahkan datang ke Senggigi, disana ada penyewaan sepeda motor. untuk sewa mobil  di Mataram 300.000an per hari
  • Siapkan Bekal secukupnya. maklum di pantai Sungkun tak ada penjual makanan. jangan kan penjual. pembelinya aja tak selalu ada.
  • Pantai Sungkun itu sepi. bagi yang tak ingin kesepian diharapkan membawa teman apalagi pasangan. Suasana bebatuan itu sangat romantis. wajib dah.
  • Siapkan Fisik dan mental. Jalan ke Pantai Sungkun masih pengerasan. Lumayan mengocok-ngocok perut. sebaiknya ke sini pada musim kemarau. jika musim hujan, ditakutkan jalannya becek.
Ilul berusaha mengangkut bongkahan batu Sungkun

Ilul berusaha mengangkut bongkahan batu Sungkun

sekian Perjalanan saya di pantai Sungkun. Perjalanan selanjutnya kami akan berusaha untuk menyesatkan diri ke Pantai Surga. Mau tau seperti apa pantai Surga. penasaran kan. kalau ngak ingin penasaran. ikuti terus perjalanan saya yach..