Kunjungi Musium Angkut Ibarat Jelahi berbagai Negara

Seketika saya tertegun pada sebuah hall berbagai koleksi di Musium Angkut. hahhh… bukankah ini mobil-mobil kelas wahid yang sangat bagus pada jamannya. Mobil bekas Presiden RI pertama, Soekarno, yakni seri Chrysler Winsor Deluxe produksi 1952 mobil ini berjejer rapi di musium. Mobil yang merupakan salah satu angkutan modern bersanding dengan kereta-kereta kerajaan jawa kuno. akh sungguh kombinasi yang unik. di ruangan hall ini ini juga dipenuhi berbagai koleksi cikal bakal Harley Davidson.

sebagian koleksi musium angkut dari ratusan koleksi mobil

sebagian koleksi musium angkut dari ratusan koleksi mobil

Musium jarang masuk daftar wisata yang harus dikunjungi oleh setiap insan traveller. Musium dilupakan dan dianaktirikan. Musium-musium di Indonesia sebagian besar dikelola oleh pemerintah yang acuh terhadap musium. Coba liatlah musium-musium di seluruh Indonesia, kesannya pasti: kotor dan tak terawat. Kalau mau dicari alasannya lagi pasti jawabannya karena anggarannya tak ada. Kenapa ngak ada anggaran?. Karena biaya masuknya murah. Kenapa murah?. Karena musiumnya tak menarik. Kenapa tak menarik?. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini lah yang selalu berputar-putar. Bulet dan tak pernah ada solusi. Kiasan ini ibarat telur dan ayam. Mana yang lebih dulu telur atau ayam?

Semua alasan-alasam dan pertanyaan-pertanyaan itulah yang coba dibalik di Musium Angkut. Musium yang berada di lereng Gunung Panderman, komplek kawasan wisata batu, Malang. Musium Angkut berada di bawah Jatim park group bersama dengan Jatim park 1 dan 2, Musium Satwa, Batu Secret Zoo, Batu Night Spectacular, Eco Green Park dan Wisata Bahari Lamongan (WBL). Semuanya berada di kawasan Kota Wisata Batu Malang kec WBL yang berada di Lamongan.

Antri Tiket Musium

Antri Tiket Musium

Musium angkut mencoba menjadikan sebuah wahana musium yang mengasikkan dan unik. Bahkan musium angkut merupakan satu-satunya di Asia Tenggara. Bangunan ditata dan didesain sedemikian rupa untuk menggaet para pengujung. Sebuah konsep dibangun agar para pengunjung merasa nyaman dan tak cepat bosan saat mengunjungi musium. Dalam suatu komplek Musium Angkut terbagi dalam dua kawasan. Kawasan pasar apung dan Musium angkut itu sendiri.

Komplek kawasan musium ini dibangun di areal lahan seluas 3.7 hektar dengan arsitektur yang cukup unik dan menarik. Musium ini dibuka soft launchingnya sejak tanggal 9 Maret 2014 dan saya datang kurang lebih dua bulan setelahnya. Tepatnya pada tanggal 27 mei 2014. Keunikan musium angkut terlihat saat saya pertama kali datang ke musium ini. Sebelum memasuki areal kawasan musium, saya disambut replika jet tempur di sisi kiri pintu gerbangnya. Di sisi kanannya tertulis “Pasar Apung”.

The Beatles

The Beatles

Berada di kawasan pasar apung, anda akan diajak menjelajahi nusantara, mengunjungi kawasan pasar apung kalimantan dengan bangunan khasnya atau mencoba mencicipi jajanan kulinernya. Di kawasan pasar apung ini ada beberapa rumah-rumah adat seperti rumah adat kalimantan, rumah adat lombok dan rumah adat papua. Untuk mengunjungi rumah-rumah adat tersebut, kita harus menyeberangi jembatan-jembatan kayu yang didesain dengan cukup unik. Atau kita bisa mengelilingi sudut-sudut rumah apung dengan menyusuri sungai-sungai dengan menggunakan perahu kecil dengan tarif sewa sebesar Rp10.000,00.

Di kawasan pasar apung, anda bisa mencicipi jajanan nusantara mulai dari masakan khas betawi, madura, jawa, kalimantan, atau cina dengan restoran cheng ho. Kawasan pasar apung selain menyajikan jajanan kuliner, juga menyediakan layaknya sebuah toko yang menjual berbagai pernik dan keunikan. Saya takjub dengan konsep wisata pasar apung ini. Sebuah konsep wisata yang dipadu dengan khas-khas kedaerahan. Saya angkot untuk jatim park group.

Sedikit terpuaskan dengan sajian apperticer “pasar apung”. Saya siap untuk menyantap menu utama yaitu Musium Angkut. Saat hendak mau ngantri tiket, saya sudah dibuat kaget. barisan orang-orang yang sedang mengantri mengular seperti ular. Berpanas-panas ria demi sebuah tiket musium. begitu antusiasnya orang-orang ini antri dan berpanas-panas ria hanya untuk sebuah tiket yang bernama musium angkut itu. Terlihat beberapa pengunjung yang antri mengelap peluh yang bercucuran.

Going To Eurupe

Going To Eurupe

Bukannya langsung mundur teratur, Saya malah ikut berantri ria berjubel dengan pengunjung yang lain. Dalam hati saya berpikir baru kali ini saya rela antri hanya untuk sebuah tiket musium. Saya harus merogoh kocek dalam-dalam sebesar 75.000. maklum saya datang saat liburan. Untuk hari jumat-minggu, Harga tiketnya Rp75.000,00 termasuk movie star studio. Senin-kamis @50.000,00. Itu pun belum termasuk tiket terusan musium topeng. Kalau terusan tinggal tambah Rp10.000,00

Semua pengunjung berjubel ingin memasuki zona pertama. Sebuah hall besar yang memajang berbagai angkutan yang bernilai sejarah sejak awal mula perkembangan angkutan. Sebut saja dokar atau kereta kuda yang digunakan pada masa-masa raja-raja di jawa, anda bisa jumpai di sini. Anda juga bisa mempelajari tentang sejarah perkembangan sepeda berpedal pada awal abad 18an di jerman oleh Karl Von Drais hingga sepeda bermesin pada awal abad 19an seperti velosolex dan kaptein. Di sini anda juga menyaksikan awal mula pengembangan harley davidson.

Di zona kedua, anda bisa melihat tentang sejarah perkembangan transportasi dunia. Di zona kedua ini dikenal juga zona edukasi. Di sini anda bisa belajar tentang perkembangan transportasi di dunia mulai dari becak hingga kereta api. Di zona edukasi, anda bisa langsung bertanya kepada sang genius einstein. Di sini anda juga bisa belajar tentang model-model kapal-kapal canggih pada jamannya seperti Kapal Majapahit, Kapal Borobudur, bahkan titanik. Replika dari berbagai jenis kapal tersebut tersedia di sini.

Nongkrong di Gengster Street

Nongkrong di Gengster Street

Ada sebuah mobil yang cukup menyita perhatian pengunjung termasuk saya. Wah ini bukannya mobil listrik Dahlan Iskan yang menabrak tebing. akh paling ini hanya replika, akh masak ini mobil listrik, batinku. Rasa penasaranku terjawab setelah seorang petugas musium menjelaskan bahwa mobil yang ringsek ini bener-bener asli mobil listrik yang membuat heboh indonesia. Tak lupa saya menjepretkan beberapa jepretan dari berbagai sudut. Terdengar bisikan-bisikan dan omongan pengunjung “wah ini mobil listrik pak dahlan”. “Ya ini mobil listriknya pak dahlan”. Beberapa pengunjung mendekatinya kemudian memegang beberapa bagian yang ringsek tersebut. Saya pun ikut-ikutan memegangnya.

Zona yang ketiga adalah kawasan Batavia, Pecinan, dan Sunda Kelapa. Jika sebelumnya berada di kawasan indoor, maka kawasan Pecinan ini ada berada di Outdoor. Yang cukup menonjol dari kawasan ini adalah Stasiun Jakarta Kota. Dari atas terlihat beberapa pengunjung memenuhi kawasan ini. Semua sibuk bernarsis ria, bertongsis ria dengan tongkat ajaibnya. Yang tua yang muda. Rasa-rasanya semua pengunjung datang ke musium ini bukan untuk tujuan mempelajari sejarahnya atau setidaknya merasakan aura sejarahnya tapi lebih kepada “bernarsis ria”.

Kawasan Gengster Street

Kawasan Gengster Street

Di akhir ujung kawasan pecinan ini, ada sebuah gubuk sederhana “warung sepeda antik”. Sederhana bangunannya, sederhana koleksinya. Perabotannya layaknya perabotan-perabotan di desa seperti kendi dan lampu-lampu minyak yang biasanya digunakan untuk menerangi ruangan di rumah saat menjelan. Koleksinya pun sederhana. Hanya sepeda dan rokok. Justru dari kesederhanaan koleksinya yang membuat saya terperanjat. Akh masak sama koleksi sepeda aja kaget bro. plis sabar bro. jangan tuduh saya lebay. Bagaimana saya tidak heran melihat sebuah sepeda onthel yang fungsinya layaknya pemadam kebakaran. Bentuknya unik dan saya baru tahu di tempat ini saja.

“Sepeda Onthel Pemadam Kebakaran” namanya sesuai dengan fungsinya. Birmingan Small Army (BSA) yang terkenal dengan produk motornya menawarkan sepeda onthel ini. Auxiliary fire Service (AFS) di inggris menggunakan sepeda ini pada tahun 1900an. Frame dari sepeda pemadam kebakaran didesain untuk membawa selang, sirine dan sebuah kapak. Saya masih bertanya-tanya. Bagaimana seandainya kebakaran benar benar terjadi. Lalu seberapa efektifkah sepeda ini untuk memadamkan api yang berkobar?. Sebuah koleksi yang unik sekaligus menggelikan.

Ini zona selanjutnya. Sebuah ruangan hall indoor yang ruangannya dipenuhi berbagai jenis koleksi mobil dari berbagai produsen seperti Chevrolet, Crhysler Valiant Regal, Fort, Volvo, Plymouth, Holden Special, Dodge Lancer. Mobil-mobil antik ini rata-rata diproduksi tahun 1956 hingga 1973. Di zona ini, juga terdapat japanese corner dengan produsen-produsen jepang seperti honda dan Toyota. Suara riuh rendah pengunjung memenuhi ruangan. Berpose dengan berbagai koleksi mobil-mobil antik.

Di kawasan japanese corner inilah, saya bertegur sapa dengan salah satu pemandu, Yudha Anggara. Dari Yudha lah saya tahu bahwa di musium ada sekitar ratusan koleksi mobil. Dan itu semuanya asli dan bisa dipakai. Saya memang menyangka bahwa mungkin mobil-mobil ini hanyalah replika saja. Bukan mas, katanya. “Mobil ini asli semua dan semuanya masih bisa dipakai layaknya mobil. Setiap dua minggu sekali mobil-mobil itu dipanaskan. Dan saya bertanggung jawab untuk merawat mobil mobil itu. Kadang-kadang mobil ini juga dipakai keluar,” imbuhnya lagi. Saya hanya menggangguk atas penjelasan-penjelasan mas yudha.

salah satu Mobil Koleksi unik yang terbuat dari Kayu

salah satu Mobil Koleksi unik yang terbuat dari Kayu

Sepeda pemadam kebakaran di kerajaan Inggris

Sepeda pemadam kebakaran di kerajaan Inggris

Mobil Listrik Tucuxi - Dahlan Iskan

Mobil Listrik Tucuxi – Dahlan Iskan

Harusnya tuh mas, pengunjung-pengunjung tidak boleh menyentuh mobil-mobil itu apalagi sampai membuka-buka pintunya. Kebetulan saat yudha menjelaskan kepada saya, ada beberapa pengunjung yang membuka-buka pintu mobil sekedar untuk bernarsis ria. Sebelum saya pergi ke zona amerika, saya pun sempat bertukar nomor handphone.

Di kawasan amerika ini, arsitektur dan bangunan-bangunanya bergaya amerika sebut saja seperti kawasan Gangster Town menampilkan gangster tersohor Al Capone dan Broadway street. Zona selanjutnya adalah Benua eropa, negara raksasa otomotif dunia lengkap dengan latarnya. Misalnya di Italy, anda akan bertemu Fiat dan Vespanya. Di Perancis, anda akan melihat menara eiffel serta romantisme suasana ruangan.

Di Jerman, anda akan menemukan suasana parkir pemukiman penduduk asli yang dipenuhi produk Mercedes, Volkwagen, dan motor besar legenda Berliner Mauer berlatarkan tembok berlin “Berliner Mauer 1961-1989”. Di Inggris, Mobil-mobil Austin Seven berlatar bangunan bersejarah dan suasana khas london akan disajikan dengan begitu apik. Sajian terakhir dari Inggris adalah Buckingham Palace lengkap dengan taman bunga yang berada di halaman gedung. Bangunan Buckingham inilah yang terlihat begitu mencolok jika dilhat dari kawasan pasar apung. Di halaman penuh dengan orang-orang yang ingin berfoto berlatar Buckingham Palace.

Interior Buckingham Palace yang didesain begitu apik dengan langit-langit yang begitu khas.interiornya dipasang raja-raja inggris yang ada sejak pertama kali hingga pangeran terakhir william dengan nyonya kate Maddleton. Di kawasan Buckingham Palace, kita bisa melihatkan koleksi-koleksi mobil seperti Roll Royce 1976, Bentley 1957. Selain itu, anda bisa menyaksikan bus tingkat “Bis Bus Tours”. Uniknya, di Buckingham Palace kita juga bisa menaiki kereta.

Zona yang terakhir adalah Nuansa Kota Las vegas dan Hollywood lengkap dengan mobil Limousine dan patung Liberty yang berada di lorong-lorong jalan. Di kawasan ini juga, seorang Tokoh Film Hulk sedang menginjak mobil-mobil hingga ringsak. Ini alah akhir sebuah perjalanan menyusuri musium angkut. Keluar melewati sebuah lorong kereta menuju ke kawasan Pasar Apung Nusantara.

Bunga-bunga di depan Buckingham Palace

Bunga-bunga di depan Buckingham Palace

Buckingham Palace

Buckingham Palace

Going To Europe

Berliner Mauer 1961 – 1989

 

Advertisements

Bung Karno dan Pohon Sukun

Pohon Sukun yang menjadi Inspirasi Bung Karno. Taman Perenungan Bung Karno

Taman Perenungan Bung Karno

Taman Renungan Bung Karno

Ende, itulah salah satu kabupaten yang ingin saya kunjungi sejak pertama kali menginjakkan kaki di Bumi Flobamora, Nusa Tenggara Timur pada tahun 2007. bahkan saya pernah berjanji saya tidak akan pernah meninggalkan Nusa Tenggara Timur jikalau belum mengunjungi Danau Kelimutu tiga warna di Ende. Bahkan saya sering memberitahu janji itu ke teman-teman kantor saya. Janji itu seakan terpatri dalam otakku hingga suatu saat saya mendapatkan tugas untuk melakukan survey seluruh hotel yang ada di kabupaten Ende dan Maumere.

Bukit-bukit yang terlihat dari pesawat susi Air

Bukit-bukit yang terlihat dari pesawat susi Air

Yaitu tepat pada tanggal 17 November 2012 saya berangkat dari Bandara El Tari di Kupang dengan tujuan Bandara H. Hasan Aroeboesman di Ende. Saya berangkat bersama dengan bu Yoh dan anaknya, Jaky pada pukul 05.30 Wita. perjalanan kami sangat mengasikkan. Kami menggunakan pesawat kecil dengan penumpang hanya 11 orang. pilotnya pun asik bahkan saat pesawat sudah take off. Sang pilot Bule itu malah sibuk menelpon. Saya pun heran kenapa pesawat kecil bisa menelpon seenaknya. Maklum selama ini saya hanya menggunakan pesawat jet untuk melakukan perjalanan menggunakan udara. Suasana di pesawat sangat begitu santai. Ketinggian pesawatnya pun hanya sepertiga dari pesawat jet selama ini kita tumpangi.

IMG_4687

Dengan ketinggian yang begitu pendek. Pesawat ini bisa melewati di antara dua lembah gunung atau pegunungan di Flores. Jadi, dari atas pesawat ini kita bisa dengan jelas melihat indahnya pegunungan-pegunungan. Melihat orang-orang yang tinggal di lereng Gunung Meja. Melihat sungai yang indah berwarna hijau diantara dua pegunungan.

Tak terasa pesawat kecil sudah mau mendarat di Bandara Ende. Landing sangat bagus sebagus take off-nya. Tiba di bandara ini, saya langsung disuguhi dengan keindahan Gunung Meja, Ende. Gunung Meja terlihat  begitu jelas.

IMG_4697

Patung Bung Karno menghadap Pohon Sukun

Saya dan tim langsung berbagi tugas untuk melakukan survey hotel. Tugas survey ini membuat saya harus mengelilingi sudut kota Ende ini. karena tugas survey, saya jadi tahu sedikit banyak tata kota di Ende ini. Tata kotanya begitu bagus dan rapi. Mungkin karena ini dulu pernah menjadi tempat pengasingan Bung Karno.

Lima Butir Pancasila dan Pohon Sukun

IMG_4695

Pohon Sukun di bawah Pohon inilah bung karno melahirkan butir-butir Pancasila (pohon ini sudah diganti beberapa kali)

“TAMAN RENUNGAN BUNG KARNO” kata itulah yang tertulis di papan nama Taman Renungan bung Karno. Letaknya berapa di Tengah Kota Ende dan langsung menghadap ke Laut. Di taman perenungan Bung Karno ini sebuah patung Bung Karno yang menghadap ke sebuah pohon Sukun. Pohon Sukun itulah yang menjadi saksi perenungan Bung Karno selama dalam masa pengasingan. Bung Karno dibuang ke Ende pada tahun 1934-1938.

Selama dalam masa pengasingan itu Bung Karno tinggal dalam suatu rumah yang letaknya tidak jauh dari taman perenungan ini. hampir setiap sore hari, Bung Karno ke pantai, merenung dan membaca di bawah pohon sukun. Pohon Sukun waktu itu mempunyai lima Cabang/dahan. Dari hasil perenungan Bung Karno di bawah pohon sukun itulah lahirlah Pancasila dengan lima silanya.

Untuk mengenang Bung Karno dibangunlah sebuah patung Bung Karno. Di bawah patung ini tertulis prasasti “ DI KOTA INI KUTEMUKAN LIMA BUTIR MUTIARA, DI BAWAH SUKUN INI PULA KURENUNGKAN NILAI-NILAI LUHUR PANCASILA” Sehingga ditetapkanlah kabupaten Ende ini menjadi Kabupaten lahirnya Pancasila sebagai Dasar Negara.

IMG_4703

Berikut ini saya kutipkan tweet dari Gunawan Muhammad, saat lahirnya Pancasila pada tahun 2013.

  1. Bung Karno dibuang ke Ende, Flores, 1934 – 1938, waktu berusia 35. Di sana menulis a.l. “Surat-surat Islam”: Pandangannya tentang pembaruan tafsir
  2. Menurut cerita Ignas Kleden, eseis terkenal itu, di pengasingannya Bung Karno berteman dengan pastor2 Katolik Belanda yang mendukungnya
  3. Di Ende, ditemani istrinya waktu itu, Inggit Garnasih, dan mertuanya, Bung Karno tinggal di satu rumah kecil. Ibu mertua wafat disana
  4. Hampir tiap sore, Bung Karno ke pantai, membaca di bawah sebatang pohon sukun. Mungkin di sana ia memikirkan dasar persatuan Negara.
  5. Kini di tempat itu dipasang patung bung Karno duduk di bangku menghadap laut. Karya perupa Hanafi. Taman didesain arsitek Andra Matin
  6. Tempat itu beberapa menit berjalan kaki dari rumah kediaman yang kecil itu – yang juga direnovasi oleh arsitek Andra matin
  7. Kelak kementerian Dikbud akan memugar petilasan lain dari bung Karno di Ende. A.l ruang tempat Bung Karno mementaskan karyanya
  8. Saya termasuk yang ingin agar hari Lahir Pancasila secara resmi dirayakan tiap tahun di Ende – bagian dari sejarah kebangsaan Indonesia.

itulah tweet gunawan Muhammad yang kutipkan di tulisan ini.

Setelah dari “Taman Perenungan Bung Karno”, saya pun pergi ke rumah pengasingan Bung Karno yang tidak jauh dari sini. Sayang seribu sayang, rumah pengasingan Bung Karno sedang direhab.

Rumah Penahanan Bung Karno di Ende

Rumah Penahanan Bung Karno di Ende

Jalan-jalan ke musium Mataram

12 Mei 2013

Musium Mataram

Musium Mataram

sejenak kita lupakan dulu tulisan yang ber aura pantai maupun pegunungan. yuk kita coba keliling di sekitar kota mataram.

Saya dan tiga orang sahabat berkesempatan untuk mengunjungi Museum yang ada di kota Mataram. Sebetulnya rencana kami ber lima, tapi tidak bisa karena salah satu teman kami, Dina Antariska Sari, sedang mengikuti pendidikan dan pelatihan di bogor.  Saya sendiri bertugas di Mataram mulai tanggal 12 Februari 2013. Jadi tepat tiga bulan saya sudah tinggal di mataram. Rencana ini sebetulnya sudah direncanakan seminggu sebelumnya, tapi kami baru berkesempatan untuk mengunjunginya.

Alquran hand writing dan baju kerajaan Bima

Alquran hand writing dan baju kerajaan Bima

Orang yang pertama kali mengajak saya ke musium adalah Gusti Dian Prayogi. Kebetulan ibunya Dian sedang mengunjungi dian di Mataram, dan Dian pun berencana mengajak ibunya ke musium. Tapi Ibunya Dian tidak mau, Dia pengin di kos saja. Jam menunjukkan pukul 11.30, kami pun berangkat bersama-sama menggunakan sepeda motor. Tidak sampai 10 menit, kami sudah sampai di depan pintu gerbang musium Mataram. di bagian depan bangunan tertulis jelas “Musim Negeri Nusa Tenggara Barat”.

Miniatur Candi Prambanan

Miniatur Candi Prambanan

Saya pun bertanya-tanya dimana tempat parkirnya. Akhirnya petugas musium memberikan petunjuk tempat parkir. Ternyata parkir musium ada di seberang jalan, sehingga saya harus memutar balik. Di tempat parkir ternyata sudah ada dua rombongan buss pariwisata. Setelah  melewati pintu gerbang utama, Petugas musium langsung mempersilahkan kami untuk membeli karcis terlebih dahulu. Harga karcisnya cukup murah hanya Rp2000. Kami pun memasuki musium. tidak jauh dari karcis, beberapa anak sekolah sedang mengelilingi sesuatu. Saya pun berusaha mendekatinya. Ternyata yang dilihat adalah buaya yang sudah diawetkan yang ada di dalam kaca. Ukurannya cukup besar, panjangnya 4,1 meter, lebarnya 1,1 meter, dan tingginya 0,6 meter.

berbagai macam alat kesenian di Musim Mataram

berbagai macam alat kesenian di Musim Mataram

Buaya ini termasuk buaya muara (latinnya Crocodiyus porosus). Spesies buaya Muara ini termasuk spesies buaya terbesar dan terpanjang  di dunia. Bahkan termasuk buaya terganas di dunia.

Buaya muara mampu melompat keluar dari air untuk menangkap mangsanya. Bahkan bilamana kedalaman air sungai melebihi panjang tubuhnya, buaya muara bisa melompat serta menerkam secara vertical mencapai ketinggian yang sama dengan panjang tubuhnya.

Hup…. Hanya dalam satu kali lompatan, kamu bisa saja sudah ada di dalam mulutnya.

berbagai jenis batu hasil penambangan oleh Newmont

berbagai jenis batu hasil penambangan oleh Newmont

Keganasan buaya muara sudah terbukti banyak memakan korban. Buaya muara yang ada di musium ini sudah memakan korban manusia dan hewan ternak. Karena sudah banyak memakan korban tersebut dan meresahkan masyarakat, akhirnya masyarakat sekitar menangkap dan membunuhnya kemudian diserahkan ke musium Mataram sejak akhir Desember 2010. Buaya Muara ini berasal dari perairan sungai ama la HB, kecamatan Woja, Kabupaten Dompu.

Nah bagi yang mau tahu lebih detail tentang keganasan buaya muara, silahkan cari referensi atau browsing yaa….hehe

profesi penduduk lombok pada jaman dulu

profesi penduduk lombok pada jaman dulu

Setelah cukup puas mengamati dan melihat buaya Muara, kami pun mau masuk ke gedung pameran utama. sebelum pintu masuk ada dua Meriam . satu Meriam ada di sebelah kanan, satu lagi ada di sebelah kiri pintu masuk. Di bagian kiri pintu masuk, ada beberapa miniatur yang membuat saya tertarik untuk mengunjunginya. Miniatur yang ada di dalam kaca itu antara lokasi tambang Newmon, gunung tambora, dan gunung rinjani. Dilihat dari miniaturnya aja menarik apalagi aslinya. Semoga di lain kesempatan saya dapat mengunjunginya . Di bagian sisi kanan jalan ada beberapa jenis cangkang jenis satwa yang dilindungi antara lain Kerang Kepala Kambing, Nautilus Berongga, kima raksasa, Triton Terompet, kerang muatiara, susu bundar, siput Lola, dan Trakalola, dll. Setelah selesai mengamati bagian teras musium, kami pun masuk ke pameran utama.

Meriam di Musium Mataram

Meriam di Musium Mataram

Di lorong menuju pameran utama itu ada miniatur candi Borobudur dan komplek candi Prambanan. Di depan pintu masuknya, kami langsung disambut dengan deretan etalase kaca yang lumayan besar. Di depan pintu ada empat lemari kaca. empat etalase kaca itu adalah busana pengantin empat suku yang ada di mataram, yaitu suku sasak, suku Sumbawa, suku Bima, dan suku bali. Di bagian sisi kiri jalan ada beberapa antara lain contoh batu tambang newmon. Ada sekitar 12 jenis batu newmon. Ada yang berbentuk tabung dan ada juga yang tidak beraturan. Di sampingnya lagi ada beberapa batu fosil yang ukurannya kecil-kecil.di depan batu fosil itu ada baju besi dilengkapi dengan topi besi dan senjatanya. Di samping baju besi itu ada alat pertanian jaman dulu seperti alat bajak yang terbuat dari kayu. Uniknya hanya alat bajak saja yang tidak ditaruh di dalam kaca. Di sekitarnya ada banyak lagi alat-alat pertanian yang ukurannya kecil-kecil. Di sini juga pun ada perlengkapan nelayan.

Setelah sisi bagian kiri selesai, saya balik arah menuju sisi kanan. Tepat di belakang 4 etalase kaca busana pengantin tersebut, Ada Kaca yang ukurannya agak besar dan menonjol. Ternyata itu adalah alat untuk menenun pakaian khas mataram. alat itu cukup sederhana, hanya terbuat dari kayu, dan terlihat simple. Bahkan ada teman saya, dewi ryan agustin, bilang begini “alat sederhana yang kayak gini, bisa membuat kain tenun”.  Mendengar ucapan seperti itu, saya hanya bisa membuatku tersenyum. Di depan alat tenun tersebut, ada tiga kaca yang ukurannya lebih kecil. 3 etalase kaca itu adalah hasil tenunan dari alat-alat tersebut. Dari tiga etalase kaca tersebut semuanya berbeda. Kain tenunan hasilnya bagus-bagus. kain-kain tersebut dilindungi dari kaca, sehingga saya tidak bisa menyentuh atau merabanya.

kain Songket Mataram

kain Songket Mataram

Di sebelah kanan alat tenun tersebut ada beberapa jenis senjata. Senjata tersebut digunakan untuk menjaga diri dan alat mengumpulkan makanan. Senjata-senjata tersebut antara lain : pedang yang bertuliskan arab, badik (senjata tikam dari Bima dan Lombok Timur ), Parang (senjata tetak asal Sumbawa), Golok, dan tempius (senjata tusuk asal Lombok). Di samping senjata ada koleksi keris, ukurannya mulai dari yang kecil sampai yang besar, bentuknya ada yang lurus dan yang meliuk-liuk. Di sampingnya keris itu pandai besi. Pandai besi itulah yang membuat alat-alat seperti keris, pedang, dll.

Di depan pandai besi, ada beberapa alat-alat musik tradisional seperti gendang, wayang, seruling, rebana dan gamelan, dll. Di depannya lagi ada beberapa jenis topeng. di samping kanan topeng, ada koleksi dari 3 agama, yaitu agama Islam, Hindu dan Budha. Koleksi agama Islam antara lain Sungkup Masjid,  Alquran tulis tangan dari Lombok, dan lain-lain. Koleksi agama Hindu misalnya alat pedupaan, Talam, Dulang, Ceret, dan patung Lembu, dll. Mungkin tiga agama itulah yang bisa mewakili awal-awal kerajaan yang ada mataram. bahkan agama hindu di mataram seperti pusat hindu di indonesia yaitu Bali. Jangan heran kalau anda melihat aura bali di mataram. kehidupannya pun berdampingan dengan agama islam. Jadi islam dan Hindu di mataram tidak dapat dipisahkan. Selalu berdampingan.

Nekara

Nekara

Di samping koleksi agama tersebut ada nekara. Nekara adalah gendang perunggu berbentuk seperti dandang berpinggang pada bagian tengahnya , nekara dianggap benda suci yang berfungsi sebagai benda upacara. Di samping kanan nekara, ada semacam pakaian kerajaan. Di bagian pojok ada baju bangsawan, di tengah-tengahnya ada kaligrafi bahasa arab yang ditulis pada kain. Kain tersebut keliatan sudah tidak utuh lagi. Ada beberapa bagian yang sudah robek. Sekian perjalanan saya ke musium Mataram semoga berkenan

Follow @caderabdulpaker