Berburu Sunset di pantai Krandangan dan Mengintip Senggigi

Para Penjual

Para Penjual

Taman Krandangan

Taman Krandangan

 

Sore itu semburat senja berpendar di kolam renang taman belakang hotel Puri Saron saat saya menyisiri pinggiran kolam renang itu. Kolam yang biasanya selalu ramai oleh para tamu hotel ini nampak sepi dan tenang. beberapa petugas hotel menyapaku saat aku melintasinya. Mereka  sepertinya tahu gelagatku layaknya wartawan dengan kamera bag yang diselempangkan di bahu.

Krandangan adalah salah satu spot tercantik untuk memotret pohon-pohon kelapa. bagi yang suka menikmati suasana matahari terbenam. barangkali Krandangan harus menjadi salah satu yang wajib dikunjungi. Puri Saron lokasinya bersebelahan dengan pantai Krandangan. hanya dipisahkan oleh sungai lumut sampah.

Seorang petugas hotel mendekatiku dan memberitahuku bahwa Lombok memiliki pantai-pantai cantik. saya tak terkejut karena memang saya sudah membuktikannya. mungkin petugas hotel menyangka saya sebagai orang yang baru tiba di Lombok. “Mas, pantai-pantai di Lombok cantik-cantik,” katanya berusaha mempromosikannya kepada saya. sudah satu tahun lebih saya tinggal di Lombok. selama itu pula saya memburu pantai-pantai cantik. ntah kenapa saya merasa bersemangat mencari pantai-pantai indah di lombok. setiap sudut lombok harus saya jelajahi, begitu kata hatiku suatu waktu.

bahkan saya pernah sendirian menyusuri pantai-pantai yang mulai dari Loang Baloq di Mataram hingga di Kecinan, Lombok Utra. dari pagi hingga sore menjelang. masuk ke kampung ke luar kampung. dari gang satu ke gang lain. menyusuri kampung-kampung nelayan kumuh. hingga pantai Senggigi yang cantik.

 

Sunset at Puri Saron

Sunset at Puri Saron

Sungai ini hanya menjadi muara dari sampah-sampah yang berasal dari bukit dihulunya. Sungainya tenang dan tak beriak. Ketenangan sungai ini menyebabkan lumut-lumut hijau tumbuh subur menyelimuti permukaan air yang tenang. Ada orang-orang yang memanfaatkan ketenangan sungai berlumut ini. mereka itu : para pemancing ikan-ikan sungai. Mencari ikan-ikan yang bersembunyi di balik lumut-lumut yang menutupi permukaan air sungai. Barangkali, mereka terlalu setia menunggui ikan-ikan yang bersembunyi di balik lumut. Setiap sore, pemancing itu selalu setia menunggu sang ikan memangsa umpan para pemancing.

Saat itu, saya melihat sekumpulan para pemancing yang terlihat berdiam diri di atas air yang tenang. Bayangan terefleksi di dalam air.

Di atas sana, bukit hijau diselimuti awan kelabu yang menggulung. Di pinggiran sungai, barisan pohon kelapa yang melambai diterpa angin bukit yang turun ke laut. Di pantai, orang-orang bercengkrama ria sambil menikmati tenggelamnya mentari di sore hari. Di pinggiran pantai ini juga para penjual kelapa menunggu para penikmati wisata krandangan beach.

Saya cepat berlarian hendak menuju ke arah komplek pantai Krandangan yang sebenarnya. Terlihat Para pengunjung yang sedang mandi di pantai Krandangan dengan hamburan ombak yang tenang. Pantai Krandangan langsung berbatasan dengan selat lombok. Beberapa anjing saling menggongong saat saya masuk kawasan pantai Krandangan. Saya baru datang saat orang-orang yang berjualan sedari tadi pagi mulai berkemas-kemas hendak mau pulang.

Beberapa rombongan pengunjung bule mendatangi salah satu penjual itu kemudian memesan beberapa kelapa muda. Saya berlalu meninggalkan warung-warung menuju ke tengah-tengah lapangan Krandangan yang kosong dari pohon kelapa. Saya duduk sendiri di tengah lapang sambil indahnya temaram senja berbalut kuning. Angin-angin berhembus kencang membilas pohon-pohon kelapa yang tinggi menjulang.

Pintu Gerbang

Pintu Gerbang

Saya masih duduk seorang diri, saat mentari tenggelam ke dalam laut. Langit semakin gelap, anjing pun sesekali menggongong di kejauhan malam. Gelap. Membuatku sedikit ada rasa takut. Tapi begitu senang ketika melihat indahnya barisan pohon kelapa yang berbaris rapi dengan latar belakang warna merah jingga. Tak ada cahaya lampu, Gelap, berpadu dengan indahnya temaram senja. Gonggongan anjing semakin kencang saat aku berjalan menyusuri jalanan gelap. Ntah ada beberapa anjing. Anjing itu berlarian. Ada rasa takut dan was-was jika anjing itu merasa terancam dan mengancam saya. Anjing-anjing berlarian dalam gelap dibarengi dengan saya yang juga berlarian ketakutan.

Trauma. Barangkali itu lah kata yang cocok untuk menggambarkan trauma saya dengan anjing. Aku pernah diserbu tiga anjing sekaligus saat lari pagi. Sejak itulah, saya sedikit mengalami trauma saat bertemu anjing-anjing menggonggong.

Pertengahan Isyak dan magrib, saya pulang ke hotel. Melewati restoran yang langsung berhadap-berhadapan dengan kolam renang. Beberapa kawan menyapaku. Malam itu, aku lewatkan malamku dengan menonton film HBO hingga akhirnya aku tertidur dengan sendirinya.

Penjual Jagung Bakar Senggigi

Penjual Jagung Bakar Senggigi

Pagi-pagi sekali, saat mentari pagi berada di balik perbukitan saya sudah meluncur ke jalanan senggigi. Semburat cahaya Jingga di pagi hari desa senggigi. Hembusan-hembusan angin segar dengan jalanan senggigi yang masih sepi menambah kedamaian dan ketenangan pagi ini. Cahaya jingga dari puncak bukit menerangi pantai senggigi yang masih tertidur. Pantai itu masih terlelap dari aktivitas manusia yang sekedar ingin berjemur. Bahkan, pemancing yang biasanya kuat bertahan seorang diri berendam separuh badan di laut tak muncul pagi itu.

Tak ada para penjual kelapa muda dan jagung bakar yang biasanya berjejer rapi di pinggiran jalan senggigi. Hanya barisan mobil taksi yang berbaris rapi menunggu penumpang. Jalanan Senggigi nampak lengang. Tak ada bule dan wisatawan lain yang biasanya berseliweran di sepanjang jalan senggigi. Hanya terlihat satu bule yang jogging menuruni jalan senggigi. Keringatanya bercucuran membasahi kaos putihnya.

Mentari naik sepenggalan saat saya memutuskan balik ke Puri Saron Hotel untuk mengikuti rangkaian pelatihan. Pelatihan dimulai dari jam 08.00 hingga 17.00 dengan istirahat coffe break 2 kali dan Ishoma 1 kali selama 5 hari. Untungnya, pelatihan ada di kawasan Senggigi. Jika penat mulai melanda, saya langsung bisa meluncur ke taman belakang sambil berenang menikmati mentari tenggelam atau meluncur ke kawasan Senggigi menikmati jagung bakar dan kelapa muda.

Hotel Sheraton from above street

Hotel Sheraton from above street

Rasa penat itu benar-benar muncul setelah tiga ikut pelatihan di Kamboja Meeting Room. Saat keluar kelas, saya langsung tancap gas menuju kawasan Senggigi. Tepatnya di sekitar Bukit Pura Kaprusan. Di Lokasi ini bisa melihat segala hal tentang Senggigi dan menyaksikan temaram senja di Pura Kaprusan. Pura Kaprusan terletak di daratan yang menjorok ke laut di sisi barat Senggigi. Pura Kaprusan tersembunyi dibalik Villa, pepohonan kelapa dan warung. Di kawasan Pura Kaprusan ada sebuah pura yang berada di pinggir pantai. Pura itu berdiri di atas batu karang yang kokoh.

Lombok dan Bali berbaur di sini. Pura dan Masjid hidup berdampingan. Kampung Muslim dan Kampung hindu ibarat tangan kiri dan tangan kanan. Tak ada tangan kiri tanpa tangan kanan kanan di sampingnya. itulah simbol kerukunan dan keharmonisan hindu dan muslim di Lombok. Kampung bali dan kampung Muslim hidup berdampingan dengan budaya dan adatnya masing-masing. Pura yang ada di pesisir pantai sepanjang jalur senggigi antara lain Pura Batu Layar, Pura Batu Bolong dan Pura Batu Kaprusan.

Bapak-bapak dan ibu-ibu Penjual Kelapa dan Jagung Bakar sibuk membelah kelapa dan mengipas-ngipasi jagung bakarnya. Saya mendekati salah seorang bapak di antara para penjual itu dan memesan satu buah kelapa muda. Dia menjual kelapa muda dan jagung bakar. Anak istrinya membantunya dengan berjualan di warung kecil di pintu masuk pantai Kaprusan. Wajahnya sedikit berumur tapi selalu ceria dan suka bercanda. “Canda itu penting mas biar ngak cepat tua,” katanya saat saya duduk di bangku panjang tempat jualannya.

Muara Sungai Krandangan

Muara Sungai Krandangan

Bapak penjual kelapa muda itu bercerita bahwa dirinya pernah kerja di Jakarta dan Bali. Profesinya kebanyakan di restoran dan café. Karena umurnya yang sudah tidak muda lagi akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari Restoran dan sekarang berjualan kelapa muda dan jagung bakar di Senggigi. Anak lekakinya juga bekerja di salah satu Café yang terkenal di Senggigi, Marina Café.

Suasana Senggigi sore ini tak seramai saat malam hari setidaknya untuk para penjual kelapa muda dan jagung bakar. Menjelang Malam atau menjelang pagi, banyak para pengunjung café. Para penjual kelapa muda dan jagung bakar juga mendapatkan ketiban rezekinya. Kawasan wisata Senggigi terasa lebih hidup malamnya daripada siangnya. “kalau semakin malam, di sini semakin ramai mas,”

Sore ini, saya bener-bener mengintip Sengigi, mengintip Hotel Sheraton saat api-api unggun dinyalakan di taman-taman hotel yang berbatasan dengan pantai berpasir puith. Bule-bule yang bersantai ria di depan hotel. Melihat para penjual jagung bakar dengan asapnya yang mengepul. Menikmati suasana sore hari sambil menyantap jagung bakar dan nikmatnya sajian kelapa muda di puncak senggigi.

Dari Lokasi ini, kami bisa menyaksikan romantisme Senggigi di sore hari dengan temaram lampu, air laut yang tenang, bara-bara api yang dinyalakan menerangi malam yang mulai menyelimuti. Sore ini senggigi dalam pelukan malam.

Gunung Agung

Gunung Agung

Advertisements

Senggigi dan Seekor Anak Anjing

Pagi yang tenang di Senggigi

Pagi yang tenang di Senggigi

 

Dulu, kawasan wisata Senggigi adalah kawasan hutan belantara yang kering dan tak cocok untuk pertanian. sepanjang jalan hanya bisa ditanam tanaman yang tak banyak membutuhkan air seperti pohon kelapa. Tak Ayal, sepanjang jalur mulai dari Mataram hingga Pemenang hanya tanaman pohon kelapa yang tumbuh subur menjamur. Menjamurnya pohon kelapa di pesisir pantai sepanjang jalur Senggigi, Lombok Barat hingga Pemenang Lombok Utara mengakibatkan pantai-pantai ini dikenal dengan sebutan “Coconut Beach”.

Pesisir pantai sepanjang jalur Senggigi adalah perpaduan dua panorama alam. Perbukitan dan Pantai. Di tengah-tengah adalah jalan satu jalur. Jalan ini satu-satunya yang memisahkan Pantai dan Bukit.

Pada tahun 1980an, Kawasan Sengigi diperkenalkan sebagai Kawasan Wisata. Konsep-konsep wisata bermunculan. Tanah-tanah pesisir pantai dan perbukitan banyak diperjualbelikan. Kepemilikan berpindah dari penduduk kepada para pemilik modal dengan harga wajar saat itu.

Kawasan Pantai Kuta, Bali menjadi rujukan dalam pengembangan kawasan wisata bali. Sayang, kawasan Kuta Square tidak cocok untuk diimplementasikan di Senggigi Lombok. Kawasan Kuta merupakan kawasan pantai dan tak berbukit sehingga cocok pengembangan Kawasan Square. Kawasan Lombok memiliki kekhasan tersendiri. Bukit dan Pantai.

Sejak dipernalkan sebagai Kawasan Wisata. Penginapan-penginapan pun bermunculan sepanjang pantai. Di sisi Pantai, penginapan kelas kere seperti Homestay hingga Hotel berbintang seperti Aston dan Sheraton tumbuh subur. Kawasan pantai menawarkan pantai berpasir putih, Laut biru, terumbu karang yang memanjakan mata. Di waktu sore, Kawasan Sengigi menawarkan panorama matahari tenggelam. Di Lombok, Kawasan Wisata Senggigi adalah salah satu spot tercantik melihat matahari tenggelam dengan latar belakang Gunung Agung, Bali.

Pagi yang tenang

Pagi yang tenang

Di sisi Bukit, juga menawarkan panorama yang tak kalah menarik. Kita bisa menyaksikan panorama pantai berpasir putih dengan langit biru. Penginapan-penginapan dengan nuansa Villa menjadi salah satu daya tariknya. Dari Puncak bukit, kita bisa menyaksikan mentari tenggelam dengan semburat warna senja dengan barisan pohon kelapa sebagai foreground, Gunung Agung sebagai background.

Keindahan barisan pohon kelapa di pesisir terasa kontras dengan tumpukan sampah. Kawasan tanah lapang yang ditanami pohon kelapa sering menjadi tempat buangan sampah masyarakat. Sekarang, kawasan sampah sudah berganti menjadi tumpukan penginapan menjejali kawasan wisata Senggigi. Lambat laun Tumpukan sampah tergeserkan dengan villa dan penginapan. Kampung-kampung nelayan yang terkesan kumuh mulai terlihat cantik.

Kawasan Wisata tumbuh, ekonomi tumbuh subur. Masyarakat kawasan Senggigi kebanyakan berprofesi sebagai nelayan dan petani berubah menjadi pelayan-pelayan. Para pemuda dan pemudi Senggigi mulai tertarik untuk bekerja jadi pekerja-pekerja di hotel-hotel dan villa.

Di kawasan wisata Senggigi mulai bermunculan Café-café dan Klun Malam. Glamour dan hedon menjadi iconnya. Kehidupan malam menjadi primadona. Budaya-budaya lombok berpadu dengan kebudayan barat. Para Bule sering memenuhi kawasan wisata ini. Kawasan Senggigi mirip dengan kawasan di Legian, Bali. Suasana malam terasa hidup dan semarak. Café dan Klub malam yang menjadi icon. Happy Café dan Marina Cafe menjadi primadonanya.

Pantai Senggigi di Sore hari

Pantai Senggigi di Sore hari

Senggigi yang berada di kabupaten Lombok Barat telah menjadi salah icon wisata di Lombok hingga saat ini.

Langit sudah gelap, saat melewati gemerlapnya senggigi. Dentuman musik cadas menggelegar memecah heningnya malam bersamaan dengan anggukan kepala para pengunjungnya. Lampu-lampu Café menyala kerlap kerlip seperti lampu yang kurang tegangan. Terlihat para pengunjung dimabukkan alunan musik dengan segelas wine. Tangan-tangan diacungkan dengan sebotol bir. Saya berlalu meninggalkan riuh gemerlapnya kawasan Senggigi.

saya tiba di Puri Saron Hotel di kawasan wisata Senggigi menjelang pukul 21.30 Wita. Lokasinya berada di pantai Krandangan. Tepatnya berada di antara dua pantai, Senggigi Beach dan Krandangan Beach. Di Hotel ini aku akan menginap selama 5 hari untuk mengikutin Pendidikan dan pelatihan. Saya mendapatkan kamar 209 yang satu bangunan dengan gedung utama. Kamar yang cukup strategis dan langsung menghadap ke taman hotel dengan tumbuhan pohon kelapa yang berjajar. Kamar-kamarnya berbentuk sistem cluster sehingga setiap kamar akan langsung menghadap ke taman hotel.

Saya suka dengan hotel-hotel di kawasan wisata Senggigi yang berbentuk cluster dengan taman-taman hijau dan pohon kelapa. Pantai-pantai berpasir putih dan barisan perbukitan selalu memanjakan mata. kawasan wisata Senggigi menjadi primadona wisata lombok dengan fasilitas fasilitas yang cukup memadai.

memasuki malam at sheraton Senggigi

memasuki malam at sheraton Senggigi

Saya tidur terlelap di kamar 209 ini dengan gemerlapnya cahaya lampu taman 10 Watt.

Pagi itu, Hawa dingin menusuk tubuhku saat berjalan di taman hotel. Lampu-lampu taman yang berjejer. Terlihat semburat cahaya merah berada di balik barisan perbukitan desa Senggigi. Suasana desa senggigi pagi ini begitu tenang setelah tadi malam penuh hingar bingar suasana pesta. Angin dingin berhembus saat motor ku laju dengan kecepatan 40 km/jam untuk melawan rasa dingin.

Krandangan Beach bersebelahan dengan Hotel Puri Saron. Krandangan Beach dengan Puri Saron hanya dipisahkan oleh sungai-sungai yang berlumut. Sebetulnya aku bisa menyusuri pantai hingga tembus ke Krandangan Beach. Namun ntah kenapa saya ingin aja bersepeda menembus hawa sejuk desa Senggigi.

Pintu itu masih setengah terbuka saat saya memasuki kawasan ini. sepagi ini petugas penjaga pantai pun tak ada. Memasuki kawasan coconut beach “Krandangan”. Krandangan Beach ada dua pantai yang terpisahkan oleh pembatas buatan manusia. Pantai Krandangan berada di dusun Krandangan. Di sisi barat berbatasan pantai Klui-Mangsit. Di sisi timur berbatasan dengan pantai Senggigi.

Sungai Lumut dan barisan pohon kelapa

Sungai Lumut dan barisan pohon kelapa

Kawasan Pantai di sepanjang jalan Senggigi dibatasi kawasan perbukitan dan daratan yang menjorok ke laut. Tak ayal, kita sering melihat indahnya barisan pantai indah saat kita melintasi sepanjang jalur Senggigi, Lombok Barat hingga Pemenang Lombok Utara.

Pantai krandangan hanya barisan kelapa yang berjajar. Di pesisir pantainya, gubuk-gubuk penjual ikan segar dan kelapa muda berbaris rapi. Gubuk-gubuk itu berjumlah belasan. Gubuknya terbuat dari pelepah dahan pohon kelapa. Dalam satu gubuk biasanya dibuat sekat-sekat untuk para pengunjung yang beristirahat untuk menikmati segarnya suguhan kepala muda dan ikan bakar. Dari Lokasi Pantai Krandangan kita bisa menyaksikan pesona temaram senja yang membilas-bilas barisan pohon kelapa.

Seekor Anjing mengikuti saya saat saya menyusuri kawasan pantai Krandangan. Motor saya melaju dengan pelan. Dan seekor anjing mengikuti motor saya. Ku toleh ke belakang, anjing masih tetap mengikuti motorku. Ku lambatkan laju motorku sambil menunggu anjing yang berlari mengikuti motor saya. Saya berjalan ke sisi kiri pantai yang langsung berbatasan sungai lumut. Anjing berdiri di samping saya. Di seberang sungai lumut, Hotel Puri Saron menyambut pagi dengan keheningan.

Kelapa di dalam sungai lumut

Kelapa di dalam sungai lumut

Sepagi ini angin berhembus kencang menyapa barisan kelapa yang berbaris rapi. Sepagi ini juga penguasa pantai ini hanya lah saya dan seekor anak anjing yang menemani saya. Pantai ini masih kosong, kosong dari segala aktivitas. Pagi ini penuh ketenangan dengan hembusan angin dan seekor anak anjing.

Anjing itu selalu mengikuti ku. Aku berjalan ke manapun dia selalu ikut mengejar. Aku berhenti pun, anjing itu pun ikut berhenti. Sesekali hidungnya mengendus tanah mencari bekas-bekas makanan yang tersisa. Anak Anjing itu berhenti mengikutiku saat keluar dari pantai Krandangan.

Di Pantai Krandangan banyak anjing yang berkeliaran. Namun, pagi ini aku hanya ditemani seekor anjing. Mungkinkah anjing-anjing yang lain bersama tuannya. Lalu, apakah anjing ini tak bertuan.

Memacning di sungai lumut

Memacning di sungai lumut

Aku diikuti seekor anjing ini saat memasuki kawasan pantai Krandangan. Mungkinkah itu Anjing Penjaga Pantai Krandangan?

Saya teringat seekor anjing yang ku beri nama “JOY”. Seekor anjing yang ku pelihara di Komplek Kelimutu di Kupang beberapa tahun lalu. Dulunya, Joy dipelihara oleh sang Tuan yang meninggalkannya karena dimutasi ke wilayah Kalimantan. Saya menggantikan rumahnya sekaligus anjingnya. Jujur, ada perasaan risih saat pertama kali saya memelihara anjing ini. Selama ini saya memang takut terhadap anjing. Saya seorang muslim. Bagaimana hukumnya seorang muslim yang menjaga anjing di rumahnya. Bukan kah malaikat tidak akan masuk ke suatu rumah yang di rumahnya ada anjing?. Perasaan itu berkecamuk dalam diri saya. Antara menjaga anjing yang ditinggal tuan ataukah membiarkannya mati kelaparan.

Di Komplek Kelimutu, kami memiliki seorang pembantu. Bu Valens namanya. Bu Valens seorang Katolik yang taat. Setiap minggu pagi, dia selalu datang ke Katedral yang lokasinya tak jauh dari komplek. Dia juga pembantu komplek kelimutu tertua sekaligus yang paling disegani diantara pembantu yang lain. Bu Valens bisa mengurus beberapa rumah sekaligus. Wajah tuanya tak menghilangkan kegesitan kerjanya. Bu Valens suka bergaul dengan para penghuni komplek yang lain. saya suka Bu Valens karena kesupelannya. Suka bergaul dan menyapa.

Suatu saat dia menanyakan anjing yang sering berada di depan rumah saya. Sepertinya Bu Valens tau keresahanku tentang seekor anjing yang bernama “Joy”. Seeorang muslim yang seharusnya tak memelihara anjing di dalam rumahnya. “Ntar, saya akan suruh orang untuk bawa anjing ini, kata bu Valens.

Senggigi identik dengan Pantai dan perbukitan

Senggigi identik dengan Pantai dan perbukitan

Bukankah Anjing Ashabul Kahfi juga telah dijamin masuk surga. Bukankah ada seorang pelacur yang masuk surga karena memberi makan anjing yang kelaparan. Pertanyaan-pertanyaan itu seperti menggelayut dalam pikiranku.

Kenapa saya tak mencontohnya. Pikiran itu tiba-tiba terbesit dalam pikiranku saat melihat seekor anjing yang duduk di depan rumah sepulang kantor. Ku buka pintu rumahku. Dia ikut di belakangku. Dia sepertinya Ingin juga masuk ke rumah. Ku larang dia. Dia pun berhenti dan sejak saat itu anjing itu tak pernah masuk ke dalam rumah. Sejak saat itu pula saya mulai memberinya makan. Pagi sebelum berangkat kerja dan sepulang kerja.

Tak jarang, saya sering berbagi makanan dengan Joy. Makanan yang saya bungkus langsung saya bagi dua. Separuh buat saya dan separuhnya buat si Joy. Malam itu, saya beli ayam dan tempe penyet. Tempe buatku, Ayamnya buat si Joy. Begitulah persahabatan kami. Saya tahu kebiasaan Joy. Joy pun mulai mengetahui kebiasaanku: Berangkat Kantor di waktu pagi, Pulang Kantor di sore hari.

Aku mulai suka terhadap Joy. Rasa benciku terhadap seekor anjing itu tergantikan rasa kasih terhadap seekor binatang yang setia: mengantar dan menunggu.

Anjing yang mengikuti saya di pantai krandangan

Anjing yang mengikuti saya di pantai krandangan

“Di waktu pagi, Dia selalu mengantarku ke kantor hingga pintu gerbang komplek, Di sore hari, Dia selalu menunggu ku di depan rumah. Joy si Anjing itu tak akan pernah lupa dan alpa untuk mengantarkan atau menunggu kepulanganku.

Persahabatan kami telah melewati hari, bulan, tahun. Tahun-tahun berganti. Tapi Joy tetap tak tergantikan. Setia-nya tetap tak tergantikan: Mengantar hingga Pintu Gerbang dan Menunggu di depan rumah.

Hingga suatu saat saya tak menjumpai Joy seharian. Ku cari di samping rumah, di belakang rumah dan seluruh komplek Kelimutu. Jawabannya: Tak ada Joy. Kemanakah dia??

Ku dekati Bu Valens yang melintas di jalanan komplek untuk menanyakan keberadaan “Joy”. “Joy” mungkin dibunuh orang mas, katanya. Jawabannya membuatku kelu dan lemas. Ada perasaan berbeda dalam diriku. Diriku yan sempat benci seakan merasa kehilangan. Ku coba cari-cari kuburannya di belakang Komplek. Jawabannya Nihil.

Aku mulai menduga Joy dibunuh orang untuk dimakan. Kebiasaan orang-orang sini yang biasa memakan anjing menguatkan dugaanku.

Joy telah mengajarkan ku tentang apa arti sebuah kesetiaan dan kepercayaan. Seekor binatang tak berakal itu banyak mengajarkan manusia yang katanya berakal tentang sebuah kepercayaan dan kesetiaan.

Terima kasih Joy.

Bangsal

Berburu Sunrise dan Sunset di Bangsal, dan pantai Sira

Sang Perahu

Sang Perahu

Saya akan tinggal selama 10 hari di salah satu hotel yang berdekatan dengan pelabuhan bangsal. Nama hotelnya ini : “New Taman Sari”. Hotel ini dimiliki oleh pengusaha asal Australia yang pengelolaannya diserahkan kepada seorang wanita berparas cantik asli Bali. Aku sudah menginap di hotel untuk kedua kalinya. Tahun lalu dan sekarang. Saya menginap di sini dalam rangka tugas di PDAM Lombok Utara yang baru berdiri 15 April 2013 itu.

Saya suka menginap di hotel ini karena dua hal yaitu: Kamar Mandi dan Sarapan. Kamar Mandinya ada di luar kamar dan disamping kamar mandi, ada taman terbukanya. Di ruang belakang ini kita bisa merasakan udara bebas tanpa kita harus ke luar kamar. Pun kita juga bisa duduk santai di taman sambil sesekali melihat burung-burung terbang ke sana ke mari hinggap dari pohon satu ke pohon lain.

Pemancing di Bangsal

Pemancing di Bangsal

Memancing

Memancing

Sarapan yang paling aku suka adalah ini: Omelette dengan Toast Butter Jam. Omelette yang paling aku suka adalah Cheese Tomato Onion dan Omelette yang paling saya benci adalah Cheese Tomato Onion garlic.Restoran masih sepi saat saya sarapan, tapi akan begitu ramai oleh para bule pada saat sarapan menjelang siang yaitu pukul 09.00. “New Taman Sari” selain sebagai tempat menginap dan Restoran juga sebagai Transit. Lokasinya yang tak jauh ke lokasi penyeberangan ke tiga gili membuatnya cukup strategis. Di seberang jalan adalah lokasi parkir umum. Semua penumpang yang akan menyebrang ke berbagai harus diturunkan di sini.

Portal selalu siap sedia menghalang para wisatawan. Dua petugas Dishub penjaganya selalu siap menyemprit para wisatawan yang nakal menerobos palang pintu. “hanya mobil-mobil yang tanpa penumpang dan motor saja yang bisa langsung masuk ke Bangsal. Itupun mereka harus memberitahu kepada petugas dishub” Itu lah aturan yang harus dipatuhi oleh seluruh pengunjung dan wisatawan yang akan menyebrang ke Gil Trawangan dkk. Pengunjung yang turun di terminal bisa berjalan kaki ke bangsal yang berjarak 500 meter itu atau menggunakan cidomo-alat transportasi menggunakan kuda.

Memegang mentari

Memegang mentari

Pagi ini, aktivitas terminal Bangsal sepi dan tenang. Hanya ada dua orang pemilik cidomo yang secara sukarela menyapu dan membakar daun-daun yang berjatuhan. Asap pun mengepul menuju langit. Langit cerah tak berawan. Mentari bersembunyi dari balik kegagahan Rinjani, membungkus embun-embun. Pohon-pohon diselimuti embun-embun pagi berwarna putih tak sempurna, Burung-burung beterbangan hinggap dari satu pohon yang lain. Terbang ke sana ke mari menghibur para penikmat pagi seperti saya.

Pagi yang santai dan tenang, jauh dari hiruk pikuk pelabuhan internasional yang disematkan kepada pelabuhan bangsal karena menjadi tempat bertemuanya warga dari berbagai bangsa dan Negara. Tak ada lalu lalang cidomo, tak ada lalu lintas penumpang. Tak ada wajah-wajah asing berambut pirang. Hanya orang-orang kampung yang hendak pergi ke sawah atau nelayan yang hendak ingin berlayar.

Gili Trawangan, Gili Air dan Gili Meno telah menjadi menjadi primadona tujuan wisata di Lombok. wisatawan berdatangan menjejali tiga pulau kecil itu. Bertambahnya wisatawan yang datang, juga berdampak terhadap kesejahteraan penduduk sekitar pelabuhan yang rumahnya berada di pinggir jalan raya. Perubahannya adalah ini : Rumah Parkir.

Rumah Parkir

Rumah Parkir

parkir

parkir

Pada tahun 2010, saat saya pertama kali saya menginjakkan kaki pertama kali di pulau lombok. saya hanya bisa parkir di halaman rumah penduduk. Tak ada halaman khusus parkir, tak ada tarif khusus berapa biayanya. Saya ibarat menitip mobil untuk diinapkan di rumah penduduk dengan tarif seikhlasnya. Rumah-rumah penduduk pun masih seperti suasana perkampungan dengan halaman yang semrawut. Sekarang, Rumah -rumah penduduk dipermak menjadi rumah kecil dengan halaman yang luas. Semakin luas halaman parkir, maka semakin banyak potensi pendapatan yang akan diraup. Akhirnya, masyarakat pun berlomba-lomba saling adu luas halaman parkir, saling permak halaman parkir. Rumah Parkir berjejer rapi di sepanjang bibir-bibir pelabuhan. Pagi itu, saya berjalan di jalan bangsal yang tenang, melihat pegawai rumah parkir yang menyapu halaman parkirnya.

Pelabuhan bangsal pagi relatif masih kosong. Kosong dari ruwetnya pelabuhan, kosong dari wisatawan yang hendak menyebrang. Perahu-perahu hanya teronggok di pinggir pantai berpasir hitam. Terombang-ambing oleh deburan ombak yang menghempaskannya. Hanya beberapa pemancing yang sibuk dengan alat pancingnya. Berharap ikan-ikan yang sudi memakan umpannya.

Warna merah jingga berpendar menembus rayuan pohon kelapa. Mentari pagi menyinari Gunung Rinjani masih begitu kokohnya. Menyinari lekuk-lekuk keindahan rinjani.

Gagahnya Rinjani

Gagahnya Rinjani

Saat menjelang sore hari, Pelabuhan Bangsal bersolek diri, para penikmat senja berdatangan ingin melihat sang mentari tenggelam di lautan tepat di samping Gili Trawangan. Perahu-perahu nelayan menghalangi sang mentari. Langit memendarkan warna merah jingga yang mempesona. Awan pun ikut memerah.

Bangsal pun ikut beristirahat menikmati sang senja. Hiruk pikuk pun terhenti. Keramaian tergantikan menikmati keheningan. Perahu-perahu yang sedari tadi siang berlalu lalang mengantarkan para pengunjung Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno juga ikut terhenti. Sang Mentari semakin memendarkan warna jingganya meliputi alam. Terlihat, para pemancing ikan masih sibuk menggerak-gerakkan alat pancingnya. Mereka lah yang paling setia dengan pelabuhan ini. status setia tidak bisa saya sematkan kepada petugas pelabuhan ataupun kepada pemilik kapal yang hilir mudik. Status ini pantas saya sematkan kepada para pemancing di pelabuhan bangsal. Sedari tadi mulai mentari terbit hingga mentari hendak tenggelam, mereka tetap betah setia memancing di anjungan pelabuhan bangsal.

Guyuran Cahaya

Lonely

lonely

Guyuran Cahaya at Sira Beach

Salah satu spot sunrise yang patut kita datangi adalah Pantai Sira (dibaca Sire)- Pantai yan terletak di sebelah timur bangsal. Kurang lebih 3 Km dengan jarak tempuh sekitar 15 menit jika ditempuh dari Bangsal. Pantai yang daratannya paling dekat dengan Gili Air ini dijadikan sebagai jalur pemasangan jaringan kabel Listrik dan Pipa PDAM bawah laut. Jaringan kabel Listrik PLN dan Pipa PDAM ini akan digunakan untuk mensupplai kebutuhan listrik dan air di tiga gili.

Berteduh

Berteduh

Sire begitu orang biasanya memanggilnya. Pantai berpasir putih bersih dengan laut berwarna biru. Masih belum banyak penduduk yang tinggal di pinggiran pantai Sira sehingga pantainya masih perawan dan bersih. Lokasi pantai Sire yang dekat dengan wisata tiga gili membuat Pantai Sira juga mulai banyak bersolek. Pantai ini sudah banyak dipenuhi hotel-hotel berbintang dan Villa pribadi yang berdiri di sepanjang pinggir pantai Sira.

suasana alam yang sunyi sambil membayangkan bisa menginap di salah satu Villa di Pantai Sira. apalah daya. hayalan tinggal hayalan. hayalanku terbawa angin pagi ini.  Sayang, Villa dan penginapan di sepanjang Pantai Sira tidak cocok dengan kantong saya yang tipis.

Anak Gembala Semeti

Bukit Lancing

Bukit Lancing

rumah di puncak bukit

rumah di puncak bukit lancing

 

Musim hujan yang mengguyur di awal tahun menyulap bukit-bukit kering di pesisir selatan lombok. barisan bukit hijau sambung menyambung dari desa satu ke desa yang lain. Dari bukit di desa Gerupuk hingga Selong Belanak. Kami berjalan menaiki dan menuruni bukit di Batu Payung. Perjalanan yang melelahkan karena rombongan kami diserbu seekor kera kelaparan di puncak bukit batu payung. Seekor kera yang keluar dari semak-semak di puncak bukit.

Di bawah panasnya terik mentari, saya menuruni bukit, memandang selayang pandang Pantai Tanjung Aan. Kami hendak menuju ke sebuah perkampungan nelayan di Gerupuk. Kawasan yang sangat dikenal dengan penduduknya yang suka mencari keributan. Kampung yang sering melakukan tindakan subversif kepada pemerintah. Gerupuk sama dengan kata suka ribut. Begitu lah kata yang terpatri dalam otak saya. Istilah “suka ribut” saya dapat dari anak-anak kampung gerupuk yang berjualan kelapa di Batu Payung.Tiba di kampung Gerupuk, Kampung relatif sama dengan kampung nelayan yang lain. Tak ada keributan ataupun pertengkaran. Malah saya ditawari naik perahu. Keributan vs keramahan.

Ini yang membuatnya sedikit berbeda : penyewaan alat surfing. Rumah-rumah Nelayan sebagian di-permak menjadi homestay, café-café sederhana yang menyewakan papan surfing.

Gerupuk memang sedang dirancang untuk tujuan wisata sebagai sebuah kawasan terintegrasi. Pemerintah berusaha mengundang pengusaha-pengusaha baik perusahaan swasta maupun BUMN agar ikut memajukan kampung nelayan dan sekitarnya ini. Tujuannya satu Menggaet wisatawan yang hobby dengan dunia surfing. Lokasi surfing berada di balik daratan yang melingkar ini. untuk menuju lokasi surfing ini kita harus menyeberang menggunakan perahu nelayan yang bersandar di pesisir pantai. Kampung yang dulunya totally adalah nelayan bertransformasi menjadi guide dan berbagai profesi yang berkaitan dengan wisata.

Kampung Nelayan Gerupuk

Kampung Nelayan Gerupuk

Matahari semakin terik. Angin sepoi-sepoi menerpa wajah. Perjalanan belum berakhir. Semangat untuk mengunjungi pantai Semeti tak surut sekalipun. Kami siap menembus jalanan puluhan kilometer menuju pantai Semeti. Jalanan beraspal di tengah tengah pedesaan. Desa-desa pesisir selatan yang dulu terisolir oleh luasnya hutan dan minimnya infrastruktur sudah mulai menggeliat. Hotmix jalanan membelah di antara sawah dan bukit. Begitu kontras. Ibarat garis hitam membelah hutan.

Kerbau-kerbau berbaris rapi menepi di pinggir jalan dengan seorang pengembala yang memegang kayu kecil di tangan kanannya. saya tertegun pada sebuah bukit hijau dengan bangunan kecil mungil di puncak bukit. Saking kecilnya bangunan tersebut, saya harus memperbesarnya dengan cara melihat melalui kamera. Lensa tele 75-250 saya keluarkan. Semakin jelas lah wujud sebuah gubug sederhana yang atap-atap berwarna kecoklatan di tengah padang rumput hijau.

Hembusan angin menerpa wajah. Saya berdiri di antara hembusan dua angin tersebut. Angin laut dan angin gunung. Pantai Lancing dan Bukit Lancing. Saya berdiri jalanan beraspal yang sepi dan sunyi. Tak ada hilir mudik, hanya kumpulan kerbau-kerbau yang berlalu begitu saja.

Beberapa menit menunggu, Saya masih berdiri mematung di sini. Tak ada suara, sunyi, senyap. Ada rasa khawatir. Bagaimana kalau ada orang jahat ingin mencelakai saya, batinku. Ku alihkan wajahku pada sebuah bangunan mungil di puncak bukit itu.

Akh siapa yang hendak tinggal di puncak bukit itu. Tak ada akses ataupun jalan setapak. Hanya rerumputan hijau membentang luas. Itulah rumah yang biasanya digunakan untuk penampungan rumput-rumput yang sudah kering. Rumput menjadi bahan utama pembuatan atap-atap rumah khas Lombok yang terbuat dari bahan rumput. Rumput juga sering digunakan untuk atap gazebo atau berugak.

Saat kemarau tiba, bukit-bukit seketika menjadi primadona. Penduduk desa pun bergembira mengumpulkan rumput-rumput. Bukit-bukit digunduli hingga tak bersisa. Nampak seperti padang yang kecoklatan. Rumput-rumputnya dikumpulkan, diikat dalam satu ikatan. Rumput-rumput yang hendak dijual biasanya dijejer di pinggir jalanan Lancing.

Saat kemarau bukit-bukit yang kehijauan tergantikan oleh bukit-bukit gundul kecoklatan.

Kampung itu dikelilingi bukit-bukit hijau. Terkurung dalam barisan bukit yang membentuk setengah lingkaran. Kampung itu terdiri dari beberapa rumah. Terlihat dari jalanan menuju semeti. Di ujung sana, perbukitan hijau selalu menghiasinya. Rumput hijaunya tak seragam seperti bercak-bercak hijau muda di tengah padang ilalang. Akh bercak-bercak itu bekas-bekas bukit yang digunduli di saat musim kemarau.

Aku dan anak Gembala

Kampung Semeti yang terkurung

Kampung menuju Semeti yang terkurung

Biawak saat menuju semeti. sumber foto: wikipedia

Biawak saat menuju semeti. sumber foto: wikipedia

Teriknya matahari tak mengendorkan semakin saya dan beberapa kawan saya untuk melihat pantai semeti yang tak jauh dari pantai Mawi. Jika diurut dari selong belanak, maka pantai semeti berada di urutan ketiga setelah pantai Mawi. Jaraknya dekat tapi karena harus memutari bukit-bukit yang mengelilinginya, jarak tempuhnya lebih jauh.

Pantai Semeti berbatasan dengan samudra Hindia. Pantai berpasir putih dengan ombak yang lumayan besar membuat deretan pantai di pesisir selatan ini cocok untuk olahraga surfing. pasirnya berbentuk bulat-bulat kecil. Selong Belanak dan Mawi yang berada tak jauh dari Semeti dijadikan menu wajib untuk surfing. Selong Belanak yang pantainya relatif landai sering digunakan latihan surfing bagi yang ingin belajar surfing. Sedangkan pantai Mawi bisa disebut sebagai salah satu pusat surfing.

pengunjungnya rata-rata adalah para surfer profesional dan semuanya turis. Roda kehidupan di kedua pantai yang bersisian ini di mulai sejak pagi hingga sore hari. Menjelang malam, pantai mawi dan Semeti hanya menjadi pantai Mati dan tak berpenghuni. Sunyi, senyap sekaligus menakutkan. Kedua pantai ini sudah dimiliki para pemodal. Ntah sejak kapan kawasan yang memiliki pantai indah ini berpindah tangan ke swasta.

Di depan pantai Semeti, ada sebuah pulau kecil. Gili Anakewok namanya. Bentuknya cukup unik seperti batuan mengerucut yang diapit oleh dua batuan yang lebih besar. Panasnya terik matahari bisa menggosongkan kulit. Merehatkan badan sejenak di salah satu berugak merupakan menu wajib untuk menghindarkan dari teriknya mentari semeti. Berugak ini merupakan berugak satu-satunya yang berada di Pantai Semeti. Di kala siang, berugak ini menjadi rebutan tempat berteduh merasakan desiran angin sepoi-sepoi angin laut. Berugak adalah tempat Ishoma (istirahat, Shalat, Makan). Jangan tanya warung makan di sini. Selain itu, berugak ini sering difungsikan sebagai springbed ala nelayan di saat mereka menginap menjaring ikan di daerah semeti.

Tebing Semeti

Tebing Semeti

Gagahnya langit

Gagahnya langit

Bekal harus dipersiapkan. Botol minuman harus selalu sedia. Jangan sampai tidak membawa. Bisa-bisa kehausan setelah menikmati indahnya pantai Semeti. jangan sekali-kali mencontoh saya yang bekal minumannya sudah habis sebelum tiba di semeti. Padahal hausnya ampun-ampunan. Berjalan di pasir yang berat plus menaiki bebatuan semeti sungguh mengeringkan tenggorokan saya. Tak hanya itu, untuk pulang dari semeti, Saya harus berjalan sejauh satu kilo di bawah teriknya mentari. Seorang anak ingusan mendekati dan menawarkan minumannya kepada saya.

Mas mau minum, katanya. Akh beruntung ada bocah kecil ini, tapi saya berpikir ulang karena airnya tinggal sedikit.Buat adik aja, kataku. Udah, ambil saja kak. Saya sudah minum tadi kak, katanya sambil menyodorkan minuman ke arahku. Ya boleh terima kasih, ucap saya sambil mengambil botol minuman yang disodorkan ke saya. Bocah kecil ini namanya Agus Effendi Jayadi kelas 5 SD.

Wajahnya tegar, pembawaanya begitu riang, dan jalannya cepat. Karena jalannya yang cepat, akhirnya saya mengajak adu jalan cepat. Tak disangka, jalannya bisa menyamai saya. Agus sering membantu wisatawan dengan menjadi guide cilik dengan cara mengantar tamu-tamu yang ingin mengunjungi semeti. Tamu-tamu itu lah yang memberikan imbalan kepada Agus.

pantai Semeti

pantai Semeti

Gili Anakewok

Gili Anakewok

Anak desa dilatih untuk berjalan cepat begitu dengan agus. Agus sudah terlatih jalan cepat. saya terpaksa harus mengimbanginya dengan cara berjalan setengah berlari.

Orang tuamu dimana dek, kataku. Bapak Saya sudah meninggal kak. La trus adik tinggal sama ibu, kataku. Ngak kak saya tinggal bareng dengan paman kak.

Ibu saya menikah lagi trus sekarang tinggal di Selong mas, lanjutnya.

Agus tinggal seorang diri di rumah sederhananya. Di sebelah rumahnya ada rumah pamannya. Kegetiran hidup tidak membuat menangisi kisah hidupnya atau bermanja ria sebagaimana anak-anak seumurnya. Kegetiran hidup telah menempanya menjadi manusia yang mandiri. Dalam usia yang masih tergolong muda (12 tahun) agus sudah memiliki 3 kerbau besar dari hasilnya sendiri.

Kemiskinan, kegetiran, kurangnya kasih sayang membuat agus lebih dewasa. kesedihan hidup tidak harus bersedih. Dia menyikapi kegetiran hidup dengan cara bekerja keras. Agus sama sekali tidak ingin menampakkan kesedihannya kepada saya. Dalam obrolannya, dia selalu memberikan aura kegembiraan, Senyum tulus dan antusiasme.

Agus tidak ingin manja karena memang tak ada tempat bermanja. Dia tak ingin mengeluh. Apa yang bisa dikerjakan, kerjakan. Jangan Jadi guide cilik, ngangun 3 kerbau pun dilakoninya dengan senang hati. Agus tidak serta mendapatkan rejeki nomplok langsung mendapatkan kerbau saja. Perlu kerja keras dan ketekukan dan pantang nyerah.

Awalnya, dia memelihara anak kerbau milik orang lain. Satu tahun dua tahun pun berlalu. Dia melakoninya dengan penuh kesabaran. Karena ketekunananya lah dia akhirnya mendapatkan seekor anak kerbau dari pemilik kerbau. Satu kerbau kemudian beranak pinak hingga sekarang menjadi 3 ekor.

Perjalanan kami terhenti saat agus ditawari kelapa oleh penduduk kampung. Dia langsung didaulat menaiki pohon kelapa. Dalam sekejap dia sudah bertengger di atas pohon kelapa muda, memetiknya dan menjatuhkannya ke ladang. Dia kemudian bersama-sama petani lain berbagi kelapa segar yang baru dipetiknya. Saya pun ditawarinya. Kak mau minum, katany. Saya hanya menjawab dengan gelengan kepala walau tenggorokanku masih terasa haus.

Saya berencana mampir shalat di rumahnya. “Rumahku di sana kak, dibawah pohon besar itu”. Kami berpisah. saya bergegas mengambil sepeda. Agus bergegas bawa kerbau. Dalam sekejap agus sudah melesat ke sela-sela sawah.

Sebuah gubug sederhana terbuat dari bedeg yang tak terawat. Gubug untuk berteduh dari derasnya hujan dan teriknya mentari. Sebuah gubug yang sangat sederhana dan tak berperabot lengkap. di depan rumahnya, ada sebuah berugak (langgar) sederhana -tempat bercengkrama ala sasak. Agus datang dengan membawa seorang wanita seumurannya. Saya langsung dipersilakan untuk mengambil air wudhu yang ada di samping berugaknya.

Haus dibawah teriknya mentari

Haus dibawah teriknya mentari

Agus dan rumahnya

Agus dan rumahnya

Aku pun disuruhnya shalat di dalam rumah sederhananya. Sebuah sajadah lusuh dihamparkan di atas tanah liat. Bau pesing melintas saja masuk ke dalam hidung. saya memandangi isi rumah yang berupa tumpukan-tumpukan yang diselimuti debu. Sederhana.

Shalat pun ditegakkan di rumah anak yatim doa pun ku panjatkan. “ya Allah, berkatilah pemilik rumah ini.” Di dalam rumah ini, saya menemukan kepolosan dan ketulusan.

Selesai shalat, saya langsung diajaknya berkeliling di sekitar pekarangan rumahnya. Wajahnya yang selalu riang dengan senang hati menunjukkan seisi pekarangannya. ditunjukkannya kandang terbuka yang penuh kubangan lumpur yang berada di depan rumah pamannya, diperlihatkannya dapur terbuka yang berada di samping rumahnya. Semua dalam kesederhanaan dan kebersahajaan.

Sang anak Gembala

Sang anak Gembala

Melihat riangnya agus saya jadi teringat sebuah lagu karya A.T Mahmud

Aku adalah anak gembala
Selalu riang serta gembira
Karena aku senang bekerja
Tak pernah malas ataupun lengah

Tralala la la la la..
Tralala la la la la la la..
Tralala la la la la…
Tralala la la la la la la..

Setiap hari kubawa ternak
ke padang rumput di kaki bukit
rumputnya hijau subur dan banyak
ternakku makan tak pernah s’dikit

Tralala la la la la..
Tralala la la la la la la..
Tralala la la la la…
Tralala la la la la la la..

Polos, ceria dan bersemangat. Itu lah karakter yang saya liat dalam diri Agus. Bahkan saat saya hendak memfoto dirinya bersama kerbau, dia melepas baju dan menaiki kerbaunya dengan polosnya. Bahkan, dia melakukan berbagai macam gaya dan atraksi diatas seekor kerbau itu. Akh saya tertawa dibuatnya. wajah cerianya tak menandakan bahwa dia hidup sebatangkara.

Kak kapan ke sini lagi, katanya saat saya hendak meninggalkan rumahnya. Mungkin dia seneng ada temen mainnya. Setidaknya ada yang moto saat menggembala kerbau. Ternyata kebahagiaan itu begitu sederhana. Cantiknya pantai semeti menjadi tak berarti bagi saya. Bertemu dengan agus sang anak gembala itu lah kebahagiaan yang sebenarnya. Sungguh beruntung saya bisa bertemu dengan agus.

Ayo kak kapan ke sini, ucapnya lagi menunggu jawaban kepastian dari saya. Minggu besok kak?… ibanya setengah berharap. wahhh ngak lah dek…kapan-kapan kalau ke sini lagi, insaalloh kaka mampir, kataku. Jujur saya ingin menemaninya. Setidaknya bisa menemani kesendiriannya. Ntar kalau kakak ke sini lagi, saya ambilkan kelapa muda, katany. Kalau kaka mau sekarang, saya ambilkan sekarang kak, lanjutnya. Terima kasih dek kapan-kapan saja, kataku sambil berlalu meninggalkan agus dan gembalanya.

Kandang Kerbau

Kandang Kerbau

Agus, sang anak gembala

Agus, sang anak gembala

Begerusuk melihat Air Terjun di Pantai Nambung

Begerusuk ke Nambung

Terjangan ombak di Pantai Nambung

Terjangan ombak di Pantai Nambung laksana air terjun

Saat saya dan bersama rombongan tiba di pinggiran pantai Nambung, langit tepat di atas kami yang bersinar terik tak terhalang oleh awan-awan yang beriringan. Setelah menempuh perjalanan 2.5 jam dari mataram, petualangan ke salah satu sudut pulau Lombok akan dimulai. Nambung begitu orang mengenalnya. Dusun Nambung yang hampir terlupakan di perbatasan Lombok Barat. Kampung Nambung termasuk dalam wilayah Mawun Mas, Sekotong, Lombok Barat yang langsung berbatasan dengan Lombok Tengah. Ini lah garis batas yang sesungguhnya. Barisan Bukit-bukit hijau dengan pantai-pantai berpasir putih membentang merupakan garis batas kampung Nambung. Garis Pantai Nambung bersambung dengan Pantai Pengantap kemudian berujung pada sebuah bukit. Dua pantai ini berbentuk cekung –tipikal pantai-pantai di Lombok yang di setiap ujung pantai biasannya berbukit. Di balik bukit di ujung pantai pengantap bersambung dengan kawasan-kawasan wisata yang masih perawan, Pantai Meang dan Pantai Jurang Maling dan Teluk Sepi.

Dari barisan-barisan bukit-bukit yang menjadi pembatas Lombok Barat dan Lombok Timur, tersembul kawasan teluk sepi yang selalu mencerminkan kesepian dan ketenangan di balik bukit-bukit pengantap. Ketenangan dan kesepian, kehampaan begitu sangat kental terasa di kawasan teluk sepi yang dikelilingi bukit-bukit hijau ini. Dari bukit garis batas ini, saya menyaksikan barisan pantai berpasir putih dengan warna laut Toschanya. Cekungan pasir putih pantai Pengantap dan Penambung.

Pengantap dari bukit

Pengantap dari bukit

Di puncak Bukit, tiang-tiang Pembangkit Listrik Tenaga Angin berputar kencang yang berasal dari angin Laut pantai Nambung dan Pantai Pengantap yang langsung menghadap ke Samudra Hindia itu. Tiang-tiang kincir angin berukuran kecil menjadi pemandangan mencolok dibandingkan dengan bukit-bukit lain di daerah sekotong. inilah Pembangkit Listrik Tenaga Angin yang pertama kali saya liat secara langsung. Saya melambatkan motor saya yang menuruni bukit, melirik barisan pembangkit listrik itu. Ada rasa ingin tau melihat keadaan kampung pengantap di ujung bukit at least mengabadikan satu-satunya PLTA di Lombok ini. Tapi, rasa khawatir dan rasa takut ditinggal teman-teman rombongan yang menuruni perbukitan. Tiang dan putaran kincir menjauh kemudian menghilang ditelan bukit-bukit sekotong yang hijau

Teriknya sinar mentari menyinari kampung Nambung yang berbatasan dengan pantai ini. Di Kampung Nambung, beberapa pemuda memakai pakaian adat berupa sarung sebetis yang dililitkan ke pinggang. Acara Nyangkolan-pernikahan ala Lombok dengan iringin lagu-lagu sasak dipadu dengan tarian gendang Belek yang selalu mengiringi pernikahan adat sasak. Hakikat Nyangkolan adalah memperkenalkan kedua mempelai kepada masyarakat dengan cara diarak di jalanan. Pemuda-pemudi berhias untuk mengiringi acara nyangkolan dengan cara berjoget dan bernyanyi.

memandang ke segala arah di pantai Nambung

memandang ke segala arah di pantai Nambung

Nyangkolan sudah menjadi tradisi dan identitas. Nyangkolan salah satu adat wajib yang selalu ada di pernikahan-pernikahan adat lombok. Akhir-akhir ini,acara Nyangkolan yang berfungsi sebagai sarana mempertahankan adat dan kebudayaan itu berubah sarana hiburan yang lebih modern. Suara Sound System membahana mengalahkan alunan gendang. Lagu-lagu sasak tergantikan dengan lagu-lagu dangdut dari jawa. Identitas dan tradisi masih bertahan dengan subtansi budaya yang bergeser. Kecimol, begitu orang mengistilahkannya. Budaya dan lagu-lagu saya yang sudah modifikasi.

Budaya Nyangkolan menjadi salah satu hiburan bagi warga di Desa Nambung yang dikelilingi bukit-bukit menghijau. Termasuk bagi Pak Muhnam yang tak pergi menambang emas di puncak-puncak bukit sekotong.

Daya Tarik Sekotong

Salah satu tambang rakyat di Mawun Lombok Tengah

Salah satu tambang rakyat di Mawun Lombok Tengah

Beberapa tahun terakhir sekotong mulai dikenal sebagai salah satu tujuan wisata di pulau Lombok. Hendak menyaingi kawasan Trio Gili di Lombok Utara yang sudah terlebih dahulu dikenal. Sebelumnya Gili Trawangan termasuk bagian dari Lombok Barat. Sejak tahun 2008, Lombok Barat dipecah menjadi Lombok Utara dan Lombok Barat. Sejak saat itu, Lombok memfokuskan diri untuk mengembangkan kawasan gili-gili di sekitar sekotong. Gili Nanggu, Gili Sudak, Gili Tangkong, dan Gili Kedis dirancang untuk menggaet wisatawan. Investor diundang untuk berinvestasi di sekotong. Sebuah Resort dibangun di Gili Nanggu. Terdengar kabar rumor bahwa pulau ini hendak dijual.

Dalam sepuluh tahun terakhir, banyak perubahan-perubahan di daerah wisata sekotong. Tempat-tempat wisata dipromosikan. Investor-investor baru digaet untuk membangun pesisir barat Lombok. Dalam sepuluh tahun terakhir, Lombok tidak hanya mengundang industri wisata, tapi juga industri pertambangan. Bukit-bukit sekotong di Lombok Barat diduga mengandung emas dan Tembaga sebanyak 1.500an Ton. Kabar ini berawal dari explorasi yang dilakukan PT Newmon Nusa Tenggara, PT. NNT pada tahun 1980an. Kabar itu pun menyebar. Gubernur NTB langsung mengantisipasi penemuan itu dengan menerbitkan peraturan daerah no. 11 pada tahun 2006 tentang RTRW (Tata Ruang dan Wilayah) yang membatasi persetujuan penambangan. Pemprov Lombok ingin melindungi pulau lombok sebagai kawasan bebas industri pertambangan skala besar.

Kabar bukit-bukit sekotong yang mengandung emas menyebar ke berbagai pelosok. Menyebar hingga menembus batas-batas pulau lombok hingga ke Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Ribuan orang berdatangan dari berbagai daerah untuk mengambil potongan batu-batu emas di sekotong. Larangan penambangan tak diindahkan. Hutan-hutan ditebas, Bukit-bukit digali, ladang-ladang mulai beralih fungsi menjadi lahan-lahan emas. Bukit-bukit menjadi gundul. Masyarakat bersama dengan para pendatang bersama-sama menggali potongan batu-batu emas dengan peralatan sederhana seperti Linggis dan karung. Masyarakat beralih dari yang awalnya berprofesi sebagai petani dan nelayan mulai beralih profesi menjadi penambang-penambang emas. Masuk ke hutan ke luar hutan. Menggali puluhan hingga ratusan meter mencari batu-batu emas. Membuat lorong-lorong tikus ukuran manusia dewasa.

Sejak maraknya penambangan liar, menurut data dari pemerintah kabupaten Lombok Barat ada puluhan orang yang sudah tertimbun karena longsor lorong-lorong tikus para penambang Liar.

Penunggu batu Nambung

Penunggu batu Nambung

Tak tahu ntah bagaimana, PT NNT pun seakan tak mau ketinggalan untuk membancak bukit emas di sekotong, Lombok Barat. Perusahaan PT. Indonesia Tambang (Indotan) didirikan, anak perusahaan PT Newmont Nusa Tenggara. Aturan pembatasan penambangan berskala besar mungkin sudah direvisi menjadi pembolehan penambangan skala besar. PT Indotan mulai mengerahkan alat-alat berat di daerah Kedaro, Sekotong. Datangnya alat-alat berat milik PT Indotan menyulut keresahan dan kemarahan masyarakat sekotong. Mereka takut mata pencaharian mereka berkurang. Masyarakat sekotong yang dulu berprofesi sebagai petani dan nelayan benar-benar sudah bertransformasi menjadi penambang. Emas menjadi mata pencahariannya. Tak pelak masyarakat pun mulai melakukan perlawanan-perlawanan ringan hingga perlawanan berat. Puncak kemarahan warga terjadi pada tahun 2011 dengan cara membakar peralatan berat yang dimiliki oleh PT. Indotan yang berinduk di Amerika itu.

Para pembakar ditangkap oleh aparat kepolisian. Warga masyarakat berusaha membebaskan kawan seperjuangan. Warga berunjuk rasa meminta kebebasan atas teman-temannya. Unjuk rasa pun berlanjut saling serang antara warga dan aparat kepolisian. Batu-batu dilemparkan. Dua kubu saling serang. Tembakan peringatan dikeluarkan. Unjuk rasa berujung maut. Salah seorang warga terkena tembakan. Meninggal dunia di ujung peluru. Warga Masyarakat Vs aparat. Semuanya berawal dari sebuah beroperasinya alat berat penambangan emas oleh PT Indotan.

Ketika Para Pemilik Pemodal masuk ke Pelosok-pelosok desa di Lombok

perkampungan Nambung yang tak berhasil digusur oleh aparat

perkampungan Nambung yang tak berhasil digusur oleh aparat

Di pinggiran pantai Nambung, saya menghampiri sebuah rumah milik pak Muhnam, salah seorang penambang emas. Di depan teras rumahnya, dia bersandar pada sebuah tiang rumahnya. Mulutnya tak berhenti mengunyah daun sirih yang bercampur pinang. Bibir dan giginya memerah seperti sedang bergincu dengan daun-daun sirih. Dalam diamnya wajahnya selalu memancarkan wajah ceria. beberapa pertanyaan saya terkait dengan kampung Nambung dijawab dengan tuntas termasuk terkait dengan wisata Pantai Nambung. Dia menghela nafas panjang. Kemudian mulutnya membuka dan kata-kata itu keluar juga “Bukit-bukit itu sudah dibeli orang asing mas,” katanya padaku sambil tangannya menunjuk bukit-bukit yang sudah berpindah kepemilikan. Saya hanya bisa mengelus dada. “Bukit-bukit ini sudah dibeli orang asing atas nama penduduk warga di sini,” katanya berusaha menjelaskan lebih jauh tentang bukit-bukit yang mengelilingi perkampungan mereka.

Di Indonesia, Orang asing tidak diberi kebebasan untuk memiliki tanah. Pihak asing tak kekurangan akal. Tanah-tanah yang dibeli oleh orang asing diatasnamakan kepada para penduduk yang dipercaya atau para tuan tanah yang bekerja sama dengan orang asing tersebut. Jadilah tanah-tanah yang secara substansi dimiliki pemodal asing tersebut, tapi secara formal dimiliki oleh warga atau para tuan tanah.

Berteduh

Berteduh

“Bapak harus siap-siap pak, kalau bukit-bukit itu sudah dimiliki oleh asing. Lambat laun rumah pak Muhnam dan penduduk sekitar akan diincer untuk dibeli asing juga loh pak,” kataku berusaha meyakinkan pak Muhnam. “Kalau bapak diusir dari sini emang bapak mau pindah kemana?. Sebaiknya tanah-tanah yang bapak miliki harus segera disertifikasi. Agar hak kepemilikan atas tanah yang bapak tempati menjadi berkekuatan hukum,” imbuhku berusaha sok menasehati.

Tebakanku terhadap kampung Nambung ternyaan bukanlah dugaan belaka. Ternyata, Pihak asing sudah berusaha membujuk mereka agar mereka mau pindah ke tempat lain. Dengan wajah tenangnya, Pak Muhnam membetulkan punggung yang bersandar pada sebuah tiang di terah rumahnya. “kampung kami ini sudah didatangi aparat mas beberapa bulan yang lalu. Mereka hendak mengusir kami dari kampung kami. Tapi alhamdulillah, kami punya bukti bahwa tanah kampung ini menjadi hak kami, aparat-aparat tidak berhasil mengusir kami.” Pak Muhnam berkali-kali menjelaskan kembali kepada saya bahwa Mereka (aparat dan Asing) tak mungkin bisa mengusir kami mas, kami punya bukti,” imbuhnya.

Dalam hati aku sedikit bersyukur bahwa mereka sudah mempersiapkan semuanya. Sebuah kampung mungil di pinggir pantai berpasir putih yang dikelilingi bukit-bukit yang sudah berpindah kepemilikan kepada para pemilik modal. Berkaitan dengan kepemilikan hak atas tanah-tanah di pinggir pantai. Lombok menjadi surga untuk para pemilik modal. Tak jauh dari pantai nambung, ada kawasan teluk mekaki yang juga sudah dikuasai para pemilik modal. Para pengunjung tak bebas lagi berlenggang menikmati panorama alam yang ditawarkan pulau lombok atau seperti Tanjung Bloam, Lombok Timur yang menjadi kawasan private itu. Benarkah panorama-panorama indah hanya dinikmati oleh para kaum proletar. Pengunjung umum tak bisa lagi untuk sekedar menginjakkan kaki di kawasan Tanjung Bloam. Kawasan bloam sudah dikuasai oleh pengelola resort Jeeva Bloam. Yang bisa berkunjung ke sana hanya golongan orang-orang yang cukup mampu untuk mengambil sedikit recehan menikmati deburan ombak di sebuah resort yang berada bukit-bukit Tanjung Bloam.

Hikmah Pemilihan Kepala Desa di Nambung

Pak Muhnam bersama anaknya duduk di depan teras rumahnya

Pak Muhnam bersama anaknya duduk di depan teras rumahnya

Kampung Nambung mempunyai cerita. Cerita pemilihan kepada desa yang menyebabkan Desa Nambung terang benderang. Demokrasi sangat membekas di kampung ini. Bahkan Demokrasi ikut berperan terhadap terang tidaknya kampung yang dikelilingi perbukitan ini. Perang janji kampanye antar kepala desa ternyata cukup berpengaruh terhadap kampung Nambung. Rumah-rumah di Desa Nambung sudah teraliri listrik PLN sejak empat tahun lalu. Herannya di kampung sebelah, Pengantap. ada sebuah PLTA yang berada di puncak bukit.

“Dulu, di sini juga menggunakan PLTA juga mas,” Kata pak Muhnam kepada saya. Wahhhh keren dunk pak menggunakan PLTA, kataku . lebih lanjut pak Muhnam menceritakan asal muasal kampung Nambung ditinjau dari kelistrikannya. Dulu, sebelum periode pemilihan kepala Desa yang sekarang. Nambung terkenal dengan sebutan kampungnya PLTA. Tiang-tiang PLTA berbaris rapi di puncak-puncak bukit Nambung kemudian listrik-listriknya dialirkan ke kampung-kampung penduduk Nambung. kampung yang gelap pelan-pelan terang-benderang dengan aliran listrik kincir angin. Tiang-tiang Kincir Angin bukan berasal dari PLN tapi berasal dari janji-janji kampanye politik kepada desa di Nambung. Delapan tahun kepala desa terpilih menjabat Kepala Desa, delapan tahun pula Kincir Angin menerangi kampung Nambung.

Pemuda-pemuda Nambung berpakaian adat u acara Nyangkolan

Pemuda-pemuda Nambung berpakaian adat u acara Nyangkolan

Tiang-tiang Kincir angin itu sekarang sudah tak berbekas lagi. Satu pun tak ada penduduk yang menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Angin. Tiang-Tiang kincin angin itu berubah menjadi tiang-tiang listrik jaringan PLN. Demokrasi juga lah yang mengubah tiang-tiang kincir angin menjadi tiang-tiang listrik. Kepala desa yang terpilih sekarang menjanjikan akan mengganti tiang-tiang kincir angin yang green energy dengan tiang-tiang jaringan kabel PLN.

Jika kampung Nambung punya cerita dengan tergantikannya tiang-tiang kincir angin dengan tiang listrik PLN. Maka Pengantap punya cerita dengan tiang-tiang kincir angin yang berada puncak bukit pengantap. “akh sebentar lagi, kincir-kincir angin juga akan dipindah pak ke daerah meang yang juga belum teraliri listrik, kata pak Muhnam kepada saya. Rupanya, di daerah sekitar Nambung ini masih ada beberapa desa yang juga belum merasakan terangnya listrik. Alasan dipindah mungkin karena daerah pengantap sudah teraliri listrik PLN walaupun daerah puncak bukit itu lumayan jauh dari jalur PLN. Meang memang susah dijangkau dengan jaringan PLN. Alasan utamanya adalah medan berat menuju Meang.

Flashback ke setahun Lalu di Pantai Nambung

Beberapa tahun lalu pantai-pantai di pesisir barat ini terlalu perawan sekaligus rawan. Tak ada atau jarang para pengunjung bersusah payah hanya untuk memburu pantai di ujung barat sini. Pak Muhnam membenarkan bahwa pantai ini begitu sepi. Mungkin hanya beberapa saja yang memang bertujuan mengunjungi pantai di pesisir selatan lombok. “Akh Dulu siapa mas yang mau ke pantai Nambung ini,” keluh pak Muhnam kepada saya. Sejak setahun terakhir pantai Nambung memang mulai dikenal dan banyak dikunjungi wisatawan. usut punya usut ternyata pantai Nambung bukan mengalir begitu saja.

Bukit-bukit Nambung

Bukit-bukit Nambung

Setahun lalu, Pantai Nambung bagian dari pantai yang terlupakan. Setahun lalu, tiga wisatawan datang ke Nambung. “Setahun lalu, ada 3 wisatawan datang ke sini, dua nya bule, satunya dari cina. Mereka datang ke sini minta ditemanin ke ujung pantai pantai Nambung,” kata Pak Muhnam kepada saya. Tepatnya sih saya ngak tau. Seingat saya, mereka datang bertepatan dengan pembangunan rumah ini, kata pak Muhnam kepada saya sambil menunjukkan rumah bertembok yang berada di depan rumah lamanya. Lalu apa yang menjadi daya tarik di ujung pantai nambung hingga wisatawan minta dianterin ke sana. Bukan kah di ujung sana hanya batu-batu besar yang terlihat samar-samar. Justru barisan batu-batu cadas yang diterjang oleh ganasnya ombak samudra Hindia yang menjadi daya tarik pantai Nambung. Saat ombak besar datang menghantam batu-batu, seketika ombak menghambur ke atas kemudian turun mengaliri bebatuan. Pemandangan Air terjun Air Asin nampak di depan mata. Seketika bidikan kamera diarahkan secepat mungkin ke “Air Terjun Air Asin”. Batuan-batuan cadas hitam seketika berubah wahana menjadi kawasan air terjun. Ini lah keunikan dari ujung pantai Nambung.

Pemandangan Air Terjun Air Asin inilah yang diabadikan oleh turis-turis asing dan kemudian menunjukkannya kepada pak Muhnam “bapak liat Foto ini, sebulan lagi foto-foto ini akan dimuat di majalah,” kata pak Muhnam menirukan turis yang datang setahun yang lalu itu. Sayang, bapak Muhnam tidak ditunjukkan di majalah apa dan dimana foto-foto air terjun Nambung akan dimuat?.

Rupanya turis asing tidak hanya ingin memamerkan keindahan Air Terjun Air Asin yang dibidiknya, namun dia juga sudah membeli bukit-bukit yang mengelilingi kampung Nambung. Bahkan, sang turis hendak membeli kampung pak Muhnam. Aparat dikerahkan untuk memindahkan kampung Nambung. Sayang, penduduk nambung tak mau dipindah dan memang begitulah seharusnya. Setahun telah berlalu. Nambung sudah tidak sesepi dulu. Wisatawan domestik mulai berdatangan ingin melihat Air Terjun Air Asin tersebut. Sejak kunjungan wisatawan luar negeri yang kemudian membeli bukit-bukit nambung, Nambung kebanjiran tamu-tamu wisatawan. Halaman-halaman rumah penduduk menjadi lahan parkir dadakan. Retribusi parkir mengalir kepada rumah-rumah yang halaman rumahnya dijadikan lahan parkir.

Begerusuk di Nambung

Tanaman Rumput laut di Pantai Nambung

Tanaman Rumput laut di Pantai Nambung

Ngobrol bersama pak Tahir di salah satu berugak

Ngobrol bersama pak Tahir di salah satu berugak

Siang ini, Matahari bersinar begitu teriknya. Tak ada awan hilir mudik sekedar untuk mengurangi panasnya. Saya bersama rombongan hendak menyusuri pesisir pantai nambung. Terlihat beberapa rumput laut kering berbentuk persegi. Teriknya matahari tak menghalangi banyak jumlahnya pengunjung. Media sosial ikut andil dalam mempromosikan pantai Nambung. Nambung menjadi Tren. Wisatawan-wisatawan hanya punya satu tujuan ketika menuju Nambung yaitu “Air Terjun Air Asin”.

Air terjun

Air terjun

Pengunjung Nambung berjalan beriringan hendaknya menuju surga dengan melalui siratul multaqim. Menuju ke arah yang sama, jalan yang sama. Berpanas-panasan bersama demi sebuah air terjun. Berteduh dari sengatan mentari di siang hari di ujung selatan Lombok sebuah keniscayaan. beberapa pengunjung berteduh di pinggir-pinggir pantai. Semak-semak yang biasanya sepi seketika menjadi rame tempat berkumpulnya orang-orang yang ingin menikmati pantai tanpa merasakan panasnya terik matahari. Sebuah Batu besar berdiri kokoh di ujung pantai berpasir putih. Naluri kemanusiaan saya dan kawan-kawan muncul “kenapa kita tidak berteduh saja sejenak merasakan hembusan angin laut. berteduh dari sengatan sinar mentari di bawah bebatuan besar yang ditumbuhi pepohonan adalah kenikmatan sendiri. semilir angin laut menyapu bebatuan, membilas wajah-wajah yang kecapean. Seteguk air masuk dalam kerongkongan yang kehausan dengan semilir angin laut. Akh seakan tak mau beranjak dari teduhnya bebatuan

Berteduh sejenak di bawah bebatuan pantai Nambung

Berteduh sejenak di bawah bebatuan pantai Nambung

Pantai berpasir berubah berganti pantai berbatu. Gemuruk ombak yang tenang semakin menderu-deru menerjang sang batu. seketika hamburan sang ombak membentuk air terjun kecil menggelayuti batu-batuan karang. Sebuah “komplek” pantai-pantai berbatu di ujung Nambung membuat daya tarik tersendiri. Airnya yang tenang dan bening. Lumut-lumut berwarna hijau menjadi background sang air. Komplek ini dikelilingi oleh batu-batu besar yang langsung menghadang sang ombak. Gumpalan gemuruh ombak pecah seketika menghantam karang. Air jatuh membilas sang karang kemudian mengalir ke dalam komplek pantai berbatu. Ikan-ikan kecil berenang di sela-sela bebatuan yang ditumbuhi terumbu karang.

Di ujung pantai, berdiri batu karang tinggi menjulang bertahan dari terjangan ombak samudra. Beberapa beriringin Wisatawan masuk melalui lorong-lorong batu menuju pusat air terjun itu. Semua terpaku dan menunggu sang ombak. Akh ini seperti hendak menunggu permainan sirkus saja. Lima menit berlalu, sang pemain juga belum muncul. Pengunjung kecewa. 10 menit telah berlalu, sang lakon juga tak menunjukkan batang hidungnya. Hanya gemuruh ombak yang menderu-deru. Sesekali terdengar seperti suara kerbau yang sedang bernafas. Pengunjung pun makin kecewa. Harap-harap cemas. Beberapa beberapa pengunjung berdiri di ceruk bebatuan. Mata memandang ke arah yang sama. Suara gemuruh itu datang lagi. Kali ini suaranya lebih keras lagi. Byurrrr………. Mata dan pandangan menuju ke sebuah batu. Berbagai jenis kamera serempak membidik objek yang sama. jeprat jepret… berbagai macam gaya foto ditampilkan, selfie, dan lain-lain. 15 menit berlalu. Air terjun ini muncul setelah 15 menit penantian.

Suasana air terjun Nambung. terlihat beberapa pengunjung menunggu datangnya sang ombak

Suasana air terjun Nambung. terlihat beberapa pengunjung menunggu datangnya sang ombak

Wajah yang terlihat kusut seketika berubah menjadi cerah gembira. Persis seperti anak-anak dikasih manisan Lollipop. Bulan Lalu, ombaknya sering dan besar mas, kata pak Tahir. Pak Tahir adalah penduduk kampung Nambung yang ikut menemani dua wisatawan dari Ampenan Lombok sebulan lalu. Sayang, kunjungan dua cewek dari kota mataram berujung duka. Pinggang salah satu cewek keseleo terkena sapuhan sang ombak samudra. Kug bisa?. Alkisah. Sekitar bulan Maret 2013, dua pengunjung cewek itu datang ke Pak Tahir agar ditemeni jalan-jalan ke Nambung. salah seorang dari mereka ingin foto dengan latar ombak nambung yang besar itu. Sang di cewek berdiri bersama dengan pak Tahir di batu-batu yang langsung berbatasan dengan laut Nambung. Pak Tahir bertugas untuk ikut memegang salah seorang cewek dari mereka. Rupanya ombak yang datang begitu besar. Seorang cewek tersebut tak kuat menahan hamburan sang ombak begitu juga pak Tahir tak mampu untuk menahan sang cewek. Pak Tahir hanya mampu menjaga dirinya agar tetap seimbang. Sang cewek itu pun tersungkur dan pinggangnya jatuh mengenai batuan karang.

Petualangan di pesisir Selatan

ujung jalan Desa Montong Ajak, Lombok Tengah

Petualangan ke pesisir selatan di Desa Montong Ajak, Lombok Tengah

Langit semakin cerah. Panasnya mentari semakin menusuk-nusuk. Kami harus pulang. Perjalanan masih akan dilanjutkan ke Lombok Tengah melalui jalur selatan Lombok. saya dan rombongan belum pernah mencoba jalur ini sebelumnya. Tujuan kami jelas – petualangan untuk menemukan spot-spot baru tujuan wisata lombok yang belum terjamah. kami hendak mencari Tanjung Pelangi.

Sebetulnya ada dua jalur untuk menuju Lombok Tengah. Bisa melewati jalan beraspal tapi minim pemandangan atau melewati jalur baru, tak beraspal dan hanya pengerasan tapi petualangan kami akan menemukan hal-hal baru yang tak terduga sebelumnya. Mungkin kalau sedang hujan, kami tak akan berani melewati jalur pengerasan. Beruntungnya adalah hari ini benar-benar cerah walaupun masih dalam suasana musim hujan. Motor kami berjalan di jalanan Montong Ajak yang berdebu. Anak-anak muncul dari gorong-gorong jembatan kemudian meneriakkan “selamat siang mas”. Kami disambut hangat di desa ini. Sapaan hangat anak-anak SD ini mengingatkan saya saat saya melakukan perjalanan di kampung-kampung di kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT sana. Bagaimana tidak, setiap anak-anak yang bersalip-salipan dengan pengandara baik itu menggunakan motor ataupun mobil tertutup, mereka akan selalu menyapa dengan penuh rasa keakraban. “selamat pagi” atau “selamat siang”.

Jalan membelah bukit di Dusun Torok Aik Belek, Lombok Tengah

Jalan membelah bukit di Dusun Torok Aik Belek, Lombok Tengah

Di pelosok-pelosok desa ini saya menemukan persahabatan dan keakraban khas penduduk desa. Petualangan trus kami lanjutkan menyusuri jalanan yang berdebu dan berharap menemukan jalan yang bersahabat. Di ujung, Desa Montong Ajak, kami berhenti sejenak berteduh di bawah pohon-pohon kelapa yang melambai. Di ujung desa ini, kami melihat Samudra luas membentang berwarna kebiruan. Angin sepoi sepoi membilas wajah wajah yang kepanasan. Kami terbuai dengan terpaan angin samudra yang membilas wajah tapi harus tetap melanjutkan perjalanan.

Kami berpindah dari puncak bukit yang satu ke puncak bukit yang lain dengan hamparan sawah-sawah membentang. Kami berjalan dari ketinggian menuju ke titik Nol melewati jalanan yang berbatu dan berdebu. Kuncinya satu “hati-hati”. Saya terhenti di puncak Dusun Torok Aik Belek. Di ujung Jalanan berbatu dan berdebu, beberapa orang sibuk mengaspal jalan. Mereka bukan mengaspal jalan tapi jalan menuju puncak tapi ntah lah puncak apakah. Jalanan beraspal ini membelah sebuah bukit dan berujung pada puncak bukit yang ntah akan digunakan untuk apa.

Perlintasan jalan. tebing di antara Dusun Serangan dengan dusun Tomang Omang

Perlintasan jalan. tebing di antara Dusun Serangan dengan dusun Tomang Omang

Bukan kah kawasan ini masih sepi dan tak berpenghuni. Mungkin begitu lah kelakukan para investor atau apalah namanya. Mereka memburu tanah-tanah yang jalan rayanya baru saja dibuka. Saya sudah tertinggal jauh dari rombongan saya. Ada rasa khawatir dalam diri saya. Saya terus menuruni jalanan berdebu menuju titik terendah, mengejar teman-teman yang jauh di depan sana. Kami memasuki kawasan Serangan. Desa serangan juga mempunyai pantai indah dengan barisan pohon kelapa yang melambai. Saya hanya melambaikan tangan saja terhadap rayuan pohon kelapa di pantai serangan.

Lombok Tengah lima tahun terakhir memang sedang melakukan pembukaan jalan-jalan baru. Akses-akses jalan ke tujuan wisata banyak yang diperlebar dan diaspal hotmix. Salah satunya jalur selatan ini Nambung – Tomang Omang. Para tuan tanah dan investor “wait and see”. Tanah-tanah yang dilewati jalan-jalan baru langsung menjadi inceran.

Desa Serangan adalah desa terakhir yang kami harus taklukkan sebelum menuju desa Tomang Omang. Di ujung perbatasan desa serangan, kami berjalan membelah bukit dan tebing berwarna keemasan yang terkena cahaya mentari. Serangan penuh kenangan bagi salah satu teman kami, Indra. Indra terjatuh saat hendak menaklukkan bukit serangan. Sepeda motornya mencium batu-batu serangan. Di ujung serangan, kami bisa melihat gugusan pantai Tomang Omang. Dalam diam, saya merasakan pelukan tebing-tebing serangan.

Petualangan di Selat Alas

Di antara dua tenda

Di antara dua tenda

 

Hai dir, kakimu tuh hampir kena kepala Catrina, kata mbak Ifath kepada saya. saya kaget dan terbangun untuk membetulkan kembali pola tidurku. Berugak sempit berukuran 2 x 2 yang penuh sesak dengan tas-tas selempang terpaksa masih ditiduri oleh kerumunan manusia yang mengatakan dirinya Lombok Backpacker. Manusia-manusia alam yang rela berhimpitan penuh sesak dibandingkan tidur di salah satu penginapan di Gili Kondo beralaskan kasur-kasur empuk. Kami lebih memilih tidur di salah satu berugak diterpa angin laut dengan suara deburan ombak.

Pola tidur saya yang cenderung sporadis berubah menjadi “tenang”. Tenang bersama himpitan dan desakan. Saya dan kawan-kawan terbangun ketika mentari masih dalam peraduan, bersembunyi di balik pulau Sumbawa. Semburat Cahaya kuning emas menyelimuti pulau Sumbawa. beberapa orang bersuci dengan air laut yang rasanya asin. Shalat didirikan di antara tenda-tenda menghadap ke barat membelakangi semburat cahaya dengan beralaskan pasir putih yang tersamarkan.

Setelah shalat didirikan, Semua bergegas menuju ke pantai menunggu sang mentari muncul. Pantai yang biasanya nampak sepi sekarang begitu ramai oleh para penikmat petualangan yang bermalam di Gili Kondo. Merasakan ketenangan melupakan sejenak hiruk pikuk dan kepenatan. Perlahan kamera dibidikkan menangkap potongan spektrum cahaya berwarna jingga. Sebagian lain menikmati mentari terbit dengan berpose berbagai macam gaya dengan ide-ide kreatifnya. Seakan-akan tak mau semburat cahaya itu terlewatkan begitu saja tanpa ada kenangan yang berarti.

Penunggu sang mentari pagi

Penunggu sang mentari pagi

Kuning emas menyelimuti , matahari menembus cakrawala, memenuhi semesta alam. Nampak gugusan pulau Sumbawa diselimuti awan kelabu yang berbaris dari ujung ke ujung. Gugusan Pulau Mantar yang lebih dikenal dengan “Negeri di atas awan” benar-benar diselimuti awan kelabu keemasan. Gugusan pulau Kenawa pun juga diselimuti oleh awan-awan berwarna keemasan biasan dari sang mentari pagi. Dalam diam ku berharap suatu saat nanti saya ingin menginjakkan kaki ke dua pulau yang sudah tersohor di NTB itu.

Acara penungguan mentari telah usai. Pengunjung pun berhamburan kembali ke tenda masing-masing. Semua beraktivitas dengan kegiatan masing-masing. Sepagi ini, Catrina dan Nana sudah keluar membawa perlengkapan snorkeling. Mereka berdua ingin menikmati keindahan taman bawah laut Gili Kondo sepagi mungkin sebelum yang lain ikut menikmatinya. Sebagian yang lain berkumpul di depan tenda bealaskan pasir putih. Bercengkrama bersama melepaskan kepenetan pekerjaan. Bahagia itu begitu sederhana. Duduk bersimpuh di atas pasir-pasir gili Kondo itu sepotong kebahagiaan, menikmati aroma semerbak kopi dan menimum kopi hangat yang menembus lorong kerongkongan itu secuil kebahagiaan yang lain. Sajian seduhan kopi dan teh penghangat badan dengan terpaan angin laut kondo seakan memberikan kebahagiaan tersendiri. Bersama kawan-kawan sesama backpacker. Dalam hati ku berpikir alamak kapan lagi saya merasakan kebebasan ini lagi. hanya anak-anak pulau yang bisa merasakan suasana seperti ini setiap hari tanpa adanya batasan waktu seperti kami-kami para backpacker.

berbagai cara menikmati sunrise di Gili Kondo

berbagai cara menikmati sunrise di Gili Kondo

Perutku mules dan mulai melilit. Ku berlari ke ujung selatan pulau menuju penginapan yang masih coba bertahan setelah pengelolaanya diberhentikan. Dulu, pulau ini masih dikelola Perama. Sekarang perijinan tidak diperpanjang lagi. Saya memasuki komplek penginapan Perama yang sudah tak terawat itu. rasa-rasanya dari puluhan pengunjung tak ada yang menginap di sini. penginapan ini hanya terdiri satu rumah khas sasak dengan bagian bawah luar dikhususkan untuk Bar sederhana khas café barat. Bar berukuran setengah lingkaran itu tak ada pengunjung. hanya seorang penunggu hotel yang selalu setia menunggu. Seorang penunggu hotel yang sedang menyapu menunjukkan saya sebuah kamar kecil yang berada di luar hotel. Pagi ini saya tak mandi, mungkin begitu juga dengan kawan-kawanku. Saya hanya sikat pagi dengan air air asin yang membuat mulutku semakin kaku. Baru kali ini saya merasakan sikat gigi dengan air laut.

Matahari semakin meninggi, petualagan ke beberapa pulau yang direncanakan oleh rombongan masih harus menunggu pak Jefry, sang pemilik kapal. Kawan-kawanku sudah hampir semuanya nyebur mencari hamparan terumbu karang firdauzi yang disajikan oleh gili Kondo. Saya sendiri. tak tahu ntah mau kemana. Akh kenapa tidak mencoba mengelilingi pulau kecil yang luasnya beberapa hektar ini saja, pikirku. Rinjani pagi ini begitu gagahnya. Nampak sempurna kegagahannya dengan awan-awan putih yang mengitarinya.

Menyusuri pantai berfosil

Hamparan Pasir fosil di sisi barat Gili Kondo

Hamparan Pasir fosil di sisi barat Gili Kondo

Menyusuri pesisir pantai ini serasa milik pribadi. Saya tak menemukan siapa pun selama saya mengelilingi pulau ini. pasir-pasir putih dengan bentuk seperti bintang banyak dijumpai di pesisir barat pulau ini. kalangan akademisi menduga ini adalah sejenis fossil yang terbawa oleh gelombang laut hingga terhempas bersama dengan terumbu karang-terumbu karang. Pasir berbentuk bintang ini hanya banyak di jumpai di Bali dan Lombok, dan Flores. pasir bintang ini banyak dijumpai di pesisir pantai yang terumbu karangnya masih terawat dengan baik termasuk di kawasan Gili Kondo ini. Fosil ini sering disebut Baculogypsina sphaerulata dan Baculogypsinoides spinosus atau Schlumbergerella-floresiana. Akh daripada bingung coba baca terus kelanjutan dari tulisan ini.

Sebagaimana penelitian yang dilakukan Adisaputra pada tahun 1991, dalam tulisannya mengenai Pantai Benoa Bali, mengungkapkan adanya cangkang fosil Schlumbergerella floresiana yang telah diduga sebagai “pasir putih” tersebut, karena fosil ini mempunyai ukuran butir pasir dari medium sampai sangat kasar.

Di perairan ini, fosil ini berasosiasi dengan foraminifera bentos kecil lainnya seperti Amphistegina lessonii, Calcarina calcar, Tinoporus spengleri, Baculogypsina sphaerulata dan Operculina ammonoides yang kesemuanya biasa dijumpai di laut dangkal dengan kondisi laut terbuka dan air yang jernih serta sinar matahari yang cukup untuk dapat menembus ke tempat mereka hidup (Hottinger, 1983.” Dari segi ilmiah, Adisaputra telah menguraikan spesies Schlumbergerella floresiana yang banyak mendominasi  Pantai Nusa Dua, Bali. Fosil ini membentuk pantai dengan jumlah total sekitar 60 % dari total sedimen. Bentuknya hampir bundar, berwarna putih susu, dengan butiran medium sampai kasar. Besarnya bisa dibandingkan dengan mata uang yang terdapat dalam.”** 

Pasir Baculogypsina sphaerulata diambil dari http://foraminifera.eu/single.php?no=1006541&aktion=suche

Pasir Baculogypsina sphaerulata diambil dari http://foraminifera.eu/single.php?no=1006541&aktion=suche

“Pasir” yang sejenis berbentuk bintang juga banyak dijumpai di pantai Kecinan, Lombok Utara. Saya pernah menemukan pasir berbentuk bintang itu saat bercengkrama dengan para pemancing ikan yang sedang menikmati makan siang di bawah pepohonan.

Ada rasa takjub dengan gili kondo ini. tak hanya menikmati pulau ini, tapi saya bisa menemukan banyak hal-hal baru yang saya temukan. Ini merupakan salah satu aset yang sangat berharga.

Gagahnya gunung Rinjani terlihat jelas di balik hamparan pasir-pasir ber fosil. Kawanan padang lamun yang berwarna kehijauan tumbuh subur di pesisir barat pulau ini. kawanan kepiting kecil berlarian bersembunyi di balik bebatuan saat saya berjalan menyusuri pasir dan bebatuan Kondo.

Di ujung sana, pelabuhan kayangan dengan kawanan kapal-kapal yang siap berangkat menuju pulau Sumbawa. tak ada hiruk pikuk. Hanya dalam 15 menit saja, saya sudah mengelilingi ¾ pulaunya. Di ujung ¾ , ada sebuah pulau. Mungkin dulunya pulau ini masih satu pulau dengan Gili Kondo. Gili bagik namanya. Pepohonan rindang memenuhi pulau tak berpenghuni. Saya mencoba menyeberangi jalanan menuju gili bagik. Saya hanya ingin bertamu sejenak di pulau ini untuk kemudian pergi lagi sebelum air laut benar-benar pasang. Pagi ini, air laut belum begitu pasang. Setidaknya saya masih berjalan walau berbasah-basahan hingga lutut kaki.

bercengkrama di Gili Kondo sambil menyeduh kopi

bercengkrama di Gili Kondo sambil menyeduh kopi

Seorang nelayan tengah sibuk menghidupkan mesin perahunya di tengah laut. Terlihat sedari tadi, sang nelayan belum juga berhasil menghidupkan mesin perahunya. Keringat bercucuran keluar dari kulit eksotisnya. Sesekali sang nelayan mengelap keringatnya. Pulau Sumbawa yang diselimuti awan kelabu menjadi latar belakang sang nelayan. Sang mesin pun belum mau bersahabat dengan pemiliknya. Saya tak bisa berbuat apa-apa. Berlalu saja meninggalkannya menuju awal petualangan gili Kondo.

Saya telah salah menduga bahwa di pulau ini tak berpenghuni. Dalam perjalanan kepulangan saya, saya bertemu dengan beberapa petani di tengah-tengah pulau gili kondo. Saya melongoknya ke dalam pulau yang dikelilingi semak-semak dan rerumputan kering. Terlihat beberapa petani sibuk mencabuti rerumputan yang tumbuh di sela-sela ketela. Saya mendekati salah satu dari mereka. Pak Husni namanya. Saya berusaha menegur dan menyapanya. Dia langsung menawarkan ketela-ketela yang sudah dibelinya. Mau beli ?, katanya kepada saya. wah ngak pak.saya hanya ingin ngobrol-ngobrol dengan bapak aja, kataku.

Sang Nelayan yang berusaha menghidupkan mesin perahu

Sang Nelayan yang berusaha menghidupkan mesin perahu

Pak husni tinggal di tengah-tengah pulau bersama petani lainnya. tanpa listrik dan tanpa hiburan bahkan mandi pun belum tentu menggunakan air tawar. Pulau ini hanya memproduksi air asin. Air tawar harus diangkut dari pulau seberang menggunakan perahu.

Rumah Pak Husni hanyalah sebuah rumah gubuk reyotdi tengah-tengah sawah dengan berdindingkan pelepah-pelepah pohon dan beratapkan rumput-rumput kering. Cukup untuk berlindung dari rasa dingin dan panas ataupun cuaca ekstrim. Dikelilingi pematang sawah dan pasir putih berbentuk bintang dengan Gunung Rinjani tinggi menjulang menjadi wallpaper hidupnya. Sambil ngobrol pak husni sambil menggali ketela-ketela yang sudah tua. Desiran angin laut menerpa wajah pak Husni yang bermandikan keringat. Sesekali pak husni menyeka keringat yang membasahi wajah tirusnya.

Gubuk Pas Husni

Gubuk Pas Husni

Pak Husni, Petani di Gili Kondo saat menggali ketela hasil pertaniannya

Pak Husni, Petani di Gili Kondo saat menggali ketela hasil pertaniannya

Hembusan desiran angin laut menerpa perahu-perahu yang merapat di Gili Kondo. Perahu bergoyang bersama alunan ombak. Pak Jefry membawakan kami sarapan bungkus sebagai pengganjal perut kami selama dalam perjalanan nanti. Semua rombongan berangsek naik ke perahu masing-masing. Dua perahu rombongan siap melaju menembus sang laut biru menuju Gili Kapal. Hanya butuh 20 menit untuk merapat ke pulau pasir ini. pulau yang timbul tenggelam bersama air.

Saya membayangkan bagaimana suasana perairan selat alas di tahun-tahun sebelum masa kemerdekaan. Saat dimana selat alas dikuasai oleh Dai Nippon Jepang. Kapal-kapal dengan perlengkapan perang lengkap senjata pemusnah hilir mudik di selat alas hendak menerkam pihak sekutu yang siap menyerang kapan saja. Kapal jepang yang biasanya selalu hilir mudik di selat Alas itu, tiba-tiba teronggok kaku di pulau pasir tak kentara. Sang Nahkoda tak melihat bahwa pulau yang tak kentara ini begitu dangkal.

Berawal dari sejarah kapal jepang yang terdampar di pulau pasir ini sehingga pulau ini dikenal dengan sebutan Gili Kapal. Gili yang bersejarah karena berhasil membuat kapal jepang terdampar seperti paus yang terdampar di daratan.

Negeri di atas awan sumbawa

Negeri di atas awan sumbawa

Selat Alas begitu sangat strategis. Berada di antara dua pulau antara pulau Sumbawa dan Lombok. tersembunyi dari pelabuhan penyeberangan utama. Siap membidik musuh di balik persembunyian untuk melancarkan strategi penguasaan jepang melawan sekutu. Jepang memang ahli perang dengan strategi persembunyian. Tak jauh dari dari Gili Kapal, ada sebuah pulau yang dikelilingi pohon bakau. Dari kejauhan, pulau ini hanya barisan tanaman bakau berwarna hijau.

Dengan sistem kerja ala Romusha, jepang membangun benteng pertahanan di berbagai sisi pulau Lombok. Benteng-benteng pertahanan seperti Mercusuar dan Gua dibangun di pesisir tenggara Lombok yang langsung berbatasan dengan samudra Hindia dan pulau Sumbawa bagian selatan. Bekas-bekas Gua jepang dan Mercusuar masih bisa kita jumpai di daerah Tanjung Ringgit dan sekitar pantai Tangsi. Untuk memperkuat sistem pertahahan di sisi barat laut pulau Lombok yang langsung berbatasan dengan bali, jepang juga membangun sistem pertahanan di daerah Bangko-bangko, Lombok Barat.

Kembali ke Selat Alas dengan pulau yang dikelilingi hutan bakau. Hutan bakau ini diatur dengan sedemikian rupa. Untuk masuk ke dalam pulau, harus melewati barisan tanaman bakau, lorong-lorong pohon bakau yang diatur sedemikian rupa. Lorong-lorong tanaman bakau ini hanya bisa dilewati kawanan perahu yang kami tumpangi. Dulu, pulau ini hanyalah tanah kosong tak bertuan yang siap tergerus oleh dahsyatnya sang ombak. Jepang datang dengan menanam tanaman bakau mengelilingi pulau tak bertuan sebagai benteng pertahanan dengan sistem kerja paksa romusha.

Saat rombongan melintasi lorong-lorong bakau, perahu kami tersangkut oleh akar-akar bakau. Kami pun berhenti berusaha untuk mengankat kaki perahu bersama sang pengemudi. Dua rombongan perahu kami tertambat di lorong-lorong bukan karena akar-akar pohon tapi karena anak-anak kota yang merindukan permainan desa. Jadilah arena lorong bakau menjadi perhelatan loncat terindah dari atas perahu. Setiap orang yang melompat berusaha dengan loncatan terindah dengan bidikan kamera.

Brummmmm…… terdengar bunyi tubuh yang terhempas ke dalam air. begitu seterusnya bergantian. Ruben berenang dari perahu belakang menuju perahu depan. Bukan untuk menghindar dari serangan tentara sekutu tapi untuk mengikuti kontingen loncat indah di perahu depan. Lorong-lorong ini dulunya menjadi arena benteng pertahanan jepang saat melawan sekutu sekarang menjadi arena loncat indah para petualang.

Perjalanan dilanjutkan menuju lorong-lorong lain dengan formasi tananman bakau yang juga berbeda. Akh tak afdol rasanya menyusuri selat alas yang bertaburkan terumbu karang yang beraneka warna dan rupa tanpa menyicipi keindahan taman lautnya. Taman laut yang berbatasan dengan garis Wallace yang aneka terumbu karangnya serupa dengan terumbu karang di Autralia sana.

Bagi yang pinter free-diving. Berenang dengan berbagai macam gaya dan atraksi adalah salah satu satu keharusan saat berada di dalam air. beratraksi dengan terumbu karang-terumbu karang yang memanjakan mata, berenang bersama ikan-ikan beraneka rupa dan warna. Sedangkan saya hanya menjadi penikmat alam surgawi yang berada di dasar laut dengan bantuan pelampung yang selalu menempel di punggung.

Catrina dan rekan hahaha

Catrina dan rekan hahaha

Puas menikmati alam surgawi di selat alas di garis wallace, kami pun bergegas untuk menuju Gili Kondo untu berbilas dengan air tawar dengan membayar 10 ribu rupiah. Siang ini gili kondo benar-benar bersolek. Pasir putih berpadu dengan air laut yang bergradasi dari biru muda ke biru toscha. Pengunjung Gili Kondo mulai berdatangan. Mampir sejenak untuk sekedar menikmati sajian pasir putih dengan paduan warna biru toscha.

beristirahat sejenak di Cafe Perama

beristirahat sejenak di Cafe Perama

Sebelum pulang, kami pun berisitirahat sejenak melepas lelah, mandi dan shalat. Bercengkrama di dalam café yang sudah terurus. Obrolan-obrolan hangat dengan nyanyian-nyanyian merdu Tendou Souji berpadu dengan petikan gitar yang seirama. Catrina duduk bersama-sama. saya berfikir Catrina begitu kuatnya dengan sarapan biscuit dan makan siang pun biscuit. Tawaran kami berupa nasi tak diacuhkannya. Dia tak terbiasa dengan nasi. Mungkin dengan makanan ringan seperti biscuit, dia sudah merasa kenyang. Akh sedangkan saya dengan satu piring rasanya biasa saja. Catrina Tidur beralaskan batu-batu pasir di café. Sedangkan rombongan lain duduk sambil mendendangkan nyanyian kecapean. Saya mendekati Catrina karena penasaran dengan umurnya.

Mengintip Gili Kondo

Mengintip Gili Kondo

I am twenty, katanya. And you ?.

I am thirty. Dengan sedikit tidak percaya trus dia bilang

but you like twenty.

Saya hanya tersenyum ketika dibilang aku seperti umur 20an. Tak berselang berapa lama, dia melirik ke jari-jari manis yang terpasang cincin. Have u married?, katanya dengan perasaan campur aduk antara pengin tahu dan rasa heran. Ku hanya menjawab dengan anggukan kepala dan dia pun mengiyakan dengan anggukan kepala dengan perasaan heran.

 

Catatan kaki :

** http://www.mgi.esdm.go.id/content/panorama-nan-indah-sebuah-aset-wilayah-pantai-dominasi-schlumbergerella-floresiana

 

Serunya bermalam di Gili Kondo

Siap Berangkat ke Gili Kondo

Siap Berangkat ke Gili Kondo

 

Mendengar kata camping yang terekam dalam otak saya adalah proses kembalinya manusia ke habitat awal manusia yang selalu ingin hidup bebas. Hidup di alam bebas bersahabat dengan alam. Kali ini saya bersama kawan-kawan Lombok Backpacker akan camping di perbatasan antara pulau Lombok dan pulau Sumbawa yaitu di Gili Kondo. Persiapan seadanya, tenda hanya sebagian yang membawa yang lain hanya mempersiapkan diri untuk tidur beratapkan langit. Tak kurang ada 24 orang yang akan berangkat ke Gili Kondo. Satu diantaranya adalah turis asing yang berasal dari jerman.

Sepeda motor siap menempuh perjalanan selama 2.5 jam. Menjelang sore hari, seluruh rombongan sudah merapat di bibir pantai. Tak ada lapangan parkir khusus. Hanya tanah lapang dan pepohonan duri yang difungsikan sebagai parkir. Beberapa warga kampung duduk santai di berugak-berugak pantai. Mereka duduk sambil berharap penumpang-penumpang yang ingin diantar ke pulau seberang. Sedangkan rombongan kami sudah terlebih dahulu menghubungi awak kapal yang bernama Pak Jefry.

Sambil menunggu kedatangan perahu kami, kami kumpul di salah satu berugak yang terlihat baru. Suara riuh rendah anak-anak yang asik ngobrol satu dengan yang lain di salah satu berugak. Berugak ini selain berfungsi sebagai tempat duduk, juga berfungsi sebagai mushalla. Beberapa kawan Lombok Backpacker shalat bergantian di atas berugak. Tempat wudhunya berada tak jauh dari berugak kami. Airnya agak sedikit payau tapi cukup mensucikan badan kami yang kotor.

Senja di puncak Rinjani dari selat alas

Senja di puncak Rinjani dari selat alas

Tak berapa lama perahu yang kami tunggu merapat ke bibir pantai. Pak Jefry sudah menyiapkan dua perahu untuk penumpang sebanyak 24 orang. Tiap perahu bisa menampung sebanyak 12 orang. Kami siap menyeberang selat alas di sore hari. Temaram senja berada di balik awan putih kelabu. Perahu kami siap berjalan pelan menyusuri ombak yang tenang. Terlihat Gili Kondo di kejauhan sana. Senja semakin memperindah pesona rinjani. Suara riuh rendah di atas perahu bergantikan suara kamera ceklak ceklek mengabadikan Gagahnya rinjani dibalut senja. Rinjani yang bertudungkan awan kelabu tak mengurangi keelokannya. Pak Jefry duduk santai di atas perahu sambil sesekali bertelponan ria berlatarkan rinjani.

Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, perahu kami merapat ke Gili Kondo- pulau terdekat dengan Rinjani di selat Alas. Semua bergegas turun dengan tujuan masing-masing. Semuanya sibuk berfoto ria. Catrina dipanggil agar ikut foto bersama. Senja di puncak Rinjani berpendar ke sekitarnya. Senja akan segera berakhir tergantikan oleh pekatnya malam di pulau kecil nan sepi.

Beberapa rombongan lain berdatangan menginjakkan kaki di Gili Kondo. Ingin merasakan pekatnya malam, ditemani api unggun yang menyala dengan langit yang bertaburkan Bintang. Awan Gelap kelabu menyelimuti.Semua bergegegas ntah ke mana. Tenda-tenda didirikan dipinggir-pinggir pantai. sebagian berteduh di bawah berugak yang berdiri agak jauh dari pinggir pantai. Kayu-kayu bakar dikumpulkan untuk membuat api unggun yang menghangatkan badan. Menyalakan sepercik cahaya di tengah gelapnya pulau tak berpenghuni.

Temaram senja Rinjani

Temaram senja Rinjani

Adzan magrib berkumandang dari salah satu Handphone yang sudah disetel waktu adzan lima waktu. Beberapa orang bergegas untuk mendirikan shalat di pinggir pantai dengan beralaskan kain parasut yang dihamparkan di bibir pantai. Berjamaah secara bergantian. Memuji kebesaran Tuhan. Tenda-tenda berbaris rapi di pinggir pantai. Beberapa orang mengelilingi api unggun yang menyala-nyala laksana oase kegelapan. Terlihat tenda-tenda lain melakukan hal yang sama-membuat api unggun dan mengelilinginya.

Berugak yang menjadi basecamp rombongan kami dipenuhi tas-tas backpack. Dalam gelap dan sunyinya, Mas Bendot, Tendou Souji dan mas Nana melantunkan lagu-lagu dengan petikan gitar yang seirama. Bendot, Tendou Souji dan Nana ditemani oleh Catrina yang berada disampingnya. Bendot sesekali menawarkan agar Catrina menyanyikan sebuah lagu yang dikuasinya. I know the song, but I don’t know the lyric, kata Catrina. Wajah-wajah terlihat samar oleh gelapnya malam. Saya coba menghidupkan senter Hp jadul saya. Saya menyorotnya satu persatu. Bendot dan Tendou Souji bernyanyi bersama dengan petikan gitar sebagai rayuan. Mereka berdua berusaha romantis se romantisnya seolah-olah ingin menarik Catrina. Catrina lebih banyak diam dan berada di antara gerombolan cowok-cowok.

beberapa lagu bahasa inggris pernah dicoba dinyanyikan oleh Tendou Souji dan Bendot. sayang, lagu-lagu itu berakhir di tengah jalan. persis seperti radio jadul yang kehabisan baterai. akh I don’t know the lyric, kata Tendou Souji dengan bahasa inggris pas-pasan-sama seperti saya. dia sebetulnya ingin membela diri dan merasa malu karena selalu diperhatikan oleh Catrina. Mas Tendou Souji ibarat bocah ingusan yang ingin dipuji oleh Catrina- si bule Jerman. Tendou Souji dan Bendot tak patah semangat untuk menggaet hati sang pujaan hati. hahhaa…ampunnn

lagu  “You’re beautiful” karangan si bule Amerika Jame Blunt keluar dari mulut manis Tendou Souji dan Bendot.

My life is brilliant.
My love is pure.
I saw an angel.
Of that I’m sure.
She smiled at me on the subway.
She was with another man.
But I won’t lose no sleep on that,
‘Cause I’ve got a plan.

You’re beautiful. You’re beautiful.
You’re beautiful, it’s true.
I saw your face in a crowded place,
And I don’t know what to do,
‘Cause I’ll never be with you.

Mbak Catrina seakan tersihir oleh petikan Gitar dan nyanyian lagu oleh Tendou dan Bendot. saat tiba di lirik Your’re beautiful. Catrina ikut menyanyikan dengan suara lirihnya. terlihat bibirnya yang bergerak-gerak mengikuti irama lagu. Tendou dan Bendot berhasil. mereka berdua berhasil membuat Catrina sedikit bernyanyi mengikuti liriknya. Catrina mungkin merasa bahwa lagu itu ditujukan untuk dirinya “you’re beautiful, it’s true”.  Catrina bernyanyi sambil tersenyum kepada Tendou dan Bendot. bibir manisnya mengulum senyum.

barangkali ada lyric yang perlu diubah agar lagu itu sesuai kondisi Tendo dan Bendot saat ini. yaitu She smiled at me on the subway diganti menjadi She smile at me on the berugak. hahahaha

Mereka berdua akhirnya berhasil memfinish-kan lagu karya james Blunt itu dengan backsound Catrina yang terdengar lirih.

Yes, she caught my eye,
As we walked on by.
She could see from my face that I was,
Flying high. [kata ini yg udah kena sensor]
Fucking high. [versi asli yg udah diganti sama kata yg diatas]
And I don’t think that I’ll see her again,
But we shared a moment that will last ’til the end.

You’re beautiful. You’re beautiful.
You’re beautiful, it’s true.
I saw your face in a crowded place,
And I don’t know what to do,
‘Cause I’ll never be with you.

You’re beautiful. You’re beautiful.
You’re beautiful, it’s true.
There must be an angel with a smile on her face,
When she thought up that I should be with you.
But it’s time to face the truth,
I will never be with you.

Berpose di Gili Kondo

Berpose di Gili Kondo

Catrina adalah wisatawan yang berasal dari Jerman. Dia sudah sebulan tinggal di Indonesia. Dia coba menjelajahi wisata yang Indonesia. Saat tiba di Indonesia, dia hanya berjalan di Jakarta dan sekitarnya seperti Bandung dan Bogor – dua kota sejuk yang mengelilingi panasnya Jakarta. Setelah Jakarta dan sekitarnya, dia kemudian langsung berjalan-jalan di Bali. Lumayan lama Catrina tinggal di bali. Dan sekarang dia telah menjelajahi Lombok. banyak tempat wisata di Lombok yang dia jelajahi. Di Lombok dia berkenalan dengan Nana. Bilamana tujuan wisata yang ingin dia kunjungi tidak mewajibkan dia untuk menginap, maka dia akan tinggal bersama di rumah Nana, Lombok Tengah. “Ya dia menginap di rumah saya, kata mas Nana membenarkan. Catrina berlibur karena libur semesteran. dia mengambil jurusan ekonomi spesialisasi international economic and development.

Iseng-iseng saya bertanya kemana aja di Lombok. saya sudah ke Gili Trawangan, di sana saya menginap semalam kemudian Saya menginap dua malam di Gili Air, imbuhnya. Saya juga udah mengunjungi Gili Gede. dalam hati saya merasa iri karena bule asli jerman ini sudah mengunjungi Gili Gede. Sedangkan, saya belum pernah menginjakkan kaki di gili yang paling gede yang berada di wilayah Lombok Barat.

Awan Kelabu menyelimutu Gili Kondo yang berpasir putih

Awan Kelabu menyelimutu Gili Kondo yang berpasir putih

Dan malam ini, bermalam di Gili Kondo bersama rombongan Lombok Backpacker. Tidur ala backpacker. Hidup ala backpacker. Gimana ngak apa-apa tah dia tidur begini, kataku pada mas Nana. “Akh ngak apa-apa, saya sudah kasih tau ke Catrina kalau kita akan camping bersama orang-orang Lombok Backpacker, kata Nana kepada saya.

Mas Bendot terus bernyanyi menemani obrolan kami di tengah kegelapan malam, di bawah berugak dengan hembusan angin laut menerpa wajah. Awan hitam kelabu semakin gelap bersamaan dengan gelapnya malam.

Sebagian anggota Lombok Backpacker yang lain mengumpulkan kayu-kayu untuk membuat Api Unggun. Lama-lama api unggun itu semakin membesar. Api unggun laksana oase di tengah gurun gelapnya malam Gili Kondo. Rombongan Lombok Backpacker mengelilingi api unggun. Mencari kehangatan untuk melawan rasa dingin. Ikan-ikan segar siap dibakar untuk menjadi santapan malam rombongan Lombok Backpacker. Angin laut berhembus kencang. Api unggun tertiup angin, suara gemuruh parasut yang digantungkan di berugak menderu-deru.

Nayla, Camper termuda di Lombok Backpacker by Riza

Nayla, Camper termuda di Lombok Backpacker by Riza

 

Rasanya hujan seakan mau turun. Awan gelap itu mencair dan memercikkan air ke Api unggun yang bersinar terang. Awan gelap tak mampu menahan uap air yang menggelantung di atap bumi. Hujannnn, Hujannnnn teriak anggota yang lain. Ayo kita pindah ke belakang Café Perama, kata salah satu dari anggota kami. Hujan pun benar membasahi kami malam ini. Kalang kabut. Mungkin hanya kata itulah yang cocok untuk mengungkapkan kondisi kami malam ini. proses bakar-bakar ikan dihentikan untuk sementara sampai hujan mereda.

Bekas Café Perama

Rombongan kami terpecah menjadi dua, sebagian besar bergegas ke salah satu bilik Café Perama, sedangkan empat anggota backpacker lain termasuk Catrina tetap bertahan berteduh di bawah berugak yang tak jauh dari api unggun. Hujan terus mengguyur perkemahan kami malam ini,

Di Gili Kondo memang ada sebuah Cafe Perama yang sudah ditinggalkan oleh pengelolanya. Café Perama teronggok tak terurus di pinggir pantai. Setahun lalu, Café ini masih terkelola dengan baik, namun malam ini Café ini sudah tak bertuan lagi. Perama yang punya hak untuk mengelola Gili Kondo memutuskan untuk tidak meneruskan perijinan dengan pemda setempat. Café ini sudah tak terurus lagi sebagaimana tak terurusnya budidaya terumbu karang yang berada di depan café tersebut. Dan malam ini, rombongan kami akan berteduh di salah satu bilik Café yang dulunya difungsikan sebagai dapur. Kita sudah booking kamar ini untuk rombongan kita, kata salah satu teman di rombongan. Terlihat rombongan lain sudah mengisi ruang makan café di berbagai sudut. Yang membawa tenda pun ikut pindah ke sudut-sudut Café ini.

Api unggun menjelang malam

Api unggun menjelang malam

Tas-tas dan Backpack ditumpuk di sudut-sudut ruangan. Ruangan penuh sesak bersamaan dengan orang-orang berjubel di sini. Ayo buka kartunya, kata mas Yeng saat mengawal pembicaraan saat berada di bilik Café tak terurus. Mereka membentuk lingkaran dan kartu pun siap dibagikan. Lampu Senter dari Handphone dinyalakan. Disepakati bahwa mereka akan bermain Seven Up –permainan kartu yang dimulai dengan angka 7. Menurut saya yang menarik malam ini bukan permainan kartunya tapi seorang bocah yang berusia 1 tahun 3 bulan yang berada di lingkaran itu. Syahla namanya, anak dari Mbak Fairuz dan mas Ichwan Setiawan.

Bapak Ibu nya seorang backpacker sejati. Setiap bapak ibunya berpetualang Syahla selalu dibawanya. tak terkecuali saat mereka berdua naik gunung pergasingan sekitar satu bulan yang lalu. Waktu itu, saya merasa heran melihat bocah tangguh menaiki gunung pergasingan di Sembalun yang terpampang di Facebook Lombok Backpacker. Saya aja belum pernah sama sekali pun naik gunung. Akh Syahla sudah mengalahkan saya dalam hal petualangan. Dan malam ini, saya menyaksikan bocah ini camping di Gili Kondo. Duduk di pangkuan bapak ibunya secara bergantian. Menyaksikan bapak ibunya bermain kartu Seven up. Dia terdidik sebagai seorang petualang sejak kecil. terlatih untuk tidak manja dan terbiasa dengan kehidupan alam bebas. kehidupannya ditempa oleh alam. wajah lugu dan imutnya selalu menampakkan keceriaan. berteman dengan siapa saja yang ditemuinya. sejak kecil dia sudah terlatih untuk bergaul dengan siapa saja. tak jarang, Catrina juga sering senyum-senyum sendiri melihat keluguannya.

Kemonotonan. Barangkali kata itu yang cocok kondisi saya saat ini. saya termasuk golongan orang-orang yang tak tahu harus berbuat apa malam ini, sekali lagi monoton. Hujan semakin mereda. Langit di luar masih diselimuti awan kelabu. Bintang-bintang bersembunyi di balik awan dan pekatnya malam.

Mengitari api unggun mencari kehangatan

Mengitari api unggun mencari kehangatan

Bernyanyi sambil merasakan hangat api unggun yang diterpa angin malam

Bernyanyi sambil merasakan hangat api unggun yang diterpa angin malam

Saya bergegas menembus malam menuju sumber api. Melewati pasir putih samar dibalik gelapnya malam. Berjalan menghindari pohon-pohon yang tersamarkan. Bendot, Nana dan Catrina duduk mengitari api unggun yang baru dihidupkan. Lama kelamaan Api unggun semakin menyala-nyala diterpa angin malam. Hujan itu tak terlalu deras. Setidaknya api unggun masih bisa dihidupkan kembali. Ikan-ikan segar dibakar lagi. dan saat saya datang mas Nana mempersilahkan saya mencubit ikan-ikan yang sudah dibakar. Angin yang bertiup kencang tergantikan dengan semilir angin yang menenangkan.

Mungkin angin itu menyingkir setelah datangnya hujan. Kami duduk bersama api unggun yang menyala di tengah gelapnya malam. Merasakan ikan bakar tanpa bumbu kecap. Alami dan segar. Catrina pun juga ikut mencubit ikan-ikan itu. dia tak merasa canggung untuk mencubit ikan-ikan secara berbarengan. Dugaanku wanita asli jerman ini terbiasa hidup ala backpacker. Dugaanku langsung dipatahkan oleh Nana. “Akh Caterina itu kaya tapi gaya hidupnya sederhana,” kata Nana yang berusaha meyakinkan saya. Catrina adalah wanita Jerman dengan postur tinggi semampai. Rambutnya tergerai dan hidungnya mancung. Paduan celana pendek dan Tank Top selalu membalut tubuhnya. Dia hanya mengenakan bikini saat berenang tadi sore. Selesai berenang, dia membalut kain tipis di tubuhnya.

Bermain Seven Up di Bilik Cafe. terlihat Nayla bersama bapak ibunya Ikwan dan fairuz

Bermain Seven Up di Bilik Cafe. terlihat Nayla bersama bapak ibunya Ikwan dan fairuz

Catrina hidup di Jerman dengan berbagai fasilitas dan kemajuan bangsa jerman. Jerman terkenal dengan penguasaan teknologi yang sangat diakui dunia. Habibie sang bapak teknologi Indonesia, pemegang puluhan hak paten di bidang penerbangan juga karena mengenyam pendidikan ala Jerman. Jerman menjadi salah satu urat nadi habibie. Karena Habibie, hubungan Jerman dan Indonesia semakin mulus. Karena Habibie Jerman semakin kenal dengan Indonesia. Malam ini Catrina menjadi saksi pertemuan Indonesia dan Jerman. Catrina terbang ribuan kilometer menempuh perjalanan dari Jerman hingga Indonesia. Dia harus merogok kocek sebesar sepuluh juta rupiah untuk menempuh ribuan kilometer itu. Menembus batas-batas Negara. Melewati dua benua, ratusan Negara dan ribuan sungai-sungai. Menjelajahi sebagian pelosok negeri hingga akhirnya terdampar di pelosok negeri bernama Gili Kondo.

Snack Mr. P dan Catrina

Snack Mr. P dan Catrina

Tiba-tiba dia mengeluarkan snack dengan nama merek Mr P. dia menawar-nawarkan kepada kami termasuk saya. Saya dibuat tertawa olehnya melihat snack yang berjenis kelamin ini. Saya hanya tertawa tapi tak mengambil snack tawarannya. Melihat kelakukan saya yang hanya tertawa. Dia mulai kebingungan dan bertanya-tanya. Saya tak cukup berani untuk memberitahunya. Akhirnya, salah satu backpacker asli medan yang berada di dekarnya memberitahukan apa itu Mr. P. Dia hanya tersenyum dengan tersipu malu. Tak berapa lama dia sudah melupakan rasa malunya dan dia pun menganggap hal biasa. Kami pun ngobrol sambil mencubit ikan-ikan yang sudah matang.

Back Game or Backgammon

Catrina terlelap di berugak

Catrina terlelap di berugak

Malam semakin gelap. Api unggun yang kehabisan bahan bakar. Bintang-bintang bermunculan menghiasi langit. Awan kelabu hilang ditelan gelapnya malam. Rasa capek dan kantuk kadang tak bisa ditahan. Catrina pun tertidur pulas berselonjor di bawah berugak. Dalam pulasnya, Nana membangunkan Catrina. Dia pun terbangun dengan mengucek-ngucek matanya. Tak perlu berapa lama untuk sadar sesadarnya. Sebuah papan kecil keluar dari tasnya. Dia membukanya layaknya permainan catur. Papan berukuran kecil mungil. Di dalamnya ada garis-garis berdiri tegak dengan tinggi berbeda-beda. Dia bermain dengan teman serumahnya, Nana. Mungkin diantara kami, hanya Nana yang tahu permainan ini. saya hanya memperhatikan cara bermainnya. Inilah permainan Back Game or Backgammon.

Back Game dari segi namanya saja kalau diartikan ke Indonesia permainan kembali. Cara bermainnya pun sesuai dengan namanya yaitu “kembali” yaitu kembali ke pertahahanan. Saat pertama kali bermain Pion-pion diletakkan sebagian di papan kandang dan di papan tandang. Tujuan dari permainan hanya satu bagaimana prajurit pion yang ada di kandang lawan berpindah ke kandang kita. Pemenangnya ditentukan oleh seberapa banyak dan cepat prajurit-prajurit pion itu kembali ke kandang kita. Pion-pion tidak mengenal istilahnya raja dll layaknya catur. Semua sama.

Bermain BackGame

Bermain BackGame

Bagaimana cara agar pion-pion itu kembali pertahanan secepat mungkin mungkin. Bagaimana agar prajurit pion ini bisa pindah, dua buah dadu dilempar. Jadi, dadu-dadu ini lah yang jadi penentu kemenangan kita. Angka-angka dadu mulai dari satu sampai enam menjadi Penentu. Jika kita melemparkan dadu kemudian mendapatkan angka yang sama dalam dua dadu, maka itu akan mempercepat kemenangan. Misalnya jika dua dadu yang kita lemparkan muncul angka 6, maka angka itu dikalikan dua. Jadi kita bisa mendapatkan 24 kali langkah.

Simple tapi lumayan gambling. Buktinya Mas Nana selalu menelan kekalahan melawan Catrina. Catrina selalu mengambil kemenangan demi kemenangan. Permainan pun berakhir dengan Catrina sebagai Juaranya.

Bakar-bakar Ikan

Bakar-bakar Ikan

Menyantap ikan-ikan segar bersama di samping api unggun

Menyantap ikan-ikan segar bersama di samping api unggun

Kunang-kunang Laut

Malam semakin larut. Pulau ini semakin sunyi. Suara Derap langkah kaki teman-teman yang sedang menuju ke berugak. saya bergegas menuju laut yang tenang dengan gemerisik suara ombak di malam hari. Ku hanya ingin bersuci untuk menunaikan ibadah yang sempat tertunda. Kunang-kunang berwarna kebiruan berenang-berenang di air. Saya perhatikan dengan penuh keheranan. Saya mengambil air yang bercampur dengan kunang-kunang yang berwarna biru cerah dalam kegelapan malam. Kunang-kunang bercampur pasir sudah ditangan. Susahnya membedakan tekstur pasir dan kunang-kunang laut. Hanya warna cerah yang membedakannya. Baru kali ini saya menyaksikan kunang-kunang laut. Kunang-kunang ini sejenis plankton-plankton yang bercahaya, kata Indra kepada saya saat saya berusaha menanyakan jenis kunang-kunang itu.

Tenda-tenda di Gili Kondo

Tenda-tenda di Gili Kondo

Ku liat langit yang bertaburkan bintang-bintang. Ku lirik kunang-kunang yang ada dalam genggaman, ku perhatikan kunang-kunang yang berenang di dalam air. Ku tunaikan shalat dengan beralaskan pasir dengan suara gemerisik ombak berpasrah diri menghadap sang pencipta dalam keheningan malam.

Malam semakin larut, tapi permainan terus berlanjut. Kali ini berugak sudah dipenuhi oleh kawan-kawan Lombok Backpacker yang awalnya berteduh di bilik café. Sebagian tidur terlelap dan sebagian bermain kartu Seven Up. Saya, Catrina, Yeng dan Indra membentuk lingkaran. Catrina di samping kanan saya, Indra di kiri saya. Setiap pemain akan mencari sumber cahaya sehingga pemain sering memiring-miringkan kartunya. Otomatis pemain lain bisa mengetahui kartu tetangganya. Saya pun sering melirik kartu-kartu indra dan Catrina begitu juga sebaliknya. Akh kadang keseruan permainan ini muncul di pulau antah berantah yang tak berpenghuni. Saya senyum-senyum sendiri ketika kartu-kartu Indra dan Catrina terlihat.

Mejeng bersama di Gili Kondo

Mejeng bersama di Gili Kondo

bernarsis saat pertama kali menginjakkan kaki di gili Kondo

bernarsis saat pertama kali menginjakkan kaki di gili Kondo

Yang kalah adalah bertugas mengocok kartu dan siap untuk digantikan oleh pemain lain. Saat Catrina kalah, maka Nana menggantikan begitu juga ketika saya kalah, maka Catrina menggantikan posisi saya. Begitu juga dengan Yeng dan Indra. Begitu seterusnya hingga larut malam menjelang. Rasa kantuk dan capek mulai menghinggapi Catrina, dia mohon ijin untuk tidur duluan di berugak. kami berlanjut bermain, tak berapa lama rasa kantuk menghinggapi saya. Saya pun tertidur pulas di atas berugak. sejam kemudian semua pemain merasakan rasa kantuk sama. terpaksa saya dibangunkan agar berugak ini bisa ditiduri oleh delapan orang dengan masing-masing orang membawa tasnya sendiri-sendiri. begitu berjubelnya berugak ini. Kami semua tidur terlelap diterpa rasa capek dan angin malam di Gili kondo.