Bangsal

Berburu Sunrise dan Sunset di Bangsal, dan pantai Sira

Sang Perahu

Sang Perahu

Saya akan tinggal selama 10 hari di salah satu hotel yang berdekatan dengan pelabuhan bangsal. Nama hotelnya ini : “New Taman Sari”. Hotel ini dimiliki oleh pengusaha asal Australia yang pengelolaannya diserahkan kepada seorang wanita berparas cantik asli Bali. Aku sudah menginap di hotel untuk kedua kalinya. Tahun lalu dan sekarang. Saya menginap di sini dalam rangka tugas di PDAM Lombok Utara yang baru berdiri 15 April 2013 itu.

Saya suka menginap di hotel ini karena dua hal yaitu: Kamar Mandi dan Sarapan. Kamar Mandinya ada di luar kamar dan disamping kamar mandi, ada taman terbukanya. Di ruang belakang ini kita bisa merasakan udara bebas tanpa kita harus ke luar kamar. Pun kita juga bisa duduk santai di taman sambil sesekali melihat burung-burung terbang ke sana ke mari hinggap dari pohon satu ke pohon lain.

Pemancing di Bangsal

Pemancing di Bangsal

Memancing

Memancing

Sarapan yang paling aku suka adalah ini: Omelette dengan Toast Butter Jam. Omelette yang paling aku suka adalah Cheese Tomato Onion dan Omelette yang paling saya benci adalah Cheese Tomato Onion garlic.Restoran masih sepi saat saya sarapan, tapi akan begitu ramai oleh para bule pada saat sarapan menjelang siang yaitu pukul 09.00. “New Taman Sari” selain sebagai tempat menginap dan Restoran juga sebagai Transit. Lokasinya yang tak jauh ke lokasi penyeberangan ke tiga gili membuatnya cukup strategis. Di seberang jalan adalah lokasi parkir umum. Semua penumpang yang akan menyebrang ke berbagai harus diturunkan di sini.

Portal selalu siap sedia menghalang para wisatawan. Dua petugas Dishub penjaganya selalu siap menyemprit para wisatawan yang nakal menerobos palang pintu. “hanya mobil-mobil yang tanpa penumpang dan motor saja yang bisa langsung masuk ke Bangsal. Itupun mereka harus memberitahu kepada petugas dishub” Itu lah aturan yang harus dipatuhi oleh seluruh pengunjung dan wisatawan yang akan menyebrang ke Gil Trawangan dkk. Pengunjung yang turun di terminal bisa berjalan kaki ke bangsal yang berjarak 500 meter itu atau menggunakan cidomo-alat transportasi menggunakan kuda.

Memegang mentari

Memegang mentari

Pagi ini, aktivitas terminal Bangsal sepi dan tenang. Hanya ada dua orang pemilik cidomo yang secara sukarela menyapu dan membakar daun-daun yang berjatuhan. Asap pun mengepul menuju langit. Langit cerah tak berawan. Mentari bersembunyi dari balik kegagahan Rinjani, membungkus embun-embun. Pohon-pohon diselimuti embun-embun pagi berwarna putih tak sempurna, Burung-burung beterbangan hinggap dari satu pohon yang lain. Terbang ke sana ke mari menghibur para penikmat pagi seperti saya.

Pagi yang santai dan tenang, jauh dari hiruk pikuk pelabuhan internasional yang disematkan kepada pelabuhan bangsal karena menjadi tempat bertemuanya warga dari berbagai bangsa dan Negara. Tak ada lalu lalang cidomo, tak ada lalu lintas penumpang. Tak ada wajah-wajah asing berambut pirang. Hanya orang-orang kampung yang hendak pergi ke sawah atau nelayan yang hendak ingin berlayar.

Gili Trawangan, Gili Air dan Gili Meno telah menjadi menjadi primadona tujuan wisata di Lombok. wisatawan berdatangan menjejali tiga pulau kecil itu. Bertambahnya wisatawan yang datang, juga berdampak terhadap kesejahteraan penduduk sekitar pelabuhan yang rumahnya berada di pinggir jalan raya. Perubahannya adalah ini : Rumah Parkir.

Rumah Parkir

Rumah Parkir

parkir

parkir

Pada tahun 2010, saat saya pertama kali saya menginjakkan kaki pertama kali di pulau lombok. saya hanya bisa parkir di halaman rumah penduduk. Tak ada halaman khusus parkir, tak ada tarif khusus berapa biayanya. Saya ibarat menitip mobil untuk diinapkan di rumah penduduk dengan tarif seikhlasnya. Rumah-rumah penduduk pun masih seperti suasana perkampungan dengan halaman yang semrawut. Sekarang, Rumah -rumah penduduk dipermak menjadi rumah kecil dengan halaman yang luas. Semakin luas halaman parkir, maka semakin banyak potensi pendapatan yang akan diraup. Akhirnya, masyarakat pun berlomba-lomba saling adu luas halaman parkir, saling permak halaman parkir. Rumah Parkir berjejer rapi di sepanjang bibir-bibir pelabuhan. Pagi itu, saya berjalan di jalan bangsal yang tenang, melihat pegawai rumah parkir yang menyapu halaman parkirnya.

Pelabuhan bangsal pagi relatif masih kosong. Kosong dari ruwetnya pelabuhan, kosong dari wisatawan yang hendak menyebrang. Perahu-perahu hanya teronggok di pinggir pantai berpasir hitam. Terombang-ambing oleh deburan ombak yang menghempaskannya. Hanya beberapa pemancing yang sibuk dengan alat pancingnya. Berharap ikan-ikan yang sudi memakan umpannya.

Warna merah jingga berpendar menembus rayuan pohon kelapa. Mentari pagi menyinari Gunung Rinjani masih begitu kokohnya. Menyinari lekuk-lekuk keindahan rinjani.

Gagahnya Rinjani

Gagahnya Rinjani

Saat menjelang sore hari, Pelabuhan Bangsal bersolek diri, para penikmat senja berdatangan ingin melihat sang mentari tenggelam di lautan tepat di samping Gili Trawangan. Perahu-perahu nelayan menghalangi sang mentari. Langit memendarkan warna merah jingga yang mempesona. Awan pun ikut memerah.

Bangsal pun ikut beristirahat menikmati sang senja. Hiruk pikuk pun terhenti. Keramaian tergantikan menikmati keheningan. Perahu-perahu yang sedari tadi siang berlalu lalang mengantarkan para pengunjung Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno juga ikut terhenti. Sang Mentari semakin memendarkan warna jingganya meliputi alam. Terlihat, para pemancing ikan masih sibuk menggerak-gerakkan alat pancingnya. Mereka lah yang paling setia dengan pelabuhan ini. status setia tidak bisa saya sematkan kepada petugas pelabuhan ataupun kepada pemilik kapal yang hilir mudik. Status ini pantas saya sematkan kepada para pemancing di pelabuhan bangsal. Sedari tadi mulai mentari terbit hingga mentari hendak tenggelam, mereka tetap betah setia memancing di anjungan pelabuhan bangsal.

Guyuran Cahaya

Lonely

lonely

Guyuran Cahaya at Sira Beach

Salah satu spot sunrise yang patut kita datangi adalah Pantai Sira (dibaca Sire)- Pantai yan terletak di sebelah timur bangsal. Kurang lebih 3 Km dengan jarak tempuh sekitar 15 menit jika ditempuh dari Bangsal. Pantai yang daratannya paling dekat dengan Gili Air ini dijadikan sebagai jalur pemasangan jaringan kabel Listrik dan Pipa PDAM bawah laut. Jaringan kabel Listrik PLN dan Pipa PDAM ini akan digunakan untuk mensupplai kebutuhan listrik dan air di tiga gili.

Berteduh

Berteduh

Sire begitu orang biasanya memanggilnya. Pantai berpasir putih bersih dengan laut berwarna biru. Masih belum banyak penduduk yang tinggal di pinggiran pantai Sira sehingga pantainya masih perawan dan bersih. Lokasi pantai Sire yang dekat dengan wisata tiga gili membuat Pantai Sira juga mulai banyak bersolek. Pantai ini sudah banyak dipenuhi hotel-hotel berbintang dan Villa pribadi yang berdiri di sepanjang pinggir pantai Sira.

suasana alam yang sunyi sambil membayangkan bisa menginap di salah satu Villa di Pantai Sira. apalah daya. hayalan tinggal hayalan. hayalanku terbawa angin pagi ini.  Sayang, Villa dan penginapan di sepanjang Pantai Sira tidak cocok dengan kantong saya yang tipis.

Advertisements

Serunya bermalam di Gili Kondo

Siap Berangkat ke Gili Kondo

Siap Berangkat ke Gili Kondo

 

Mendengar kata camping yang terekam dalam otak saya adalah proses kembalinya manusia ke habitat awal manusia yang selalu ingin hidup bebas. Hidup di alam bebas bersahabat dengan alam. Kali ini saya bersama kawan-kawan Lombok Backpacker akan camping di perbatasan antara pulau Lombok dan pulau Sumbawa yaitu di Gili Kondo. Persiapan seadanya, tenda hanya sebagian yang membawa yang lain hanya mempersiapkan diri untuk tidur beratapkan langit. Tak kurang ada 24 orang yang akan berangkat ke Gili Kondo. Satu diantaranya adalah turis asing yang berasal dari jerman.

Sepeda motor siap menempuh perjalanan selama 2.5 jam. Menjelang sore hari, seluruh rombongan sudah merapat di bibir pantai. Tak ada lapangan parkir khusus. Hanya tanah lapang dan pepohonan duri yang difungsikan sebagai parkir. Beberapa warga kampung duduk santai di berugak-berugak pantai. Mereka duduk sambil berharap penumpang-penumpang yang ingin diantar ke pulau seberang. Sedangkan rombongan kami sudah terlebih dahulu menghubungi awak kapal yang bernama Pak Jefry.

Sambil menunggu kedatangan perahu kami, kami kumpul di salah satu berugak yang terlihat baru. Suara riuh rendah anak-anak yang asik ngobrol satu dengan yang lain di salah satu berugak. Berugak ini selain berfungsi sebagai tempat duduk, juga berfungsi sebagai mushalla. Beberapa kawan Lombok Backpacker shalat bergantian di atas berugak. Tempat wudhunya berada tak jauh dari berugak kami. Airnya agak sedikit payau tapi cukup mensucikan badan kami yang kotor.

Senja di puncak Rinjani dari selat alas

Senja di puncak Rinjani dari selat alas

Tak berapa lama perahu yang kami tunggu merapat ke bibir pantai. Pak Jefry sudah menyiapkan dua perahu untuk penumpang sebanyak 24 orang. Tiap perahu bisa menampung sebanyak 12 orang. Kami siap menyeberang selat alas di sore hari. Temaram senja berada di balik awan putih kelabu. Perahu kami siap berjalan pelan menyusuri ombak yang tenang. Terlihat Gili Kondo di kejauhan sana. Senja semakin memperindah pesona rinjani. Suara riuh rendah di atas perahu bergantikan suara kamera ceklak ceklek mengabadikan Gagahnya rinjani dibalut senja. Rinjani yang bertudungkan awan kelabu tak mengurangi keelokannya. Pak Jefry duduk santai di atas perahu sambil sesekali bertelponan ria berlatarkan rinjani.

Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, perahu kami merapat ke Gili Kondo- pulau terdekat dengan Rinjani di selat Alas. Semua bergegas turun dengan tujuan masing-masing. Semuanya sibuk berfoto ria. Catrina dipanggil agar ikut foto bersama. Senja di puncak Rinjani berpendar ke sekitarnya. Senja akan segera berakhir tergantikan oleh pekatnya malam di pulau kecil nan sepi.

Beberapa rombongan lain berdatangan menginjakkan kaki di Gili Kondo. Ingin merasakan pekatnya malam, ditemani api unggun yang menyala dengan langit yang bertaburkan Bintang. Awan Gelap kelabu menyelimuti.Semua bergegegas ntah ke mana. Tenda-tenda didirikan dipinggir-pinggir pantai. sebagian berteduh di bawah berugak yang berdiri agak jauh dari pinggir pantai. Kayu-kayu bakar dikumpulkan untuk membuat api unggun yang menghangatkan badan. Menyalakan sepercik cahaya di tengah gelapnya pulau tak berpenghuni.

Temaram senja Rinjani

Temaram senja Rinjani

Adzan magrib berkumandang dari salah satu Handphone yang sudah disetel waktu adzan lima waktu. Beberapa orang bergegas untuk mendirikan shalat di pinggir pantai dengan beralaskan kain parasut yang dihamparkan di bibir pantai. Berjamaah secara bergantian. Memuji kebesaran Tuhan. Tenda-tenda berbaris rapi di pinggir pantai. Beberapa orang mengelilingi api unggun yang menyala-nyala laksana oase kegelapan. Terlihat tenda-tenda lain melakukan hal yang sama-membuat api unggun dan mengelilinginya.

Berugak yang menjadi basecamp rombongan kami dipenuhi tas-tas backpack. Dalam gelap dan sunyinya, Mas Bendot, Tendou Souji dan mas Nana melantunkan lagu-lagu dengan petikan gitar yang seirama. Bendot, Tendou Souji dan Nana ditemani oleh Catrina yang berada disampingnya. Bendot sesekali menawarkan agar Catrina menyanyikan sebuah lagu yang dikuasinya. I know the song, but I don’t know the lyric, kata Catrina. Wajah-wajah terlihat samar oleh gelapnya malam. Saya coba menghidupkan senter Hp jadul saya. Saya menyorotnya satu persatu. Bendot dan Tendou Souji bernyanyi bersama dengan petikan gitar sebagai rayuan. Mereka berdua berusaha romantis se romantisnya seolah-olah ingin menarik Catrina. Catrina lebih banyak diam dan berada di antara gerombolan cowok-cowok.

beberapa lagu bahasa inggris pernah dicoba dinyanyikan oleh Tendou Souji dan Bendot. sayang, lagu-lagu itu berakhir di tengah jalan. persis seperti radio jadul yang kehabisan baterai. akh I don’t know the lyric, kata Tendou Souji dengan bahasa inggris pas-pasan-sama seperti saya. dia sebetulnya ingin membela diri dan merasa malu karena selalu diperhatikan oleh Catrina. Mas Tendou Souji ibarat bocah ingusan yang ingin dipuji oleh Catrina- si bule Jerman. Tendou Souji dan Bendot tak patah semangat untuk menggaet hati sang pujaan hati. hahhaa…ampunnn

lagu  “You’re beautiful” karangan si bule Amerika Jame Blunt keluar dari mulut manis Tendou Souji dan Bendot.

My life is brilliant.
My love is pure.
I saw an angel.
Of that I’m sure.
She smiled at me on the subway.
She was with another man.
But I won’t lose no sleep on that,
‘Cause I’ve got a plan.

You’re beautiful. You’re beautiful.
You’re beautiful, it’s true.
I saw your face in a crowded place,
And I don’t know what to do,
‘Cause I’ll never be with you.

Mbak Catrina seakan tersihir oleh petikan Gitar dan nyanyian lagu oleh Tendou dan Bendot. saat tiba di lirik Your’re beautiful. Catrina ikut menyanyikan dengan suara lirihnya. terlihat bibirnya yang bergerak-gerak mengikuti irama lagu. Tendou dan Bendot berhasil. mereka berdua berhasil membuat Catrina sedikit bernyanyi mengikuti liriknya. Catrina mungkin merasa bahwa lagu itu ditujukan untuk dirinya “you’re beautiful, it’s true”.  Catrina bernyanyi sambil tersenyum kepada Tendou dan Bendot. bibir manisnya mengulum senyum.

barangkali ada lyric yang perlu diubah agar lagu itu sesuai kondisi Tendo dan Bendot saat ini. yaitu She smiled at me on the subway diganti menjadi She smile at me on the berugak. hahahaha

Mereka berdua akhirnya berhasil memfinish-kan lagu karya james Blunt itu dengan backsound Catrina yang terdengar lirih.

Yes, she caught my eye,
As we walked on by.
She could see from my face that I was,
Flying high. [kata ini yg udah kena sensor]
Fucking high. [versi asli yg udah diganti sama kata yg diatas]
And I don’t think that I’ll see her again,
But we shared a moment that will last ’til the end.

You’re beautiful. You’re beautiful.
You’re beautiful, it’s true.
I saw your face in a crowded place,
And I don’t know what to do,
‘Cause I’ll never be with you.

You’re beautiful. You’re beautiful.
You’re beautiful, it’s true.
There must be an angel with a smile on her face,
When she thought up that I should be with you.
But it’s time to face the truth,
I will never be with you.

Berpose di Gili Kondo

Berpose di Gili Kondo

Catrina adalah wisatawan yang berasal dari Jerman. Dia sudah sebulan tinggal di Indonesia. Dia coba menjelajahi wisata yang Indonesia. Saat tiba di Indonesia, dia hanya berjalan di Jakarta dan sekitarnya seperti Bandung dan Bogor – dua kota sejuk yang mengelilingi panasnya Jakarta. Setelah Jakarta dan sekitarnya, dia kemudian langsung berjalan-jalan di Bali. Lumayan lama Catrina tinggal di bali. Dan sekarang dia telah menjelajahi Lombok. banyak tempat wisata di Lombok yang dia jelajahi. Di Lombok dia berkenalan dengan Nana. Bilamana tujuan wisata yang ingin dia kunjungi tidak mewajibkan dia untuk menginap, maka dia akan tinggal bersama di rumah Nana, Lombok Tengah. “Ya dia menginap di rumah saya, kata mas Nana membenarkan. Catrina berlibur karena libur semesteran. dia mengambil jurusan ekonomi spesialisasi international economic and development.

Iseng-iseng saya bertanya kemana aja di Lombok. saya sudah ke Gili Trawangan, di sana saya menginap semalam kemudian Saya menginap dua malam di Gili Air, imbuhnya. Saya juga udah mengunjungi Gili Gede. dalam hati saya merasa iri karena bule asli jerman ini sudah mengunjungi Gili Gede. Sedangkan, saya belum pernah menginjakkan kaki di gili yang paling gede yang berada di wilayah Lombok Barat.

Awan Kelabu menyelimutu Gili Kondo yang berpasir putih

Awan Kelabu menyelimutu Gili Kondo yang berpasir putih

Dan malam ini, bermalam di Gili Kondo bersama rombongan Lombok Backpacker. Tidur ala backpacker. Hidup ala backpacker. Gimana ngak apa-apa tah dia tidur begini, kataku pada mas Nana. “Akh ngak apa-apa, saya sudah kasih tau ke Catrina kalau kita akan camping bersama orang-orang Lombok Backpacker, kata Nana kepada saya.

Mas Bendot terus bernyanyi menemani obrolan kami di tengah kegelapan malam, di bawah berugak dengan hembusan angin laut menerpa wajah. Awan hitam kelabu semakin gelap bersamaan dengan gelapnya malam.

Sebagian anggota Lombok Backpacker yang lain mengumpulkan kayu-kayu untuk membuat Api Unggun. Lama-lama api unggun itu semakin membesar. Api unggun laksana oase di tengah gurun gelapnya malam Gili Kondo. Rombongan Lombok Backpacker mengelilingi api unggun. Mencari kehangatan untuk melawan rasa dingin. Ikan-ikan segar siap dibakar untuk menjadi santapan malam rombongan Lombok Backpacker. Angin laut berhembus kencang. Api unggun tertiup angin, suara gemuruh parasut yang digantungkan di berugak menderu-deru.

Nayla, Camper termuda di Lombok Backpacker by Riza

Nayla, Camper termuda di Lombok Backpacker by Riza

 

Rasanya hujan seakan mau turun. Awan gelap itu mencair dan memercikkan air ke Api unggun yang bersinar terang. Awan gelap tak mampu menahan uap air yang menggelantung di atap bumi. Hujannnn, Hujannnnn teriak anggota yang lain. Ayo kita pindah ke belakang Café Perama, kata salah satu dari anggota kami. Hujan pun benar membasahi kami malam ini. Kalang kabut. Mungkin hanya kata itulah yang cocok untuk mengungkapkan kondisi kami malam ini. proses bakar-bakar ikan dihentikan untuk sementara sampai hujan mereda.

Bekas Café Perama

Rombongan kami terpecah menjadi dua, sebagian besar bergegas ke salah satu bilik Café Perama, sedangkan empat anggota backpacker lain termasuk Catrina tetap bertahan berteduh di bawah berugak yang tak jauh dari api unggun. Hujan terus mengguyur perkemahan kami malam ini,

Di Gili Kondo memang ada sebuah Cafe Perama yang sudah ditinggalkan oleh pengelolanya. Café Perama teronggok tak terurus di pinggir pantai. Setahun lalu, Café ini masih terkelola dengan baik, namun malam ini Café ini sudah tak bertuan lagi. Perama yang punya hak untuk mengelola Gili Kondo memutuskan untuk tidak meneruskan perijinan dengan pemda setempat. Café ini sudah tak terurus lagi sebagaimana tak terurusnya budidaya terumbu karang yang berada di depan café tersebut. Dan malam ini, rombongan kami akan berteduh di salah satu bilik Café yang dulunya difungsikan sebagai dapur. Kita sudah booking kamar ini untuk rombongan kita, kata salah satu teman di rombongan. Terlihat rombongan lain sudah mengisi ruang makan café di berbagai sudut. Yang membawa tenda pun ikut pindah ke sudut-sudut Café ini.

Api unggun menjelang malam

Api unggun menjelang malam

Tas-tas dan Backpack ditumpuk di sudut-sudut ruangan. Ruangan penuh sesak bersamaan dengan orang-orang berjubel di sini. Ayo buka kartunya, kata mas Yeng saat mengawal pembicaraan saat berada di bilik Café tak terurus. Mereka membentuk lingkaran dan kartu pun siap dibagikan. Lampu Senter dari Handphone dinyalakan. Disepakati bahwa mereka akan bermain Seven Up –permainan kartu yang dimulai dengan angka 7. Menurut saya yang menarik malam ini bukan permainan kartunya tapi seorang bocah yang berusia 1 tahun 3 bulan yang berada di lingkaran itu. Syahla namanya, anak dari Mbak Fairuz dan mas Ichwan Setiawan.

Bapak Ibu nya seorang backpacker sejati. Setiap bapak ibunya berpetualang Syahla selalu dibawanya. tak terkecuali saat mereka berdua naik gunung pergasingan sekitar satu bulan yang lalu. Waktu itu, saya merasa heran melihat bocah tangguh menaiki gunung pergasingan di Sembalun yang terpampang di Facebook Lombok Backpacker. Saya aja belum pernah sama sekali pun naik gunung. Akh Syahla sudah mengalahkan saya dalam hal petualangan. Dan malam ini, saya menyaksikan bocah ini camping di Gili Kondo. Duduk di pangkuan bapak ibunya secara bergantian. Menyaksikan bapak ibunya bermain kartu Seven up. Dia terdidik sebagai seorang petualang sejak kecil. terlatih untuk tidak manja dan terbiasa dengan kehidupan alam bebas. kehidupannya ditempa oleh alam. wajah lugu dan imutnya selalu menampakkan keceriaan. berteman dengan siapa saja yang ditemuinya. sejak kecil dia sudah terlatih untuk bergaul dengan siapa saja. tak jarang, Catrina juga sering senyum-senyum sendiri melihat keluguannya.

Kemonotonan. Barangkali kata itu yang cocok kondisi saya saat ini. saya termasuk golongan orang-orang yang tak tahu harus berbuat apa malam ini, sekali lagi monoton. Hujan semakin mereda. Langit di luar masih diselimuti awan kelabu. Bintang-bintang bersembunyi di balik awan dan pekatnya malam.

Mengitari api unggun mencari kehangatan

Mengitari api unggun mencari kehangatan

Bernyanyi sambil merasakan hangat api unggun yang diterpa angin malam

Bernyanyi sambil merasakan hangat api unggun yang diterpa angin malam

Saya bergegas menembus malam menuju sumber api. Melewati pasir putih samar dibalik gelapnya malam. Berjalan menghindari pohon-pohon yang tersamarkan. Bendot, Nana dan Catrina duduk mengitari api unggun yang baru dihidupkan. Lama kelamaan Api unggun semakin menyala-nyala diterpa angin malam. Hujan itu tak terlalu deras. Setidaknya api unggun masih bisa dihidupkan kembali. Ikan-ikan segar dibakar lagi. dan saat saya datang mas Nana mempersilahkan saya mencubit ikan-ikan yang sudah dibakar. Angin yang bertiup kencang tergantikan dengan semilir angin yang menenangkan.

Mungkin angin itu menyingkir setelah datangnya hujan. Kami duduk bersama api unggun yang menyala di tengah gelapnya malam. Merasakan ikan bakar tanpa bumbu kecap. Alami dan segar. Catrina pun juga ikut mencubit ikan-ikan itu. dia tak merasa canggung untuk mencubit ikan-ikan secara berbarengan. Dugaanku wanita asli jerman ini terbiasa hidup ala backpacker. Dugaanku langsung dipatahkan oleh Nana. “Akh Caterina itu kaya tapi gaya hidupnya sederhana,” kata Nana yang berusaha meyakinkan saya. Catrina adalah wanita Jerman dengan postur tinggi semampai. Rambutnya tergerai dan hidungnya mancung. Paduan celana pendek dan Tank Top selalu membalut tubuhnya. Dia hanya mengenakan bikini saat berenang tadi sore. Selesai berenang, dia membalut kain tipis di tubuhnya.

Bermain Seven Up di Bilik Cafe. terlihat Nayla bersama bapak ibunya Ikwan dan fairuz

Bermain Seven Up di Bilik Cafe. terlihat Nayla bersama bapak ibunya Ikwan dan fairuz

Catrina hidup di Jerman dengan berbagai fasilitas dan kemajuan bangsa jerman. Jerman terkenal dengan penguasaan teknologi yang sangat diakui dunia. Habibie sang bapak teknologi Indonesia, pemegang puluhan hak paten di bidang penerbangan juga karena mengenyam pendidikan ala Jerman. Jerman menjadi salah satu urat nadi habibie. Karena Habibie, hubungan Jerman dan Indonesia semakin mulus. Karena Habibie Jerman semakin kenal dengan Indonesia. Malam ini Catrina menjadi saksi pertemuan Indonesia dan Jerman. Catrina terbang ribuan kilometer menempuh perjalanan dari Jerman hingga Indonesia. Dia harus merogok kocek sebesar sepuluh juta rupiah untuk menempuh ribuan kilometer itu. Menembus batas-batas Negara. Melewati dua benua, ratusan Negara dan ribuan sungai-sungai. Menjelajahi sebagian pelosok negeri hingga akhirnya terdampar di pelosok negeri bernama Gili Kondo.

Snack Mr. P dan Catrina

Snack Mr. P dan Catrina

Tiba-tiba dia mengeluarkan snack dengan nama merek Mr P. dia menawar-nawarkan kepada kami termasuk saya. Saya dibuat tertawa olehnya melihat snack yang berjenis kelamin ini. Saya hanya tertawa tapi tak mengambil snack tawarannya. Melihat kelakukan saya yang hanya tertawa. Dia mulai kebingungan dan bertanya-tanya. Saya tak cukup berani untuk memberitahunya. Akhirnya, salah satu backpacker asli medan yang berada di dekarnya memberitahukan apa itu Mr. P. Dia hanya tersenyum dengan tersipu malu. Tak berapa lama dia sudah melupakan rasa malunya dan dia pun menganggap hal biasa. Kami pun ngobrol sambil mencubit ikan-ikan yang sudah matang.

Back Game or Backgammon

Catrina terlelap di berugak

Catrina terlelap di berugak

Malam semakin gelap. Api unggun yang kehabisan bahan bakar. Bintang-bintang bermunculan menghiasi langit. Awan kelabu hilang ditelan gelapnya malam. Rasa capek dan kantuk kadang tak bisa ditahan. Catrina pun tertidur pulas berselonjor di bawah berugak. Dalam pulasnya, Nana membangunkan Catrina. Dia pun terbangun dengan mengucek-ngucek matanya. Tak perlu berapa lama untuk sadar sesadarnya. Sebuah papan kecil keluar dari tasnya. Dia membukanya layaknya permainan catur. Papan berukuran kecil mungil. Di dalamnya ada garis-garis berdiri tegak dengan tinggi berbeda-beda. Dia bermain dengan teman serumahnya, Nana. Mungkin diantara kami, hanya Nana yang tahu permainan ini. saya hanya memperhatikan cara bermainnya. Inilah permainan Back Game or Backgammon.

Back Game dari segi namanya saja kalau diartikan ke Indonesia permainan kembali. Cara bermainnya pun sesuai dengan namanya yaitu “kembali” yaitu kembali ke pertahahanan. Saat pertama kali bermain Pion-pion diletakkan sebagian di papan kandang dan di papan tandang. Tujuan dari permainan hanya satu bagaimana prajurit pion yang ada di kandang lawan berpindah ke kandang kita. Pemenangnya ditentukan oleh seberapa banyak dan cepat prajurit-prajurit pion itu kembali ke kandang kita. Pion-pion tidak mengenal istilahnya raja dll layaknya catur. Semua sama.

Bermain BackGame

Bermain BackGame

Bagaimana cara agar pion-pion itu kembali pertahanan secepat mungkin mungkin. Bagaimana agar prajurit pion ini bisa pindah, dua buah dadu dilempar. Jadi, dadu-dadu ini lah yang jadi penentu kemenangan kita. Angka-angka dadu mulai dari satu sampai enam menjadi Penentu. Jika kita melemparkan dadu kemudian mendapatkan angka yang sama dalam dua dadu, maka itu akan mempercepat kemenangan. Misalnya jika dua dadu yang kita lemparkan muncul angka 6, maka angka itu dikalikan dua. Jadi kita bisa mendapatkan 24 kali langkah.

Simple tapi lumayan gambling. Buktinya Mas Nana selalu menelan kekalahan melawan Catrina. Catrina selalu mengambil kemenangan demi kemenangan. Permainan pun berakhir dengan Catrina sebagai Juaranya.

Bakar-bakar Ikan

Bakar-bakar Ikan

Menyantap ikan-ikan segar bersama di samping api unggun

Menyantap ikan-ikan segar bersama di samping api unggun

Kunang-kunang Laut

Malam semakin larut. Pulau ini semakin sunyi. Suara Derap langkah kaki teman-teman yang sedang menuju ke berugak. saya bergegas menuju laut yang tenang dengan gemerisik suara ombak di malam hari. Ku hanya ingin bersuci untuk menunaikan ibadah yang sempat tertunda. Kunang-kunang berwarna kebiruan berenang-berenang di air. Saya perhatikan dengan penuh keheranan. Saya mengambil air yang bercampur dengan kunang-kunang yang berwarna biru cerah dalam kegelapan malam. Kunang-kunang bercampur pasir sudah ditangan. Susahnya membedakan tekstur pasir dan kunang-kunang laut. Hanya warna cerah yang membedakannya. Baru kali ini saya menyaksikan kunang-kunang laut. Kunang-kunang ini sejenis plankton-plankton yang bercahaya, kata Indra kepada saya saat saya berusaha menanyakan jenis kunang-kunang itu.

Tenda-tenda di Gili Kondo

Tenda-tenda di Gili Kondo

Ku liat langit yang bertaburkan bintang-bintang. Ku lirik kunang-kunang yang ada dalam genggaman, ku perhatikan kunang-kunang yang berenang di dalam air. Ku tunaikan shalat dengan beralaskan pasir dengan suara gemerisik ombak berpasrah diri menghadap sang pencipta dalam keheningan malam.

Malam semakin larut, tapi permainan terus berlanjut. Kali ini berugak sudah dipenuhi oleh kawan-kawan Lombok Backpacker yang awalnya berteduh di bilik café. Sebagian tidur terlelap dan sebagian bermain kartu Seven Up. Saya, Catrina, Yeng dan Indra membentuk lingkaran. Catrina di samping kanan saya, Indra di kiri saya. Setiap pemain akan mencari sumber cahaya sehingga pemain sering memiring-miringkan kartunya. Otomatis pemain lain bisa mengetahui kartu tetangganya. Saya pun sering melirik kartu-kartu indra dan Catrina begitu juga sebaliknya. Akh kadang keseruan permainan ini muncul di pulau antah berantah yang tak berpenghuni. Saya senyum-senyum sendiri ketika kartu-kartu Indra dan Catrina terlihat.

Mejeng bersama di Gili Kondo

Mejeng bersama di Gili Kondo

bernarsis saat pertama kali menginjakkan kaki di gili Kondo

bernarsis saat pertama kali menginjakkan kaki di gili Kondo

Yang kalah adalah bertugas mengocok kartu dan siap untuk digantikan oleh pemain lain. Saat Catrina kalah, maka Nana menggantikan begitu juga ketika saya kalah, maka Catrina menggantikan posisi saya. Begitu juga dengan Yeng dan Indra. Begitu seterusnya hingga larut malam menjelang. Rasa kantuk dan capek mulai menghinggapi Catrina, dia mohon ijin untuk tidur duluan di berugak. kami berlanjut bermain, tak berapa lama rasa kantuk menghinggapi saya. Saya pun tertidur pulas di atas berugak. sejam kemudian semua pemain merasakan rasa kantuk sama. terpaksa saya dibangunkan agar berugak ini bisa ditiduri oleh delapan orang dengan masing-masing orang membawa tasnya sendiri-sendiri. begitu berjubelnya berugak ini. Kami semua tidur terlelap diterpa rasa capek dan angin malam di Gili kondo.

Amukan Gunung Kelud di Ngantang

Gunung setelah meletus. rumput-rumput gunung berwarna kecoklatan

Gunung setelah meletus. rumput-rumput gunung berwarna kecoklatan

Pagi ini begitu damai di salah satu dusun Gading, Desa Kaumrejo Ngantang. Mentari masih enggan. Terhalang oleh gunung Kawi yang tinggi menjulang. Awan putih menggelangtung di puncak gunung. Seperti kopiah Yahudi di ujung kepala. Kampung ini masih diselimuti  rasa dingin. Dingin selalu identik rasa malas. Termasuk rasa malas itu mulai merasuk ke dalam diri. Saya mulai males sekedar untuk mengabadikan matahari terbit di kampung ini. sunrise itu terlewat begitu saja tanpa bidikan kamera. Saya hanya mampu melirik dari bilik-bilik kaca tak tertembus angin dingin khas pegunungan.

Kedinginan harus dilawan dengan rasa dingin itu sendiri. Itu kuncinya. Dingin, maka mandilah dengan air dingin itu sendiri. Maka rasa dingin akan hilang dengan sendiri. Saya termasuk berhasil mengalahkan rasa dingin itu dengan langsung mandi dengan air yang tanpa terlebih dahulu dihangatkan. Rasa dingin juga bisa dilawan dengan minum sesuatu yang hangat seperti teh dan kopi hangat. Sehingga, tak jarang kebiasan penduduk pegunungan  suka hal-hal berbau manis dan hangat. Kopi dan teh selalu menjadi pertanyaan di setiap pagi. Mau Teh atau Kopi, kata nenek menawarkan. Teh aja nek, sahutku dengan agak ragu. Maklum saya termasuk orang yang jarang mengkonsumsi teh hangat setiap pagi. Rutinitas minum kopi atau teh telah menjadi kebiasaan di kampung ini. tidak tahu sejak kapan kebiasaan itu dimulai. dan sekarang saya merasakan kebiasaan kampung meminum segelas teh hangat. Mungkin karena hawanya dingin ini , teh itu terasa lebih nikmat saat masuk ke kerongkongan.

Kampung ini bagian timurnya berbatasan gunung Kawi, gunung Arjuno di sisi utara, gunung Kelut di sisi timur laut dan bagian selatannya langsung berbatasan dengan kaki waduk selorejo. Sepanjang aliran waduk selorejo mulai dari ujung barat sampai dengan ujung timur dikurung oleh bukit yang namanya selokurung. Setelah itu, disambung dengan gunung kelut dan gunung kawi.

Desa Pandansari di bawah gunung kelut

Desa Pandansari di bawah gunung kelut

Bukit Selokurung itu masih menjadi pertanyaan. Nama itu seperti gabungan Selo dan Kurung. Selo sendiri adalah legenda tokoh tanah jawa yang bernama Ki Ageng Selo, sang penangkap petir. Nama belakang dari sang penangkap petir itu kemudian digabung dengan salah satu bukit yang mengurung kampung ngantang menjadi “Selokurung”. Jadi tepatlah kampung ini bener-benar terkurung oleh bukit-bukit dan pegunungan. Kampung yang terkurung. Terselimuti oleh kedinginan.

Berjalan-jalan di kampung. Pak Yono, pemuda penggangguran setengah baya di kampung ini begitu semangatnya. Jalan-jalan kampung yang tertutupi oleh pasir dan debu gunung kelut dicangkulnya. Karung-karung disampingnya terisi penuh oleh pasir dan debu padahal pasir yang dicangkulnya tak lebih dari luas kasur spring bed. Tebalnya mencapai 10 cm. “wah sebelum turun hujan tebalnya lebih lagi mas,” kata pak Yono kepada saya. Air hujan itu telah membawa debu dan pasir ke selokan kampung kemudian berakhir di waduk selorejo. Jadi lah waduk selorejo semakin mendangkal. Pak Yono itu terus melanjutkan cangkulannya. Sapa bilang Pak Yono adalah pemuda pengangguran.

Setidaknya, selama pasir dan debu kelud ini masih numpuk di jalan. dia akan tetap berkarya membersihkan. menyeroknya kemudian memasukkan ke dalam karung. Karyanya akan berbuah imbalan dari penduduk yang merasakan manfaatnya. Bisa mendapatkan makanan gratis atau secuil ongkos untuk membeli baju baru. Dengan membersihkan debu, Dia ingin membuktikan dirinya bahwa dia bukanlah pemuda pengangguran sebagaimana digosipkan para warga kampung. Ini adalah sebagai bentuk aktualisasi dirinya. Dia ingin membuktikan bahwa saya bukanlah pengangguran tapi pekerja.

Sesekali penduduk memberhentikan kendaraanya kemudian menyapanya. Penduduk kampung yang jalan pun menyapanya. Senyum pun keluar bibirnya. Dia menyambut sapaan hangat yang menyapanya. Dia begitu eksis di kampung gading ini. setidaknya selama debu ini masih menumpuk di jalanan. hanya dia yang terlihat membersihkan jalanan kampung dari ujung barat ke timur. Akh pak Yono emang hebat.

“Kenapa bapak mau membersihkan pasir dan debu jalanan kampung ini,” kataku menyela pekerjaannya.

“Ya supaya jalannya kembali seperti dulu lagi mas, Lancar.” Katanya pelan. Tak ada embel-embel biar dikataian penduduk sebagai pemuda pengangguran. Atau aktualisasi seperti katanya Maslow. No.  just biar lancar.

Trus pasir yang dalam karung-karung itu mau dikemanain pak?. Wah ngak tau mas, jawabnya tegas.

Saya jadi teringat desas desus di kampung Ngantang bahwa pasir-pasir letusan gunung kelut ini tak boleh  diperjualbelikan. Desas desus itu antara lain Ada seorang warga yang menjual pasir letusan gunung kelut. Setelah pasir itu terjual dan uang diterima. Si penjual akhirnya jatuh sakit dan masuk ke rumah sakit. Akhirnya, si penduduk lain menyarankan agar pasir yang telah dijual agar dikembalikan kepada penjual. Dan si penjual akhirnya sembuh kembali setelah pasir-pasir itu kembali. Gimana kebenaran tentang pasir gunung kelut. Wallahuaklam. Jadi karena ada kejadian seperti itu, penduduk ngantang tak ada yang berani menjual pasir hasil letusan gunung kelut. Di beberapa rumah warga tumpukan pasir-pasir berwarna hitam menghiasi halaman rumah penduduk.

Saya pun berlalu meninggalkan pak Yono sendirian. Saya berjalan ke bibir waduk selorejo yang bibirnya jontor karena tumpukan sampah dan eceng gondok. Bahkan, ada bibir-bibir selorejo ada sebagian yang berubah fungsi menjadi warung-warung setengah permanen. Tak tahu ntah siapa yang mengatur hak penggunaan atas tanah dipinggir waduk ini. lama-lama kelamaan. Anak-anaknya mengakui bahwa tanah itu menjadi hak mereka. akh harusnya pemerintah aka PT. Jasa Tirta, pengelola waduk seloreja melarang bangunan-bangunan liar. Atau kah ada permainan sehingga memang sengaja dibiarkan.

Akh bibir waduk selorejo. Ini bibir yang diinjak orang. Para pemancing. Para petani yang wara wiri ke sawah yang berada di bawah bukit selokurung. Terlihat satu dua orang petani mengayuh perahu kecilnya. Menembus tenangnya air waduk selorejo menuju ke sawah-sawah. Suasana masih terlalu dingin. Para petani sudah bersemangat melihat hasil tani yang disiram oleh abu vulkanik merapi.

lembah pandansari dipenuhi oleh truk-truk bantuan dan relawan

lembah pandansari dipenuhi oleh truk-truk bantuan dan relawan

pagi ini saya berkesempatan melihat Gunung yang banyak memuntahkan debu itu sekitar 18 hari yang lalu. Mentari pagi bersinar begitu terang menyinari bagian puncaknya. lekuk-lekuk gunung kelut terlihat begitu jelas, cantik dan menenangkan laksana gadis cantik.  burung-burung pun tertarik untuk hinggap di punuk punggungnya. beterbangan ke sana ke mari di puncak gunung. Burung-burung itu tahu bahwa gunung sudah bersahabat dengan alam. Burung-burung itu juga sebagai pertanda bahwa suasana kelut sudah tidak mengeluarkan gas berbahaya lagi.Ketenangan dan kejernihan air waduk selorejo masih sebagian tertutupi oleh awan-awan yang menggelayutinya.

Sesaat  setelah gunung kelut meletus, sebelum hujan turun. Suasana waduk selorejo seperti waduk yang direkam oleh kamera hitam putih jaman dulu. Pepohonan, air waduk, sampah, perahu semuanya tertutup oleh abu persis seperti hasil jepretan kamera tahun 80 puluhan.

Kembali ke rumah, saya mohon ijin ke ibu mertua untuk melihat-lihat desa pandansari, desa terparah yang terkena dampak gunung kelut dan banjir lahar dingin. Jadi lah obrolan ngalor ngidul tentang gunung kelut. Ibu menceritakan awal-awal gunung kelut meletus. Ibu pun mulai mulai menceritakan tentang meletusnya gunung  kelut. Sebelum dan sesudah gunung itu meletus.

Sebelum kejadian letusnya gunung kelut. Ibu mengikuti pengajian di salah satu rumah teman. Waktu itu, ustadnya berceramah tentang dahsyatnya kekuatan shalawat. Jika anda sakit, bacalah shalawat. Jika punya banyak utang, baca lah shalawat. Jika ada musibah, bacalah shalawat. Itu salah satu inti pesan pengajian malem tertanggal 13 Februari 2013. Pengajian selesai, peserta pengajian pun bubar kembali ke rumah masing-masing. Ibu pun pulang ke rumah kemudian lanjut shalat dan bershalawat. Ibu merasa ada gempa tapi tak sadar. Kemudian ibu mencubit-cubit pipinya. Akh benar. Berarti saya sadar, batinnya. Gempa pun muncul lagi. Makin besar.. duarrrr…

Penyebrangan kali sambung menuju desa pandansari

Penyebrangan kali sambung menuju desa pandansari

Di tempat lain, BMKG telah mengubah status gunung kelut menjadi awas. Perubahan status ini begitu cepat dan mendadak, kata salah satu ahli di media.

Kampung yang terletak di zona “aman” ini tak dipersiapkan apapun. Masker ataupun tempat pengungsian. Para petugas pun tak ada yang bersiaga malam itu. satu jam berlalu. Tepat pada pukul 22.50 Wib. Gunung kelut benar-benar meletus. Mengagetkan semua pihak termasuk pengamat kegunungan yang paling tahu tentang seluk beluk tentang gunung. Unpredictable.  Semua tak menduga bahwa gunung kelut akan meletus secepat ini.

Dentuman keras gunung Kelud menimbulkan warna kemerahan di kaldera gunung kelut. Merah seperti darah. Batu-batuan vulkanik terhamburkan. Pasir dan debu beterbangan hingga 17 Km. menyerupai jamur raksasa yang terbang menuju langit. Menghambur ke sekelilingnya Blitar, Kediri, dan Malang. Di sisi Malang, kampung Ngantang seketika langsung panik. Mushalla dan Masjid langsung bersaut-sautan melantunkan Adzan. Di ujung sana terdengar suara diba’an. Ntah dari masjid atau mushalla. Penduduk panik berhamburan. Ada sebagian yang tak sadar bahwa kelut meletus. Kenapa ada adzan malam-malam gini, kata teriak salah satu warga kepada yang lain.

Abu-abu menjulang hendak menembus keperkasan langit. Angin membawa ke segala arah menembus batas kabupaten. Menyiram sebagian malang, blitar dan kediri. Debu menuju arah utara melewati surabaya. Terbang di atas jembatan terpanjang di Indonesia, Suramadu. Abu kelud akhirnya tiba di kampungku di dusun srapong, Torjun, Sampang pada saat pagi hari sebagaimana yang diutarakan oleh ibu saya melalui telepon “yaaa tadi sempat hujan sebentar,” katanya diujung telepon.

Jalan menuju dusun Bales, Pandansari

Jalan menuju dusun Bales, Pandansari

Angin membawa debu-debu kelut menuju ke arah barat laut melewati batas provinsi menuju jogja. Jogja diselimuti oleh abu kelud. Jika difoto, maka jogja seperti menggunakan kamera jadul. putih kelabu. Titik Nol Jogja, Bandara Adi sucipto termasuk pesawat-pesawatnya, Candi Prambanan dan Candi Borobudur semua diselimuti oleh debu kelud. Dalam jangka waktu kurang dari 12 jam Abu kelut telah menempuh ratusan kilo meter- sekitar 600 km.

Gunung kelut meletus, kata teriak warga yang lain. Warga desa kaumrejo berhamburan ke waduk selorejo di belakang rumah. Dari sini kilatan cahaya gunung kelut terlihat. Semua terekam dalam perekam alami otak manusia. Ibu hanya bershalawat seperti tausiyah ustad malam ini. pokoknya bershalawat, begitu pesan sang ustad. Hanya ibu yang tinggal di rumah. Rasa takut pun muncul. Akhirnya, ibu memutuskan pindah ke rumah nenek yang berada di seberang jalan. Dalam keluarga ini hanya shalawat yang menjadi andalan. Shalawat. Shalawat.

Kelud menyebarkan batu kerikil dan abu menghujani kampung ngantang. Makin lama abu makin menumpuk. Yang tak kuat menahan pasir dan abunya. Seketika akan menjadi letoy, roboh dan tak berdaya. Dubrakkk…… “ehh kanopi rumah ginik roboh. Kasian ya bu ginik tinggal sendirian di rumahnya. Kanopi bu ginik roboh, kanopi bu ginik roboh, kanopi bu ginik roboh”  teriak-teriak pemuda kampung yang suaranya sampai terdengar oleh ibu Ginik dari rumah nenek.

Penduduk sekitar gunung kelut diliputi ketakutan dan kegetiran. Tangisan-tangisan bersahut-sahutan. Shalawat menjadi andalan untuk menenangkan. Mengharap pada sang pencipta bahwa gunung kelut tak muntah lagi. Shalawat…shalawat, kata nenek berusaha menenangkan ibu yang masih sesenggukan sedari tadi. Shalawat itu menenangkan jiwa.

Berbagai media menyiarkan berita tentang meletusnya gunung kelut. Kediri yang menjadi sorotan, karena gunung kelut berada di wilayah kediri. Ngantang terlupakan. Padahal di sini tak ada bala bantuan.

Kampung kaumrejo masih terjaga. Siap siaga kalau-kalau kelut meletus lagi. pagi pun pecah. Awan kelabu menyelimuti. Jalanan penuh dengan pasir. Di seberang sana, rumah ibu dengan kanopi yang terseok-seok tak beraturan. Debu beterbangan. Jarak pandang tak jauh. Bau belerang menyengat menusuk-nusuk hidung.  Ibu berjalan menyeberang jalan dengan menggunakan sarung sebagai penutup kepala.

Rumah-rumahan sawah yang masih kokoh menahan terjangan banjir lahar dingin gunung kelut

Rumah-rumahan sawah yang masih kokoh menahan terjangan banjir lahar dingin gunung kelut

Ujungnya digunakan untuk menutupi hidung dan mulut. Persis seperti maling kesiangan.  Berjalan di antara di sela-sela kanebo rumahnya yang runtuh  tadi malam. Beberapa warga kampung sibuk untuk mengungsi dengan inistiatif sendiri. tak ada bantuan pemerintah yang katanya sudah menyiapkan segala keperluan khusus gunung kelut. Tak usah muluk-muluk. Masker aja tak ada, gerutu penduduk kampung mengumpat pemerintah. Bu Ginik (nama panggilan Mertua) ayo mengungsi, teriak salah satu warga di kampung gading. Mereka berjalan dengan menggunakan alat masker-maskeran. Sarung dan kerudung bisa berfungsi sebagai masker.

Ibu bergegas mengemas baju-baju yang hendak dibawanya. tak tahu mau kemana. Yang pasti keluar dari kampung ini secepatnya. Setelah siap, ibu berjalan bersama kakek nenek yang jalannya terseok-seok oleh debu jalanan yang sudah menumpuk. Berjalan di pasir dan debu kelut seperti berjalan di pasir pantai. Berjalan sedikit saja sudah terasa capek. Terpaksa berhenti. Kemudian berjalan lagi menyusuri jalan-jalan yang dipenuhi pasir dan debu. Debu beterbangan ke  sana kemari masuk ke dalam sela-sela rumah, tempat tidur, pepohonan. Bau busuk menyengat ke dalam hidung. Membuat pusing bagi penghirupnya. Gas belerang beterbangan memenuhi udara ngantang.

Sebagian masuk ke dalam paru-paru makhluk hidup termasuk manusia. Ibu bersama kakek nenek berjalan sejauh dua kilometer. Berharap ada tumpangan yang mau mengangkutnya. Sepanjang perjalanan tak ada polisi, tak ada tentara ataupun pemerintah yang siap siaga untuk memberikan tumpangan ataupun memberikan masker atau sekedar menyemangati penduduk. Hanya satu polisi yang terlihat. Itupun bukan mau menolong tapi juga ikut mengungsi. Kosong dan kelabu. Itulah suasana saat itu.

Saat ada truk-truk yang datang, maka seketika itu juga warga berhamburan berebut naik. Shalawat itu berbuah manis. Sebuah mobil avanza lewat di depan ibu. Ibu mencegatnya agar diberi tumpangan. Alhamdulillah.. ibu dan kakek nenek mendapatkan tumpangan yang enak. Mungkinkan itu buah dari shalawat seperti kata pak ustad. Bisa jadi. Wallahuaklam. Semua rejeki datangnya dari tuhan termasuk rejeki dapat tumpangan.

Anaknya di malang sudah siap-siap menyambut ibu dan kakek neneknya dari perjalanan yang menggetirkan. Menembus kelambu debu-debu yang beterbangan yang menyesakkan dada. Setelah menempuh satu jam perjalanan, Mereka sekeluarga pun tiba selamat dengan berselimutkan debu. Semua Tak kurang suatu apapun. Hanya debu-debu kelut yang menyelimuti.

Saya sendiri tak tahu tentang keadaan kelut pada saat kejadian malam itu. Saya hanya mendengarkan dari istri saya yang langsung menghubungi saya malam itu sekitar 2 jam setelah gunung kelut meletus. Di Mataram, dampak gunung kelud tidak terasa. Siang itu, matahari tertahan menyinari lombok. awan kah atau debu kelut yang memenuhi angkasa. Ku hanya mampu menebak.

Gunung kelud menjadi headlines di berbagai media cetak. Topnews di berbagai media televisi. Itulah kelud. Gunung dengan ketinggian 1.731 mdpl mampu menyedot perhatian seluruh indonesia, bahkan dunia termasuk Nasa.Nasa menggabarkan bahwa debu-debu yang beterbangan seperti jamur raksasa yang menuju langit dengan ketinggian sekitar 20 km.

Dusun Munjung yang sebagian atapnya beratapkan terpal

Dusun Munjung yang sebagian atapnya beratapkan terpal, sebagian sudah diganti genteng baru, sebagian lagi beratapkan langit

—-

Langit hari itu begitu kontras dengan jalanan di ngantang. Langit yang cerah dengan Jalanan berdebu yang beterbangan dibawa kendaraan yang hilir mudik. masuk ke rongga-rongga mulut yang ngak ditutup. Kali ini saya ingin melihat desa terparah yang terkena dampak erupsi gunung kelud. Melewati masjid Agung Ngantang yang kanebonya ambruk tak kuat menahan beratnya beban abu kelud. Atau SMP 1 Ngantang yang atapnya sudah rubah. Beberapa relawan sibuk menggali dan mengangkut pasir ke dalam truk pengangkut yang sudah berjejer di depan masjid. Mahasiswa, polisi, tentara semua sibuk menjadi relawan.

Debu beterbangan terbawa angin.  Pohon-pohon masih diselimutu abu. Hijau keputihan. Kantor Jasa Tirta sudah tak beraturan. Escavator ikut andil meratakan. Di balik puing-puing kantor, terlihat gunung kelut dengan gagahnya. tak ada pos polisi. Semua polisi sudah berdiri di pintu masuk kawasan desa pandansari siap menghadang dan mengintrogasi orang-orang yang ingin masuk. Debu beterbangan dipadu dengan polisi dan tentara berbaris rapi. seorang polisi menjaga portal pintu masuk. suasananya seperti memasuki kawasan konflik berkepanjanan. Tak sembarangan orang bisa masuk kawasan ini, hanya orang-orang yang telah diijinkan yang bisa masuk kawasan pandansari. Anda warga kampung pandansari silahkan masuk, kalau bukan silahkan anda parkir di tempat yang disediakan. Titik.

Saat saya hendak menembus barikade polisi yang berdiri, dua orang polisi langsung menghadang sepeda motor saya. Mau kemana?, kata seorang polisi yang menginterogasi saya. Saya mau lihat desa pandansari pak, kataku. silahkan parkir di sana, katanya dengan tegas sambil menunjukkan lokasi parkir khusus para pengunjung. saya tunggu di sini aja, kata istriku. Akh istriku tak mau capek rupanya, batinku

Saya pun berjalan dengan rasa kehawatiran. Tak tahu ntah kenapa. Saya seperti memasuki kawasan konflik. Saya pun berjalan menembus barikade polisi. Tak ada teguran dan sapaan. Saya hanya sempat motret barikade polisi itu kemudian berlalu.

Menyusuri jalanan berdebu. Debu beterbangan dibawa angin. Saat sebuah truk lewat, abu kelut itu membasuh-basuh muka. Saya memicingkan mata, mengusap debu yang menempel di muka. Pohon-pohon cemara di pinggir jalan masih diselimuti debu kelud.  Kamp-kamp raksasa polisi dan tentara berbaris rapi di pinggir jalanan yang berdebu.

Tiba di dekat Spillway Waduk Selorejo. saya langsung bisa melihat desa pandansari yang terisolir itu di kejauhan. Terlihat rumah-rumah yang beratapkan langit dan terpal berwarna kebiruan. Rupanya itu adalah terpal-terpal yang digunakan untuk menutupi rumah-rumah yang atapnya ambruk oleh abu gunung kelud. untuk menuju desa pandansari ini, saya harus melewati lembah, menembus sungai kali sambung.

Posisi Saya saat ini berada di puncak di sisi waduk selorejo. Dari puncak ini, saya melihat truk-truk, mobil-mobil relawan yang memenuhi salah satu lembah yang berada di antara dua bukit. di sini lah pusat transportasi relawan. Di sinilah para relawan berkumpul. Terlihat beberapa relawan berjalan mengular menyusuri kali sambung menuju desa pandansari.

Desa Pandansari dilewati oleh kali sambung yang dengan hulu di gunung kelud melewati kediri bermuara di kali brantas. Kali sambung membelah desa pandansari menjadi dua bagian. Satu dusun berada di sisi kiri kali sambung. Dusun Bales. Sedangkan di sisi kanan kali sambung ada lima dusun yaitu Dusun Munjung, pahit, Kutut, Klangon, dan sedawun. Jembatan yang menuju ke lima dusun inilah yang terputus akibat terjangan banjir lahar dingin. Jembatan kali sambung menghubungkan desa pandansari dengan desa-desa lain di kecamatan Ngantang.

Desa Pandansari dilihat dari sisi waduk selorejo

Desa Pandansari dilihat dari sisi waduk selorejo

Saat hujan turun, maka kali sambung akan memutus mata rantai bantuan. Maka terisolirlah desa pandansari. Terisolir juga lah bantuannya.

Untuk mengatasi meluapnya kali sambung saat hujan turun, para relawan harus sudah kembali menjelang siang hari.

Kali sambung dijadikan jalan utama menuju desa pandansari. Polisi diturunkan bertugas lalu lintas di kali sambung. Kali sambung menjadi kawasan lalu lintas barang yang paling sibuk di desa pandansari. Manusia hilir mudik di kali ini. bantuan pun datang dari berbagai penjuru. Beras berkwintal-kwintal siap didistribusikan.

Ada pemandangan yang aneh di aliran kali sambung ini. banjir lahar yang mampu menerjang jembatan kali sambung ternyata tak cukup mampu merubuhkan gubuk reyot. Dia tetep berdiri kokoh. Saat saya berusaha menggoyangnya, gubuk itu tak bergoyang sedikitpun. Akh di tengah bencana ternyata ada sebuah keajaiban. Keajaiban dari benda mati yang tak tergoyahkan oleh ganasnya terjangan lahar dingin.

Mitos sejarah Gunung Kelud.

Bbeberapa warga masyarakat masih mempercayai mitos tentang lembu sura yang telah mengeluarkan kutukan gunungan kelud. ada berbagai versi tentang mitos sejarah lisan gunung kelud itu sendiri. namun, semuanya bertutur tentang peranan wanita cantik. al kisah Dyah Ayu Pusparani adalah seorang putri dari Raja Brawijaya, Kerajaaan Majapahit yang terakhir. kecnatikan tersohor hingga ke berbagai penjuru. banyak pria yang ingin mempersuntingnya. sayang, pelamarnya adalah Lembu Sura seorang buruk rupa. makhluk berkepala lembu.sang putri pun mengatur siasat bagaimana dia bisa menolak secara halus tanpa menyakiti sang pelamar. dibuatlah prasyarat yang tak mampu diselesaikan dalam waktu semalam. Sang putri bersama sang Raja memberikan pra syarat bahwa sang Lembu Sura harus bisa membuat sumur dalam waktu semalam agar bisa menikahi sang putri. Lembu sura punya kekuatan sehingga dia menyanggupinya. Saat Tuan Putri mendengar kabar bahwa lembu suro akan berhasil, tuan putri bersedih. dia pun curhat kepada ayahnya, Brawijaya.

ayahnya kemudian memerintahkan para prajurit kerajaan untuk menimbun Lembu Sura yang masih terus menggali sumur. saat batu hendak dilemparkan. Lembu Suro memohon agar tak ditimbun. melihat gelagat bahwa permohonannya tak akan terkabulkan. Lembu Suro memberikan kutukan Yoh, Kediri mbesuk bakal pethuk piwalesku sing makaping-kaping, yaiku Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, lan Tulungagung dadi kedung. Kediri jadi Kali, Blitar jadi latar-halaman, Tulungngagung jadi kedung-penampungan.tumpukan-tumpukan batu makin lama makin besar hingga menjadi gunung kelud. itulah kisah tentang Lembu Suro. kutukan ini hanya menimpa kepada daerah-daerah yang ada dalam kutukan seperti Blitar akan menjadi halaman debu, Kediri jadi kali aliran lahar dingin. dan Tulungagung jadi penampungan lahar dingin kediri.

Apabila kutukan Lembu Suro dikaitkan dengan letusan Gunung Kelud ter tanggal 13 ferbruari 2014. semuanya meleset. Ngantang dan Kediri telah menjadi latar, bahkan Jogja nun jauh disana berselimutkan debu. bahkan Blitar yang dikutuk menjadi halaman abu nampak begitu cerah sehari setelah letusan. media pun memberitakan blitar setelah letusan. Tak hanya kediri yang terkena kutukan Lembu Suro bahkan desa pandansari, Ngantang menjadi desa terisolir terkena dampak aliran banjir lahar dingin. akh ternyata Lembu Suro keliru dalam memberikan kutukan.

Kisah tentang Lembu Suro ini akhirnya diabadikan dalam sebuah patung Lembu Suro yang ada Blitar.

Itulah sekelumit perjalanan saya menelusuri dahsyatnya amukan gunung kelud.

Air Terjun Coban Rondo dan Grojogan Sewu Malang

Air Terjun Grojogan Sewu dengan arsitektur Tiongkok

Air Terjun Grojogan Sewu dengan arsitektur Tiongkok

Hari sabtu menjelang siang hari saya siap berangkat menuju ngantang. Menjenguk rumah mertua yang terkena dampak letusan gunung kelut. Dari gang sempit kampung oro-oro dowo, kota malang saya bersama istri berangkat menggunakan sepeda motor. Ku liat langit yang diselimuti awan putih kelabu. Sepertinya akan segera turun hujan. Tak ada jas hujan, saya pun terus melaju menggunakan sepeda motor yang pajaknya baru dibayar sebulan lalu itu.

Memasuki kota batu langit semakin kelabu. Hawa dingin kota Batu menggelayuti tubuh saya. Sreng.. dingin, segar. saya pun terus melaju melewati kota yang terkenal dengan sebutan kota Apel itu. melewati alun-alun kota Batu saya jadi teringat bahwa alun-alun ini pernah menjadi tempat pengungsian orang-orang yang terkena dampak gunung kelut dari kecamatan Ngantang. 18 hari sejak gunung kelut meletus, lokasi pengungsian ini kembali seperti sedia kala. Tak ada tenda. Tak ada pengungsi. Tak ada relawan. Semua seperti sedia kala.

Setelah melewati kota batu yang dingin. Saya akan memasuki kawasan yang lebih dingin lagi. Melewati kecamatan yang terletak di antara kota Batu dan kecamatan Ngantang. Yaitu Pujon. Untuk memasuki kawasan kecamatan Pujon, ada dua alternatif jalan. bisa menggunakan alternatif jalur coban rondo atau jalur Songgoriti.

Jembatan Grojogan Sewu

Jembatan Grojogan Sewu

Jalur Coban rondo jarak tempuhnya lebih lama, berbelok-belok, memutar dan tanjankannya tak terlalu curam, dan anda pun bisa mengunjungi kawasan air terjun coban rondo yang terkenal di malang itu. nah jalur yang kedua adalah jalur Songgoriti. Jalur Songgoriti ini sebetulnya adalah jalur searah dari arah Pujon ke Batu. dan hanya cukup untuk satu mobil. Jadi untuk yang menggunakan mobil tidak disarankan melewati jalur ini dari batu ke Pujon. Di pintu masuk songgoriti terdapat tanda polisi “Minus” yang berarti dilarang melewati jalan ini.

Walaupun ini jalur searah, saya sering  melewati jalur songgoriti karena ini termasuk jalan tikus menuju pujon. Jalannya yang menanjak tak menyurutkan saya melewati jalur ini karena jarah tempuhnya pun lebih cepat. dan melanggar ketentuan lalu lintas. Songgoriti ini sebetulnya lebih dikenal sebagai kawasan “cisarua” nya Malang. Villa-villa banyak dibangun kawasan ini. saat saya memasuki kawasan Songgoriti, beberapa warga yang berada di pinggir-pinggir jalan meneriaki saya “Villa mas, Villa Mas, Villa Mas”. Sepanjang jalan saya ditawari “Villa Mas”.

Jembatan Grojogan Sewu

Jembatan Grojogan Sewu yang terkena dampak banjir bandang.

Bersahut-sahutan antara kanan dan kiri jalan. Setiap rumah di pinggir jalan itu seakan ada penunggunya. Dan penunggunya akan selalu menawarkan dan meneriakkan “Villa Mas”. Hebohnya lagi kalau di pinggir jalan berkumpul beberapa orang. Semuanya akan berteriak “Villa Mas”. Bahkan mereka pun semangat sekali mengejar saya menggunakan sepeda motor dan memepet sepeda motor saya kemudian menanyakan “Villa Mas”. tentu jawaban saya atas pertanyaan mereka adalah dengan tanggapan cuek “Ngak mas (setidaknya untuk saat ini). “

Saya berpikir mungkin karena saya boncengan dengan “cewek”. Sehingga mereka mengira bahwa saya ingin mencari penginapan. Ingat kawasan songgoriti, pikiran saya langsung ingat 4 tahun lalu tahun 2010. saat saya dan kawan-kawan saya berjalan di kawasan Legian, Bali. Tiap kaki melangkah selalu ada yang menawarkan “cewek mas, cewek mas, cewek mas”.

Ada yang menawarkan terang-terangan di depan saya atau di balik-balik toko atau dibalik gang-gang kecil di Legian. Sepanjang saya melangkahkan kaki di Legian tawaran itu tak pernah berhenti. Apalagi saat mendekati kawasan “Ground Zero nya ” Bali. Tawaran “Cewek mas” makin sering. Itu lah kawasan Legian Bali yang memiliki kemiripan dengan kawasan Songgoriti Malang.

Suasana Air Terjun Coban Rondo

Suasana Air Terjun Coban Rondo

Jalannya menanjak dan terjal. Di samping kiri adalah lembah-lembah yang ditumbuhi pohon-pohon cemara yang menghijau. Kanan kiri jalan dipenuhi pohon-pohon cemara-cemara berbaris rapi melambai-lambai diterpa angin pegunungan. Motor saya meliuk-liuk ke kanan kiri menghindari jalan-jalan yang berlubang. Di balik pohon-pohon cemara ada lembah songgoriti yang curam.

Di balik lembah itu ada mushalla yang berdiri di puncak bukitnya. rumah-rumah penduduk mengelilingi tepat berada di bawahnya. Di puncak bukit yang lain, kondominium perumahan berdiri di puncak bukit. Di puncak tanjakan, ku liat angin yang membawa awan putih merayap-rayap di jalan, menyusuri lembah, mengipas pohon-pohon cemara, membasuh-basuh tubuh saya yang mulai kedinginan.

Setelah mencapai puncak, kota kecil pujon menyambut saya dengan hawa dinginnya. Gerimis pun menghujani saya. Saya melongok ke atas. Awan putih kelabu menyelimuti. Pasir dan debu tumpahan gunung kelut yang beterbangan di pujon tak terlihat lagi. Angin dan hujan menyapunya dengan bersih. Relawan pun tak bermunculan.

Air Terjun Coban Rondo

Air Terjun Coban Rondo

Saya pun berlalu dengan kecepatan sedang. Melihat-lihat ke sekeliling pujon. Melewati koperasi susu sapi terbesar di Malang “Koperasi Susu SAE”. Di ujung jalan, terlihat puncak bukit. Awan-awan terbawa angin menangkupi pujon yang sejuk. Tak ada jejak gunung kelut . Tak ada jarak pandang yang dibatasi. Hanya bukit-bukit dan bangunan-bangunan toko di pinggir jalan yang membatasi jarak pandang saya.

Saya pun terus melaju menuruni keramaian pujon. Meliuk-liuk menuruni meninggalkan keramaian pujon menuju ke keramaian pujon yang lain, pusat-pusat oleh-oleh khas pujon. Terlihat berbagai sayuran dan buah-buahan di jual di sini. dan pastinya murah-murah. Apel-apel hijau, Ubi-ubian menggantung di pinggir-pinggir jalan.menunggu jamahan dan tawaran orang-orang yang ingin membawa pulang sebagai oleh-oleh.

Mobil di depan saya pun melambat trus makin melambat sampai terhenti dengan sempurna. sungai kali konto yang berada di samping jalan begitu derasnya. Membawa air dari hulu di gunung kawi mengalir menuju titik terendah menembus kecamatan Pujon dan ngantang melewati kabupaten jombang. bertemu dengan sungai kedua terpanjang di pulau jawa, kali brantas. Bercampur dengan aliran air kali widas yang membawa air dari gunung wilis di kediri. Mengalir menyusuri mojokerto. Bercabang ke arah porong dan surabaya. Kemudian Keduanya bersemayam di teluk madura di sisi timur surabaya.

Banjir Bandang yang menerjang rumah dan Escavator

Banjir Bandang yang menerjang rumah dan Escavator

Kali Konto tak sepertinya biasanya. Hujan yang begitu deras di ujung bulan Januari 2014 menghantam sawah-sawah. Banjir Bandang menimpa kecamatan Pujon dan Ngantang. Airnya meluber ke jalan-jalan. menerjang segala sesuatu yang menghalanginya. Pohon-pohon tumbang. Rumah-rumah di bantaran kali tersapu. setiap tikungan jalan, separuh jalannya tergerus dibawa ntah kemana. Sawah-sawah terlihat seperti disetrika oleh setrika alam. Halus dan berwarna kecoklatan. Air bah kali konto telah merusak sepanjang 15 Km di sepanjang aliran kali konto di Pujon dan Ngantang. rumah-rumah bantaran kali konto yang kuat bertahan hanya sebagian yang terbawa air, sebagian tersisa menggantung di pinggir sungai. Terlihat seperti manusia yang kakinya diamputasi separuhnya.

Petugas escavator yang berusaha membersihkan sungai kali konto tiba-tiba dihantam banjir bandang. Escavator dan petugasnya langsung terseret beberapa meter. Terpelanting. Escavator akhirnya didudukin oleh batu-batuan kali yang besar. Batu-batu kali konto begitu kuasa untuk menduduki escavator raksasa. Badannya dijepit oleh batu-batuan yang lain. Escavator tak berdaya. Dia begitu tak kuasa memindahkan satu dua buah batu yang mengelilingi tubuhnya. Banjir bandang telah mengubah semuanya. Batu tak bernyawa bisa berkuasa atas escavator. Escavator itu berada tak jauh dari rumah yang separuhnya terseret air bah.

Berbagai media memberitakan bahwa petugas itu hilang ditelan banjir bandang. Menjadi headlines di koran lokal malang. Sebetulnya, dia berhasil menyelamatkan diri dan menginap di salah satu rumah penduduk sekitar. Media tak mengendus berita itu. hanya berita mulut ke mulut yang mengetahui bahwa petugas escavator selamat dan berada di rumah penduduk.

Escavator diduduki batu-batu akibat terjangan banjir bandang

Escavator diduduki batu-batu akibat terjangan banjir bandang

Tak hanya jalan dan sawah yang diterjang oleh ganasnya banjir bandang. Jembatan yang menghubungkan ke air terjun Grojogan sewu terputus. Warnanya jembatan berwarna merah cerah. Sayang, ujungnya sudah diterjang banjir. Kecantikan jembatan memudar. Saya pun terus melaju dengan pelan. Sesekali terhenti oleh jalan yang separuhnya dimakan oleh amukan banjir. Pemuda kampung seketika menjadi petugas dadakan mengatur lalu lintas. Bergantian. Ketika kendaraan dari arah malang berjalan maka kendaraan yang dari arah jombang dan kediri terdiam merayap memaku jalan. begitu juga sebaliknya.

Saat terlepas dari jalan rusak, dari antrean panjang, saya langsung dihadapi pada antrean baru lagi. Motor terhenti. Ujung kemacetan tak terlihat. Sepertinya daya rusaknya lebih parah dari yang sebelumnya. Ku melongok ke depan sana, tak ada tanda-tanda bahwa kemacetan akan segera terurai. ku liat aliran deras sungai konto. Terlihat beberapa warga yang sedang gotong royong. Ku toleh ke kanan jalan. di Gapura kampung tertulis “Kel. bendosari “. Saya mencari waktu sejenak menghilangkan antrean yang tak berkesudahan. Saya mendekati keremunan penduduk. “ayo, kurang dowo,”  teriakan salah satu warga di atas jembatan kepada kawannya yang berada di bawah jembatan. “kurang dowo”. Saya melongo ingin tahu.  Ternyata tali yang digunakan untuk menarik bambu-bambu itu yang kurang panjang. Dowo dalam bahasa jawa berarti panjang.

Jembatan bambu Bendosari di kecamatan Pujon

Jembatan bambu Bendosari di kecamatan Pujon

Rupanya, warga di kampung bendosari bergotong royong membangun jembatan darurat dari bambu. Bambu-bambu yang baru ditebang langsung ditali temali kemudian dipasang untuk dijadikan jembatan. Mereka bahu membahu untuk membangun jembatan ini. tak perlu uluran tangan dari pemerintah yang tak jelas kapan akan dilakukan pembangunan kembali. Warga desa bendosari tak perlu itu. mereka hanya perlu bambu-bambu untuk menyambungkan dua daratan yang terpisah oleh kali konto. Di ujung jembatan, hanya ada satu rumah dengan tulisan “olah limbah jadi berkah.” Saya belum bisa menerka bangunan apakah itu. pengolahan susu sapi kah atau kah pengolahan limbah?.

Saya hanya sibuk memotret jembatan darurat dan orang-orang yang berjalan di jembatan dengan panjang sekitar 7 meter itu. beberapa warga melihat saya jeprat sana sini. saya terdiam dan melirik. mereka memberikan senyum manis kepada saya. Saya pun membales senyuman mereka sambil terus memotret jembatan bambu. Sebelum pertanyaan saya terjawab saya harus segera meninggalkan lokasi ini. ku toleh ke belakang melihat warga bersenda gurau di tengah kesibukan membangunan jembatan. Tertawanya begitu lepas seakan tak ada beban. Saya pun sempat merekam senyum mereka yang lepas. saya harus melanjutkan perjalanan lagi. Mungkin sebentar lagi kemacetan akan teurai dan siap melanjutkan perjalanan kembali.

Gelak tawa lepas warga bendosari

Gelak tawa lepas warga bendosari

Kecamatan Ngantang. Inilah kecamatan yang terkena dampak terparah letusan gunung kelut tanggal 13 Februari 2014 itu. Dua kali kecamatan ngantang di rundung kesedihan hanya dalam waktu tak lebih dari 15 hari. Banjir bandang dan gunung meletus.

Saat saya memasuki ngantang. Gundukan-gundukan pasir hitam mengkilat tertumpuk di pinggir jalan. setiap rumah penduduk pasti ada pasirnya bekas tumpahan gunung kelut yang belum terangkut. Beberapa rumah masih terlihat kusam kelabu seperti langit yang masih kelabu. Tak ada hiruk pikuk relawan yang bekerja. melawatan desa kaumrejo. Jalan-jalan masih diselimuti pasir setinggi 10 cm. siang hari, saya tiba di rumah mertua saya di ngantang. Tepat di kaki waduk selorejo. Merehatkan badan dan kaki untuk mempersiapkan perjalanan besok hari menelusuri dampak gunung kelut di Ngantang.

Mengejar Sunrise Danau Kelimutu 3 Warna

Mengejar Sunrise Danau Kelimutu 3 Warna

Ende. salah satu nama kabupaten di pulau Flores, NTT. Namanya tak terlalu dikenal di jagat nusantara. tapi kabupaten ini begitu bersejarah bagi pilar Bangsa Indonesia. di Kabupaten Ende Bung Karno diasingkan. di Ende juga lah Bung Karno mendapatkan inspirasi untuk melahirkan Pancasila sebagai Dasar Negara. Penduduk Indonesia akan selalu mengingat kabupaten Ende setiap tanggal 1 Juni sebagai hari lahirnya Pancasila.

Karena Bung Karno juga lah, “Pohon Sukun” menjadi sesuatu yang sangat spesial di Taman Renungan Bung Karno. Lalu pertanyaannya adalah kenapa “Pohon Sukun” begitu spesial bagi spesial bagi lahirnya Pancasila. apa hubungannya antara Pohon Sukun, Bung Karno, dan Pancasila.

Ende tak hanya menawarkan perjalanan lahirnya Pancasila, tapi Ende juga menawarkan sejuta Pesona seperti pantai batu hijau Penggajawa dan Danau Kelimutu 3 warna. Danau Kelimutu yang selalu berganti-ganti warna. Danau Kelimutu yang menjadi pusat berkumpulnya arwah-arwah yang sudah meninggal. Pertanyaannya adalah kenapa Danau Kelimutu menjadi selalu berganti-ganti warna atau kenapa Danau Kelimutu menjadi pusat roh-roh. atau anda pengin tahu seorang Biker dunia yang menjelajahi Danau Kelimutu.

——————————————————————————————

Mengejar Mentari di Danau Kelimutu

Mengejar Mentari di Danau Kelimutu

Bintang Lodge

Itulah nama penginapan saya. Kamarnya ada 4 dan tanpa AC. Ngak pake AC karena kawasan Moni ini termasuk kawasan pegunungan kelimutu. Tempat tidurnya menggunakan kelambu. Selama berpuluh-puluh tempat penginapan, baru kali ini saya dapat tempat tidur yang berkelambu. Lain tempat tidur, lain pula bagi para tamu di hotel di kawasan Moni ini. setiap tamunya disuruh untuk mengisi data tamu seperti Nama, asal, tujuan ke sini dan lain sebagainya.

Menurut Tobias, sang pemilik hotel, tujuan pengisian data-data ini adalah untuk memonitor jumlah wisatawan dan asalnya. Biasanya secara Reguler, dinas pariwisata akan merekapitulasi wisatawan-wisatawan itu. nah sekarang waktunya dinner time. Biasanya para turis ramai datang ke moni pada bulan-bulan juni, juli dan agustus. Kebanyakan berasal dari benua Eropa. Saat itu kawasan ini seakan penuh dengan para turis. Ada pengalaman unik saat dinner yang di restoran Bintang Lodge.

Buku Tamu

Buku Tamu

Tamu hotel ini ada 6 orang. tiga orang luar negeri alias turis, tiga orang lagi rombongan saya. Tiga turis itu sudah berada di restoran saat saya mau ke  restoran. Bapak Tobias ini dibantu billyanes dalam mengelola hotel ini. Billyanes juga lah yang menawarkan saya menu-menu dinner. Desa tapi selera kota. Hampir semua menunya ini berbahasa inggris.

Tak hanya itu, Billyanes sering keceplosan ngomong inggris. Bahkan saat dia ngomong bahasa inggris, ada beberapa kata yang ngak ku ngerti. Terpaksa dah nanya apaan tuh. Eh ternyata krupuk. Baru nyadar kalau selama ini saya ngk pernah baca n denger bahasa inggrisnya krupuk. Tu kan lupa lagi pas mo nulis tulisan ini. apaa ya bahasa inggrisnya krupuk?. oh ya ma kasih buat komentarnya mas Badai yang ngasih tahu bahasa inggrisnya kerupuk = Crackers. hum..

Maklum tamu-tamu disini mayoritas turis.

Aku dan Anak Anjing “Bintang”

Billyanes dan "Bintang"

Billyanes dan “Bintang”

Sambil nunggu pesanan, tau-tau anak anjing mendekati saya. Nama anjing sama dengan nama hotelnya, bintang. Anjing semakin mendekat-dekat. Sepertinya dia memang mendekat untuk ngajak bermain. Sedangkan saya tidak mau diajak bermain. Akhirnya, saya menghindar dari anak anjing tersebut. Dari yang awalnya duduk sampai berdiri. Dari awalnya diam kemudian bergerak menghindari anak anjing itu. herannya, si bintang mengira bahwa saya ngajak bermain dengan cara berlari.

Tak ayal, akhirnya arena restoran bintang dalam sekejap menjadi taman berlari. Taman berlari bagi anak manusia dan anak anjing. Seru sih bagi yang melihatnya. Menakutkan bagi yang dikejar anjing. Saya terpaksa memutari meja makan para turis itu bahkan memutari restoran yang luasnya hanya 6 x 8 m2. Tiga kali saya memutarinya. para turis itu memandangi saya yang ketakutan dikejar anjing. Akhirnya kejar-kejaran itu terhenti karena saya keluar dari area restoran itu dan Billyanes membantu “menjinakkan” anak anjing itu.

Danau Tiwu Ata Polo (saat Mengambil Foto ini saya hampir terjatuh kedalam ini..iih ngeriii)

Danau Tiwu Ata Polo (saat Mengambil Foto ini saya hampir terjatuh kedalam ini..iih ngeriii)

setelah aksi kejar-kejaran antara anjing dan saya, suasana Restoran mulai kondusif. saya pun mulai berani duduk di dalam salah satu kursi restoran. Anak Anjing imut “bintang” terpaksa disembunyikan di luar restoran. saya pun bisa relax menunggu pesanan makananku datang. kembali ku jelaskan bahwa saya lari saat dikejar anak anjing “bintang” bukan karena saya takut pada anak anjing yang ingin “bermain” dengan saya, tapi karena saya takut sang anjing Bintang itu menjilat-jilat saya sehingga tubuh saya jadi najis tralala. soale menurut keyakinan saya membersihkan jilatan anjing perlu 7 kali cucian bro… satu dari 7 cucian itu harus dicampur dengan debu. so, ribet kan. ya mending saya lari daripada saya harus mencuci baju atau kulit saya dengan 7 kali cucian. itupun harus dicampur dengan debu lagi.. hadewh

Jacky berpose dengan Latar Danau Tiwu Ata Polo dan Danau Tiwu Nua Muri Ko’o Fai

Jacky berpose dengan Latar Danau Tiwu Ata Polo dan Danau Tiwu Nua Muri Ko’o Fai

saya melihat tiga turis itu duduk tepat di depan saya. saya tak terlalu mendengar apa yang sedang mereka obrolkan. saat saya sedang memperhatikan 3 turis itu, Billyanes mendekati saya dengan membawa nampan berisi makanan. ku liat 3 turis itu makin asyik obrolannya. sedangkan saya, langsung menyantap makanan yang sudah tersaji. saat saya menyudahi makan malam saya, turis itu meninggalkan restoran Bintang. ku duduk bersandar memperhatikan 3 turis yang meninggalkan restoran. semoga dalam pikiran para bule itu tidak ada bahwa “wisatawan lokal indonesia takut dengan anak anjing”.

Mengejar sunset di Kelimutu

Mengejar sunset di Kelimutu

Posisi dudukku tiba-tiba berubah ketika melihat sepeda yang sengaja disandarkan pada dinding restoran. ku coba mendekati sepeda itu. dari posisi bersandarnya, ku tahu bahwa sepeda ini bukan sepeda pemilik hotel atau restoran. saya pun berusaha meyakinkan pikiran saya. Mas Bilyaness ini sepeda siapa yach?, kataku pada pada pelayan yang masih seumuran aku itu. oh ini sepeda milik turis yang tadi makan di restoran ini. siapa nama pemiliknya dan darimana asal negaranya, kataku berusaha menyelidikinya. Namanya Steven berasal dari Jerman. memangnya dia naik sepeda dari mana dan mau kemana?kataku dengan nada heran. “wah saya ngak tahu mas, yang pasti dia tadi menurunkan sepedanya dari truk di depan hotel. truknya itu tujuan Ende. sepertinya turis itu, ngak kuat menempuh jalur pegunungan Maumere Ende yang begitu menyiksa sehingga dia menaikkan sepedanya ke dalam truk itu, kata Bilyaness kepada saya.” oh gitue, kataku dengan nada heran.

Mengejar Sunrise

Mengejar Sunrise

oh ya kira-kira Steven besok naik ke Danau Kelimutu juga kah?, kataku. yaaa dia mau naik ke kelimutu. saya sendiri yang mau anter dia besok pagi-pagi jam 04.00, kata bilyanes. wah kalau gituw saya besok harus bangun jam 04.00 agar bisa ketemu sunrise. sekalian, saya juga pengin ketemu sama Steven, kataku sambil berlalu meninggalkan restoran dan anjing “Bintang”.

saya pun bergegas masuk kamar agar saya bisa bangun pagi-pagi untuk menjemput sunrise di puncak kelimutu.

Danau Kelimutu Tiga Warna.

Danau Tiwu Ata Polo

Danau Tiwu Ata Polo

Tepat jam 04.00 saya sudah bangun. subuh belum tiba. akhirnya saya mandi dulu sambil menunggu waktu subuh. setelah shalat subuh, saya bergegas membangun sang sopir yang tidur di samping saya. ku menuruni tangga hotel. ku tanya kepada sang pemilik hotel “apakah turis-turis itu sudah berangkat?.” wah Bilyanes sudah berangkat mengantarkan turis menggunakan sepeda motor, kata sang pemilik kepada saya. oh gituw, wah saya pun harus buru-buru berangkat agar bisa mengejar sunrise “Danau Kelimutu”, imbuhku pada pemilik hotel.

kami bertiga berangkat menggunakan mobil. mobil yang sudah kami sewa sehari semalam. kami berjalan menembus suasana desa moni yang masih gelap. jalan-jalanan masih sepi.  saat tiba di pintu gerbang Danau Kelimutu, kami berhenti sejenak untuk membayar tiket masuk. awas kameranya jangan dibawa pada petugas jaga dan kalau penjaganya tanya bilang aja kalau tidak membawa kamera, kata sang sopir kepada saya sesaat sebelum saya membuka pintu mobil. dan saya menurutinya tanpa sepatah kata keluar dari mulutku.

Danau Tiwu Ata Bupu

Monyet Berpose di Danau Tiwu Ata Bupu

saya kemudian bergegas menuju penjaga itu. ruangan penjaga gelap. hanya satu penjaga, ku liat wajahnya dengar samar-samar kegelapan. dalam kegelapan itu ku coba menerka umurnya. mungkin umurnya sekitar 40an, batinku. perlu saya menulis buku tamu pak, kataku.oh tak perlu,kata penjaga itu pada saya. kenapa pak?. buku tamu itu khusus wisatawan luar negeri, kata penjaga pada saya. oh gitue ya pak. kemudian si penjaga itu langsung meminta bayar tiket masuk ke kawasan Danau Kelimutu.

dalam hati ku berdoa semoga penjaganya ngak nanya kamera. saya pun dag dig dug takut ditanyai tentang kamera itu. aku mulai bertanya-tanya kenapa kalau membawa kamera ke dalam kawasan kelimutu. akh ternyata sang penjaga tak menyinggung sama sekali tentang kamera HP atau kamera digital. setelah saya membayar tiket masuk, saya bergegas pergi meninggalkan sang penjaga.

danau Tiwu Ata Bupu

danau Tiwu Ata Bupu

saya pun segera mobil dan mempertanyakan tentang hal ihwal kamera itu pada sang sopir. memangnya kenapa pak kalau ketahuan membawa kamera?kataku pada si sopir. kalau ketahuan membawa kamera bisa-bisa nanti kita disuruh bayar mahal. dulu, ada yang ketahuan membawa kamera digital. akhirnya, mereka dimintai bayar mahal oleh sang penjaga itu. kata sang sopir pada saya. bahkan dulu ada yang bayar sampai bayar Rp5.000.000,00. huuuuuuuuhhhhh, kata ku dengan nada heran. masak bisa mahal gituw pak, kataku dengan perasaan tak percaya. dalam ketidakpercayaanku itu, aku tetap mempercayai sang sopir. setidaknya, saya percaya bahwa kita akan dibawa ke Danau Kelimutu bukan ke pantai. sebetulnya saya antara percaya dan tidak tentang membawa kamera ke dalam kawasan danau kelimutu itu. la masak iya membawa kamera ke dalam kawasan Danau Kelimutu harus bayar semahal itu. tapi, apakah juga iya masak si sopir itu boongin kita-kita.

Sunrise Danau Kelimutu

Sunrise Danau Kelimutu

antara ya dan tidak itu kami pun harus menembus kegelapan dengan jalan-jalan yang masih lengang dan sepi. hawa-hawa dingin khas pegunungan mulai terasa. semakin lama dinginnya makin terasa. sepi, sunyi.

tiba-tiba mobil kami berjalan semakin pelan-pelan. saya tidak tau kenapa?. Driver sekaligus merangkap guide itu hendak mengatakan sesuatu. “di sini ada batu keramat, kalau melewati batu itu kita harus pelan-pelan”, katanya. “Batu itu bertugas sebagai penjaga danau Kelimutu ini, kita dilarang menduduki batu itu”, imbuhnya. kami hanya diam, memperhatikan kata demi kata sang guide itu. bulu kuduk ku mulai merinding tak terkecuali Bu Yohana.

Sunrise dilihat dari  Puncak Danau Kelimutu

Sunrise dilihat dari Puncak Danau Kelimutu

bukannya saya ngak mau tau tentang hal mistis ini. tapi suasana yang masih pagi buta dan sepi itu yang membuat bulu kudukku berdiri. saya pun berusaha untuk melupakan hal-hal mistis itu. mobil pun melaju semakin cepat seperti sebelum ketemu batu bertuah itu. hawa dingin mulai merasuk ke sela-sela baju kemudian menembus kulit. makin lama makin dingin. saat itu lokasi Danau kelimutu juga semakin dekat.

mobil kami pun memasuki area parkir yang lebar itu. tak ada mobil kecuali mobil rombongan kami. saya melihat beberapa motor yang terparkir. setelah menempuh 30 menit, akhirnya kami tiba di Lokasi Danau ini. saya dan jaky berjalan paling depan. Begitu semangat untuk mengejar sunrise Danau Kelimutu.

Mengejar Mentari Pagi

Mengejar Mentari Danau Kelimutu

Mengejar Mentari Danau Kelimutu

Kadang tak perduli lagi itu jalur umum atau jalur sulit. Jalur sulit itu dikira jalan menuju Danau Kelimutu. Termasuk saya, yang ada dalam pikiran saya saat itu adalah bahwa danau kelimutu berada di gunung. Otomatis, untuk menuju danaunya pun susah dan menanjak. Saat pemandu memberi tahu bahwa jalan ini bisa menuju Danau kelimutu. Saya dan jaky langsung bersemangat untuk menaikin “jalan” yang tak biasa itu.

Setelah bersusah payah naik.nampak juga danau yang berukuran besar seperti kubang raksasa yang sanggup menelan siapa saja yang terpeleset. Saking takjubnya, saya langsung berkeliling di pinggiran danau itu. saking takjubnya, saya pun lupa bahwa nyawa saya bisa terancam oleh ganasnya danau yang berwarna hijau pekat ini.

salah satu Warna Danau Kelimutu di saat pagi

salah satu Warna Danau Kelimutu di saat pagi

tiba-tiba kaki saya serasa disedot danau ini. kepala saya terasa seperti memutar memandanginya. Mata saya seakan tak mampu melihat keindahan alam secara rasional. Keseimbangan mulai tidak stabil. Tak terasa kaki mundur beberapa langkah. Saya langsung membayangkan saya terpeleset sedikit saja. Danau ini mampu menyedot dengan sekali sedotan.

Saya ibaratkan Danau kelimutu itu seperti sebuah dua baskom raksasa. Bayangkan kita berdiri di pinggiran baskom-baskom. Ibu Yoh neriakin kami agar cepet turun. Dir, Jaky, Ayo cepetan Turun. kami diteriakin ibarat anak nakal yang telah melanggar petuah agama.

Sang Mentari Pagi di Danau Kelimutu

Sang Mentari Pagi di Danau Kelimutu

Saya dan jaky langsung meneriakkan bareng-bareng “ya turun, sebentar lagi”. kemudian pun segera bergegas turun. kami melihat ada seorang setengah baya yang berdiri di samping Bu Johana. ku tak tahu siapa dia. “ngapain kalian susah-susah naik ke atas sana”, kalau hanya mo liat, tuh disana ada jalannya”, kata orang setengah baya itu kepada kami berdua.

saya seperti merasa ditampar habis-habisan mendengar bahwa ada jalur umum dan gampang untuk melihat danau kelimutu. alamakkkk. macem mana puula awak ini (dengan logat medan). ngapain td kita susah-susah naik sini, dah gitu hampir kecelakaan lagi (pikirku dalam hati). biar saya ngak galau saya langsung mikir sisi positifnya “kan lumayan, walau susah kita jadi dapat sunrise”. sunrise dengan gaya foto miring.

Saat Danau Kelimutu menjadi pusat arwah-arwah

Tangga Tahap 1 Menuju Puncak Danau Kelimutu

Tangga Tahap 1 Menuju Puncak Danau Kelimutu

sambil berjalan pelan-pelan, bapak setengah baya itu menjelaskan tentang nama-nama Danau Kelimutu beserta penjelasannya. Danau-Danau sangat erat kaitannya dengan kepercayaan masyarakat sekitar, kata bapak itu kepada kami bertiga. kalau Danau yang mas naikin tadi itu namanya Danau Tiwu Ata Polo. apa pak namanya kurang jelas, kataku pada bapak itu. kemudian, bapak itu menjelaskan lagi dengan mengeja. Tiwuuuu Ataaaaaaaaaaa Polo. wah apaan tuh pak artinya pak, kataku. Danau Tiwu Ata Polo ini tempat bersemayam arwah-arwah yang selama hidupnya banyak melakukan kejahatan.

wah berarti kalau orang-orang jahat arwahnya tinggal disini dunk pak. saya pun langsung mikir, “wah jangan-jangan saya hampir jatuh ditarik arwah orang-orang jahat itu”. Kalau Danau yang kedua namanya Danau Tiwu Nua Muri Ko’o Fai. lagi lagi saya meminta mengulangi nama-nama itu. alhamdulillah sih bapaknya cukup sabar meladeni pertanyaan saya. Danau yang kedua ini tempat berkumpulnya arwah pemuda-pemudi. jadi, kalau ada anak muda yang meninggal, rohnya berkumpul di danau Tiwu Nua Muri Ko’o Fai ini.

Tangga Tahap II Menuju Puncak Danau Kelimutu

Tangga Tahap II Menuju Puncak Danau Kelimutu

laaa trus kalau yang danau ketiga apa dunk pak, kata ku bersemangat ingin  segera tahu danau yang ketiga ini. nah kalau danau yang ketiga namanya danau Tiwu Ata Bupu. Danau ini menjadi tempat berkumpulnya arwah orang-orang tua. jadi, kakek nenek kita bersemayam di Danau yang ketiga ini.

saya ibarat kucing ketemu ikan, seneng, takjub. campur aduk dah dengan semua keajaiban alam ini. keajaiban sang pencipta. keajaiban bisa ketemu bapak yang menjelaskan semua tentang Danau Kelimutu 3 warna ini. mungkin, bapak ini lebih cocok sebagai penunggu Danau Kelimutu. kalau di Jogjakarta ada mbah marijan, maka di Ende ada, ada bapak ini yang belum ku ketahui namanya ampe sekarang.

Puncak di Danau Kelimutu 3 warna. dari Puncak ini kita bisa melihat 3 Danau Kelimutu

Puncak di Danau Kelimutu 3 warna. dari Puncak ini kita bisa melihat 3 Danau Kelimutu

Pak katanya air danau di sini berganti-ganti warnanya pak?kataku pada bapak penunggu. yaaaa mas, warnanya berganti-ganti. dua hari yang lalu, Danau Tiwu Ata Polo berwarna merah. wah padahal saya tadi liat warnanya hijau lumut gitu pak, kataku penasaran dengan kejadian ini. Mas, kalau melihat Danau Kelimutu dari sini saja, kata bapak itu. wahhh bagus ya jalannnya, tak perlu susah-susah. naik jumpalitan segala. wah obrolan kami terhenti karena saya harus melihat dua danau kelimutu ini. sedangkan bapak penunggu itu, terus berjalan menuju puncak gunung. sampai ketemu di puncak, kata bapak penunggu sambil melambaikan tangannya kepada kami bertiga.

Jacky Berpose

Jacky Berpose

saat hendak mau ke anjungan Gunung Kelimutu, ada info penting tentang kedua danau yang akan kami liat. salah satunya adalah tentang luas dan kedalaman danau. Danau Tiwu Ata Polo misalnya memeliki luas 4 ha dengan kedalaman 64 m. sedangkan Danau Tiwu Nua Muri Ko’o Fai memeliki luas 5,5 ha dengan kedalaman 127 m. kemudian kami pun buru-buru berjalan menuju anjungan Danau Kelimutu.

tak sanggup berkata-kata, hanya ketakjuban yang kami sadari. dua danau ini benar-benar ajibbb… mantab… takjub… hebat.. hebat yang menciptakan semua ini. duh danau inilah yang saya inginkan beberapa tahun lalu. akhirnya saya bisa menyaksikan ini. semburat cahaya pagi muncul di ufuk timur. cahaya itu hendak menerjang kekokohan batu-batu yang mengelililngi dua danau ini. Dua danau ini dipisah oleh batu-batu tipis. hanya ketakjuban yang kami rasakan.

Danau Tiwu Ata Bupu

Danau Tiwu Ata Bupu

rasa penasaran terhadap kedalaman sekaligus keangkeran danau-danau kelimutu ini membuat saya dan Jacky mengambil beberapa batu untuk kemudian dilemparkan ke dalam danau kelimutu ini. secepat kilat batu-batu itu ditelan roh-roh jahat. sebelum batu-batu jatuh ke permukaan air, batu-batu sudah hilang dari pengliatan kami berdua. mungkinkan roh-roh itu lah yang menelannya, pikirku. ataukah kedalaman danaunya yang menelan batu-batu itu.

kami bertiga langsung ingin segera menyusul ke puncak gunung itu. saya yang terdepan, Jacky yang kedua, bu Yoh jauh tertinggal. begini lah jalan blingsatan. pokoknya yang penting sampai puncak. tak perduli lagi pada ibu-ibu. seharusnya Jacky nungguin ibunya. eh malah dia ngikutin saya yang berjalan setengah berlari. maklum saya harus, ngejar sunrise dari puncak itu. melihat danau di waktu sunrise.

After Sunrise dari Puncak Kelimutu

After Sunrise dari Puncak Kelimutu

kami harus menaklukkan anak tangga yang ratusan jumlahnya. tak tau berapa ratus. hanya ratusan. anak tangga ini terbagi dua. anak tangga tanpa pegangan dan anak dengan pegangan. ku ingin menaklukkan puncak kelimutu dengan berlari, Jacky pun juga gitue berlari di belakangku. Bu Yoh, agak jauh di belakang sana. heiiii, kadir, Jacky jangan cepat-cepat. ya beginilah jalan-jalan dengan ibu-ibu. harus sabar. dasar sayanya yang koplak, saya terus aja berjalan, sedangkan Jacky mulai memperlambat jalannya untuk menunggu bunda-nya.

saat hendak puncak, saya pun berhenti menunggu mereka berdua. menunggu sambil motret sunrise di Danau Kelimutu. setelah berkumpul, kami pun berangkat lagi. ayo cepetan, sudah mau nyampe puncak ni, kataku. sudah tau ibu-ibu masih aja diajak liat danau di gunung, kataku dalam hati.

Gunung kellimutu dari Kejauhan

Gunung kellimutu dari Kejauhan

ku liat puncak itu. beberapa orang sudah mengitarinya. mereka semua tak mau melepas sedetikpun untuk mengabadikan sunrise di Danau Kelimutu ini. nafasku mulai tersengal-sengal, mulut pun mulai mengering, kakiku sudah mulai gempor. ku ingin taklukkan Danau Kelimutu. kakiku yang gempor dan nafasku yang ngos-ngosan tergantikan oleh indahnya danau kelimutu 3 warna. dari puncak inilah, kita bisa melihat ke 3 danau kelimutu secara sempurna. horeeeeeeeeeeeeeeeeeeee….. inilah puncak danau kelimutu. seketika itu juga aku langsung update status di Facebook.

hampir semua penikmat sunrise ini adalah turis asing. tak ada wisatawan domestik kecuali kami bertiga dan bapak penunggu. saya pun tak kehilangan momen indah. SUNRISE DI PUNCAK KELIMUTU. Benar-benar indah dan ajib pemandanganya.. pegunungan-pegunungan yang hampir sejajar dengan Danau Kelimutu terpampang di depan saya. ku liat dua turis  menuruni lembah. mungkin melihat danau kelimutu dari angle yang lain. dan masih banyak aktivitas wisatawan untuk mengabadikan moment sunrise termasuk saya berhasil motret turis yang lagi motret dengan latar belakang Danau Kelimutu.

Kelimutu after the break

Kelimutu after the break

saya sedang mencari seorang turis di antara beberapa turis itu. turis yang  membuat saya terheran-heran. heran karena turis inilah hendak mengelilingi dunis dengan bersepeda. turis yang ku temui di Restoran Bilyanes tadi malam. di manakah dia sekarang. ku tahu dari pemilik restoran bahwa dia sudah berada di sini. ku liat turis yang menghadap ke Danau itu. ku coba mendekatinya.

Bertemu dengan Steven Billboy “sang Biker Dunia”

Saya dan Steven Billboy di Puncak Kelimutu

Saya dan Steven Billboy di Puncak Kelimutu

ku coba untuk menyapa dan memulai pembicaraan. Steven Billboy nama lengkapnya. berasal dari Jerman, Negaranya Hitler sang diktator. saya mendengar bahwa anda seorang biker, apakah anda ke Puncak Danau Kelimutu ini dengan bersepeda, kataku. “wah ngak, saya ke sini minta anter ke petugas Hotel, katanya. Maaf sejak kapan anda bersepeda dan sudah melewati Negara mana saja, kataku berusaha menggali informasi lebih jauh. saya sudah bersepeda sejak bulan juni tahun 2011, bersepeda dari Jerman, Eropa, Mediterania, Australia, Indonesia. dan now  I am in three colours Kelimutu Lake. wahhhhhhh… its amazing, Keren sekali anda bisa menaklukkan berbagai 3 benua, berbagai Negara hanya dengan bersepeda. sekali lagi dengan bersepeda, kata ku. dia hanya tersenyum mendengar kataku.

Mari Bergaya dulu

Mari Bergaya dulu

Then, di Indonesia sudah kemana aja mas Steven?, kataku. saya berangkat dari Autralia ke Papua Nugini, Timor Leste  then jalan darat ke Kupang, dari Kupang langsung terbang ke Maumere. Kemudian,saya bermalam di Maumere, Kata Steven. oh begitu, trus apa yang anda bisa liat-liat di Maumere saat malam hari, kataku ingin menelisiknya lebih jauh. “you have to visit Maria Statue, you can see Maumere City  from the hill. it’s wonderfull. Besok, jika kamu sempet ke Maumere, sebaiknya main ke patung Bunda Maria saat malam hari. anda akan menyaksikan Kota Maumere dari Puncak.” kata Steven berusaha meyakinkan saya.

kemudian Steven menceritakan perjalanannya dari Maumere ke Ende yang terpaksa harus digotong oleh truk. Saya hanya mampu menempuh separuhnya perjalanan dari Maumere ke Ende. separuhnya terpaksa saya digotong menggunakan truk pengangkut barang. saya membenarkan apa yang dia ceritakan bahwa dia tak sanggup menaklukkan jalur berat Maumere Ende. saya mendengar secara langsung dari petugas hotel tempat kami menginap.

Dua Danau Kelimutu

Dua Danau Kelimutu (Danau Tiwu Ata Polo dan Danau Tiwu Nua Muri Ko’o Fai)

Dasar Bule Gila. benar-benar gila. masak medan pegunungan dan berkelok-kelok dari Maumere ke Ende ditempuh dengan sepeda. hanya orang gila yang bisa menempuh jalanan  seperti itu.

saya tahu untuk perjalanan jauh dalam waktu yang lama. sangat-sangat membutuhkan dana yang cukup. saya pun iseng nanya tentang pekerjaan, rumah dan istri. eh si Steven malah tertawa. dia mengira pertanyaan saya adalah pertanyaan terlucu sepanjang perjalanannya. “saya ini tak ada punya pekerjaan, tak ada rumah dan juga tak ada istri, saya hanya jalan-jalan keliling dunia”. aku mulai bengong dibuatnya. maklum, saya waktu itu belum kenal dengan yang namanya jalan ala backpacker atau hidup ala backpacker yang bisa jalan sambil kerja atau kerja sambil jalan-jalan.

Kelimutu saat berubah Warna (foto ini diambil oleh kawan saya, Yanto pada tanggal 13-9-2013)

Kelimutu saat berubah Warna (foto ini diambil oleh kawan saya, Yanto pada tanggal 13-9-2013)

saya pun berusaha melisiknya dari mana uang untuk jalan-jalannya. dia dengan gayanya tetap ngak mau membuka apa sebetulnya pekerjaan dan dari mana dana jalannya. “Mungkin kamu berasal dari Orang tua yang kaya raya sehingga kamu bisa jalan-jalan semaunya?” kataku berusaha menelisiknya. Steven hanya menjawab dengan gelengan kepala. saya pun memakluminya. biarlah, saya tak mau membujuknya lagi. setelah beberapa lama, saat saya menuliskan cerita ini, toh saya banyak menemui wisatawan-wisatawan yang pekerjaannya memang fleksibel seperti Currency Trader (like Alex Sloven, dari Slovenia), Travel Writer or Programmer (Dina dan Ryan, DuaRansel), atau lainnya.

Kamu sudah menikah, kata Steven kepada saya. “ya saya sudah menikah”. huhhh kamu sudah menikah, kata Steven dengan nada keheranan. dalam keheranannya dia memperhatikan saya yang tepat berada di depannya. mungkin dia heran karena perawakan saya yang tak terlalu besar, tubuh ramping dan kecil. sedangkan, dia yang umurnya 30an lebih saja belum menikah. dia pun tersenyum melihat saya. tersenyum keheranan. “memang umurmu berapa?”. umur saya sekitar 28 tahun, kata saya. dia pun hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanpa sepatah kata pun yang keluar.

Siklus Perubahan Warna pada Danau Tiwu Ata Polo

Siklus Perubahan Warna pada Danau Tiwu Ata Polo

Anda mau melanjutkan perjalanan ke mana lagi sehabis dari Danau Kelimutu ini, kataku kepada Steven. “sehabis ini, saya mau melanjutkan ke Labuhan Bajo, Lombok, Bali, Java, Sumatra, then Singapura and Malaysia”. kamu mau menempuhnya dengan bersepeda, are you sure, kataku. “yaa, saya akan menempuhnya dengan bersepeda”. wauuuu keren, kataku sambil menggangguk-anggukan kepala dengan mimik wajah penuh keheranan. percakapan kami akhirnya ditutup dengan foto-foto dulu bersama Steven Billboy, sang biker. dia pun turun dari Puncak Danau Kelimutu 3 warna. Melanjutkan perjalanan dengan bersepeda. satu kata untuk Steven “Victory”. Kalau ngaku jago bersepeda atau hobi bersepeda. kalahkan Steven Billboy.

sejarah Terbentuk Danau Kelimutu

sejarah Terbentuk Danau Kelimutu

makin lama makin hilang wujud Steven. tiba-tiba saya teringat belum minta alamat email or Facebook. setidaknya saya pengin tahu lokasi dia saat dia. apakah sudah meninggalkan Indonesia menuju negara lain atau masih di sekitar indonesia. saat saya menyelesaikan tulisan ini, saya menghubungi pihak hotel dimana Steven nginap. sayang seribu sayang sang pemilik hotel juga tak punya CPnya. ya sudah saya berharap aja dia suatu saat muncul di media-media sebagai orang yang pertama kali di dunia yang telah menaklukkan dunia dengan bersepeda.

Tahun Aktivitas Gunung Kelimutu

Tahun Aktivitas Gunung Kelimutu

Perut mulai keroncongan, kerongkongan mulai terasa kering. suasana puncak danau kelimutu yang berhawa dingin sangat cocok dengan makanan-makanan dan minuman hangat. Sambil bersedekap menggunakan jaket saya mendekati penjual makanan dan minuman yang tak lain adalah bapak yang saya temui pagi-pagi buta. Penjual makanan sekaligus Penunggu Danau Kelimutu. saya langsung menyeruput kopi hitam dan pop mie yang masih hangat. enaknya…. menyeruput kopi di puncak Danau Kelimutu.

ku hanya bersyukur atas maha karya Tuhan bernama “Danau Kelimutu 3 Warna”. inilah keajaiban yang ada di Kabupaten Ende. Kabupaten yang pernah menjadi tempat Bung Karno diasingkan. Kabupaten Ende juga lah yang menjadi perenungan Bung Karno dalam melahirkan 5 butir Pancasila.

Kita Menuju ke

Kita Menuju ke

Setelah menghabiskan segelas kopi hangat, kami pun siap-siap pulang turun meninggalkan Keajaiban Tuhan itu. saya menggunakan kata Keajaiban terhadap 3 Danau ini, karena memang danau  ini begitu ajaib. adakah penelitian yang menjelaskan kenapa Danau ini bisa memiliki 3 warna, kenapa warnanya bisa berubah-rubah secara periodik?. Ataukah saya yang belum tahu bahwa penelitiannya sudah dilakukan tetapi jurnal penelitiannya belum keluar. bahkan, Kompas juga telah melakukan penelitian terhadap Danau Kelimutu ini. hal ini seperti yang diutarakan oleh Penunggu Danau Kelimutu itu.

Menuruni Tangga sambil menghitung jumlah tangga tapi ngak pernah bisa (4 kali nyoba

Menuruni Tangga sambil menghitung jumlah tangga tapi ngak pernah bisa (4 kali nyoba)

Perubahan warna terhadap danau-danau yang ada di kelimutu ini disebabkan oleh perubahan komposisi mineral yang ada di dalam danau itu sendiri, kata penunggu itu kepada saya. tapi saya merasa belum terjelaskan mineral-mineral apa saja yang menyebabkan perubahan warna terhadap danau-danau kelimutu itu. semoga suatu saat bisa tahu penyebab perubahan warna secara pasti setidaknya agar masyarakat kelimutu terjelaskan dengan semuanya.

Terima kasih saya kepada penunggu Danau Kelimutu yang menjelaskan sejarah kelimutu mulai tentang aura keangkeran Danau Kelimutu dan segala hal yang berbau kelimutu. cau… Trips to Maumere.

—————————————————–

Ikuti Perjalanan kami yang lain di Ende saat menggunjungi Pantai Penggajawa, Pantai dengan batu-batuan Hijau di

https://caderabdul.wordpress.com/2013/09/15/pesona-pantai-penggajawa-dengan-batu-hijaunya/

atau mau tahu Bagaimana Bung Karno menemukan Inspirasi 5 Dasar Pancasila dalam pohon Sukun sila ke

https://caderabdul.wordpress.com/2013/09/15/bung-karno-dan-pohon-sukun/

atau mau tahu tentang Perjalanan saya dari Ende ke Danau Kelimutu dimana anda bisa melihat bentuk sawah-sawah yang unik, pemandian air panas Detusuko, atau mau melihat Air Terjun Murondau. sila klik dibawah ini.

https://caderabdul.wordpress.com/2013/09/17/perjalanan-menuju-kawasan-wisata-moni-ende/

dan jangan lupa follow twitter kami @caderabdulpaker

Pintu Rinjani, Sembalun 1156 MDPL

Pintu Rinjani, Sembalun 1156 MDPL

Sembalun dengan ketinggian 1156 M di atas permukaan laut

Sembalun menjadi pusat penghasil sayur-sayuran, buah-buahan

sembalun menawarkan keindahan wisata pegunungan

Sembalun dikelilingi oleh Gunung Rinjani, Gunung Telaga, Gunung Anak Dara, Gunung Anak Selong, dan Gunung Pergasingan

Selamat Datang di Pusuk

Selamat Datang di Pusuk

Sembalun merupakan salah satu Kecamatan di kabupaten Lombok Timur. Bagi para Pendaki Gunung Rinjani, Kecamatan sembalun begitu sangat familiar di telinga mereka. Sembalun menjadi salah satu jalur pendakian favorit bagi para pendaki Gunung Rinjani. Sembalun 1156 m dpl menjadi pintu Rinjani. ada beberapa alasan mengapa Sembalun menjadi jalur pendakian favorit. salah satunya adalah jalur pendakiannya tidak terlalu menanjak seperti jalur Senaru. jadi sangat disarankan bagi yang pemula sebaiknya menggunakan jalur Sembalun.

Pusuk

awan-awan menutupi pegunungan di Pusuk

pada saat bulan Desember s.d bulan Maret Pendakian ke Gunung Rinjani di tutup. so saya tidak akan membicarakan tentang Gunung Rinjani dan Bagaimana mendakinya. saya hanya akan membicarakan sembalun yang merupakan salah satu jalur favorit ke Gunung Rinjani.  setidaknya, saya akan memaparkan keindahan di sekitar Gunung Rinjani.

berpose di Pusuk

berpose di Pusuk

untuk mencapai ke Sembalun bisa menggunakan sepeda motor atau menggunakan mobil rent car. nah jangan Tanya-tanya ke saya transportasi publik ke Sembalun karena memang belum pernah mencoba juga. waktu yang dibutuhkan sekitar 4 s.d 5 jam dengan jalur darat. kalau lewat jalur sih bisa lebih. lebih cepat lagi kalau naik Helikopter sih.

Ardi dengan latar gunung kanji

Ardi dengan latar gunung kanji

sepanjang perjalanan dari Aikmel (kecamatan yang berbatasan dengan sembalun), Swela hingga ke Sembalun kita akan dimanjakan oleh sawah-sawah yang membentang luas. hutan-hutan alami di samping kanan kiri jalan. Sawah-sawah yang berderet rapi di Lereng-lereng bukit. Kera-kera yang berada dipinggir jalan mengharap belas kasih para pembela kasih. awan-awan langit berderet rapi yang hendak menyelimuti Sembalun yang penuh ketenangan. sembalun yang sejuk dan jauh dari kebisingan.

anak kera mau netek

anak kera mau netek

saat Tim Lombok Backpacker tiba di kawasan Pusuk (dalam bahasa sasak yang artinya Puncak). kami, tim Lombok Backpacker dimanjakan oleh Gunung-gunung yang diselimuti awan. Mungkinkah Gunung Propok dan Gunung Seribu, batinku. Lama-kelamaan awan itu semakin menutupi pegunungan itu. bahkan, awan itu sampai turun ke kaki-kaki kami. awan-awan itu pun pergi lagi. naik lagi. Gunung itu pun tak terlihat seutuhnya lagi. sisa-sisa awan masih menyelimutinya.

Bamboo Garden Sasak Village

Bamboo Garden Sasak Village

tempat pemberhentian Pusuk ini dimanfaatkan oleh penduduk sekitar dengan cara berjualan berbagai jenis makanan  dan minuman hangat. Kawasan puncak pusuk tak hanya mengundang warga sekitar tapi juga mengundang  para kerajaan kera. Kera-kera di sini tak seganas di Uluwatu, Bali yang suka mengambil barang-barang orang. bahkan, saya menyaksikan dari dekat anak kera yang ingin netek ke ibu kera. jadilah kawasan pusuk ini menjadi kawasan strategis bagi Pengunjung, Warga dan Kera.

Gunung Selong dengan latar persawahan

Gunung Selong dengan latar persawahan

dari Lokasi Pusuk dengan ketinggian 1200 MDPL ini, saya bisa melihat perkampungan Desa Sembalun yang berada di lembah Rinjani. orang-orang pegunungan biasanya terkenal dengan keramahannya. termasuk di pegunungan Sembalun ini. bahkan ada adegan disaat saya tidak sengaja menendang gelas-gelas di warung itu. wajah-wajah para pelanggan di warung itu langsung memandangku secara seksama.

Puncak Gunung Selong

Puncak Gunung Selong

ada perasaan tak enak dalam diriku. ku liat penjual itu masih menunjukkan keramahannya, tak memarahiku bahkan menempelengku. dari raut mukanya begitu menerima dan tak ada raut kejengkelan. ku hanya bisa bilang minta maaf berkali-kali. “ngak apa-apa mas, ya udah ngak apa-apa”, kata penjual kepada saya saat saya berusaha membayar makanan yang ku tendang. maaf ya buuu terima kasih, kataku sambil berlalu meninggalkan penjual ramah itu.

Gunung Selong dari Kampung Sembalun

Gunung Selong dari Kampung Sembalun

jadi bagi siapa saja yang ingin belajar arti kesabaran, keramahan, kesopanan. belajarlah kepada orang gunung. saya sudah membuktikan keramahannya.

Meloncat di dataran tinggi Gunung Selong

Meloncat di dataran tinggi Gunung Selong

ku liat langit semakin di penuhi awan-awan tebal yang bergulung-gulung. perkampungan Sembalun itu pun tak terlihat ditelan awan-awan pembawa hujan. gerimis pun turun membawa keberkahan sang langit. beberapa pengunjung berhamburan mencari tempat berteduh. tak terkecuali kera-kera itu. Rombonganku yang berjumlah 7 orang pun segera bergegas masuk ke dalam Mobil. Gerimis itu pun berganti hujan yang semakin deras. akibatnya jarak pandang pengemudi semakin dekat.

Gunung Pergasingan

Gunung Pergasingan

berjalan menyururi lembah-lembah sembalun. tak ada kampung hanya hutan-hutan lebat. terasa Gelap padahal masih siang. dari dalam kaca mobil ku liat gunung-gunung yang terlihat samar-samar di antara derasnya hujan. melewati perkampungan Sembalun Bumbung, hujan mulai mereda.  Gunung-gunung pun semakin jelas. jelas indahnya. seketika itu juga, Marlina Liem, salah satu teman kami yang berasal dari Jakarta menyuruh memberhentikan mobilnya. berhenti…..berhenti…. berhenti…yang lain pun ikut-ikutan teriak-teriak berhenti…..berhenti…berhenti.

Damn I Love Indonesia, LombokBackpacker

Damn I Love Indonesia, LombokBackpacker

Ku liat gunung tinggi gagah menjulang itu. cantik dan mempesona. mungkinkah Gunung ini adalah Gunung Kanji seperti yang ku baca di peta-peta, batinku.mungkin. tiba-tiba Langit penuh dengan uap air hendak menumpahkan airnya. tanpa aba-aba dan tanpa basa basi semua rombongan langsung membubarkan diri. ku jelajahi lagi perkampungan Sembalun Bumbung yang terlihat dari pusuk itu. lembah perkampungan Sembalun yang begitu asri diapit oleh bukit-bukit dan pegunungan-pegunungan. dibawah bukit-bukit itu rumah-rumah dibangun, homestay-homestay didirikan, kampung adat-kampung adat tertata rapi. ku liat masjid berdiri tepat di bawah perbukitan itu. sangat asri, tenang salatnya. wah masjidnya keren yach berada di bawah bukit, gumam salah seorang kawan Lombok Backpacker.

Haaaaaa Damn Love Indonesia

Haaaaaa Damn Love Indonesia

Lebatnya hujan dipadu dengan AC yang terus menyala mengakibatkan kaca-kaca mobil tertutup seperti kabut. beberapa kali saya dan kawan mengelap-ngelap kaca agar perkampungan tak terlalu tertutup. Mobil pun terus melaju dengan kecepatan sedang. Hujan yang lebat telah melenakan kami. sehingga kami lupa bahwa kampung Sembalun Bumbung tertinggal di belakang. Sembalun Bumbung menjauh, Sembalun Lawang mendekat. Mobil kami merapat ke salah satu warung makan. maklum perut kami keroncongan. jam menunjukkan 13.00. suasana Sembalun yang mendung membuat matahari terasa pulang lebih cepat dari biasanya.

Lembah-lembah Sembalun

Lembah-lembah Sembalun

Hujan mulai mereda. Mungkin Tuhan sengaja ingin memamerkan keindahan Sembalun di titik-titik  keindahannya. yaitu di Sembalun Lawang. Desa Sembalun Lawang di kelilingi Gunung Rinjani dan di sebelah Barat, Gunung Telaga di sebelah Barat Laut, Gunung Telaga di sebelah Selatan, Gunung Anak Dara dan Gunung Selong di sebelah Timur, Gunung Pergasingan di sebelah Utara. jadi lah perkampungan ini benar-benar asri. ini G. Pergasingan, disana Gunung Rinjani, G. Telaga, G. anak Dara, dan Gunung Anak Selong, kata salah satu warga kepada kami saat kami menanyakan gunung-gunung di sekitar Sembalun.

Kampung Adat Belek Sembalun

Kampung Adat Belek Sembalun

Gunung yang terdekat dan bisa dijangkau dengan mudah adalah Gunung Selong dan Gunung Pergasingan. kita pun berangkat menyusuri “Bambo Garden Sasak Village” menembus bambu-bambu-bambu yang ditanam rapi. bambu-bambu itu ditanam dengan pola membentuk lingkaran. Sembalun Lawang ingin berbenah diri untuk jadi desa wisata. bambu yang biasanya sekedar tumbuh. di sini disusun begitu rapi agar bisa menjadi tujuan wisata.

Menyusuri Jalan menuju

Menyusuri Jalan menuju

Melewati kebun Bambu, melewati “ranjau-ranjau kerbau”, melewati semak-semak. menembus puncak Gunung Selong. Dari Puncak Gunung Selong terlihat lah hamparan sawah-sawah yang menghijau, Gunung Pergasingan yang berdiri kokoh. kesiaanlah jika datang ke Sembalun Lawang tapi tak menaiki puncak Gunung Selong. Gunung pergasingan dengan segala pesonanya. dari puncak Gunung pergasingan juga lah, acara paralayang diadakan di waktu tertentu.

Ardi dan Echie datar Kampung adat

Ardi dan Echie datar Kampung adat

dari Gunung Selong ini, kami bisa menyaksikan komplek “Kampung adat sasak Belek” dengan latar Gunung Pergasingan. ku duduk di sini termenung melihat keindahan Desa Sembalun, menatap wajah-wajah para pendulang sawah-sawah. Mencari rezeki-rezeki yang tersembunyi di balik tanah-tanah Sembalun. Duduk termenung sambil berucap syukur “nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan. Sembalun sejuta Pesona. Pintu Rinjani, Sembalun 1156 MDPL

Kampung Adat dengan Latar Gunung Pergasingan

Kampung Adat dengan Latar Gunung Pergasingan

@caderabdulpaker

Lancing dan Tampah, Kebersihan Menjadi Pemisah Dua Pantai ini

Pantai Lancing

Pantai Lancing

mungkin baru kali ini kita mendengar bahwa kebersihan bisa menjadi pembatas antara dua pantai. saya termasuk salah satu orang yang bisa menyaksikan dua pantai ini. nama pantainya adalah Pantai Lancing dan Pantai Tampah. selama ini saya banyak menemukan bukit yang menjadi pembatas antara pantai yang satu dengan pantai dengan yang lain. tapi tidak dengan dua pantai ini. faktor yang menjadi pemisah adalah kebersihan.

Pantai lancing yang agak kotor dan Pantai Tampah yang bersih

Pantai lancing yang agak kotor dan Pantai Tampah yang bersih

Pantai ini berada di kawasan selatan Lombok. tepatnya, berada di kabupaten Lombok Tengah. berada di antara pantai Mawun dan Pantai Kuta. kira-kira hanya butuh 30 menit dari pantai Kuta. sebagaimana khas pantai Lombok. tak banyak penunjuk arah menuju pantai ini. yang diperlukan adalah sering bertanya kepada penduduk sekitar.  pantai ini hanya berjarak 500 meter dari jalan raya Kuta – Selong Belanak.

Bukit Lancing Tampah dilihat dari pantai

Bukit Lancing Tampah dilihat dari pantai

belum ada transportasi publik menuju pantai ini. so harus pake motor atau mobil atau rent car. sebaiknya kalau mau ke sini jangan sendirian yach… yaa ntar kamu kesepian disana.

Keindahan Pantai Lancing

nampak para nelayan atau pemancing di Pantai Lancing

saat anda berjalan dari Selong Belanak menuju pantai Lancing atau pantai tampah.begitu memasuki kawasan lancing, kita akan melihat beberapa rumput kering yang sudah diikat dengan rapi. rumput-rumput itu dijual. rumput biasanya digunakan untuk atap-atap rumah sasak yang beratapkan rumput-rumput. kita bisa menyaksikan rumah adat sasak dengan beratapkan rumput ini di Kampung Sasak Sade, Pujut, Lombok Tengah.

sang perahu di Lancing

sang perahu di Lancing

banyak warga sekitar pantai Lancing yang berprofesi sebagai pemancing atau pun nelayan. saat laut lancing surut menjelang sore hari.  saya melihat beberapa warga yang berjalan ke tengah laut untuk mencari ikan-ikan laut.

TAMPAH

TAMPAH

Pantai lancing terlihat kotor karena memang di pantai Lancing banyak padang lamun yang tumbuh subur di pantai Lancing. bahkan tak hanya itu, beberapa warga juga membudidayakan rumput laut sebagai tambahan untuk penghasilan untuk mereka.

si bersih dan si kotor

si bersih dan si kotor

rumput laut-rumput laut yang mati terbawa ombak hingga ke pantai Lancing. itu lah penyebab lancing terlihat kotor. kotor dengan pembudiyaan rumput laut. beda dengan pantai Tampah yang terlihat bersih.

si kotor dan si bersih

si kotor dan si bersih

ketika saya melihat pantai ini pertama kali, saya heran kenapa di sisi kanan pantai  terlihat kotor, sedangkan di sisi kiri pantai terlihat bersih. yang  sebelah sini Pantai  Lancing, sebelah sana pantai Tampah, kata salah satu pemancing yang duduk di Gazebo pantai Lancing.

Rumput kering untuk bahan baku atap adat sasak

Rumput kering yang dijual sebagai bahan baku atap adat sasak

tak hanya keindahan pantai berpasir putih dengan warna air laut kebiru-biruan yang kita bisa saksikan di pantai lancing. kita juga bisa menyaksikan perbukitan-perbukitan lancing dan perbukitan-perbukitan tampah. kita seakan merasa berada di dua alam. kawasan pantai dan kawasan perbukitan.

Pantai Tampah relatif lebih bersih

Pantai Tampah relatif lebih bersih

saya masih bercita-cita suatu saat nanti saya ingin menaklukkan berjalan berjalan di sepanjang Pantai Lancing dan Tampah. barangkali dengan berjalan menyusuri pantai Lancing dan Tampah, saya akan menemukan banyak hal tentunya tentang keindahan-keindahan alamnya.  sebagai contoh, saat saya berjalan di sepanjang Pantai Selong Belanak, maka saya mendapat view yang bagus disana. begitu juga ketika saya berjalan di pantai Semeti, saya pun bisa melihat batu-batu seperti planet Kripton.

pantai Tampah

pantai Tampah