Anak Gembala Semeti

Bukit Lancing

Bukit Lancing

rumah di puncak bukit

rumah di puncak bukit lancing

 

Musim hujan yang mengguyur di awal tahun menyulap bukit-bukit kering di pesisir selatan lombok. barisan bukit hijau sambung menyambung dari desa satu ke desa yang lain. Dari bukit di desa Gerupuk hingga Selong Belanak. Kami berjalan menaiki dan menuruni bukit di Batu Payung. Perjalanan yang melelahkan karena rombongan kami diserbu seekor kera kelaparan di puncak bukit batu payung. Seekor kera yang keluar dari semak-semak di puncak bukit.

Di bawah panasnya terik mentari, saya menuruni bukit, memandang selayang pandang Pantai Tanjung Aan. Kami hendak menuju ke sebuah perkampungan nelayan di Gerupuk. Kawasan yang sangat dikenal dengan penduduknya yang suka mencari keributan. Kampung yang sering melakukan tindakan subversif kepada pemerintah. Gerupuk sama dengan kata suka ribut. Begitu lah kata yang terpatri dalam otak saya. Istilah “suka ribut” saya dapat dari anak-anak kampung gerupuk yang berjualan kelapa di Batu Payung.Tiba di kampung Gerupuk, Kampung relatif sama dengan kampung nelayan yang lain. Tak ada keributan ataupun pertengkaran. Malah saya ditawari naik perahu. Keributan vs keramahan.

Ini yang membuatnya sedikit berbeda : penyewaan alat surfing. Rumah-rumah Nelayan sebagian di-permak menjadi homestay, café-café sederhana yang menyewakan papan surfing.

Gerupuk memang sedang dirancang untuk tujuan wisata sebagai sebuah kawasan terintegrasi. Pemerintah berusaha mengundang pengusaha-pengusaha baik perusahaan swasta maupun BUMN agar ikut memajukan kampung nelayan dan sekitarnya ini. Tujuannya satu Menggaet wisatawan yang hobby dengan dunia surfing. Lokasi surfing berada di balik daratan yang melingkar ini. untuk menuju lokasi surfing ini kita harus menyeberang menggunakan perahu nelayan yang bersandar di pesisir pantai. Kampung yang dulunya totally adalah nelayan bertransformasi menjadi guide dan berbagai profesi yang berkaitan dengan wisata.

Kampung Nelayan Gerupuk

Kampung Nelayan Gerupuk

Matahari semakin terik. Angin sepoi-sepoi menerpa wajah. Perjalanan belum berakhir. Semangat untuk mengunjungi pantai Semeti tak surut sekalipun. Kami siap menembus jalanan puluhan kilometer menuju pantai Semeti. Jalanan beraspal di tengah tengah pedesaan. Desa-desa pesisir selatan yang dulu terisolir oleh luasnya hutan dan minimnya infrastruktur sudah mulai menggeliat. Hotmix jalanan membelah di antara sawah dan bukit. Begitu kontras. Ibarat garis hitam membelah hutan.

Kerbau-kerbau berbaris rapi menepi di pinggir jalan dengan seorang pengembala yang memegang kayu kecil di tangan kanannya. saya tertegun pada sebuah bukit hijau dengan bangunan kecil mungil di puncak bukit. Saking kecilnya bangunan tersebut, saya harus memperbesarnya dengan cara melihat melalui kamera. Lensa tele 75-250 saya keluarkan. Semakin jelas lah wujud sebuah gubug sederhana yang atap-atap berwarna kecoklatan di tengah padang rumput hijau.

Hembusan angin menerpa wajah. Saya berdiri di antara hembusan dua angin tersebut. Angin laut dan angin gunung. Pantai Lancing dan Bukit Lancing. Saya berdiri jalanan beraspal yang sepi dan sunyi. Tak ada hilir mudik, hanya kumpulan kerbau-kerbau yang berlalu begitu saja.

Beberapa menit menunggu, Saya masih berdiri mematung di sini. Tak ada suara, sunyi, senyap. Ada rasa khawatir. Bagaimana kalau ada orang jahat ingin mencelakai saya, batinku. Ku alihkan wajahku pada sebuah bangunan mungil di puncak bukit itu.

Akh siapa yang hendak tinggal di puncak bukit itu. Tak ada akses ataupun jalan setapak. Hanya rerumputan hijau membentang luas. Itulah rumah yang biasanya digunakan untuk penampungan rumput-rumput yang sudah kering. Rumput menjadi bahan utama pembuatan atap-atap rumah khas Lombok yang terbuat dari bahan rumput. Rumput juga sering digunakan untuk atap gazebo atau berugak.

Saat kemarau tiba, bukit-bukit seketika menjadi primadona. Penduduk desa pun bergembira mengumpulkan rumput-rumput. Bukit-bukit digunduli hingga tak bersisa. Nampak seperti padang yang kecoklatan. Rumput-rumputnya dikumpulkan, diikat dalam satu ikatan. Rumput-rumput yang hendak dijual biasanya dijejer di pinggir jalanan Lancing.

Saat kemarau bukit-bukit yang kehijauan tergantikan oleh bukit-bukit gundul kecoklatan.

Kampung itu dikelilingi bukit-bukit hijau. Terkurung dalam barisan bukit yang membentuk setengah lingkaran. Kampung itu terdiri dari beberapa rumah. Terlihat dari jalanan menuju semeti. Di ujung sana, perbukitan hijau selalu menghiasinya. Rumput hijaunya tak seragam seperti bercak-bercak hijau muda di tengah padang ilalang. Akh bercak-bercak itu bekas-bekas bukit yang digunduli di saat musim kemarau.

Aku dan anak Gembala

Kampung Semeti yang terkurung

Kampung menuju Semeti yang terkurung

Biawak saat menuju semeti. sumber foto: wikipedia

Biawak saat menuju semeti. sumber foto: wikipedia

Teriknya matahari tak mengendorkan semakin saya dan beberapa kawan saya untuk melihat pantai semeti yang tak jauh dari pantai Mawi. Jika diurut dari selong belanak, maka pantai semeti berada di urutan ketiga setelah pantai Mawi. Jaraknya dekat tapi karena harus memutari bukit-bukit yang mengelilinginya, jarak tempuhnya lebih jauh.

Pantai Semeti berbatasan dengan samudra Hindia. Pantai berpasir putih dengan ombak yang lumayan besar membuat deretan pantai di pesisir selatan ini cocok untuk olahraga surfing. pasirnya berbentuk bulat-bulat kecil. Selong Belanak dan Mawi yang berada tak jauh dari Semeti dijadikan menu wajib untuk surfing. Selong Belanak yang pantainya relatif landai sering digunakan latihan surfing bagi yang ingin belajar surfing. Sedangkan pantai Mawi bisa disebut sebagai salah satu pusat surfing.

pengunjungnya rata-rata adalah para surfer profesional dan semuanya turis. Roda kehidupan di kedua pantai yang bersisian ini di mulai sejak pagi hingga sore hari. Menjelang malam, pantai mawi dan Semeti hanya menjadi pantai Mati dan tak berpenghuni. Sunyi, senyap sekaligus menakutkan. Kedua pantai ini sudah dimiliki para pemodal. Ntah sejak kapan kawasan yang memiliki pantai indah ini berpindah tangan ke swasta.

Di depan pantai Semeti, ada sebuah pulau kecil. Gili Anakewok namanya. Bentuknya cukup unik seperti batuan mengerucut yang diapit oleh dua batuan yang lebih besar. Panasnya terik matahari bisa menggosongkan kulit. Merehatkan badan sejenak di salah satu berugak merupakan menu wajib untuk menghindarkan dari teriknya mentari semeti. Berugak ini merupakan berugak satu-satunya yang berada di Pantai Semeti. Di kala siang, berugak ini menjadi rebutan tempat berteduh merasakan desiran angin sepoi-sepoi angin laut. Berugak adalah tempat Ishoma (istirahat, Shalat, Makan). Jangan tanya warung makan di sini. Selain itu, berugak ini sering difungsikan sebagai springbed ala nelayan di saat mereka menginap menjaring ikan di daerah semeti.

Tebing Semeti

Tebing Semeti

Gagahnya langit

Gagahnya langit

Bekal harus dipersiapkan. Botol minuman harus selalu sedia. Jangan sampai tidak membawa. Bisa-bisa kehausan setelah menikmati indahnya pantai Semeti. jangan sekali-kali mencontoh saya yang bekal minumannya sudah habis sebelum tiba di semeti. Padahal hausnya ampun-ampunan. Berjalan di pasir yang berat plus menaiki bebatuan semeti sungguh mengeringkan tenggorokan saya. Tak hanya itu, untuk pulang dari semeti, Saya harus berjalan sejauh satu kilo di bawah teriknya mentari. Seorang anak ingusan mendekati dan menawarkan minumannya kepada saya.

Mas mau minum, katanya. Akh beruntung ada bocah kecil ini, tapi saya berpikir ulang karena airnya tinggal sedikit.Buat adik aja, kataku. Udah, ambil saja kak. Saya sudah minum tadi kak, katanya sambil menyodorkan minuman ke arahku. Ya boleh terima kasih, ucap saya sambil mengambil botol minuman yang disodorkan ke saya. Bocah kecil ini namanya Agus Effendi Jayadi kelas 5 SD.

Wajahnya tegar, pembawaanya begitu riang, dan jalannya cepat. Karena jalannya yang cepat, akhirnya saya mengajak adu jalan cepat. Tak disangka, jalannya bisa menyamai saya. Agus sering membantu wisatawan dengan menjadi guide cilik dengan cara mengantar tamu-tamu yang ingin mengunjungi semeti. Tamu-tamu itu lah yang memberikan imbalan kepada Agus.

pantai Semeti

pantai Semeti

Gili Anakewok

Gili Anakewok

Anak desa dilatih untuk berjalan cepat begitu dengan agus. Agus sudah terlatih jalan cepat. saya terpaksa harus mengimbanginya dengan cara berjalan setengah berlari.

Orang tuamu dimana dek, kataku. Bapak Saya sudah meninggal kak. La trus adik tinggal sama ibu, kataku. Ngak kak saya tinggal bareng dengan paman kak.

Ibu saya menikah lagi trus sekarang tinggal di Selong mas, lanjutnya.

Agus tinggal seorang diri di rumah sederhananya. Di sebelah rumahnya ada rumah pamannya. Kegetiran hidup tidak membuat menangisi kisah hidupnya atau bermanja ria sebagaimana anak-anak seumurnya. Kegetiran hidup telah menempanya menjadi manusia yang mandiri. Dalam usia yang masih tergolong muda (12 tahun) agus sudah memiliki 3 kerbau besar dari hasilnya sendiri.

Kemiskinan, kegetiran, kurangnya kasih sayang membuat agus lebih dewasa. kesedihan hidup tidak harus bersedih. Dia menyikapi kegetiran hidup dengan cara bekerja keras. Agus sama sekali tidak ingin menampakkan kesedihannya kepada saya. Dalam obrolannya, dia selalu memberikan aura kegembiraan, Senyum tulus dan antusiasme.

Agus tidak ingin manja karena memang tak ada tempat bermanja. Dia tak ingin mengeluh. Apa yang bisa dikerjakan, kerjakan. Jangan Jadi guide cilik, ngangun 3 kerbau pun dilakoninya dengan senang hati. Agus tidak serta mendapatkan rejeki nomplok langsung mendapatkan kerbau saja. Perlu kerja keras dan ketekukan dan pantang nyerah.

Awalnya, dia memelihara anak kerbau milik orang lain. Satu tahun dua tahun pun berlalu. Dia melakoninya dengan penuh kesabaran. Karena ketekunananya lah dia akhirnya mendapatkan seekor anak kerbau dari pemilik kerbau. Satu kerbau kemudian beranak pinak hingga sekarang menjadi 3 ekor.

Perjalanan kami terhenti saat agus ditawari kelapa oleh penduduk kampung. Dia langsung didaulat menaiki pohon kelapa. Dalam sekejap dia sudah bertengger di atas pohon kelapa muda, memetiknya dan menjatuhkannya ke ladang. Dia kemudian bersama-sama petani lain berbagi kelapa segar yang baru dipetiknya. Saya pun ditawarinya. Kak mau minum, katany. Saya hanya menjawab dengan gelengan kepala walau tenggorokanku masih terasa haus.

Saya berencana mampir shalat di rumahnya. “Rumahku di sana kak, dibawah pohon besar itu”. Kami berpisah. saya bergegas mengambil sepeda. Agus bergegas bawa kerbau. Dalam sekejap agus sudah melesat ke sela-sela sawah.

Sebuah gubug sederhana terbuat dari bedeg yang tak terawat. Gubug untuk berteduh dari derasnya hujan dan teriknya mentari. Sebuah gubug yang sangat sederhana dan tak berperabot lengkap. di depan rumahnya, ada sebuah berugak (langgar) sederhana -tempat bercengkrama ala sasak. Agus datang dengan membawa seorang wanita seumurannya. Saya langsung dipersilakan untuk mengambil air wudhu yang ada di samping berugaknya.

Haus dibawah teriknya mentari

Haus dibawah teriknya mentari

Agus dan rumahnya

Agus dan rumahnya

Aku pun disuruhnya shalat di dalam rumah sederhananya. Sebuah sajadah lusuh dihamparkan di atas tanah liat. Bau pesing melintas saja masuk ke dalam hidung. saya memandangi isi rumah yang berupa tumpukan-tumpukan yang diselimuti debu. Sederhana.

Shalat pun ditegakkan di rumah anak yatim doa pun ku panjatkan. “ya Allah, berkatilah pemilik rumah ini.” Di dalam rumah ini, saya menemukan kepolosan dan ketulusan.

Selesai shalat, saya langsung diajaknya berkeliling di sekitar pekarangan rumahnya. Wajahnya yang selalu riang dengan senang hati menunjukkan seisi pekarangannya. ditunjukkannya kandang terbuka yang penuh kubangan lumpur yang berada di depan rumah pamannya, diperlihatkannya dapur terbuka yang berada di samping rumahnya. Semua dalam kesederhanaan dan kebersahajaan.

Sang anak Gembala

Sang anak Gembala

Melihat riangnya agus saya jadi teringat sebuah lagu karya A.T Mahmud

Aku adalah anak gembala
Selalu riang serta gembira
Karena aku senang bekerja
Tak pernah malas ataupun lengah

Tralala la la la la..
Tralala la la la la la la..
Tralala la la la la…
Tralala la la la la la la..

Setiap hari kubawa ternak
ke padang rumput di kaki bukit
rumputnya hijau subur dan banyak
ternakku makan tak pernah s’dikit

Tralala la la la la..
Tralala la la la la la la..
Tralala la la la la…
Tralala la la la la la la..

Polos, ceria dan bersemangat. Itu lah karakter yang saya liat dalam diri Agus. Bahkan saat saya hendak memfoto dirinya bersama kerbau, dia melepas baju dan menaiki kerbaunya dengan polosnya. Bahkan, dia melakukan berbagai macam gaya dan atraksi diatas seekor kerbau itu. Akh saya tertawa dibuatnya. wajah cerianya tak menandakan bahwa dia hidup sebatangkara.

Kak kapan ke sini lagi, katanya saat saya hendak meninggalkan rumahnya. Mungkin dia seneng ada temen mainnya. Setidaknya ada yang moto saat menggembala kerbau. Ternyata kebahagiaan itu begitu sederhana. Cantiknya pantai semeti menjadi tak berarti bagi saya. Bertemu dengan agus sang anak gembala itu lah kebahagiaan yang sebenarnya. Sungguh beruntung saya bisa bertemu dengan agus.

Ayo kak kapan ke sini, ucapnya lagi menunggu jawaban kepastian dari saya. Minggu besok kak?… ibanya setengah berharap. wahhh ngak lah dek…kapan-kapan kalau ke sini lagi, insaalloh kaka mampir, kataku. Jujur saya ingin menemaninya. Setidaknya bisa menemani kesendiriannya. Ntar kalau kakak ke sini lagi, saya ambilkan kelapa muda, katany. Kalau kaka mau sekarang, saya ambilkan sekarang kak, lanjutnya. Terima kasih dek kapan-kapan saja, kataku sambil berlalu meninggalkan agus dan gembalanya.

Kandang Kerbau

Kandang Kerbau

Agus, sang anak gembala

Agus, sang anak gembala

Advertisements

Penjual Kelapa Muda di Pantai Batu Payung

Welcome to Batu Payung

Welcome to Batu Payung

Penjual Kelapa Muda di Pantai Batu Payung

Memasuki kawasan Pantai Batu Payung yang letaknya berdampingan dengan Pantai Tanjung Aan. Jalannya tak beraspal tapi tak berdebu. Lumayan keras. Mungkin karena jalan ini satu-satunya jalan menuju  kawasan batu payung sehingga menjadi jalan umum sehingga tanah liat itu lama-lama mengeras. Di ujung timur pantai Tanjung Aan ini berdiri sebuah kafe sederhana, hanya beberapa gazebo, itupun hanya seadanya aja. Café itu cukup membuatku tertarik. Setidaknya untuk rehat sejenak. Berlindung dari teriknya sinar matahari di siang hari. Menyeruput Lemon Squase sambil memandangi pantai Tanjung Aan.

Memasuki kawasan Parkir Kawasan pantai batu payung sama dengan masuk ke kawasan perkampungan kecil yang belum ku ketahui profesi sebenarnya. saya melewati palang pintu yang terbuat dari bamboo. Seseorang langsung turun dari Berugak (Gazebo dalam bahasa sasak) yang berada di kiri jalan. Wajahnya tirus dimakan zaman. langkahnya begitu cepat dan langsung mempersilahkan saya untuk parkir sepeda sambil memberi isyarat dengan tangannya.

Sudut batu Payung dari atas

Sudut batu Payung dan Gili Anakanjan dari atas bukit

“Rp 5000,00 Pak, katanya sambil menyodorkan karcis lusuh yang sudah tak jelas lagi tarifnya. Saya pun berusaha untuk menawarnya. “wah bukannya Rp 2000,00 pak”. “Tidak bisa mas, biaya parkir di sini standartnya segitu,”. Saya pun mengalah dengan menyerahkan uang Rp. 5000,00. Ku perhatikan tempat parkir bukannya selayaknya parkir. Atapnya terbuat dari pelepah daun kelapa yang sudah mengering, berwarna coklat kehitaman dan rapuh diterjang zaman. Daunnya sudah berguguran dimakan waktu. Susunannya pun seadanya. pelepah kelapa tersebut disanggah oleh bambu yang tak simetris. Mungkin seandainya ada angin yang cukup kencang. Pelepah kelapa itu yang akan terbang duluan.

Tak jauh dari tempatku berdiri, ada rumah yang juga terbuat dari Jerami. Rumahnya sederhana sesederhana pemiliknya yang duduk di teras rumahnya yang berlantai tanah bercampur pasir. Dindingnya berasal dari anyaman bambu-bambu.

Petugas parkir itu kembali ke Berugak itu lagi. Saya heran kenapa di berugak itu banyak bapak-bapak yang duduk melingkar. Saya mencoba mendekatinya. Eh ternyata mereka bermain catur. Dua yang bermain catur, yang lain hanya menonton atau mungkin mereka main secara bergantian. Tak ingin saya berlama-lama memperhatikan kampung yang berada di pinggir pantai batu payung, saya pun segera menyusul teman saya yang sudah tiba duluan. Empat teman saya itu Andri, Aryo, Tita dan Nur.

suasana parkir

suasana parkir

Kami pun menyusuri pantai batu payung yang sebagian pantainya terdiri batu-batu yang sudah dihaluskan oleh ganasnya pantai Selatan. Terjangan terus menerus mampu menghaluskan batu-batu keras itu. Lebarnya seluar lapangan volli, panjangnya hampir setu kilo. Kalau sekiranya tidak licin mungkin sangat cocok untuk bermain volli. Merasakan batu-batu ini saya, pikiran saya terlempar ke deretan pantai selatan yang lain di Lombok seperti Pantai Tlawas dan Pantai Munah dengan batu-batuan terjalnya. Batu-batu di kedua pantai bahkan tak mampu ditembus oleh hempasan gelombang yang besar.

Di sebelah kiri saya, terlihat panjangnya pantai berpasir putih dengan gelombang seadanya. Di kanan saya, tebing-tebing tinggi menjulang ke langit. Dalam hati, saya ingin menyusuri bukit bertebing itu. Ku coba lemparkan kepada kawan perjalanan saya. “ntar aja pulangnya naik bukit batu payungnya, kata salah satu temanku”. Hanya butuh sekitar 30 menit untuk sampai ke Batu Payung dengan berjalan kaki.

Sapi-sapi di bukit batu payung

Sapi-sapi di bukit batu payung

Ku liat langit yang masih diselimuti oleh awan kelabu yang menggelayut hingga ke batu payung tepat di atas kami. “Batu payung” begitulah orang Lombok memanggilnya. Saya tidak tahu kenapa Batu yang bentuknya tak mirip sama sekali dengan payung ini dipanggil sebagai batu payung. Batu ini sepertinya terbentuk dari hembasan gelombang Samudra Hindia yang sangat keras secara terus-menerus. Daratan-daratan yang tak kuat menahan hempasan gelombang akan hilang ditelan ganasnya sang ombak. Sedangkan Daratan yang perkasa menahan ombak pantai selatan, maka dia akan dianggap sang perkasa. Dan sekarang saya berdiri di bawah Batu Perkasa itu.

Saya pun coba menerka-nerka ukuran dari batu payung ini. tingginya menjulang kira-kira 10 meter, Lebarnya 3 meter, tebalnya sekitar 1 meter. Cukup unik dan satu-satunya yang ada di pulau Lombok. Keunikannya itu lah yang menarik rokok Dunhill mau menjadikan batu payung sebagai lokasi syuting iklan rokok Dun****. Sejak iklan rokok Dun**** pengunjung yang ingin tau batu payung sering berdatangan. Jangankan turis lokal, turis manca Negara pun juga ingin mencicipi indahnya batu payung. Tak jauh dari Lokasi Batu Payung ini ada sebuah Batu atau sejenis pulau kecil yang berjarak sekitar 10 meter.

Perjalanan ke Batu Payung

Perjalanan ke Batu Payung

Tiba di batu payung, saya langsung membuka bungkus sarapan yang saya bawa dari mataram. Teman-teman asik bernarsis ria dengan Batu payung, saya bernarsis dengan nasi bungkus berlabel Rp. 3000,00. Cukup lumayan mengganjal perut yang sedari tadi pagi belum terisi sama sekali. Puas menikmati sarapan pagi, saya langsung mengambil foto di beberapa bagian kemudian selonjoran di bawah batu payung yang teduh. Angin laut segar menembus sela-sela baju dan celanaku. Damai dan  tenang yang kami rasakan. hanya suara ombak dan semilir angin yang menyeringai ke gendang telinga yang menambah ketenangan. hanya kita berlima yang ada di sini, serasa punya kami berlima keindahan ini. Nikmat Tuhan yang mana yang kamu dustakan.

Mentari sesekali timbul tenggelam. Berkejar-kejaran dengan sang awan. Saat sang awan yang menyalip, maka seketika Batu Payung meredup. Saat mentari berhasil mengalahkan si awan, maka Batu Payung terlihat terang benderang. Di saat timbul tenggelam mentari itu lah, empat anak-anak penjual kelapa muda menghampiri kami yang lagi duduk santai. Rupanya anak-anak penjual kelapa muda itu membuntuti kami sejak dari lokasi parkir. Begitu mangsa muncul, di situlah mereka akan muncul.

Bersantai di Batu Payung sambil minum kelapa muda

Bersantai di Batu Payung sambil minum kelapa muda

Mas, kelapa muda mas, kata salah satu anak itu kepada kami. Teman yang lain pun menyusul “mas, kelapa muda mas.” Dua temanku Andri dan Nur langsung membelinya. Mas, kelapa muda massss, katanya dengan merengek-rengek. “Mas,” yaa kenapa?, Ya ntar saya beli kalau dah haus. La saya mau tanya kalian. “kug hari sabtu kalian pada ngak sekolah ne, malah jualan kelapa muda di sini?, kataku. Libur mas, kata salah satu dari mereka. Kayak pegawai kantor aja, kata yang lain. Dua jawaban yang bertolak belakang dari mereka sendiri. “Wah ngak kompag ne, ayo kalian bolos yach?, sejak kapan sekolah libur hari sabtu, sanggahku. Kenapa kalian bolos?,kataku. Males mas, jawabnya serempak. Dasar kalian ini, kataku.

Ku liat Teman-temanku yang lain semakin asyik duduk bersimpuh dibawah Gagahnya batu payung, minum es kelapa muda sambil mengobrol. Sedangkan saya semakin asyik dengan anak-anak yang bolos sekolah hanya untuk bisa berjualan kelapa muda yang harganya Rp 10.000,00 per biji. Ntah berapa keuntungannya hingga rela menggadaikan pendidikannya. Saya mencoba membetulkan posisinya, dari bersandar setengah tiduran menjadi duduk berdekatan dengan anak-anak harapan bangsa ini.

bernarsis ria dulu sebelum dikejar-kejar monyet hehe

bernarsis ria dulu sebelum dikejar-kejar monyet kelaparan hehe

Ayo saya pengin tahu siapa nama kalian semua, sekolah di mana, dan kelas berapa?. Nama saya Ochi, sebelah saya Abadi, trus Imam Syafii dan ini Jantan. Wah ini kug namanya jantan?, kataku. Ya mas, nama bapaknya kangkung, kata ochi sambil mentertawakan temannya sendiri. Semuanya kelas 3 di SMP 13 Pujut Gerupuk Satap (satu Atap) kecuali Jantan yang masih kelas 5 SD. Jantanlah yang memiliki perawakan tubuh yang paling kecil. Dan Jantan pula lah yang penampilannya paling aneh. Kopiah hitam itu selalu menempel di kepalanya.

empat sekawan penjual kelapa muda

empat sekawan penjual kelapa muda kiri ke kanan (Abadi, Jantan, Imam Syafii, dan Ochi

“Emangnya kalian ngak dimarahi tah oleh orang tua dan gurunya?.” Wah kalau guru sering hukum kami mas. Tapi kalau orang tua ngak pernah mas. Wah wah jangan-jangan kalian ini jualan kelapa muda ini disuruh orang tuanya, kataku. mereka berempat hanya tersenyum bisu. Bisu semua. Tiba-tiba rengekan itu keluar lagi dari salah satu mereka.”Mas, ayo beli kelapa muda mas, kata ochi yang kemudian disambut “iya saya juga belum mas” oleh Jantan. Memang, tinggal mereka berdua lah yang kelapa muda belum terbeli oleh kami berlima. Yaa ntar saya beli, kataku.

Dari Pengalaman mereka terlihat begitu pentingnya peran  orang tua, kalaupun gurunya menghukum tapi kalau orang tuanya ogah-ogahan, males ngurus anaknya atau bahkan acuh. Ya begini lah jadinya. Anak-anak yang harusnya males. Saya pun kemudian menceritakan bahwa saya dulu juga bekerja seperti kalian. “Saya juga terlahir dari orang tua yang nasibnya ngak jauh beda kalian. Kerjaanku dulu adalah mencari rumput untuk sapi-sapi orang tua.Tapi, saya tetap sekolah lah. Jadi kalian ini harusnya jualan kelapa muda sehabis datang sekolah bukan jam sekolah,” kataku. akh sok bijak aku ini, batinku.

ochi menawarkan kelapa muda kepada salah satu pengunjung

ochi menawarkan kelapa muda kepada salah satu pengunjung

Sebenarnya kalian ini bagus, sejak kecil sudah dilatih berbisnis. Ntar lama-kelamaan kalian bisa jadi pebisnis ulung, kataku pada mereka. Akh kamu ini dir, Bisnismu aja gagal terus malah nasehatin anak-anak, kata Andri langsung menyanggah nasehatku. mentah semua. Memang saya pernah berbisnis, mulai dari bisnis pulsa, Playstation dan yang terakhir adalah bisnis kuliner bakso. Semuanya berakhir dengan kegagalan. Tapi, Saya tak pernah berputus asa untuk berbisnis. Bukankah kegagalan itu merupakan kesuksesan yang tertunda. hahaha

Ku liat langit yang masih terselimutu awan kelabu. Dir, ayo kita ke puncak bukit, kata andri menyela. Tunggu bentar agak siangan lah biar bisa liat Birunya laut batu payung, lagian kan masih mendung gini, kataku.

Agak aneh juga saya ngobrol dengan Anak-anak yang wajahnya terlihat polos, lugu, imut. Saat ngobrol dengan saya.anak-anak itu sering menunduk karena malu atau? Bahkan, si Jantan yang berkopiah hitam hampir selalu menyentuhkan kepalanya dengan tanah lengkap. Eh Gerupuk itu apa artinya yach?,kataku pada anak-anak itu, si Imam Syafii langsung nyamber Gerupuk ituuuuu (sambil mikir) ya bertengkar, berkelahi. Yaaa soalnya orang gerupuk itu suka berkelahi, misal : Kakak berkelahi dengan adik, dan Suami berkelahi dengan istri, tapi, kalau suami istri kelahinya di ranjang, kata syafii menambahkan. Akh dasar loh, dah tahu gituan, kataku.

Ochi pun tak berhasil menjual kelapa muda itu. dia hanya duduk sendiri menunggu pengunjung kehausan

Ochi pun tak berhasil menjual kelapa muda itu. dia hanya duduk sendiri menunggu pengunjung kehausan

sebelum saya beranjak pergi dari peraduan batu payung dan empat penjual kelapa muda itu. Saya harus melunaskan janji saya untuk memesan satu kelapa muda. Pilihannya jatuh kepada ochi. Anak yang paling kurus dan jungkring. Akh tapi, si jantan menyapaku akh kelapa saya belum dibeli mas. Sayang, perutku dah ngak mampu lagi. Saat kami hendak pergi, beberapa pengunjung mulai berdatangan. Ada yang menggunakan perahu dan ada yang berjalan seperti saya. Dan saya meninggalkan Batu Payung yang penuh pesona

Matahari menjelang siang, saya dan rombongan memutuskan untuk naik ke puncak Batu Payung yang berketinggian 80 MDPL itu. Dari atas bukit ini saya memperhatikan batu payung yang tetap memberikan pesona walau langit masih tertutup awan kelabu. Gili Anakanjan yang berada tak jauh dari batu payung juga menambah memperindah kawasan batu payung. Dari puncak bukit Batu payung ini, saya menyaksikan sapi-sapi yang dilepas bebas oleh pemiliknya. Dari puncak bukit ini kami bisa menyaksikan ke segala arah. Pantai Tanjung Aan yang garis pantainya panjang, Pantai Batu Payung yang mempesona, bahkan kami bisa menyaksikan pantai-pantai indah yang belum ku ketahui namanya. Hanya pasir putihnya yang nampak mengelilingi kami.  Di dekat Pantai Tanjung Aan ada pantai Remisi, disitu banyak kura-kura bersemayam, begitulah kata Imam Syafii. Saat melihat ke sekeliling batu payung, saya melihat dua turis cowok yang bertelanjang di ujung bukit. Sepi. Benarkah dua turis itu hanya memandangi keindahan Pantai Batu Payung di bawah sana. Timbul pertanyaan kenapa dua turis cowok, kenapa bukan sepasang, dan pertanyaan kenapa-kenapa lainnya bermunculan di otak saya.

Sudut Batu payung

Sudut Batu payung dan Gili Anakanjan

Sang Monyet

Tiba-tiba.

Seekor Monyet hendak menyerang kami berlima. Howk howk howk….tak ada perintah kami semua langsung membentuk lingkaran penyok. Saking kagetnya dengan monyet dadakan itu, Nur tak sengaja melempar jaketnya Ita. Itu Jaketku, Kata Ita sambil mengambil jaket secepat kilat. Monyet bertubuh tambun mengarahkan pandangan ke arahku. Matanya tajam, fokus, dan tak berkedip sedikitpun. Saya pun memandanginya dan tatapan mata saya bertemu. hatiku dag dig dug ngak karuan… bulu kudukku yang berdiri tambah berdiri. Huwk huwk huwk huwk, monyet itu bersuara hendak mau menerkam.  Ambil batu, andri berteriak keras. Saya berusaha bersembunyi kemudian mengambil batu kecil.

Lempar batunya, kata andri.

Saya ragu untuk melempar takut dia mencariku kemanapun saya pergi. Saya mengurung niatku. badanku  gemeteran. Dia terus memandangi kameraku yang ku pegang erat-erat di dada. Mungkin karena kameraku ini, dia selalu melihatku terus menerus.

Monyet tak bertuan itu akhirnya makan roti hasil perkelahiannya dengan kami.

Monyet tak bertuan itu akhirnya makan roti hasil perkelahiannya dengan kami. begitu rakusnya dia makan roti yang kami berikan. mulutnya mengunyah tapi matanya tetep membuntuti kami

Masukkan kameranya ke dalam tas, mas cadeeeeer, kata andri.

Ingin ku masukkan ke dalam tas. Tapi pandangan tajamnya tak sedikitpun melengahkanku. Saya takut saat berusaha memasukkan ke dalam tas, dia tahu-tahu menerkam wajahku. Saya hanya berusaha mengalihkan pandangannya terhadapku. Tapi dia tetap mencari wajahku. Kenapa wajahku?kenapa aku yang menjadi pusat perhatiannya. Saya kemudian berusaha melakukan gerakan loncat menghindar. Brukkkkkkkkkkkk… saya terpeleset…ku cepet berdiri lagi, takut-takut dia langsung menerkam mukaku. Ku liat tangan siku kiriku. Darah segar keluar. Bercucuran.

setelah berkelahi dengan monyet, kami pun bergegas turun bersama dua turis

setelah berkelahi dengan monyet, kami pun bergegas turun bersama dua turis

Saya langsung fokus lagi ke monyet tak bertuan dan kurang ajar itu. Satu monyet tambun melawan lima orang manusia dewasa. Dan kami merasa kami berlima yang kalah. Tiba-tiba Aryo memisahkan dari rombongan dengan memegang kreksek. Sang Monyet langsung menerkam bungkusan itu secepat kilat. Aryo dan monyet berhadapan saling berebut kreksek dan aryo menjadi pemenangnya.

Berani pegang kayu pas monyetnya wis ngak kejar hahaha

Berani pegang kayu pas monyetnya wis ngak kejar hahaha. tetep gaya sok nakutin monyet haha

Tiba-tiba semua teringat bahwa ada roti di dalam tas kresek itu. Lempar rotinya, kata andri berteriak kepada Aryo. Aryo secepat kilat melemparkan sebungkus roti itu. Monyet seakan tak pernah luput dalam menangkap mangsanya. Monyet itu langsung merobek bungkus dan langsung memakannya. Kami pun secepat kilat kabur. Ku liat monyet itu begitu lahap memakan sebungkus roti. Mulutnya mengunyah, Pandangan tajamnya tetap tertuju kami yang lari tunggang langgang menjauhi sang monyet. Kami pun mendekati dua turis tersebut.

He still coming to the beach, kata dua turis itu kepada kami – sambil mengarahkan kameranya kepada rombonganku yang ketakutan. “Yes,” kata kami berbarengan. Damn, kata turis. Saya dan rombongan plus dua turis menuruni bukit menakutkan ini. Sesekali melihat ke belakang. Jangan-jangan monyet masih kelaparan dan mengejar kami sampai ke pantai. Huft…sepanjang perjalanan kami dari Puncak Bukit ke lokasi pemukiman yang menjadi topic pembicaraan adalah monyet-monyet itu bukan tentang keindahan pantai Batu Payung  yang mempesona iklan rokok itu.

Dua Turis itu

Dua Turis itu

Tanjung Ringgit Memang Ajibbbb

Tidur Santai sambil membaca buku Pemuda Sang Penakluk Romawi

Tidur Santai sambil membaca buku Pemuda Sang Penakluk Romawi

Bersantai Ria di Tanjung Ringgit

Ku duduk bersandar pada tas memandangi keindahan Tanjung Ringgit yang langitnya diselimuti awan putih.

ku tidur santai berbantalkan tas sambil membaca sebuah buku Sang Penakluk Romawi yang masih berusia 21 tahun.

ku berjalan menyusuri tebing-tebing curam Tanjung Ringgit

Tanjung Ringgit lebih dekat

Tanjung Ringgit lebih dekat

Rasa Penasaran saya terhadap Tanjung Ringgit akhirnya terobati saat ada ajakan ke Tanjung Ringgit di Group WhattApp Lombok Backpacker. Tanjung Ringgit yang berada di Desa Sekaroh, Kec. Jerowaru, Kab. Lombok Timur seakan menghipnotis saya. Lokasinya berdampingan dengan Pantai Tangsi “Pantai Pink”. hanya butuh 10 menit dari Pantai berwarna Pink itu. Butuh kurang lebih dua jam untuk tiba di Tanjung Ringgit ini.

Laut Tanjung Ringgit

Laut Tanjung Ringgit

10 Km terakhir, kita harus menempuh jalan-jalan yang bergelombang dengan waktu sekitar 30 menit. Jalan ini merupakan jalan penyiksaan menuju Surga Tanjung Ringgit dan Pantai Pink.

Musim Hujan pun tak menyurutkan langkah Tim Lombok Backpacker untuk menjelahi Lombok Timur bagian selatan itu. bahkan saat hendak mau berangkat pun langit Lombok dipenuhi oleh awan putih dan hujan gerimis. Langit seperti telah melakukan konspirasi dengan awan agar kita tak jadi berangkat ke Tanjung Ringgit. tapi, akhirnya awan itu melakukan konspirasi dengan kami sehingga air hujan cepet mereda.

pohon dan dedaunan di bibir tebing Tanjung Ringgit

pohon dan dedaunan di bibir tebing Tanjung Ringgit

Siang Itu, jam 11.23 Wita Tim Lombok Backpacker tiba di Tanjung Ringgit. Siang itu, desiran angin Laut pantai selatan hinggap di dedaunan. Tanjung Ringgit dengan Tebing-tebingnya menahan hantaman Ombak Laut Samudra Hindia. Ku meliat ke sekeliling Tanjung Ringgit. tak ada seorang pun. hanya tebing-tebing Tanjung Ringgit yang selalu setia menahan Ombak itu. Ku liat Langit Tanjung Ringgit yang diselimuti awan-awan putih seakan hendak menumpahkan hujan lebat. awan-awan itu yang menemani perjalanan kami.

Lengkungan Tebing Tanjung Ringgit

Lengkungan Tebing Tanjung Ringgit

Ku liat sekali lagi tebing-tebing Tanjung Ringgit yang mempesona. ku coba mendekat. ku coba mendekat lagi dengan berpegangan pada sebuah pohon yang tepat berada di pinggir tebing. “Dir, awas hati-hati,” kata salah seorang temen yang menegurku. ku terpaku melihat melihat tebing-tebing Tanjung Ringgit itu yang berada di pesisir selatan Lombok ini. aku pun berjalan menyisiri tebing-tebing itu,  menikmati keindahan-keindahan Tanjung Ringgit dan tebing-tebing curamnya.

Persahabatan Tim Lombok Backpacker di Tanjung Ringgit

Persahabatan Tim Lombok Backpacker di Tanjung Ringgit

Ku liat lagi langit yang diselimuti awan-awan itu. berharap awan itu menyingkir membiarkan sinar mentari menyinari keindahan Laut di Tanjung Ringgit. awan itu seakan tak mau beranjak meninggalkan Tanjung Ringgit. Suasana Tanjung Ringgit siang hari laksana pagi hari. begitu adem dan tenang. ku coba untuk menidurkan badan dengan berbantalkan tas backpack yang ku bawa. ku tidur santai sambil membaca buku “ Muhammad Al Fatih 1453” yang berhasil menaklukkan Konstantinopel pada usia 21 Tahun. “Sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya, sebaik-baik pasukan adalah pasukannya.” begitu salah satu isi buku itu.

duduk santai di Tanjung  Ringgit

duduk santai di Tanjung Ringgit

ku baca sambil merasakan desiran angin Tanjung Ringgit, mendengar ombak-ombak yang menghantam Tebing yang curam. ku baca sambil melihat Indahnya Tanjung Ringgit yang penuh pesona. Subhanallah. ku hanya ingin mengucap syukur menikmati keindahan alam yang tersaji.

mbak rahma berpose

mbak rahma berpose

ku mencoba duduk memandangi warna laut dengan biru dan biru toschanya. Duh sepertinya asik snorkeling ria di bawah sana, batinku.  Nyaliku langsung nyiut seketika melihat keganasan ombak-ombak itu. biarlah, saya melihat keindahan-keindahan taman laut Tanjung Ringgit lewat tebing-tebingnya saja, pikirku.

Lompatan sapa yang tertinggi

Lompatan sapa yang tertinggi

ku berjalan lagi ke sekeliling Tanjung Ringgit. Meriam  Jepang yang berada tak jauh dari Tanjung Ringgit itu. Lokasi Tanjung Ringgit yang strategis membuat Jepang tertarik untuk menjadikan Tanjung Ringgit  sebagai wilayah pertahanan. menurut informasi yang saya dapatkan dari penduduk sekitar Tanjung Ringgit. Tanjung Ringgit juga memiliki Goa Raksasa dan Sumur Air Tawar. Goa Raksasa itu bermuara Sumur Air Tawar yang berada di bawah tebing.

Adanya Goa, sumber air tawar, dan tebing-tebing yang curam menjadikan Tanjung Ringgit sangat cocok sebagai pertahanan perang.

Tamu Tim Lombok Backpacker saat di Tanjung Ringgit

Tamu Tim Lombok Backpacker saat di Tanjung Ringgit

saya sendiri  masih penasaran dengan Goa dan sumur  air tawar yang berada di pinggir pantai itu. ingin membuktikan bahwa airnya benar-benar tawar . Saya ingin kembali ke Tanjung Ringgit, ingin nge-camp disini menyaksikan sunrise yang keluar dari ujung Tanjung Ringgit dengan latar Gunung Rinjani dan Pulau Sumbawa.

Kerbau-kerbau Tanjung Ringgit

Kerbau-kerbau Tanjung Ringgit

Dalam derap langkahku meninggalkan Tanjung Ringgit, ku melihat kerbau-kerbau yang dibiarkan bebas oleh pemiliknya. Tanjung Ringgit memang ajibbb. I wonna come back.

Tebing Tanjung Ringgit sebelah kiri

Tebing Tanjung Ringgit sebelah kiri

tebing Tanjung Ringgit

tebing Tanjung Ringgit

Follow twitter kami @caderabdulpaker

Mbolang ke Kampung Sasak Sade, Pantai Mawun dan Bukit Malimbu

Selamat Datang di Pantai Mawun

Selamat Datang di Pantai Mawun

Sasak Village Sade

Kampung sasak

Kampung sasak

Hari ini saya menceritakan perjalanan saya ke tiga tempat sekaligus yang berada di dua kabupaten. Dua tempat wisata berada di kabupaten Lombok Tengah dan satunya lagi berada di Kabupaten Lombok Utara. perjalanan saya kali ini hanya sekedar untuk menemani temanku, Teguh Hartato. Kunjungan yang akan pertama kali kunjungi adalah kampung sasak Sade.

Masjid Kampung Sasak Sade

Masjid Kampung Sasak Sade

Kampung Sasak Sade berlokasi di Kabupaten Lombok Tengah. Lokasinya tidak jauh dari Bandara Internasional Lombok (BIL). yaitu Berada di antara BIL dan pantai Kuta Lombok. Lokasinya tepat berada di Pinggir jalan raya ke arah Kuta. So Gampang kan, ngak mungkin kesasar deh. Di Kanan Jalan tertulis “Welcome To Sasak Village Sade Rembitan Lombok”.

Di Kampung Sasak ini, bangunan Rumahnya masih terbuat dari anyaman Jerami yang masih alami. saat tiba di lokasi anda akan disambut oleh anak muda Sasak yang bertugas menjadi Guide kita selama di Kampung Sasak ini. anda bisa bertanya-tanya segala sesuatu kepada Guide tersebut. Saat sebelum memasuki kampung ini, anda harus mendaftar sebagai Tamu di Kampung ini. saat mendaftar itu, anda sekaligus bisa membayar karcis masuk. karcis masuknya bisa secara rombongan aja. Karcis masuknya tidak memberatkan tapi secara sukarela saja. Dana itu nantinya dikumpulkan untuk pengembangan kampung sasak ini.

Selamat Datang di Kampung Sasak

Selamat Datang di Kampung Sasak

Di kampung sasak ini anda bisa berbelanja berbagai macam khas Lombok yang langsung diproduksi di kampung ini. berbagai kerajinan sampai dengan kain sasak atau tenun sasak. Hampir setiap rumah ada alat menenun. So, hampir tiap rumah juga menjual tenun ini. penenun dan penjual di kampung ini mulai dari anak-anak sampai yang tua renta. Bahkan khusus cewek, diwajibkan untuk menenun sejak kecil. Oh ya di sini anda bebas menawar apa saja dan berapa saja. Tawar-menawar itulah asiknya. Oke kita lanjut ke Pantai Mawun

Pantai Mawun

Mawun di saat Musim Kemarau

Mawun di saat Musim Kemarau

Pantai Mawun berlokasi di Lombok Tengah bagian Selatan. Ini bisa ditempuh melalui Pantai Kuta. Dari Kuta akan menuju Bukit Mawun. Untuk menuju lokasi pantai Mawun belum ada sarana transportasi Umum. So anda bisa menyewa menggunakan mobil atau sepeda motor.

Indahnya Pantai Mawun. tidak sepi dan tidak begitu ramai

Indahnya Pantai Mawun. tidak sepi dan tidak begitu ramai

Di bukit Mawun ini, anda akan melihat penambangan emas rakyat. Dari Bukit Mawun ini Juga kita bisa menyaksikan Pantai Kuta dari atas Bukit. Indah kawan. Bagi kawan-kawan yang ingin melakukan perjalanan dari Mawun. Sebaiknya rehat sejenak untuk memotret keindahan pantai Kuta dari atas bukit Mawun.

Tanda-tanda menuju pantai Mawun ini tidak begitu jelas. So perhatikan petunjuk-petunjuk itu secara detail. jalan masuk ke pantai Mawun tidak meyakinkan. Tapi saat anda tiba di pantai Mawun anda akan terkesima dengan keindahan pantainya. Pasirnya yang putih airnya yang jernih berwarna kebiruan. Beberapa fasilitas seperti Berunggak atau Gazebo terlihat baru dibangun. Anda bisa duduk di Gazebo sambil menyaksikan indahnya pantai Mawun.

Pantai Mawun bagian Kiri

Pantai Mawun bagian Kiri

Pantai Mawun ini belum terlalu banyak dikenal tapi saya sangat mengenalnya. Bahkan saya sudah tiga kali saya ke tempat ini. sepi dan bersih, itulah kesan saya tentang pantai Mawun ini. beberapa Turis asing terlihat berjemur sambil menikmati indahnya pantai Mawun.

Pantai Mawun diapit oleh dua Bukit. Bukit yang sebelah Kanan rumput-rumput terlihat mengering karena musim kemarau. Jika musim Hujan maka bukit-bukit itu akan hijau kembali seperti saat saya kesini pertama kali.

Bukit Malimbu

Sunset di Bukit Malimbu.

Sunset di Bukit Malimbu.

Menikmati Sunset di Bukit Malimbu adalah salah satu yang ditunggu oleh setiap orang. termasuk di Bukit Malimbu ini. Bukit Malimbu termasuk kawasan Lombok Utara. Lokasinya tidak jauh dari Senggigi yang terkenal itu. dari Senggigi ke Malimbu hanya butuh 20 menit. Dekat kan.

IMG_1193

Di Bukit Malimbu ini, anda tidak hanya disuguhkan oleh indahnya Sunset Bukit Malimbu berupa beberapa pohon kelapa  yang melambai-lambai dengan berlatar Gunung Agung di Bali. Tapi anda  juga bisa menikmati ikan Bakar segar yang sangat enak rasanya. Sambil menunggu sunset anda bisa menikmati sedapnya ikan bakar. Bahkan anda bisa menikmati ikan bakar dan sunset sekaligus.

Dina siap-siap terbang di Bukit Malimbu

Dina siap-siap terbang di Bukit Malimbu