Meniti Jejak sejarah di Dompu

Bunga di Lapangan alun-alun kabupaten dompu berlatar kantor dan Cemara dengan cahaya sinar senja

Bunga di Lapangan alun-alun kabupaten dompu berlatar kantor dan Cemara dengan cahaya sinar senja

Dompu mempunyai daya tarik tersendiri untuk menggaet wisatawawan. Dompu merupakan salah satu kabupaten yang berada di Pulau Sumbawa – pulau yang berada di antara pulau Lombok dan pulau Flores.  Lokasi kabupaten Dompu yang tak jauh dari gunung Tambora membuat Dompu menjadi daya tarik sendiri bagi para petualang, para hiking- penikmat suasana pegunungan. Selain suasana sejuk khas pegunungan, dompu juga menawarkan pantai berpasir putih dengan lambaian ombak yang indah.

Dompu bagian utara langsung berbatasan dengan pulau Moyo yang terkenal dengan amanwana resort  atau pulau satonda – yang menawarkan pesona danau air asin yang berada di tengah-tengah pulau. Di daerah utara, anda juga bisa menikmati indahnya pesona pegunungan tambora. Kita bisa merasakan suasana sejuk khas pegunungan. Bercengkrama dan bergaul dengan penduduk di kaki gunung Tambora tersebut.

Jika di sisi utara dompu menawarkan keindahan kawasan pegunungan. Maka di kawasan selatan, dompu menawarkan keindahan pantai Lakey yang menjadi icon baru dompu. Pantai berpasir putih dengan ombak-ombak besar khas samudra Hindia telah menyedot wisatawan-wisatawan asing. Bahkan, Ombak pantai Lakey termasuk lokasi tempat berselancar termpat terbaik di dunia. sayang, kepergian saya kali ini belum bisa menyicipi keindahan Lakey yang terletak di kecamatan Hu’u itu.

Icon dompu di senja hari

Icon dompu di senja hari

Dompu tak hanya menawarkan wisata alam, Dompu juga menawarkan wisata sejarah yang masih penuh teka teki yang perlu diteliti dan digali. bagaimana Ncuhi-Ncuhi (raja-raja kecil) di Dompu kemudian bermetamorfosis dari kerajaan kecil menjadi kerajaan besar – kerajaan Dompu. Teka-teki sejarah tahun berdirinya kerajaan Dompu dikaitkan dengan letusan Gunung Tambora yaitu pada tanggal 11 April 1815. Ingat kapan Gunung Tambora meletus, maka akan ingat kapan berdirinya kerajaan Dompu atau kabupaten Dompu.

Berbagai Informasi yang saya baca bahwa ada tiga kerajaan yang berada di lereng Gunung Tambora yaitu kerajaan Pekat, Sanggar dan kerajaan Tambora. Tiga kerajaan itu lenyap bersamaan dengan meletusnya gunung Tambora. Sejak saat itu, bekas kerajaan di lereng gunung tambora tersebut masuk dalam wilayah kerajaan Dompu. Masuknya bekas wilayah tiga kerajaan tersebut juga sebagai penanda kerajaan dompu baru dan tanggal 11 april 1815 dijadikan sebagai hari lahir kabupaten Dompu.

Mada Pangga, Perbatasan Bima Dompu

Kedatangan saya ke dompu pertama kali ditempuh dari Bima ke Dompu dalam suasana kegelapan, maklum saya berangkat dari Bima menjelang jam 07.00 Wita. Kami berangkat bersama rombongan yaitu Ibu Ani, pak Muhaimin, dan pak Agus. tak seperti di Kota Bima, Dompu berada di dataran tinggi. Saat memasuki perbatasan Kabupaten Bima, Mada Pangga. Jalan-jalan yang berkelok membuat mobil berjalan lebih pelan. Dalam kegelapan, perkampungan Mada pangga itu menjadi pelita kawasan perbatasan ini. Tak lama kami melewati jalan-jalan berkelok yang sepi, sunyi. Bunyi serangga hutan yang sedang bernyanyi mengurangi kesunyian.

Kuda-kuda yang menjadi icon kota dompu

Kuda-kuda yang menjadi icon kota dompu

Pak di sini, sering terjadi perampokan, kata pak Muhaimin memecah kesunyian.  Di kawasan Mada pangga yang gelap ini bulu kuduk saya berdiri. Hati-hati kalau jalan malam menggunakan motor di daerah sini, kata pak Muhaimin menambahkan.

“Banyak yang telah menjadi korban pak terutama yang menggunakan sepeda motor”.

“Kalau ada yang minta bantuan or ada ban bocor, jangan berhenti, jalan aja terus”.

“Dulu, istri saya pernah pulang malam dari desa sini. akhirnya, semua pemuda-pemuda desa mada pangga mengawal istri sampai ke rumah”.

“saya kaget, kug pemuda sekampung mengantar istri saya ke rumah”

“Wahhh keren ya pak istrinya bapak diarak ama pemuda kampung mada pangga, kataku menyela pak Muhaimin”.

“Istri saya dianter karena mengajar di kampung itu mas”

“Di sini juga sering jadi tempat pembuangan korban loh mas, kata pak agus yang asli Lombok itu”.

“Oh ya mas, kata pak Muhaimin seakan ingin memberitahu sesuatu kepada saya”

“Apa pak,” kataku

“Kata pemuda kampung yang menganter istri saya, kalau lewat jalan berkelok di kawasan mada pangga. Tiap melewati jalan berkelok, bunyikan aja klaksonnya. Klakson itu sebagai penanda bahwa yang mengendarai sepeda motor itu termasuk penduduk mada pangga.” Kata pak Muhaimin yang asli Dompu itu.

“Di sini ada sumber mata air dan tempat pemandiannya lok pak,” kata pak agus menambahkan.

Wah perbatasan Bima dan Dompu yang penuh misteri. Belakangan, saya baru mengetahui bahwa di Mada pangga juga terdapat pabrik air kemasan “Lam-lam” yang berlokasi di Mada pangga bahkan air kemasan yang terbesar di Bima dan sebagian sudah diekspor ke Flores.

Mada pangga selain sebagai tempat yang rawan dan menyeramkan di malam hari tetapi juga menawarkan kesejukan suasana dan ketenangan khas pegunungan di siang hari. Hampir dua jam, kami menempuh perjalanan Bima Dompu. Jam 09.00 kami tiba di hotel yang akan menjadi penginapan saya selama 3 hari di Dompu. Kemudian tidur melepaskan lelah untuk beraktivitas hari selanjutnya.

Bekas Istana kerajaan Dompu yang dirubah menjadi Masjid Baiturrahman Dompu

Bekas Istana kerajaan Dompu yang dirubah menjadi Masjid Baiturrahman Dompu

Saat saya turun dari masjid Baiturrahman yang berada di depan hotel saya. Saya melihat ada sesuatu yang aneh yang berada di samping kanan masjid. Makam ini berada dalam kawasan masjid Baiturrahman. Penasaran, Saya mendekati eh ternyata ini adalah makam raja Dompu kedua terakhir Sultan Muhammad Sirajuddin. Pagar masjid yang sekaligus berfungsi sebagai makam sultan itu tertulis.

“Sultan Muhammad Sirajuddin (Manuru Kupa). Lahir di Dompu dan meninggal di Kupang pada tahun 1937. Dimakamkan kembali di Dompu 22-1-2002”

Sultan Muhammad Sirajuddin diasingkan oleh Belanda ke Kupang pada tahun 1934. Sang Sultan diasingkan karena tidak mau patuh perjanjian yang sudah dibuat Belanda. Akhirnya, sang Sultan meninggal di kupang 3 tahun setelah diasingkan ke kota Kupang, NTT. Bupati Dompu, Abu Bakar Ahmad,  yang sangat mencintai sejarah ini kemudian berkomitmen untuk memindahkan jasad sang sultan Dompu itu. Keinginan Bupati itu akhirnya terlaksana pada tahun 2002. Jasad Raja Dompu yang tinggal tulang belulang itu kemudian dikafani dan dimakamkan kembali di Dompu. Lokasi pemakaman tepat berada di samping sebuah komplek pemakaman di masjid Baiturrahman.

Makam Sultan Muhammad Sirajuddin, raja kedua terakhir yang diasingkan ke Kupang, NTT

Makam Sultan Muhammad Sirajuddin, raja kedua terakhir yang diasingkan ke Kupang, NTT

Masjid Baiturrahman ini awalnya adalah istana terakhir kerajaan dompu. Letusan gunung Tambora mengakibatkan istana kerajaan Dompu hancur. Akhirnya, istana kerajaan Dompu dipindah ke lokasi masjid jamik Baiturrahman kabupaten Dompu. sayang, bukti sejarah tentang keberadaan istana kerajaan Dompu sudah tak membekas lagi. Hanya mahkota kerajaan Dompu yang masih di simpan di musium nasional Jakarta.

Berkeliling Kota Dompu

Musholla di tengah-tengah sawah-sawah yang sudah menguning di kabupaten Dompu

Musholla di tengah-tengah sawah-sawah yang sudah menguning di kabupaten Dompu

Kota Dompu yang kecil nan mungil ini tetep menawarkan keindahan yang kotanya masih diliputi sawah-sawah yang membentang luas, bukit-bukit hijau yang mengelilingi kota Dompu. Salah satunya di wilayah lingkar utara. Sawah-sawah yang menghijau membuat saya tertarik untuk berhenti. Mengabadikannya. Sebetulnya yang membuat saya tertarik adalah musholla permanen yang berdiri di tengah-tengah sawah. mushalla yang dikelinggi padi-padi yang hendak menguning. unik sekaligus asik.

Anton sang fotografer dengan modelnya.

Anton sang fotografer dengan modelnya.

Selesai moto, saya terus melaju motor pinjeman milik Muhaimin itu. tiba di pusat keramaian kota dompu saya berhenti. Ku liat alun-alun kabupaten dompu. di luar alun-alun, terlihat beberapa tempat hangout anak Dompu.hampir semuanya anak-anak muda. saat sore tiba, maka alun-alun dan sekitarnya berubah menjadi pusat hang out satu-satunya yang ada di kabupaten dompu itu. semuanya tumplek di sini.

bertemu Klub fotographer Alpharian di lapangan kabupaten Dompu

bertemu Klub fotographer Alpharian di lapangan kabupaten Dompu

Saya melongo ke dalam alun-alun yang pagarnya agak tinggi itu. di ufuk barat terlihat mentari yang mengeluarkan cahaya senja menyinari alun-alun Dompu. Ku liat beberapa fotografer model di dalam alun alun dalam temaram senja. Kota Dompu yang bermotto “Nggahi Rawi Pahu (berarti rencanakan laksanakan niscaya hasil kau dapatkan) itu” seketika begitu romantis.

Membidik cahaya (Kiyut dan modelnya)

Membidik cahaya (Kiyut dan modelnya)

Saya mendekati beberapa fotographer yang tergabung dalam alpharian Bima Dompu. di Lokasi ini akhirnya saya berkenalan dengan beberapa fotographer dari bima dan dompu. antara lain anton, Kiyut dan Teguh. Dari mereka lah saya baru tahu bahwa di Dompu juga ada kamara bura, ubudnya dompu. sayang, sampai kepulangan saya dari Dompu. saya belum bisa menginjakkan kaki ke Kamara bura – melihat indahnya sawah-sawah di dompu. Dalam petualangan selanjutnya, saya siap menjelajahi Kota Bima yang bersejarah. menelisik lebih dalam tentang kebudayaan rimpu. dan keindahan-keindahan kota Bima yang berada di kawasan teluk Bima itu.

Follow twitter kami di @caderabdulpaker

Kubilai Khan bersemayam di Klenteng Eng An Kiong

Kubilai Khan bersemayam di Klenteng Eng An Kiong

Kwan Im Teng Eng An Kiong Gong Xi Fa Cai

Kwan Im Teng Eng An Kiong Gong Xi Fa Cai

Berjalan di kawasan pecinan di Kota Malang seperti memasuki kawasan kota tua yang benar-benar tua. Bangunan-bangunan tua khas Kolonial Belanda masih berdiri dan utuh. Perjalanan ku terhenti saat melihat bangunan yang lain daripada yang lain. Arsitekturnya bergaya cina. Warna merah yang begitu dominan seakan-akan meniadakan warna lain gedung itu. Suasananya begitu ceria. Orang biasa menyebutnya dengan sebutan Klenteng. Menurut sumber Wikipedia, Kata Klenteng ini berasal dari Kwan In Teng atau persembahan Dewi Kwan Im (Dewi kasih sayang). Di Gapura klenteng tertulis Yasasan “Eng An Kiong”.

Saya bersama istri saya mencoba mendekati salah satu petugas satpam. “Maaf mas mau kemana ?” kata salah seorang petugas satpamnya. “Maaf pak, bisa kami masuk untuk sekedar mengambil beberapa gambar,” kataku. “Ya Silahkan aja mas,asal jangan masuk terlalu ke dalam dan mengganggu orang beribadah. Mas harusnya datang tadi pagi sekitar jam 09.00,  ada atraksi barongsai di sini,” kata petugas satpam menambahkan.

Sang Budha dan Dewi Kasih Sayang, Kwan Im

Sang Budha dan Dewi Kasih Sayang, Kwan Im

Wahhh kalau gitu saya kelewat dong pak, imbuhku. Hari Ini memang hari yang Spesial bagi Tionghoa. Hari ini adalah hari ulang tahun Imlek ke 2565. Semua Klenteng merayakannya. Bahkan, di Negara Cina sendiri, Imlek dirayakan selama seminggu. Perayaan Imlek bagi Tionghoa ibarat hari Idul Fitri bagi umat Islam. Bagi anak-anak Tionghoa Imlek saatnya mengumpulkan ang pao sebanyaknya, begitu juga ketika hari Lebaran maka anak-anak muslim juga menunggu “angpao” lebaran.

Klenteng Eng An Kiong terdiri dari Satu Bangunan Utama, dua bangunan penyangga yang berada di kanan kiri. Dan satu bangunan lagi yang terpisah dari 3 bangunan lainnya. Itulah kantor “Yayasan Eng An Kiong”. saya mencoba berjalan dari sisi kiri bangunan. Lilin-lilin itu berjajar rapi laksana mercon raksasa yang bungkusnya dicat warna merah. Berjajar rapi dari yang terkecil hingga yang terbesar.

Lampion-Lampion Klenteng

Lampion-Lampion Klenteng

Lilin yang paling besar tingginya melebihi tinggi badanku. Diameternya menyamai diameter perut gendutku. Bahkan Lilin terbesar begitu angkuhnya memasang harga 7.500.000,00 Rupiah. Ku tolehkan kepada Lilin yang paling kecil itu. Tingginya hanya sepinggangku, diameternya seperti diameter lenganku. Mungkin lebih besar dikit. Lilin kecil itu begitu malu menunjukkan berapa harga dirinya. Bahkan harganya tak mau diketahui oleh para penganut Konghucu, Tao atau Budha (Tridharma kata sebagian orang).

Lilin-lilin ini seperti manusia saja, pikirku. Yang berkuasa dan besar merasa sombong dengan harganya yang mahal. Sedangkan, Lilin Kecil begitu malu menunjukkan harga dirinya yang sebenarnya. Saya coba memperhatikan lilin kecil itu lebih cermat. Ku mememutarinya- tak ada harga. Lilin kecil yang pemalu.

berpose dengan latar Lilin Raksasa

berpose dengan latar Lilin Raksasa

Lilin Besar vs Lilin Kecil, Lilin Congkak Vs Lilin pemalu.

“Kebencian tidak reda dengan kebencian. Kebencian hanya reda dengan kasih. Inilah hukum abadi, (Budha).

Jika seorang ingin memuja para dewa, seseorang haruslah memuja orang tua mereka karena orang tua adalah mahadewa (Samyuktagama).”

Itulah sebagian kata-kata yang tepat berada di depan-depan Lilin-lilin berwarna merah itu. Kata-katanya begitu menggugah. Itu lah sebagian ajaran dari kawasan Asia timur itu. Maka jangan heran, saat perayaan imlek, Tionghoa biasanya berkunjung kepada orang tua mereka sebelum perayaan imlek. Bahkan, orang-orang yang berjauhan dari orang tuanya, dan tak memungkinkan untuk berkunjung. Maka anak-anak mereka berlomba-lomba untuk mengucapkan hari raya imlek kepada orang tua-orang tua mereka.

Sembahyang

Sembahyang

Imlek sebetulnya adalah sebuah bentuk perayaan untuk menyambut musim semi. Saat itulah mereka menyambut kedatangan musim semi itu dengan ungkapan kebahagiaan. Ungkapan kebahagiaan itu salah satunya diwujudkan dalam bentuk warna-warna yang cerah. Menurut kepercayaan Tionghoa warna merah dan kuning adalah warna keceriaan. Sehingga tak jarang, klenteng-klenteng, baju-baju ditaburi dengan warna-warna merah. Semuanya serba merah.

Beribadah di Klenteng Eng An Kiong ini setidaknya ada beberapa tahapan yang harus dilalui. Mungkin sekitar 18 – 25 tahapan mas, kata salah seorang satpam klenteng. Wah banyak juga ya pak, kataku. Tahap yang pertama adalah pemujaan kepada sang Budha yang berada di pelataran utama. Nyaliku ciut seperti krupuk terkena cipratan air saat hendak melihat sang Budha itu. saya hanya meliriknya. nihil saya tak melihat apa-apa. tahapan selanjutnya tepat berada di sampingnya. “Kuil” ini saya bisa melihat dengan jelas. jelas sampai ke bagian Budha itu sendiri. di sini saya bisa melihat Sang Patung Budha dan Dewi Kwan Im.

terpaku ku di sini, memori yang hampir sirna itu kembali ke hadapan. kisah-kisah Perjalanan ke barat untuk mencari Kitab Suci yang dilakukan oleh Biksu Tong Hsuan-tsang (baca- Tong Sam Cong) ditemani ketiga muridnya Sun Go Kong, Chu Pa-chieh, dan Sha Ho-shang. saya kemudian larut dalam kisah-kisah perncarian kitab suci itu. ku coba perhatikan “kuil-kuil”. barangkali Tong Shuan-tsang dan tiga muridnya ada di sekitar Budha itu. Nihill. tak ada. ak barangkali mereka masih dalam perjalanan mencari kitab suci, batinku.

tak ingin dalam kisah-kisah Sun Go Kong yang sering diputar dalam serial Tv, saya terus melanjutkan perjalanan saya dalam “Kuil-kuil” ini. Di sebelah kiri ini tak kurang ada empat kamar pemujaan. tak ada hanya kamar-kamar itu ibarat labirin-labirin pemujaan kepada para dewa. tak terkecuali taman-taman yang berada di tengah-tengah itu salah satu yang dihormati. begitu lah seharusnya manusia menghargai alam dengan caranya masing-masing.

ini semacam dupa yang berbentuk unik. Bentuknya unikseperti terompet. ini biasanya di setiap pemujaan

ini semacam dupa yang berbentuk unik. Bentuknya unikseperti terompet. ini biasanya di setiap pemujaan

Saya coba perhatikan “kuil-kuil” pemujaan-pemujaan itu satu per satu. mulai dari labirin pertama yang berupa sang Budha dan Dewi Kwan Im. saat saya tahapan-tahapan selanjutnya, saya tertegun pada salah satu tahapan itu. Ku coba perhatikan lagi lebih detail lagi. Ku perhatikan wajah-wajah yang dipuja itu. Ku semakin larut dan hanyut. Otakku berputar. Ku seakan masuk ke lorong waktu tahun 1289 – 1293 saat Kubilai Khan ingin menaklukkan Kertanegara dari kerajaan Singhasari.

Cucu dari Jenghis Khan ini berhasil menaklukkan Cina hingga ke Vietnam. Tapi sayang, penaklukkan Kubilai Khan ke tanah jawa harus dipermalukan oleh Kertanegara, sang raja Singhasari waktu itu. Meng khi, utusan Kubilai Khan yang meminta Kertanegara agar tunduk kepada kekuasaan mongol terpaksa harus kehilangan satu telinga. Meng Khi pulang dengan kuping yang hanya tinggal satu. pendekar satu telinga, mungkin begitu lah panggilan yang cocok bagi Meng Khi.

Setelah mengetahui bahwa utusannya dipermalukan oleh Kertanegara. Kubilai Khan mengutus Ika Mese untuk kedua kalinya pada tahun 1293 untuk menaklukkan kerajaan Singhasari. Sayang, Kertanegara, sang Raja Singhasari sudah ditahlukkan oleh Raja Kadiri, Prabu Jayakatwang.

Kubilai Khan

Kubilai Khan

Pasukan Mongol utusan Kubilai Khan tak tahu harus berbuat apa saat tiba di kerajaan Singhasari. Keadaan ini dimanfaatkan oleh menantu Kertanegara, Raden Wijaya untuk membantunya memberontak melawan kerajaan Kadiri – yang telah menahlukkan Singhasari atau Singosari. Pasukan Kubilai Khan dan Raden Wijaya akhirnya berhasil menumpas Raja Jayakatwang, dan Raden Wijaya mendirikan kerajaan yang diberi nama Majapahit.

IMG_4550

Setelah berhasil menaklukkan kerajaan Kadiri, Raden Wijaya mengatur siasat agar bisa mengusir pasukan mongol dari tanah jawa. Pasukan Raden Wijaya akhirnya berhasil mengalahkan utusan Kubilai Khan. Akhirnya, pasukan Mongolia itu pulang dan tak pernah berhasil menaklukkan kerajaan Singhasari atau Majapahit.

Tiba-tiba Lorong waktu itu kembali ke alam kekinian. Inilah replika Kubilai Khan yang berada di Klenteng Eng An Kiong. ku sadar dan semakin yakin bahwa inilah Kubilai Khan itu. ku coba melangkahkan kaki melihat “kuil” yang lain dengan rupa yang berbeda. setidaknya berbeda dari Kubilai Khan atau Kakek Kubilai Khan, Jenghis Khan. ku Ingin melupakan keperkasaan Jenghis Khan dan Kubilai Khan saat berusaha menaklukkan jajahannya. tak terperi ku dibuatnya. ku langkahkan kaki menuju bagian yang lain.

ku coba meluruskan pandangan ke arah belakang kelenteng. ku liat patung-patung yang diukir oleh warna keemasan. tersembunyi di balik keangkeran bagian belakang klenteng Eng An Kiong. saya berusaha membidiknya dengan kamera yang saya pegang. saya bersusah puyah untuk memotretnya. tapi, saya tetep tak berhasil. sulit mendapatkan fokusnya karena terlalu gelap untuk ditangkap sensor kamera. untung, mata saya terlalu canggih sehingga patung-patung budha masih terlihat keemasannya.

Pemuda yang duduk-duduk santai itu hanya memperhatikan gerak gerikku. pencuci piring juga memandangiku. setiap orang yang datang untuk sembahyang, semuanya memperhatikan saya. keki juga saya dibuatnya. Mungkin para Tionghoa itu hendak memarahi saya yang masuk ke dalam kawasan peribadatan mereka. untung mereka sedang sembahyang, sehingga mereka membuang jauh-jauh kebencian itu. melumatnya dalam hati yang seluas samudra keikhlasan.

perasaanku mulai merasa tak enak di dalam vihara ini . saya berusaha keluar dari kawasan itu. satpam yang berkulit putih dengan wajah selalu senyum itu menyapaku. “Kenapa keluar mas,” katanya. wah saya ngak enak aja pak, kataku.

Ya udah liat yang sebelah kiri aja kalau gitue?, imbuhnya. oke pak ma kasih. saya pun bergegas ke sisi kiri kelinting/sisi kanan klenteng kalau dilihat dari jalan raya. tiba-tiba seorang satpam dengan wajah seram membuntutiku. “mau kemana mas?” katanya. akh mau liat-liat dan foto aja kug pak, kataku. awas ya jangan masuk ke dalam yach, katanya dengan nada mengancam. oh ya pak, saya kan diluar aja pak.

seakan tak percaya dengan omonganku. dia tetep membuntutiku. di depanku ada beberapa pengunjung lain yang juga melakukan hal yang sama dengan yang aku lakukan. bahkan, dia berusaha lebih mendekat ke dalam lagi. tak hanya itu, dia berhasil motret patung-patung budha yang berada di bagian belakang klenteng. Satpam itu tak menegornya. istriku yang berjalan di sampingku bilang serem ya klenteng bagian belakang. kesereman klenteng bagian belakang memang terlihat dari auranya. kesereman itu dipadupadankan dengan warna lampu yang 5 watt berwarna merah. bertambah gelap dan serem lah klenteng belakang.

pengunjung di depan saya yang berhasil motret itupun pergi menjauhi saya. saya pun berusaha memotretnya, menggantikan posisinya. ku coba langkahkan kaki. tiba-tiba “mas, tidak boleh ke situ mas,”kata satpam itu dengan tanpang seremnya. saya langsung membatin “gimana ne pak satpam, tadi ada yang asik moto-moto ngak dilarang, lah giliran saya mau moto malah ngak boleh.” saya hanya bisa membatin sambil meninggalkan Klenteng Eng An Kiong dengan kekecewaan. kecewa karena satpam yang tak adil kepada semua pengunjung. kecewa. itulah perjalanan saya saat Imlek 1-1-2565 Tahun Kuda Kayu.

Selamat menyambut musim semi. Selamat bergembira. Semoga tambah sejahtera. Gong Xi Fa Cai.

Follow twitter kami di @caderabdulpaker