Berburu Sunset di pantai Krandangan dan Mengintip Senggigi

Para Penjual

Para Penjual

Taman Krandangan

Taman Krandangan

 

Sore itu semburat senja berpendar di kolam renang taman belakang hotel Puri Saron saat saya menyisiri pinggiran kolam renang itu. Kolam yang biasanya selalu ramai oleh para tamu hotel ini nampak sepi dan tenang. beberapa petugas hotel menyapaku saat aku melintasinya. Mereka  sepertinya tahu gelagatku layaknya wartawan dengan kamera bag yang diselempangkan di bahu.

Krandangan adalah salah satu spot tercantik untuk memotret pohon-pohon kelapa. bagi yang suka menikmati suasana matahari terbenam. barangkali Krandangan harus menjadi salah satu yang wajib dikunjungi. Puri Saron lokasinya bersebelahan dengan pantai Krandangan. hanya dipisahkan oleh sungai lumut sampah.

Seorang petugas hotel mendekatiku dan memberitahuku bahwa Lombok memiliki pantai-pantai cantik. saya tak terkejut karena memang saya sudah membuktikannya. mungkin petugas hotel menyangka saya sebagai orang yang baru tiba di Lombok. “Mas, pantai-pantai di Lombok cantik-cantik,” katanya berusaha mempromosikannya kepada saya. sudah satu tahun lebih saya tinggal di Lombok. selama itu pula saya memburu pantai-pantai cantik. ntah kenapa saya merasa bersemangat mencari pantai-pantai indah di lombok. setiap sudut lombok harus saya jelajahi, begitu kata hatiku suatu waktu.

bahkan saya pernah sendirian menyusuri pantai-pantai yang mulai dari Loang Baloq di Mataram hingga di Kecinan, Lombok Utra. dari pagi hingga sore menjelang. masuk ke kampung ke luar kampung. dari gang satu ke gang lain. menyusuri kampung-kampung nelayan kumuh. hingga pantai Senggigi yang cantik.

 

Sunset at Puri Saron

Sunset at Puri Saron

Sungai ini hanya menjadi muara dari sampah-sampah yang berasal dari bukit dihulunya. Sungainya tenang dan tak beriak. Ketenangan sungai ini menyebabkan lumut-lumut hijau tumbuh subur menyelimuti permukaan air yang tenang. Ada orang-orang yang memanfaatkan ketenangan sungai berlumut ini. mereka itu : para pemancing ikan-ikan sungai. Mencari ikan-ikan yang bersembunyi di balik lumut-lumut yang menutupi permukaan air sungai. Barangkali, mereka terlalu setia menunggui ikan-ikan yang bersembunyi di balik lumut. Setiap sore, pemancing itu selalu setia menunggu sang ikan memangsa umpan para pemancing.

Saat itu, saya melihat sekumpulan para pemancing yang terlihat berdiam diri di atas air yang tenang. Bayangan terefleksi di dalam air.

Di atas sana, bukit hijau diselimuti awan kelabu yang menggulung. Di pinggiran sungai, barisan pohon kelapa yang melambai diterpa angin bukit yang turun ke laut. Di pantai, orang-orang bercengkrama ria sambil menikmati tenggelamnya mentari di sore hari. Di pinggiran pantai ini juga para penjual kelapa menunggu para penikmati wisata krandangan beach.

Saya cepat berlarian hendak menuju ke arah komplek pantai Krandangan yang sebenarnya. Terlihat Para pengunjung yang sedang mandi di pantai Krandangan dengan hamburan ombak yang tenang. Pantai Krandangan langsung berbatasan dengan selat lombok. Beberapa anjing saling menggongong saat saya masuk kawasan pantai Krandangan. Saya baru datang saat orang-orang yang berjualan sedari tadi pagi mulai berkemas-kemas hendak mau pulang.

Beberapa rombongan pengunjung bule mendatangi salah satu penjual itu kemudian memesan beberapa kelapa muda. Saya berlalu meninggalkan warung-warung menuju ke tengah-tengah lapangan Krandangan yang kosong dari pohon kelapa. Saya duduk sendiri di tengah lapang sambil indahnya temaram senja berbalut kuning. Angin-angin berhembus kencang membilas pohon-pohon kelapa yang tinggi menjulang.

Pintu Gerbang

Pintu Gerbang

Saya masih duduk seorang diri, saat mentari tenggelam ke dalam laut. Langit semakin gelap, anjing pun sesekali menggongong di kejauhan malam. Gelap. Membuatku sedikit ada rasa takut. Tapi begitu senang ketika melihat indahnya barisan pohon kelapa yang berbaris rapi dengan latar belakang warna merah jingga. Tak ada cahaya lampu, Gelap, berpadu dengan indahnya temaram senja. Gonggongan anjing semakin kencang saat aku berjalan menyusuri jalanan gelap. Ntah ada beberapa anjing. Anjing itu berlarian. Ada rasa takut dan was-was jika anjing itu merasa terancam dan mengancam saya. Anjing-anjing berlarian dalam gelap dibarengi dengan saya yang juga berlarian ketakutan.

Trauma. Barangkali itu lah kata yang cocok untuk menggambarkan trauma saya dengan anjing. Aku pernah diserbu tiga anjing sekaligus saat lari pagi. Sejak itulah, saya sedikit mengalami trauma saat bertemu anjing-anjing menggonggong.

Pertengahan Isyak dan magrib, saya pulang ke hotel. Melewati restoran yang langsung berhadap-berhadapan dengan kolam renang. Beberapa kawan menyapaku. Malam itu, aku lewatkan malamku dengan menonton film HBO hingga akhirnya aku tertidur dengan sendirinya.

Penjual Jagung Bakar Senggigi

Penjual Jagung Bakar Senggigi

Pagi-pagi sekali, saat mentari pagi berada di balik perbukitan saya sudah meluncur ke jalanan senggigi. Semburat cahaya Jingga di pagi hari desa senggigi. Hembusan-hembusan angin segar dengan jalanan senggigi yang masih sepi menambah kedamaian dan ketenangan pagi ini. Cahaya jingga dari puncak bukit menerangi pantai senggigi yang masih tertidur. Pantai itu masih terlelap dari aktivitas manusia yang sekedar ingin berjemur. Bahkan, pemancing yang biasanya kuat bertahan seorang diri berendam separuh badan di laut tak muncul pagi itu.

Tak ada para penjual kelapa muda dan jagung bakar yang biasanya berjejer rapi di pinggiran jalan senggigi. Hanya barisan mobil taksi yang berbaris rapi menunggu penumpang. Jalanan Senggigi nampak lengang. Tak ada bule dan wisatawan lain yang biasanya berseliweran di sepanjang jalan senggigi. Hanya terlihat satu bule yang jogging menuruni jalan senggigi. Keringatanya bercucuran membasahi kaos putihnya.

Mentari naik sepenggalan saat saya memutuskan balik ke Puri Saron Hotel untuk mengikuti rangkaian pelatihan. Pelatihan dimulai dari jam 08.00 hingga 17.00 dengan istirahat coffe break 2 kali dan Ishoma 1 kali selama 5 hari. Untungnya, pelatihan ada di kawasan Senggigi. Jika penat mulai melanda, saya langsung bisa meluncur ke taman belakang sambil berenang menikmati mentari tenggelam atau meluncur ke kawasan Senggigi menikmati jagung bakar dan kelapa muda.

Hotel Sheraton from above street

Hotel Sheraton from above street

Rasa penat itu benar-benar muncul setelah tiga ikut pelatihan di Kamboja Meeting Room. Saat keluar kelas, saya langsung tancap gas menuju kawasan Senggigi. Tepatnya di sekitar Bukit Pura Kaprusan. Di Lokasi ini bisa melihat segala hal tentang Senggigi dan menyaksikan temaram senja di Pura Kaprusan. Pura Kaprusan terletak di daratan yang menjorok ke laut di sisi barat Senggigi. Pura Kaprusan tersembunyi dibalik Villa, pepohonan kelapa dan warung. Di kawasan Pura Kaprusan ada sebuah pura yang berada di pinggir pantai. Pura itu berdiri di atas batu karang yang kokoh.

Lombok dan Bali berbaur di sini. Pura dan Masjid hidup berdampingan. Kampung Muslim dan Kampung hindu ibarat tangan kiri dan tangan kanan. Tak ada tangan kiri tanpa tangan kanan kanan di sampingnya. itulah simbol kerukunan dan keharmonisan hindu dan muslim di Lombok. Kampung bali dan kampung Muslim hidup berdampingan dengan budaya dan adatnya masing-masing. Pura yang ada di pesisir pantai sepanjang jalur senggigi antara lain Pura Batu Layar, Pura Batu Bolong dan Pura Batu Kaprusan.

Bapak-bapak dan ibu-ibu Penjual Kelapa dan Jagung Bakar sibuk membelah kelapa dan mengipas-ngipasi jagung bakarnya. Saya mendekati salah seorang bapak di antara para penjual itu dan memesan satu buah kelapa muda. Dia menjual kelapa muda dan jagung bakar. Anak istrinya membantunya dengan berjualan di warung kecil di pintu masuk pantai Kaprusan. Wajahnya sedikit berumur tapi selalu ceria dan suka bercanda. “Canda itu penting mas biar ngak cepat tua,” katanya saat saya duduk di bangku panjang tempat jualannya.

Muara Sungai Krandangan

Muara Sungai Krandangan

Bapak penjual kelapa muda itu bercerita bahwa dirinya pernah kerja di Jakarta dan Bali. Profesinya kebanyakan di restoran dan café. Karena umurnya yang sudah tidak muda lagi akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari Restoran dan sekarang berjualan kelapa muda dan jagung bakar di Senggigi. Anak lekakinya juga bekerja di salah satu Café yang terkenal di Senggigi, Marina Café.

Suasana Senggigi sore ini tak seramai saat malam hari setidaknya untuk para penjual kelapa muda dan jagung bakar. Menjelang Malam atau menjelang pagi, banyak para pengunjung café. Para penjual kelapa muda dan jagung bakar juga mendapatkan ketiban rezekinya. Kawasan wisata Senggigi terasa lebih hidup malamnya daripada siangnya. “kalau semakin malam, di sini semakin ramai mas,”

Sore ini, saya bener-bener mengintip Sengigi, mengintip Hotel Sheraton saat api-api unggun dinyalakan di taman-taman hotel yang berbatasan dengan pantai berpasir puith. Bule-bule yang bersantai ria di depan hotel. Melihat para penjual jagung bakar dengan asapnya yang mengepul. Menikmati suasana sore hari sambil menyantap jagung bakar dan nikmatnya sajian kelapa muda di puncak senggigi.

Dari Lokasi ini, kami bisa menyaksikan romantisme Senggigi di sore hari dengan temaram lampu, air laut yang tenang, bara-bara api yang dinyalakan menerangi malam yang mulai menyelimuti. Sore ini senggigi dalam pelukan malam.

Gunung Agung

Gunung Agung

Advertisements

Pagi di Kaumrejo, Ngantang

Sunrise kampung di bawah bukit

Sunrise kampung di bawah bukit

Kampung Kaumrejo, Ngantang

Kampung Kaumrejo, Ngantang

Pagi itu, kesunyian dan keheningan melingkupi Dukuh Gading, kampung yang berbatasan langsung dengan Bendungan Selorejo. Suara adzan subuh berkumandang memecah keheningan malam di satu-satunya mushalla kampung ini. terdengar suara kakek-kakek yang terseok-terseok-disebabkan giginya yang sudah tanggal-melantunkan adzan panggilan shalat. Beberapa warga berjalan menuju sumber suara. Di Mushalla kampung ini, sebagian besar jamaahnya adalah para laki-laki dan perempuan yang sudah cukup lanjut usia, yang kepada mereka lebih tepat dipanggil dengan sebutan “Kakek/nenek”.

Suasana Kampung terasa dingin, dan pada bulan Juli kampung ini terasa lebih dingin. Dingin yang membuat malas sekedar untuk bangun apalagi menunaikan kewajiban shalat subuh. Dingin ini membuat badan menggigil. Dingin membuat semua orang malas untuk mandi pagi. Akh lebih baik menarik selimut lagi daripada harus mandi pagi. Tapi, ini tidak berlaku Kakek dan Nenekku. Aku sering memanggilnya sebutan mbah Kung dan Mba Uti. Kakek Nenekku membiasakan mandi sehabis bangun tidur. Tujuan adalah: untuk menghilangkan rasa dingin itu sendiri. Aku sering mencontohnya, tapi sering juga gagal. Gagal melawan rasa dingin saat air pegunungan itu menjalar mengaliri bagian tubuh saya. Hrrrrrrrrr…. Akh mungkin kalau sudah terbiasa pasti rasa dingin tak akan mampir lagi.

Lembayung warna

Keheningan

Setelah saya bertemu beberapa orang termasuk istri saya sendiri. Dia bilang kepada saya bahwa dia alergi dingin. Saya sampai sekarang belum bisa memahami orang-orang yang terlahir dan tumbuh besar di pegunungan bisa terkena penyakit alergi dingin. Gejalanya: Panas,Pilek dan dll. Dingin kadang memang menimbulkan keanehan. Keanehan bagi orang-orang gunung yang sekarang menjadi alergi dingin.

Kampung ini berada di lembah-begitu saya menyebutnya. Kampung ini dikelilingi bukit-bukit dan pegunungan. Barat-Timurnya adalah bukit, selatan utaranya adalah bukit bersambung Gunung Kelud yang letusannya paling tersohor itu. Di bawah bukit sebelah barat dan selatan ada Waduk Selorejo yang sering jadi tempat memancing dan camping.di Malam 28 Puasa Ramadhan ini, saya menginap di rumah mertua yang jaraknya beberapa langkah saja dari Mushalla Kampung. Selama 4 hari saya akan tinggal di kampung ini, melihat aktivitas warga kampung yang berprofesi sebagai pemerah susu ini.

IMG_8026

berteduh

berteduh

Langit pagi semakin cerah, Warna Senja bersembunyi di balik bukit. Aktivitas warga kampung ini sudah dimulai. Sebagian ada yang memerah susu, sebagian ada yang hendak pergi ke sawah di seberang waduk, sebagian lagi memancing.

Aku berjalan menyusuri jalan kampung menuju ke bibir waduk. Angin segar berhembus, sesekali aroma kotoran sapi perah yang baru keluar bercampur dengan hembusan angin lalu… itu suatu yang alami, hanya di kampung ini bisa melihat sapi perah. Jujur, baru di kampung inilah saya bisa bertemu dengan sapi perah. Selama ini saya hanya membayangkan sapi perah seperti di buku-buku SD.

Aku selalu punya kesempatan dan menyempatkan diri untuk sekedar bersantai ria di bibir waduk kalau mudik ke kampung istri. Ntah gimana, aku selalu tertarik main-main di sini. Teduh di bawah rindangnya pepohonan memandangi gagahnya gunung kelud yang sedang tidur. Di sini saya duduk santai melihat refleksi orang-orang yang lalu lintas. Yang paling membuat kesal adalah perahu motor. Saat perahu motor melintas, waduk seketika berubah. Air yang tenang menjadi kawanan ombak yang menggulung pelan menuju ke tepian.

Kampung Gading di waktu pagi

Kampung Gading, Kaumrejo di waktu pagi

Hal yang paling saya suka adalah melihat burung-burung bangau putih terbang ke sana kemari mencari ikan. paruhnya yang panjang sangat cocok untuk mencari ikan-ikan kecil yang berada di bawah air yang tenang. Burung bangau memiliki insting yang kuat sehingga bisa melihat aktivitas di bawah air. Lain bangau, lain lagi dengan si burung walet. Komunitas burung ini merupakan yang terbanyak yang sering terbang di atas waduk. Tubuhnya yang kecil membuatnya lincah dan suka bergerak. Barangkali burung walet ini lah yang paling suka terbang. Tiba-tiba dia terbang bersama para petani yang membawa hasil pertanian atau bersama para pemancing. Saat dia melihat mangsa di bawah air, seketika itu juga dia langsung mematuk untuk kemudian terbang lagi dan terbang trus.

Aktivitas pagi di waduk selorejo begitu banyak dan beragam. Banyak orang yang melintas hanya sekedar untuk sekedar melintas. ada yang mengayuh perahu kecil untuk menyeberang ke sawah miliknya di Selatan waduk. Ada yang membawa rumput, ada yang membawa jaring. Jika saat musim durian, banyak para petani yang membawa durian. Bertumpuk-tumpuk di perahu kecil yang cukup untuk satu dua orang itu. Kecamatan Ngantang memang terkenal dengan hasil duriannya. Saat musim durian datang, banyak yang datang ke Ngantang hanya sekedar untuk berburu durian.

Pelintas

Pelintas bersama burung waduk

Pelintas

Pelintas

Hari itu, termasuk dalam pelintas waduk Selorejo adalah seekor anjing yang dibawa oleh majikannya. Anjingnya berada di ujung perahu. Majikan yang mungkin profesinya tidak jauh beda dengan pelintas yang lain yaitu Penjaring Ikan. Antara Majikan dan Anjing ada sebuah jaring-jaring ikan.

Kabut pagi menjalar lembah Ngantang. Waduk-waduk pun berkabut, air waduk seperti mengeluarkan asap putih. Nafasku pun ikut berkabut. Mentari pagi masih berada di balik bukit, mengeluarkan warna merah senja yang semakin memperjelas lekuk-lekuk bukit yang mengelilingi Ngantang. Suara shalawatan keluar dari salah satu masjid Agung Baiturrahman Ngantang. Memecah kesunyian dan keheningan kampung. Kampung terasa lebih hidup

Shalaatullah, Shalamullah Alaa Tooha Rasulillah. Shalaatullah, Shalamullah.

Koperasi

Koperasi

Sapi Perah

Sapi Perah

Shalawat pagi itu menemani aktivitas di Desa Kaumrejo dan Desa Sumber Agung. Dua Desa termaju dan saling bersebelahan di kecamatan Ngantang. Shalawat itu juga memberkati salah satu rumah yang cukup sibuk. Sepagi ini, di salah satu “rumah” sudah penuh dengan orang-orang kampung yang mengantarkan susu. Susu segar yang diperah langsung oleh para peternak akan disetor ke penampungan susu. “rumah” itu adalah KUD Sumber Makmur yang berada di dusun Gading, Desa Kaumrejo. Rumah ini sebagai tempat penampungan susu sebelum dikirimkan ke Pabrik Nestle. KUD ini mendapatkan pelatihan dan pembinaan dari Nestle, Indonesia. Motto KUD ini adalah Air Susu Asli, Bersih, dan Cepat.

Asli berarti susu tidak ditambah apapun artinya susu yang akan disetorkan harus yang asli keluar dari susu sapi, Susu juga harus bersih baik Pemerah, Sapi, Kandang, dan Peralatan, dan yang ketiga adalah Cepat, susu yang sudah diperah harus langsung ditampung di bak penampungan berpendingin.

Nelayan dan seekor anjing

Sang Tuan dan seekor anjing

Dalam Bayang-bayang

Dalam Bayang-bayang

Untuk menjaga kualitas susu, KUD bersama Nestle sudah melakukan sosialisasi dengan cara menempelkan selebaran di tembok-tembok KUD antara lain: bagaimana mencuci milk can, sumber pencemaran bakteri dalam susu. selain itu, untuk membantu warga dan meningkatkan produksi susu, Nestle memberikan subsidi pemasangan tempat minum otomatis untuk para sapi.

Menyebar Jala

Menyebar Jala

Shalawat-shalawat nabi masih melantun shahdu di desa yang tenang. Masjid ini memang sering memperdengarkan shalawat kepada warganya di saat warga hendak melaksanakan aktivitas pagi. Tapi, perasaanku ada sesuatu yang lain. Shalawat seakan menandakan bahwa besok pagi akan datang idul fitri yang sangat dinanti oleh penduduk kampung. Warga sangat berharap penentuan 1 syawal itu.

Berharap tidak ada politisasi penentuan syawal 1 atau 2 diatas derajat.

 

 

Petualangan di Selat Alas

Di antara dua tenda

Di antara dua tenda

 

Hai dir, kakimu tuh hampir kena kepala Catrina, kata mbak Ifath kepada saya. saya kaget dan terbangun untuk membetulkan kembali pola tidurku. Berugak sempit berukuran 2 x 2 yang penuh sesak dengan tas-tas selempang terpaksa masih ditiduri oleh kerumunan manusia yang mengatakan dirinya Lombok Backpacker. Manusia-manusia alam yang rela berhimpitan penuh sesak dibandingkan tidur di salah satu penginapan di Gili Kondo beralaskan kasur-kasur empuk. Kami lebih memilih tidur di salah satu berugak diterpa angin laut dengan suara deburan ombak.

Pola tidur saya yang cenderung sporadis berubah menjadi “tenang”. Tenang bersama himpitan dan desakan. Saya dan kawan-kawan terbangun ketika mentari masih dalam peraduan, bersembunyi di balik pulau Sumbawa. Semburat Cahaya kuning emas menyelimuti pulau Sumbawa. beberapa orang bersuci dengan air laut yang rasanya asin. Shalat didirikan di antara tenda-tenda menghadap ke barat membelakangi semburat cahaya dengan beralaskan pasir putih yang tersamarkan.

Setelah shalat didirikan, Semua bergegas menuju ke pantai menunggu sang mentari muncul. Pantai yang biasanya nampak sepi sekarang begitu ramai oleh para penikmat petualangan yang bermalam di Gili Kondo. Merasakan ketenangan melupakan sejenak hiruk pikuk dan kepenatan. Perlahan kamera dibidikkan menangkap potongan spektrum cahaya berwarna jingga. Sebagian lain menikmati mentari terbit dengan berpose berbagai macam gaya dengan ide-ide kreatifnya. Seakan-akan tak mau semburat cahaya itu terlewatkan begitu saja tanpa ada kenangan yang berarti.

Penunggu sang mentari pagi

Penunggu sang mentari pagi

Kuning emas menyelimuti , matahari menembus cakrawala, memenuhi semesta alam. Nampak gugusan pulau Sumbawa diselimuti awan kelabu yang berbaris dari ujung ke ujung. Gugusan Pulau Mantar yang lebih dikenal dengan “Negeri di atas awan” benar-benar diselimuti awan kelabu keemasan. Gugusan pulau Kenawa pun juga diselimuti oleh awan-awan berwarna keemasan biasan dari sang mentari pagi. Dalam diam ku berharap suatu saat nanti saya ingin menginjakkan kaki ke dua pulau yang sudah tersohor di NTB itu.

Acara penungguan mentari telah usai. Pengunjung pun berhamburan kembali ke tenda masing-masing. Semua beraktivitas dengan kegiatan masing-masing. Sepagi ini, Catrina dan Nana sudah keluar membawa perlengkapan snorkeling. Mereka berdua ingin menikmati keindahan taman bawah laut Gili Kondo sepagi mungkin sebelum yang lain ikut menikmatinya. Sebagian yang lain berkumpul di depan tenda bealaskan pasir putih. Bercengkrama bersama melepaskan kepenetan pekerjaan. Bahagia itu begitu sederhana. Duduk bersimpuh di atas pasir-pasir gili Kondo itu sepotong kebahagiaan, menikmati aroma semerbak kopi dan menimum kopi hangat yang menembus lorong kerongkongan itu secuil kebahagiaan yang lain. Sajian seduhan kopi dan teh penghangat badan dengan terpaan angin laut kondo seakan memberikan kebahagiaan tersendiri. Bersama kawan-kawan sesama backpacker. Dalam hati ku berpikir alamak kapan lagi saya merasakan kebebasan ini lagi. hanya anak-anak pulau yang bisa merasakan suasana seperti ini setiap hari tanpa adanya batasan waktu seperti kami-kami para backpacker.

berbagai cara menikmati sunrise di Gili Kondo

berbagai cara menikmati sunrise di Gili Kondo

Perutku mules dan mulai melilit. Ku berlari ke ujung selatan pulau menuju penginapan yang masih coba bertahan setelah pengelolaanya diberhentikan. Dulu, pulau ini masih dikelola Perama. Sekarang perijinan tidak diperpanjang lagi. Saya memasuki komplek penginapan Perama yang sudah tak terawat itu. rasa-rasanya dari puluhan pengunjung tak ada yang menginap di sini. penginapan ini hanya terdiri satu rumah khas sasak dengan bagian bawah luar dikhususkan untuk Bar sederhana khas café barat. Bar berukuran setengah lingkaran itu tak ada pengunjung. hanya seorang penunggu hotel yang selalu setia menunggu. Seorang penunggu hotel yang sedang menyapu menunjukkan saya sebuah kamar kecil yang berada di luar hotel. Pagi ini saya tak mandi, mungkin begitu juga dengan kawan-kawanku. Saya hanya sikat pagi dengan air air asin yang membuat mulutku semakin kaku. Baru kali ini saya merasakan sikat gigi dengan air laut.

Matahari semakin meninggi, petualagan ke beberapa pulau yang direncanakan oleh rombongan masih harus menunggu pak Jefry, sang pemilik kapal. Kawan-kawanku sudah hampir semuanya nyebur mencari hamparan terumbu karang firdauzi yang disajikan oleh gili Kondo. Saya sendiri. tak tahu ntah mau kemana. Akh kenapa tidak mencoba mengelilingi pulau kecil yang luasnya beberapa hektar ini saja, pikirku. Rinjani pagi ini begitu gagahnya. Nampak sempurna kegagahannya dengan awan-awan putih yang mengitarinya.

Menyusuri pantai berfosil

Hamparan Pasir fosil di sisi barat Gili Kondo

Hamparan Pasir fosil di sisi barat Gili Kondo

Menyusuri pesisir pantai ini serasa milik pribadi. Saya tak menemukan siapa pun selama saya mengelilingi pulau ini. pasir-pasir putih dengan bentuk seperti bintang banyak dijumpai di pesisir barat pulau ini. kalangan akademisi menduga ini adalah sejenis fossil yang terbawa oleh gelombang laut hingga terhempas bersama dengan terumbu karang-terumbu karang. Pasir berbentuk bintang ini hanya banyak di jumpai di Bali dan Lombok, dan Flores. pasir bintang ini banyak dijumpai di pesisir pantai yang terumbu karangnya masih terawat dengan baik termasuk di kawasan Gili Kondo ini. Fosil ini sering disebut Baculogypsina sphaerulata dan Baculogypsinoides spinosus atau Schlumbergerella-floresiana. Akh daripada bingung coba baca terus kelanjutan dari tulisan ini.

Sebagaimana penelitian yang dilakukan Adisaputra pada tahun 1991, dalam tulisannya mengenai Pantai Benoa Bali, mengungkapkan adanya cangkang fosil Schlumbergerella floresiana yang telah diduga sebagai “pasir putih” tersebut, karena fosil ini mempunyai ukuran butir pasir dari medium sampai sangat kasar.

Di perairan ini, fosil ini berasosiasi dengan foraminifera bentos kecil lainnya seperti Amphistegina lessonii, Calcarina calcar, Tinoporus spengleri, Baculogypsina sphaerulata dan Operculina ammonoides yang kesemuanya biasa dijumpai di laut dangkal dengan kondisi laut terbuka dan air yang jernih serta sinar matahari yang cukup untuk dapat menembus ke tempat mereka hidup (Hottinger, 1983.” Dari segi ilmiah, Adisaputra telah menguraikan spesies Schlumbergerella floresiana yang banyak mendominasi  Pantai Nusa Dua, Bali. Fosil ini membentuk pantai dengan jumlah total sekitar 60 % dari total sedimen. Bentuknya hampir bundar, berwarna putih susu, dengan butiran medium sampai kasar. Besarnya bisa dibandingkan dengan mata uang yang terdapat dalam.”** 

Pasir Baculogypsina sphaerulata diambil dari http://foraminifera.eu/single.php?no=1006541&aktion=suche

Pasir Baculogypsina sphaerulata diambil dari http://foraminifera.eu/single.php?no=1006541&aktion=suche

“Pasir” yang sejenis berbentuk bintang juga banyak dijumpai di pantai Kecinan, Lombok Utara. Saya pernah menemukan pasir berbentuk bintang itu saat bercengkrama dengan para pemancing ikan yang sedang menikmati makan siang di bawah pepohonan.

Ada rasa takjub dengan gili kondo ini. tak hanya menikmati pulau ini, tapi saya bisa menemukan banyak hal-hal baru yang saya temukan. Ini merupakan salah satu aset yang sangat berharga.

Gagahnya gunung Rinjani terlihat jelas di balik hamparan pasir-pasir ber fosil. Kawanan padang lamun yang berwarna kehijauan tumbuh subur di pesisir barat pulau ini. kawanan kepiting kecil berlarian bersembunyi di balik bebatuan saat saya berjalan menyusuri pasir dan bebatuan Kondo.

Di ujung sana, pelabuhan kayangan dengan kawanan kapal-kapal yang siap berangkat menuju pulau Sumbawa. tak ada hiruk pikuk. Hanya dalam 15 menit saja, saya sudah mengelilingi ¾ pulaunya. Di ujung ¾ , ada sebuah pulau. Mungkin dulunya pulau ini masih satu pulau dengan Gili Kondo. Gili bagik namanya. Pepohonan rindang memenuhi pulau tak berpenghuni. Saya mencoba menyeberangi jalanan menuju gili bagik. Saya hanya ingin bertamu sejenak di pulau ini untuk kemudian pergi lagi sebelum air laut benar-benar pasang. Pagi ini, air laut belum begitu pasang. Setidaknya saya masih berjalan walau berbasah-basahan hingga lutut kaki.

bercengkrama di Gili Kondo sambil menyeduh kopi

bercengkrama di Gili Kondo sambil menyeduh kopi

Seorang nelayan tengah sibuk menghidupkan mesin perahunya di tengah laut. Terlihat sedari tadi, sang nelayan belum juga berhasil menghidupkan mesin perahunya. Keringat bercucuran keluar dari kulit eksotisnya. Sesekali sang nelayan mengelap keringatnya. Pulau Sumbawa yang diselimuti awan kelabu menjadi latar belakang sang nelayan. Sang mesin pun belum mau bersahabat dengan pemiliknya. Saya tak bisa berbuat apa-apa. Berlalu saja meninggalkannya menuju awal petualangan gili Kondo.

Saya telah salah menduga bahwa di pulau ini tak berpenghuni. Dalam perjalanan kepulangan saya, saya bertemu dengan beberapa petani di tengah-tengah pulau gili kondo. Saya melongoknya ke dalam pulau yang dikelilingi semak-semak dan rerumputan kering. Terlihat beberapa petani sibuk mencabuti rerumputan yang tumbuh di sela-sela ketela. Saya mendekati salah satu dari mereka. Pak Husni namanya. Saya berusaha menegur dan menyapanya. Dia langsung menawarkan ketela-ketela yang sudah dibelinya. Mau beli ?, katanya kepada saya. wah ngak pak.saya hanya ingin ngobrol-ngobrol dengan bapak aja, kataku.

Sang Nelayan yang berusaha menghidupkan mesin perahu

Sang Nelayan yang berusaha menghidupkan mesin perahu

Pak husni tinggal di tengah-tengah pulau bersama petani lainnya. tanpa listrik dan tanpa hiburan bahkan mandi pun belum tentu menggunakan air tawar. Pulau ini hanya memproduksi air asin. Air tawar harus diangkut dari pulau seberang menggunakan perahu.

Rumah Pak Husni hanyalah sebuah rumah gubuk reyotdi tengah-tengah sawah dengan berdindingkan pelepah-pelepah pohon dan beratapkan rumput-rumput kering. Cukup untuk berlindung dari rasa dingin dan panas ataupun cuaca ekstrim. Dikelilingi pematang sawah dan pasir putih berbentuk bintang dengan Gunung Rinjani tinggi menjulang menjadi wallpaper hidupnya. Sambil ngobrol pak husni sambil menggali ketela-ketela yang sudah tua. Desiran angin laut menerpa wajah pak Husni yang bermandikan keringat. Sesekali pak husni menyeka keringat yang membasahi wajah tirusnya.

Gubuk Pas Husni

Gubuk Pas Husni

Pak Husni, Petani di Gili Kondo saat menggali ketela hasil pertaniannya

Pak Husni, Petani di Gili Kondo saat menggali ketela hasil pertaniannya

Hembusan desiran angin laut menerpa perahu-perahu yang merapat di Gili Kondo. Perahu bergoyang bersama alunan ombak. Pak Jefry membawakan kami sarapan bungkus sebagai pengganjal perut kami selama dalam perjalanan nanti. Semua rombongan berangsek naik ke perahu masing-masing. Dua perahu rombongan siap melaju menembus sang laut biru menuju Gili Kapal. Hanya butuh 20 menit untuk merapat ke pulau pasir ini. pulau yang timbul tenggelam bersama air.

Saya membayangkan bagaimana suasana perairan selat alas di tahun-tahun sebelum masa kemerdekaan. Saat dimana selat alas dikuasai oleh Dai Nippon Jepang. Kapal-kapal dengan perlengkapan perang lengkap senjata pemusnah hilir mudik di selat alas hendak menerkam pihak sekutu yang siap menyerang kapan saja. Kapal jepang yang biasanya selalu hilir mudik di selat Alas itu, tiba-tiba teronggok kaku di pulau pasir tak kentara. Sang Nahkoda tak melihat bahwa pulau yang tak kentara ini begitu dangkal.

Berawal dari sejarah kapal jepang yang terdampar di pulau pasir ini sehingga pulau ini dikenal dengan sebutan Gili Kapal. Gili yang bersejarah karena berhasil membuat kapal jepang terdampar seperti paus yang terdampar di daratan.

Negeri di atas awan sumbawa

Negeri di atas awan sumbawa

Selat Alas begitu sangat strategis. Berada di antara dua pulau antara pulau Sumbawa dan Lombok. tersembunyi dari pelabuhan penyeberangan utama. Siap membidik musuh di balik persembunyian untuk melancarkan strategi penguasaan jepang melawan sekutu. Jepang memang ahli perang dengan strategi persembunyian. Tak jauh dari dari Gili Kapal, ada sebuah pulau yang dikelilingi pohon bakau. Dari kejauhan, pulau ini hanya barisan tanaman bakau berwarna hijau.

Dengan sistem kerja ala Romusha, jepang membangun benteng pertahanan di berbagai sisi pulau Lombok. Benteng-benteng pertahanan seperti Mercusuar dan Gua dibangun di pesisir tenggara Lombok yang langsung berbatasan dengan samudra Hindia dan pulau Sumbawa bagian selatan. Bekas-bekas Gua jepang dan Mercusuar masih bisa kita jumpai di daerah Tanjung Ringgit dan sekitar pantai Tangsi. Untuk memperkuat sistem pertahahan di sisi barat laut pulau Lombok yang langsung berbatasan dengan bali, jepang juga membangun sistem pertahanan di daerah Bangko-bangko, Lombok Barat.

Kembali ke Selat Alas dengan pulau yang dikelilingi hutan bakau. Hutan bakau ini diatur dengan sedemikian rupa. Untuk masuk ke dalam pulau, harus melewati barisan tanaman bakau, lorong-lorong pohon bakau yang diatur sedemikian rupa. Lorong-lorong tanaman bakau ini hanya bisa dilewati kawanan perahu yang kami tumpangi. Dulu, pulau ini hanyalah tanah kosong tak bertuan yang siap tergerus oleh dahsyatnya sang ombak. Jepang datang dengan menanam tanaman bakau mengelilingi pulau tak bertuan sebagai benteng pertahanan dengan sistem kerja paksa romusha.

Saat rombongan melintasi lorong-lorong bakau, perahu kami tersangkut oleh akar-akar bakau. Kami pun berhenti berusaha untuk mengankat kaki perahu bersama sang pengemudi. Dua rombongan perahu kami tertambat di lorong-lorong bukan karena akar-akar pohon tapi karena anak-anak kota yang merindukan permainan desa. Jadilah arena lorong bakau menjadi perhelatan loncat terindah dari atas perahu. Setiap orang yang melompat berusaha dengan loncatan terindah dengan bidikan kamera.

Brummmmm…… terdengar bunyi tubuh yang terhempas ke dalam air. begitu seterusnya bergantian. Ruben berenang dari perahu belakang menuju perahu depan. Bukan untuk menghindar dari serangan tentara sekutu tapi untuk mengikuti kontingen loncat indah di perahu depan. Lorong-lorong ini dulunya menjadi arena benteng pertahanan jepang saat melawan sekutu sekarang menjadi arena loncat indah para petualang.

Perjalanan dilanjutkan menuju lorong-lorong lain dengan formasi tananman bakau yang juga berbeda. Akh tak afdol rasanya menyusuri selat alas yang bertaburkan terumbu karang yang beraneka warna dan rupa tanpa menyicipi keindahan taman lautnya. Taman laut yang berbatasan dengan garis Wallace yang aneka terumbu karangnya serupa dengan terumbu karang di Autralia sana.

Bagi yang pinter free-diving. Berenang dengan berbagai macam gaya dan atraksi adalah salah satu satu keharusan saat berada di dalam air. beratraksi dengan terumbu karang-terumbu karang yang memanjakan mata, berenang bersama ikan-ikan beraneka rupa dan warna. Sedangkan saya hanya menjadi penikmat alam surgawi yang berada di dasar laut dengan bantuan pelampung yang selalu menempel di punggung.

Catrina dan rekan hahaha

Catrina dan rekan hahaha

Puas menikmati alam surgawi di selat alas di garis wallace, kami pun bergegas untuk menuju Gili Kondo untu berbilas dengan air tawar dengan membayar 10 ribu rupiah. Siang ini gili kondo benar-benar bersolek. Pasir putih berpadu dengan air laut yang bergradasi dari biru muda ke biru toscha. Pengunjung Gili Kondo mulai berdatangan. Mampir sejenak untuk sekedar menikmati sajian pasir putih dengan paduan warna biru toscha.

beristirahat sejenak di Cafe Perama

beristirahat sejenak di Cafe Perama

Sebelum pulang, kami pun berisitirahat sejenak melepas lelah, mandi dan shalat. Bercengkrama di dalam café yang sudah terurus. Obrolan-obrolan hangat dengan nyanyian-nyanyian merdu Tendou Souji berpadu dengan petikan gitar yang seirama. Catrina duduk bersama-sama. saya berfikir Catrina begitu kuatnya dengan sarapan biscuit dan makan siang pun biscuit. Tawaran kami berupa nasi tak diacuhkannya. Dia tak terbiasa dengan nasi. Mungkin dengan makanan ringan seperti biscuit, dia sudah merasa kenyang. Akh sedangkan saya dengan satu piring rasanya biasa saja. Catrina Tidur beralaskan batu-batu pasir di café. Sedangkan rombongan lain duduk sambil mendendangkan nyanyian kecapean. Saya mendekati Catrina karena penasaran dengan umurnya.

Mengintip Gili Kondo

Mengintip Gili Kondo

I am twenty, katanya. And you ?.

I am thirty. Dengan sedikit tidak percaya trus dia bilang

but you like twenty.

Saya hanya tersenyum ketika dibilang aku seperti umur 20an. Tak berselang berapa lama, dia melirik ke jari-jari manis yang terpasang cincin. Have u married?, katanya dengan perasaan campur aduk antara pengin tahu dan rasa heran. Ku hanya menjawab dengan anggukan kepala dan dia pun mengiyakan dengan anggukan kepala dengan perasaan heran.

 

Catatan kaki :

** http://www.mgi.esdm.go.id/content/panorama-nan-indah-sebuah-aset-wilayah-pantai-dominasi-schlumbergerella-floresiana

 

Serunya bermalam di Gili Kondo

Siap Berangkat ke Gili Kondo

Siap Berangkat ke Gili Kondo

 

Mendengar kata camping yang terekam dalam otak saya adalah proses kembalinya manusia ke habitat awal manusia yang selalu ingin hidup bebas. Hidup di alam bebas bersahabat dengan alam. Kali ini saya bersama kawan-kawan Lombok Backpacker akan camping di perbatasan antara pulau Lombok dan pulau Sumbawa yaitu di Gili Kondo. Persiapan seadanya, tenda hanya sebagian yang membawa yang lain hanya mempersiapkan diri untuk tidur beratapkan langit. Tak kurang ada 24 orang yang akan berangkat ke Gili Kondo. Satu diantaranya adalah turis asing yang berasal dari jerman.

Sepeda motor siap menempuh perjalanan selama 2.5 jam. Menjelang sore hari, seluruh rombongan sudah merapat di bibir pantai. Tak ada lapangan parkir khusus. Hanya tanah lapang dan pepohonan duri yang difungsikan sebagai parkir. Beberapa warga kampung duduk santai di berugak-berugak pantai. Mereka duduk sambil berharap penumpang-penumpang yang ingin diantar ke pulau seberang. Sedangkan rombongan kami sudah terlebih dahulu menghubungi awak kapal yang bernama Pak Jefry.

Sambil menunggu kedatangan perahu kami, kami kumpul di salah satu berugak yang terlihat baru. Suara riuh rendah anak-anak yang asik ngobrol satu dengan yang lain di salah satu berugak. Berugak ini selain berfungsi sebagai tempat duduk, juga berfungsi sebagai mushalla. Beberapa kawan Lombok Backpacker shalat bergantian di atas berugak. Tempat wudhunya berada tak jauh dari berugak kami. Airnya agak sedikit payau tapi cukup mensucikan badan kami yang kotor.

Senja di puncak Rinjani dari selat alas

Senja di puncak Rinjani dari selat alas

Tak berapa lama perahu yang kami tunggu merapat ke bibir pantai. Pak Jefry sudah menyiapkan dua perahu untuk penumpang sebanyak 24 orang. Tiap perahu bisa menampung sebanyak 12 orang. Kami siap menyeberang selat alas di sore hari. Temaram senja berada di balik awan putih kelabu. Perahu kami siap berjalan pelan menyusuri ombak yang tenang. Terlihat Gili Kondo di kejauhan sana. Senja semakin memperindah pesona rinjani. Suara riuh rendah di atas perahu bergantikan suara kamera ceklak ceklek mengabadikan Gagahnya rinjani dibalut senja. Rinjani yang bertudungkan awan kelabu tak mengurangi keelokannya. Pak Jefry duduk santai di atas perahu sambil sesekali bertelponan ria berlatarkan rinjani.

Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, perahu kami merapat ke Gili Kondo- pulau terdekat dengan Rinjani di selat Alas. Semua bergegas turun dengan tujuan masing-masing. Semuanya sibuk berfoto ria. Catrina dipanggil agar ikut foto bersama. Senja di puncak Rinjani berpendar ke sekitarnya. Senja akan segera berakhir tergantikan oleh pekatnya malam di pulau kecil nan sepi.

Beberapa rombongan lain berdatangan menginjakkan kaki di Gili Kondo. Ingin merasakan pekatnya malam, ditemani api unggun yang menyala dengan langit yang bertaburkan Bintang. Awan Gelap kelabu menyelimuti.Semua bergegegas ntah ke mana. Tenda-tenda didirikan dipinggir-pinggir pantai. sebagian berteduh di bawah berugak yang berdiri agak jauh dari pinggir pantai. Kayu-kayu bakar dikumpulkan untuk membuat api unggun yang menghangatkan badan. Menyalakan sepercik cahaya di tengah gelapnya pulau tak berpenghuni.

Temaram senja Rinjani

Temaram senja Rinjani

Adzan magrib berkumandang dari salah satu Handphone yang sudah disetel waktu adzan lima waktu. Beberapa orang bergegas untuk mendirikan shalat di pinggir pantai dengan beralaskan kain parasut yang dihamparkan di bibir pantai. Berjamaah secara bergantian. Memuji kebesaran Tuhan. Tenda-tenda berbaris rapi di pinggir pantai. Beberapa orang mengelilingi api unggun yang menyala-nyala laksana oase kegelapan. Terlihat tenda-tenda lain melakukan hal yang sama-membuat api unggun dan mengelilinginya.

Berugak yang menjadi basecamp rombongan kami dipenuhi tas-tas backpack. Dalam gelap dan sunyinya, Mas Bendot, Tendou Souji dan mas Nana melantunkan lagu-lagu dengan petikan gitar yang seirama. Bendot, Tendou Souji dan Nana ditemani oleh Catrina yang berada disampingnya. Bendot sesekali menawarkan agar Catrina menyanyikan sebuah lagu yang dikuasinya. I know the song, but I don’t know the lyric, kata Catrina. Wajah-wajah terlihat samar oleh gelapnya malam. Saya coba menghidupkan senter Hp jadul saya. Saya menyorotnya satu persatu. Bendot dan Tendou Souji bernyanyi bersama dengan petikan gitar sebagai rayuan. Mereka berdua berusaha romantis se romantisnya seolah-olah ingin menarik Catrina. Catrina lebih banyak diam dan berada di antara gerombolan cowok-cowok.

beberapa lagu bahasa inggris pernah dicoba dinyanyikan oleh Tendou Souji dan Bendot. sayang, lagu-lagu itu berakhir di tengah jalan. persis seperti radio jadul yang kehabisan baterai. akh I don’t know the lyric, kata Tendou Souji dengan bahasa inggris pas-pasan-sama seperti saya. dia sebetulnya ingin membela diri dan merasa malu karena selalu diperhatikan oleh Catrina. Mas Tendou Souji ibarat bocah ingusan yang ingin dipuji oleh Catrina- si bule Jerman. Tendou Souji dan Bendot tak patah semangat untuk menggaet hati sang pujaan hati. hahhaa…ampunnn

lagu  “You’re beautiful” karangan si bule Amerika Jame Blunt keluar dari mulut manis Tendou Souji dan Bendot.

My life is brilliant.
My love is pure.
I saw an angel.
Of that I’m sure.
She smiled at me on the subway.
She was with another man.
But I won’t lose no sleep on that,
‘Cause I’ve got a plan.

You’re beautiful. You’re beautiful.
You’re beautiful, it’s true.
I saw your face in a crowded place,
And I don’t know what to do,
‘Cause I’ll never be with you.

Mbak Catrina seakan tersihir oleh petikan Gitar dan nyanyian lagu oleh Tendou dan Bendot. saat tiba di lirik Your’re beautiful. Catrina ikut menyanyikan dengan suara lirihnya. terlihat bibirnya yang bergerak-gerak mengikuti irama lagu. Tendou dan Bendot berhasil. mereka berdua berhasil membuat Catrina sedikit bernyanyi mengikuti liriknya. Catrina mungkin merasa bahwa lagu itu ditujukan untuk dirinya “you’re beautiful, it’s true”.  Catrina bernyanyi sambil tersenyum kepada Tendou dan Bendot. bibir manisnya mengulum senyum.

barangkali ada lyric yang perlu diubah agar lagu itu sesuai kondisi Tendo dan Bendot saat ini. yaitu She smiled at me on the subway diganti menjadi She smile at me on the berugak. hahahaha

Mereka berdua akhirnya berhasil memfinish-kan lagu karya james Blunt itu dengan backsound Catrina yang terdengar lirih.

Yes, she caught my eye,
As we walked on by.
She could see from my face that I was,
Flying high. [kata ini yg udah kena sensor]
Fucking high. [versi asli yg udah diganti sama kata yg diatas]
And I don’t think that I’ll see her again,
But we shared a moment that will last ’til the end.

You’re beautiful. You’re beautiful.
You’re beautiful, it’s true.
I saw your face in a crowded place,
And I don’t know what to do,
‘Cause I’ll never be with you.

You’re beautiful. You’re beautiful.
You’re beautiful, it’s true.
There must be an angel with a smile on her face,
When she thought up that I should be with you.
But it’s time to face the truth,
I will never be with you.

Berpose di Gili Kondo

Berpose di Gili Kondo

Catrina adalah wisatawan yang berasal dari Jerman. Dia sudah sebulan tinggal di Indonesia. Dia coba menjelajahi wisata yang Indonesia. Saat tiba di Indonesia, dia hanya berjalan di Jakarta dan sekitarnya seperti Bandung dan Bogor – dua kota sejuk yang mengelilingi panasnya Jakarta. Setelah Jakarta dan sekitarnya, dia kemudian langsung berjalan-jalan di Bali. Lumayan lama Catrina tinggal di bali. Dan sekarang dia telah menjelajahi Lombok. banyak tempat wisata di Lombok yang dia jelajahi. Di Lombok dia berkenalan dengan Nana. Bilamana tujuan wisata yang ingin dia kunjungi tidak mewajibkan dia untuk menginap, maka dia akan tinggal bersama di rumah Nana, Lombok Tengah. “Ya dia menginap di rumah saya, kata mas Nana membenarkan. Catrina berlibur karena libur semesteran. dia mengambil jurusan ekonomi spesialisasi international economic and development.

Iseng-iseng saya bertanya kemana aja di Lombok. saya sudah ke Gili Trawangan, di sana saya menginap semalam kemudian Saya menginap dua malam di Gili Air, imbuhnya. Saya juga udah mengunjungi Gili Gede. dalam hati saya merasa iri karena bule asli jerman ini sudah mengunjungi Gili Gede. Sedangkan, saya belum pernah menginjakkan kaki di gili yang paling gede yang berada di wilayah Lombok Barat.

Awan Kelabu menyelimutu Gili Kondo yang berpasir putih

Awan Kelabu menyelimutu Gili Kondo yang berpasir putih

Dan malam ini, bermalam di Gili Kondo bersama rombongan Lombok Backpacker. Tidur ala backpacker. Hidup ala backpacker. Gimana ngak apa-apa tah dia tidur begini, kataku pada mas Nana. “Akh ngak apa-apa, saya sudah kasih tau ke Catrina kalau kita akan camping bersama orang-orang Lombok Backpacker, kata Nana kepada saya.

Mas Bendot terus bernyanyi menemani obrolan kami di tengah kegelapan malam, di bawah berugak dengan hembusan angin laut menerpa wajah. Awan hitam kelabu semakin gelap bersamaan dengan gelapnya malam.

Sebagian anggota Lombok Backpacker yang lain mengumpulkan kayu-kayu untuk membuat Api Unggun. Lama-lama api unggun itu semakin membesar. Api unggun laksana oase di tengah gurun gelapnya malam Gili Kondo. Rombongan Lombok Backpacker mengelilingi api unggun. Mencari kehangatan untuk melawan rasa dingin. Ikan-ikan segar siap dibakar untuk menjadi santapan malam rombongan Lombok Backpacker. Angin laut berhembus kencang. Api unggun tertiup angin, suara gemuruh parasut yang digantungkan di berugak menderu-deru.

Nayla, Camper termuda di Lombok Backpacker by Riza

Nayla, Camper termuda di Lombok Backpacker by Riza

 

Rasanya hujan seakan mau turun. Awan gelap itu mencair dan memercikkan air ke Api unggun yang bersinar terang. Awan gelap tak mampu menahan uap air yang menggelantung di atap bumi. Hujannnn, Hujannnnn teriak anggota yang lain. Ayo kita pindah ke belakang Café Perama, kata salah satu dari anggota kami. Hujan pun benar membasahi kami malam ini. Kalang kabut. Mungkin hanya kata itulah yang cocok untuk mengungkapkan kondisi kami malam ini. proses bakar-bakar ikan dihentikan untuk sementara sampai hujan mereda.

Bekas Café Perama

Rombongan kami terpecah menjadi dua, sebagian besar bergegas ke salah satu bilik Café Perama, sedangkan empat anggota backpacker lain termasuk Catrina tetap bertahan berteduh di bawah berugak yang tak jauh dari api unggun. Hujan terus mengguyur perkemahan kami malam ini,

Di Gili Kondo memang ada sebuah Cafe Perama yang sudah ditinggalkan oleh pengelolanya. Café Perama teronggok tak terurus di pinggir pantai. Setahun lalu, Café ini masih terkelola dengan baik, namun malam ini Café ini sudah tak bertuan lagi. Perama yang punya hak untuk mengelola Gili Kondo memutuskan untuk tidak meneruskan perijinan dengan pemda setempat. Café ini sudah tak terurus lagi sebagaimana tak terurusnya budidaya terumbu karang yang berada di depan café tersebut. Dan malam ini, rombongan kami akan berteduh di salah satu bilik Café yang dulunya difungsikan sebagai dapur. Kita sudah booking kamar ini untuk rombongan kita, kata salah satu teman di rombongan. Terlihat rombongan lain sudah mengisi ruang makan café di berbagai sudut. Yang membawa tenda pun ikut pindah ke sudut-sudut Café ini.

Api unggun menjelang malam

Api unggun menjelang malam

Tas-tas dan Backpack ditumpuk di sudut-sudut ruangan. Ruangan penuh sesak bersamaan dengan orang-orang berjubel di sini. Ayo buka kartunya, kata mas Yeng saat mengawal pembicaraan saat berada di bilik Café tak terurus. Mereka membentuk lingkaran dan kartu pun siap dibagikan. Lampu Senter dari Handphone dinyalakan. Disepakati bahwa mereka akan bermain Seven Up –permainan kartu yang dimulai dengan angka 7. Menurut saya yang menarik malam ini bukan permainan kartunya tapi seorang bocah yang berusia 1 tahun 3 bulan yang berada di lingkaran itu. Syahla namanya, anak dari Mbak Fairuz dan mas Ichwan Setiawan.

Bapak Ibu nya seorang backpacker sejati. Setiap bapak ibunya berpetualang Syahla selalu dibawanya. tak terkecuali saat mereka berdua naik gunung pergasingan sekitar satu bulan yang lalu. Waktu itu, saya merasa heran melihat bocah tangguh menaiki gunung pergasingan di Sembalun yang terpampang di Facebook Lombok Backpacker. Saya aja belum pernah sama sekali pun naik gunung. Akh Syahla sudah mengalahkan saya dalam hal petualangan. Dan malam ini, saya menyaksikan bocah ini camping di Gili Kondo. Duduk di pangkuan bapak ibunya secara bergantian. Menyaksikan bapak ibunya bermain kartu Seven up. Dia terdidik sebagai seorang petualang sejak kecil. terlatih untuk tidak manja dan terbiasa dengan kehidupan alam bebas. kehidupannya ditempa oleh alam. wajah lugu dan imutnya selalu menampakkan keceriaan. berteman dengan siapa saja yang ditemuinya. sejak kecil dia sudah terlatih untuk bergaul dengan siapa saja. tak jarang, Catrina juga sering senyum-senyum sendiri melihat keluguannya.

Kemonotonan. Barangkali kata itu yang cocok kondisi saya saat ini. saya termasuk golongan orang-orang yang tak tahu harus berbuat apa malam ini, sekali lagi monoton. Hujan semakin mereda. Langit di luar masih diselimuti awan kelabu. Bintang-bintang bersembunyi di balik awan dan pekatnya malam.

Mengitari api unggun mencari kehangatan

Mengitari api unggun mencari kehangatan

Bernyanyi sambil merasakan hangat api unggun yang diterpa angin malam

Bernyanyi sambil merasakan hangat api unggun yang diterpa angin malam

Saya bergegas menembus malam menuju sumber api. Melewati pasir putih samar dibalik gelapnya malam. Berjalan menghindari pohon-pohon yang tersamarkan. Bendot, Nana dan Catrina duduk mengitari api unggun yang baru dihidupkan. Lama kelamaan Api unggun semakin menyala-nyala diterpa angin malam. Hujan itu tak terlalu deras. Setidaknya api unggun masih bisa dihidupkan kembali. Ikan-ikan segar dibakar lagi. dan saat saya datang mas Nana mempersilahkan saya mencubit ikan-ikan yang sudah dibakar. Angin yang bertiup kencang tergantikan dengan semilir angin yang menenangkan.

Mungkin angin itu menyingkir setelah datangnya hujan. Kami duduk bersama api unggun yang menyala di tengah gelapnya malam. Merasakan ikan bakar tanpa bumbu kecap. Alami dan segar. Catrina pun juga ikut mencubit ikan-ikan itu. dia tak merasa canggung untuk mencubit ikan-ikan secara berbarengan. Dugaanku wanita asli jerman ini terbiasa hidup ala backpacker. Dugaanku langsung dipatahkan oleh Nana. “Akh Caterina itu kaya tapi gaya hidupnya sederhana,” kata Nana yang berusaha meyakinkan saya. Catrina adalah wanita Jerman dengan postur tinggi semampai. Rambutnya tergerai dan hidungnya mancung. Paduan celana pendek dan Tank Top selalu membalut tubuhnya. Dia hanya mengenakan bikini saat berenang tadi sore. Selesai berenang, dia membalut kain tipis di tubuhnya.

Bermain Seven Up di Bilik Cafe. terlihat Nayla bersama bapak ibunya Ikwan dan fairuz

Bermain Seven Up di Bilik Cafe. terlihat Nayla bersama bapak ibunya Ikwan dan fairuz

Catrina hidup di Jerman dengan berbagai fasilitas dan kemajuan bangsa jerman. Jerman terkenal dengan penguasaan teknologi yang sangat diakui dunia. Habibie sang bapak teknologi Indonesia, pemegang puluhan hak paten di bidang penerbangan juga karena mengenyam pendidikan ala Jerman. Jerman menjadi salah satu urat nadi habibie. Karena Habibie, hubungan Jerman dan Indonesia semakin mulus. Karena Habibie Jerman semakin kenal dengan Indonesia. Malam ini Catrina menjadi saksi pertemuan Indonesia dan Jerman. Catrina terbang ribuan kilometer menempuh perjalanan dari Jerman hingga Indonesia. Dia harus merogok kocek sebesar sepuluh juta rupiah untuk menempuh ribuan kilometer itu. Menembus batas-batas Negara. Melewati dua benua, ratusan Negara dan ribuan sungai-sungai. Menjelajahi sebagian pelosok negeri hingga akhirnya terdampar di pelosok negeri bernama Gili Kondo.

Snack Mr. P dan Catrina

Snack Mr. P dan Catrina

Tiba-tiba dia mengeluarkan snack dengan nama merek Mr P. dia menawar-nawarkan kepada kami termasuk saya. Saya dibuat tertawa olehnya melihat snack yang berjenis kelamin ini. Saya hanya tertawa tapi tak mengambil snack tawarannya. Melihat kelakukan saya yang hanya tertawa. Dia mulai kebingungan dan bertanya-tanya. Saya tak cukup berani untuk memberitahunya. Akhirnya, salah satu backpacker asli medan yang berada di dekarnya memberitahukan apa itu Mr. P. Dia hanya tersenyum dengan tersipu malu. Tak berapa lama dia sudah melupakan rasa malunya dan dia pun menganggap hal biasa. Kami pun ngobrol sambil mencubit ikan-ikan yang sudah matang.

Back Game or Backgammon

Catrina terlelap di berugak

Catrina terlelap di berugak

Malam semakin gelap. Api unggun yang kehabisan bahan bakar. Bintang-bintang bermunculan menghiasi langit. Awan kelabu hilang ditelan gelapnya malam. Rasa capek dan kantuk kadang tak bisa ditahan. Catrina pun tertidur pulas berselonjor di bawah berugak. Dalam pulasnya, Nana membangunkan Catrina. Dia pun terbangun dengan mengucek-ngucek matanya. Tak perlu berapa lama untuk sadar sesadarnya. Sebuah papan kecil keluar dari tasnya. Dia membukanya layaknya permainan catur. Papan berukuran kecil mungil. Di dalamnya ada garis-garis berdiri tegak dengan tinggi berbeda-beda. Dia bermain dengan teman serumahnya, Nana. Mungkin diantara kami, hanya Nana yang tahu permainan ini. saya hanya memperhatikan cara bermainnya. Inilah permainan Back Game or Backgammon.

Back Game dari segi namanya saja kalau diartikan ke Indonesia permainan kembali. Cara bermainnya pun sesuai dengan namanya yaitu “kembali” yaitu kembali ke pertahahanan. Saat pertama kali bermain Pion-pion diletakkan sebagian di papan kandang dan di papan tandang. Tujuan dari permainan hanya satu bagaimana prajurit pion yang ada di kandang lawan berpindah ke kandang kita. Pemenangnya ditentukan oleh seberapa banyak dan cepat prajurit-prajurit pion itu kembali ke kandang kita. Pion-pion tidak mengenal istilahnya raja dll layaknya catur. Semua sama.

Bermain BackGame

Bermain BackGame

Bagaimana cara agar pion-pion itu kembali pertahanan secepat mungkin mungkin. Bagaimana agar prajurit pion ini bisa pindah, dua buah dadu dilempar. Jadi, dadu-dadu ini lah yang jadi penentu kemenangan kita. Angka-angka dadu mulai dari satu sampai enam menjadi Penentu. Jika kita melemparkan dadu kemudian mendapatkan angka yang sama dalam dua dadu, maka itu akan mempercepat kemenangan. Misalnya jika dua dadu yang kita lemparkan muncul angka 6, maka angka itu dikalikan dua. Jadi kita bisa mendapatkan 24 kali langkah.

Simple tapi lumayan gambling. Buktinya Mas Nana selalu menelan kekalahan melawan Catrina. Catrina selalu mengambil kemenangan demi kemenangan. Permainan pun berakhir dengan Catrina sebagai Juaranya.

Bakar-bakar Ikan

Bakar-bakar Ikan

Menyantap ikan-ikan segar bersama di samping api unggun

Menyantap ikan-ikan segar bersama di samping api unggun

Kunang-kunang Laut

Malam semakin larut. Pulau ini semakin sunyi. Suara Derap langkah kaki teman-teman yang sedang menuju ke berugak. saya bergegas menuju laut yang tenang dengan gemerisik suara ombak di malam hari. Ku hanya ingin bersuci untuk menunaikan ibadah yang sempat tertunda. Kunang-kunang berwarna kebiruan berenang-berenang di air. Saya perhatikan dengan penuh keheranan. Saya mengambil air yang bercampur dengan kunang-kunang yang berwarna biru cerah dalam kegelapan malam. Kunang-kunang bercampur pasir sudah ditangan. Susahnya membedakan tekstur pasir dan kunang-kunang laut. Hanya warna cerah yang membedakannya. Baru kali ini saya menyaksikan kunang-kunang laut. Kunang-kunang ini sejenis plankton-plankton yang bercahaya, kata Indra kepada saya saat saya berusaha menanyakan jenis kunang-kunang itu.

Tenda-tenda di Gili Kondo

Tenda-tenda di Gili Kondo

Ku liat langit yang bertaburkan bintang-bintang. Ku lirik kunang-kunang yang ada dalam genggaman, ku perhatikan kunang-kunang yang berenang di dalam air. Ku tunaikan shalat dengan beralaskan pasir dengan suara gemerisik ombak berpasrah diri menghadap sang pencipta dalam keheningan malam.

Malam semakin larut, tapi permainan terus berlanjut. Kali ini berugak sudah dipenuhi oleh kawan-kawan Lombok Backpacker yang awalnya berteduh di bilik café. Sebagian tidur terlelap dan sebagian bermain kartu Seven Up. Saya, Catrina, Yeng dan Indra membentuk lingkaran. Catrina di samping kanan saya, Indra di kiri saya. Setiap pemain akan mencari sumber cahaya sehingga pemain sering memiring-miringkan kartunya. Otomatis pemain lain bisa mengetahui kartu tetangganya. Saya pun sering melirik kartu-kartu indra dan Catrina begitu juga sebaliknya. Akh kadang keseruan permainan ini muncul di pulau antah berantah yang tak berpenghuni. Saya senyum-senyum sendiri ketika kartu-kartu Indra dan Catrina terlihat.

Mejeng bersama di Gili Kondo

Mejeng bersama di Gili Kondo

bernarsis saat pertama kali menginjakkan kaki di gili Kondo

bernarsis saat pertama kali menginjakkan kaki di gili Kondo

Yang kalah adalah bertugas mengocok kartu dan siap untuk digantikan oleh pemain lain. Saat Catrina kalah, maka Nana menggantikan begitu juga ketika saya kalah, maka Catrina menggantikan posisi saya. Begitu juga dengan Yeng dan Indra. Begitu seterusnya hingga larut malam menjelang. Rasa kantuk dan capek mulai menghinggapi Catrina, dia mohon ijin untuk tidur duluan di berugak. kami berlanjut bermain, tak berapa lama rasa kantuk menghinggapi saya. Saya pun tertidur pulas di atas berugak. sejam kemudian semua pemain merasakan rasa kantuk sama. terpaksa saya dibangunkan agar berugak ini bisa ditiduri oleh delapan orang dengan masing-masing orang membawa tasnya sendiri-sendiri. begitu berjubelnya berugak ini. Kami semua tidur terlelap diterpa rasa capek dan angin malam di Gili kondo.

Meniti Jejak sejarah di Dompu

Bunga di Lapangan alun-alun kabupaten dompu berlatar kantor dan Cemara dengan cahaya sinar senja

Bunga di Lapangan alun-alun kabupaten dompu berlatar kantor dan Cemara dengan cahaya sinar senja

Dompu mempunyai daya tarik tersendiri untuk menggaet wisatawawan. Dompu merupakan salah satu kabupaten yang berada di Pulau Sumbawa – pulau yang berada di antara pulau Lombok dan pulau Flores.  Lokasi kabupaten Dompu yang tak jauh dari gunung Tambora membuat Dompu menjadi daya tarik sendiri bagi para petualang, para hiking- penikmat suasana pegunungan. Selain suasana sejuk khas pegunungan, dompu juga menawarkan pantai berpasir putih dengan lambaian ombak yang indah.

Dompu bagian utara langsung berbatasan dengan pulau Moyo yang terkenal dengan amanwana resort  atau pulau satonda – yang menawarkan pesona danau air asin yang berada di tengah-tengah pulau. Di daerah utara, anda juga bisa menikmati indahnya pesona pegunungan tambora. Kita bisa merasakan suasana sejuk khas pegunungan. Bercengkrama dan bergaul dengan penduduk di kaki gunung Tambora tersebut.

Jika di sisi utara dompu menawarkan keindahan kawasan pegunungan. Maka di kawasan selatan, dompu menawarkan keindahan pantai Lakey yang menjadi icon baru dompu. Pantai berpasir putih dengan ombak-ombak besar khas samudra Hindia telah menyedot wisatawan-wisatawan asing. Bahkan, Ombak pantai Lakey termasuk lokasi tempat berselancar termpat terbaik di dunia. sayang, kepergian saya kali ini belum bisa menyicipi keindahan Lakey yang terletak di kecamatan Hu’u itu.

Icon dompu di senja hari

Icon dompu di senja hari

Dompu tak hanya menawarkan wisata alam, Dompu juga menawarkan wisata sejarah yang masih penuh teka teki yang perlu diteliti dan digali. bagaimana Ncuhi-Ncuhi (raja-raja kecil) di Dompu kemudian bermetamorfosis dari kerajaan kecil menjadi kerajaan besar – kerajaan Dompu. Teka-teki sejarah tahun berdirinya kerajaan Dompu dikaitkan dengan letusan Gunung Tambora yaitu pada tanggal 11 April 1815. Ingat kapan Gunung Tambora meletus, maka akan ingat kapan berdirinya kerajaan Dompu atau kabupaten Dompu.

Berbagai Informasi yang saya baca bahwa ada tiga kerajaan yang berada di lereng Gunung Tambora yaitu kerajaan Pekat, Sanggar dan kerajaan Tambora. Tiga kerajaan itu lenyap bersamaan dengan meletusnya gunung Tambora. Sejak saat itu, bekas kerajaan di lereng gunung tambora tersebut masuk dalam wilayah kerajaan Dompu. Masuknya bekas wilayah tiga kerajaan tersebut juga sebagai penanda kerajaan dompu baru dan tanggal 11 april 1815 dijadikan sebagai hari lahir kabupaten Dompu.

Mada Pangga, Perbatasan Bima Dompu

Kedatangan saya ke dompu pertama kali ditempuh dari Bima ke Dompu dalam suasana kegelapan, maklum saya berangkat dari Bima menjelang jam 07.00 Wita. Kami berangkat bersama rombongan yaitu Ibu Ani, pak Muhaimin, dan pak Agus. tak seperti di Kota Bima, Dompu berada di dataran tinggi. Saat memasuki perbatasan Kabupaten Bima, Mada Pangga. Jalan-jalan yang berkelok membuat mobil berjalan lebih pelan. Dalam kegelapan, perkampungan Mada pangga itu menjadi pelita kawasan perbatasan ini. Tak lama kami melewati jalan-jalan berkelok yang sepi, sunyi. Bunyi serangga hutan yang sedang bernyanyi mengurangi kesunyian.

Kuda-kuda yang menjadi icon kota dompu

Kuda-kuda yang menjadi icon kota dompu

Pak di sini, sering terjadi perampokan, kata pak Muhaimin memecah kesunyian.  Di kawasan Mada pangga yang gelap ini bulu kuduk saya berdiri. Hati-hati kalau jalan malam menggunakan motor di daerah sini, kata pak Muhaimin menambahkan.

“Banyak yang telah menjadi korban pak terutama yang menggunakan sepeda motor”.

“Kalau ada yang minta bantuan or ada ban bocor, jangan berhenti, jalan aja terus”.

“Dulu, istri saya pernah pulang malam dari desa sini. akhirnya, semua pemuda-pemuda desa mada pangga mengawal istri sampai ke rumah”.

“saya kaget, kug pemuda sekampung mengantar istri saya ke rumah”

“Wahhh keren ya pak istrinya bapak diarak ama pemuda kampung mada pangga, kataku menyela pak Muhaimin”.

“Istri saya dianter karena mengajar di kampung itu mas”

“Di sini juga sering jadi tempat pembuangan korban loh mas, kata pak agus yang asli Lombok itu”.

“Oh ya mas, kata pak Muhaimin seakan ingin memberitahu sesuatu kepada saya”

“Apa pak,” kataku

“Kata pemuda kampung yang menganter istri saya, kalau lewat jalan berkelok di kawasan mada pangga. Tiap melewati jalan berkelok, bunyikan aja klaksonnya. Klakson itu sebagai penanda bahwa yang mengendarai sepeda motor itu termasuk penduduk mada pangga.” Kata pak Muhaimin yang asli Dompu itu.

“Di sini ada sumber mata air dan tempat pemandiannya lok pak,” kata pak agus menambahkan.

Wah perbatasan Bima dan Dompu yang penuh misteri. Belakangan, saya baru mengetahui bahwa di Mada pangga juga terdapat pabrik air kemasan “Lam-lam” yang berlokasi di Mada pangga bahkan air kemasan yang terbesar di Bima dan sebagian sudah diekspor ke Flores.

Mada pangga selain sebagai tempat yang rawan dan menyeramkan di malam hari tetapi juga menawarkan kesejukan suasana dan ketenangan khas pegunungan di siang hari. Hampir dua jam, kami menempuh perjalanan Bima Dompu. Jam 09.00 kami tiba di hotel yang akan menjadi penginapan saya selama 3 hari di Dompu. Kemudian tidur melepaskan lelah untuk beraktivitas hari selanjutnya.

Bekas Istana kerajaan Dompu yang dirubah menjadi Masjid Baiturrahman Dompu

Bekas Istana kerajaan Dompu yang dirubah menjadi Masjid Baiturrahman Dompu

Saat saya turun dari masjid Baiturrahman yang berada di depan hotel saya. Saya melihat ada sesuatu yang aneh yang berada di samping kanan masjid. Makam ini berada dalam kawasan masjid Baiturrahman. Penasaran, Saya mendekati eh ternyata ini adalah makam raja Dompu kedua terakhir Sultan Muhammad Sirajuddin. Pagar masjid yang sekaligus berfungsi sebagai makam sultan itu tertulis.

“Sultan Muhammad Sirajuddin (Manuru Kupa). Lahir di Dompu dan meninggal di Kupang pada tahun 1937. Dimakamkan kembali di Dompu 22-1-2002”

Sultan Muhammad Sirajuddin diasingkan oleh Belanda ke Kupang pada tahun 1934. Sang Sultan diasingkan karena tidak mau patuh perjanjian yang sudah dibuat Belanda. Akhirnya, sang Sultan meninggal di kupang 3 tahun setelah diasingkan ke kota Kupang, NTT. Bupati Dompu, Abu Bakar Ahmad,  yang sangat mencintai sejarah ini kemudian berkomitmen untuk memindahkan jasad sang sultan Dompu itu. Keinginan Bupati itu akhirnya terlaksana pada tahun 2002. Jasad Raja Dompu yang tinggal tulang belulang itu kemudian dikafani dan dimakamkan kembali di Dompu. Lokasi pemakaman tepat berada di samping sebuah komplek pemakaman di masjid Baiturrahman.

Makam Sultan Muhammad Sirajuddin, raja kedua terakhir yang diasingkan ke Kupang, NTT

Makam Sultan Muhammad Sirajuddin, raja kedua terakhir yang diasingkan ke Kupang, NTT

Masjid Baiturrahman ini awalnya adalah istana terakhir kerajaan dompu. Letusan gunung Tambora mengakibatkan istana kerajaan Dompu hancur. Akhirnya, istana kerajaan Dompu dipindah ke lokasi masjid jamik Baiturrahman kabupaten Dompu. sayang, bukti sejarah tentang keberadaan istana kerajaan Dompu sudah tak membekas lagi. Hanya mahkota kerajaan Dompu yang masih di simpan di musium nasional Jakarta.

Berkeliling Kota Dompu

Musholla di tengah-tengah sawah-sawah yang sudah menguning di kabupaten Dompu

Musholla di tengah-tengah sawah-sawah yang sudah menguning di kabupaten Dompu

Kota Dompu yang kecil nan mungil ini tetep menawarkan keindahan yang kotanya masih diliputi sawah-sawah yang membentang luas, bukit-bukit hijau yang mengelilingi kota Dompu. Salah satunya di wilayah lingkar utara. Sawah-sawah yang menghijau membuat saya tertarik untuk berhenti. Mengabadikannya. Sebetulnya yang membuat saya tertarik adalah musholla permanen yang berdiri di tengah-tengah sawah. mushalla yang dikelinggi padi-padi yang hendak menguning. unik sekaligus asik.

Anton sang fotografer dengan modelnya.

Anton sang fotografer dengan modelnya.

Selesai moto, saya terus melaju motor pinjeman milik Muhaimin itu. tiba di pusat keramaian kota dompu saya berhenti. Ku liat alun-alun kabupaten dompu. di luar alun-alun, terlihat beberapa tempat hangout anak Dompu.hampir semuanya anak-anak muda. saat sore tiba, maka alun-alun dan sekitarnya berubah menjadi pusat hang out satu-satunya yang ada di kabupaten dompu itu. semuanya tumplek di sini.

bertemu Klub fotographer Alpharian di lapangan kabupaten Dompu

bertemu Klub fotographer Alpharian di lapangan kabupaten Dompu

Saya melongo ke dalam alun-alun yang pagarnya agak tinggi itu. di ufuk barat terlihat mentari yang mengeluarkan cahaya senja menyinari alun-alun Dompu. Ku liat beberapa fotografer model di dalam alun alun dalam temaram senja. Kota Dompu yang bermotto “Nggahi Rawi Pahu (berarti rencanakan laksanakan niscaya hasil kau dapatkan) itu” seketika begitu romantis.

Membidik cahaya (Kiyut dan modelnya)

Membidik cahaya (Kiyut dan modelnya)

Saya mendekati beberapa fotographer yang tergabung dalam alpharian Bima Dompu. di Lokasi ini akhirnya saya berkenalan dengan beberapa fotographer dari bima dan dompu. antara lain anton, Kiyut dan Teguh. Dari mereka lah saya baru tahu bahwa di Dompu juga ada kamara bura, ubudnya dompu. sayang, sampai kepulangan saya dari Dompu. saya belum bisa menginjakkan kaki ke Kamara bura – melihat indahnya sawah-sawah di dompu. Dalam petualangan selanjutnya, saya siap menjelajahi Kota Bima yang bersejarah. menelisik lebih dalam tentang kebudayaan rimpu. dan keindahan-keindahan kota Bima yang berada di kawasan teluk Bima itu.

Follow twitter kami di @caderabdulpaker

Mengejar Sunrise Danau Kelimutu 3 Warna

Mengejar Sunrise Danau Kelimutu 3 Warna

Ende. salah satu nama kabupaten di pulau Flores, NTT. Namanya tak terlalu dikenal di jagat nusantara. tapi kabupaten ini begitu bersejarah bagi pilar Bangsa Indonesia. di Kabupaten Ende Bung Karno diasingkan. di Ende juga lah Bung Karno mendapatkan inspirasi untuk melahirkan Pancasila sebagai Dasar Negara. Penduduk Indonesia akan selalu mengingat kabupaten Ende setiap tanggal 1 Juni sebagai hari lahirnya Pancasila.

Karena Bung Karno juga lah, “Pohon Sukun” menjadi sesuatu yang sangat spesial di Taman Renungan Bung Karno. Lalu pertanyaannya adalah kenapa “Pohon Sukun” begitu spesial bagi spesial bagi lahirnya Pancasila. apa hubungannya antara Pohon Sukun, Bung Karno, dan Pancasila.

Ende tak hanya menawarkan perjalanan lahirnya Pancasila, tapi Ende juga menawarkan sejuta Pesona seperti pantai batu hijau Penggajawa dan Danau Kelimutu 3 warna. Danau Kelimutu yang selalu berganti-ganti warna. Danau Kelimutu yang menjadi pusat berkumpulnya arwah-arwah yang sudah meninggal. Pertanyaannya adalah kenapa Danau Kelimutu menjadi selalu berganti-ganti warna atau kenapa Danau Kelimutu menjadi pusat roh-roh. atau anda pengin tahu seorang Biker dunia yang menjelajahi Danau Kelimutu.

——————————————————————————————

Mengejar Mentari di Danau Kelimutu

Mengejar Mentari di Danau Kelimutu

Bintang Lodge

Itulah nama penginapan saya. Kamarnya ada 4 dan tanpa AC. Ngak pake AC karena kawasan Moni ini termasuk kawasan pegunungan kelimutu. Tempat tidurnya menggunakan kelambu. Selama berpuluh-puluh tempat penginapan, baru kali ini saya dapat tempat tidur yang berkelambu. Lain tempat tidur, lain pula bagi para tamu di hotel di kawasan Moni ini. setiap tamunya disuruh untuk mengisi data tamu seperti Nama, asal, tujuan ke sini dan lain sebagainya.

Menurut Tobias, sang pemilik hotel, tujuan pengisian data-data ini adalah untuk memonitor jumlah wisatawan dan asalnya. Biasanya secara Reguler, dinas pariwisata akan merekapitulasi wisatawan-wisatawan itu. nah sekarang waktunya dinner time. Biasanya para turis ramai datang ke moni pada bulan-bulan juni, juli dan agustus. Kebanyakan berasal dari benua Eropa. Saat itu kawasan ini seakan penuh dengan para turis. Ada pengalaman unik saat dinner yang di restoran Bintang Lodge.

Buku Tamu

Buku Tamu

Tamu hotel ini ada 6 orang. tiga orang luar negeri alias turis, tiga orang lagi rombongan saya. Tiga turis itu sudah berada di restoran saat saya mau ke  restoran. Bapak Tobias ini dibantu billyanes dalam mengelola hotel ini. Billyanes juga lah yang menawarkan saya menu-menu dinner. Desa tapi selera kota. Hampir semua menunya ini berbahasa inggris.

Tak hanya itu, Billyanes sering keceplosan ngomong inggris. Bahkan saat dia ngomong bahasa inggris, ada beberapa kata yang ngak ku ngerti. Terpaksa dah nanya apaan tuh. Eh ternyata krupuk. Baru nyadar kalau selama ini saya ngk pernah baca n denger bahasa inggrisnya krupuk. Tu kan lupa lagi pas mo nulis tulisan ini. apaa ya bahasa inggrisnya krupuk?. oh ya ma kasih buat komentarnya mas Badai yang ngasih tahu bahasa inggrisnya kerupuk = Crackers. hum..

Maklum tamu-tamu disini mayoritas turis.

Aku dan Anak Anjing “Bintang”

Billyanes dan "Bintang"

Billyanes dan “Bintang”

Sambil nunggu pesanan, tau-tau anak anjing mendekati saya. Nama anjing sama dengan nama hotelnya, bintang. Anjing semakin mendekat-dekat. Sepertinya dia memang mendekat untuk ngajak bermain. Sedangkan saya tidak mau diajak bermain. Akhirnya, saya menghindar dari anak anjing tersebut. Dari yang awalnya duduk sampai berdiri. Dari awalnya diam kemudian bergerak menghindari anak anjing itu. herannya, si bintang mengira bahwa saya ngajak bermain dengan cara berlari.

Tak ayal, akhirnya arena restoran bintang dalam sekejap menjadi taman berlari. Taman berlari bagi anak manusia dan anak anjing. Seru sih bagi yang melihatnya. Menakutkan bagi yang dikejar anjing. Saya terpaksa memutari meja makan para turis itu bahkan memutari restoran yang luasnya hanya 6 x 8 m2. Tiga kali saya memutarinya. para turis itu memandangi saya yang ketakutan dikejar anjing. Akhirnya kejar-kejaran itu terhenti karena saya keluar dari area restoran itu dan Billyanes membantu “menjinakkan” anak anjing itu.

Danau Tiwu Ata Polo (saat Mengambil Foto ini saya hampir terjatuh kedalam ini..iih ngeriii)

Danau Tiwu Ata Polo (saat Mengambil Foto ini saya hampir terjatuh kedalam ini..iih ngeriii)

setelah aksi kejar-kejaran antara anjing dan saya, suasana Restoran mulai kondusif. saya pun mulai berani duduk di dalam salah satu kursi restoran. Anak Anjing imut “bintang” terpaksa disembunyikan di luar restoran. saya pun bisa relax menunggu pesanan makananku datang. kembali ku jelaskan bahwa saya lari saat dikejar anak anjing “bintang” bukan karena saya takut pada anak anjing yang ingin “bermain” dengan saya, tapi karena saya takut sang anjing Bintang itu menjilat-jilat saya sehingga tubuh saya jadi najis tralala. soale menurut keyakinan saya membersihkan jilatan anjing perlu 7 kali cucian bro… satu dari 7 cucian itu harus dicampur dengan debu. so, ribet kan. ya mending saya lari daripada saya harus mencuci baju atau kulit saya dengan 7 kali cucian. itupun harus dicampur dengan debu lagi.. hadewh

Jacky berpose dengan Latar Danau Tiwu Ata Polo dan Danau Tiwu Nua Muri Ko’o Fai

Jacky berpose dengan Latar Danau Tiwu Ata Polo dan Danau Tiwu Nua Muri Ko’o Fai

saya melihat tiga turis itu duduk tepat di depan saya. saya tak terlalu mendengar apa yang sedang mereka obrolkan. saat saya sedang memperhatikan 3 turis itu, Billyanes mendekati saya dengan membawa nampan berisi makanan. ku liat 3 turis itu makin asyik obrolannya. sedangkan saya, langsung menyantap makanan yang sudah tersaji. saat saya menyudahi makan malam saya, turis itu meninggalkan restoran Bintang. ku duduk bersandar memperhatikan 3 turis yang meninggalkan restoran. semoga dalam pikiran para bule itu tidak ada bahwa “wisatawan lokal indonesia takut dengan anak anjing”.

Mengejar sunset di Kelimutu

Mengejar sunset di Kelimutu

Posisi dudukku tiba-tiba berubah ketika melihat sepeda yang sengaja disandarkan pada dinding restoran. ku coba mendekati sepeda itu. dari posisi bersandarnya, ku tahu bahwa sepeda ini bukan sepeda pemilik hotel atau restoran. saya pun berusaha meyakinkan pikiran saya. Mas Bilyaness ini sepeda siapa yach?, kataku pada pada pelayan yang masih seumuran aku itu. oh ini sepeda milik turis yang tadi makan di restoran ini. siapa nama pemiliknya dan darimana asal negaranya, kataku berusaha menyelidikinya. Namanya Steven berasal dari Jerman. memangnya dia naik sepeda dari mana dan mau kemana?kataku dengan nada heran. “wah saya ngak tahu mas, yang pasti dia tadi menurunkan sepedanya dari truk di depan hotel. truknya itu tujuan Ende. sepertinya turis itu, ngak kuat menempuh jalur pegunungan Maumere Ende yang begitu menyiksa sehingga dia menaikkan sepedanya ke dalam truk itu, kata Bilyaness kepada saya.” oh gitue, kataku dengan nada heran.

Mengejar Sunrise

Mengejar Sunrise

oh ya kira-kira Steven besok naik ke Danau Kelimutu juga kah?, kataku. yaaa dia mau naik ke kelimutu. saya sendiri yang mau anter dia besok pagi-pagi jam 04.00, kata bilyanes. wah kalau gituw saya besok harus bangun jam 04.00 agar bisa ketemu sunrise. sekalian, saya juga pengin ketemu sama Steven, kataku sambil berlalu meninggalkan restoran dan anjing “Bintang”.

saya pun bergegas masuk kamar agar saya bisa bangun pagi-pagi untuk menjemput sunrise di puncak kelimutu.

Danau Kelimutu Tiga Warna.

Danau Tiwu Ata Polo

Danau Tiwu Ata Polo

Tepat jam 04.00 saya sudah bangun. subuh belum tiba. akhirnya saya mandi dulu sambil menunggu waktu subuh. setelah shalat subuh, saya bergegas membangun sang sopir yang tidur di samping saya. ku menuruni tangga hotel. ku tanya kepada sang pemilik hotel “apakah turis-turis itu sudah berangkat?.” wah Bilyanes sudah berangkat mengantarkan turis menggunakan sepeda motor, kata sang pemilik kepada saya. oh gituw, wah saya pun harus buru-buru berangkat agar bisa mengejar sunrise “Danau Kelimutu”, imbuhku pada pemilik hotel.

kami bertiga berangkat menggunakan mobil. mobil yang sudah kami sewa sehari semalam. kami berjalan menembus suasana desa moni yang masih gelap. jalan-jalanan masih sepi.  saat tiba di pintu gerbang Danau Kelimutu, kami berhenti sejenak untuk membayar tiket masuk. awas kameranya jangan dibawa pada petugas jaga dan kalau penjaganya tanya bilang aja kalau tidak membawa kamera, kata sang sopir kepada saya sesaat sebelum saya membuka pintu mobil. dan saya menurutinya tanpa sepatah kata keluar dari mulutku.

Danau Tiwu Ata Bupu

Monyet Berpose di Danau Tiwu Ata Bupu

saya kemudian bergegas menuju penjaga itu. ruangan penjaga gelap. hanya satu penjaga, ku liat wajahnya dengar samar-samar kegelapan. dalam kegelapan itu ku coba menerka umurnya. mungkin umurnya sekitar 40an, batinku. perlu saya menulis buku tamu pak, kataku.oh tak perlu,kata penjaga itu pada saya. kenapa pak?. buku tamu itu khusus wisatawan luar negeri, kata penjaga pada saya. oh gitue ya pak. kemudian si penjaga itu langsung meminta bayar tiket masuk ke kawasan Danau Kelimutu.

dalam hati ku berdoa semoga penjaganya ngak nanya kamera. saya pun dag dig dug takut ditanyai tentang kamera itu. aku mulai bertanya-tanya kenapa kalau membawa kamera ke dalam kawasan kelimutu. akh ternyata sang penjaga tak menyinggung sama sekali tentang kamera HP atau kamera digital. setelah saya membayar tiket masuk, saya bergegas pergi meninggalkan sang penjaga.

danau Tiwu Ata Bupu

danau Tiwu Ata Bupu

saya pun segera mobil dan mempertanyakan tentang hal ihwal kamera itu pada sang sopir. memangnya kenapa pak kalau ketahuan membawa kamera?kataku pada si sopir. kalau ketahuan membawa kamera bisa-bisa nanti kita disuruh bayar mahal. dulu, ada yang ketahuan membawa kamera digital. akhirnya, mereka dimintai bayar mahal oleh sang penjaga itu. kata sang sopir pada saya. bahkan dulu ada yang bayar sampai bayar Rp5.000.000,00. huuuuuuuuhhhhh, kata ku dengan nada heran. masak bisa mahal gituw pak, kataku dengan perasaan tak percaya. dalam ketidakpercayaanku itu, aku tetap mempercayai sang sopir. setidaknya, saya percaya bahwa kita akan dibawa ke Danau Kelimutu bukan ke pantai. sebetulnya saya antara percaya dan tidak tentang membawa kamera ke dalam kawasan danau kelimutu itu. la masak iya membawa kamera ke dalam kawasan Danau Kelimutu harus bayar semahal itu. tapi, apakah juga iya masak si sopir itu boongin kita-kita.

Sunrise Danau Kelimutu

Sunrise Danau Kelimutu

antara ya dan tidak itu kami pun harus menembus kegelapan dengan jalan-jalan yang masih lengang dan sepi. hawa-hawa dingin khas pegunungan mulai terasa. semakin lama dinginnya makin terasa. sepi, sunyi.

tiba-tiba mobil kami berjalan semakin pelan-pelan. saya tidak tau kenapa?. Driver sekaligus merangkap guide itu hendak mengatakan sesuatu. “di sini ada batu keramat, kalau melewati batu itu kita harus pelan-pelan”, katanya. “Batu itu bertugas sebagai penjaga danau Kelimutu ini, kita dilarang menduduki batu itu”, imbuhnya. kami hanya diam, memperhatikan kata demi kata sang guide itu. bulu kuduk ku mulai merinding tak terkecuali Bu Yohana.

Sunrise dilihat dari  Puncak Danau Kelimutu

Sunrise dilihat dari Puncak Danau Kelimutu

bukannya saya ngak mau tau tentang hal mistis ini. tapi suasana yang masih pagi buta dan sepi itu yang membuat bulu kudukku berdiri. saya pun berusaha untuk melupakan hal-hal mistis itu. mobil pun melaju semakin cepat seperti sebelum ketemu batu bertuah itu. hawa dingin mulai merasuk ke sela-sela baju kemudian menembus kulit. makin lama makin dingin. saat itu lokasi Danau kelimutu juga semakin dekat.

mobil kami pun memasuki area parkir yang lebar itu. tak ada mobil kecuali mobil rombongan kami. saya melihat beberapa motor yang terparkir. setelah menempuh 30 menit, akhirnya kami tiba di Lokasi Danau ini. saya dan jaky berjalan paling depan. Begitu semangat untuk mengejar sunrise Danau Kelimutu.

Mengejar Mentari Pagi

Mengejar Mentari Danau Kelimutu

Mengejar Mentari Danau Kelimutu

Kadang tak perduli lagi itu jalur umum atau jalur sulit. Jalur sulit itu dikira jalan menuju Danau Kelimutu. Termasuk saya, yang ada dalam pikiran saya saat itu adalah bahwa danau kelimutu berada di gunung. Otomatis, untuk menuju danaunya pun susah dan menanjak. Saat pemandu memberi tahu bahwa jalan ini bisa menuju Danau kelimutu. Saya dan jaky langsung bersemangat untuk menaikin “jalan” yang tak biasa itu.

Setelah bersusah payah naik.nampak juga danau yang berukuran besar seperti kubang raksasa yang sanggup menelan siapa saja yang terpeleset. Saking takjubnya, saya langsung berkeliling di pinggiran danau itu. saking takjubnya, saya pun lupa bahwa nyawa saya bisa terancam oleh ganasnya danau yang berwarna hijau pekat ini.

salah satu Warna Danau Kelimutu di saat pagi

salah satu Warna Danau Kelimutu di saat pagi

tiba-tiba kaki saya serasa disedot danau ini. kepala saya terasa seperti memutar memandanginya. Mata saya seakan tak mampu melihat keindahan alam secara rasional. Keseimbangan mulai tidak stabil. Tak terasa kaki mundur beberapa langkah. Saya langsung membayangkan saya terpeleset sedikit saja. Danau ini mampu menyedot dengan sekali sedotan.

Saya ibaratkan Danau kelimutu itu seperti sebuah dua baskom raksasa. Bayangkan kita berdiri di pinggiran baskom-baskom. Ibu Yoh neriakin kami agar cepet turun. Dir, Jaky, Ayo cepetan Turun. kami diteriakin ibarat anak nakal yang telah melanggar petuah agama.

Sang Mentari Pagi di Danau Kelimutu

Sang Mentari Pagi di Danau Kelimutu

Saya dan jaky langsung meneriakkan bareng-bareng “ya turun, sebentar lagi”. kemudian pun segera bergegas turun. kami melihat ada seorang setengah baya yang berdiri di samping Bu Johana. ku tak tahu siapa dia. “ngapain kalian susah-susah naik ke atas sana”, kalau hanya mo liat, tuh disana ada jalannya”, kata orang setengah baya itu kepada kami berdua.

saya seperti merasa ditampar habis-habisan mendengar bahwa ada jalur umum dan gampang untuk melihat danau kelimutu. alamakkkk. macem mana puula awak ini (dengan logat medan). ngapain td kita susah-susah naik sini, dah gitu hampir kecelakaan lagi (pikirku dalam hati). biar saya ngak galau saya langsung mikir sisi positifnya “kan lumayan, walau susah kita jadi dapat sunrise”. sunrise dengan gaya foto miring.

Saat Danau Kelimutu menjadi pusat arwah-arwah

Tangga Tahap 1 Menuju Puncak Danau Kelimutu

Tangga Tahap 1 Menuju Puncak Danau Kelimutu

sambil berjalan pelan-pelan, bapak setengah baya itu menjelaskan tentang nama-nama Danau Kelimutu beserta penjelasannya. Danau-Danau sangat erat kaitannya dengan kepercayaan masyarakat sekitar, kata bapak itu kepada kami bertiga. kalau Danau yang mas naikin tadi itu namanya Danau Tiwu Ata Polo. apa pak namanya kurang jelas, kataku pada bapak itu. kemudian, bapak itu menjelaskan lagi dengan mengeja. Tiwuuuu Ataaaaaaaaaaa Polo. wah apaan tuh pak artinya pak, kataku. Danau Tiwu Ata Polo ini tempat bersemayam arwah-arwah yang selama hidupnya banyak melakukan kejahatan.

wah berarti kalau orang-orang jahat arwahnya tinggal disini dunk pak. saya pun langsung mikir, “wah jangan-jangan saya hampir jatuh ditarik arwah orang-orang jahat itu”. Kalau Danau yang kedua namanya Danau Tiwu Nua Muri Ko’o Fai. lagi lagi saya meminta mengulangi nama-nama itu. alhamdulillah sih bapaknya cukup sabar meladeni pertanyaan saya. Danau yang kedua ini tempat berkumpulnya arwah pemuda-pemudi. jadi, kalau ada anak muda yang meninggal, rohnya berkumpul di danau Tiwu Nua Muri Ko’o Fai ini.

Tangga Tahap II Menuju Puncak Danau Kelimutu

Tangga Tahap II Menuju Puncak Danau Kelimutu

laaa trus kalau yang danau ketiga apa dunk pak, kata ku bersemangat ingin  segera tahu danau yang ketiga ini. nah kalau danau yang ketiga namanya danau Tiwu Ata Bupu. Danau ini menjadi tempat berkumpulnya arwah orang-orang tua. jadi, kakek nenek kita bersemayam di Danau yang ketiga ini.

saya ibarat kucing ketemu ikan, seneng, takjub. campur aduk dah dengan semua keajaiban alam ini. keajaiban sang pencipta. keajaiban bisa ketemu bapak yang menjelaskan semua tentang Danau Kelimutu 3 warna ini. mungkin, bapak ini lebih cocok sebagai penunggu Danau Kelimutu. kalau di Jogjakarta ada mbah marijan, maka di Ende ada, ada bapak ini yang belum ku ketahui namanya ampe sekarang.

Puncak di Danau Kelimutu 3 warna. dari Puncak ini kita bisa melihat 3 Danau Kelimutu

Puncak di Danau Kelimutu 3 warna. dari Puncak ini kita bisa melihat 3 Danau Kelimutu

Pak katanya air danau di sini berganti-ganti warnanya pak?kataku pada bapak penunggu. yaaaa mas, warnanya berganti-ganti. dua hari yang lalu, Danau Tiwu Ata Polo berwarna merah. wah padahal saya tadi liat warnanya hijau lumut gitu pak, kataku penasaran dengan kejadian ini. Mas, kalau melihat Danau Kelimutu dari sini saja, kata bapak itu. wahhh bagus ya jalannnya, tak perlu susah-susah. naik jumpalitan segala. wah obrolan kami terhenti karena saya harus melihat dua danau kelimutu ini. sedangkan bapak penunggu itu, terus berjalan menuju puncak gunung. sampai ketemu di puncak, kata bapak penunggu sambil melambaikan tangannya kepada kami bertiga.

Jacky Berpose

Jacky Berpose

saat hendak mau ke anjungan Gunung Kelimutu, ada info penting tentang kedua danau yang akan kami liat. salah satunya adalah tentang luas dan kedalaman danau. Danau Tiwu Ata Polo misalnya memeliki luas 4 ha dengan kedalaman 64 m. sedangkan Danau Tiwu Nua Muri Ko’o Fai memeliki luas 5,5 ha dengan kedalaman 127 m. kemudian kami pun buru-buru berjalan menuju anjungan Danau Kelimutu.

tak sanggup berkata-kata, hanya ketakjuban yang kami sadari. dua danau ini benar-benar ajibbb… mantab… takjub… hebat.. hebat yang menciptakan semua ini. duh danau inilah yang saya inginkan beberapa tahun lalu. akhirnya saya bisa menyaksikan ini. semburat cahaya pagi muncul di ufuk timur. cahaya itu hendak menerjang kekokohan batu-batu yang mengelililngi dua danau ini. Dua danau ini dipisah oleh batu-batu tipis. hanya ketakjuban yang kami rasakan.

Danau Tiwu Ata Bupu

Danau Tiwu Ata Bupu

rasa penasaran terhadap kedalaman sekaligus keangkeran danau-danau kelimutu ini membuat saya dan Jacky mengambil beberapa batu untuk kemudian dilemparkan ke dalam danau kelimutu ini. secepat kilat batu-batu itu ditelan roh-roh jahat. sebelum batu-batu jatuh ke permukaan air, batu-batu sudah hilang dari pengliatan kami berdua. mungkinkan roh-roh itu lah yang menelannya, pikirku. ataukah kedalaman danaunya yang menelan batu-batu itu.

kami bertiga langsung ingin segera menyusul ke puncak gunung itu. saya yang terdepan, Jacky yang kedua, bu Yoh jauh tertinggal. begini lah jalan blingsatan. pokoknya yang penting sampai puncak. tak perduli lagi pada ibu-ibu. seharusnya Jacky nungguin ibunya. eh malah dia ngikutin saya yang berjalan setengah berlari. maklum saya harus, ngejar sunrise dari puncak itu. melihat danau di waktu sunrise.

After Sunrise dari Puncak Kelimutu

After Sunrise dari Puncak Kelimutu

kami harus menaklukkan anak tangga yang ratusan jumlahnya. tak tau berapa ratus. hanya ratusan. anak tangga ini terbagi dua. anak tangga tanpa pegangan dan anak dengan pegangan. ku ingin menaklukkan puncak kelimutu dengan berlari, Jacky pun juga gitue berlari di belakangku. Bu Yoh, agak jauh di belakang sana. heiiii, kadir, Jacky jangan cepat-cepat. ya beginilah jalan-jalan dengan ibu-ibu. harus sabar. dasar sayanya yang koplak, saya terus aja berjalan, sedangkan Jacky mulai memperlambat jalannya untuk menunggu bunda-nya.

saat hendak puncak, saya pun berhenti menunggu mereka berdua. menunggu sambil motret sunrise di Danau Kelimutu. setelah berkumpul, kami pun berangkat lagi. ayo cepetan, sudah mau nyampe puncak ni, kataku. sudah tau ibu-ibu masih aja diajak liat danau di gunung, kataku dalam hati.

Gunung kellimutu dari Kejauhan

Gunung kellimutu dari Kejauhan

ku liat puncak itu. beberapa orang sudah mengitarinya. mereka semua tak mau melepas sedetikpun untuk mengabadikan sunrise di Danau Kelimutu ini. nafasku mulai tersengal-sengal, mulut pun mulai mengering, kakiku sudah mulai gempor. ku ingin taklukkan Danau Kelimutu. kakiku yang gempor dan nafasku yang ngos-ngosan tergantikan oleh indahnya danau kelimutu 3 warna. dari puncak inilah, kita bisa melihat ke 3 danau kelimutu secara sempurna. horeeeeeeeeeeeeeeeeeeee….. inilah puncak danau kelimutu. seketika itu juga aku langsung update status di Facebook.

hampir semua penikmat sunrise ini adalah turis asing. tak ada wisatawan domestik kecuali kami bertiga dan bapak penunggu. saya pun tak kehilangan momen indah. SUNRISE DI PUNCAK KELIMUTU. Benar-benar indah dan ajib pemandanganya.. pegunungan-pegunungan yang hampir sejajar dengan Danau Kelimutu terpampang di depan saya. ku liat dua turis  menuruni lembah. mungkin melihat danau kelimutu dari angle yang lain. dan masih banyak aktivitas wisatawan untuk mengabadikan moment sunrise termasuk saya berhasil motret turis yang lagi motret dengan latar belakang Danau Kelimutu.

Kelimutu after the break

Kelimutu after the break

saya sedang mencari seorang turis di antara beberapa turis itu. turis yang  membuat saya terheran-heran. heran karena turis inilah hendak mengelilingi dunis dengan bersepeda. turis yang ku temui di Restoran Bilyanes tadi malam. di manakah dia sekarang. ku tahu dari pemilik restoran bahwa dia sudah berada di sini. ku liat turis yang menghadap ke Danau itu. ku coba mendekatinya.

Bertemu dengan Steven Billboy “sang Biker Dunia”

Saya dan Steven Billboy di Puncak Kelimutu

Saya dan Steven Billboy di Puncak Kelimutu

ku coba untuk menyapa dan memulai pembicaraan. Steven Billboy nama lengkapnya. berasal dari Jerman, Negaranya Hitler sang diktator. saya mendengar bahwa anda seorang biker, apakah anda ke Puncak Danau Kelimutu ini dengan bersepeda, kataku. “wah ngak, saya ke sini minta anter ke petugas Hotel, katanya. Maaf sejak kapan anda bersepeda dan sudah melewati Negara mana saja, kataku berusaha menggali informasi lebih jauh. saya sudah bersepeda sejak bulan juni tahun 2011, bersepeda dari Jerman, Eropa, Mediterania, Australia, Indonesia. dan now  I am in three colours Kelimutu Lake. wahhhhhhh… its amazing, Keren sekali anda bisa menaklukkan berbagai 3 benua, berbagai Negara hanya dengan bersepeda. sekali lagi dengan bersepeda, kata ku. dia hanya tersenyum mendengar kataku.

Mari Bergaya dulu

Mari Bergaya dulu

Then, di Indonesia sudah kemana aja mas Steven?, kataku. saya berangkat dari Autralia ke Papua Nugini, Timor Leste  then jalan darat ke Kupang, dari Kupang langsung terbang ke Maumere. Kemudian,saya bermalam di Maumere, Kata Steven. oh begitu, trus apa yang anda bisa liat-liat di Maumere saat malam hari, kataku ingin menelisiknya lebih jauh. “you have to visit Maria Statue, you can see Maumere City  from the hill. it’s wonderfull. Besok, jika kamu sempet ke Maumere, sebaiknya main ke patung Bunda Maria saat malam hari. anda akan menyaksikan Kota Maumere dari Puncak.” kata Steven berusaha meyakinkan saya.

kemudian Steven menceritakan perjalanannya dari Maumere ke Ende yang terpaksa harus digotong oleh truk. Saya hanya mampu menempuh separuhnya perjalanan dari Maumere ke Ende. separuhnya terpaksa saya digotong menggunakan truk pengangkut barang. saya membenarkan apa yang dia ceritakan bahwa dia tak sanggup menaklukkan jalur berat Maumere Ende. saya mendengar secara langsung dari petugas hotel tempat kami menginap.

Dua Danau Kelimutu

Dua Danau Kelimutu (Danau Tiwu Ata Polo dan Danau Tiwu Nua Muri Ko’o Fai)

Dasar Bule Gila. benar-benar gila. masak medan pegunungan dan berkelok-kelok dari Maumere ke Ende ditempuh dengan sepeda. hanya orang gila yang bisa menempuh jalanan  seperti itu.

saya tahu untuk perjalanan jauh dalam waktu yang lama. sangat-sangat membutuhkan dana yang cukup. saya pun iseng nanya tentang pekerjaan, rumah dan istri. eh si Steven malah tertawa. dia mengira pertanyaan saya adalah pertanyaan terlucu sepanjang perjalanannya. “saya ini tak ada punya pekerjaan, tak ada rumah dan juga tak ada istri, saya hanya jalan-jalan keliling dunia”. aku mulai bengong dibuatnya. maklum, saya waktu itu belum kenal dengan yang namanya jalan ala backpacker atau hidup ala backpacker yang bisa jalan sambil kerja atau kerja sambil jalan-jalan.

Kelimutu saat berubah Warna (foto ini diambil oleh kawan saya, Yanto pada tanggal 13-9-2013)

Kelimutu saat berubah Warna (foto ini diambil oleh kawan saya, Yanto pada tanggal 13-9-2013)

saya pun berusaha melisiknya dari mana uang untuk jalan-jalannya. dia dengan gayanya tetap ngak mau membuka apa sebetulnya pekerjaan dan dari mana dana jalannya. “Mungkin kamu berasal dari Orang tua yang kaya raya sehingga kamu bisa jalan-jalan semaunya?” kataku berusaha menelisiknya. Steven hanya menjawab dengan gelengan kepala. saya pun memakluminya. biarlah, saya tak mau membujuknya lagi. setelah beberapa lama, saat saya menuliskan cerita ini, toh saya banyak menemui wisatawan-wisatawan yang pekerjaannya memang fleksibel seperti Currency Trader (like Alex Sloven, dari Slovenia), Travel Writer or Programmer (Dina dan Ryan, DuaRansel), atau lainnya.

Kamu sudah menikah, kata Steven kepada saya. “ya saya sudah menikah”. huhhh kamu sudah menikah, kata Steven dengan nada keheranan. dalam keheranannya dia memperhatikan saya yang tepat berada di depannya. mungkin dia heran karena perawakan saya yang tak terlalu besar, tubuh ramping dan kecil. sedangkan, dia yang umurnya 30an lebih saja belum menikah. dia pun tersenyum melihat saya. tersenyum keheranan. “memang umurmu berapa?”. umur saya sekitar 28 tahun, kata saya. dia pun hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanpa sepatah kata pun yang keluar.

Siklus Perubahan Warna pada Danau Tiwu Ata Polo

Siklus Perubahan Warna pada Danau Tiwu Ata Polo

Anda mau melanjutkan perjalanan ke mana lagi sehabis dari Danau Kelimutu ini, kataku kepada Steven. “sehabis ini, saya mau melanjutkan ke Labuhan Bajo, Lombok, Bali, Java, Sumatra, then Singapura and Malaysia”. kamu mau menempuhnya dengan bersepeda, are you sure, kataku. “yaa, saya akan menempuhnya dengan bersepeda”. wauuuu keren, kataku sambil menggangguk-anggukan kepala dengan mimik wajah penuh keheranan. percakapan kami akhirnya ditutup dengan foto-foto dulu bersama Steven Billboy, sang biker. dia pun turun dari Puncak Danau Kelimutu 3 warna. Melanjutkan perjalanan dengan bersepeda. satu kata untuk Steven “Victory”. Kalau ngaku jago bersepeda atau hobi bersepeda. kalahkan Steven Billboy.

sejarah Terbentuk Danau Kelimutu

sejarah Terbentuk Danau Kelimutu

makin lama makin hilang wujud Steven. tiba-tiba saya teringat belum minta alamat email or Facebook. setidaknya saya pengin tahu lokasi dia saat dia. apakah sudah meninggalkan Indonesia menuju negara lain atau masih di sekitar indonesia. saat saya menyelesaikan tulisan ini, saya menghubungi pihak hotel dimana Steven nginap. sayang seribu sayang sang pemilik hotel juga tak punya CPnya. ya sudah saya berharap aja dia suatu saat muncul di media-media sebagai orang yang pertama kali di dunia yang telah menaklukkan dunia dengan bersepeda.

Tahun Aktivitas Gunung Kelimutu

Tahun Aktivitas Gunung Kelimutu

Perut mulai keroncongan, kerongkongan mulai terasa kering. suasana puncak danau kelimutu yang berhawa dingin sangat cocok dengan makanan-makanan dan minuman hangat. Sambil bersedekap menggunakan jaket saya mendekati penjual makanan dan minuman yang tak lain adalah bapak yang saya temui pagi-pagi buta. Penjual makanan sekaligus Penunggu Danau Kelimutu. saya langsung menyeruput kopi hitam dan pop mie yang masih hangat. enaknya…. menyeruput kopi di puncak Danau Kelimutu.

ku hanya bersyukur atas maha karya Tuhan bernama “Danau Kelimutu 3 Warna”. inilah keajaiban yang ada di Kabupaten Ende. Kabupaten yang pernah menjadi tempat Bung Karno diasingkan. Kabupaten Ende juga lah yang menjadi perenungan Bung Karno dalam melahirkan 5 butir Pancasila.

Kita Menuju ke

Kita Menuju ke

Setelah menghabiskan segelas kopi hangat, kami pun siap-siap pulang turun meninggalkan Keajaiban Tuhan itu. saya menggunakan kata Keajaiban terhadap 3 Danau ini, karena memang danau  ini begitu ajaib. adakah penelitian yang menjelaskan kenapa Danau ini bisa memiliki 3 warna, kenapa warnanya bisa berubah-rubah secara periodik?. Ataukah saya yang belum tahu bahwa penelitiannya sudah dilakukan tetapi jurnal penelitiannya belum keluar. bahkan, Kompas juga telah melakukan penelitian terhadap Danau Kelimutu ini. hal ini seperti yang diutarakan oleh Penunggu Danau Kelimutu itu.

Menuruni Tangga sambil menghitung jumlah tangga tapi ngak pernah bisa (4 kali nyoba

Menuruni Tangga sambil menghitung jumlah tangga tapi ngak pernah bisa (4 kali nyoba)

Perubahan warna terhadap danau-danau yang ada di kelimutu ini disebabkan oleh perubahan komposisi mineral yang ada di dalam danau itu sendiri, kata penunggu itu kepada saya. tapi saya merasa belum terjelaskan mineral-mineral apa saja yang menyebabkan perubahan warna terhadap danau-danau kelimutu itu. semoga suatu saat bisa tahu penyebab perubahan warna secara pasti setidaknya agar masyarakat kelimutu terjelaskan dengan semuanya.

Terima kasih saya kepada penunggu Danau Kelimutu yang menjelaskan sejarah kelimutu mulai tentang aura keangkeran Danau Kelimutu dan segala hal yang berbau kelimutu. cau… Trips to Maumere.

—————————————————–

Ikuti Perjalanan kami yang lain di Ende saat menggunjungi Pantai Penggajawa, Pantai dengan batu-batuan Hijau di

https://caderabdul.wordpress.com/2013/09/15/pesona-pantai-penggajawa-dengan-batu-hijaunya/

atau mau tahu Bagaimana Bung Karno menemukan Inspirasi 5 Dasar Pancasila dalam pohon Sukun sila ke

https://caderabdul.wordpress.com/2013/09/15/bung-karno-dan-pohon-sukun/

atau mau tahu tentang Perjalanan saya dari Ende ke Danau Kelimutu dimana anda bisa melihat bentuk sawah-sawah yang unik, pemandian air panas Detusuko, atau mau melihat Air Terjun Murondau. sila klik dibawah ini.

https://caderabdul.wordpress.com/2013/09/17/perjalanan-menuju-kawasan-wisata-moni-ende/

dan jangan lupa follow twitter kami @caderabdulpaker

Berburu Sunset di Teddys’ Beach

Berburu Sunset dan burung-burung berjemur di Teddys’ Beach 

Sang Pemancing di Pantai Teddys

Sang Pemancing di Pantai Teddys

Hatiku bimbang namun tetap pikirkanmu

selaluuuu selalu dalam hatiku

ku melangkah sejauh apapun itu

sekalu kau di didalam hatiku

oohaahhaaaaaa haaaaaaaa

ku berjalan berjalan memutar waktu

berharap temukan sisa hatimu

mengerti lagu ingin engkau begitu

mengerti kau di dalam di dalam hatiku

tak bisa kah kau menungguku.

berdiri di bawah Rembulan

berdiri di bawah Rembulan

Sepenggal Lagu dari Peterpan ini mungkin sangat cocok boat gambarin kegalauan saya di sore hari waktu masih tinggal di kupang, NTT. tak ada “teman” ataupun gebetan. Masih laku loh dir?. begitu ejekan mas beki ataupun teman-teman saya saat itu. Namun sekarang saya sudah laku beneran plus mendapatkan anugerah istri cantik. baik hati plus rajin menabung.preeet Alhamdulillah. hehe.. beneran loh ya itu istriku baek banget.

dalam genggaman sang batu

dalam genggaman sang batu

nah waktu itu sehabis pulang kerja. tak ada kegiatan. tak agenda. demi ngilangin kesepian dan kegalauanku itu, ku gencet  pencet tooth HP jadulku itu. Leo, ayo kita memburu Sunset di Teddys Beach?. di ujung telepon itu terdengar dengan nada sumringah. Ayo, katanya semangat.

Sang Rembulan

Sang Rembulan

Ditunggu-tunggu tuh yang namanya Leo malah-malah ngak nongol-nongol. 5 menit 10 menit pun dah lewat tak kunjung datang. masak harus lebih lama galaunya hehe. Yaa sebentar lagi, 5 menit lagi, katanya di ujung telepon.

akhirnya dia nongol juga. kami pun langsung tancap gas ke pantai Teddys “Teddys Beach”. tak perlu waktu lama untuk nyampe di pantai yang menjadi salah satu favorit warga kupang yang ingin kongkow-kongkow.

Sunyi, Senyap, tak ada riyak.hanya sajian ketenangan dan keheningan.

Sunyi, Senyap, tak ada riyak.hanya sajian ketenangan dan keheningan.

pantai yang berlokasi di Kupang Bawah alias “Kota Lama” Kota Kupang. di Teddys juga lah pusat terminal Angkot Kupang yang terkenal urakan dan cadas itu. tak hanya itu, Teddys Beach jua memiliki Teddys’ Bar

selain bisa nikmatin sunset di pantai Teddys, di sini kita bisa menyantabbb jagung bakar “PULUT”. jagung Pulut ini enak sekali, lebih nikmat dan lebih manis dari jagung manis. Rebusan jagung pulut juga tak kalah nikmatnya, bahkan lebih nikmat dari jagung bakarnya.

Romantisnya kelakukan dua pemancing ini. semoga tidak ada kelanjutannnya aja hehe

Romantisnya kelakukan dua pemancing ini. semoga tidak ada kelanjutannnya aja hehe

di Sore hari, Pantai Teddys benar2 tumpah ruah ma para pengunjung dan Pedagang Kaki Lima Dua (PKD). ada yang bawa keluarganya, ada yang bawa pacarnya atau gebetan. nah celakanya, sering orang-orang yang berpacaran tak peduli tempat. eh pas sunsetnya lagi bagus, mereka pun ngambil momentum yang pas untuk romantis picisan haha.

Si Leo lihat moment yang seperti seakan tak ingin menyia-nyiakan. dia langsung membidik mengarahkan kameranya ke cewek cowok itu dengan latar sunset Pantai Teddys. kameranya Leo memang mendukung untuk membidik dari jauh. beda dengan punya saya yang hanya bisa membidik jarak dekat. beberapa kali ku liat Leo selalu mengarahkan bidikannya ke sasaran yang tepat. anjriittt Leo.

Sunset Teddys Beach

Sunset Teddys Beach

sedangkan saya lebih ingin membidik suasana sunset yang indah di ufuk barat itu. pantai Teddys memang benar-benar menawarkan sunset yang ajib bener. tak terasa hilanglah semua galauku dibawa angin Teddys ke samudra luas kehidupan. aaalah mulai ngak jelas haha… ya ngak apa-apa biar sedikit puitis romantis gitu.., ku coba membidik lebih fokus lagi. ku liat beberapa yang berada di atas batu yang agak menjorok ke laut. mereka memancing, pikirku.. keren dah kawan. makin sempurna suasana sunset di Pantai Teddys ini.

After Sunset Teddys

After Sunset Teddys

Pantai Teddys ini merupakan bekas pelabuhan jaman dulu sebelum pelabuhan dipindahkan ke Pelabuhan Tenau. di Tengah-tengah laut Pantai Teddys, ada besi bekas-bekas pelabuhan. besi-besi itu masih kokoh tapi wajahnya udah bopel-bopel karatan.

saat suasana makin malam, pantai Teddys masih bertahan kemeriahannya. beberapa penjual masih sibuk meladeni para penikmat kuliner. itu terlihat dari pancaran lampu-lampu penjualnya.

Suasana Malam Pantai Teddys

Suasana Malam Pantai Teddys

Burung-Burung Berjemur alias Sunbathing

Sunbathing-Birds in Teddys Beach

Sunbathing-Birds in Teddys Beach

tak hanya turis yang suka Sunbathing. burung-burung di Pantai Teddys pun juga suka melakukan sunbathing. atau jangan-jangan, burung-burung di Teddys juga merupakan Burung Luar Negeri sehingga sama-sama suka berjemur. hehe. bisa aj kan?. kan bisa aja dia terbang dari Benua Australia, #setengah memaksakan pendapat. dasar caderabdulpacker ngak mau ngalah

saya melihat burung-burung yang berjemur di atas besi-besi tua bekas pelabuhan. mereka berbaris rapi di atas besi-besi tua itu. kerennn edan banget ne burung bisa baris rapi satu per satu di atas tiang besi. gila kalian. besi tua itu hampir semuanya penuh oleh burung-burung berjemur. saya melihat kejadian ini saat melakukan jogging pagi di hari Minggu. saya coba rehat sejenak eh malah nemu burung-burung berjemur.

ayo berbaris yang rapi

ayo berbaris yang rapi

saya pun tak mau menyia-nyiakan moment ini. saya langsung balik arah pulang lagi. secepat kilat. eh mana ada lari secepat kilat. maksudnya buru-buru saya lari ngambil kamera trus langsung ke TKP pake sepeda motor butut saya.

Sunbathing-Birds dengan latar Pulau Kera

Sunbathing-Birds dengan latar Pulau Kera

Alhamdulillah. tuh burung bener-bener berjemur. ngak ada yang lari ataupun terbang untuk cari maem dulu.. full Sunbathing. saya tungguin tuh burung ampe siang. mereka sama sekali tak beranjak untuk terbang cari makan. mereka hanya terbang ke tiang-tiang besi yang lain. benar-benar ajib. momen ne benar-benar jarang kawan. ku coba dekati mereka agar bisa moto lebih jelas. eh mereka pun tetep pada pendirian untuk berjemur. jangankan beranjak, niatpun tak ada.

Sunbathing Birds dilihat dari jauh

Sunbathing Birds dilihat dari jauh

saya benar-benar bebas potrat potret kesana kemari dengan berbagai view dan angle. salah satunya ada burung-burung yang berlatar pulau kera yang terlihat mengecil dilihat dari Pantai Teddys.

Terima kasih para burung-burung yang menemani saya. hari ini saya benar-benar bisa menaklukkan burung. taklukkan dirimu niscaya kan akan menaklukkan burung-burung. duh duh duh sokbijak kamu der. #ngomongsamaburung. #edisi telat nulis. Kenangan  di Teddys Beach Kupang, salam from Lombok. @Caderabdul_

Jalan tak berujung...eh ada ujung tapi ngak kelihatan kan

Jalan tak berujung…eh ada ujung tapi ngak kelihatan kan