Petualangan di Selat Alas

Di antara dua tenda

Di antara dua tenda

 

Hai dir, kakimu tuh hampir kena kepala Catrina, kata mbak Ifath kepada saya. saya kaget dan terbangun untuk membetulkan kembali pola tidurku. Berugak sempit berukuran 2 x 2 yang penuh sesak dengan tas-tas selempang terpaksa masih ditiduri oleh kerumunan manusia yang mengatakan dirinya Lombok Backpacker. Manusia-manusia alam yang rela berhimpitan penuh sesak dibandingkan tidur di salah satu penginapan di Gili Kondo beralaskan kasur-kasur empuk. Kami lebih memilih tidur di salah satu berugak diterpa angin laut dengan suara deburan ombak.

Pola tidur saya yang cenderung sporadis berubah menjadi “tenang”. Tenang bersama himpitan dan desakan. Saya dan kawan-kawan terbangun ketika mentari masih dalam peraduan, bersembunyi di balik pulau Sumbawa. Semburat Cahaya kuning emas menyelimuti pulau Sumbawa. beberapa orang bersuci dengan air laut yang rasanya asin. Shalat didirikan di antara tenda-tenda menghadap ke barat membelakangi semburat cahaya dengan beralaskan pasir putih yang tersamarkan.

Setelah shalat didirikan, Semua bergegas menuju ke pantai menunggu sang mentari muncul. Pantai yang biasanya nampak sepi sekarang begitu ramai oleh para penikmat petualangan yang bermalam di Gili Kondo. Merasakan ketenangan melupakan sejenak hiruk pikuk dan kepenatan. Perlahan kamera dibidikkan menangkap potongan spektrum cahaya berwarna jingga. Sebagian lain menikmati mentari terbit dengan berpose berbagai macam gaya dengan ide-ide kreatifnya. Seakan-akan tak mau semburat cahaya itu terlewatkan begitu saja tanpa ada kenangan yang berarti.

Penunggu sang mentari pagi

Penunggu sang mentari pagi

Kuning emas menyelimuti , matahari menembus cakrawala, memenuhi semesta alam. Nampak gugusan pulau Sumbawa diselimuti awan kelabu yang berbaris dari ujung ke ujung. Gugusan Pulau Mantar yang lebih dikenal dengan “Negeri di atas awan” benar-benar diselimuti awan kelabu keemasan. Gugusan pulau Kenawa pun juga diselimuti oleh awan-awan berwarna keemasan biasan dari sang mentari pagi. Dalam diam ku berharap suatu saat nanti saya ingin menginjakkan kaki ke dua pulau yang sudah tersohor di NTB itu.

Acara penungguan mentari telah usai. Pengunjung pun berhamburan kembali ke tenda masing-masing. Semua beraktivitas dengan kegiatan masing-masing. Sepagi ini, Catrina dan Nana sudah keluar membawa perlengkapan snorkeling. Mereka berdua ingin menikmati keindahan taman bawah laut Gili Kondo sepagi mungkin sebelum yang lain ikut menikmatinya. Sebagian yang lain berkumpul di depan tenda bealaskan pasir putih. Bercengkrama bersama melepaskan kepenetan pekerjaan. Bahagia itu begitu sederhana. Duduk bersimpuh di atas pasir-pasir gili Kondo itu sepotong kebahagiaan, menikmati aroma semerbak kopi dan menimum kopi hangat yang menembus lorong kerongkongan itu secuil kebahagiaan yang lain. Sajian seduhan kopi dan teh penghangat badan dengan terpaan angin laut kondo seakan memberikan kebahagiaan tersendiri. Bersama kawan-kawan sesama backpacker. Dalam hati ku berpikir alamak kapan lagi saya merasakan kebebasan ini lagi. hanya anak-anak pulau yang bisa merasakan suasana seperti ini setiap hari tanpa adanya batasan waktu seperti kami-kami para backpacker.

berbagai cara menikmati sunrise di Gili Kondo

berbagai cara menikmati sunrise di Gili Kondo

Perutku mules dan mulai melilit. Ku berlari ke ujung selatan pulau menuju penginapan yang masih coba bertahan setelah pengelolaanya diberhentikan. Dulu, pulau ini masih dikelola Perama. Sekarang perijinan tidak diperpanjang lagi. Saya memasuki komplek penginapan Perama yang sudah tak terawat itu. rasa-rasanya dari puluhan pengunjung tak ada yang menginap di sini. penginapan ini hanya terdiri satu rumah khas sasak dengan bagian bawah luar dikhususkan untuk Bar sederhana khas café barat. Bar berukuran setengah lingkaran itu tak ada pengunjung. hanya seorang penunggu hotel yang selalu setia menunggu. Seorang penunggu hotel yang sedang menyapu menunjukkan saya sebuah kamar kecil yang berada di luar hotel. Pagi ini saya tak mandi, mungkin begitu juga dengan kawan-kawanku. Saya hanya sikat pagi dengan air air asin yang membuat mulutku semakin kaku. Baru kali ini saya merasakan sikat gigi dengan air laut.

Matahari semakin meninggi, petualagan ke beberapa pulau yang direncanakan oleh rombongan masih harus menunggu pak Jefry, sang pemilik kapal. Kawan-kawanku sudah hampir semuanya nyebur mencari hamparan terumbu karang firdauzi yang disajikan oleh gili Kondo. Saya sendiri. tak tahu ntah mau kemana. Akh kenapa tidak mencoba mengelilingi pulau kecil yang luasnya beberapa hektar ini saja, pikirku. Rinjani pagi ini begitu gagahnya. Nampak sempurna kegagahannya dengan awan-awan putih yang mengitarinya.

Menyusuri pantai berfosil

Hamparan Pasir fosil di sisi barat Gili Kondo

Hamparan Pasir fosil di sisi barat Gili Kondo

Menyusuri pesisir pantai ini serasa milik pribadi. Saya tak menemukan siapa pun selama saya mengelilingi pulau ini. pasir-pasir putih dengan bentuk seperti bintang banyak dijumpai di pesisir barat pulau ini. kalangan akademisi menduga ini adalah sejenis fossil yang terbawa oleh gelombang laut hingga terhempas bersama dengan terumbu karang-terumbu karang. Pasir berbentuk bintang ini hanya banyak di jumpai di Bali dan Lombok, dan Flores. pasir bintang ini banyak dijumpai di pesisir pantai yang terumbu karangnya masih terawat dengan baik termasuk di kawasan Gili Kondo ini. Fosil ini sering disebut Baculogypsina sphaerulata dan Baculogypsinoides spinosus atau Schlumbergerella-floresiana. Akh daripada bingung coba baca terus kelanjutan dari tulisan ini.

Sebagaimana penelitian yang dilakukan Adisaputra pada tahun 1991, dalam tulisannya mengenai Pantai Benoa Bali, mengungkapkan adanya cangkang fosil Schlumbergerella floresiana yang telah diduga sebagai “pasir putih” tersebut, karena fosil ini mempunyai ukuran butir pasir dari medium sampai sangat kasar.

Di perairan ini, fosil ini berasosiasi dengan foraminifera bentos kecil lainnya seperti Amphistegina lessonii, Calcarina calcar, Tinoporus spengleri, Baculogypsina sphaerulata dan Operculina ammonoides yang kesemuanya biasa dijumpai di laut dangkal dengan kondisi laut terbuka dan air yang jernih serta sinar matahari yang cukup untuk dapat menembus ke tempat mereka hidup (Hottinger, 1983.” Dari segi ilmiah, Adisaputra telah menguraikan spesies Schlumbergerella floresiana yang banyak mendominasi  Pantai Nusa Dua, Bali. Fosil ini membentuk pantai dengan jumlah total sekitar 60 % dari total sedimen. Bentuknya hampir bundar, berwarna putih susu, dengan butiran medium sampai kasar. Besarnya bisa dibandingkan dengan mata uang yang terdapat dalam.”** 

Pasir Baculogypsina sphaerulata diambil dari http://foraminifera.eu/single.php?no=1006541&aktion=suche

Pasir Baculogypsina sphaerulata diambil dari http://foraminifera.eu/single.php?no=1006541&aktion=suche

“Pasir” yang sejenis berbentuk bintang juga banyak dijumpai di pantai Kecinan, Lombok Utara. Saya pernah menemukan pasir berbentuk bintang itu saat bercengkrama dengan para pemancing ikan yang sedang menikmati makan siang di bawah pepohonan.

Ada rasa takjub dengan gili kondo ini. tak hanya menikmati pulau ini, tapi saya bisa menemukan banyak hal-hal baru yang saya temukan. Ini merupakan salah satu aset yang sangat berharga.

Gagahnya gunung Rinjani terlihat jelas di balik hamparan pasir-pasir ber fosil. Kawanan padang lamun yang berwarna kehijauan tumbuh subur di pesisir barat pulau ini. kawanan kepiting kecil berlarian bersembunyi di balik bebatuan saat saya berjalan menyusuri pasir dan bebatuan Kondo.

Di ujung sana, pelabuhan kayangan dengan kawanan kapal-kapal yang siap berangkat menuju pulau Sumbawa. tak ada hiruk pikuk. Hanya dalam 15 menit saja, saya sudah mengelilingi ¾ pulaunya. Di ujung ¾ , ada sebuah pulau. Mungkin dulunya pulau ini masih satu pulau dengan Gili Kondo. Gili bagik namanya. Pepohonan rindang memenuhi pulau tak berpenghuni. Saya mencoba menyeberangi jalanan menuju gili bagik. Saya hanya ingin bertamu sejenak di pulau ini untuk kemudian pergi lagi sebelum air laut benar-benar pasang. Pagi ini, air laut belum begitu pasang. Setidaknya saya masih berjalan walau berbasah-basahan hingga lutut kaki.

bercengkrama di Gili Kondo sambil menyeduh kopi

bercengkrama di Gili Kondo sambil menyeduh kopi

Seorang nelayan tengah sibuk menghidupkan mesin perahunya di tengah laut. Terlihat sedari tadi, sang nelayan belum juga berhasil menghidupkan mesin perahunya. Keringat bercucuran keluar dari kulit eksotisnya. Sesekali sang nelayan mengelap keringatnya. Pulau Sumbawa yang diselimuti awan kelabu menjadi latar belakang sang nelayan. Sang mesin pun belum mau bersahabat dengan pemiliknya. Saya tak bisa berbuat apa-apa. Berlalu saja meninggalkannya menuju awal petualangan gili Kondo.

Saya telah salah menduga bahwa di pulau ini tak berpenghuni. Dalam perjalanan kepulangan saya, saya bertemu dengan beberapa petani di tengah-tengah pulau gili kondo. Saya melongoknya ke dalam pulau yang dikelilingi semak-semak dan rerumputan kering. Terlihat beberapa petani sibuk mencabuti rerumputan yang tumbuh di sela-sela ketela. Saya mendekati salah satu dari mereka. Pak Husni namanya. Saya berusaha menegur dan menyapanya. Dia langsung menawarkan ketela-ketela yang sudah dibelinya. Mau beli ?, katanya kepada saya. wah ngak pak.saya hanya ingin ngobrol-ngobrol dengan bapak aja, kataku.

Sang Nelayan yang berusaha menghidupkan mesin perahu

Sang Nelayan yang berusaha menghidupkan mesin perahu

Pak husni tinggal di tengah-tengah pulau bersama petani lainnya. tanpa listrik dan tanpa hiburan bahkan mandi pun belum tentu menggunakan air tawar. Pulau ini hanya memproduksi air asin. Air tawar harus diangkut dari pulau seberang menggunakan perahu.

Rumah Pak Husni hanyalah sebuah rumah gubuk reyotdi tengah-tengah sawah dengan berdindingkan pelepah-pelepah pohon dan beratapkan rumput-rumput kering. Cukup untuk berlindung dari rasa dingin dan panas ataupun cuaca ekstrim. Dikelilingi pematang sawah dan pasir putih berbentuk bintang dengan Gunung Rinjani tinggi menjulang menjadi wallpaper hidupnya. Sambil ngobrol pak husni sambil menggali ketela-ketela yang sudah tua. Desiran angin laut menerpa wajah pak Husni yang bermandikan keringat. Sesekali pak husni menyeka keringat yang membasahi wajah tirusnya.

Gubuk Pas Husni

Gubuk Pas Husni

Pak Husni, Petani di Gili Kondo saat menggali ketela hasil pertaniannya

Pak Husni, Petani di Gili Kondo saat menggali ketela hasil pertaniannya

Hembusan desiran angin laut menerpa perahu-perahu yang merapat di Gili Kondo. Perahu bergoyang bersama alunan ombak. Pak Jefry membawakan kami sarapan bungkus sebagai pengganjal perut kami selama dalam perjalanan nanti. Semua rombongan berangsek naik ke perahu masing-masing. Dua perahu rombongan siap melaju menembus sang laut biru menuju Gili Kapal. Hanya butuh 20 menit untuk merapat ke pulau pasir ini. pulau yang timbul tenggelam bersama air.

Saya membayangkan bagaimana suasana perairan selat alas di tahun-tahun sebelum masa kemerdekaan. Saat dimana selat alas dikuasai oleh Dai Nippon Jepang. Kapal-kapal dengan perlengkapan perang lengkap senjata pemusnah hilir mudik di selat alas hendak menerkam pihak sekutu yang siap menyerang kapan saja. Kapal jepang yang biasanya selalu hilir mudik di selat Alas itu, tiba-tiba teronggok kaku di pulau pasir tak kentara. Sang Nahkoda tak melihat bahwa pulau yang tak kentara ini begitu dangkal.

Berawal dari sejarah kapal jepang yang terdampar di pulau pasir ini sehingga pulau ini dikenal dengan sebutan Gili Kapal. Gili yang bersejarah karena berhasil membuat kapal jepang terdampar seperti paus yang terdampar di daratan.

Negeri di atas awan sumbawa

Negeri di atas awan sumbawa

Selat Alas begitu sangat strategis. Berada di antara dua pulau antara pulau Sumbawa dan Lombok. tersembunyi dari pelabuhan penyeberangan utama. Siap membidik musuh di balik persembunyian untuk melancarkan strategi penguasaan jepang melawan sekutu. Jepang memang ahli perang dengan strategi persembunyian. Tak jauh dari dari Gili Kapal, ada sebuah pulau yang dikelilingi pohon bakau. Dari kejauhan, pulau ini hanya barisan tanaman bakau berwarna hijau.

Dengan sistem kerja ala Romusha, jepang membangun benteng pertahanan di berbagai sisi pulau Lombok. Benteng-benteng pertahanan seperti Mercusuar dan Gua dibangun di pesisir tenggara Lombok yang langsung berbatasan dengan samudra Hindia dan pulau Sumbawa bagian selatan. Bekas-bekas Gua jepang dan Mercusuar masih bisa kita jumpai di daerah Tanjung Ringgit dan sekitar pantai Tangsi. Untuk memperkuat sistem pertahahan di sisi barat laut pulau Lombok yang langsung berbatasan dengan bali, jepang juga membangun sistem pertahanan di daerah Bangko-bangko, Lombok Barat.

Kembali ke Selat Alas dengan pulau yang dikelilingi hutan bakau. Hutan bakau ini diatur dengan sedemikian rupa. Untuk masuk ke dalam pulau, harus melewati barisan tanaman bakau, lorong-lorong pohon bakau yang diatur sedemikian rupa. Lorong-lorong tanaman bakau ini hanya bisa dilewati kawanan perahu yang kami tumpangi. Dulu, pulau ini hanyalah tanah kosong tak bertuan yang siap tergerus oleh dahsyatnya sang ombak. Jepang datang dengan menanam tanaman bakau mengelilingi pulau tak bertuan sebagai benteng pertahanan dengan sistem kerja paksa romusha.

Saat rombongan melintasi lorong-lorong bakau, perahu kami tersangkut oleh akar-akar bakau. Kami pun berhenti berusaha untuk mengankat kaki perahu bersama sang pengemudi. Dua rombongan perahu kami tertambat di lorong-lorong bukan karena akar-akar pohon tapi karena anak-anak kota yang merindukan permainan desa. Jadilah arena lorong bakau menjadi perhelatan loncat terindah dari atas perahu. Setiap orang yang melompat berusaha dengan loncatan terindah dengan bidikan kamera.

Brummmmm…… terdengar bunyi tubuh yang terhempas ke dalam air. begitu seterusnya bergantian. Ruben berenang dari perahu belakang menuju perahu depan. Bukan untuk menghindar dari serangan tentara sekutu tapi untuk mengikuti kontingen loncat indah di perahu depan. Lorong-lorong ini dulunya menjadi arena benteng pertahanan jepang saat melawan sekutu sekarang menjadi arena loncat indah para petualang.

Perjalanan dilanjutkan menuju lorong-lorong lain dengan formasi tananman bakau yang juga berbeda. Akh tak afdol rasanya menyusuri selat alas yang bertaburkan terumbu karang yang beraneka warna dan rupa tanpa menyicipi keindahan taman lautnya. Taman laut yang berbatasan dengan garis Wallace yang aneka terumbu karangnya serupa dengan terumbu karang di Autralia sana.

Bagi yang pinter free-diving. Berenang dengan berbagai macam gaya dan atraksi adalah salah satu satu keharusan saat berada di dalam air. beratraksi dengan terumbu karang-terumbu karang yang memanjakan mata, berenang bersama ikan-ikan beraneka rupa dan warna. Sedangkan saya hanya menjadi penikmat alam surgawi yang berada di dasar laut dengan bantuan pelampung yang selalu menempel di punggung.

Catrina dan rekan hahaha

Catrina dan rekan hahaha

Puas menikmati alam surgawi di selat alas di garis wallace, kami pun bergegas untuk menuju Gili Kondo untu berbilas dengan air tawar dengan membayar 10 ribu rupiah. Siang ini gili kondo benar-benar bersolek. Pasir putih berpadu dengan air laut yang bergradasi dari biru muda ke biru toscha. Pengunjung Gili Kondo mulai berdatangan. Mampir sejenak untuk sekedar menikmati sajian pasir putih dengan paduan warna biru toscha.

beristirahat sejenak di Cafe Perama

beristirahat sejenak di Cafe Perama

Sebelum pulang, kami pun berisitirahat sejenak melepas lelah, mandi dan shalat. Bercengkrama di dalam café yang sudah terurus. Obrolan-obrolan hangat dengan nyanyian-nyanyian merdu Tendou Souji berpadu dengan petikan gitar yang seirama. Catrina duduk bersama-sama. saya berfikir Catrina begitu kuatnya dengan sarapan biscuit dan makan siang pun biscuit. Tawaran kami berupa nasi tak diacuhkannya. Dia tak terbiasa dengan nasi. Mungkin dengan makanan ringan seperti biscuit, dia sudah merasa kenyang. Akh sedangkan saya dengan satu piring rasanya biasa saja. Catrina Tidur beralaskan batu-batu pasir di café. Sedangkan rombongan lain duduk sambil mendendangkan nyanyian kecapean. Saya mendekati Catrina karena penasaran dengan umurnya.

Mengintip Gili Kondo

Mengintip Gili Kondo

I am twenty, katanya. And you ?.

I am thirty. Dengan sedikit tidak percaya trus dia bilang

but you like twenty.

Saya hanya tersenyum ketika dibilang aku seperti umur 20an. Tak berselang berapa lama, dia melirik ke jari-jari manis yang terpasang cincin. Have u married?, katanya dengan perasaan campur aduk antara pengin tahu dan rasa heran. Ku hanya menjawab dengan anggukan kepala dan dia pun mengiyakan dengan anggukan kepala dengan perasaan heran.

 

Catatan kaki :

** http://www.mgi.esdm.go.id/content/panorama-nan-indah-sebuah-aset-wilayah-pantai-dominasi-schlumbergerella-floresiana

 

Advertisements

Gili Kapal, Pulau Seluas kamar Terumbu Karang seluas Lapangan Bola

Pantai Gili Kapal

Pantai Gili Kapal

Gili Kapal memang hanya pulau yang hanya seluas kamar.

bahkan saat pasang pulau ini pun tertutup laut.

tapi Taman Lautnya begitu luas seluas lapangan sepakbola.

bahkan bisa lebih dengan aneka terumbu karang dengan segala jenis ikan.

jangan liat dari Luasnya Pulau tapi explore lah keindahan bawah lautnya.

Cabbage Coral by Marlina (Lombok Backpacker)

Cabbage Coral by Marlina (Lombok Backpacker)

Cinta dalam Tim Lombok Backpacker

tempat Penyeberangan ke Gili Kapal dengan pemandangan langit yang indah

tempat Penyeberangan ke Gili Kapal dengan pemandangan langit yang indah

Cinta itu tidak butuh Pengorbanan. karena memang Cinta itu tak butuh pengorbanan.  Cinta itu hanya memberi bukan menerima. Cinta itu akan berbuah ketenangan dan kesenangan. tidak ada cinta yang menyakitkan karena cinta selalu memberikan kebahagiaan.

Alex Sloven and Wet

Alex Sloven and Wet

lalu yang menjadi pertanyaan kita adalah bagaimana cinta yang harus ditempuh melalui pengorbanan. bagi para pencinta itu bukanlah sebuah pengorbanan, tapi itu merupakan pohon cinta itu sendiri yang akan berbuah kebahagiaan. kadang, cinta juga tak butuh alasan. jadi, jika seseorang sudah mencinta, maka pengorbanan itu tak akan terasa seperti pengorbanan. itulah buah cinta… ihirrrrrr….caderabdulpacker lagi kumat ne lagi bahas cinta-cintaan. ngak apa-apalah sesekali bahas cinta di Tim Lombok Backpacker, kan ngak ada yang larang. hehe. di Tim Lombok Backpacker sudah banyak timbul cinta loh.

Welcome to Gili Kapal

Welcome to Gili Kapal

ada yang cinta perjalanan tapi tak terlalu memperhatikan destinasinya. ada yang cinta destinasi tanpa tau proses perjalanannya.  nah Tim Lombok Bacpacker salah satu yang suka dua-duanya. halah apa pula ini. berikut perjalanan kami dengan berbagai versi cinta.

Sang Saka Merah Putih

Sang Saka Merah Putih

Mau ikut ke Gili Bidara?kata Mbak Wet kepada saya. Yaa tuh cader kan pengin tau jembatan Gili Bidara, kata Iyus ke mbak Wet. saya hanya menjawab dengan setengah keyakinan.  Boleh, kataku. maklum, bukannya ngak mau tapi karena saya sudah mengunjungi Gili Kapal dan pulau-pulau kecil lain yang ada di Selat Alas Lombok Timur itu. so, pasti ketika kunjungan yang kedua tidak terlalu surprise. Ajakan itu bermula saat Tim Lombok Backpacker mengunjungi salah satu teman Lombok Backpacker yang sakit, Fitri Agustina.

Selamat datang Di Gili Kapal

Selamat datang Di Gili Kapal

Kita kesana bersama dengan bule. ntar yang nanggung sewa mobilnya si bule, kata mbak Wet kepada teman-teman Lombok Backpacker. waktu yang disepakati pun sudah tiba. kami pun berkumpul di Hotel Viktor Mataram pukul 08.00. saya langsung diperkenalkan dengan Bule yang bernama Alex Sloven. asalnya dari Negara Slovenia, Negara pecahan Yugoslavia. Alex Sloven ditemani oleh Teman Indonesianya yang juga backpacker, mbak Marlina, asli jakarta.

Mari Jump-shoot di Gili Kapal

Mari Jump-shoot di Gili Kapal

saya pun ngobrol-ngobrol dengan Alex Sloven. ternyata dia adalah seorang Currency Trader di Slovenia. masakan Indonesia yang paling dia suka adalah nasi goreng. tepat pada pukul 8.30 Wita kami berangkat menuju Lombok Timur. perlu waktu 2.5 jam untuk nyampe di lokasi penyeberangan di Lombok Timur. yang menjadi tujuan pertama kami adalah Gili Kapal.

Tita, Wet dan Alex Sloven

Tita, Wet dan Alex Sloven

Gili Kapal

Tita dan Alex

Tita dan Alex

saat hendak mau naik perahu kami tim rombongan Lombok Backpacker dikagetkan oleh aksi Alex yang menaruh kardus yang berisi stok makanan dan minuman di atas bahunya. kardus itupun dibawanya hingga ke atas perahu. akh bule ini bener-bener gila, batinku. jadilah aksinya mengundang kawan-kawan lombok Backpacker untuk mengabadikannya. ku liat aksinya ini begitu spontan dan alami. bukan pencitraan.hahaha

ihirrr....mesranya...Mbak Tita dan Alex.

ihirrr….mesranya…Mbak Tita dan Alex.

saat semua sudah di atas perahu.langit  dengan formasi awan-awan itu memperindah suasana perjalanan. kericuhan muncul. satu persatu minta difoto dengan latar langit. tak hanya satu, bahkan semuanya ikut berkumpul di ujung perahu. rasa-rasanya ujung perahu tak mampu menampung 8 orang. ujung satu terisi 8 penumpang. ujung satunya lagi terisi 1 orang, Pak Jefri sang pengemudi. Tak cukup di situ sesi foto barengnya. sesi foto berlanjut dengan Alex Slovenia bersama Tita. akh mesranya… setelah itu si Alex yang kita kerjain. kita-kita suruh dia yang moto-moto kita. kan jarang-jarang kita bisa nyuruh-nyuruh bule moto.

Mbak Rahma dan Alex

Mbak Rahma dan Alex

perjalanan pun berlanjut. saya masih mengagumi keindahan formasi awan-awan langit yang begitu ciamik.  eh saya mau difoto lagi di sini, kata Mbak Wet kepada saya. eh tau-tau si Alek Sloven nongol lagi dengan gaya seperti Mbak Wet. ku liat raut muka Mbak Wet terlihat agak kesal dengan aksi bule yang ikut foto bersamanya.

Air Lautnya begitu menggoda untuk nyebur

Air Lautnya begitu menggoda untuk nyebur

wah hasilnya bagus loh, serasi. keren dah pokoknya, kataku. akhirnya, senyum-senyum malu itu keluar dari bibirnya Mbak Wet. dia pun buru-buru ingin melihat hasilnya. ayo saya difoto lagi tanpa tuh bule, pintanya. Oke, kataku.. baru kali ini saya melihat bule yang low profile plus narsis. si Alex benar-benar kocak haha. kami pun ngobrol bareng dengan backsound suara ombak dan mesin perahu.

Mari Nyebur...

Mari Nyebur…

perahu kami pun mulai melambat saat pulau kecil mungil itu sudah mendekat. pulau mungil yang berada di tengah-tengah laut nampak begitu ekotis. pulau ini tambah eksotis dengan warna gradasi air laut. saat kami hendak turun, ku liat seekor burung yang siap-siap terbang dari pulau kecil yang bernama Gili Kapal. akhirnya semua penumpang turun semua. kecuali saya.

Mbak Marlina posedulu sebelum nyebur

Mbak Marlina posedulu sebelum nyebur

saya bertugas untuk memotret aksi mereka saat mereka melakukan aksi jump-shoot di atas pulau yang berukuran 3 M2. ku liat awan-awan di langit nampak begitu indah. tak ingin kehilangan moment yang indah dengan warna air laut yang begitu menawan. saya pun didaulat fotografer dadakan. tiba-tiba si Alex melakukan aksi gaya renang sepatu roda. tangannya bergerak seperti memutar roda. tubuhnya bergaya jongkok. kami yang menyaksikan hanya terpingkal-pingkal melihatnya. kami semua heran dengan semua aksinya.

Mari..Snorkling Time

Mari..Snorkling Time

tak cukup di situ. saat hendak moto mbak Wet, eh tau-tau si Alek Sloven mendekat. dia pun bergaya tungkurep. saat hendak pose lain, eh si Alek pun ngambil posisi lain lagi. ku hanya tertawa melihat kelakukan si Alex Sloven ini. begitu juga dengan mbak tita. saat mbak Tita difoto dia malah berada di sampingnya. kemudian lebih mendekat. trus mendekat. bahkan sangat dekat. sampai akhirnya dengan gaya sandaran.. ihirr….saya ibarat motret orang yang sedang memadu kasih. begitu lah kelakukan si Alex Sloven. hampir semuanya teman-teman yang foto, pasti ada si Alex di sekitarnya.

awas tuh terumbu karangnya jangan sampai kena injak

awas tuh terumbu karangnya jangan sampai kena injak

Snorkling Time.

Ikan Badut/Nemo

Ikan Badut/Nemo by Marlina

setelah puas melakukan sesi foto, kami semua pun siap melakukan inti perjalanan yaitu snorklingggg.. ayuk kita nyeburr…. kebetulan yang punya kamera underwater adalah Mbak wet dan Mbak Marlina.

Ikan Badut sembunyi

Ikan Badut sembunyi by Marlina

saya hanya penikmat…. bukan, saya bukan penikmat. saya masih gemeteran. la wong snorkling aja masih pake pelampung. gimana mau motret keindahan taman-taman laut.

Nemo Hitam

Nemo Hitam by Marlina

saat udah nyeburr.. saya hanya dimanjakan indahnya taman-taman laut. Taman-taman laut hanya berjarak  50 cm dari permukaan laut kawan. salah satu taman laut itu yang cukup unik adalah karang kubis. karena bentuknya seperti sayur kubis.

Karang ini 30 cm dari Permukaan by Marlina

Karang ini 30 cm dari Permukaan by Marlina

ku namain aja karang kubis. karang kubis lumayan cukup luas. ikan-ikan kecil yang beraneka jenis dan warna berenang disekitar taman-taman laut. bahkan ikan-ikan itu kadang mendekat kadang menjauh.

Cabbage Coral by Marlina (Lombok Backpacker)

Cabbage Coral by Marlina (Lombok Backpacker)

anda tahu film yang Finding Nemo. dalam cerita itu kehidupan ikan hias laut seperti ikan Badut/Clownfish/Ikan Giru benar-benar digambarkan sangat menarik. saya melihat ikan Nemo-ikan Nemo yang berwarna Jingga, kuning atau hitam. ikan badut ini suka memakan aneka sisa makanan yang menempel pada tubuh anemon.

Karang-Karang Gili Kapal by Marlina (Lombok Backpacker)

Karang-Karang Gili Kapal by Marlina (Lombok Backpacker)

nah si anemon pun suka melindungi si ikan Badut. saat saya berusaha mendekatinya, dia mencoba bersembunyi dibalik anemon-anemon laut. mau tau tentang keindahan bawah laut yang lain atau ingin tahu kegilaan si Alex Sloven. tunggu di tulisan selanjutnya yach. @caderabdulpaker.

Terumbu Karang by Marlina

Terumbu Karang by Marlina

bagi yang ingin melipir ke catatan saya sebelumnya tentang Gili Kapal 

the Coral by Marlina

the Coral by Marlina