Ziarah Makam Loang Baloq

 

Ziarah

Ziarah

Pada saat lebaran ketupat, Sasak, suku asli lombok punya ziarah akbar. Makam-makam yang seram akan nampak begitu cerah. pusat-pusat ziarah bersolek diri. Makam-makam dihias laksana dua mempelai pengantin yang akan melangsungkan pernikahan. janur-janur kuning dipasang di jalan komplek makam.

orang-orang akan berduyun-duyun menuju pusat ziarah. puncaknya pada saat matahari sudah lengser dari waktu dhuha. suasana makam tumpah ruah lautan manusia yang hendak berziarah. suasana makam persis seperti arena antrian sembako. para peziarah berbaris menunggu antrian.

dari para peziarah itu banyak juga anak-anak yang belum tahu makna ziarah itu sendiri. bocah-bocah ingusan yang tak bisa jalan juga akan digendongnya demi sebuah ziarah. Ziarah di Lombok sudah menjadi salah satu ritual keagamaan yang menurut sebagian orang adalah perbuatan syirik. tapi itu lah budaya yang masih digandrungi oleh hampir sebagian masyarakat muslim Lombok.

ini bukanlah masalah akidah, ini adalah budaya, begitu kata sebagian orang.

saat lebaran telah usai, tujuh hari berikutnya adalah ziarah. hari ini juga bertepatan dengan hari raya lebaran ketupat yang tak kalah meriah. kalau saya boleh mengistilahkan Hari Raya Ketupat adalah puncak dari segala perayaan itu sendiri. setiap jiwa akan berbondong-bondong menuju pusat ziarah. ziarah ini bisa dilakukan secara sendiri atau satu keluarga atau se kampung.

ziarah adalah kepuasan batin. Yang jauh terasa dekat. ada rasa kepuasan tersendiri saat sudah berziarah. sebaliknya, bagi yang belum ziarah akan merasakan suatu kebimbangan. itulah kepuasan batin. tak jarang untuk memuaskan rasa kepuasan batin itu perlu usaha lebih. yang tak punya alat angkut, akan berjalan menyusuri jalan. yang jauh bisa rombongan untuk patungan bayar sewa alat angkut atau sekedar untuk urunan bayar bensin.

pusat-pusat ziarah yang paling banyak dikunjungi adalah makam-makam orang sholeh yang dianggap keramat. salah satu yang keramat itu adalah Makam Loang Baloq.

Makam Loang Baloq terletak di pesisir pantai, Mataram. Makam Loang Baloq terletak di jalur lingkar selatan, yaitu lingkar luar lombok di selatan. Jalur lingkar selatan ini merupakan salah satu jalur utama lombok yang menghubungkan Bandara dengan kuta tua Ampenan dan kawasan wisata Senggigi. Dulunya jalur lingkar selatan adalah jalanan kecil yang dijadikan jalur dua arah. Kawasan rawa-rawa marginal mulai menggeliat. Sepanjang jalur-jalur lingkar selatan banyak muncul kawasan-kawasan pertokoan, perumahan, dan kantor-kantor pemerintahan. Tepat di depan Makam Loang Baloq dibangun Taman Loang Baloq lengkap dengan taman air berbentuk pulau lombok.

Pulang ziarah

Pulang ziarah

Kawasan Loang Baloq adalah kawasan rawa-rawa yang langsung berbatasan dengan selat lombok. Dari pantai Loang Baloq kita bisa menyaksikan Gunung Agung, Bali. Di Makam Loang Baloq terdiri dari 3 makam utama yang sering dikunjungi yaitu Makam Maulana Syech Gaus Abdurrazak, Makam Datuk Laut, dan yang terakhir adalah makam seorang anak yatim piatu. Tiga makam inilah yang menjadi pusat perziarahan. Setiap minggu dan setiap tahun orang-orang berziarah hingga membludak hingga hari ini.

Suasana Ziarah

Suasana Ziarah

Tahun 1744, Kerajaan Islam Selaparang berhasil ditaklukkan oleh gabungan pasukan Kerajaan Karangasem dari Bali dan Arya Banjar Getas yang merupakan keluarga kerajaan yang berkhianat terhadap Kerajaan Selaparang. Kekuasaan berpindah dari islam menjadi hindu. Tanah-tanah yang dikuasai kerajaan selaparang lantas menjadi milik kerajaan Karangasem. Pemukiman-pemukiman hindu banyak dibangun berdampingan dengan kampung muslim. 150 tahun kerajaan Karangasem menguasai Lombok sebelum akhirnya dikalahkan oleh Hindia Belanda. Akulturasi budaya antara umat islam lombok dengan budaya hindu bali pun terjadi. Budaya dan kesenian bercampur dengan kebudayaan islam.

Budaya Islam hindu, budaya lombok bali bercampur menjadi budaya lombok yanh ada saat ini. Pohon Ficus Benjamina/beringin sangat akrab dengan kebudayaan Indonesia. Akrab dengan kebudayaan Hindu Budha. Ficus Benjamina sekilas mirip dengan pohon Bodhi, pohon suci agama Budha. Ficus Benjamina memiliki pohon yang besar dan rimbun. Akarnya sering tumbuh di batang-batang pohon yang menjuntai ke tanah. Orang sering menganggap pohon ini memiliki kekuatan magis dan suci. Tak jarang, di setiap pura-pura hindu, pohon beringin sering ditanam di halaman pura. Itulah pohon suci yang terlihat seperti menyeramkan.

Untaian akar Beringin di pusat ziarah

Untaian akar Beringin di pusat ziarah

Akulturasi kebudayaan hindu dan kebudayaan muslim juga ada di Makam Loang Baloq. Sebuah pohon Ficus Menjamina yang tumbuh lebat di tengah-tengah komplek Pemakaman. Batangnya dikelilingi akar. Akar-akar pohon sering jadi tempat/alat perjanjian suci dengan cara diikatkan satu akar dengan akar yang lain. orang-orang yang memiliki keinginan/cita-cita seperti minta rejeki, enteng jodoh, biasanya mengutarakan niatnya dibawah pohon ini kemudian mengikatkan akar beringin ini dengan akar beringin yang lain atau mengikat akar Ficus menjamina dengan alat pengikat janji setia lainnya seperti plastik atau talia rafia. Tali temali baru akan dilepas, jika keinginannya tercapai. Semakin banyak orang-orang yang keinginannya belum tercapai, semakin banyak pula akar pohon beringin yang berbunga plastik/rafia. Banyaknya ikatan-ikatan di akar pohon beringin tergantung juga bergantung pada momen tertentu seperti musim kawin dan pergantian ajaran baru, penerimaan PNS.

Pada moment-moment tersebut ikatan di akar beringin semakin banyak seiring dengan musimnya. Di tengah-tengah pohon beringin ini, ada sebuah makam Syech Maulana Syech Gaus Abdurrazak yang berada tepat di tengah pohon beringin. Makam-makamnya dikelilingi akar-akar pohon beringin sehingga makam ini terlihat menyatu dengan pohon beringin. Alkisah, pada tahun 1866, seorang ulama besar bernama Maulana Syech Gaus Abdurrazak yang berasal dari dari jazirah arab datang ke Palembang.

Dari Palembang, ulama besar itu melanjutkan perjalanan dan mendarat dipesisir pantai ampenan, kota mataram. Beliau kemudian menyampaikan ajaran-ajaran islam hingga ke pelosok-pelosok desa. Kehidupan dan ajaran dari sang syech menjadi panutan. Siang itu, panas begitu teriknya. Angin berhembus sedang. Suasana makam Loang Baloq begitu ramainya. Jalan-jalan menuju dihiasi oleh rumbai-rumbai pohon janur kuning laksana orang-orang yang hendak melakukan hajatan pernikahan. Orang-orang berjubelan memenuhi areal makam Loang Baloq. salah satu pusat ziarah keramat penuh lautan manusia. untuk memasuki areal dan menuju kita harus rela antri. Saat aku memasuki memasuki areal pemakaman.

antri

antri

Dalam koridor itu, semua untuk tujuan yang sama yaitu 3 makam keramat yang dipuja-puja. Di beberapa sudut makam, terlihat orang-orang yang sudah berziarah membuka bekal makanan yang dibawa dari rumah. Sebuah makam Syech Datuk Laut yang terpisah dari makam yang lain. saya meliriknya. Terlihat daun pisang, bekas-bekas botol minuman, dan sebuah teko pengisi air berserakan di atas makam. Di depan saya, sudah banyak orang-orang yang berkerumun di bawah naungan beringin yang rindang. Auranya penuh sesak, aksi desak-desakkan pun sering terjadi. Saling sikut pun sudah biasa. Anak-anak kecil sering terhimpit dalam dekapan ibuknya. Semuanya demi sebuah “ziarah”.

Seorang pemuda remaja bersama pacarnya datang jauh dari lombok tengah. Mereka sudah sering datang setiap tahun mulai sejak masih kecil hingga masa remajanya yang sekarang. Dulu, Ia datang bersama ibunya. Sekarang, dia datang bersama pacarnya dengan balutan kerudung berwarna biru. Banyak peziarah-peziarah lain yang seperti pemuda tersebut. Mereka datang dari jauh, dari ujung timur hingga ujung barat lombok, dari utara hingga selatan lombok, bahkan tak jarang, peziarah juga datang dari pelintas pulau seberang seperti sumbawa. Inilah pusat ziarah itu. Setiap jiwa akan merasa tenang ketika mengunjungi makam-makam keramat seperti makam Loang Baloq.

Makam Datuk Laut

Makam Datuk Laut

Areal makam yang luas seakan terasa sempit. Semakin dekat dengan pusat ziarah, semakin mengerucut. Lautan manusia memenuhi pusaran makam. Semakin berebut pula orang-orang yang ingin memasuki makam. Anak-anak kecil yang terhimpit terpaksa dipisah sementara dengan ibuknya. Tepat di pintu masuk menuju ruang sang Syech, dua penjaga selalu berjaga-jaga untuk menertibkan para peziarah. Pekikan-pekikan terikan sang penjaga memekakkan telinga.

“Sabar bu, jangan dorong-dorong !”, Bapak, jangan dorong-dorong pak”, pekikan dari salah satu penjaga saat penjaga merasakan daya dorong di tubuhnya.

“Lepaskan anaknya, biarkan anaknya ibu masuk duluan.”

Sang anak pun terlepas dari ibuknya. Menunggu sang ibu yang masih tertahan oleh kuatnya penjagaan para penjaga. Jalan dengan lebar 1 meter dengan tinggi setinggi orang dewasa ini terasa sempit. Penjaga selalu siap siaga. Umurnya sekitar 25an. Tangannya menjadi palang pintu. Dua penjaga mengatur lalu lintas para peziarah agar area makam cukup menampung. Tak berdesak-desakan. Sehingga sang peziarah pun bisa khusuk berdoa. Setelah mengantri kurang lebih 30 menit, saya bisa memasuki lorong makam Syech Gauz yang dinding-dindingnya diselimutkan kain putih bersih.

Tiap-tiap peziarah memegang airnya sendiri-sendiri. Air itu diambil dari mushalla yang terletak tak jauh dari makam syech Gauz. Peziarah-peziarah langsung mengelilingi makam syech yang masih kosong. Ada perasaan yang lain yang datang pada diri saya. Aku telah berada di pusaran para peziarah. Makam salah satu Syech penyebar agama islam lombok. Makam yang berbau mistis dikelilingi oleh akar-akar pohon beringin yang menjuntai laksana rumah yang ada di tengah-tengah hutan belantara. Sebuah makam keramat yang tersohor di seluruh lombok. makam yang keramat yang berlantai tegel itu becek terkena cipratan air yang disiram ke pusara makam. Semua peziarah dari anak hingga dewasa sibuk dengan ziarahannya.

Air-air kembang tujuh rupa itu dituangkan pada pusara makam, lalu diusapkannya pada batu nisan berkain putih yang berlumuran sisa kembang tujuh rupa. Sisanya diusapkan pada sekujur tubuh, dari kepala hingga kaki, perut, leher, dan paha dengan mulut yang terus berkomat kamit. Setiap ziarah akan begitu detail agar tubuhnya terlumuri air “suci” kembang tujuh rupa yang diberkati. Mulutnya terus saling berkomat-komat melafalkan ayat-ayat alquran yang dibarengi wiritan doa.

suasana ziarah di makam Syech Gauz

suasana ziarah di makam Syech Gauz

IMG_8351 Suasana nampak hening. Ruangan makam dipenuhi aroma kembang tujuh rupa. Setiap peziarah sibuk dengan dirinya sendiri. Gerakannya bergantian dan cenderung monoton. Menyiramkan air, mengusap nisan, mengusap sekujur tubuh dengan mulut tak henti berkomat kamit. Semua begitu seterusnya. Sama tak terperi. Jika bersama anak-anaknya, air berkat tujuh rupa akan diusapkan ubun-ubun. Saya pun tak lupa untuk berziarah dengan caraku sendiri dan keyakinanku sendiri. Saya memilih berdiri di pojok makam agar saya tidak terlalu mencolok di antara peziarah lain. saya tak membawa kembang tujuh rupa ataupun air sebagaimana peziarah pada umumnya. Sesekali saya ikut memegang batu nisan, mencium bunganya sekaligus berpamitan kepada Sang Syech yang telah menyebarkan ajaran islam di Bumi Gora Selaparang. Banyak cara orang untuk melakukan ziarah dengan budayanya masing-masing.

Di jawa, ziarah pun hampir mirip-mirip. Di pusat-pusat ziarah selalu dipenuhi oleh air. Air yang menurut sebagian orang adalah keramat. Sehingga tak jarang, saat berziarah juga membawa air untuk dibawa pulang. sejak Lombok ditaklukkan kerajaan Karangasem, Bali dalam kurun waktu satu setengah abad lebih. Perpaduan Kebudayaan Islam dan hindu. Kampung Muslim hidup berdampingan dengan kampung Hindu. Jejak-jejak percampuran dua kebudayaan itu masih ada hingga sekarang. Islam Watu Telu dan Kemaliq Lingsar adalah bagian dari percampuran budaya itu. Pura Lingsar (Hindu) dan Kemaliq Lingsar (Muslim).

diupload dari kamar 209, Hotel Puri Saron, Senggigi

Advertisements

Lebaran Ketupat “Pray For Gaza”

Lebaran Ketupat adalah salah satu puncak perayaan sekaligus puncak ziarah di Lombok. Puncak Perayaan diwujudkan dengan membangun panggung-panggung hiburan di pesisir-pesisir pantai. Pantai-pantai disulap menjadi panggung-panggung hiburan. Para tokoh agama, tokoh adat hingga artis lokal ataupun nasional akan hadir pada puncak perayaan ini. Pemerintah daerah terlibat memfasilitasi puncak perayaan lebaran ketupat ini. Pimpinan Instansi Pemerintah Daerah tertinggi hingga terendah akan datang pada puncak perayaan ini. Bupati/walikota hingga Satpol PP ikut menyemarakkan perayaan ini.

Lebaran Ketupat juga sebagai puncak ziarah, orang-orang dari luar kabupaten akan datang berduyun-duyun mencari makam-makam keramat orang-orang sholeh. Lebaran ketupat biasanya diselenggarakan setelah 6 hari puasa syawal. Semakin keramat makamnya, semakin ramai kuburan orang-orang sholeh salah satunya adalah Makam Syech Gauz Abdurrazaq yang terletak di Makam Loang Baloq.

Pray For Gaza

Pray For Gaza

Pada tahun 2014, perayaan-perayaan lebaran ketupat di adakan di beberapa tempat sekaligus. Di Mataram, perayaan diadakan di pantai Loang Baloq dan Pantai Kuranji. Di Lombok Barat, Awalnya, perayaan lebaran topat hanya di pantai Senggigi saja. Mulai tahun ini, Perayaan lebaran topat di Lombok Barat diadakan menjadi dua lokasi yaitu di Pantai Senggigi dan Pantai Cemara, Gerung. Jaraknya yang berjauhan dan berbeda lokasi sangat efektif untuk mengurangi puncak kemacetan. Di Lombok Tengah, perayaan lebaran ketupat diadakan di pesisir selatan lombok. Lebaran Ketupat, Pantai menjadi pusat dan menjadi puncak perayaan itu sendiri.

Pada saat puncak perayaan, maka jalan-jalan menjadi macet dan penuh. Orang-orang akan datang berduyun-duyun. Tidak hanya dari daerah sekitar tapi juga dari kabupaten lain. Jalanan penuh sesak dan sumpek. Jarak tempuh yang biasanya 20 menit menjadi berkali-kali lipat. Polantas pun akan bekerja lebih keras lagi untuk mengatur lalu lintas. Jalan-jalan dipenuhi seragam polantas. Bahkan, untuk memantau titik kemacetan di simpul-simpul keruwetan, Polisi mengerahkan helikopter untuk ikut memantau lalu lintas. Helikopter itu juga terlihat melintas dan memutar rendah di atas langit pantai Loang Baloq pada perayaan lebaran topat tahun 2014 ini.

Mengerubungi ketupat

Mengerubungi ketupat

Lebaran Topat tahun ini bertepatan dengan hari senin tanggal 4 Agustus 2014. Saya tiba di Lombok sehari sebelumnya, hari minggu 3 agutus 2014. saya bisa merasakan kemeriahan lebaran topat tahun ini. merasakan dentuman musiknya memecah gendang telinga. Loang Baloq menjadi tujuan saya karena Loang Baloq adalah jarak yang terdekat dengan kos saya yaitu sekitar 300 meter saja. saya terpaksa menghilang dari acara halal bihalal kantor yang tak ada acara. Kegiatan di kantor hanya seperti ini : Para pejabat struktural duduk rapi di lobby kantor-sekaligus tempat lokasi absensi finger-print-menunggu pegawai yang datang untuk kemudian saling bersalaman. Hanya itu saja, salam-salaman, tak ada kumpul-kumpul yang ada hanya sidak.

Langit pagi itu sangat cerah, awan pun tak mau menghalangi sang sinar. Begitu jua hatiku yang cerah. Cerah hatiku ingin melihat rangkaian acara lebaran topat di Loang Baloq. Tahun lalu, saya tak berkesempatan menyaksikan kemeriahan itu. Tahun ini, saya akan merasakan aura kemeriahan itu. Kemeriahan perayaan hari itu membuat saya terlupa saya masuk kerja.

Sayang, saya ketinggalan beberapa perlombaan sebelum acara itu yaitu lomba adu bikin ketupat, lomba bedug, lomba sajian ketupat, lomba mengejar bebek. “sayang mas, coba mas datang lebih dulu, bisa lihat berbagai perlombaan, kata seorang yang memperkenalkan diri sebagai juara 1 lomba mengejar bebek. Dari berbagai jenis perlombaan itu, lomba ngejar bebek yang terseru. Caranya: beberapa bebek yang akan dilombakan dibawa ke tengah laut menggunakan perahu kemudian peserta lomba mengejar bebek yang berada di tengah laut itu dengan cara berenang dari pesisir pantai. Yang paling cepat menangkap bebek adalah juaranya. Hadiahnya adalah uang tunai senilai Rp500.000,00 plus seekor bebek yang berhasil ditangkap.

sesajian di salah satu berugak

sesajian di salah satu berugak

Sekilas tentang Loang Baloq begitu sangat berbeda hari ini. Pantai ini langsung berbatasan dengan taman Loang Baloq. Loang Baloq menjadi muaranya kali unus dimana segala jenis sampah kota akan berakhir di sini. Sampah-sampah itu semakin jelas saat melintasi jembatan bambu penghubung dua dusun: Loang Baloq dan Bangsal. Terlihat orang-orang melintas di atas jembatas bambu yang hendak ambruk. Penuh, sesak dan saling berpapasan. Lalu lintas jembatan bambu pun macet. Jembatan bambu itu seakan mau ambruk tak kuat menahan beban manusia yang menjumpalinya. Beberapa orang terpaksa harus turun ke sungai berpasir yang berselimutkan sampah-sampah kota.

Di balik pasir-pasir hitam eksotis tersempil bekas-bekas sampah. Sampah manusia hingga rumah tangga. Mulai dari baju hingga sempak. Sampah-sampah itu tersembunyi di tumpukan pasir hitam. Tumpukan pasir berbalut sampah plastik dan baju. Di atas pasir-pasir itu hitam penuh berdiri tenda-tenda memenuhi pantai. Tenda yang paling besar adalah tenda BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) yang menghadap ke laut. Di samping tenda BNPB, terlihat empat pemuda yang mengawasi bebek-bebek yang kakinya terikat. Bebek-bebek itu tak bisa berjalan layaknya bebek. Dia hanya meringkuk di atas pasir yang sesekali merangkak. Itulah para empat pemenang lomba kejar bebek bersama mangsa-mangsanya.

para pemburu bebek

wajah-wajah para pemburu bebek

Taman Loang Baloq memiliki taman air yang merupakan miniatur pulau lombok. Taman air ini dikelilingi oleh 3 berugak sekenam berukuran besar dan 5 berukuran kecil. Kaki-kakinya menjuntai ke dasar air. Dua berugak kecil di antaranya yang langsung berbatasan dengan pantai Loang Baloq. Dua berugak itu sekarang sudah dipenuhi berbagai kreasi ketupat dari berbagai dinas pemerintah daerah.

Lautan manusia dari berbagai daerah sudah memenuhi pantai Loang Baloq. Inilah pesta tahunan yang digelar secara rutin. Saat walikota Mataram, H. Ahyar Abduh beserta jajarannya datang, warga semakin membludak. Pantai berpasir hitam eksotis itu dipenuhi lautan manusia. Mereka disambut dengan dentuman bedug dan lengkingan suara shalawat yang menggelegar memecah udara panas kering pesisir pantai Loang Baloq.

Rombongan duduk bersila di atas pasir yang dilapisi karpet. Acara hendak dimulai. Golongan tokoh agama yang berjumlah enam mengambil tempat bersila menghadap sang walikota dan jajarannya. Mereka Saling berhadap-hadapan. Lantunan puji-pujian dipanjatkan, shalawat pun diperdengarkan. Langit Loang Baloq menjadi tenang di tengah teriknya di siang yang gantang ini. puji-pujian dan shalawat dengan backsound bedug yang menggelegar. Acara terus berlanjut hingga doa dipanjatkan.

Penyerahan hadiah oleh walikota H. Ahyar Abduh kepada pemenang lomba buru bebek

Penyerahan hadiah oleh walikota H. Ahyar Abduh kepada pemenang lomba buru bebek

Acara pesta lebaran ketupat ini juga dimeriahkan oleh tumpukan ketupat yang disusun sedemikian rupa. Bentuknya kerucut seperti tumpeng. Tumpeng tersusun dari Ketupat, Lepet dan berbagai jenis buah-buahan. Ketupat dijadikan sebagai pondasi tumbeng dengan lepet sebagai tiangnya. Buah apel hijau, jeruk dan salak disusun berurutan mengisi bagian tengah tumpeng. Tumpeng itu ditutup kain berbentuk rumbai-rumbai. Nanas disusun vertikal dengan mahkota nanas yang berkahkotakan apel merah impor. jadilah tumpeng ketupat yang utuh. Dua buah besan moral menggantung pada leher Tumpeng. Tulisan “Pray For Gaza” dengan latar bendera palestina yang dicetak kuarto putih.

Inilah pesan perayaan lebaran ketupat tahun ini. perayaan ketupat sebagai sarana untuk membawa pesan perdamaian dunia “Pray For Gaza”. Perayaan ketupat tahun ini memang berbarengan agresi militer israel terhadap palestina. Korban-korban sipil berjatuhan, kebanyakan anak-anak dan wanita. Banyak negara-negara dunia, instansi, umat manusia yang mengecam agresi militer yang membabi buta di saat umat islam sedang melaksanakan puasa. Salah satu bentuk kecaman itu adalah tulisan “Pray for Gaza”.

Di pesisir pantai angin panas berhembus kencang. Beberapa jajaran pejabat daerah duduk rapi. Acara akan masih dilanjutkan dengan pemberian hadiah kepada para pemenang lomba dilanjutkan dengan tarian-tarian anak-anak wanita sasak yang indah gemulai. Tubuhnya meliuk-meliuk memperlihatkan keindahan tarian khas sasak. Saya merekam dan membidik tarian-tarian itu. Para penari dibungkus baju berwarna merah muda seragam dengan kerudung putih yang membungkus kepalanya dengan kopiah khas turki berwarna merah cerah.

suasana lebaran topat

suasana lebaran topat

Tarian

Tarian

Langit semakin cerah. Di pesisir pantai, Mentari seakan terasa di ubun-ubun. Hawanya panas dan kering sekaligus menghauskan. Kerongkonganku terasa kering. Terlihat Seorang biduan setengah gendut didaulat untuk menyanyikan beberapa lagu dangdut di panggung. Biduan itu meliuk-liukkan tubuhnya di hadapan para pengunjung kepanasan. Teriknya mentari membuatku tak betah menikmati lagu dangdut yang biasanya mendayu-dayu itu.

Di lokasi yang tak jauh dari panggung biduan itu, Terlihat beberapa orang mengerubungi ketupat yang menjuntai seperti jajan anak-anak sekolah yang digantung. Saya ikut-ikutan mengelilingi, mengitari dan mencabutnya. Semua pengunjung bebas mengambil ketupat-ketupat itu. Bisa dinikmati ditempat atau dibawa pulang.

Menyeberang

Menyeberang

Pesta lebaran ketupat layaknya salah satu bentuk ucap syukur kepada yang maha kuasa setelah berpuasa selama 6 hari di bulan syawal. Orang yang berpuasa menahan diri dari makan dan minum, maka baginya ibarat berpuasa selama satu tahun, Sabda nabi.