Ziarah Makam Loang Baloq

 

Ziarah

Ziarah

Pada saat lebaran ketupat, Sasak, suku asli lombok punya ziarah akbar. Makam-makam yang seram akan nampak begitu cerah. pusat-pusat ziarah bersolek diri. Makam-makam dihias laksana dua mempelai pengantin yang akan melangsungkan pernikahan. janur-janur kuning dipasang di jalan komplek makam.

orang-orang akan berduyun-duyun menuju pusat ziarah. puncaknya pada saat matahari sudah lengser dari waktu dhuha. suasana makam tumpah ruah lautan manusia yang hendak berziarah. suasana makam persis seperti arena antrian sembako. para peziarah berbaris menunggu antrian.

dari para peziarah itu banyak juga anak-anak yang belum tahu makna ziarah itu sendiri. bocah-bocah ingusan yang tak bisa jalan juga akan digendongnya demi sebuah ziarah. Ziarah di Lombok sudah menjadi salah satu ritual keagamaan yang menurut sebagian orang adalah perbuatan syirik. tapi itu lah budaya yang masih digandrungi oleh hampir sebagian masyarakat muslim Lombok.

ini bukanlah masalah akidah, ini adalah budaya, begitu kata sebagian orang.

saat lebaran telah usai, tujuh hari berikutnya adalah ziarah. hari ini juga bertepatan dengan hari raya lebaran ketupat yang tak kalah meriah. kalau saya boleh mengistilahkan Hari Raya Ketupat adalah puncak dari segala perayaan itu sendiri. setiap jiwa akan berbondong-bondong menuju pusat ziarah. ziarah ini bisa dilakukan secara sendiri atau satu keluarga atau se kampung.

ziarah adalah kepuasan batin. Yang jauh terasa dekat. ada rasa kepuasan tersendiri saat sudah berziarah. sebaliknya, bagi yang belum ziarah akan merasakan suatu kebimbangan. itulah kepuasan batin. tak jarang untuk memuaskan rasa kepuasan batin itu perlu usaha lebih. yang tak punya alat angkut, akan berjalan menyusuri jalan. yang jauh bisa rombongan untuk patungan bayar sewa alat angkut atau sekedar untuk urunan bayar bensin.

pusat-pusat ziarah yang paling banyak dikunjungi adalah makam-makam orang sholeh yang dianggap keramat. salah satu yang keramat itu adalah Makam Loang Baloq.

Makam Loang Baloq terletak di pesisir pantai, Mataram. Makam Loang Baloq terletak di jalur lingkar selatan, yaitu lingkar luar lombok di selatan. Jalur lingkar selatan ini merupakan salah satu jalur utama lombok yang menghubungkan Bandara dengan kuta tua Ampenan dan kawasan wisata Senggigi. Dulunya jalur lingkar selatan adalah jalanan kecil yang dijadikan jalur dua arah. Kawasan rawa-rawa marginal mulai menggeliat. Sepanjang jalur-jalur lingkar selatan banyak muncul kawasan-kawasan pertokoan, perumahan, dan kantor-kantor pemerintahan. Tepat di depan Makam Loang Baloq dibangun Taman Loang Baloq lengkap dengan taman air berbentuk pulau lombok.

Pulang ziarah

Pulang ziarah

Kawasan Loang Baloq adalah kawasan rawa-rawa yang langsung berbatasan dengan selat lombok. Dari pantai Loang Baloq kita bisa menyaksikan Gunung Agung, Bali. Di Makam Loang Baloq terdiri dari 3 makam utama yang sering dikunjungi yaitu Makam Maulana Syech Gaus Abdurrazak, Makam Datuk Laut, dan yang terakhir adalah makam seorang anak yatim piatu. Tiga makam inilah yang menjadi pusat perziarahan. Setiap minggu dan setiap tahun orang-orang berziarah hingga membludak hingga hari ini.

Suasana Ziarah

Suasana Ziarah

Tahun 1744, Kerajaan Islam Selaparang berhasil ditaklukkan oleh gabungan pasukan Kerajaan Karangasem dari Bali dan Arya Banjar Getas yang merupakan keluarga kerajaan yang berkhianat terhadap Kerajaan Selaparang. Kekuasaan berpindah dari islam menjadi hindu. Tanah-tanah yang dikuasai kerajaan selaparang lantas menjadi milik kerajaan Karangasem. Pemukiman-pemukiman hindu banyak dibangun berdampingan dengan kampung muslim. 150 tahun kerajaan Karangasem menguasai Lombok sebelum akhirnya dikalahkan oleh Hindia Belanda. Akulturasi budaya antara umat islam lombok dengan budaya hindu bali pun terjadi. Budaya dan kesenian bercampur dengan kebudayaan islam.

Budaya Islam hindu, budaya lombok bali bercampur menjadi budaya lombok yanh ada saat ini. Pohon Ficus Benjamina/beringin sangat akrab dengan kebudayaan Indonesia. Akrab dengan kebudayaan Hindu Budha. Ficus Benjamina sekilas mirip dengan pohon Bodhi, pohon suci agama Budha. Ficus Benjamina memiliki pohon yang besar dan rimbun. Akarnya sering tumbuh di batang-batang pohon yang menjuntai ke tanah. Orang sering menganggap pohon ini memiliki kekuatan magis dan suci. Tak jarang, di setiap pura-pura hindu, pohon beringin sering ditanam di halaman pura. Itulah pohon suci yang terlihat seperti menyeramkan.

Untaian akar Beringin di pusat ziarah

Untaian akar Beringin di pusat ziarah

Akulturasi kebudayaan hindu dan kebudayaan muslim juga ada di Makam Loang Baloq. Sebuah pohon Ficus Menjamina yang tumbuh lebat di tengah-tengah komplek Pemakaman. Batangnya dikelilingi akar. Akar-akar pohon sering jadi tempat/alat perjanjian suci dengan cara diikatkan satu akar dengan akar yang lain. orang-orang yang memiliki keinginan/cita-cita seperti minta rejeki, enteng jodoh, biasanya mengutarakan niatnya dibawah pohon ini kemudian mengikatkan akar beringin ini dengan akar beringin yang lain atau mengikat akar Ficus menjamina dengan alat pengikat janji setia lainnya seperti plastik atau talia rafia. Tali temali baru akan dilepas, jika keinginannya tercapai. Semakin banyak orang-orang yang keinginannya belum tercapai, semakin banyak pula akar pohon beringin yang berbunga plastik/rafia. Banyaknya ikatan-ikatan di akar pohon beringin tergantung juga bergantung pada momen tertentu seperti musim kawin dan pergantian ajaran baru, penerimaan PNS.

Pada moment-moment tersebut ikatan di akar beringin semakin banyak seiring dengan musimnya. Di tengah-tengah pohon beringin ini, ada sebuah makam Syech Maulana Syech Gaus Abdurrazak yang berada tepat di tengah pohon beringin. Makam-makamnya dikelilingi akar-akar pohon beringin sehingga makam ini terlihat menyatu dengan pohon beringin. Alkisah, pada tahun 1866, seorang ulama besar bernama Maulana Syech Gaus Abdurrazak yang berasal dari dari jazirah arab datang ke Palembang.

Dari Palembang, ulama besar itu melanjutkan perjalanan dan mendarat dipesisir pantai ampenan, kota mataram. Beliau kemudian menyampaikan ajaran-ajaran islam hingga ke pelosok-pelosok desa. Kehidupan dan ajaran dari sang syech menjadi panutan. Siang itu, panas begitu teriknya. Angin berhembus sedang. Suasana makam Loang Baloq begitu ramainya. Jalan-jalan menuju dihiasi oleh rumbai-rumbai pohon janur kuning laksana orang-orang yang hendak melakukan hajatan pernikahan. Orang-orang berjubelan memenuhi areal makam Loang Baloq. salah satu pusat ziarah keramat penuh lautan manusia. untuk memasuki areal dan menuju kita harus rela antri. Saat aku memasuki memasuki areal pemakaman.

antri

antri

Dalam koridor itu, semua untuk tujuan yang sama yaitu 3 makam keramat yang dipuja-puja. Di beberapa sudut makam, terlihat orang-orang yang sudah berziarah membuka bekal makanan yang dibawa dari rumah. Sebuah makam Syech Datuk Laut yang terpisah dari makam yang lain. saya meliriknya. Terlihat daun pisang, bekas-bekas botol minuman, dan sebuah teko pengisi air berserakan di atas makam. Di depan saya, sudah banyak orang-orang yang berkerumun di bawah naungan beringin yang rindang. Auranya penuh sesak, aksi desak-desakkan pun sering terjadi. Saling sikut pun sudah biasa. Anak-anak kecil sering terhimpit dalam dekapan ibuknya. Semuanya demi sebuah “ziarah”.

Seorang pemuda remaja bersama pacarnya datang jauh dari lombok tengah. Mereka sudah sering datang setiap tahun mulai sejak masih kecil hingga masa remajanya yang sekarang. Dulu, Ia datang bersama ibunya. Sekarang, dia datang bersama pacarnya dengan balutan kerudung berwarna biru. Banyak peziarah-peziarah lain yang seperti pemuda tersebut. Mereka datang dari jauh, dari ujung timur hingga ujung barat lombok, dari utara hingga selatan lombok, bahkan tak jarang, peziarah juga datang dari pelintas pulau seberang seperti sumbawa. Inilah pusat ziarah itu. Setiap jiwa akan merasa tenang ketika mengunjungi makam-makam keramat seperti makam Loang Baloq.

Makam Datuk Laut

Makam Datuk Laut

Areal makam yang luas seakan terasa sempit. Semakin dekat dengan pusat ziarah, semakin mengerucut. Lautan manusia memenuhi pusaran makam. Semakin berebut pula orang-orang yang ingin memasuki makam. Anak-anak kecil yang terhimpit terpaksa dipisah sementara dengan ibuknya. Tepat di pintu masuk menuju ruang sang Syech, dua penjaga selalu berjaga-jaga untuk menertibkan para peziarah. Pekikan-pekikan terikan sang penjaga memekakkan telinga.

“Sabar bu, jangan dorong-dorong !”, Bapak, jangan dorong-dorong pak”, pekikan dari salah satu penjaga saat penjaga merasakan daya dorong di tubuhnya.

“Lepaskan anaknya, biarkan anaknya ibu masuk duluan.”

Sang anak pun terlepas dari ibuknya. Menunggu sang ibu yang masih tertahan oleh kuatnya penjagaan para penjaga. Jalan dengan lebar 1 meter dengan tinggi setinggi orang dewasa ini terasa sempit. Penjaga selalu siap siaga. Umurnya sekitar 25an. Tangannya menjadi palang pintu. Dua penjaga mengatur lalu lintas para peziarah agar area makam cukup menampung. Tak berdesak-desakan. Sehingga sang peziarah pun bisa khusuk berdoa. Setelah mengantri kurang lebih 30 menit, saya bisa memasuki lorong makam Syech Gauz yang dinding-dindingnya diselimutkan kain putih bersih.

Tiap-tiap peziarah memegang airnya sendiri-sendiri. Air itu diambil dari mushalla yang terletak tak jauh dari makam syech Gauz. Peziarah-peziarah langsung mengelilingi makam syech yang masih kosong. Ada perasaan yang lain yang datang pada diri saya. Aku telah berada di pusaran para peziarah. Makam salah satu Syech penyebar agama islam lombok. Makam yang berbau mistis dikelilingi oleh akar-akar pohon beringin yang menjuntai laksana rumah yang ada di tengah-tengah hutan belantara. Sebuah makam keramat yang tersohor di seluruh lombok. makam yang keramat yang berlantai tegel itu becek terkena cipratan air yang disiram ke pusara makam. Semua peziarah dari anak hingga dewasa sibuk dengan ziarahannya.

Air-air kembang tujuh rupa itu dituangkan pada pusara makam, lalu diusapkannya pada batu nisan berkain putih yang berlumuran sisa kembang tujuh rupa. Sisanya diusapkan pada sekujur tubuh, dari kepala hingga kaki, perut, leher, dan paha dengan mulut yang terus berkomat kamit. Setiap ziarah akan begitu detail agar tubuhnya terlumuri air “suci” kembang tujuh rupa yang diberkati. Mulutnya terus saling berkomat-komat melafalkan ayat-ayat alquran yang dibarengi wiritan doa.

suasana ziarah di makam Syech Gauz

suasana ziarah di makam Syech Gauz

IMG_8351 Suasana nampak hening. Ruangan makam dipenuhi aroma kembang tujuh rupa. Setiap peziarah sibuk dengan dirinya sendiri. Gerakannya bergantian dan cenderung monoton. Menyiramkan air, mengusap nisan, mengusap sekujur tubuh dengan mulut tak henti berkomat kamit. Semua begitu seterusnya. Sama tak terperi. Jika bersama anak-anaknya, air berkat tujuh rupa akan diusapkan ubun-ubun. Saya pun tak lupa untuk berziarah dengan caraku sendiri dan keyakinanku sendiri. Saya memilih berdiri di pojok makam agar saya tidak terlalu mencolok di antara peziarah lain. saya tak membawa kembang tujuh rupa ataupun air sebagaimana peziarah pada umumnya. Sesekali saya ikut memegang batu nisan, mencium bunganya sekaligus berpamitan kepada Sang Syech yang telah menyebarkan ajaran islam di Bumi Gora Selaparang. Banyak cara orang untuk melakukan ziarah dengan budayanya masing-masing.

Di jawa, ziarah pun hampir mirip-mirip. Di pusat-pusat ziarah selalu dipenuhi oleh air. Air yang menurut sebagian orang adalah keramat. Sehingga tak jarang, saat berziarah juga membawa air untuk dibawa pulang. sejak Lombok ditaklukkan kerajaan Karangasem, Bali dalam kurun waktu satu setengah abad lebih. Perpaduan Kebudayaan Islam dan hindu. Kampung Muslim hidup berdampingan dengan kampung Hindu. Jejak-jejak percampuran dua kebudayaan itu masih ada hingga sekarang. Islam Watu Telu dan Kemaliq Lingsar adalah bagian dari percampuran budaya itu. Pura Lingsar (Hindu) dan Kemaliq Lingsar (Muslim).

diupload dari kamar 209, Hotel Puri Saron, Senggigi

Parade Budaya di Acara Festival Keraton

Tarian Gendang Belek

Tarian Gendang Belek

saat saya mendengar bahwa Mataram akan mengadakan Festival Keraton dan Masyarakat Adat  (FMKA) se Asia Tenggara II, saya jadi bertanya bukankah di Mataram tidak ada keraton, tidak ada kerajaan di pulau Lombok ini.

Irwan bergaya di Depan Pendopo Walikota Mataram

Irwan bergaya di Depan Pendopo Walikota Mataram

tapi inilah keunikan Lombok, kepercayaan yang diberikan begitu besar untuk mensukseskan acara ini. mungkin kita juga perlu melihat sejarah bahwa di pulau lombok ini pernah ada empat kerajaan utama saling bersaudara Kerajaan Bayan di Barat, kerajaan Selaparang di Timur, Kerajaan Langko di tengah, Kerajaan Pejanggik di Selatan.  atas dasar kerajaan-kerajaan itu lah FMKA ini  diselenggarakan di Lombok.

Kesepuhan Cirebon keluar dari Pendopo Walikota

Kesepuhan Cirebon keluar dari Pendopo Walikota

Awan putih menyelimutu langit-langit di lombok. tak terkecuali di Lapangan Sangkareang, tempat FMKA ini. langit seakan menumpah berkahnya pada saat acara FMKA ini. panggung sudah berdiri megah. tak ada penghuni, tak ada pertunjukan. hanya backdrop.

Panggung di Lapangan Sangkareang

Panggung di Lapangan Sangkareang

Panggung yang megah ini dikelilingi Stan-stan berwarna putih yang sudah berjajar rapi. Lapangan Sangkareang berubah laksana sebuah bangunan kerajaan lengkap dengan bangunan kecil

Kontingen Keraton Kesepuhan Cirebon

Kontingen Keraton Kesepuhan Cirebon

ku cari seorang raja pun tak mau muncul. Irwan, teman ku langsung mendekati ku berdiri seorang diri di tengah. ku lihat beberapa kontingen dari “Kirab Agung Keraton Kesepuhan Cirebon”.

Puri Agung Denpasar

Puri Agung Denpasar

Irwan pun mengajakku untuk mencari sang Raja-raja Nusantara. tak perlu datang ke berbagai penjuru untuk bertemu para Raja Nusantara. cukup di acara ini. tak kurang 80 delegasi yang hadir di acara ini.

Barong,

Barong

Kecapean

Kecapean

kami berjalan ke kerumunan orang-orang itu. ku lihat beberapa kontingen layaknya pendekar jaman majapahit. bersarung putih, bersabuk merah muda dengan penutup kepala berwarna merah.

ototnya

Tari apa yach

otot-otot mereka keluar. dada mereka diikatkan tali yang saling menyilang. Badan mereka menunjukkan kegempalan tubuhnya. Tangan mereka memegang sebilah pedang yang siap menumpaskan sang musuh.

Persiapan

Persiapan

Pendopo walikota pun berhias. dua bangunan seperti tiang raksasa itu dibangun pas didepan rumah pendopo walikota. tidak beberapa beberapa kontingen itu keluar rumah pendopo walikota. ku kontingen cirebon yang keluar.

neh ototku

neh ototku

beberapa penonton sudah siap menyambut kedatangan mereka. jalan raya itu berubah seketika laksana hiburan jalanan di negeri-negeri Eropa.  Jalan raya itu berubah panggung pementasan budaya dari Seluruh Nusantara.

Walikota bersama para delegasi

Walikota Mataram, H. Ahyar Abduh bersama para delegasi

Delegasi Kerajaan

Delegasi Kerajaan  Ratu Selangor , Malaysia, YM Bonda Ratu Tan Sri Saripah Murliani dan jajarannya

Para Raja dari berbagai penjuru Nusantara itu duduk rapi di sepanjang Trotoar lapangan Sangkareang. para Raja, Sultan dan Pemangku Adat  itu dilengkapi dengan baju kebesarannya masing-masing.

Delegasi Kerajaan

Delegasi Kerajaan

Tak ada ada petunjuk di depan Raja itu. hanya baju kebesaran yang menjadi petunjuk dari mana mereka. setiap kerajaan mendapat jatah empat kursi berjajar ke belakang. lalu dari mana tau asal raja-raja itu.

Delegasi Kerajaan

Delegasi Kerajaan

urutan kerajaan mulai dari kiri ke kanan adalah kerajaan Sabang sampai Merauke, kata salah satu panitia. bahkan raja Slangor, Malaysia juga turut hadir di acara ini. saya melihat Walikota Mataram, H. Ahyar Abduh juga duduk bersama para delegasi kerajaan.

Suasana di depan lapangan Sangkareang

Suasana di depan lapangan Sangkareang

Langit semakin gelap tanda akan segera turun hujan. pohon-pohon menghembuskan angin-angin menambah sejuk panggung aksi. kerumunan warga makin memenuhi  arena festival. Beberapa kontingen keluar dari berbagai penjuru, dari Hotel Santika,  dari Pendopo Walikota, dari kantor Walikota.

kontingen “Kirab Agung Keraton Kesepuhan Cirebon”, kemudian disusul  kontingen “Puri Agung Denpasar”, lengkap dengan Barongnya. beberapa warga yang melihat itu langsung ingin foto bersama para barong itu.  kemudian muncul kontingen yang lain. tak ada petunjuk dari daerah mana kontingen ini. ini lah para pendekar. para pendekar-pendekar berbadan tegap. pendekar ini yang ku liat tadi.

Tarian

Tarian

ku dekati salah satu dari mereka. ku dekatkan mulutku ke telinganya. dari kontingen mana ini?, kataku. oh kami dari “Budaya Adat Sasak”.

ku liat langit makin gelap, suasana makin terasa lebih sore dari biasanya. beberapa petugas langsung menghidupkan beberapa lampu penerangan jalan. benar-benar seperti pertunjukan jalanan.

Suasana di depan lapangan Sangkareang

Suasana di depan lapangan Sangkareang

beberapa warga semakin antusias untuk menonton pertunjukan ini. lama-kelamaan arena panggung berubah menjadi kerumunan orang-orang yang melihat. beberapa petugas menyuruh kami meminggir. “tak boleh menghalangi delegasi-delegasi kerajaan, tak boleh menempati arena atraksi”, kata petugas itu sambil mengusir-ngusir kami agar keluar.

“mohon kepada para wartawan agar tak menghalangi para Delegasi, silahkan duduk. saya dan kawan-kawan saya yang terlanjur di tengah arena langsung duduk bersimpuh di jalan raya itu.

Tarian Gendang Belek

Tarian Gendang Belek

Iringan-iringan keluar satu persatu. Para penari Gendeng Belek berjalan keluar menuju panggung. semua mata tertuju padanya. beberapa raja langsung menyaksikan tarian Gendeng Belek yang begitu dahsyat. baru kali ini, saya bisa menyaksikan tarian lombok ini secara langsung bersama dengan para delegasi Para Raja Nusantara dan Asean.

Mendung itu bukan untuk menhujani kami tapi untuk menaungi kami dari kepanasan. menjadikan atap-atap raksasa. menambah suasana lebih romantis dan aktraktif. menambah suasana pertunjukan lebih hidup.

Tarian Massal gendang Belek

Tarian Massal gendang Belek

Tarian Massal Gendeng Belek dipadu Tarian Kemos Mandalika. mendung itu menjadi berkah untuk pertunjukan ini. lampu-lampunya. mendung pun seakan tak mau beranjak dari lokasi Festival keraton, termasuk saya. di tengah asiknya pertunjukkan itu, saya terpaksa harus keluar. meninggalkan riuhnya penonton. meninggalkan para Raja menyaksikan parade budaya. selamat tinggal.  Irwan tak tahu entah dimana. kami bertemu terus jalan bersama trus berpisah.

Jalan-jalan ke musium Mataram

12 Mei 2013

Musium Mataram

Musium Mataram

sejenak kita lupakan dulu tulisan yang ber aura pantai maupun pegunungan. yuk kita coba keliling di sekitar kota mataram.

Saya dan tiga orang sahabat berkesempatan untuk mengunjungi Museum yang ada di kota Mataram. Sebetulnya rencana kami ber lima, tapi tidak bisa karena salah satu teman kami, Dina Antariska Sari, sedang mengikuti pendidikan dan pelatihan di bogor.  Saya sendiri bertugas di Mataram mulai tanggal 12 Februari 2013. Jadi tepat tiga bulan saya sudah tinggal di mataram. Rencana ini sebetulnya sudah direncanakan seminggu sebelumnya, tapi kami baru berkesempatan untuk mengunjunginya.

Alquran hand writing dan baju kerajaan Bima

Alquran hand writing dan baju kerajaan Bima

Orang yang pertama kali mengajak saya ke musium adalah Gusti Dian Prayogi. Kebetulan ibunya Dian sedang mengunjungi dian di Mataram, dan Dian pun berencana mengajak ibunya ke musium. Tapi Ibunya Dian tidak mau, Dia pengin di kos saja. Jam menunjukkan pukul 11.30, kami pun berangkat bersama-sama menggunakan sepeda motor. Tidak sampai 10 menit, kami sudah sampai di depan pintu gerbang musium Mataram. di bagian depan bangunan tertulis jelas “Musim Negeri Nusa Tenggara Barat”.

Miniatur Candi Prambanan

Miniatur Candi Prambanan

Saya pun bertanya-tanya dimana tempat parkirnya. Akhirnya petugas musium memberikan petunjuk tempat parkir. Ternyata parkir musium ada di seberang jalan, sehingga saya harus memutar balik. Di tempat parkir ternyata sudah ada dua rombongan buss pariwisata. Setelah  melewati pintu gerbang utama, Petugas musium langsung mempersilahkan kami untuk membeli karcis terlebih dahulu. Harga karcisnya cukup murah hanya Rp2000. Kami pun memasuki musium. tidak jauh dari karcis, beberapa anak sekolah sedang mengelilingi sesuatu. Saya pun berusaha mendekatinya. Ternyata yang dilihat adalah buaya yang sudah diawetkan yang ada di dalam kaca. Ukurannya cukup besar, panjangnya 4,1 meter, lebarnya 1,1 meter, dan tingginya 0,6 meter.

berbagai macam alat kesenian di Musim Mataram

berbagai macam alat kesenian di Musim Mataram

Buaya ini termasuk buaya muara (latinnya Crocodiyus porosus). Spesies buaya Muara ini termasuk spesies buaya terbesar dan terpanjang  di dunia. Bahkan termasuk buaya terganas di dunia.

Buaya muara mampu melompat keluar dari air untuk menangkap mangsanya. Bahkan bilamana kedalaman air sungai melebihi panjang tubuhnya, buaya muara bisa melompat serta menerkam secara vertical mencapai ketinggian yang sama dengan panjang tubuhnya.

Hup…. Hanya dalam satu kali lompatan, kamu bisa saja sudah ada di dalam mulutnya.

berbagai jenis batu hasil penambangan oleh Newmont

berbagai jenis batu hasil penambangan oleh Newmont

Keganasan buaya muara sudah terbukti banyak memakan korban. Buaya muara yang ada di musium ini sudah memakan korban manusia dan hewan ternak. Karena sudah banyak memakan korban tersebut dan meresahkan masyarakat, akhirnya masyarakat sekitar menangkap dan membunuhnya kemudian diserahkan ke musium Mataram sejak akhir Desember 2010. Buaya Muara ini berasal dari perairan sungai ama la HB, kecamatan Woja, Kabupaten Dompu.

Nah bagi yang mau tahu lebih detail tentang keganasan buaya muara, silahkan cari referensi atau browsing yaa….hehe

profesi penduduk lombok pada jaman dulu

profesi penduduk lombok pada jaman dulu

Setelah cukup puas mengamati dan melihat buaya Muara, kami pun mau masuk ke gedung pameran utama. sebelum pintu masuk ada dua Meriam . satu Meriam ada di sebelah kanan, satu lagi ada di sebelah kiri pintu masuk. Di bagian kiri pintu masuk, ada beberapa miniatur yang membuat saya tertarik untuk mengunjunginya. Miniatur yang ada di dalam kaca itu antara lokasi tambang Newmon, gunung tambora, dan gunung rinjani. Dilihat dari miniaturnya aja menarik apalagi aslinya. Semoga di lain kesempatan saya dapat mengunjunginya . Di bagian sisi kanan jalan ada beberapa jenis cangkang jenis satwa yang dilindungi antara lain Kerang Kepala Kambing, Nautilus Berongga, kima raksasa, Triton Terompet, kerang muatiara, susu bundar, siput Lola, dan Trakalola, dll. Setelah selesai mengamati bagian teras musium, kami pun masuk ke pameran utama.

Meriam di Musium Mataram

Meriam di Musium Mataram

Di lorong menuju pameran utama itu ada miniatur candi Borobudur dan komplek candi Prambanan. Di depan pintu masuknya, kami langsung disambut dengan deretan etalase kaca yang lumayan besar. Di depan pintu ada empat lemari kaca. empat etalase kaca itu adalah busana pengantin empat suku yang ada di mataram, yaitu suku sasak, suku Sumbawa, suku Bima, dan suku bali. Di bagian sisi kiri jalan ada beberapa antara lain contoh batu tambang newmon. Ada sekitar 12 jenis batu newmon. Ada yang berbentuk tabung dan ada juga yang tidak beraturan. Di sampingnya lagi ada beberapa batu fosil yang ukurannya kecil-kecil.di depan batu fosil itu ada baju besi dilengkapi dengan topi besi dan senjatanya. Di samping baju besi itu ada alat pertanian jaman dulu seperti alat bajak yang terbuat dari kayu. Uniknya hanya alat bajak saja yang tidak ditaruh di dalam kaca. Di sekitarnya ada banyak lagi alat-alat pertanian yang ukurannya kecil-kecil. Di sini juga pun ada perlengkapan nelayan.

Setelah sisi bagian kiri selesai, saya balik arah menuju sisi kanan. Tepat di belakang 4 etalase kaca busana pengantin tersebut, Ada Kaca yang ukurannya agak besar dan menonjol. Ternyata itu adalah alat untuk menenun pakaian khas mataram. alat itu cukup sederhana, hanya terbuat dari kayu, dan terlihat simple. Bahkan ada teman saya, dewi ryan agustin, bilang begini “alat sederhana yang kayak gini, bisa membuat kain tenun”.  Mendengar ucapan seperti itu, saya hanya bisa membuatku tersenyum. Di depan alat tenun tersebut, ada tiga kaca yang ukurannya lebih kecil. 3 etalase kaca itu adalah hasil tenunan dari alat-alat tersebut. Dari tiga etalase kaca tersebut semuanya berbeda. Kain tenunan hasilnya bagus-bagus. kain-kain tersebut dilindungi dari kaca, sehingga saya tidak bisa menyentuh atau merabanya.

kain Songket Mataram

kain Songket Mataram

Di sebelah kanan alat tenun tersebut ada beberapa jenis senjata. Senjata tersebut digunakan untuk menjaga diri dan alat mengumpulkan makanan. Senjata-senjata tersebut antara lain : pedang yang bertuliskan arab, badik (senjata tikam dari Bima dan Lombok Timur ), Parang (senjata tetak asal Sumbawa), Golok, dan tempius (senjata tusuk asal Lombok). Di samping senjata ada koleksi keris, ukurannya mulai dari yang kecil sampai yang besar, bentuknya ada yang lurus dan yang meliuk-liuk. Di sampingnya keris itu pandai besi. Pandai besi itulah yang membuat alat-alat seperti keris, pedang, dll.

Di depan pandai besi, ada beberapa alat-alat musik tradisional seperti gendang, wayang, seruling, rebana dan gamelan, dll. Di depannya lagi ada beberapa jenis topeng. di samping kanan topeng, ada koleksi dari 3 agama, yaitu agama Islam, Hindu dan Budha. Koleksi agama Islam antara lain Sungkup Masjid,  Alquran tulis tangan dari Lombok, dan lain-lain. Koleksi agama Hindu misalnya alat pedupaan, Talam, Dulang, Ceret, dan patung Lembu, dll. Mungkin tiga agama itulah yang bisa mewakili awal-awal kerajaan yang ada mataram. bahkan agama hindu di mataram seperti pusat hindu di indonesia yaitu Bali. Jangan heran kalau anda melihat aura bali di mataram. kehidupannya pun berdampingan dengan agama islam. Jadi islam dan Hindu di mataram tidak dapat dipisahkan. Selalu berdampingan.

Nekara

Nekara

Di samping koleksi agama tersebut ada nekara. Nekara adalah gendang perunggu berbentuk seperti dandang berpinggang pada bagian tengahnya , nekara dianggap benda suci yang berfungsi sebagai benda upacara. Di samping kanan nekara, ada semacam pakaian kerajaan. Di bagian pojok ada baju bangsawan, di tengah-tengahnya ada kaligrafi bahasa arab yang ditulis pada kain. Kain tersebut keliatan sudah tidak utuh lagi. Ada beberapa bagian yang sudah robek. Sekian perjalanan saya ke musium Mataram semoga berkenan

Follow @caderabdulpaker