Pagi di Kaumrejo, Ngantang

Sunrise kampung di bawah bukit

Sunrise kampung di bawah bukit

Kampung Kaumrejo, Ngantang

Kampung Kaumrejo, Ngantang

Pagi itu, kesunyian dan keheningan melingkupi Dukuh Gading, kampung yang berbatasan langsung dengan Bendungan Selorejo. Suara adzan subuh berkumandang memecah keheningan malam di satu-satunya mushalla kampung ini. terdengar suara kakek-kakek yang terseok-terseok-disebabkan giginya yang sudah tanggal-melantunkan adzan panggilan shalat. Beberapa warga berjalan menuju sumber suara. Di Mushalla kampung ini, sebagian besar jamaahnya adalah para laki-laki dan perempuan yang sudah cukup lanjut usia, yang kepada mereka lebih tepat dipanggil dengan sebutan “Kakek/nenek”.

Suasana Kampung terasa dingin, dan pada bulan Juli kampung ini terasa lebih dingin. Dingin yang membuat malas sekedar untuk bangun apalagi menunaikan kewajiban shalat subuh. Dingin ini membuat badan menggigil. Dingin membuat semua orang malas untuk mandi pagi. Akh lebih baik menarik selimut lagi daripada harus mandi pagi. Tapi, ini tidak berlaku Kakek dan Nenekku. Aku sering memanggilnya sebutan mbah Kung dan Mba Uti. Kakek Nenekku membiasakan mandi sehabis bangun tidur. Tujuan adalah: untuk menghilangkan rasa dingin itu sendiri. Aku sering mencontohnya, tapi sering juga gagal. Gagal melawan rasa dingin saat air pegunungan itu menjalar mengaliri bagian tubuh saya. Hrrrrrrrrr…. Akh mungkin kalau sudah terbiasa pasti rasa dingin tak akan mampir lagi.

Lembayung warna

Keheningan

Setelah saya bertemu beberapa orang termasuk istri saya sendiri. Dia bilang kepada saya bahwa dia alergi dingin. Saya sampai sekarang belum bisa memahami orang-orang yang terlahir dan tumbuh besar di pegunungan bisa terkena penyakit alergi dingin. Gejalanya: Panas,Pilek dan dll. Dingin kadang memang menimbulkan keanehan. Keanehan bagi orang-orang gunung yang sekarang menjadi alergi dingin.

Kampung ini berada di lembah-begitu saya menyebutnya. Kampung ini dikelilingi bukit-bukit dan pegunungan. Barat-Timurnya adalah bukit, selatan utaranya adalah bukit bersambung Gunung Kelud yang letusannya paling tersohor itu. Di bawah bukit sebelah barat dan selatan ada Waduk Selorejo yang sering jadi tempat memancing dan camping.di Malam 28 Puasa Ramadhan ini, saya menginap di rumah mertua yang jaraknya beberapa langkah saja dari Mushalla Kampung. Selama 4 hari saya akan tinggal di kampung ini, melihat aktivitas warga kampung yang berprofesi sebagai pemerah susu ini.

IMG_8026

berteduh

berteduh

Langit pagi semakin cerah, Warna Senja bersembunyi di balik bukit. Aktivitas warga kampung ini sudah dimulai. Sebagian ada yang memerah susu, sebagian ada yang hendak pergi ke sawah di seberang waduk, sebagian lagi memancing.

Aku berjalan menyusuri jalan kampung menuju ke bibir waduk. Angin segar berhembus, sesekali aroma kotoran sapi perah yang baru keluar bercampur dengan hembusan angin lalu… itu suatu yang alami, hanya di kampung ini bisa melihat sapi perah. Jujur, baru di kampung inilah saya bisa bertemu dengan sapi perah. Selama ini saya hanya membayangkan sapi perah seperti di buku-buku SD.

Aku selalu punya kesempatan dan menyempatkan diri untuk sekedar bersantai ria di bibir waduk kalau mudik ke kampung istri. Ntah gimana, aku selalu tertarik main-main di sini. Teduh di bawah rindangnya pepohonan memandangi gagahnya gunung kelud yang sedang tidur. Di sini saya duduk santai melihat refleksi orang-orang yang lalu lintas. Yang paling membuat kesal adalah perahu motor. Saat perahu motor melintas, waduk seketika berubah. Air yang tenang menjadi kawanan ombak yang menggulung pelan menuju ke tepian.

Kampung Gading di waktu pagi

Kampung Gading, Kaumrejo di waktu pagi

Hal yang paling saya suka adalah melihat burung-burung bangau putih terbang ke sana kemari mencari ikan. paruhnya yang panjang sangat cocok untuk mencari ikan-ikan kecil yang berada di bawah air yang tenang. Burung bangau memiliki insting yang kuat sehingga bisa melihat aktivitas di bawah air. Lain bangau, lain lagi dengan si burung walet. Komunitas burung ini merupakan yang terbanyak yang sering terbang di atas waduk. Tubuhnya yang kecil membuatnya lincah dan suka bergerak. Barangkali burung walet ini lah yang paling suka terbang. Tiba-tiba dia terbang bersama para petani yang membawa hasil pertanian atau bersama para pemancing. Saat dia melihat mangsa di bawah air, seketika itu juga dia langsung mematuk untuk kemudian terbang lagi dan terbang trus.

Aktivitas pagi di waduk selorejo begitu banyak dan beragam. Banyak orang yang melintas hanya sekedar untuk sekedar melintas. ada yang mengayuh perahu kecil untuk menyeberang ke sawah miliknya di Selatan waduk. Ada yang membawa rumput, ada yang membawa jaring. Jika saat musim durian, banyak para petani yang membawa durian. Bertumpuk-tumpuk di perahu kecil yang cukup untuk satu dua orang itu. Kecamatan Ngantang memang terkenal dengan hasil duriannya. Saat musim durian datang, banyak yang datang ke Ngantang hanya sekedar untuk berburu durian.

Pelintas

Pelintas bersama burung waduk

Pelintas

Pelintas

Hari itu, termasuk dalam pelintas waduk Selorejo adalah seekor anjing yang dibawa oleh majikannya. Anjingnya berada di ujung perahu. Majikan yang mungkin profesinya tidak jauh beda dengan pelintas yang lain yaitu Penjaring Ikan. Antara Majikan dan Anjing ada sebuah jaring-jaring ikan.

Kabut pagi menjalar lembah Ngantang. Waduk-waduk pun berkabut, air waduk seperti mengeluarkan asap putih. Nafasku pun ikut berkabut. Mentari pagi masih berada di balik bukit, mengeluarkan warna merah senja yang semakin memperjelas lekuk-lekuk bukit yang mengelilingi Ngantang. Suara shalawatan keluar dari salah satu masjid Agung Baiturrahman Ngantang. Memecah kesunyian dan keheningan kampung. Kampung terasa lebih hidup

Shalaatullah, Shalamullah Alaa Tooha Rasulillah. Shalaatullah, Shalamullah.

Koperasi

Koperasi

Sapi Perah

Sapi Perah

Shalawat pagi itu menemani aktivitas di Desa Kaumrejo dan Desa Sumber Agung. Dua Desa termaju dan saling bersebelahan di kecamatan Ngantang. Shalawat itu juga memberkati salah satu rumah yang cukup sibuk. Sepagi ini, di salah satu “rumah” sudah penuh dengan orang-orang kampung yang mengantarkan susu. Susu segar yang diperah langsung oleh para peternak akan disetor ke penampungan susu. “rumah” itu adalah KUD Sumber Makmur yang berada di dusun Gading, Desa Kaumrejo. Rumah ini sebagai tempat penampungan susu sebelum dikirimkan ke Pabrik Nestle. KUD ini mendapatkan pelatihan dan pembinaan dari Nestle, Indonesia. Motto KUD ini adalah Air Susu Asli, Bersih, dan Cepat.

Asli berarti susu tidak ditambah apapun artinya susu yang akan disetorkan harus yang asli keluar dari susu sapi, Susu juga harus bersih baik Pemerah, Sapi, Kandang, dan Peralatan, dan yang ketiga adalah Cepat, susu yang sudah diperah harus langsung ditampung di bak penampungan berpendingin.

Nelayan dan seekor anjing

Sang Tuan dan seekor anjing

Dalam Bayang-bayang

Dalam Bayang-bayang

Untuk menjaga kualitas susu, KUD bersama Nestle sudah melakukan sosialisasi dengan cara menempelkan selebaran di tembok-tembok KUD antara lain: bagaimana mencuci milk can, sumber pencemaran bakteri dalam susu. selain itu, untuk membantu warga dan meningkatkan produksi susu, Nestle memberikan subsidi pemasangan tempat minum otomatis untuk para sapi.

Menyebar Jala

Menyebar Jala

Shalawat-shalawat nabi masih melantun shahdu di desa yang tenang. Masjid ini memang sering memperdengarkan shalawat kepada warganya di saat warga hendak melaksanakan aktivitas pagi. Tapi, perasaanku ada sesuatu yang lain. Shalawat seakan menandakan bahwa besok pagi akan datang idul fitri yang sangat dinanti oleh penduduk kampung. Warga sangat berharap penentuan 1 syawal itu.

Berharap tidak ada politisasi penentuan syawal 1 atau 2 diatas derajat.

 

 

Amukan Gunung Kelud di Ngantang

Gunung setelah meletus. rumput-rumput gunung berwarna kecoklatan

Gunung setelah meletus. rumput-rumput gunung berwarna kecoklatan

Pagi ini begitu damai di salah satu dusun Gading, Desa Kaumrejo Ngantang. Mentari masih enggan. Terhalang oleh gunung Kawi yang tinggi menjulang. Awan putih menggelangtung di puncak gunung. Seperti kopiah Yahudi di ujung kepala. Kampung ini masih diselimuti  rasa dingin. Dingin selalu identik rasa malas. Termasuk rasa malas itu mulai merasuk ke dalam diri. Saya mulai males sekedar untuk mengabadikan matahari terbit di kampung ini. sunrise itu terlewat begitu saja tanpa bidikan kamera. Saya hanya mampu melirik dari bilik-bilik kaca tak tertembus angin dingin khas pegunungan.

Kedinginan harus dilawan dengan rasa dingin itu sendiri. Itu kuncinya. Dingin, maka mandilah dengan air dingin itu sendiri. Maka rasa dingin akan hilang dengan sendiri. Saya termasuk berhasil mengalahkan rasa dingin itu dengan langsung mandi dengan air yang tanpa terlebih dahulu dihangatkan. Rasa dingin juga bisa dilawan dengan minum sesuatu yang hangat seperti teh dan kopi hangat. Sehingga, tak jarang kebiasan penduduk pegunungan  suka hal-hal berbau manis dan hangat. Kopi dan teh selalu menjadi pertanyaan di setiap pagi. Mau Teh atau Kopi, kata nenek menawarkan. Teh aja nek, sahutku dengan agak ragu. Maklum saya termasuk orang yang jarang mengkonsumsi teh hangat setiap pagi. Rutinitas minum kopi atau teh telah menjadi kebiasaan di kampung ini. tidak tahu sejak kapan kebiasaan itu dimulai. dan sekarang saya merasakan kebiasaan kampung meminum segelas teh hangat. Mungkin karena hawanya dingin ini , teh itu terasa lebih nikmat saat masuk ke kerongkongan.

Kampung ini bagian timurnya berbatasan gunung Kawi, gunung Arjuno di sisi utara, gunung Kelut di sisi timur laut dan bagian selatannya langsung berbatasan dengan kaki waduk selorejo. Sepanjang aliran waduk selorejo mulai dari ujung barat sampai dengan ujung timur dikurung oleh bukit yang namanya selokurung. Setelah itu, disambung dengan gunung kelut dan gunung kawi.

Desa Pandansari di bawah gunung kelut

Desa Pandansari di bawah gunung kelut

Bukit Selokurung itu masih menjadi pertanyaan. Nama itu seperti gabungan Selo dan Kurung. Selo sendiri adalah legenda tokoh tanah jawa yang bernama Ki Ageng Selo, sang penangkap petir. Nama belakang dari sang penangkap petir itu kemudian digabung dengan salah satu bukit yang mengurung kampung ngantang menjadi “Selokurung”. Jadi tepatlah kampung ini bener-benar terkurung oleh bukit-bukit dan pegunungan. Kampung yang terkurung. Terselimuti oleh kedinginan.

Berjalan-jalan di kampung. Pak Yono, pemuda penggangguran setengah baya di kampung ini begitu semangatnya. Jalan-jalan kampung yang tertutupi oleh pasir dan debu gunung kelut dicangkulnya. Karung-karung disampingnya terisi penuh oleh pasir dan debu padahal pasir yang dicangkulnya tak lebih dari luas kasur spring bed. Tebalnya mencapai 10 cm. “wah sebelum turun hujan tebalnya lebih lagi mas,” kata pak Yono kepada saya. Air hujan itu telah membawa debu dan pasir ke selokan kampung kemudian berakhir di waduk selorejo. Jadi lah waduk selorejo semakin mendangkal. Pak Yono itu terus melanjutkan cangkulannya. Sapa bilang Pak Yono adalah pemuda pengangguran.

Setidaknya, selama pasir dan debu kelud ini masih numpuk di jalan. dia akan tetap berkarya membersihkan. menyeroknya kemudian memasukkan ke dalam karung. Karyanya akan berbuah imbalan dari penduduk yang merasakan manfaatnya. Bisa mendapatkan makanan gratis atau secuil ongkos untuk membeli baju baru. Dengan membersihkan debu, Dia ingin membuktikan dirinya bahwa dia bukanlah pemuda pengangguran sebagaimana digosipkan para warga kampung. Ini adalah sebagai bentuk aktualisasi dirinya. Dia ingin membuktikan bahwa saya bukanlah pengangguran tapi pekerja.

Sesekali penduduk memberhentikan kendaraanya kemudian menyapanya. Penduduk kampung yang jalan pun menyapanya. Senyum pun keluar bibirnya. Dia menyambut sapaan hangat yang menyapanya. Dia begitu eksis di kampung gading ini. setidaknya selama debu ini masih menumpuk di jalanan. hanya dia yang terlihat membersihkan jalanan kampung dari ujung barat ke timur. Akh pak Yono emang hebat.

“Kenapa bapak mau membersihkan pasir dan debu jalanan kampung ini,” kataku menyela pekerjaannya.

“Ya supaya jalannya kembali seperti dulu lagi mas, Lancar.” Katanya pelan. Tak ada embel-embel biar dikataian penduduk sebagai pemuda pengangguran. Atau aktualisasi seperti katanya Maslow. No.  just biar lancar.

Trus pasir yang dalam karung-karung itu mau dikemanain pak?. Wah ngak tau mas, jawabnya tegas.

Saya jadi teringat desas desus di kampung Ngantang bahwa pasir-pasir letusan gunung kelut ini tak boleh  diperjualbelikan. Desas desus itu antara lain Ada seorang warga yang menjual pasir letusan gunung kelut. Setelah pasir itu terjual dan uang diterima. Si penjual akhirnya jatuh sakit dan masuk ke rumah sakit. Akhirnya, si penduduk lain menyarankan agar pasir yang telah dijual agar dikembalikan kepada penjual. Dan si penjual akhirnya sembuh kembali setelah pasir-pasir itu kembali. Gimana kebenaran tentang pasir gunung kelut. Wallahuaklam. Jadi karena ada kejadian seperti itu, penduduk ngantang tak ada yang berani menjual pasir hasil letusan gunung kelut. Di beberapa rumah warga tumpukan pasir-pasir berwarna hitam menghiasi halaman rumah penduduk.

Saya pun berlalu meninggalkan pak Yono sendirian. Saya berjalan ke bibir waduk selorejo yang bibirnya jontor karena tumpukan sampah dan eceng gondok. Bahkan, ada bibir-bibir selorejo ada sebagian yang berubah fungsi menjadi warung-warung setengah permanen. Tak tahu ntah siapa yang mengatur hak penggunaan atas tanah dipinggir waduk ini. lama-lama kelamaan. Anak-anaknya mengakui bahwa tanah itu menjadi hak mereka. akh harusnya pemerintah aka PT. Jasa Tirta, pengelola waduk seloreja melarang bangunan-bangunan liar. Atau kah ada permainan sehingga memang sengaja dibiarkan.

Akh bibir waduk selorejo. Ini bibir yang diinjak orang. Para pemancing. Para petani yang wara wiri ke sawah yang berada di bawah bukit selokurung. Terlihat satu dua orang petani mengayuh perahu kecilnya. Menembus tenangnya air waduk selorejo menuju ke sawah-sawah. Suasana masih terlalu dingin. Para petani sudah bersemangat melihat hasil tani yang disiram oleh abu vulkanik merapi.

lembah pandansari dipenuhi oleh truk-truk bantuan dan relawan

lembah pandansari dipenuhi oleh truk-truk bantuan dan relawan

pagi ini saya berkesempatan melihat Gunung yang banyak memuntahkan debu itu sekitar 18 hari yang lalu. Mentari pagi bersinar begitu terang menyinari bagian puncaknya. lekuk-lekuk gunung kelut terlihat begitu jelas, cantik dan menenangkan laksana gadis cantik.  burung-burung pun tertarik untuk hinggap di punuk punggungnya. beterbangan ke sana ke mari di puncak gunung. Burung-burung itu tahu bahwa gunung sudah bersahabat dengan alam. Burung-burung itu juga sebagai pertanda bahwa suasana kelut sudah tidak mengeluarkan gas berbahaya lagi.Ketenangan dan kejernihan air waduk selorejo masih sebagian tertutupi oleh awan-awan yang menggelayutinya.

Sesaat  setelah gunung kelut meletus, sebelum hujan turun. Suasana waduk selorejo seperti waduk yang direkam oleh kamera hitam putih jaman dulu. Pepohonan, air waduk, sampah, perahu semuanya tertutup oleh abu persis seperti hasil jepretan kamera tahun 80 puluhan.

Kembali ke rumah, saya mohon ijin ke ibu mertua untuk melihat-lihat desa pandansari, desa terparah yang terkena dampak gunung kelut dan banjir lahar dingin. Jadi lah obrolan ngalor ngidul tentang gunung kelut. Ibu menceritakan awal-awal gunung kelut meletus. Ibu pun mulai mulai menceritakan tentang meletusnya gunung  kelut. Sebelum dan sesudah gunung itu meletus.

Sebelum kejadian letusnya gunung kelut. Ibu mengikuti pengajian di salah satu rumah teman. Waktu itu, ustadnya berceramah tentang dahsyatnya kekuatan shalawat. Jika anda sakit, bacalah shalawat. Jika punya banyak utang, baca lah shalawat. Jika ada musibah, bacalah shalawat. Itu salah satu inti pesan pengajian malem tertanggal 13 Februari 2013. Pengajian selesai, peserta pengajian pun bubar kembali ke rumah masing-masing. Ibu pun pulang ke rumah kemudian lanjut shalat dan bershalawat. Ibu merasa ada gempa tapi tak sadar. Kemudian ibu mencubit-cubit pipinya. Akh benar. Berarti saya sadar, batinnya. Gempa pun muncul lagi. Makin besar.. duarrrr…

Penyebrangan kali sambung menuju desa pandansari

Penyebrangan kali sambung menuju desa pandansari

Di tempat lain, BMKG telah mengubah status gunung kelut menjadi awas. Perubahan status ini begitu cepat dan mendadak, kata salah satu ahli di media.

Kampung yang terletak di zona “aman” ini tak dipersiapkan apapun. Masker ataupun tempat pengungsian. Para petugas pun tak ada yang bersiaga malam itu. satu jam berlalu. Tepat pada pukul 22.50 Wib. Gunung kelut benar-benar meletus. Mengagetkan semua pihak termasuk pengamat kegunungan yang paling tahu tentang seluk beluk tentang gunung. Unpredictable.  Semua tak menduga bahwa gunung kelut akan meletus secepat ini.

Dentuman keras gunung Kelud menimbulkan warna kemerahan di kaldera gunung kelut. Merah seperti darah. Batu-batuan vulkanik terhamburkan. Pasir dan debu beterbangan hingga 17 Km. menyerupai jamur raksasa yang terbang menuju langit. Menghambur ke sekelilingnya Blitar, Kediri, dan Malang. Di sisi Malang, kampung Ngantang seketika langsung panik. Mushalla dan Masjid langsung bersaut-sautan melantunkan Adzan. Di ujung sana terdengar suara diba’an. Ntah dari masjid atau mushalla. Penduduk panik berhamburan. Ada sebagian yang tak sadar bahwa kelut meletus. Kenapa ada adzan malam-malam gini, kata teriak salah satu warga kepada yang lain.

Abu-abu menjulang hendak menembus keperkasan langit. Angin membawa ke segala arah menembus batas kabupaten. Menyiram sebagian malang, blitar dan kediri. Debu menuju arah utara melewati surabaya. Terbang di atas jembatan terpanjang di Indonesia, Suramadu. Abu kelud akhirnya tiba di kampungku di dusun srapong, Torjun, Sampang pada saat pagi hari sebagaimana yang diutarakan oleh ibu saya melalui telepon “yaaa tadi sempat hujan sebentar,” katanya diujung telepon.

Jalan menuju dusun Bales, Pandansari

Jalan menuju dusun Bales, Pandansari

Angin membawa debu-debu kelut menuju ke arah barat laut melewati batas provinsi menuju jogja. Jogja diselimuti oleh abu kelud. Jika difoto, maka jogja seperti menggunakan kamera jadul. putih kelabu. Titik Nol Jogja, Bandara Adi sucipto termasuk pesawat-pesawatnya, Candi Prambanan dan Candi Borobudur semua diselimuti oleh debu kelud. Dalam jangka waktu kurang dari 12 jam Abu kelut telah menempuh ratusan kilo meter- sekitar 600 km.

Gunung kelut meletus, kata teriak warga yang lain. Warga desa kaumrejo berhamburan ke waduk selorejo di belakang rumah. Dari sini kilatan cahaya gunung kelut terlihat. Semua terekam dalam perekam alami otak manusia. Ibu hanya bershalawat seperti tausiyah ustad malam ini. pokoknya bershalawat, begitu pesan sang ustad. Hanya ibu yang tinggal di rumah. Rasa takut pun muncul. Akhirnya, ibu memutuskan pindah ke rumah nenek yang berada di seberang jalan. Dalam keluarga ini hanya shalawat yang menjadi andalan. Shalawat. Shalawat.

Kelud menyebarkan batu kerikil dan abu menghujani kampung ngantang. Makin lama abu makin menumpuk. Yang tak kuat menahan pasir dan abunya. Seketika akan menjadi letoy, roboh dan tak berdaya. Dubrakkk…… “ehh kanopi rumah ginik roboh. Kasian ya bu ginik tinggal sendirian di rumahnya. Kanopi bu ginik roboh, kanopi bu ginik roboh, kanopi bu ginik roboh”  teriak-teriak pemuda kampung yang suaranya sampai terdengar oleh ibu Ginik dari rumah nenek.

Penduduk sekitar gunung kelut diliputi ketakutan dan kegetiran. Tangisan-tangisan bersahut-sahutan. Shalawat menjadi andalan untuk menenangkan. Mengharap pada sang pencipta bahwa gunung kelut tak muntah lagi. Shalawat…shalawat, kata nenek berusaha menenangkan ibu yang masih sesenggukan sedari tadi. Shalawat itu menenangkan jiwa.

Berbagai media menyiarkan berita tentang meletusnya gunung kelut. Kediri yang menjadi sorotan, karena gunung kelut berada di wilayah kediri. Ngantang terlupakan. Padahal di sini tak ada bala bantuan.

Kampung kaumrejo masih terjaga. Siap siaga kalau-kalau kelut meletus lagi. pagi pun pecah. Awan kelabu menyelimuti. Jalanan penuh dengan pasir. Di seberang sana, rumah ibu dengan kanopi yang terseok-seok tak beraturan. Debu beterbangan. Jarak pandang tak jauh. Bau belerang menyengat menusuk-nusuk hidung.  Ibu berjalan menyeberang jalan dengan menggunakan sarung sebagai penutup kepala.

Rumah-rumahan sawah yang masih kokoh menahan terjangan banjir lahar dingin gunung kelut

Rumah-rumahan sawah yang masih kokoh menahan terjangan banjir lahar dingin gunung kelut

Ujungnya digunakan untuk menutupi hidung dan mulut. Persis seperti maling kesiangan.  Berjalan di antara di sela-sela kanebo rumahnya yang runtuh  tadi malam. Beberapa warga kampung sibuk untuk mengungsi dengan inistiatif sendiri. tak ada bantuan pemerintah yang katanya sudah menyiapkan segala keperluan khusus gunung kelut. Tak usah muluk-muluk. Masker aja tak ada, gerutu penduduk kampung mengumpat pemerintah. Bu Ginik (nama panggilan Mertua) ayo mengungsi, teriak salah satu warga di kampung gading. Mereka berjalan dengan menggunakan alat masker-maskeran. Sarung dan kerudung bisa berfungsi sebagai masker.

Ibu bergegas mengemas baju-baju yang hendak dibawanya. tak tahu mau kemana. Yang pasti keluar dari kampung ini secepatnya. Setelah siap, ibu berjalan bersama kakek nenek yang jalannya terseok-seok oleh debu jalanan yang sudah menumpuk. Berjalan di pasir dan debu kelut seperti berjalan di pasir pantai. Berjalan sedikit saja sudah terasa capek. Terpaksa berhenti. Kemudian berjalan lagi menyusuri jalan-jalan yang dipenuhi pasir dan debu. Debu beterbangan ke  sana kemari masuk ke dalam sela-sela rumah, tempat tidur, pepohonan. Bau busuk menyengat ke dalam hidung. Membuat pusing bagi penghirupnya. Gas belerang beterbangan memenuhi udara ngantang.

Sebagian masuk ke dalam paru-paru makhluk hidup termasuk manusia. Ibu bersama kakek nenek berjalan sejauh dua kilometer. Berharap ada tumpangan yang mau mengangkutnya. Sepanjang perjalanan tak ada polisi, tak ada tentara ataupun pemerintah yang siap siaga untuk memberikan tumpangan ataupun memberikan masker atau sekedar menyemangati penduduk. Hanya satu polisi yang terlihat. Itupun bukan mau menolong tapi juga ikut mengungsi. Kosong dan kelabu. Itulah suasana saat itu.

Saat ada truk-truk yang datang, maka seketika itu juga warga berhamburan berebut naik. Shalawat itu berbuah manis. Sebuah mobil avanza lewat di depan ibu. Ibu mencegatnya agar diberi tumpangan. Alhamdulillah.. ibu dan kakek nenek mendapatkan tumpangan yang enak. Mungkinkan itu buah dari shalawat seperti kata pak ustad. Bisa jadi. Wallahuaklam. Semua rejeki datangnya dari tuhan termasuk rejeki dapat tumpangan.

Anaknya di malang sudah siap-siap menyambut ibu dan kakek neneknya dari perjalanan yang menggetirkan. Menembus kelambu debu-debu yang beterbangan yang menyesakkan dada. Setelah menempuh satu jam perjalanan, Mereka sekeluarga pun tiba selamat dengan berselimutkan debu. Semua Tak kurang suatu apapun. Hanya debu-debu kelut yang menyelimuti.

Saya sendiri tak tahu tentang keadaan kelut pada saat kejadian malam itu. Saya hanya mendengarkan dari istri saya yang langsung menghubungi saya malam itu sekitar 2 jam setelah gunung kelut meletus. Di Mataram, dampak gunung kelud tidak terasa. Siang itu, matahari tertahan menyinari lombok. awan kah atau debu kelut yang memenuhi angkasa. Ku hanya mampu menebak.

Gunung kelud menjadi headlines di berbagai media cetak. Topnews di berbagai media televisi. Itulah kelud. Gunung dengan ketinggian 1.731 mdpl mampu menyedot perhatian seluruh indonesia, bahkan dunia termasuk Nasa.Nasa menggabarkan bahwa debu-debu yang beterbangan seperti jamur raksasa yang menuju langit dengan ketinggian sekitar 20 km.

Dusun Munjung yang sebagian atapnya beratapkan terpal

Dusun Munjung yang sebagian atapnya beratapkan terpal, sebagian sudah diganti genteng baru, sebagian lagi beratapkan langit

—-

Langit hari itu begitu kontras dengan jalanan di ngantang. Langit yang cerah dengan Jalanan berdebu yang beterbangan dibawa kendaraan yang hilir mudik. masuk ke rongga-rongga mulut yang ngak ditutup. Kali ini saya ingin melihat desa terparah yang terkena dampak erupsi gunung kelud. Melewati masjid Agung Ngantang yang kanebonya ambruk tak kuat menahan beratnya beban abu kelud. Atau SMP 1 Ngantang yang atapnya sudah rubah. Beberapa relawan sibuk menggali dan mengangkut pasir ke dalam truk pengangkut yang sudah berjejer di depan masjid. Mahasiswa, polisi, tentara semua sibuk menjadi relawan.

Debu beterbangan terbawa angin.  Pohon-pohon masih diselimutu abu. Hijau keputihan. Kantor Jasa Tirta sudah tak beraturan. Escavator ikut andil meratakan. Di balik puing-puing kantor, terlihat gunung kelut dengan gagahnya. tak ada pos polisi. Semua polisi sudah berdiri di pintu masuk kawasan desa pandansari siap menghadang dan mengintrogasi orang-orang yang ingin masuk. Debu beterbangan dipadu dengan polisi dan tentara berbaris rapi. seorang polisi menjaga portal pintu masuk. suasananya seperti memasuki kawasan konflik berkepanjanan. Tak sembarangan orang bisa masuk kawasan ini, hanya orang-orang yang telah diijinkan yang bisa masuk kawasan pandansari. Anda warga kampung pandansari silahkan masuk, kalau bukan silahkan anda parkir di tempat yang disediakan. Titik.

Saat saya hendak menembus barikade polisi yang berdiri, dua orang polisi langsung menghadang sepeda motor saya. Mau kemana?, kata seorang polisi yang menginterogasi saya. Saya mau lihat desa pandansari pak, kataku. silahkan parkir di sana, katanya dengan tegas sambil menunjukkan lokasi parkir khusus para pengunjung. saya tunggu di sini aja, kata istriku. Akh istriku tak mau capek rupanya, batinku

Saya pun berjalan dengan rasa kehawatiran. Tak tahu ntah kenapa. Saya seperti memasuki kawasan konflik. Saya pun berjalan menembus barikade polisi. Tak ada teguran dan sapaan. Saya hanya sempat motret barikade polisi itu kemudian berlalu.

Menyusuri jalanan berdebu. Debu beterbangan dibawa angin. Saat sebuah truk lewat, abu kelut itu membasuh-basuh muka. Saya memicingkan mata, mengusap debu yang menempel di muka. Pohon-pohon cemara di pinggir jalan masih diselimuti debu kelud.  Kamp-kamp raksasa polisi dan tentara berbaris rapi di pinggir jalanan yang berdebu.

Tiba di dekat Spillway Waduk Selorejo. saya langsung bisa melihat desa pandansari yang terisolir itu di kejauhan. Terlihat rumah-rumah yang beratapkan langit dan terpal berwarna kebiruan. Rupanya itu adalah terpal-terpal yang digunakan untuk menutupi rumah-rumah yang atapnya ambruk oleh abu gunung kelud. untuk menuju desa pandansari ini, saya harus melewati lembah, menembus sungai kali sambung.

Posisi Saya saat ini berada di puncak di sisi waduk selorejo. Dari puncak ini, saya melihat truk-truk, mobil-mobil relawan yang memenuhi salah satu lembah yang berada di antara dua bukit. di sini lah pusat transportasi relawan. Di sinilah para relawan berkumpul. Terlihat beberapa relawan berjalan mengular menyusuri kali sambung menuju desa pandansari.

Desa Pandansari dilewati oleh kali sambung yang dengan hulu di gunung kelud melewati kediri bermuara di kali brantas. Kali sambung membelah desa pandansari menjadi dua bagian. Satu dusun berada di sisi kiri kali sambung. Dusun Bales. Sedangkan di sisi kanan kali sambung ada lima dusun yaitu Dusun Munjung, pahit, Kutut, Klangon, dan sedawun. Jembatan yang menuju ke lima dusun inilah yang terputus akibat terjangan banjir lahar dingin. Jembatan kali sambung menghubungkan desa pandansari dengan desa-desa lain di kecamatan Ngantang.

Desa Pandansari dilihat dari sisi waduk selorejo

Desa Pandansari dilihat dari sisi waduk selorejo

Saat hujan turun, maka kali sambung akan memutus mata rantai bantuan. Maka terisolirlah desa pandansari. Terisolir juga lah bantuannya.

Untuk mengatasi meluapnya kali sambung saat hujan turun, para relawan harus sudah kembali menjelang siang hari.

Kali sambung dijadikan jalan utama menuju desa pandansari. Polisi diturunkan bertugas lalu lintas di kali sambung. Kali sambung menjadi kawasan lalu lintas barang yang paling sibuk di desa pandansari. Manusia hilir mudik di kali ini. bantuan pun datang dari berbagai penjuru. Beras berkwintal-kwintal siap didistribusikan.

Ada pemandangan yang aneh di aliran kali sambung ini. banjir lahar yang mampu menerjang jembatan kali sambung ternyata tak cukup mampu merubuhkan gubuk reyot. Dia tetep berdiri kokoh. Saat saya berusaha menggoyangnya, gubuk itu tak bergoyang sedikitpun. Akh di tengah bencana ternyata ada sebuah keajaiban. Keajaiban dari benda mati yang tak tergoyahkan oleh ganasnya terjangan lahar dingin.

Mitos sejarah Gunung Kelud.

Bbeberapa warga masyarakat masih mempercayai mitos tentang lembu sura yang telah mengeluarkan kutukan gunungan kelud. ada berbagai versi tentang mitos sejarah lisan gunung kelud itu sendiri. namun, semuanya bertutur tentang peranan wanita cantik. al kisah Dyah Ayu Pusparani adalah seorang putri dari Raja Brawijaya, Kerajaaan Majapahit yang terakhir. kecnatikan tersohor hingga ke berbagai penjuru. banyak pria yang ingin mempersuntingnya. sayang, pelamarnya adalah Lembu Sura seorang buruk rupa. makhluk berkepala lembu.sang putri pun mengatur siasat bagaimana dia bisa menolak secara halus tanpa menyakiti sang pelamar. dibuatlah prasyarat yang tak mampu diselesaikan dalam waktu semalam. Sang putri bersama sang Raja memberikan pra syarat bahwa sang Lembu Sura harus bisa membuat sumur dalam waktu semalam agar bisa menikahi sang putri. Lembu sura punya kekuatan sehingga dia menyanggupinya. Saat Tuan Putri mendengar kabar bahwa lembu suro akan berhasil, tuan putri bersedih. dia pun curhat kepada ayahnya, Brawijaya.

ayahnya kemudian memerintahkan para prajurit kerajaan untuk menimbun Lembu Sura yang masih terus menggali sumur. saat batu hendak dilemparkan. Lembu Suro memohon agar tak ditimbun. melihat gelagat bahwa permohonannya tak akan terkabulkan. Lembu Suro memberikan kutukan Yoh, Kediri mbesuk bakal pethuk piwalesku sing makaping-kaping, yaiku Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, lan Tulungagung dadi kedung. Kediri jadi Kali, Blitar jadi latar-halaman, Tulungngagung jadi kedung-penampungan.tumpukan-tumpukan batu makin lama makin besar hingga menjadi gunung kelud. itulah kisah tentang Lembu Suro. kutukan ini hanya menimpa kepada daerah-daerah yang ada dalam kutukan seperti Blitar akan menjadi halaman debu, Kediri jadi kali aliran lahar dingin. dan Tulungagung jadi penampungan lahar dingin kediri.

Apabila kutukan Lembu Suro dikaitkan dengan letusan Gunung Kelud ter tanggal 13 ferbruari 2014. semuanya meleset. Ngantang dan Kediri telah menjadi latar, bahkan Jogja nun jauh disana berselimutkan debu. bahkan Blitar yang dikutuk menjadi halaman abu nampak begitu cerah sehari setelah letusan. media pun memberitakan blitar setelah letusan. Tak hanya kediri yang terkena kutukan Lembu Suro bahkan desa pandansari, Ngantang menjadi desa terisolir terkena dampak aliran banjir lahar dingin. akh ternyata Lembu Suro keliru dalam memberikan kutukan.

Kisah tentang Lembu Suro ini akhirnya diabadikan dalam sebuah patung Lembu Suro yang ada Blitar.

Itulah sekelumit perjalanan saya menelusuri dahsyatnya amukan gunung kelud.

Air Terjun Coban Rondo dan Grojogan Sewu Malang

Air Terjun Grojogan Sewu dengan arsitektur Tiongkok

Air Terjun Grojogan Sewu dengan arsitektur Tiongkok

Hari sabtu menjelang siang hari saya siap berangkat menuju ngantang. Menjenguk rumah mertua yang terkena dampak letusan gunung kelut. Dari gang sempit kampung oro-oro dowo, kota malang saya bersama istri berangkat menggunakan sepeda motor. Ku liat langit yang diselimuti awan putih kelabu. Sepertinya akan segera turun hujan. Tak ada jas hujan, saya pun terus melaju menggunakan sepeda motor yang pajaknya baru dibayar sebulan lalu itu.

Memasuki kota batu langit semakin kelabu. Hawa dingin kota Batu menggelayuti tubuh saya. Sreng.. dingin, segar. saya pun terus melaju melewati kota yang terkenal dengan sebutan kota Apel itu. melewati alun-alun kota Batu saya jadi teringat bahwa alun-alun ini pernah menjadi tempat pengungsian orang-orang yang terkena dampak gunung kelut dari kecamatan Ngantang. 18 hari sejak gunung kelut meletus, lokasi pengungsian ini kembali seperti sedia kala. Tak ada tenda. Tak ada pengungsi. Tak ada relawan. Semua seperti sedia kala.

Setelah melewati kota batu yang dingin. Saya akan memasuki kawasan yang lebih dingin lagi. Melewati kecamatan yang terletak di antara kota Batu dan kecamatan Ngantang. Yaitu Pujon. Untuk memasuki kawasan kecamatan Pujon, ada dua alternatif jalan. bisa menggunakan alternatif jalur coban rondo atau jalur Songgoriti.

Jembatan Grojogan Sewu

Jembatan Grojogan Sewu

Jalur Coban rondo jarak tempuhnya lebih lama, berbelok-belok, memutar dan tanjankannya tak terlalu curam, dan anda pun bisa mengunjungi kawasan air terjun coban rondo yang terkenal di malang itu. nah jalur yang kedua adalah jalur Songgoriti. Jalur Songgoriti ini sebetulnya adalah jalur searah dari arah Pujon ke Batu. dan hanya cukup untuk satu mobil. Jadi untuk yang menggunakan mobil tidak disarankan melewati jalur ini dari batu ke Pujon. Di pintu masuk songgoriti terdapat tanda polisi “Minus” yang berarti dilarang melewati jalan ini.

Walaupun ini jalur searah, saya sering  melewati jalur songgoriti karena ini termasuk jalan tikus menuju pujon. Jalannya yang menanjak tak menyurutkan saya melewati jalur ini karena jarah tempuhnya pun lebih cepat. dan melanggar ketentuan lalu lintas. Songgoriti ini sebetulnya lebih dikenal sebagai kawasan “cisarua” nya Malang. Villa-villa banyak dibangun kawasan ini. saat saya memasuki kawasan Songgoriti, beberapa warga yang berada di pinggir-pinggir jalan meneriaki saya “Villa mas, Villa Mas, Villa Mas”. Sepanjang jalan saya ditawari “Villa Mas”.

Jembatan Grojogan Sewu

Jembatan Grojogan Sewu yang terkena dampak banjir bandang.

Bersahut-sahutan antara kanan dan kiri jalan. Setiap rumah di pinggir jalan itu seakan ada penunggunya. Dan penunggunya akan selalu menawarkan dan meneriakkan “Villa Mas”. Hebohnya lagi kalau di pinggir jalan berkumpul beberapa orang. Semuanya akan berteriak “Villa Mas”. Bahkan mereka pun semangat sekali mengejar saya menggunakan sepeda motor dan memepet sepeda motor saya kemudian menanyakan “Villa Mas”. tentu jawaban saya atas pertanyaan mereka adalah dengan tanggapan cuek “Ngak mas (setidaknya untuk saat ini). “

Saya berpikir mungkin karena saya boncengan dengan “cewek”. Sehingga mereka mengira bahwa saya ingin mencari penginapan. Ingat kawasan songgoriti, pikiran saya langsung ingat 4 tahun lalu tahun 2010. saat saya dan kawan-kawan saya berjalan di kawasan Legian, Bali. Tiap kaki melangkah selalu ada yang menawarkan “cewek mas, cewek mas, cewek mas”.

Ada yang menawarkan terang-terangan di depan saya atau di balik-balik toko atau dibalik gang-gang kecil di Legian. Sepanjang saya melangkahkan kaki di Legian tawaran itu tak pernah berhenti. Apalagi saat mendekati kawasan “Ground Zero nya ” Bali. Tawaran “Cewek mas” makin sering. Itu lah kawasan Legian Bali yang memiliki kemiripan dengan kawasan Songgoriti Malang.

Suasana Air Terjun Coban Rondo

Suasana Air Terjun Coban Rondo

Jalannya menanjak dan terjal. Di samping kiri adalah lembah-lembah yang ditumbuhi pohon-pohon cemara yang menghijau. Kanan kiri jalan dipenuhi pohon-pohon cemara-cemara berbaris rapi melambai-lambai diterpa angin pegunungan. Motor saya meliuk-liuk ke kanan kiri menghindari jalan-jalan yang berlubang. Di balik pohon-pohon cemara ada lembah songgoriti yang curam.

Di balik lembah itu ada mushalla yang berdiri di puncak bukitnya. rumah-rumah penduduk mengelilingi tepat berada di bawahnya. Di puncak bukit yang lain, kondominium perumahan berdiri di puncak bukit. Di puncak tanjakan, ku liat angin yang membawa awan putih merayap-rayap di jalan, menyusuri lembah, mengipas pohon-pohon cemara, membasuh-basuh tubuh saya yang mulai kedinginan.

Setelah mencapai puncak, kota kecil pujon menyambut saya dengan hawa dinginnya. Gerimis pun menghujani saya. Saya melongok ke atas. Awan putih kelabu menyelimuti. Pasir dan debu tumpahan gunung kelut yang beterbangan di pujon tak terlihat lagi. Angin dan hujan menyapunya dengan bersih. Relawan pun tak bermunculan.

Air Terjun Coban Rondo

Air Terjun Coban Rondo

Saya pun berlalu dengan kecepatan sedang. Melihat-lihat ke sekeliling pujon. Melewati koperasi susu sapi terbesar di Malang “Koperasi Susu SAE”. Di ujung jalan, terlihat puncak bukit. Awan-awan terbawa angin menangkupi pujon yang sejuk. Tak ada jejak gunung kelut . Tak ada jarak pandang yang dibatasi. Hanya bukit-bukit dan bangunan-bangunan toko di pinggir jalan yang membatasi jarak pandang saya.

Saya pun terus melaju menuruni keramaian pujon. Meliuk-liuk menuruni meninggalkan keramaian pujon menuju ke keramaian pujon yang lain, pusat-pusat oleh-oleh khas pujon. Terlihat berbagai sayuran dan buah-buahan di jual di sini. dan pastinya murah-murah. Apel-apel hijau, Ubi-ubian menggantung di pinggir-pinggir jalan.menunggu jamahan dan tawaran orang-orang yang ingin membawa pulang sebagai oleh-oleh.

Mobil di depan saya pun melambat trus makin melambat sampai terhenti dengan sempurna. sungai kali konto yang berada di samping jalan begitu derasnya. Membawa air dari hulu di gunung kawi mengalir menuju titik terendah menembus kecamatan Pujon dan ngantang melewati kabupaten jombang. bertemu dengan sungai kedua terpanjang di pulau jawa, kali brantas. Bercampur dengan aliran air kali widas yang membawa air dari gunung wilis di kediri. Mengalir menyusuri mojokerto. Bercabang ke arah porong dan surabaya. Kemudian Keduanya bersemayam di teluk madura di sisi timur surabaya.

Banjir Bandang yang menerjang rumah dan Escavator

Banjir Bandang yang menerjang rumah dan Escavator

Kali Konto tak sepertinya biasanya. Hujan yang begitu deras di ujung bulan Januari 2014 menghantam sawah-sawah. Banjir Bandang menimpa kecamatan Pujon dan Ngantang. Airnya meluber ke jalan-jalan. menerjang segala sesuatu yang menghalanginya. Pohon-pohon tumbang. Rumah-rumah di bantaran kali tersapu. setiap tikungan jalan, separuh jalannya tergerus dibawa ntah kemana. Sawah-sawah terlihat seperti disetrika oleh setrika alam. Halus dan berwarna kecoklatan. Air bah kali konto telah merusak sepanjang 15 Km di sepanjang aliran kali konto di Pujon dan Ngantang. rumah-rumah bantaran kali konto yang kuat bertahan hanya sebagian yang terbawa air, sebagian tersisa menggantung di pinggir sungai. Terlihat seperti manusia yang kakinya diamputasi separuhnya.

Petugas escavator yang berusaha membersihkan sungai kali konto tiba-tiba dihantam banjir bandang. Escavator dan petugasnya langsung terseret beberapa meter. Terpelanting. Escavator akhirnya didudukin oleh batu-batuan kali yang besar. Batu-batu kali konto begitu kuasa untuk menduduki escavator raksasa. Badannya dijepit oleh batu-batuan yang lain. Escavator tak berdaya. Dia begitu tak kuasa memindahkan satu dua buah batu yang mengelilingi tubuhnya. Banjir bandang telah mengubah semuanya. Batu tak bernyawa bisa berkuasa atas escavator. Escavator itu berada tak jauh dari rumah yang separuhnya terseret air bah.

Berbagai media memberitakan bahwa petugas itu hilang ditelan banjir bandang. Menjadi headlines di koran lokal malang. Sebetulnya, dia berhasil menyelamatkan diri dan menginap di salah satu rumah penduduk sekitar. Media tak mengendus berita itu. hanya berita mulut ke mulut yang mengetahui bahwa petugas escavator selamat dan berada di rumah penduduk.

Escavator diduduki batu-batu akibat terjangan banjir bandang

Escavator diduduki batu-batu akibat terjangan banjir bandang

Tak hanya jalan dan sawah yang diterjang oleh ganasnya banjir bandang. Jembatan yang menghubungkan ke air terjun Grojogan sewu terputus. Warnanya jembatan berwarna merah cerah. Sayang, ujungnya sudah diterjang banjir. Kecantikan jembatan memudar. Saya pun terus melaju dengan pelan. Sesekali terhenti oleh jalan yang separuhnya dimakan oleh amukan banjir. Pemuda kampung seketika menjadi petugas dadakan mengatur lalu lintas. Bergantian. Ketika kendaraan dari arah malang berjalan maka kendaraan yang dari arah jombang dan kediri terdiam merayap memaku jalan. begitu juga sebaliknya.

Saat terlepas dari jalan rusak, dari antrean panjang, saya langsung dihadapi pada antrean baru lagi. Motor terhenti. Ujung kemacetan tak terlihat. Sepertinya daya rusaknya lebih parah dari yang sebelumnya. Ku melongok ke depan sana, tak ada tanda-tanda bahwa kemacetan akan segera terurai. ku liat aliran deras sungai konto. Terlihat beberapa warga yang sedang gotong royong. Ku toleh ke kanan jalan. di Gapura kampung tertulis “Kel. bendosari “. Saya mencari waktu sejenak menghilangkan antrean yang tak berkesudahan. Saya mendekati keremunan penduduk. “ayo, kurang dowo,”  teriakan salah satu warga di atas jembatan kepada kawannya yang berada di bawah jembatan. “kurang dowo”. Saya melongo ingin tahu.  Ternyata tali yang digunakan untuk menarik bambu-bambu itu yang kurang panjang. Dowo dalam bahasa jawa berarti panjang.

Jembatan bambu Bendosari di kecamatan Pujon

Jembatan bambu Bendosari di kecamatan Pujon

Rupanya, warga di kampung bendosari bergotong royong membangun jembatan darurat dari bambu. Bambu-bambu yang baru ditebang langsung ditali temali kemudian dipasang untuk dijadikan jembatan. Mereka bahu membahu untuk membangun jembatan ini. tak perlu uluran tangan dari pemerintah yang tak jelas kapan akan dilakukan pembangunan kembali. Warga desa bendosari tak perlu itu. mereka hanya perlu bambu-bambu untuk menyambungkan dua daratan yang terpisah oleh kali konto. Di ujung jembatan, hanya ada satu rumah dengan tulisan “olah limbah jadi berkah.” Saya belum bisa menerka bangunan apakah itu. pengolahan susu sapi kah atau kah pengolahan limbah?.

Saya hanya sibuk memotret jembatan darurat dan orang-orang yang berjalan di jembatan dengan panjang sekitar 7 meter itu. beberapa warga melihat saya jeprat sana sini. saya terdiam dan melirik. mereka memberikan senyum manis kepada saya. Saya pun membales senyuman mereka sambil terus memotret jembatan bambu. Sebelum pertanyaan saya terjawab saya harus segera meninggalkan lokasi ini. ku toleh ke belakang melihat warga bersenda gurau di tengah kesibukan membangunan jembatan. Tertawanya begitu lepas seakan tak ada beban. Saya pun sempat merekam senyum mereka yang lepas. saya harus melanjutkan perjalanan lagi. Mungkin sebentar lagi kemacetan akan teurai dan siap melanjutkan perjalanan kembali.

Gelak tawa lepas warga bendosari

Gelak tawa lepas warga bendosari

Kecamatan Ngantang. Inilah kecamatan yang terkena dampak terparah letusan gunung kelut tanggal 13 Februari 2014 itu. Dua kali kecamatan ngantang di rundung kesedihan hanya dalam waktu tak lebih dari 15 hari. Banjir bandang dan gunung meletus.

Saat saya memasuki ngantang. Gundukan-gundukan pasir hitam mengkilat tertumpuk di pinggir jalan. setiap rumah penduduk pasti ada pasirnya bekas tumpahan gunung kelut yang belum terangkut. Beberapa rumah masih terlihat kusam kelabu seperti langit yang masih kelabu. Tak ada hiruk pikuk relawan yang bekerja. melawatan desa kaumrejo. Jalan-jalan masih diselimuti pasir setinggi 10 cm. siang hari, saya tiba di rumah mertua saya di ngantang. Tepat di kaki waduk selorejo. Merehatkan badan dan kaki untuk mempersiapkan perjalanan besok hari menelusuri dampak gunung kelut di Ngantang.