Mengejar Sunrise Danau Kelimutu 3 Warna

Mengejar Sunrise Danau Kelimutu 3 Warna

Ende. salah satu nama kabupaten di pulau Flores, NTT. Namanya tak terlalu dikenal di jagat nusantara. tapi kabupaten ini begitu bersejarah bagi pilar Bangsa Indonesia. di Kabupaten Ende Bung Karno diasingkan. di Ende juga lah Bung Karno mendapatkan inspirasi untuk melahirkan Pancasila sebagai Dasar Negara. Penduduk Indonesia akan selalu mengingat kabupaten Ende setiap tanggal 1 Juni sebagai hari lahirnya Pancasila.

Karena Bung Karno juga lah, “Pohon Sukun” menjadi sesuatu yang sangat spesial di Taman Renungan Bung Karno. Lalu pertanyaannya adalah kenapa “Pohon Sukun” begitu spesial bagi spesial bagi lahirnya Pancasila. apa hubungannya antara Pohon Sukun, Bung Karno, dan Pancasila.

Ende tak hanya menawarkan perjalanan lahirnya Pancasila, tapi Ende juga menawarkan sejuta Pesona seperti pantai batu hijau Penggajawa dan Danau Kelimutu 3 warna. Danau Kelimutu yang selalu berganti-ganti warna. Danau Kelimutu yang menjadi pusat berkumpulnya arwah-arwah yang sudah meninggal. Pertanyaannya adalah kenapa Danau Kelimutu menjadi selalu berganti-ganti warna atau kenapa Danau Kelimutu menjadi pusat roh-roh. atau anda pengin tahu seorang Biker dunia yang menjelajahi Danau Kelimutu.

——————————————————————————————

Mengejar Mentari di Danau Kelimutu

Mengejar Mentari di Danau Kelimutu

Bintang Lodge

Itulah nama penginapan saya. Kamarnya ada 4 dan tanpa AC. Ngak pake AC karena kawasan Moni ini termasuk kawasan pegunungan kelimutu. Tempat tidurnya menggunakan kelambu. Selama berpuluh-puluh tempat penginapan, baru kali ini saya dapat tempat tidur yang berkelambu. Lain tempat tidur, lain pula bagi para tamu di hotel di kawasan Moni ini. setiap tamunya disuruh untuk mengisi data tamu seperti Nama, asal, tujuan ke sini dan lain sebagainya.

Menurut Tobias, sang pemilik hotel, tujuan pengisian data-data ini adalah untuk memonitor jumlah wisatawan dan asalnya. Biasanya secara Reguler, dinas pariwisata akan merekapitulasi wisatawan-wisatawan itu. nah sekarang waktunya dinner time. Biasanya para turis ramai datang ke moni pada bulan-bulan juni, juli dan agustus. Kebanyakan berasal dari benua Eropa. Saat itu kawasan ini seakan penuh dengan para turis. Ada pengalaman unik saat dinner yang di restoran Bintang Lodge.

Buku Tamu

Buku Tamu

Tamu hotel ini ada 6 orang. tiga orang luar negeri alias turis, tiga orang lagi rombongan saya. Tiga turis itu sudah berada di restoran saat saya mau ke  restoran. Bapak Tobias ini dibantu billyanes dalam mengelola hotel ini. Billyanes juga lah yang menawarkan saya menu-menu dinner. Desa tapi selera kota. Hampir semua menunya ini berbahasa inggris.

Tak hanya itu, Billyanes sering keceplosan ngomong inggris. Bahkan saat dia ngomong bahasa inggris, ada beberapa kata yang ngak ku ngerti. Terpaksa dah nanya apaan tuh. Eh ternyata krupuk. Baru nyadar kalau selama ini saya ngk pernah baca n denger bahasa inggrisnya krupuk. Tu kan lupa lagi pas mo nulis tulisan ini. apaa ya bahasa inggrisnya krupuk?. oh ya ma kasih buat komentarnya mas Badai yang ngasih tahu bahasa inggrisnya kerupuk = Crackers. hum..

Maklum tamu-tamu disini mayoritas turis.

Aku dan Anak Anjing “Bintang”

Billyanes dan "Bintang"

Billyanes dan “Bintang”

Sambil nunggu pesanan, tau-tau anak anjing mendekati saya. Nama anjing sama dengan nama hotelnya, bintang. Anjing semakin mendekat-dekat. Sepertinya dia memang mendekat untuk ngajak bermain. Sedangkan saya tidak mau diajak bermain. Akhirnya, saya menghindar dari anak anjing tersebut. Dari yang awalnya duduk sampai berdiri. Dari awalnya diam kemudian bergerak menghindari anak anjing itu. herannya, si bintang mengira bahwa saya ngajak bermain dengan cara berlari.

Tak ayal, akhirnya arena restoran bintang dalam sekejap menjadi taman berlari. Taman berlari bagi anak manusia dan anak anjing. Seru sih bagi yang melihatnya. Menakutkan bagi yang dikejar anjing. Saya terpaksa memutari meja makan para turis itu bahkan memutari restoran yang luasnya hanya 6 x 8 m2. Tiga kali saya memutarinya. para turis itu memandangi saya yang ketakutan dikejar anjing. Akhirnya kejar-kejaran itu terhenti karena saya keluar dari area restoran itu dan Billyanes membantu “menjinakkan” anak anjing itu.

Danau Tiwu Ata Polo (saat Mengambil Foto ini saya hampir terjatuh kedalam ini..iih ngeriii)

Danau Tiwu Ata Polo (saat Mengambil Foto ini saya hampir terjatuh kedalam ini..iih ngeriii)

setelah aksi kejar-kejaran antara anjing dan saya, suasana Restoran mulai kondusif. saya pun mulai berani duduk di dalam salah satu kursi restoran. Anak Anjing imut “bintang” terpaksa disembunyikan di luar restoran. saya pun bisa relax menunggu pesanan makananku datang. kembali ku jelaskan bahwa saya lari saat dikejar anak anjing “bintang” bukan karena saya takut pada anak anjing yang ingin “bermain” dengan saya, tapi karena saya takut sang anjing Bintang itu menjilat-jilat saya sehingga tubuh saya jadi najis tralala. soale menurut keyakinan saya membersihkan jilatan anjing perlu 7 kali cucian bro… satu dari 7 cucian itu harus dicampur dengan debu. so, ribet kan. ya mending saya lari daripada saya harus mencuci baju atau kulit saya dengan 7 kali cucian. itupun harus dicampur dengan debu lagi.. hadewh

Jacky berpose dengan Latar Danau Tiwu Ata Polo dan Danau Tiwu Nua Muri Ko’o Fai

Jacky berpose dengan Latar Danau Tiwu Ata Polo dan Danau Tiwu Nua Muri Ko’o Fai

saya melihat tiga turis itu duduk tepat di depan saya. saya tak terlalu mendengar apa yang sedang mereka obrolkan. saat saya sedang memperhatikan 3 turis itu, Billyanes mendekati saya dengan membawa nampan berisi makanan. ku liat 3 turis itu makin asyik obrolannya. sedangkan saya, langsung menyantap makanan yang sudah tersaji. saat saya menyudahi makan malam saya, turis itu meninggalkan restoran Bintang. ku duduk bersandar memperhatikan 3 turis yang meninggalkan restoran. semoga dalam pikiran para bule itu tidak ada bahwa “wisatawan lokal indonesia takut dengan anak anjing”.

Mengejar sunset di Kelimutu

Mengejar sunset di Kelimutu

Posisi dudukku tiba-tiba berubah ketika melihat sepeda yang sengaja disandarkan pada dinding restoran. ku coba mendekati sepeda itu. dari posisi bersandarnya, ku tahu bahwa sepeda ini bukan sepeda pemilik hotel atau restoran. saya pun berusaha meyakinkan pikiran saya. Mas Bilyaness ini sepeda siapa yach?, kataku pada pada pelayan yang masih seumuran aku itu. oh ini sepeda milik turis yang tadi makan di restoran ini. siapa nama pemiliknya dan darimana asal negaranya, kataku berusaha menyelidikinya. Namanya Steven berasal dari Jerman. memangnya dia naik sepeda dari mana dan mau kemana?kataku dengan nada heran. “wah saya ngak tahu mas, yang pasti dia tadi menurunkan sepedanya dari truk di depan hotel. truknya itu tujuan Ende. sepertinya turis itu, ngak kuat menempuh jalur pegunungan Maumere Ende yang begitu menyiksa sehingga dia menaikkan sepedanya ke dalam truk itu, kata Bilyaness kepada saya.” oh gitue, kataku dengan nada heran.

Mengejar Sunrise

Mengejar Sunrise

oh ya kira-kira Steven besok naik ke Danau Kelimutu juga kah?, kataku. yaaa dia mau naik ke kelimutu. saya sendiri yang mau anter dia besok pagi-pagi jam 04.00, kata bilyanes. wah kalau gituw saya besok harus bangun jam 04.00 agar bisa ketemu sunrise. sekalian, saya juga pengin ketemu sama Steven, kataku sambil berlalu meninggalkan restoran dan anjing “Bintang”.

saya pun bergegas masuk kamar agar saya bisa bangun pagi-pagi untuk menjemput sunrise di puncak kelimutu.

Danau Kelimutu Tiga Warna.

Danau Tiwu Ata Polo

Danau Tiwu Ata Polo

Tepat jam 04.00 saya sudah bangun. subuh belum tiba. akhirnya saya mandi dulu sambil menunggu waktu subuh. setelah shalat subuh, saya bergegas membangun sang sopir yang tidur di samping saya. ku menuruni tangga hotel. ku tanya kepada sang pemilik hotel “apakah turis-turis itu sudah berangkat?.” wah Bilyanes sudah berangkat mengantarkan turis menggunakan sepeda motor, kata sang pemilik kepada saya. oh gituw, wah saya pun harus buru-buru berangkat agar bisa mengejar sunrise “Danau Kelimutu”, imbuhku pada pemilik hotel.

kami bertiga berangkat menggunakan mobil. mobil yang sudah kami sewa sehari semalam. kami berjalan menembus suasana desa moni yang masih gelap. jalan-jalanan masih sepi.  saat tiba di pintu gerbang Danau Kelimutu, kami berhenti sejenak untuk membayar tiket masuk. awas kameranya jangan dibawa pada petugas jaga dan kalau penjaganya tanya bilang aja kalau tidak membawa kamera, kata sang sopir kepada saya sesaat sebelum saya membuka pintu mobil. dan saya menurutinya tanpa sepatah kata keluar dari mulutku.

Danau Tiwu Ata Bupu

Monyet Berpose di Danau Tiwu Ata Bupu

saya kemudian bergegas menuju penjaga itu. ruangan penjaga gelap. hanya satu penjaga, ku liat wajahnya dengar samar-samar kegelapan. dalam kegelapan itu ku coba menerka umurnya. mungkin umurnya sekitar 40an, batinku. perlu saya menulis buku tamu pak, kataku.oh tak perlu,kata penjaga itu pada saya. kenapa pak?. buku tamu itu khusus wisatawan luar negeri, kata penjaga pada saya. oh gitue ya pak. kemudian si penjaga itu langsung meminta bayar tiket masuk ke kawasan Danau Kelimutu.

dalam hati ku berdoa semoga penjaganya ngak nanya kamera. saya pun dag dig dug takut ditanyai tentang kamera itu. aku mulai bertanya-tanya kenapa kalau membawa kamera ke dalam kawasan kelimutu. akh ternyata sang penjaga tak menyinggung sama sekali tentang kamera HP atau kamera digital. setelah saya membayar tiket masuk, saya bergegas pergi meninggalkan sang penjaga.

danau Tiwu Ata Bupu

danau Tiwu Ata Bupu

saya pun segera mobil dan mempertanyakan tentang hal ihwal kamera itu pada sang sopir. memangnya kenapa pak kalau ketahuan membawa kamera?kataku pada si sopir. kalau ketahuan membawa kamera bisa-bisa nanti kita disuruh bayar mahal. dulu, ada yang ketahuan membawa kamera digital. akhirnya, mereka dimintai bayar mahal oleh sang penjaga itu. kata sang sopir pada saya. bahkan dulu ada yang bayar sampai bayar Rp5.000.000,00. huuuuuuuuhhhhh, kata ku dengan nada heran. masak bisa mahal gituw pak, kataku dengan perasaan tak percaya. dalam ketidakpercayaanku itu, aku tetap mempercayai sang sopir. setidaknya, saya percaya bahwa kita akan dibawa ke Danau Kelimutu bukan ke pantai. sebetulnya saya antara percaya dan tidak tentang membawa kamera ke dalam kawasan danau kelimutu itu. la masak iya membawa kamera ke dalam kawasan Danau Kelimutu harus bayar semahal itu. tapi, apakah juga iya masak si sopir itu boongin kita-kita.

Sunrise Danau Kelimutu

Sunrise Danau Kelimutu

antara ya dan tidak itu kami pun harus menembus kegelapan dengan jalan-jalan yang masih lengang dan sepi. hawa-hawa dingin khas pegunungan mulai terasa. semakin lama dinginnya makin terasa. sepi, sunyi.

tiba-tiba mobil kami berjalan semakin pelan-pelan. saya tidak tau kenapa?. Driver sekaligus merangkap guide itu hendak mengatakan sesuatu. “di sini ada batu keramat, kalau melewati batu itu kita harus pelan-pelan”, katanya. “Batu itu bertugas sebagai penjaga danau Kelimutu ini, kita dilarang menduduki batu itu”, imbuhnya. kami hanya diam, memperhatikan kata demi kata sang guide itu. bulu kuduk ku mulai merinding tak terkecuali Bu Yohana.

Sunrise dilihat dari  Puncak Danau Kelimutu

Sunrise dilihat dari Puncak Danau Kelimutu

bukannya saya ngak mau tau tentang hal mistis ini. tapi suasana yang masih pagi buta dan sepi itu yang membuat bulu kudukku berdiri. saya pun berusaha untuk melupakan hal-hal mistis itu. mobil pun melaju semakin cepat seperti sebelum ketemu batu bertuah itu. hawa dingin mulai merasuk ke sela-sela baju kemudian menembus kulit. makin lama makin dingin. saat itu lokasi Danau kelimutu juga semakin dekat.

mobil kami pun memasuki area parkir yang lebar itu. tak ada mobil kecuali mobil rombongan kami. saya melihat beberapa motor yang terparkir. setelah menempuh 30 menit, akhirnya kami tiba di Lokasi Danau ini. saya dan jaky berjalan paling depan. Begitu semangat untuk mengejar sunrise Danau Kelimutu.

Mengejar Mentari Pagi

Mengejar Mentari Danau Kelimutu

Mengejar Mentari Danau Kelimutu

Kadang tak perduli lagi itu jalur umum atau jalur sulit. Jalur sulit itu dikira jalan menuju Danau Kelimutu. Termasuk saya, yang ada dalam pikiran saya saat itu adalah bahwa danau kelimutu berada di gunung. Otomatis, untuk menuju danaunya pun susah dan menanjak. Saat pemandu memberi tahu bahwa jalan ini bisa menuju Danau kelimutu. Saya dan jaky langsung bersemangat untuk menaikin “jalan” yang tak biasa itu.

Setelah bersusah payah naik.nampak juga danau yang berukuran besar seperti kubang raksasa yang sanggup menelan siapa saja yang terpeleset. Saking takjubnya, saya langsung berkeliling di pinggiran danau itu. saking takjubnya, saya pun lupa bahwa nyawa saya bisa terancam oleh ganasnya danau yang berwarna hijau pekat ini.

salah satu Warna Danau Kelimutu di saat pagi

salah satu Warna Danau Kelimutu di saat pagi

tiba-tiba kaki saya serasa disedot danau ini. kepala saya terasa seperti memutar memandanginya. Mata saya seakan tak mampu melihat keindahan alam secara rasional. Keseimbangan mulai tidak stabil. Tak terasa kaki mundur beberapa langkah. Saya langsung membayangkan saya terpeleset sedikit saja. Danau ini mampu menyedot dengan sekali sedotan.

Saya ibaratkan Danau kelimutu itu seperti sebuah dua baskom raksasa. Bayangkan kita berdiri di pinggiran baskom-baskom. Ibu Yoh neriakin kami agar cepet turun. Dir, Jaky, Ayo cepetan Turun. kami diteriakin ibarat anak nakal yang telah melanggar petuah agama.

Sang Mentari Pagi di Danau Kelimutu

Sang Mentari Pagi di Danau Kelimutu

Saya dan jaky langsung meneriakkan bareng-bareng “ya turun, sebentar lagi”. kemudian pun segera bergegas turun. kami melihat ada seorang setengah baya yang berdiri di samping Bu Johana. ku tak tahu siapa dia. “ngapain kalian susah-susah naik ke atas sana”, kalau hanya mo liat, tuh disana ada jalannya”, kata orang setengah baya itu kepada kami berdua.

saya seperti merasa ditampar habis-habisan mendengar bahwa ada jalur umum dan gampang untuk melihat danau kelimutu. alamakkkk. macem mana puula awak ini (dengan logat medan). ngapain td kita susah-susah naik sini, dah gitu hampir kecelakaan lagi (pikirku dalam hati). biar saya ngak galau saya langsung mikir sisi positifnya “kan lumayan, walau susah kita jadi dapat sunrise”. sunrise dengan gaya foto miring.

Saat Danau Kelimutu menjadi pusat arwah-arwah

Tangga Tahap 1 Menuju Puncak Danau Kelimutu

Tangga Tahap 1 Menuju Puncak Danau Kelimutu

sambil berjalan pelan-pelan, bapak setengah baya itu menjelaskan tentang nama-nama Danau Kelimutu beserta penjelasannya. Danau-Danau sangat erat kaitannya dengan kepercayaan masyarakat sekitar, kata bapak itu kepada kami bertiga. kalau Danau yang mas naikin tadi itu namanya Danau Tiwu Ata Polo. apa pak namanya kurang jelas, kataku pada bapak itu. kemudian, bapak itu menjelaskan lagi dengan mengeja. Tiwuuuu Ataaaaaaaaaaa Polo. wah apaan tuh pak artinya pak, kataku. Danau Tiwu Ata Polo ini tempat bersemayam arwah-arwah yang selama hidupnya banyak melakukan kejahatan.

wah berarti kalau orang-orang jahat arwahnya tinggal disini dunk pak. saya pun langsung mikir, “wah jangan-jangan saya hampir jatuh ditarik arwah orang-orang jahat itu”. Kalau Danau yang kedua namanya Danau Tiwu Nua Muri Ko’o Fai. lagi lagi saya meminta mengulangi nama-nama itu. alhamdulillah sih bapaknya cukup sabar meladeni pertanyaan saya. Danau yang kedua ini tempat berkumpulnya arwah pemuda-pemudi. jadi, kalau ada anak muda yang meninggal, rohnya berkumpul di danau Tiwu Nua Muri Ko’o Fai ini.

Tangga Tahap II Menuju Puncak Danau Kelimutu

Tangga Tahap II Menuju Puncak Danau Kelimutu

laaa trus kalau yang danau ketiga apa dunk pak, kata ku bersemangat ingin  segera tahu danau yang ketiga ini. nah kalau danau yang ketiga namanya danau Tiwu Ata Bupu. Danau ini menjadi tempat berkumpulnya arwah orang-orang tua. jadi, kakek nenek kita bersemayam di Danau yang ketiga ini.

saya ibarat kucing ketemu ikan, seneng, takjub. campur aduk dah dengan semua keajaiban alam ini. keajaiban sang pencipta. keajaiban bisa ketemu bapak yang menjelaskan semua tentang Danau Kelimutu 3 warna ini. mungkin, bapak ini lebih cocok sebagai penunggu Danau Kelimutu. kalau di Jogjakarta ada mbah marijan, maka di Ende ada, ada bapak ini yang belum ku ketahui namanya ampe sekarang.

Puncak di Danau Kelimutu 3 warna. dari Puncak ini kita bisa melihat 3 Danau Kelimutu

Puncak di Danau Kelimutu 3 warna. dari Puncak ini kita bisa melihat 3 Danau Kelimutu

Pak katanya air danau di sini berganti-ganti warnanya pak?kataku pada bapak penunggu. yaaaa mas, warnanya berganti-ganti. dua hari yang lalu, Danau Tiwu Ata Polo berwarna merah. wah padahal saya tadi liat warnanya hijau lumut gitu pak, kataku penasaran dengan kejadian ini. Mas, kalau melihat Danau Kelimutu dari sini saja, kata bapak itu. wahhh bagus ya jalannnya, tak perlu susah-susah. naik jumpalitan segala. wah obrolan kami terhenti karena saya harus melihat dua danau kelimutu ini. sedangkan bapak penunggu itu, terus berjalan menuju puncak gunung. sampai ketemu di puncak, kata bapak penunggu sambil melambaikan tangannya kepada kami bertiga.

Jacky Berpose

Jacky Berpose

saat hendak mau ke anjungan Gunung Kelimutu, ada info penting tentang kedua danau yang akan kami liat. salah satunya adalah tentang luas dan kedalaman danau. Danau Tiwu Ata Polo misalnya memeliki luas 4 ha dengan kedalaman 64 m. sedangkan Danau Tiwu Nua Muri Ko’o Fai memeliki luas 5,5 ha dengan kedalaman 127 m. kemudian kami pun buru-buru berjalan menuju anjungan Danau Kelimutu.

tak sanggup berkata-kata, hanya ketakjuban yang kami sadari. dua danau ini benar-benar ajibbb… mantab… takjub… hebat.. hebat yang menciptakan semua ini. duh danau inilah yang saya inginkan beberapa tahun lalu. akhirnya saya bisa menyaksikan ini. semburat cahaya pagi muncul di ufuk timur. cahaya itu hendak menerjang kekokohan batu-batu yang mengelililngi dua danau ini. Dua danau ini dipisah oleh batu-batu tipis. hanya ketakjuban yang kami rasakan.

Danau Tiwu Ata Bupu

Danau Tiwu Ata Bupu

rasa penasaran terhadap kedalaman sekaligus keangkeran danau-danau kelimutu ini membuat saya dan Jacky mengambil beberapa batu untuk kemudian dilemparkan ke dalam danau kelimutu ini. secepat kilat batu-batu itu ditelan roh-roh jahat. sebelum batu-batu jatuh ke permukaan air, batu-batu sudah hilang dari pengliatan kami berdua. mungkinkan roh-roh itu lah yang menelannya, pikirku. ataukah kedalaman danaunya yang menelan batu-batu itu.

kami bertiga langsung ingin segera menyusul ke puncak gunung itu. saya yang terdepan, Jacky yang kedua, bu Yoh jauh tertinggal. begini lah jalan blingsatan. pokoknya yang penting sampai puncak. tak perduli lagi pada ibu-ibu. seharusnya Jacky nungguin ibunya. eh malah dia ngikutin saya yang berjalan setengah berlari. maklum saya harus, ngejar sunrise dari puncak itu. melihat danau di waktu sunrise.

After Sunrise dari Puncak Kelimutu

After Sunrise dari Puncak Kelimutu

kami harus menaklukkan anak tangga yang ratusan jumlahnya. tak tau berapa ratus. hanya ratusan. anak tangga ini terbagi dua. anak tangga tanpa pegangan dan anak dengan pegangan. ku ingin menaklukkan puncak kelimutu dengan berlari, Jacky pun juga gitue berlari di belakangku. Bu Yoh, agak jauh di belakang sana. heiiii, kadir, Jacky jangan cepat-cepat. ya beginilah jalan-jalan dengan ibu-ibu. harus sabar. dasar sayanya yang koplak, saya terus aja berjalan, sedangkan Jacky mulai memperlambat jalannya untuk menunggu bunda-nya.

saat hendak puncak, saya pun berhenti menunggu mereka berdua. menunggu sambil motret sunrise di Danau Kelimutu. setelah berkumpul, kami pun berangkat lagi. ayo cepetan, sudah mau nyampe puncak ni, kataku. sudah tau ibu-ibu masih aja diajak liat danau di gunung, kataku dalam hati.

Gunung kellimutu dari Kejauhan

Gunung kellimutu dari Kejauhan

ku liat puncak itu. beberapa orang sudah mengitarinya. mereka semua tak mau melepas sedetikpun untuk mengabadikan sunrise di Danau Kelimutu ini. nafasku mulai tersengal-sengal, mulut pun mulai mengering, kakiku sudah mulai gempor. ku ingin taklukkan Danau Kelimutu. kakiku yang gempor dan nafasku yang ngos-ngosan tergantikan oleh indahnya danau kelimutu 3 warna. dari puncak inilah, kita bisa melihat ke 3 danau kelimutu secara sempurna. horeeeeeeeeeeeeeeeeeeee….. inilah puncak danau kelimutu. seketika itu juga aku langsung update status di Facebook.

hampir semua penikmat sunrise ini adalah turis asing. tak ada wisatawan domestik kecuali kami bertiga dan bapak penunggu. saya pun tak kehilangan momen indah. SUNRISE DI PUNCAK KELIMUTU. Benar-benar indah dan ajib pemandanganya.. pegunungan-pegunungan yang hampir sejajar dengan Danau Kelimutu terpampang di depan saya. ku liat dua turis  menuruni lembah. mungkin melihat danau kelimutu dari angle yang lain. dan masih banyak aktivitas wisatawan untuk mengabadikan moment sunrise termasuk saya berhasil motret turis yang lagi motret dengan latar belakang Danau Kelimutu.

Kelimutu after the break

Kelimutu after the break

saya sedang mencari seorang turis di antara beberapa turis itu. turis yang  membuat saya terheran-heran. heran karena turis inilah hendak mengelilingi dunis dengan bersepeda. turis yang ku temui di Restoran Bilyanes tadi malam. di manakah dia sekarang. ku tahu dari pemilik restoran bahwa dia sudah berada di sini. ku liat turis yang menghadap ke Danau itu. ku coba mendekatinya.

Bertemu dengan Steven Billboy “sang Biker Dunia”

Saya dan Steven Billboy di Puncak Kelimutu

Saya dan Steven Billboy di Puncak Kelimutu

ku coba untuk menyapa dan memulai pembicaraan. Steven Billboy nama lengkapnya. berasal dari Jerman, Negaranya Hitler sang diktator. saya mendengar bahwa anda seorang biker, apakah anda ke Puncak Danau Kelimutu ini dengan bersepeda, kataku. “wah ngak, saya ke sini minta anter ke petugas Hotel, katanya. Maaf sejak kapan anda bersepeda dan sudah melewati Negara mana saja, kataku berusaha menggali informasi lebih jauh. saya sudah bersepeda sejak bulan juni tahun 2011, bersepeda dari Jerman, Eropa, Mediterania, Australia, Indonesia. dan now  I am in three colours Kelimutu Lake. wahhhhhhh… its amazing, Keren sekali anda bisa menaklukkan berbagai 3 benua, berbagai Negara hanya dengan bersepeda. sekali lagi dengan bersepeda, kata ku. dia hanya tersenyum mendengar kataku.

Mari Bergaya dulu

Mari Bergaya dulu

Then, di Indonesia sudah kemana aja mas Steven?, kataku. saya berangkat dari Autralia ke Papua Nugini, Timor Leste  then jalan darat ke Kupang, dari Kupang langsung terbang ke Maumere. Kemudian,saya bermalam di Maumere, Kata Steven. oh begitu, trus apa yang anda bisa liat-liat di Maumere saat malam hari, kataku ingin menelisiknya lebih jauh. “you have to visit Maria Statue, you can see Maumere City  from the hill. it’s wonderfull. Besok, jika kamu sempet ke Maumere, sebaiknya main ke patung Bunda Maria saat malam hari. anda akan menyaksikan Kota Maumere dari Puncak.” kata Steven berusaha meyakinkan saya.

kemudian Steven menceritakan perjalanannya dari Maumere ke Ende yang terpaksa harus digotong oleh truk. Saya hanya mampu menempuh separuhnya perjalanan dari Maumere ke Ende. separuhnya terpaksa saya digotong menggunakan truk pengangkut barang. saya membenarkan apa yang dia ceritakan bahwa dia tak sanggup menaklukkan jalur berat Maumere Ende. saya mendengar secara langsung dari petugas hotel tempat kami menginap.

Dua Danau Kelimutu

Dua Danau Kelimutu (Danau Tiwu Ata Polo dan Danau Tiwu Nua Muri Ko’o Fai)

Dasar Bule Gila. benar-benar gila. masak medan pegunungan dan berkelok-kelok dari Maumere ke Ende ditempuh dengan sepeda. hanya orang gila yang bisa menempuh jalanan  seperti itu.

saya tahu untuk perjalanan jauh dalam waktu yang lama. sangat-sangat membutuhkan dana yang cukup. saya pun iseng nanya tentang pekerjaan, rumah dan istri. eh si Steven malah tertawa. dia mengira pertanyaan saya adalah pertanyaan terlucu sepanjang perjalanannya. “saya ini tak ada punya pekerjaan, tak ada rumah dan juga tak ada istri, saya hanya jalan-jalan keliling dunia”. aku mulai bengong dibuatnya. maklum, saya waktu itu belum kenal dengan yang namanya jalan ala backpacker atau hidup ala backpacker yang bisa jalan sambil kerja atau kerja sambil jalan-jalan.

Kelimutu saat berubah Warna (foto ini diambil oleh kawan saya, Yanto pada tanggal 13-9-2013)

Kelimutu saat berubah Warna (foto ini diambil oleh kawan saya, Yanto pada tanggal 13-9-2013)

saya pun berusaha melisiknya dari mana uang untuk jalan-jalannya. dia dengan gayanya tetap ngak mau membuka apa sebetulnya pekerjaan dan dari mana dana jalannya. “Mungkin kamu berasal dari Orang tua yang kaya raya sehingga kamu bisa jalan-jalan semaunya?” kataku berusaha menelisiknya. Steven hanya menjawab dengan gelengan kepala. saya pun memakluminya. biarlah, saya tak mau membujuknya lagi. setelah beberapa lama, saat saya menuliskan cerita ini, toh saya banyak menemui wisatawan-wisatawan yang pekerjaannya memang fleksibel seperti Currency Trader (like Alex Sloven, dari Slovenia), Travel Writer or Programmer (Dina dan Ryan, DuaRansel), atau lainnya.

Kamu sudah menikah, kata Steven kepada saya. “ya saya sudah menikah”. huhhh kamu sudah menikah, kata Steven dengan nada keheranan. dalam keheranannya dia memperhatikan saya yang tepat berada di depannya. mungkin dia heran karena perawakan saya yang tak terlalu besar, tubuh ramping dan kecil. sedangkan, dia yang umurnya 30an lebih saja belum menikah. dia pun tersenyum melihat saya. tersenyum keheranan. “memang umurmu berapa?”. umur saya sekitar 28 tahun, kata saya. dia pun hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanpa sepatah kata pun yang keluar.

Siklus Perubahan Warna pada Danau Tiwu Ata Polo

Siklus Perubahan Warna pada Danau Tiwu Ata Polo

Anda mau melanjutkan perjalanan ke mana lagi sehabis dari Danau Kelimutu ini, kataku kepada Steven. “sehabis ini, saya mau melanjutkan ke Labuhan Bajo, Lombok, Bali, Java, Sumatra, then Singapura and Malaysia”. kamu mau menempuhnya dengan bersepeda, are you sure, kataku. “yaa, saya akan menempuhnya dengan bersepeda”. wauuuu keren, kataku sambil menggangguk-anggukan kepala dengan mimik wajah penuh keheranan. percakapan kami akhirnya ditutup dengan foto-foto dulu bersama Steven Billboy, sang biker. dia pun turun dari Puncak Danau Kelimutu 3 warna. Melanjutkan perjalanan dengan bersepeda. satu kata untuk Steven “Victory”. Kalau ngaku jago bersepeda atau hobi bersepeda. kalahkan Steven Billboy.

sejarah Terbentuk Danau Kelimutu

sejarah Terbentuk Danau Kelimutu

makin lama makin hilang wujud Steven. tiba-tiba saya teringat belum minta alamat email or Facebook. setidaknya saya pengin tahu lokasi dia saat dia. apakah sudah meninggalkan Indonesia menuju negara lain atau masih di sekitar indonesia. saat saya menyelesaikan tulisan ini, saya menghubungi pihak hotel dimana Steven nginap. sayang seribu sayang sang pemilik hotel juga tak punya CPnya. ya sudah saya berharap aja dia suatu saat muncul di media-media sebagai orang yang pertama kali di dunia yang telah menaklukkan dunia dengan bersepeda.

Tahun Aktivitas Gunung Kelimutu

Tahun Aktivitas Gunung Kelimutu

Perut mulai keroncongan, kerongkongan mulai terasa kering. suasana puncak danau kelimutu yang berhawa dingin sangat cocok dengan makanan-makanan dan minuman hangat. Sambil bersedekap menggunakan jaket saya mendekati penjual makanan dan minuman yang tak lain adalah bapak yang saya temui pagi-pagi buta. Penjual makanan sekaligus Penunggu Danau Kelimutu. saya langsung menyeruput kopi hitam dan pop mie yang masih hangat. enaknya…. menyeruput kopi di puncak Danau Kelimutu.

ku hanya bersyukur atas maha karya Tuhan bernama “Danau Kelimutu 3 Warna”. inilah keajaiban yang ada di Kabupaten Ende. Kabupaten yang pernah menjadi tempat Bung Karno diasingkan. Kabupaten Ende juga lah yang menjadi perenungan Bung Karno dalam melahirkan 5 butir Pancasila.

Kita Menuju ke

Kita Menuju ke

Setelah menghabiskan segelas kopi hangat, kami pun siap-siap pulang turun meninggalkan Keajaiban Tuhan itu. saya menggunakan kata Keajaiban terhadap 3 Danau ini, karena memang danau  ini begitu ajaib. adakah penelitian yang menjelaskan kenapa Danau ini bisa memiliki 3 warna, kenapa warnanya bisa berubah-rubah secara periodik?. Ataukah saya yang belum tahu bahwa penelitiannya sudah dilakukan tetapi jurnal penelitiannya belum keluar. bahkan, Kompas juga telah melakukan penelitian terhadap Danau Kelimutu ini. hal ini seperti yang diutarakan oleh Penunggu Danau Kelimutu itu.

Menuruni Tangga sambil menghitung jumlah tangga tapi ngak pernah bisa (4 kali nyoba

Menuruni Tangga sambil menghitung jumlah tangga tapi ngak pernah bisa (4 kali nyoba)

Perubahan warna terhadap danau-danau yang ada di kelimutu ini disebabkan oleh perubahan komposisi mineral yang ada di dalam danau itu sendiri, kata penunggu itu kepada saya. tapi saya merasa belum terjelaskan mineral-mineral apa saja yang menyebabkan perubahan warna terhadap danau-danau kelimutu itu. semoga suatu saat bisa tahu penyebab perubahan warna secara pasti setidaknya agar masyarakat kelimutu terjelaskan dengan semuanya.

Terima kasih saya kepada penunggu Danau Kelimutu yang menjelaskan sejarah kelimutu mulai tentang aura keangkeran Danau Kelimutu dan segala hal yang berbau kelimutu. cau… Trips to Maumere.

—————————————————–

Ikuti Perjalanan kami yang lain di Ende saat menggunjungi Pantai Penggajawa, Pantai dengan batu-batuan Hijau di

https://caderabdul.wordpress.com/2013/09/15/pesona-pantai-penggajawa-dengan-batu-hijaunya/

atau mau tahu Bagaimana Bung Karno menemukan Inspirasi 5 Dasar Pancasila dalam pohon Sukun sila ke

https://caderabdul.wordpress.com/2013/09/15/bung-karno-dan-pohon-sukun/

atau mau tahu tentang Perjalanan saya dari Ende ke Danau Kelimutu dimana anda bisa melihat bentuk sawah-sawah yang unik, pemandian air panas Detusuko, atau mau melihat Air Terjun Murondau. sila klik dibawah ini.

https://caderabdul.wordpress.com/2013/09/17/perjalanan-menuju-kawasan-wisata-moni-ende/

dan jangan lupa follow twitter kami @caderabdulpaker

Advertisements

Berburu Sunset di Teddys’ Beach

Berburu Sunset dan burung-burung berjemur di Teddys’ Beach 

Sang Pemancing di Pantai Teddys

Sang Pemancing di Pantai Teddys

Hatiku bimbang namun tetap pikirkanmu

selaluuuu selalu dalam hatiku

ku melangkah sejauh apapun itu

sekalu kau di didalam hatiku

oohaahhaaaaaa haaaaaaaa

ku berjalan berjalan memutar waktu

berharap temukan sisa hatimu

mengerti lagu ingin engkau begitu

mengerti kau di dalam di dalam hatiku

tak bisa kah kau menungguku.

berdiri di bawah Rembulan

berdiri di bawah Rembulan

Sepenggal Lagu dari Peterpan ini mungkin sangat cocok boat gambarin kegalauan saya di sore hari waktu masih tinggal di kupang, NTT. tak ada “teman” ataupun gebetan. Masih laku loh dir?. begitu ejekan mas beki ataupun teman-teman saya saat itu. Namun sekarang saya sudah laku beneran plus mendapatkan anugerah istri cantik. baik hati plus rajin menabung.preeet Alhamdulillah. hehe.. beneran loh ya itu istriku baek banget.

dalam genggaman sang batu

dalam genggaman sang batu

nah waktu itu sehabis pulang kerja. tak ada kegiatan. tak agenda. demi ngilangin kesepian dan kegalauanku itu, ku gencet  pencet tooth HP jadulku itu. Leo, ayo kita memburu Sunset di Teddys Beach?. di ujung telepon itu terdengar dengan nada sumringah. Ayo, katanya semangat.

Sang Rembulan

Sang Rembulan

Ditunggu-tunggu tuh yang namanya Leo malah-malah ngak nongol-nongol. 5 menit 10 menit pun dah lewat tak kunjung datang. masak harus lebih lama galaunya hehe. Yaa sebentar lagi, 5 menit lagi, katanya di ujung telepon.

akhirnya dia nongol juga. kami pun langsung tancap gas ke pantai Teddys “Teddys Beach”. tak perlu waktu lama untuk nyampe di pantai yang menjadi salah satu favorit warga kupang yang ingin kongkow-kongkow.

Sunyi, Senyap, tak ada riyak.hanya sajian ketenangan dan keheningan.

Sunyi, Senyap, tak ada riyak.hanya sajian ketenangan dan keheningan.

pantai yang berlokasi di Kupang Bawah alias “Kota Lama” Kota Kupang. di Teddys juga lah pusat terminal Angkot Kupang yang terkenal urakan dan cadas itu. tak hanya itu, Teddys Beach jua memiliki Teddys’ Bar

selain bisa nikmatin sunset di pantai Teddys, di sini kita bisa menyantabbb jagung bakar “PULUT”. jagung Pulut ini enak sekali, lebih nikmat dan lebih manis dari jagung manis. Rebusan jagung pulut juga tak kalah nikmatnya, bahkan lebih nikmat dari jagung bakarnya.

Romantisnya kelakukan dua pemancing ini. semoga tidak ada kelanjutannnya aja hehe

Romantisnya kelakukan dua pemancing ini. semoga tidak ada kelanjutannnya aja hehe

di Sore hari, Pantai Teddys benar2 tumpah ruah ma para pengunjung dan Pedagang Kaki Lima Dua (PKD). ada yang bawa keluarganya, ada yang bawa pacarnya atau gebetan. nah celakanya, sering orang-orang yang berpacaran tak peduli tempat. eh pas sunsetnya lagi bagus, mereka pun ngambil momentum yang pas untuk romantis picisan haha.

Si Leo lihat moment yang seperti seakan tak ingin menyia-nyiakan. dia langsung membidik mengarahkan kameranya ke cewek cowok itu dengan latar sunset Pantai Teddys. kameranya Leo memang mendukung untuk membidik dari jauh. beda dengan punya saya yang hanya bisa membidik jarak dekat. beberapa kali ku liat Leo selalu mengarahkan bidikannya ke sasaran yang tepat. anjriittt Leo.

Sunset Teddys Beach

Sunset Teddys Beach

sedangkan saya lebih ingin membidik suasana sunset yang indah di ufuk barat itu. pantai Teddys memang benar-benar menawarkan sunset yang ajib bener. tak terasa hilanglah semua galauku dibawa angin Teddys ke samudra luas kehidupan. aaalah mulai ngak jelas haha… ya ngak apa-apa biar sedikit puitis romantis gitu.., ku coba membidik lebih fokus lagi. ku liat beberapa yang berada di atas batu yang agak menjorok ke laut. mereka memancing, pikirku.. keren dah kawan. makin sempurna suasana sunset di Pantai Teddys ini.

After Sunset Teddys

After Sunset Teddys

Pantai Teddys ini merupakan bekas pelabuhan jaman dulu sebelum pelabuhan dipindahkan ke Pelabuhan Tenau. di Tengah-tengah laut Pantai Teddys, ada besi bekas-bekas pelabuhan. besi-besi itu masih kokoh tapi wajahnya udah bopel-bopel karatan.

saat suasana makin malam, pantai Teddys masih bertahan kemeriahannya. beberapa penjual masih sibuk meladeni para penikmat kuliner. itu terlihat dari pancaran lampu-lampu penjualnya.

Suasana Malam Pantai Teddys

Suasana Malam Pantai Teddys

Burung-Burung Berjemur alias Sunbathing

Sunbathing-Birds in Teddys Beach

Sunbathing-Birds in Teddys Beach

tak hanya turis yang suka Sunbathing. burung-burung di Pantai Teddys pun juga suka melakukan sunbathing. atau jangan-jangan, burung-burung di Teddys juga merupakan Burung Luar Negeri sehingga sama-sama suka berjemur. hehe. bisa aj kan?. kan bisa aja dia terbang dari Benua Australia, #setengah memaksakan pendapat. dasar caderabdulpacker ngak mau ngalah

saya melihat burung-burung yang berjemur di atas besi-besi tua bekas pelabuhan. mereka berbaris rapi di atas besi-besi tua itu. kerennn edan banget ne burung bisa baris rapi satu per satu di atas tiang besi. gila kalian. besi tua itu hampir semuanya penuh oleh burung-burung berjemur. saya melihat kejadian ini saat melakukan jogging pagi di hari Minggu. saya coba rehat sejenak eh malah nemu burung-burung berjemur.

ayo berbaris yang rapi

ayo berbaris yang rapi

saya pun tak mau menyia-nyiakan moment ini. saya langsung balik arah pulang lagi. secepat kilat. eh mana ada lari secepat kilat. maksudnya buru-buru saya lari ngambil kamera trus langsung ke TKP pake sepeda motor butut saya.

Sunbathing-Birds dengan latar Pulau Kera

Sunbathing-Birds dengan latar Pulau Kera

Alhamdulillah. tuh burung bener-bener berjemur. ngak ada yang lari ataupun terbang untuk cari maem dulu.. full Sunbathing. saya tungguin tuh burung ampe siang. mereka sama sekali tak beranjak untuk terbang cari makan. mereka hanya terbang ke tiang-tiang besi yang lain. benar-benar ajib. momen ne benar-benar jarang kawan. ku coba dekati mereka agar bisa moto lebih jelas. eh mereka pun tetep pada pendirian untuk berjemur. jangankan beranjak, niatpun tak ada.

Sunbathing Birds dilihat dari jauh

Sunbathing Birds dilihat dari jauh

saya benar-benar bebas potrat potret kesana kemari dengan berbagai view dan angle. salah satunya ada burung-burung yang berlatar pulau kera yang terlihat mengecil dilihat dari Pantai Teddys.

Terima kasih para burung-burung yang menemani saya. hari ini saya benar-benar bisa menaklukkan burung. taklukkan dirimu niscaya kan akan menaklukkan burung-burung. duh duh duh sokbijak kamu der. #ngomongsamaburung. #edisi telat nulis. Kenangan  di Teddys Beach Kupang, salam from Lombok. @Caderabdul_

Jalan tak berujung...eh ada ujung tapi ngak kelihatan kan

Jalan tak berujung…eh ada ujung tapi ngak kelihatan kan

Lasiana, kenangan yang tak terlupakan

Lasiana, kenangan yang tak terlupakan

Pantai Lasiana

Pantai Lasiana

Lasiana merupakan salah satu pantai favorit warga kupang. tak hanya itu, warga di luar kota kupang juga sering berdatangang ke Pantai Lasiana. Lokasinya yang begitu strategis membuat daya tarik tersendiri. perjalanan dari Bandara El Tari ke Pantai Lasiana ini hanya butuh sekitar 15 menit saja.

Lasiana Beach

Lasiana Beach

bagi saya, Pantai Lasiana menjadi kenangan tersendiri. di waktu pagi itu, pada tanggal 17 Februari 2012. waktu itu adalah awal-awal saya  memiliki kamera. saya menunggui sunset yang hendak datang. muncul dari balik pohon Lontar yang ada di Pantai Lasiana. menunggu dari tengah laut Lasiana.

The Stairway of the Sky

the Stairway of the Sky

the Stairway of the Sky

untuk mencapai ke tengah laut saya harus menyusuri pesisir pantai dalam keadaan masih gelap. batu-batuan tak terlihat yang tak sengaja ku tendang. tak ada perlengkapan penerangan sama sekali. pantai Lasiana ini berbentuk agak melengkung. di ujung lengkungan itu, ada jalan yang berfungsi sebagai jembatan  dan berfungsi  sebagai pemecah ombak.

Stairway to the Sky

Stairway to the Sky

ku berjalan menyusuri jalan  dalam kegelapan pagi. kanan kiri saya adalah laut. mentari pagi semakin jelas kedatangannya. warna merah jingga langit Lasiana memperindah suasana  pagi. bangun pagi ku tak mengecewakan. langit Lasiana semakin jelas. saya bisa menyaksikan lukisan awan langit yang begitu indah.

Mentari Pagi di Lasiana

Mentari Pagi di Lasiana

awan-awan itu laksana tangga-tangga langit. “the Stairway of the Sky”, “Stairway to the sky”. mungkin begitu lah judul suasana langit di pagi ini. menurut penjelasan kawan saya, Baktiar Sontani, “awan yang berbentuk seperti itu adalah awan yang membawa badai”. apakah bener seperti saya juga belum  menguji kebenarannya. kayaknya sih benar hehe.. ayo mas Bek nyuri ilmu dari mana ntuh?

Panorama Lasiana di Waktu pagi

Panorama Lasiana di Waktu pagi

di balik the Stairway of Sky itu muncul semburat cahaya mentari pagi yang menyapa dunia. menyapa saya yang berada di tengah-tengah laut seorang diri. cukup lama ku menikmati karya Tuhan yang begitu ciamik ini. tak pernah bosan ku melihat karya-Nya. saya pun harus beranjak melihat karya ini dari sisi yang lain yaitu Lasiana From the Hill

Lasiana from the Hill

Lasiana's Gate Tree

Lasiana’s Gate Tree

medan itu untuk menuju bukit Lasiana merupakan suatu perjuangan sendiri. tak ada alat bantu. hanya bisa berpegangan kepada tanah-tanah yang bisa dipegang. pohon-pohon Lontar yang menawarkan lengan bantuan. tertatih-tertatih ku mencapainya. rasa capek semua langsung terobati saat sudah mencapai puncak Lasiana. dari Bukit ini,Kita menyaksikan lukisan Lasiana itu. semakin jelas Pantai Lasiana mentari paginya. Pohon-pohon Lontar menghiasi keindahan Lasiana

Lukisan Lasiana

Lukisan Lasiana

di Bukit Lasiana ini ada beberapa Pohon Lontar. Pohon Lontar itu berfungsi sebagai frame of Lasiana. Gerbang Lasiana atau Lasiana’s Gate Tree. tak jauh dari lokasi saya berdiri, ada sebuah penginapan yang baru selesai dibangun.

Lasiana dan Sepakbola

Tim Sepakbola Lasiana

Tim Sepakbola Lasiana

Lasiana tak hanya menawarkan keindahan saja.banyak hal lain yang bisa dinikati di Pantai ini. salah satunya adalah Sepakbola. seketika itu juga Lasiana bisa berfungsi sebagai Lapangan Sepakbola.

suasana bermain bola di Lasiana

suasana bermain bola di Lasiana

pada pagi hari biasanya air laut juga belum pasang. pada hari Minggu itu, biasanya penduduk kupang yang mayoritas beragama Kristen pergi ke Gereja Pantai Lasiana tidak terlalu banyak pengunjung. nah pada saat sepi Pengunjung, kita memanfaatkan Lasiana untuk bermain bola. pasir Lasiana yang agak keras sangat cocok untuk berolaharaga sehingga tidak terlalu berat untuk berlari.

Istirahat setelah capek bermain

Istirahat setelah capek bermain

setelah capek bermain bola, biasanya langsung berlanjut berenang di laut. inilah renang wajib, renang sambil bermain polo air menggunakan bola sepak. renang sambil bermain atraksi, renang sambil belajar mengapung. herannya, walaupun sudah dilatih berkali-kali mengapung, saya pun belum bisa mengapung sampai saat ini.

mari berenang

mari berenang

Atraksi

Atraksi

Belajar Ngapung

Belajar Ngapung

Pisang Epek Lasiana

Pasir Pantai Lasiana berwarna kecoklat-coklatan

Pasir Pantai Lasiana berwarna kecoklat-coklatan

Main bola sudah, berenang juga selesai. perut sudah mulai keroncongan, kerongkongan sudah kehausan. beberapa kali sempat terminum air laut semakin menambah rasa haus.

Lasiana sebelah Kanan

Lasiana sebelah Kanan

Es Kelapa Muda bisa menjadi penghilang rasa haus dan penambah stamina. Es Kelapa Muda dipadu dengan Pisang bakar “Epek” yang begitu nikmat. maknyussss. sedapp. Pisang Bakar dicampur keju dan coklat. Pisang Epek ini makanan khas lasiana.

Aliran sungai yang bermuara di Lasiana

Aliran sungai yang bermuara di Lasiana

so, bila anda mampir ke Lasiana, jangan lupa untuk memesan Pisang Bakar Epek rasa coklat dengan ditaburi  keju.

Lasiana Sore Hari

Lasiana di Senja Hari

Lasiana di Senja Hari

Jika waktu pagi, Lasiana menjadi arena Olahraga Sepakbola. maka saat sore hari, Lasiana bisa menjadi arena peribadatan. tak jarang, saya sering melihat umat kristiani yang beribadah di pantai Lasiana. tentu, beribadahnya bukan tepat pada di pinggir pantainya.

Lasiana bersama istri

Lasiana bersama istri

suasana sepi di pagi hari akan berubah menjadi suasana ramai. satu lokasi dengan sejuta motif. Lasiana penuh dengan para penunggu sunset.

Terakhir

Moment Lasiana

Moment Lasiana

Alhamdulillah pada tanggal 30 Desember 2012, saya berkesempatan untuk mengajak istri saya, Alifi Siswiyana Rahayu yang cantik. berpetualang menyusuri pesisir pantai Lasiana.

beberapa kali istriku meminta saya untuk memperlambat jalanku. maklum, istriku ingin merasakan pasir Lasiana memijati kedua kakinya. petualangan itu pun berlanjut ke Pohon Duri yang berada di dekat Lasiana.

Kayu Lasiana

Kayu Lasiana

di lokasi itulah, saya ingin memelihara kenangan itu. mengabadikan foto istriku di antara pohon-pohon duri.  memeluk kenangan yang tak akan pernah terlupakan.

tiba-tiba kepalaku teringat tentang Sepakbola Lasiana dimana  saya selalu rutin bermain bola dengan kawan-kawan saya, Bapak Anwar Anis, Pak Budi, Anwar, Bapak Jalil.

sesi pohon duri Lasiana

sesi pohon duri Lasiana

ya itulah sekilas perjalanan saya di pantai yang paling banyak dikunjungi di Kota Kupang. see you next trip.

Oehala, Air Terjun bertingkat tujuh

Kenangan di Pulau Timor

Oehala, Air Terjun bertingkat tujuh

Selamat datang di Air Terjun Oehala, SoE.

Selamat datang di Air Terjun Oehala, SoE.

Sejenak melupakan kepenatan dan panasnya kota kupang. Kupang sebetulnya dikelilingi oleh pantai. Sebut aja mulai dari pantai Lasiana, Pantai Teddys, pantai Pasir panjang, Pantai Paradiso, Pantai Tenau, Pantai Tablolong, dll. Tidak hanya itu, kupang akan menjadi kota yang indah pada bulan-bulan akhir tahun mulai dari September sampai dengan Desember.

menuruni jalan ke Lokasi Air Terjun

menuruni jalan ke Lokasi Air Terjun

Pada bulan-bulan itu kota kupang seperti kota tokyo di negeri Sakura. bunga-bunga yang biasanya berbunga pada bulan-bulan Desember serentak berbunga. Bunga Flamboyan dan bunga sejenisnya mulai berbunga. Saat itulah kupang benar-benar menjadi kota indah dengan penuh kasih.

Mata kita langsung disambut tangga air terjun Oehala

Mata kita langsung disambut tangga air terjun Oehala

Pada saat kota kupang dipenuhi oleh bunga-bunga yang bersemi. Saat itu juga cuaca kota kupang begitu panasnya. Bahkan Suhunya bisa sampai 42 derajat celcius. Nah saat cuaca yang kurang bersahabat, enaknya jalan-jalan ke pegunungan di daratan timor yaitu kabupaten Timor tengah Selatan (TTS) di SoE. Suhu di SoE beda dengan Kupang yang panas. Suhu disini begitu dingin. Dinginnya pun sangat tajam. Sebaiknya anda menggunakan jaket penghangat jika ingin menginap di SoE.

Oehala Waterfall

Oehala Waterfall

Mari lupakan sejenakkota kasih Kupang. Kali ini saya akan mengajak perjalanan saya ke Air Terjun bertingkat tujuh yang berada di bogor-nya kupang. Nama air terjunnya adalah Air terjun Oehala. Oe dalam bahasa suku timor berarti Air. Air terjun Oehala ini berada di kabupaten TTS. Jaraknya sekitar 100 km dari kota Kupang. Butuh dua jam untuk mencapainya.

Tangga Air terjun Oehala

Tangga Air terjun Oehala

Transportasi yang bisa digunakan adalah Bis antar kabupaten atau travel jurusan SoE. Dari terminal SoE anda bisa menggunakan ojek jurusan air terjun Oehala. Tarif ojeknya sekitar 25.000 pulang pergi. Namun jika anda ingin merasakan dinginnya puncak di pulau Timor ini. Anda bisa menginap di Hotel Bahagia atau Hotel Gajah Mada di SoE. Waktu tempuh dari kota SoE ke lokasi air terjun Oehala hanya 30 menit.

Infrastruktur jalan menuju air terjun Oehala belum terlalu mendapatkan perhatian dari pemerintah setempat. Begitu juga dengan fasilitas di lokasi air terjun belum begitu memadai. Kamar kecilnya belum begitu memadai.  Anda tidak akan menjumpai Penjual makanan dan minuman di lokasi. Sebaiknya anda membawa bekal makanan sendiri jika mau berwisata ke air terjun Oehala. Air terjun Oehala ini banyak dikunjungi oleh anak-anak muda pada saat hari libur.

Air Terjun Oehala semakin malam. semakin gelap. semakin takut juga. hanya saya yang moto disini

Air Terjun Oehala semakin malam. semakin gelap. semakin takut juga. hanya saya yang moto disini

Saat anda turun menuju lokasi  air terjun Oehala, anda akan mendengar gemuruh air terjun Oehala bertingkat tujuh ini. saya kesini saat menjelang sore hari. Tidak ada pengunjung kecuali saya dan tukang ojek.tukang ojeknya hanya menunggu di lapangan parkir. jadi, hanya saya yang benar-benar menuruni air terjun Oehala. benar-benar sepi dan sendiri. Jam sudah menunjukkan pukul 16.50 Wita.

Airnya begitu deras dan jernih khas mata air pegunungan. Deburan air terjun ini seakan menenangkan kesendirianku. Air terjunnya berbentuk tangga-tangga raksasa yang dibuat oleh alam. Tangga yang Begitu cantik dan ciamik dengan warna kehijau-hijauan. Sambil melihat tangga-tangga, aku ingin berdendang.

menyeruput kopi flores memandangi sunset dari Hotel Gajah Mada

menyeruput kopi flores memandangi sunset dari Hotel Gajah Mada

Sendiri ku di sini. Menatap tangga-tangga langit. Mendengarkan suara gemericik air membasahi jari-jemari.

Sepulang dari air terjun Oehala, sambil menikmati sunset dari lantai dua Hotel Gajah Mada sambil menyeruput kopi hangat khas flores untuk melawan hawa dingin suasana puncak SoE

Perjalanan Menuju kawasan wisata Moni, Ende

Bentuk Sawah-sawah saat perjalanan dari Ende ke Gunung Kelimutu

Bentuk Sawah-sawah saat perjalanan dari Ende ke Gunung Kelimutu

Sawah-Sawah dan Tebing-Tebing

Kali ini saya melanjutkan perjalanan saya ke Kawasan Wisata Moni. Jika kupang identik dengan panasnya maka di Ende sangat identik dengan ademnya. Kabupaten Ende termasuk dalam kawasan pegunungan. Tentunya gunung yang terkenal itu Gunung Kelimutu yang terkenal dengan Danau Kelimutu tiga warna.

IMG_4735

sawahnya keren ya di ende ini

Tidak hanya itu, sepanjang perjalanan saya ke kawasan Wisata Moni. Banyak kawasan pertanian dan perkebunan yang kami lewati. Banyak tanaman yang bisa kami jumpai dalam perjalanan ke Moni. Seperti perkebunan kemiri, cengkeh, coklat, dan hamparan tanaman padi. Dari berbagai kawasan pertanian ada yang satu hal yang sangat mencolok dan unik bagi rombongan kami. Akhirnya kami pun memutuskan untuk berhenti sejenak. Kawasan itu adalah kawasan pertanian padi. Bukan padi yang unik tapi bentuk petak-petak sawah itu yang unik. Mungkin bentuknya mirip apa ya…hayo ada yang bisa bantu sawah ini berbentuk apa?tentunya ya berbentuk sawah. Hehe.

Sepanjang perjalanan, kami dimanjakan oleh indahnya tebing-tebing pegunungan yang terjal. Saya tidak bisa membayangkan seandainya saya terhempas dari tebing-tebing tersebut. Selain itu, saya melihat beberapa warga yang mandi dari air terjun dadakan yang berada di pinggir-pinggir jalan raya. Terlihat aneh sih tapi tidak bagi mereka. Dari tebing-tebing keluar air. Air yang keluarnya cukup deras itu dipasanglah paralon. Nah warga hanya memanfaatkan air yang keluar dari paralon-paralon itu. ada yang mandi dan ada yang ngambil untuk keperluan lainnya. Jadilah pinggir-pinggir jalan raya penuh dengan warga atau anak-anak yang mandi.

Narcis dulu akh

Narcis dulu akh

Melewati kawasan pemandian dadakan. Kami pun disuguhi lagi pegunungan dan tebing-tebing. Sang supir lalu menunjuk sebuah kampung adat yang jauh disana. “di sana ada kampung adat, kampung adat itu baru terbakar”, ucap sang supir kepada kami. Karena insiden kebakaran itu, sang supir menyarankan agar kami tidak perlu datang kesana. Kami pun melanjutkan perjalanan lagi.

Wisata Air Panas Ae Oka Detusuko

IMG_4747

Wisata Air panas Ae Oka Detusuko Jaraknya sekitar  33 km. bisa ditempuh dalam satu jam dengan Mobil atau motor atau angkutan umum. Air panas Ae Oka Detusuko berada pertigaan jalan. Tepatnya di pertigaan pasar Detusuko. sekitar 500 meter dari Pasar Detusuko.

nah sebelum masuk. bayar karcis dulu. Ngak mahal, paling 2000 perak. Kolam renang air panas tidak terlalu luas. Pas lah buat manasin badan. Air Panas Detusuko ini biasa dikunjungi warga pada sore untuk mandi. Adanya air panas sangat cocok dengan kawasan yang dingin di daerah Detusuko. Menurut penjelasan penjaga air panas Ae Oka Detusuko, suhu di sini berkisar 36 s.d 45 derajat Celcius.

IMG_4740

Nah khusus untuk weekend. Air panas Ae Oka Detusuko banyak dikunjungi dari daerah-daerah lain. ada yang datang untuk sekedar mandi atau berendam atau ingin menyembuhkan penyakit kulit. menurut sebagian pengunjung, banyak orang-orang yang sembuh setelah mandi di pemandian Detusuko (mungkin ada benarnya kan airnya banyak ngandung mineral).

Danau Kelimutu itu berwarna-warni sesuai dengan kadar mineral. Yang pasti mineralnya lebih tinggi. Kalau yang air panas Ae Oka Detusuko aja bisa nyembuhin penyakit, apalagi yang danau kelimutu yang bermineral tinggi (hanya kesimpulan sang penulis hehe).

Jalan menuju pemandian air panas

Jalan menuju pemandian air panas

Kolam air yang ada di kawasan ada dua. Satu berukuran besar yang cukup untuk berenang. Dan satu lagi yang berukuran lebih kecil yang bisa untuk berendam beberapa orang saja. Nah sebelum mengalir ke kolam, air tersebut harus melalui kolam penampung yang ukurannya lebih kecil tapi suhunya lebih panas. Saya coba memasukkan tangan, cepat-cepat saya narik lagi karena panas. Untuk test lanjutan, saya coba menaruh telur puyuh mentah yang sudah saya beli. Tapi sebelum telur itu mateng, saya keburu lanjutin perjalanan lagi.

ngerebus telur puyuh

ngerebus telur puyuh

Nah waktunya berangkat lagi ke kawasan moni. Hanya butuh 30 menit untuk nyampe ke kawasan ini. beberapa penginapan dan Homestay sudah berjejer di sepanjang jalan kawasan moni. Termasuk hotel milik pemerintah daerah yang paling menonjol dan berada di pintu masuk kawasan Moni. Sayang, hotel itu sudah terlalu dirawat. Kesannya sih tak terawat gitu.

Nah sekarang lanjutin survey hotel sekaligus buat nginep bareng semalem. Akhirnya saya tiba di sebuah penginapan yang asri. Ketemu resepsionis, trus nanya-nanya harga. Eh hargae pake dollar (90 – 100 dollars). Akhirnya urungkan niat deh buat nginep situ..nyari-nyari akhirnya dapat di Bintang Lodge. Tarif kamar 350.000 per malam. Karena saya beritahu kalau saya sedang survey, si pemilik memberikan diskon 50.000. lumayan buat ngirit sih.

Air terjun Murundao

Air Terjun Murondao, Moni

Air Terjun Murondao, Moni

Hari sudah sore, tapi males kalau di kamar. Akhirnya nyoba nanya tempat wisata di sekitar Moni. Eh sang supir ngasih tahu di dekat sini ada Air Terjun, Air Terjun Murondao. Ya udah kita langsung cao. Harus secepatnya cao. Soalnya wis keburu malem. Jarum Jam wis nunjuk ke angka lima. Cayo

Murondao Waterfall

Murondao Waterfall

Tak perlu lama-lama. Hanya 5 menit dah tiba di lokasi. Air Terjun Murondao ne tak hanya berfungsi sebagai Air Terjun. Tapi juga sebagai irigasi, sayang irigasi itu juga masih jauh. Sehingga, untuk keperluan rumah tangga, beberapa warga perlu ngangkut air dari irigasi tersebut. Yang saya heran napa tuh irigasi tidak melewati perkampungan warga agar bisa dimanfaatin tak perlu angkut-angkut.  (bersambung)

Ikuti Perjalanan kami yang lain di Ende saat menggunjungi Pantai Penggajawa, Pantai dengan batu-batuan Hijau di

https://caderabdul.wordpress.com/2013/09/15/pesona-pantai-penggajawa-dengan-batu-hijaunya/

atau mau tahu Bagaimana Bung Karno menemukan Inspirasi 5 Dasar Pancasila dalam pohon Sukun sila ke

https://caderabdul.wordpress.com/2013/09/15/bung-karno-dan-pohon-sukun/

Follow twitter kami di @caderabdulpaker

Pesona Pantai Penggajawa dengan batu hijaunya

Indahnya pasir Hitam Pantai Penggajawa dengan batu hijaunya

Indahnya pasir Hitam Pantai Penggajawa dengan batu hijaunya

Pesona Pantai Penggajawa dengan batu hijaunya (Tour de Ende 2)

Setelah mengunjungi “Taman Renungan Bung Karno”, kami akan langsung menuju kawasan Danau Kelimutu di Moni. Tapi karena masih terlalu pagi, akhirnya kami memutuskan untuk berjalan-jalan di kawasan pesisir pantai di Ende.

Pesisir Pantai Ende berada di sepanjang perjalanan dari Ende ke Bajawa. Di sepanjang pesisir pantai ini mata akan dijamu dengan pantai dengan khas pasir hitam yang cantik dan eksotis. Dari pesisir pantai ini kita juga bisa melihat Gunung Meja yang bentuknya seperti meja itu. beberapa perusahaan berdiri di sepanjang pantainya. Perusahaan tersebut akan melakukan penambangan pasir besi di pesisir selatan kabupaten Ende.

Batu Hijau di pantai Penggajawa

Batu Hijau di pantai Penggajawa

Pasir besi ini biasanya digunakan untuk industri logam besi dan industri semen. Pasir besi di sepanjang pesisir pantai ini banyak dimanfaatkan oleh perusahaan. Jika perusahaan yang mengambil pasir ini tidak diatur secara khusus dalam peraturan daerah, maka pantai di sepanjang ini akan cepat rusak. Semoga pemerintah  daerah cepat membereskan semua ini.

Menurut penjelasan sang supir ke saya bahwa batu-batu di Pantai Penggajawa berwarna hijau. Saya semakin penasaran dengan batu-batuan hijau itu. selama ini saya sudah mengunjungi pantai Kolbano yang pantainya bukan berpasir tapi berbatu. Kali ini saya akan dikejutkan oleh pantai dengan pasir batunya.

Pesona Pantai Penggajawa

Pesona Pantai Penggajawa

Jarak Kota Ende dengan Pantai Penggajawa hanya 20 km. Tidak perlu butuh lama untuk tiba di Pantai penggajawa, hanya sekitar 30 menit. Pukul 9.30 Wita, saya dan rombongan sudah tiba di lokasi pantai Penggajawa. Di sepanjang pantai penggajawa ini banyak penduduk yang berprofesi jualan batu hijau. Termasuk di tempat saya berhenti. Seorang Ibu dan anaknya langsung menyambut kedatangan kami ini dengan menawarkan beberapa batu hijau yang sudah dibungkus dengan karung.

Batu hijau ini dijual sesuai ukurannya. Ada yang berukuran besar dan ada juga yang berukuran kecil. Harga per karung kecil 25.000. tapi jika anda membeli dalam jumlah banyak, anda bisa mendapatkan diskon. Menurut penjelasan ibu tersebut pembeli batu hijau biasanya berasal dari Bali dan Surabaya.

Jadi jika anda ingin membeli hijau nan cantik untuk hiasan rumah silahkan datang saja ke pantai penggajawa, Ende.

deburan Ombak pantai Penggajawa

deburan Ombak pantai Penggajawa dengan latar belakang Gunung Meja

Aku pun merasa heran darimana asal usul dari batu hijau. Menurut ibu itu, batu hijau di pantai penggajawa berasal dari dasar laut itu terbawa ombak hingga tiba di pantai. Sehingga batu hijau akan selalu ada di pantai penggajawa ini. Ya begitu lah penjelasan menurut sang ibu penjual. Sudah ngobrol dengan penjualnya, saya pun ingin melihat langsung batu-batu hijau dengan pasir besi yang begitu eksotis.

Pasir yang eksotis dengan hiasan batu-batu hijau semakin menambah eksotis pantai penggajawa ini. apabila air laut ini membasahi pasir besi dan batu hijau ini, maka pasir besi dan batu hijau tersebut nampak begitu bercahaya dan mempesona. Batu-batu hijau ini ada kebanyakan berserakan dimana-mana dan ada juga yang sudah mengumpul. Batu-batu hijau inilah yang diambil oleh penduduk untuk kemudian dijual kepada wisatawan yang membutuhkan.

Sebagai kenang-kenangan dari pantai Penggajawa ini. saya mengambil satu batu hijau untuk di simpan di rumah. biarlah batu itu menjadi saksi bahwa saya pernah mengunjungi kabupaten lahirnya Pancasila. Sampai sekarang batu itu masih tersimpan rapi di rumah. Teman saya, Bu Johana mengambil batu hijau sekaligus pasirnya.

C U Pantai Penggajawa

C U Pantai Penggajawa

Jam sudah menunjukkan pukul 10.00. hanya sekitar 30 menit saya di pantai Penggajawa ini. saya harus segera melanjutkan perjalanan lagi untuk melakukan survey hotel di kawasan Moni. Maklum, kawasan Moni merupakan kawasan Wisata. Jadi di Moni juga banyak penginapan-penginapan.

Selama di Moni, kita tidak hanya survey tapi juga melakukan survey ke Danau Gunung Kelimutu tiga warna. So jangan kemana-mana ya… (bersambung)

Bung Karno dan Pohon Sukun

Pohon Sukun yang menjadi Inspirasi Bung Karno. Taman Perenungan Bung Karno

Taman Perenungan Bung Karno

Taman Renungan Bung Karno

Ende, itulah salah satu kabupaten yang ingin saya kunjungi sejak pertama kali menginjakkan kaki di Bumi Flobamora, Nusa Tenggara Timur pada tahun 2007. bahkan saya pernah berjanji saya tidak akan pernah meninggalkan Nusa Tenggara Timur jikalau belum mengunjungi Danau Kelimutu tiga warna di Ende. Bahkan saya sering memberitahu janji itu ke teman-teman kantor saya. Janji itu seakan terpatri dalam otakku hingga suatu saat saya mendapatkan tugas untuk melakukan survey seluruh hotel yang ada di kabupaten Ende dan Maumere.

Bukit-bukit yang terlihat dari pesawat susi Air

Bukit-bukit yang terlihat dari pesawat susi Air

Yaitu tepat pada tanggal 17 November 2012 saya berangkat dari Bandara El Tari di Kupang dengan tujuan Bandara H. Hasan Aroeboesman di Ende. Saya berangkat bersama dengan bu Yoh dan anaknya, Jaky pada pukul 05.30 Wita. perjalanan kami sangat mengasikkan. Kami menggunakan pesawat kecil dengan penumpang hanya 11 orang. pilotnya pun asik bahkan saat pesawat sudah take off. Sang pilot Bule itu malah sibuk menelpon. Saya pun heran kenapa pesawat kecil bisa menelpon seenaknya. Maklum selama ini saya hanya menggunakan pesawat jet untuk melakukan perjalanan menggunakan udara. Suasana di pesawat sangat begitu santai. Ketinggian pesawatnya pun hanya sepertiga dari pesawat jet selama ini kita tumpangi.

IMG_4687

Dengan ketinggian yang begitu pendek. Pesawat ini bisa melewati di antara dua lembah gunung atau pegunungan di Flores. Jadi, dari atas pesawat ini kita bisa dengan jelas melihat indahnya pegunungan-pegunungan. Melihat orang-orang yang tinggal di lereng Gunung Meja. Melihat sungai yang indah berwarna hijau diantara dua pegunungan.

Tak terasa pesawat kecil sudah mau mendarat di Bandara Ende. Landing sangat bagus sebagus take off-nya. Tiba di bandara ini, saya langsung disuguhi dengan keindahan Gunung Meja, Ende. Gunung Meja terlihat  begitu jelas.

IMG_4697

Patung Bung Karno menghadap Pohon Sukun

Saya dan tim langsung berbagi tugas untuk melakukan survey hotel. Tugas survey ini membuat saya harus mengelilingi sudut kota Ende ini. karena tugas survey, saya jadi tahu sedikit banyak tata kota di Ende ini. Tata kotanya begitu bagus dan rapi. Mungkin karena ini dulu pernah menjadi tempat pengasingan Bung Karno.

Lima Butir Pancasila dan Pohon Sukun

IMG_4695

Pohon Sukun di bawah Pohon inilah bung karno melahirkan butir-butir Pancasila (pohon ini sudah diganti beberapa kali)

“TAMAN RENUNGAN BUNG KARNO” kata itulah yang tertulis di papan nama Taman Renungan bung Karno. Letaknya berapa di Tengah Kota Ende dan langsung menghadap ke Laut. Di taman perenungan Bung Karno ini sebuah patung Bung Karno yang menghadap ke sebuah pohon Sukun. Pohon Sukun itulah yang menjadi saksi perenungan Bung Karno selama dalam masa pengasingan. Bung Karno dibuang ke Ende pada tahun 1934-1938.

Selama dalam masa pengasingan itu Bung Karno tinggal dalam suatu rumah yang letaknya tidak jauh dari taman perenungan ini. hampir setiap sore hari, Bung Karno ke pantai, merenung dan membaca di bawah pohon sukun. Pohon Sukun waktu itu mempunyai lima Cabang/dahan. Dari hasil perenungan Bung Karno di bawah pohon sukun itulah lahirlah Pancasila dengan lima silanya.

Untuk mengenang Bung Karno dibangunlah sebuah patung Bung Karno. Di bawah patung ini tertulis prasasti “ DI KOTA INI KUTEMUKAN LIMA BUTIR MUTIARA, DI BAWAH SUKUN INI PULA KURENUNGKAN NILAI-NILAI LUHUR PANCASILA” Sehingga ditetapkanlah kabupaten Ende ini menjadi Kabupaten lahirnya Pancasila sebagai Dasar Negara.

IMG_4703

Berikut ini saya kutipkan tweet dari Gunawan Muhammad, saat lahirnya Pancasila pada tahun 2013.

  1. Bung Karno dibuang ke Ende, Flores, 1934 – 1938, waktu berusia 35. Di sana menulis a.l. “Surat-surat Islam”: Pandangannya tentang pembaruan tafsir
  2. Menurut cerita Ignas Kleden, eseis terkenal itu, di pengasingannya Bung Karno berteman dengan pastor2 Katolik Belanda yang mendukungnya
  3. Di Ende, ditemani istrinya waktu itu, Inggit Garnasih, dan mertuanya, Bung Karno tinggal di satu rumah kecil. Ibu mertua wafat disana
  4. Hampir tiap sore, Bung Karno ke pantai, membaca di bawah sebatang pohon sukun. Mungkin di sana ia memikirkan dasar persatuan Negara.
  5. Kini di tempat itu dipasang patung bung Karno duduk di bangku menghadap laut. Karya perupa Hanafi. Taman didesain arsitek Andra Matin
  6. Tempat itu beberapa menit berjalan kaki dari rumah kediaman yang kecil itu – yang juga direnovasi oleh arsitek Andra matin
  7. Kelak kementerian Dikbud akan memugar petilasan lain dari bung Karno di Ende. A.l ruang tempat Bung Karno mementaskan karyanya
  8. Saya termasuk yang ingin agar hari Lahir Pancasila secara resmi dirayakan tiap tahun di Ende – bagian dari sejarah kebangsaan Indonesia.

itulah tweet gunawan Muhammad yang kutipkan di tulisan ini.

Setelah dari “Taman Perenungan Bung Karno”, saya pun pergi ke rumah pengasingan Bung Karno yang tidak jauh dari sini. Sayang seribu sayang, rumah pengasingan Bung Karno sedang direhab.

Rumah Penahanan Bung Karno di Ende

Rumah Penahanan Bung Karno di Ende