Rumah Teletubbies “The New Ngelepen”

Selamat Datang

Selamat Datang

Rumah Dome. orang biasa menyebutnya dengan sebutan “rumah Teletubbies”. Rumah dome satu-satunya yang ada di Asia Tenggara. Lokasinya tak jauh dari komplek Candi Ratu Boko dan Candi Banyunibo. Sekitar 40 menit dari Kota Jogjakarta.

Terletak di Dusun Nglepen, Desa Sumberharjo, Kec. Prambanan, Kab. Sleman, Yogyakarta. Bentuk rumahnya bulat-bulat setengah lingkaran seperti rumah Teletubbies yang biasa kita tonton di televisi. Rumah Dome berjumlah 80 unit.71 Rumah Hunian untuk warga setempat dan 9 rumah yang diperuntukkan untuk fasilitas umum seperti Musholla, Aula, Polindes dan MCK.

Rumah Dome diinisiasi oleh Lembaga Masyarakat Non Pemerintah dan Domes for The World Foundation untuk membantu masyarakat yang terkena dampak gempa bumi pada tahun 2006. Rumah Dome dengan bentuknya yang setengah bulat memang dirancang supaya tahan terhadap guncangan gempa bumi.

Pembuatan rumah dome atas sokongan dana dari Ali Alabar, seorang pemilik Emaar Property yang berasal Dubai, Timor Tengah. Beliaulah yang berjasa untuk mewujudkan rumah “Teletubbies” itu.

Sebetulnya saya tak berminat untuk pergi ke “Rumah Teletubbies” ini. bukan karena alasan tak menarik, tapi takut awan-awan hitam itu menumpahkan uap air yang menggelantung. maklum, Cuaca jogja akhir-akhir sering berawan. Awan hitam menggelayut di langit Jogjakarta. alasan lain adalah karena setelah setengah hari menyusuri Taman Sari dan beberapa candi Jogjakarta seperti Candi Sambisari, Plaosan, dan Banyunibo. Dan, saya masih punya satu kunjungan lagi yaitu candi Ratu Boko sebelum saya berangkat ke Bandara. saya ditemani andri anto setiawan, kawan saya yang menjemput dan mengantarkan saya ke beberapa tempat di Jogja tersebut.

Mushalla Teletubbies

Mushalla Teletubbies

Memasuki Dusun Ngelepen, saya langsung disambut dengan barisan rumah-rumah setengah bulat dengan rindangnya pepohonan di setiap masing-masing rumah. Dusun Nglepen terpisahkan dengan sebuah sungai dengan dusun lainnya. Awan hitam menggelayut seakan hendak memuntahkan hujan yang deras, namun saya tetap berjalan menyusuri kawasan rumah Teletubbies

The New Ngelepen begitu nama dusun Nglepen baru. Barisan rumah-rumah Teletubbies yang berjajar rapi di kanan kiri jalan. komplek perumahan yang juga berbentuk melingkar. Tulisan ”The New Ngelepen” dipasang menggantung di pintu gerbang yang bentuknya sama dengan rumah dome. Pintu gerbang ini berada di tengah tengah perkampungan sebelum kita memasuki kampung. Di tiap sisi pintu gerbang, tertulis nama inisiator, pemerintah dan perusahaan pendonor dan prasasti penandatanganannya. Di sisi kiri, “EMMAR”, di sisi kanan, terpampang dengan gagahnya Lambang Garuda Pancasila dan tulisan “Domes For The World”.

Seakan ingin memberitahukan kepada dunia bahwa Rumah Dome “Ngelepen” atas kerja sama beberapa pihak seperti prasasti yang menempel di pintu gerbang.

Delapan tahun telah berlalu, Rumah-rumah Dome sebagian telah banyak mengalami penambahan. Bentuknya tak berubah tapi ada beberapa penambahan di bagian depan dan belakang serta samping seperti untuk warung, dapur dll. Ku pandangi ke segala arah. Pepohonan rimbun telah menutupi bagian-bagian rumah dome. hijau. banyak didominasi oleh pohon kelapa.

warung-warung Teletubbies

warung-warung Teletubbies

Saya berdiri memandangi masjid dan beberapa papan informasi yang berada di tengah kampung tersebut. Tak jauh dari pintu gerbang tersebut. Tiba-tiba seseorang memanggilku mempersilahkan masuk ke salah satu Dome. “Mas, silahkan masuk sana dulu mas. Isi buku tamu dulu”.

saya memasuki sebuah rumah dome yang tak jauh dari mushalla Dome itu. “Sekretariat Rumah Dome” tertulis menggantung di pintu masuknya. akh saya penasaran gimna interior di dalamnya. seperti rumah biasa kah atau. seorang remaja menyambut saya dan menyodorkan buku tamu. silahkan mas, diisi buku tamunya. biaya masuknya Rp3000,00 per orang dan biaya parker motornya Rp2000,00, imbuhnya.

Di situlah saya membubuhkan tanda tangan dan maksud tujuan saya berkunjung ke rumah dome sambil sesekali memperhatikan interior rumah Dome ini. sesekali saya mengerling rumah mungil ini. sebuah tangga kayu berada di tengah-tengah bangunan yang menghubungkan lantai satu dengan lantai dua. Rumah dome terdiri dari dua lantai. Ruangan bawah difungsikan untuk ruang tamu, ruang makan, dapur, kamar mandi serta tempat tidur. Sedangkan di lantai dua biasanya diperuntukkan untuk ruang keluarga dan kamar tidur, kata petugas tersebut. seorang remaja wanita menuruni tangga. akh mungkin dia juga petugas sekretariat rumah dome ini, batinku.

Saya merasa nyaman memasuki rumah Dome ini. Hawanya sejuk dengan luas bangunan sekitar 38 dengan tinggi bangunan hampir mencapai 5 m. Diameter ruangan sekitar 8 m, lumayan cukup luas untuk sebuah rumah mungil dan sederhana.

Rumah dome dirancang tahan gempa dan juga tahan terpaan angin hingga 450 km/jam. Titik lemah bangunan ketika diguncang gempa adalah titik sambungan. Rumah dome memang dirancang tanpa titik sambungan dengan cara membuat cetakan rumah berbentuk balon atau airform. Airform ini langsung didatangkan dari luar negeri. Yang didatangkan dari luar negeri tidak hanya airform, tapi juga blower. Yaitu alat yang digunakan untuk mengisi cetakan yang sudah dipasang tersebut.

Rumah Dome Jogja hanyalah pilot project yang dananya berasal dari bantuan luar negeri. Masih banyak daerah-daerah yang rawan gempa lainnya yang perlu sentuhan tangan pemerintah. Tenaga ahli tidak tidak kalah dengan Negara lain. Airform dan Blower perlu dibuat sendiri oleh pemerintah sehingga tak perlu lagi mendatangkan dari luar negeri.

Teletubbiesnya di mana yach?

Teletubbiesnya di mana yach?

Perkampungan rumah Teletubbies yang memiliki luas tanah sekitar 2 hektar ini memang dikonsep menjadi desa wisata. Dusun yang terlupakan ini akan menjadi salah satu daya tarik jogja ke depan selain candi, Keraton dan pantai parangtritis.

Beberapa paket wisata disediakan di kampung teletubbies ini seperti Paket Permainan, Paket Tracking, Paket Kegiatan, Paket Kesenian, Paket Ultah, Outbond dan segala macam permainan seperti pemancingan anak, mandi bola, sepeda unik, mobil-mobilan dan kereta anak.

Bagi yang ingin bermalam di The New Nglepen, juga terdapat Paket Homestay seharga Rp120.000,00 per malam dengan fasilitas makan,Snack welcome drink dan pemandu.

isi buku tamu

isi buku tamu

Ada satu hal yang jangan sampai kita lewatkan ketika berkunjung ke rumah Dome adalah bertemu dan berpose dengan Badut Teletubbies itu. Sayang, saya belum beruntung bertemu dengan the Teletubbuies. Yang ada hanyalah banner yang dipasang di pinggir jalan pintu masuk kompleks Dome

Harga tiket masuk ke desa teletubbies ini hanya sebesar Rp3000. Relatif murah untuk kunjungan unik seperti ini.

Perlahan namun pasti, The New Ngelepen akan bangkit setelah terpuruk karena gempa. Dan The New Ngelepen akan menjadi salah satu alternatif wisata jogja.

Semoga makin banyak dome-dome lain di Indonesia, dan makin banyak pula desa-desa wisata dan ini: pemerintah tidak pernah lupa bahwa masih banyak daerah-daerah rawan gempa yang perlu dipoles.

akh masak gituw aja harus menunggu bantuan luar negeri.

Sumber: Wikipedia

45 thoughts on “Rumah Teletubbies “The New Ngelepen”

    • yaaa mas tak jauhhh kug dari Ratu boko. ya trus ke selatan. mungkin sekitar 15 menit dari ratu boko.. dari ratu boko lewat jalan piyungan.. ntar ada petunjuk ke arah kiri “Rumah Teletubbies…jalan masuknya gang di kiri jalan….

  1. Waaaah, unik sekali ya Om! Kayak semakin menunjukkan kalau rumah teletubbies bukan ilusi. Yang unik-unik kayak gini perlu diperbanyak mungkin, dengan tetap mempertahankan tradisi setempat. Dan saya setuju, tanpa harus menunggu bantuan LN lah🙂

  2. Wihi, baru tau di jogja ada rumah gini. Bentuknya unik ya mas… biaya tiket masuk dan parkir juga cukup murah. Wajib visit nih kalau main ke Jogja.

    Nice Info, Salam kenal mas🙂

  3. Saya dulu pertama datang ke desa telletubies ini sekitar tahun 2009 akhir. Belum banyak pohon-pohon tinggi dan belum ada penambahan bangunan. Jadi bener-bener masih mulus rumah domes semua mas. Kalau sekarang sudah terlihat rimbun ya. Sayang bangunan tambahannya nggak dibikin mastching sama bangunan aslinya. Sulit kali ya hehehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s