Toleransi ala Kasinem, berbisnis ala Tahok

Tahok

Tahok

Kasinem dan Tahok. Dua nama yang saya ingat saat mengunjungi Solo. Kepada dua orang ini harus banyak belajar tentang toleransi dan berbisnis. Seorang Ibu rumah tangga sekaligus penjaga warung di samping gereja HKBP Solo di daerah Sutami dekat kampus UNS Solo. Sedangkan, Riadi atau biasa dipanggil dengan sebutan “Tahok” adalah pemilik kos-kosan yang lokasinya tak jauh dari Gereja HKBP dan warung Kasinem.Saya datang ke Solo untuk mengikuti program Beasiswa STAR di Solo. Walau saya tak lulus program beasiswa, beruntung saya bertemu dengan mereka berdua.

Pertemuan saya dengan mereka juga tak disangka-sangka. Setelah tidur nyenyak di Hotel Kusuma Kartika Sari semaleman, saya ingin mencari hotel yang lebih dekat ke kampus UNS sekaligus ingin menghirup udara pagi di pinggiran kota Solo. Bukan udara pagi segar yang saya dapatkan, tapi polusi udara kendaraan bermotor bercampur dengan udara yang masuk ke dalam hidung saya. Aktivitas pagi ini begitu ramai. Kendaraan-kendaraan menuju ke arah kota solo. Dari luar kota maupun pinggiran kota solo. Daerah Sutami termasuk jalan lalu lintas utama jalur bis antar Provinsi. Bis-bis angkutan provinsi hilir mudik, Anak-anak berangkat sekolah, para pegawai dan karyawan juga tak kalah hilir mudik

Beberapa warung kopi pinggir jalan mulai dijajakan. saya menyusuri pinggir jalan raya yang nampak sepi yang ketika malam hari akan dipenuhi pangkalan pedagang kaki lima. di deretan pedagang kaki lima, ada warung SS-Special Sambel. Pedesnya sesuai namanya membuat bibir bergetar, keringat bercucuran bahkan air matapun tak tahan untuk tidak keluar. Tadi malam, saya ingin mencoba cicipi warung SS. Menu makanan hampir semuanya berawalan S alias “Sambe” Seperti Sambel Bawang merah, Sambel Bawang Putih, Sambel Teri, Sambel Mangga, dan berbagai jenis macam sambel lainnya.

Warung Ibu Kasinem disamping gereja Solo

Warung Ibu Kasinem disamping gereja Solo

Sambel yang paling banyak diminati dalam seminggu akan ditulis di papan pengumuman di pojok warung dekat dengan kasir. Sambel mangga termasuk salah satu sambel yang paling banyak diminati minggu ini. saya langsung memesan sambel mangga dan teri dengan segelas es jeruk. Lumayan lama menunggu untuk saya yang sudah merasakan kelaparan. Malam ini, pengunjung lumayan ramai. Beberapa pengunjung yang sedang makan merasakan aura pedas. Bibirnya bergerak-gerak merasakan aura kepedesan.

Beberapa menit kemudian, pesanan saya pun tiba juga. Sensasinya langsung menjalar. Bukan nikmatnya teri goreng yang saya nikmati, tapi mulut yang menari-nari kepedasan. Saya sering makan pedes tapi tak sepedas ini. saya paling hobi dengan sambel apalagi sambel mangga. Tapi, kali ini saya harus pasrah tak mampu menghabiskan sambel kesukaan saya. Bibirnya saya sudah ngilu. Saya tak menyangka, Solo yang selalu diidentikkan dengan masakan manis itu seketika berubah haluan menjadi serba pedes. Ampun wong solo.

Taman Budaya, Jawa Tengah

Taman Budaya, Jawa Tengah

Pagi ini, saya memesan bubur ayam di seberang Hotel Bintang, Samping pintu gerbang UNS. Rp5.000,00 cukup untuk mengisi perut pagi ini. duduk duduk santai di sekitar pintu gerbang sambil melihat hilir mudik mahasiswa. Melihat pengangkut sampah bertuliskan “inventaris kampung” sejenis motor Bajai buatan india berkaki tiga dengan gerobak di bagian belakangnya. Sangat cocok untuk mengangkut sampah sampah dari komplek atau di pedesaan. Beberapa mahasiswa sedang menunggu Bis kampus. Tak disangka, saya bertemu dengan kawan kerja saya, Budi. Dia baru saja tiba dari Jogja. Tiap hari dia pulang pergi Solo – Jogja. Dia berangkat sejak pagi buta. Budi asli jogja. Istrinya juga ditinggal Jogja. Budi juga sedang menunggu Bis kampus.

Mendekati jam masuk, banyak mahasiswa yang berdatangan. Terlihat tergesa-gesa memasuki pintu gerbang. Lalu lintas di pintu gerbang semakin ramai. Saya hampir ditabrak oleh seorang cewek yang mengemudikan mobil terburu-buru yang hendak masuk ke UNS walau saya sudah memberikan tanda “sign”. Dalam hati saya berfikir, saya sekali lagi telah salah menilai tentang orang Solo. Solo yang selalu diidentikkan dengan kelemahlembutan nampak begitu bringas. Saya cepat berlalu ingin mencari-cari penginapan.

Pertama, saya memasuki Hotel Bintang yang minimalis. Cukup Rp150.000,00 untuk kamar standar. Sayang seribu sayang, kamar dengan tarif 150.000,00 sudah habis dibooking oleh UNS. Yang tersisa kamar dengan harga 275.000,00. Alhasil, saya pun pergi meninggalkan hotel tersebut dengan sedikit kecewa. Kecewa tapi tak perlu terlalu dipikir.

Kosku selama 3 hari di Solo

Kosku selama 3 hari di Solo

Dengan langkah gontai, saya pulang. Melihat orang di sekitar warung di samping Gereja. saya berhenti dan menanyai seorang bapak berumur yang berada di samping warung. Suami ibu kasinem. dari sini, saya mendapatkan informasi bahwa rumah pak Parno yang menyewakan kamar harian. Tak perlu menunggu lama, saya langsung meluncur ke rumah bertingkat dengan sebuah warung sederhana.

Alhamdulillah mendapatkan kos harian dengan tarif Rp200.000,00 selama tiga hari. Lumayan hemat daripada menginap di hotel. Sebetulnya kamar yang ingin saya tempati ini kamar yang biasa ditempati Tahok-Riadi. Akhirnya, Tahok mengalah tidur bersama orang tuanya di warung sederhananya. Tahok sesederhana warungnya. Tampangnya kurus, suka tidur, dan cenderung males-malesan. Umurnya dah melebihi kepala tiga, tapi belum berencana menikah. Saat kutanyai kenapa belum menikah. Dengan santai dia menjawab “belum ada yang mau sama saya”. Kampungnya dekat kampus tapi dia hanya lulusan sekolah menengah atas. Ntah lah kenapa dia tak melanjutkan sekolah lagi.

Bus Kampus

Bus Kampus

Karena tampangnya yang selalu santai dan bermalas-malasan, saya menyarankan dia agar mencari kerja. Itu sebelum saya tahu bahwa dia sudah membangun kos-kosan sebanyak 15 kamar dengan tarif per kamar sekitar Rp500.000,00. Tanpa bekerja pun alias bermalas-malasan dia sudah menghasilkan Rp90.000.000 per tahun. Atau paling apes 60 jutaan per tahun masih lumayan besar dibanding penghasilanku. Sebuah penghasilan menakjubkan tanpa bekerja. Dia hanya menunggu passive income itu datang sendiri. Kamarnya rata-rata di kos secara tahunan. Sebagian dari penghasilan dia sisihkan untuk menyicil pinjaman di bank. Tahok tidak serta merta langsung memperoleh penghasilan sebesar itu. Dia mengawalinya dari sebuah hobi pertamanya-playsation. Lambat laun playstationnya maju dan berkembang. Melihat tanah bapaknya yang kosong, dia mencoba peruntungan lain di hobi keduanya-tidur alias membangun tempat tidur bagi yang suka tidur.

Playstationnya dia jual. Sebagian hasil penjualannya dan uang bapaknya dia gunakan untuk membangun pondasi pertama kos-kosan. Kekurangan dia pinjam ke Bank sekitar Rp100.000.000,00. Dari hasil kos-kosan itu, dia bisa nyicil hutang ke bank. Tentu dengan hanya bermodalkan hobi-tidur. setelah pinjamannya lunas dia berencana membangun warung ibunya menjadi kos-kosan dan warung. Walaupun dia mendapatkan passive income tanpa bekerja-penghasilannya melebihi saya menjadi pegawai, dia tetaplah Tahok yang seperti dulu: sederhana, kurus, dan tidak neko-neko. Akhir-akhir ini hobinya nambah satu lagi: bermain badminton.

menyusuri jalan utami

menyusuri jalan utami

Lain Tahok, lain juga Ibu Kasinem. penjual warung di samping tembok Gereja HKBP. Ibu Kasinem beragama islam, suaminya beragama Kristen. Dia bisa berjualan di samping gereja karena suaminya. Saya bertemu dengan Kasinem di warungnya saat saya mau sarapan pagi. Dia bercerita awalnya suaminya ketika masuk islam namun ketika sudah menikah suaminya kembali ke agama asalnya. Ibu Kasinem tidak marah atau benci. Dia tetap cinta dan bersama suaminya hingga akhirnya dikarunia tiga orang anak. Anak pertamanya cewek tinggal di Tangerang bersama suaminya.

Keyakinan anak ibu kasinem pun ikut suaminya yang beragama Kristen dan dua orang cowok. yang kedua terpaksa menikah karena hamil. Hamil ketika masa sekolah. Dia pun terpaksa membuka bengkel di samping warung ibunya. Anak yang kedua juga ikut agama istrinya, Kristen. saat menantu dari anak keduanya masuk warung, Ibu Kasinem memberikan tanda ke saya itulah “menantunya”. Ibu Kasinem pun menceritakan asal muasal menantunya yang berasal dari anak dosen di kampus UNS.

Warung Kopi

Warung Kopi

Anak ketiganya kerja di bagian pelayaran dan belum menikah dan beragama islam. Dan semoga tetap beragama islam bersama ibunya. Biar seimbang hehe..Ibu Kasinem pun sering mengingatkan anaknya agar shalat. “saya sering ingatkan anak saya agar shalat dan tak lupa Tuhan, katanya meyakinkan saya. anaknya selalu mengirimkan ibunya duit belanja. Sebagian hasilnya juga sudah dibelikan motor yang pernah hilang tapi ketemu lagi. Duit yang dikirimkan anaknya beliau tabung. “Sapa tahu bisa bangun atau perbaiki rumah ini mas,” katanya kepada saya.

Penghasilan anaknya sebulan lumayan besar bagi saya. Ya setidaknya beberapa kali lipat dari penghasilan saya sebulan.

“Tak perlu lah meributkan agama mas, Yang penting kan hatinya baik,” katanya saat menjelaskan kepada saya. Itu lah makna toleransi yang sebenarnya. Hubungan manusia dengan manusia tetaplah harus dijaga. Ibu Kasinem mengajarkan bagaimana cara bertoleransi walau kedua anaknya berpindah agama bahkan ketika suaminya kembali ke agama asalnya. Ibu Kasinem sudah berusaha tapi itulah takdirnya. Penganut antar umat agama saling menghormati. Ketika anak-anak dan suaminya merayakan hari besar agama, Ibu Kasinem menghormatinya sebagaimana mereka juga menghormati ketika dirinya merayakan hari besar agamanya.

Di gang Pucang Sawit RT 04 RW 01, tak jauh Gereja HKBP Solo, saya menemukan orang-orang dimana saya harus mengambil pelajaran kehidupan dari keduanya tentang Toleransi ala Ibu Kasinem dan Berbisnis ala Tahok.

Menelusuri Jejak Jokowi di Solo

Dari Lantai dua, Kartika Sari (Caderabdul)

Dari Lantai dua, Kartika Sari (Caderabdul)

Pukul 07.00 WIB saya tiba di Bandara Adi Soemarmo, Solo. lokasinya terletak di luar kota Solo sebagaimana bandara-bandara pada umumnya di Indonesia seperti Soekarno Hatta yang berada di wilayah Provinsi Banten atau Bandara Juanda yang berada di Sidoarjo. Saya menyempatkan diri untuk shalat Magrib terlebih dahulu di Bandara. Suasana Bandara yang biasanya tampak terlalu ramai dan sibuk tak terlihat di sini. Tujuan saya adalah salah satu hotel di sekitar Kampus UNS, Solo. Saya hendak menuju terminal Solo kemudian naik bis yang menuju ke arah sana. Bis Damri yang biasanya menunggu penumpang turun, waktu itu nampak diam di bawah pohon dengan penerangan temaram lampu.

Polisi dan Petugas bandara memberitahuku agar naik Bis Damri tersebut. Setelah kutunggu beberapa lama, bis tak beranjak dan tak seorang penumpang yang ingin naik bis salah satu BUMN transportasi ini. diam. Saya pun ikutan diam sendiri di salah satu trotoar taman bandara tak jauh dari Bis Damri tersebut. Daripada menunggu Bis Damri tak jelas kapan berangkatnya, saya memutuskan untuk naik taksi. Harganya 120 ribu. Lumayan mengoras dompet yang mulai menipis.

Tujuanku adalah hotel di sekitar kampus Solo, hotel Kartika Sari atau Hotel Bintang. Sopir taksi menyarankanku di Kartika Sari karena Hotelnya lebih besar dan bagus. Saya memutuskan memilih Kartika Sari sesuai saran sopir. Taksi kami berjalan menyusuri pinggiran Kota Solo. Keluar dari komplek Bandara, kami melewati jalan pintas yang membelah sawah-sawah. Sedikit gelap dan sepi. Ada rasa kawatir. Lewat jalan sini lebih cepat mas, kata Sopir saat kutanyai kenapa lewat jalan ini. Setelah itu, kami hanya melewati pinggiran kota Solo. Rumah pinggiran dengan trotoar jalan seadanya.

Di atas mobil taksi ini, obrolanku teringat Mantan Walikota Solo yang menjadi Presiden sekitar lima tahun lalu. Sopir taksi itu diam sejenak saat saya menanyainya tentang perkembangan Kota Solo sejak Jokowi mimpin Solo dengan gaya blusukannya itu. banyak perubahan yang dia lakukan mas pas jadi walikota, namun, pas sudah jadi presdien belum banyak perubahan mas. Saya hanya mengangguk dan mendengarkan sang sopir taksi.

Sejatinya, saya mengenal Jokowi sebelum jadi presiden bahkan sebelum terkenal seperti sekarang. Pada tanggal 26 Oktober 2009 Jokowi hadir dalam acara Forum Kehumasan salah satu instansi Pemerintah Bidang Pengawasan di Hotel Kusuma Sahid,Solo. Jokowi menjadi salah satu pembicara dan memaparkan kesuksesan pemindahan Pedagang Kaki Lima-PKL tersebut dengan tema “Slum Ugrading in Solo, Indonesia” dengan latar belakang suksesnya kirab pemindahan PKL di Kawasan Monumen 45 ke Pasar Klithikan Notoharjo. Bahkan, saya juga pada akhirnya bisa menyaksikan pasar Klithikan yang menjadi lokasi pemindahan PKL Monumen 45. Kawasan PKL ini memanjang dan berjejer di pinggir jalan. Di depannya komplek PKL, ada railbus yang akan menjadi salah satu andalan transportasi bus yang menggunakan rel di Kota Solo. Di tengah-tengah rel, ada sebuah panggung kecil dan sederhana. Ini lah panggung karaoke sederhana di tengah-tengah rail. Sederhana tapi tetap berkesan. Para pengunjung PKL bisa menyumbangkan suaranya di lokasi Karaoke ini.

Kamarku yang penuh dengan kasur-kasur

Kamarku yang penuh dengan kasur-kasur (hanya nginap semalam)

Yang membedakan pemindahan PKL di Solo adalah caranya: memanusiakan manusia, memuliakan warga. Berdiskusi dan diajak untuk memecahkan permasalahan kota bersama-sama. Sejatinya, kebijakan-kebijakan pemerintah daerah perlu dikomunikasikan kepada warga masyarakat yang akan terkena langsung dengan kebijakan tersebut.Satpol PP tidak dikerahkan untuk memukuli para PKL tapi untuk mengayomi mereka. Bahkan untuk mensukseskan proses pemindahan PKL tersebut, Jokowi menjadikan pemindahan ini sebagai sebuah acara Agung: Kirab, yang biasanya dilakukan hanya untuk acara-acara besar keraton juga dilakukan untuk memindahkan para PKL.

Para PKL kami undang untuk duduk bersama membahas masalah PKL. Untuk memindahkan mereka, kami traktir mereka makan malam. Mungkin sudah puluhan kali, kami mentraktir mereka, paparnya waktu itu. Saya yang ikut duduk menyaksikan pemaparan Jokowi terbesit agar Jokowi menjadi Gubenur Jakarta.

Jokowi sukses membawa perubahan besar untuk Kota Solo, hingga ia dilirik untuk mengubah wajah Jakarta. Jokowi pun akhirnya rela melepas jabatan walikotanya untuk menjadi Gubernur Jakarta. Jokowi terpilih jadi Gubernur Jakarta bersama wakilnya, Basuki Cahya Purnama atau biasa dipanggil “Ahok” mengalahkan Gubernur Incumbent Fauzi Bowo yang dinilai gagal oleh banyak kalangan dalam membenahi Jakarta. Sesuai dugaan dan firasatku Jokowi menjadi Gubernur Jakarta. Namun, jabatan gubernur ini tak berlangsung lama. Jabatan Gubernur hanyalah menjadi loncatan Jokowi sebelum menjadi presiden.

Banyak pekerjaan rumah janji kampanye yang belum terlesaikan di Jakarta. Banjir, Macet, PKL, Monorail, dan Subway adalah problem utama Jakarta yang belum teruraiakan. Membereskan Jakarta ibarat menguraikan benang kusut yang bercampur lumpur hitam. Susah dan perlu kesabaran. Tapi, ketika benang itu mulai kelihatan, maka program penyelesainnya akan terasa lebih gampang.

Banjir dan Macet adalah bisa dipecahkan. “Dananya ada, kita tinggal mau atau tidak,” katanya dalam suatu saat ketika kampanye Gubernur Jakarta. Permasalahan Jakarta belum usai, Jokowi menerima mandat dari Ibu Suri “Megawati” untuk menjadi Calon Presiden. Permasalahan Jakarta akan cepat terselesaikan kalau saya jadi presiden, katanya ketika ditanya permasalahan Jakarta yang menumpuk. Jokowi terpilih menjadi Presiden Indonesia setelah mengalahkan Prabowo dengan selisih tak terlalu jauh. Kebijakan-kebijakan yang kontra-produktif dan kontroversial mengemuka. Kabinet ramping yang dia janjikan tak terlaksana. BBM naik saat harga minyak turun bahkan pada masa Jokowi lah BBM sudah tidak disubsidi lagi mengikuti harga pasar dunia. Jabatan Jaksa Agung dan Kapolri terus menjadi polemik. Bahkan, KPK pesimis dengan kepemerintahan Jokowi. Kerjasama antara Proton (Malaysia) dengan PT Adiperkasa yang disaksikan Langsung oleh Jokowi dan Mahathir Muhammad seakan menambah ketidakberdayaan Jokowi menegakkan akal sehat. Program dan kebijakannya banyak yang ditujukan untuk sekedar balas budi saat kampanye. PT Adiperkasa adalah perusahaan AM Hendropriyono, yang tak lain adalah salah satu tim sukses Jokowi.

Pemaparan Jokowi saat menjadi walikota Solo

Pemaparan Jokowi saat menjadi walikota Solo

Kerjasama ini digadang-gadang akan menjadikan proton sebagai Mobil Nasional Indonesia. Kerjasama ini dinilai sebagai balas jasa. Jokowi membantah bahwa kerjasama ini adalah murni business to business. Lalu yang menjadi pertanyaannya adalah kemana kah mobil Esemka besutan anak-anak SMK di Solo yang dulu digadang-gadang akan menjadi Mobil Nasional?.

Kemanakah Jokowi yang dulu pro rakyat saat dulu memimpin solo dengan hati itu?.kemana kah Jokowi yang saya saksikan lima tahun lalu saat memaparkan gebrakan-gebrakan di kota Solo? Akh Jokowi sudah banyak dikelilingi para politikus yang hanya memikirkan kepentingannya sendiri. “Anda belum move on yach,” begitu kata para pendukungnya ketika kebijakan-kebijakan banyak ditentang di ranah dunia maya.

Dalam keremangan Kota Solo, taksi yang saya tumpangi memasuki Kusuma Kartika Sari Hotel. Kemegahan dan luasnya Gedung tertelan oleh pekatnya malam. Saya langsung disambut oleh seorang resepsionis. Seorang resepsionis setengah baya menyodorkan saya daftar harga kamarnya. Ku lirik harga yang paling murah Rp175.000 dengan fasilitas pendingin ruangan. Saya berniat bermalam di sini semalam saja. Karena mulai besok, hotel ini akan dibooking pelajar dari Jakarta. Tiap kamar sudah ditambahi extra bed termasuk kamar saya yang akan digunakan malam ini. Bunyi pendingin yang menderek-derek karena terlalu uzur. Malam ini saya terlelap ditemani pendingin ruangan yang terlambat dimasukkan ke tukang loak.

Rumah Teletubbies “The New Ngelepen”

Selamat Datang

Selamat Datang

Rumah Dome. orang biasa menyebutnya dengan sebutan “rumah Teletubbies”. Rumah dome satu-satunya yang ada di Asia Tenggara. Lokasinya tak jauh dari komplek Candi Ratu Boko dan Candi Banyunibo. Sekitar 40 menit dari Kota Jogjakarta.

Terletak di Dusun Nglepen, Desa Sumberharjo, Kec. Prambanan, Kab. Sleman, Yogyakarta. Bentuk rumahnya bulat-bulat setengah lingkaran seperti rumah Teletubbies yang biasa kita tonton di televisi. Rumah Dome berjumlah 80 unit.71 Rumah Hunian untuk warga setempat dan 9 rumah yang diperuntukkan untuk fasilitas umum seperti Musholla, Aula, Polindes dan MCK.

Rumah Dome diinisiasi oleh Lembaga Masyarakat Non Pemerintah dan Domes for The World Foundation untuk membantu masyarakat yang terkena dampak gempa bumi pada tahun 2006. Rumah Dome dengan bentuknya yang setengah bulat memang dirancang supaya tahan terhadap guncangan gempa bumi.

Pembuatan rumah dome atas sokongan dana dari Ali Alabar, seorang pemilik Emaar Property yang berasal Dubai, Timor Tengah. Beliaulah yang berjasa untuk mewujudkan rumah “Teletubbies” itu.

Sebetulnya saya tak berminat untuk pergi ke “Rumah Teletubbies” ini. bukan karena alasan tak menarik, tapi takut awan-awan hitam itu menumpahkan uap air yang menggelantung. maklum, Cuaca jogja akhir-akhir sering berawan. Awan hitam menggelayut di langit Jogjakarta. alasan lain adalah karena setelah setengah hari menyusuri Taman Sari dan beberapa candi Jogjakarta seperti Candi Sambisari, Plaosan, dan Banyunibo. Dan, saya masih punya satu kunjungan lagi yaitu candi Ratu Boko sebelum saya berangkat ke Bandara. saya ditemani andri anto setiawan, kawan saya yang menjemput dan mengantarkan saya ke beberapa tempat di Jogja tersebut.

Mushalla Teletubbies

Mushalla Teletubbies

Memasuki Dusun Ngelepen, saya langsung disambut dengan barisan rumah-rumah setengah bulat dengan rindangnya pepohonan di setiap masing-masing rumah. Dusun Nglepen terpisahkan dengan sebuah sungai dengan dusun lainnya. Awan hitam menggelayut seakan hendak memuntahkan hujan yang deras, namun saya tetap berjalan menyusuri kawasan rumah Teletubbies

The New Ngelepen begitu nama dusun Nglepen baru. Barisan rumah-rumah Teletubbies yang berjajar rapi di kanan kiri jalan. komplek perumahan yang juga berbentuk melingkar. Tulisan ”The New Ngelepen” dipasang menggantung di pintu gerbang yang bentuknya sama dengan rumah dome. Pintu gerbang ini berada di tengah tengah perkampungan sebelum kita memasuki kampung. Di tiap sisi pintu gerbang, tertulis nama inisiator, pemerintah dan perusahaan pendonor dan prasasti penandatanganannya. Di sisi kiri, “EMMAR”, di sisi kanan, terpampang dengan gagahnya Lambang Garuda Pancasila dan tulisan “Domes For The World”.

Seakan ingin memberitahukan kepada dunia bahwa Rumah Dome “Ngelepen” atas kerja sama beberapa pihak seperti prasasti yang menempel di pintu gerbang.

Delapan tahun telah berlalu, Rumah-rumah Dome sebagian telah banyak mengalami penambahan. Bentuknya tak berubah tapi ada beberapa penambahan di bagian depan dan belakang serta samping seperti untuk warung, dapur dll. Ku pandangi ke segala arah. Pepohonan rimbun telah menutupi bagian-bagian rumah dome. hijau. banyak didominasi oleh pohon kelapa.

warung-warung Teletubbies

warung-warung Teletubbies

Saya berdiri memandangi masjid dan beberapa papan informasi yang berada di tengah kampung tersebut. Tak jauh dari pintu gerbang tersebut. Tiba-tiba seseorang memanggilku mempersilahkan masuk ke salah satu Dome. “Mas, silahkan masuk sana dulu mas. Isi buku tamu dulu”.

saya memasuki sebuah rumah dome yang tak jauh dari mushalla Dome itu. “Sekretariat Rumah Dome” tertulis menggantung di pintu masuknya. akh saya penasaran gimna interior di dalamnya. seperti rumah biasa kah atau. seorang remaja menyambut saya dan menyodorkan buku tamu. silahkan mas, diisi buku tamunya. biaya masuknya Rp3000,00 per orang dan biaya parker motornya Rp2000,00, imbuhnya.

Di situlah saya membubuhkan tanda tangan dan maksud tujuan saya berkunjung ke rumah dome sambil sesekali memperhatikan interior rumah Dome ini. sesekali saya mengerling rumah mungil ini. sebuah tangga kayu berada di tengah-tengah bangunan yang menghubungkan lantai satu dengan lantai dua. Rumah dome terdiri dari dua lantai. Ruangan bawah difungsikan untuk ruang tamu, ruang makan, dapur, kamar mandi serta tempat tidur. Sedangkan di lantai dua biasanya diperuntukkan untuk ruang keluarga dan kamar tidur, kata petugas tersebut. seorang remaja wanita menuruni tangga. akh mungkin dia juga petugas sekretariat rumah dome ini, batinku.

Saya merasa nyaman memasuki rumah Dome ini. Hawanya sejuk dengan luas bangunan sekitar 38 dengan tinggi bangunan hampir mencapai 5 m. Diameter ruangan sekitar 8 m, lumayan cukup luas untuk sebuah rumah mungil dan sederhana.

Rumah dome dirancang tahan gempa dan juga tahan terpaan angin hingga 450 km/jam. Titik lemah bangunan ketika diguncang gempa adalah titik sambungan. Rumah dome memang dirancang tanpa titik sambungan dengan cara membuat cetakan rumah berbentuk balon atau airform. Airform ini langsung didatangkan dari luar negeri. Yang didatangkan dari luar negeri tidak hanya airform, tapi juga blower. Yaitu alat yang digunakan untuk mengisi cetakan yang sudah dipasang tersebut.

Rumah Dome Jogja hanyalah pilot project yang dananya berasal dari bantuan luar negeri. Masih banyak daerah-daerah yang rawan gempa lainnya yang perlu sentuhan tangan pemerintah. Tenaga ahli tidak tidak kalah dengan Negara lain. Airform dan Blower perlu dibuat sendiri oleh pemerintah sehingga tak perlu lagi mendatangkan dari luar negeri.

Teletubbiesnya di mana yach?

Teletubbiesnya di mana yach?

Perkampungan rumah Teletubbies yang memiliki luas tanah sekitar 2 hektar ini memang dikonsep menjadi desa wisata. Dusun yang terlupakan ini akan menjadi salah satu daya tarik jogja ke depan selain candi, Keraton dan pantai parangtritis.

Beberapa paket wisata disediakan di kampung teletubbies ini seperti Paket Permainan, Paket Tracking, Paket Kegiatan, Paket Kesenian, Paket Ultah, Outbond dan segala macam permainan seperti pemancingan anak, mandi bola, sepeda unik, mobil-mobilan dan kereta anak.

Bagi yang ingin bermalam di The New Nglepen, juga terdapat Paket Homestay seharga Rp120.000,00 per malam dengan fasilitas makan,Snack welcome drink dan pemandu.

isi buku tamu

isi buku tamu

Ada satu hal yang jangan sampai kita lewatkan ketika berkunjung ke rumah Dome adalah bertemu dan berpose dengan Badut Teletubbies itu. Sayang, saya belum beruntung bertemu dengan the Teletubbuies. Yang ada hanyalah banner yang dipasang di pinggir jalan pintu masuk kompleks Dome

Harga tiket masuk ke desa teletubbies ini hanya sebesar Rp3000. Relatif murah untuk kunjungan unik seperti ini.

Perlahan namun pasti, The New Ngelepen akan bangkit setelah terpuruk karena gempa. Dan The New Ngelepen akan menjadi salah satu alternatif wisata jogja.

Semoga makin banyak dome-dome lain di Indonesia, dan makin banyak pula desa-desa wisata dan ini: pemerintah tidak pernah lupa bahwa masih banyak daerah-daerah rawan gempa yang perlu dipoles.

akh masak gituw aja harus menunggu bantuan luar negeri.

Sumber: Wikipedia

Paserang, satu di antara delapan

 

Paserang From the Top Hill

Paserang From the Top Hill

Nanjak Bukit Padang Savana

Nanjak Bukit Padang Savana

Paserang. Saya sudah jatuh cinta dengan pulau ini sejak berada di tengah laut. Menyaksikan indahnya mentari sore dari atas laut. Baru kali ini saya menyaksikan mentari terbenam langsung dari tengah laut. Di perairan Selat Alas. Bersama 7 kawan kami.

Mendarat di pulau ini, saya semakin cinta dengan pulau ini. Pulau dengan bukitnya dengan rumput rumput meranggas berwarna kecoklatan dengan ditaburi cahaya senja yang indah.

Pulau Paserang termasuk salah satu pulau dari delapan pulau-pulau yang berada di selat Alas yang lebih dikenal dengan sebutan Gili Balu’. Gili Balu’ itu antara lain P. Belang, P. Kambing, Paserang, Kenawa, Ular, Mandiki, Namo dan Kalong. Gili Balu’ akan dikembangkan menjadi calon kawasan Konservasi perairan daerah pemerintah daerah kabupten Sumbawa Barat (KSB).

Dulu sebelum lalu lintas Lombok Sumbawa menggunakan Kapal Ferry, Paserang pernah menjadi pulau barter-tempat bertemunya pedagang dari pulau Lombok dan pulau Sumbawa. Hingga sekarang, pulau ini dikenal dengan sebutan pulau Pasar/Paserang. Pulau Paserang ini tak berpenghuni layaknya pulau-pulau kecil di Nusa Tenggara Barat.

Kesunyian akan hilang seiring dengan majunya parisawata di Nusa Tenggara Barat. Pemerintah Provinsi NTB sedang giat-giatnya meningkatkan jumlah wisatawan yang akan datang ke NTB. Target 1 juta wisatawan telah terlewati beberapa tahun lalu. Beberapa penerbangan internasional digalakkan. Lombok-Perth dan Lombok-Malaysia. Sayang, pada bulan Oktober 2014, penerbangan Lombok Pert terhenti. Perusahaan penerbangan Jetstar asal australia mengaku rugi karena rendahnya tingkat keterisian pesawat. Pemerintah menilai bahwa perusahaan penerbangan itu mengalami kesulitan keuangan bukan karena load factor. Penutupan penerbangan Lombok Perth berpengaruh kepada jumlah wisatawan asal Australia.

Romantisme padang savana

Romantisme padang savana

Bahkan, Pemerintah daerah akan membantu Jetstar dengan mengalokasikan anggaran sebesar Rp1 miliar sebagai bentuk kerja sama promosi pariwisata melalui perluasan basis pasar.

Namun manajemen Jetstar tetap akan menutup rute Lombok Perth. Pemerintah berusaha menggaet perusahaan lain seperti Garuda dll. Semoga ini menjadi titik terang solusi penerbangan internasional di lombok.

Wisatawan Australia menganggap bahwa Lombok adalah sister island-Bali 1980an. Lombok masih alami dengan alam yang masih terjaga. Kealamian Itulah yang menjadi alasan kenapa Lombok punya daya tarik tersendiri daripada Bali yang terlalu overexploitasi.

Majunya pariwisata lombok juga berpengaruh terhadap pulau-pulau tak berpenghuni termasuk di daerah perairan alas ini. Investor-investor akan melirik pulau-pulau yang masih perawan.

Pulau-pulau tak berpenghuni itu akan dikelola secara profesional. Pemerintah mendapatkan hak penyewaanya. Simbiosis mutualisme. Pulau Kenawa akan dikelola oleh PT ESL sedangkan Pulau Paserang dikelola oleh PT. NOP Perwakilan NTB (Nusantara Oriental Permai).

Sebuah Resor “Paradise Ressort dan Cottage” akan dikembangkan di Paserang dengan 350 Cottage termasuk 90 Cottage dengan konsep Water Villa. Paserang akan dikembangkan menjadi “Maldives” Indonesia. Ada enam Cottage yang sudah dibangun. Kayu-kayu Cottage dan pekerjanya dibawa langsung dari tomohon. Inilah bangunan satu-satunya yang benar asli dari Tomohon yang ada di sumbawa.

Paserang akan menjadi salah satu daya tarik wisatawan. Pulau Paserang berbentuk bulat dengan sebuah bukit yang dikelilingi barisan pasir putih. Terumbu karang yang cantik di sekitar dermaga.Tak hanya itu, Paserang memiliki daya tarik dengan konsep “padang savana “ nya. Rumput-rumput kering meranggas berwarna kecoklatan memanjakan mata.

puncak bukit itu

puncak bukit itu

Semburat warna jingga kemerahan menghiasi langit pulau Paserang. Seorang perempuan setengah baya dan dan beberapa pekerja menyambut kami dan mempersilahkan untuk menempati dua Cottage. Rombongan kami berjumlah 17 orang. Seorang Perempuan itu adalah Tendri Niwik, Direktur PT NOP NTB.

Rombongan kami sebanyak 17 orang akan menginap di dua Cottage malam ini secara gratis. Ya gratis. Hadiah terindah dalam perjalanan kami malam ini. Cottage ini masih gratis karena memang belum dibuka untuk umum. Terima kasih Bu Tendri. Kami akan kembali insyaalloh.

Alhamdulillah malam ini akan menginap di Cottage tanpa springbed setelah sebelumnya kami sudah tidur di atas pasir pototano. Cottage ini belum ada fasilitas air tawar maupun segala fasilitas yang biasanya tersedia di cottage.walaupun seperti itu, fasilitas penerangan sudah ada di pulau ini. ini lah yang terpenting.

air tawar di Paserang sangat mahal karena harus dibawa dari pulau Sumbawa. Air tawar hanya ada di bak penampungan yang hanya dipergunakan untuk keperluan tertentu seperti berwudhu. Air untuk mandi dan buang air besar kami menggunakan air laut.

Berpose

Berpose

Kami melewati malam di pelataran Cottage dengan bermain kartu dan bernyanyi. Kecuali jefry dan Daffa yang akan melewati malam di paserang di pinggir pantai dengan api unggun yang menyala-nyala.

Pagi-pagi buta, langit-langit Sumbawa dihiasi semburan cahaya merah matahari terbit. Sinarnya bersinar menembus kamar Cottage kami. Melewati sela-sela padang savana meranggas kecoklatan. banyak cara kami melewati pagi ini dengan saling bernarsia ria, berteriak-teriak tidak jelas di antara padang savana paserang. Merasakan deburan ombak dengan semilir angin di pagi hari.

Pagi ini, kami menaiki bukit paserang. Dari Puncak bukit, kami lebih leluasa menikmati keindahan pulau paserang dengan padang savananya. Mentari pagi yang memendarkan warna merah menyelimuti paserang pagi ini. saya membayangkan kalau Paradise Ressort dan Cottage sudah semuanya selesai dibangun. Tanah lapang dan pantai pesisir barat Paserang akan dipenuhi Cottage dengan berbagai fasilitas. Dalam hati saya berfikir agar bisa kembali setelah pembangunannya selesai.

Inside of Cottage

Inside of Cottage

Di tepian pantai, dua kawan saya, Jefry dan Daffa sedang berjalan seperti sedang menginjak sesuatu di dalam air. Pagi ini air laut sedang surut sehingga terumbu karang-terumbu karang yang biasanya di dalam laut muncul ke permukaan. Jefry dan Daffa mencari sesuatu dibalik terumbu karang : ikan Sebelah.

Di Pinggiran pantai, saya hanya memperhatikan jefry dan daffa yang sedang mencari ikan sebelah. Beberapa kali Daffa menginjak pasir-pasir agak keras. Jeffry duduk dengan cara jongkok tepat di samping Daffa. Ya begitulah cara mencari ikan sebelah: menginjak-nginjak pasir. Kawan-kawan lain siap siaga untuk mengambil ikan yang yang biasa bersembunyi di balik pasir itu.

Beberapa Daffa dan Jefry berpindah-pindah tempat. Lumayan cukup susah menangkap ikan bertubuh licin. Perjuangan jefry akhirnya terbayarkan setelah beberapa kali berpindah. Ikan berwarna belang dengan bentuk yang cukup unik. Separuhnya badannya berkulit gelap, separuhnya lagi tanpa kulit dengan warna dasar putih. Persis seperti ikan yang separuhnya diambil kulitnya. Inilah keunikan ikan sebelah.

Flatfish atau Ikan sebelah hidup seperti bunglon dengan menyesuaikan warna tubuhnya dengan lingkungannya. Ikan sebelah sering disebut juga sebutan ikan sisa nabi. Orang-orang nelayan Bajo yang saya temui di sana juga menyebutnya sebagai ikan Sisa Nabi.

Alkisah, Nabi musa akan bertemu dengan Nabi Hidir di perbatasan dua laut. Keberadaan Nabi Hidir ditandai dengan hidupnya ikan yang separuh badannya sudah dimakan oleh Nabi Musa tersebut. Itu terjadi saat Nabi Musa beristirahat setelah melakukan perjalanan panjang. Nabi Musa dan pembantunya beristirahat dan kemudian memakan bekal yang dibawanya dari tadi termasuk ikan yang baru dimakan separuhnya. Setelah melepas lelah, Nabi Musa dan Pembantu melanjutkan perjalanan kembali.

Hari ini, di pulau paserang ini saya baru merasakan lezatnya ikan sebelah atau ikan sisa nabi ini. dagingnya sedikit kenyal tapi empuk. Cara memakannya unik: dimulai dari tubuh terluar kedalam seperti seorang yang sedang menguliti daging kambing. Bagi kawan-kawan yang sempat menginap di Paserang, sempatkanlah merasakan lezatnya daging ikan sebelah ini.

Pagi ini, kami akan menikmati hamparan terumbu karang pulau Paserang. Sejak pagi, sebelum kami snorkling. Saya sudah melihat hamparan terumbu karang yang muncul di permukaan. Bagi yang tak ingin berbasah-basahan kita bisa menikmati terumbu karang dari atas Dermaga. Paserang memang menawarkan wisata bahari yang sangat memukau. Terumbu karangnya beragam dan dangkal. Saking dangkalnya, jika kita snorkling kurang berhati-hati, anggota badan kita bisa terluka terkena goresan terumbu karang yang terlalu dangkal.

Bu Tendri Niwik dan anaknya saat menyambangi kami sebelum kami pulang

Bu Tendri Niwik dan anaknya saat menyambangi kami sebelum kami pulang

seorang anak laki-laki Ibu Tendri Niwik, Oki namanya. Dia sedang duduk bersama pekerja di atas darmaga. Oki banyak bercerita tentang keadaan pulau paserang serta progres pembangunan resort di paserang. pagi itu, kami lebih banyak menikmati indahnya terumbu karang di sekitar dermaga. Melihat kawan-kawan kami yang mengejar penyu yang berenang dan merasakan deburan ombaknya. Melihat arus laut yang memutar-mutar tak jauh dari tempat snorkling. Arus laut yang cukup membayakan bagi snorkler pemula seperti saya. para snorkler kadang sering tak sadar bahwa dia telah dibawa ke tengah laut. Tau-tau kita sudah berada di tengah laut.

“Cottage ini dibuat oleh orang Tomohon asli. Mereka langsung dibawa dari sana. Kayu-kayunya juga dibawa langsung dari Tomohon. Kayu-kayunya berasal kayu besi. Atapnya juga berasal kayu besi. Kayu besi ini bisa bertahan 50 tahun dan tahan terhadap segala cuaca”, kata Oki yakin. Bahkan, Istana Kerajaan Sumbawa terbuat dari Kayu, imbuhnya. Saya hanya mengangguk mengiyakan semua jawabannya. Kayu Besi memang merupakan salah satu yang kuat terhadap Cuaca: Panas dan Hujan. Di Tomohon sana, Kayu besi banyak digunakan untuk membuat kapal-kapal Phinisi yang terkenal seantero dunia.

Dari Dermaga, saya merasakan desiran angin laut sambil memandangi pulau kambing dan pulau Belang yang bersebelahan. di Pulau Belang banyak danau-danau air asin yang berada di tengah-tengah pulau. Itu lah penjelasan yang kami dapatkan dari anak perempuan Ibu Tendri. Bahkan kami disuruh agar menyempatkan pergi ke pulau belang melihat laguna-lagunanya dan merasakan masakan-masakan lautnya yang lezatnya. Akh mungkin suatu saat saya bisa mengunjungi laguna-laguna seperti yang disarankan.

Saat matahari sedang teriknya, Ibu Tendri Niwik, Direktur PT NOP mendekati kami yang sedang berkemas-kemas untuk meninggalkan paserang. Bu Tendri datang bersama anak perempuannya lengkap dengan topi khas pantainya. Beliau berpesan bahwa “kalau ada orang atau wartawan tanya apakah kami menarik tarif atau tidak. Bilang aja tidak. Cottage ini masih gratis karena memang dibuka kepada umum.” Di Sumbawa Barat ini ada delapan gili “Gili Balu’ ,“imbuhnya. Di sana ada pulau tikus-maksudnya pulau Kenawa karena bentuknya seperti tikus, katanya sambil telunjuknya menuding nuding pulau kenawa. Memang, ketika pulau Kenawa dilihat dari Google Maps seperti tikus. Tikus raksasa. Masyarakat Sumbawa terbiasa menyebut pulau Kenawa dengan sebutan pulau tikus.

Di sisi barat pulau Paserang, ada dua pulau yang saling bersebelahan: Pulau Belang dan Pulau Kambing. jaraknya dari paserang juga tak terlalu. Ntah lah apakah Pulau kambing juga dinamai sesuai bentuknya yang seperti kambing. “kalau ke sini, sekalian aja main ke Pulau Belang, di sana banyak ikan-ikan enak dan murah-murah seperti Kepiting dan Gurita. 20 ribu sampai 30 ribu dah kenyang tuh. Di pulau Belang juga ada laguna-lagunanya. Mending pulangnya sekalian mampir sana, nanggung dah ke sini” kata anak perempuan Bu Tendri mengiming-imingi kami. Akh sayang, batinku. informasi tersebut hanya membuat kami penasaran saja. Semoga suatu saat nanti kita bisa kembali ke sini dan mampir ke pulau Belang.

Di depan Cottage kami, ada gubug kecil yang terletak di tengah-tengah padang rumput. Gubug kecil milik nelayan suku Bajo yang mencari ikan di pulau Paserang. di gubug kecil itu, mereka bisa beristirahat, makan, dan shalat. Di samping gubug itu, kawan-kawan kami sedang membakar ikan Sebelah yang ditangkap tadi pagi. Bumbu-bumbunya kami minta kepada nelayan Suku Bajo tersebut. Mereka selalu datang setiap pagi ke Paserang dan kembali ke Pulau Sumbawa di siang hari. Gubug suku bajo ini memang sengaja dibiarkan oleh pihak pengelola. “yang penting mereka tidak mengganggu kami,” kata Ibu Tendri.

Saat perahu kami meninggalkan pulau paserang, Agus sang nakoda perahu menanyai seperti apa yang telah diperingatkan oleh Ibu Tendri. Matanya menyelidik. Tatapan tajam. “Kalian ditarik bayaran ngak?kalau kalian ditarik bayaran oleh Mereka, laporkan kepada kami,” agus memastikan bahwa kami benar-benar tak ditarik bayaran. “Mereka itu dah mangkir. Kerjasama sejak dulu tapi baru dibangun sekarang,” imbuhnya tegas. Papan informasi di Pulau Paserang memang menunjukkan bahwa PT NOP menjadi pengelola satu-satunya di Paserang sejak tahun 2012.

pertanyaan-perntayaan yang membuatku bingung. Bukankah sah sah saja seandainya pihak pengelola pulau paserang menarik bayaran kepada wisatawan yang menginap di Cottage-nya. Kan mereka yang membangun. Akh saya semakin tak mengerti. Ada apa?.

Pak Agus bercerita bahwa dulunya dia juga pegawai di PT NOP. “Setahun lalu, saya juga bekerja di sana pak, tapi saya keluar. Ngak enak, saya harus menginap di paserang. keluarga saya di sumbawa Pulang seminggu sekali, gajinya pun kecil. Tak cocoknya mas, makanya saya lebih baik sewa perahu aja” katanya kepada kami saat perahu kami melintasi selat alas meninggalkan Pulau Paserang. setelah itu kami cenderung diam sesekali bercanda. Memotret indahnya pasir putih sumbawa dan memandangi pulau Paserang yang akan kami tinggalkan

Paserang. Saya sudah jatuh cinta dengan pulau ini sejak berada di tengah laut. Menyaksikan indahnya mentari sore dari atas laut. Baru kali ini saya menyaksikan mentari terbenam langsung dari tengah laut. Di perairan Selat Alas. Bersama 7 kawan kami. Berlabuh di pulau ini, saya semakin cinta dengan pulau ini. Pulau dengan bukitnya dengan rumput rumput meranggas berwarna kecoklatan dengan ditaburi cahaya senja yang indah.

Pulau Paserang termasuk salah satu pulau dari delapan pulau-pulau yang berada di selat Alas yang lebih dikenal dengan sebutan Gili Balu’. Gili Balu’ itu antara lain P. Belang, P. Kambing, Paserang, Kenawa, Ular, Mandiki, Namo dan Kalong. Gili Balu’ akan dikembangkan menjadi calon kawasan Konservasi perairan daerah pemerintah daerah kabupten Sumbawa Barat (KSB).

Dulu sebelum lalu lintas Lombok Sumbawa menggunakan Kapal Ferry, Paserang pernah menjadi pulau barter-tempat bertemunya pedagang dari pulau Lombok dan pulau Sumbawa. Hingga sekarang, pulau ini dikenal dengan sebutan pulau Pasar/Paserang. Pulau Paserang ini tak berpenghuni.

Kesunyian akan hilang seiring dengan majunya parisawata di Nusa Tenggara Barat. Pemerintah Provinsi NTB sedang giat-giatnya meningkatkan jumlah wisatawan yang akan datang ke NTB. Target 1 juta wisatawan telah terlewati beberapa tahun lalu. Beberapa penerbangan internasional digalakkan. Lombok-Perth dan Lombok-Malaysia. Sayang, pada bulan Oktober 2014, penerbangan Lombok Pert terhenti. Perusahaan penerbangan Jetstar asal australia mengaku rugi karena rendahnya tingkat keterisian pesawat. Pemerintah menilai bahwa perusahaan penerbangan itu mengalami kesulitan keuangan bukan karena load factor. Penutupan penerbangan Lombok Perth berpengaruh kepada jumlah wisatawan asal Australia.

Bahkan, Pemerintah daerah akan membantu Jetstar dengan mengalokasikan anggaran sebesar Rp1 miliar sebagai bentuk kerja sama promosi pariwisata melalui perluasan basis pasar.

Namun manajemen Jetstar tetap akan menutup rute Lombok Perth. Pemerintah berusaha menggaet perusahaan lain seperti Garuda dll. Semoga ini menjadi titik terang solusi penerbangan internasional di lombok.

Wisatawan Australia menganggap bahwa Lombok adalah sister island-Bali 1980an. Lombok masih alami dengan alam yang masih terjaga. Kealamian Itulah yang menjadi alasan kenapa Lombok punya daya tarik tersendiri daripada Bali yang terlalu overexploitasi.

Majunya pariwisata lombok juga berpengaruh terhadap pulau-pulau tak berpenghuni termasuk di daerah perairan alas ini. Investor-investor akan melirik pulau-pulau yang masih perawan.

Pulau-pulau tak berpenghuni itu akan dikelola secara profesional. Pemerintah mendapatkan hak penyewaanya. Simbiosis mutualisme. Pulau Kenawa akan dikelola oleh PT ESL sedangkan Pulau Paserang dikelola oleh PT. NOP Perwakilan NTB (Nusantara Oriental Permai).

Sebuah Resor “Paradise Ressort dan Cottage” akan dikembangkan di Paserang dengan 350 Cottage termasuk 90 Cottage dengan konsep Water Villa. Paserang akan dikembangkan menjadi “Maldives” Indonesia. Ada enam Cottage yang sudah dibangun. Kayu-kayu Cottage dan pekerjanya dibawa langsung dari tomohon. Inilah bangunan satu-satunya yang benar asli dari Tomohon yang ada di sumbawa.

Paserang akan menjadi salah satu daya tarik wisatawan. Pulau Paserang berbentuk bulat dengan sebuah bukit yang dikelilingi barisan pasir putih. Terumbu karang yang cantik di sekitar dermaga.Tak hanya itu, Paserang memiliki daya tarik dengan konsep “padang savana “ nya. Rumput-rumput kering meranggas berwarna kecoklatan memanjakan mata.

Semburat warna jingga kemerahan menghiasi langit pulau Paserang. Seorang perempuan setengah baya dan dan beberapa pekerja menyambut kami dan mempersilahkan untuk menempati dua Cottage. Rombongan kami berjumlah 17 orang. Seorang Perempuan itu adalah Tendri Niwik. Direktur PT NOP NTB.

Rombongan kami sebanyak 17 orang akan menginap di dua Cottage malam ini secara gratis. Ya gratis. Hadiah terindah dalam perjalanan kami malam ini. Cottage ini masih gratis karena memang belum dibuka untuk umum. Terima kasih Bu Tendri. Kami akan kembali insyaalloh.

Alhamdulillah malam ini akan menginap di Cottage tanpa springbed setelah sebelumnya kami sudah tidur di atas pasir pototano. Cottage ini belum ada fasilitas air tawar maupun segala fasilitas yang biasanya tersedia di cottage.walaupun seperti itu, fasilitas penerangan sudah ada di pulau ini. ini lah yang terpenting terutama untuk mengecharge alat komukasi kami yang sudah mati.

air tawar di Paserang sangat mahal karena harus dibawa dari pulau Sumbawa. Air tawar hanya ada di bak penampungan yang hanya dipergunakan untuk keperluan tertentu seperti berwudhu. Air untuk mandi dan buang air besar kami menggunakan air laut.

Kami melewati malam di pelataran Cottage dengan bermain kartu dan bernyanyi. Kecuali jefry dan Daffa yang akan melewati malam di paserang di pinggir pantai dengan api unggun yang menyala-nyala.

Pagi-pagi buta, langit-langit Sumbawa dihiasi semburan cahaya merah matahari terbit. Sinarnya bersinar menembus kamar Cottage kami. Melewati sela-sela padang savana meranggas kecoklatan. banyak cara kami melewati pagi ini dengan saling bernarsia ria, berteriak-teriak tidak jelas di antara padang savana paserang. Merasakan deburan ombak dengan semilir angin di pagi hari.

Pagi ini, kami menaiki bukit paserang. Dari Puncak bukit, kami lebih leluasa menikmati keindahan pulau paserang dengan padang savananya. Mentari pagi yang memendarkan warna merah menyelimuti paserang pagi ini. saya membayangkan kalau Paradise Ressort dan Cottage sudah semuanya selesai dibangun. Tanah lapang dan pantai pesisir barat Paserang akan dipenuhi Cottage dengan berbagai fasilitas. Dalam hati saya berfikir agar bisa kembali setelah pembangunannya selesai.

Mencari Ikan

Mencari Ikan

Di tepian pantai, dua kawan saya, Jefry dan Daffa sedang berjalan seperti sedang menginjak sesuatu di dalam air. Pagi ini air laut sedang surut sehingga terumbu karang-terumbu karang yang biasanya di dalam laut muncul ke permukaan. Jefry dan Daffa mencari sesuatu dibalik terumbu karang : ikan Sebelah.

Di Pinggiran pantai, saya hanya memperhatikan jefry dan daffa yang sedang mencari ikan sebelah. Beberapa kali Daffa menginjak pasir-pasir agak keras. Jeffry duduk dengan cara jongkok tepat di samping Daffa. Ya begitulah cara mencari ikan sebelah: menginjak-nginjak pasir. Kawan-kawan lain siap siaga untuk mengambil ikan yang yang biasa bersembunyi di balik pasir itu.

Beberapa Daffa dan Jefry berpindah-pindah tempat. Lumayan cukup susah menangkap ikan bertubuh licin. Perjuangan jefry akhirnya terbayarkan setelah beberapa kali berpindah. Ikan berwarna belang dengan bentuk yang cukup unik. Separuhnya badannya berkulit gelap, separuhnya lagi tanpa kulit dengan warna dasar putih. Persis seperti ikan yang separuhnya diambil kulitnya. Inilah keunikan ikan sebelah.

Flatfish atau Ikan sebelah hidup seperti bunglon dengan menyesuaikan warna tubuhnya dengan lingkungannya. Ikan sebelah sering disebut juga sebutan ikan sisa nabi. Orang-orang nelayan Bajo yang saya temui di sana juga menyebutnya sebagai ikan Sisa Nabi.

Alkisah, Nabi musa akan bertemu dengan Nabi Hidir di perbatasan dua laut. Keberadaan Nabi Hidir ditandai dengan hidupnya ikan yang separuh badannya sudah dimakan oleh Nabi Musa tersebut. Itu terjadi saat Nabi Musa beristirahat setelah melakukan perjalanan panjang. Nabi Musa dan pembantunya beristirahat dan kemudian memakan bekal yang dibawanya dari tadi termasuk ikan yang baru dimakan separuhnya. Setelah melepas lelah, Nabi Musa dan Pembantu melanjutkan perjalanan kembali.

Hari ini, di pulau paserang ini saya baru merasakan lezatnya ikan sebelah atau ikan sisa nabi ini. dagingnya sedikit kenyal tapi empuk. Cara memakannya unik: dimulai dari tubuh terluar kedalam seperti seorang yang sedang menguliti daging kambing. Bagi kawan-kawan yang sempat menginap di Paserang, sempatkanlah merasakan lezatnya daging ikan sebelah ini.

Pagi ini, kami akan menikmati hamparan terumbu karang pulau Paserang. Sejak pagi, sebelum kami snorkling. Saya sudah melihat hamparan terumbu karang yang muncul di permukaan. Bagi yang tak ingin berbasah-basahan kita bisa menikmati terumbu karang dari atas Dermaga. Paserang memang menawarkan wisata bahari yang sangat memukau. Terumbu karangnya beragam dan dangkal. Saking dangkalnya, jika kita snorkling kurang berhati-hati, anggota badan kita bisa terluka terkena goresan terumbu karang yang terlalu dangkal.

seorang anak laki-laki Ibu Tendri Niwik, Oki namanya. Dia sedang duduk bersama pekerja di atas darmaga. Oki banyak bercerita tentang keadaan pulau paserang serta progres pembangunan resort di paserang. pagi itu, kami lebih banyak menikmati indahnya terumbu karang di sekitar dermaga. Melihat kawan-kawan kami yang mengejar penyu yang berenang di Merasakan deburan ombaknya. Melihat arus laut yang memutar-mutar tak jauh dari tempat snorkling. Arus laut yang cukup membayakan bagi snorkler pemula seperti saya. Sehingga para snorkler pemula tak sadar bahwa dia telah dibawa ke tengah laut.

Dari Dermaga, saya merasakan desiran angin laut sambil memandangi pulau kambing dan pulau Belang yang bersebelahan. di Pulau Belang banyak danau-danau air asin yang berada di tengah-tengah pulau. Itu lah penjelasan yang kami dapatkan dari anak perempuan Ibu Tendri. Bahkan kami disuruh agar menyempatkan pergi ke pulau belang melihat laguna-lagunanya dan merasakan masakan-masakan lautnya yang lezatnya. Akh mungkin suatu saat saya bisa mengunjungi laguna-laguna seperti yang disarankan.

Saat matahari sedang teriknya, Ibu Tendri Niwik, Direktur PT NOP mendekati kami yang sedang berkemas-kemas untuk meninggalkan paserang. Bu Tendri datang bersama anak perempuannya dengan topi khas pantainya. Beliau share dan cerita banyak kepada rombongan kami. Beliau bercerita bahwa Cottage ini masih gratis karena memang dibuka kepada umum. Beliau juga berpesan bahwa “kalau ada orang atau wartawan bertanya apakah kami menarik tarif. Bilang aja tidak. Kami sampai dengan saat ini belum menarik bayaran kepada wisatawan yang menginap di tempat kami, imbuhnya.

saat perahu kami meninggalkan pulau paserang, Agus sang nakoda perahu menanyai seperti apa yang telah diperingatkan oleh Ibu Tendri. Kalian ditarik bayaran tidak?kalau kalian ditarik bayaran oleh Mereka, laporkan kepada kami. Ada pertanyaan-perntayaan yang membuatku bingung. Bukankah sebetulnya seandainya pihak pengelola pulau paserang menarik bayaran kepada wisatawan yang menginap di Cottage-nya. Tapi kenapa seakan-akan ketika pihak pengelola menarik bayaran, mereka akan disalahkan bahkan dilaporkan. Ada apa?..

Pak Agus bercerita bahwa dulunya dia juga pegawai di PT NOP. “Setahun lalu, saya juga bekerja di situ pak, tapi saya keluar. Ngak enak, saya harus menginap di paserang. keluarga saya di sumbawa Pulang seminggu sekali, gajinya pun kecil. Tak cocoknya mas,” katanya kepada kami saat perahu kami melintasi selat alas meninggalkan Pulau Paserang.

Terombang ambing menuju Paserang

IMG_0173

Matahari pukul 01.30 WITA Pulau Kenawa benar-benar menyengat. Teriknya matahari bercampur dengan hembusan angin laut dari sisi pulau Sumbawa. Campuran panas dan angin membuat sensasi tersendiri. Tak terlalu terasa panas tapi akan cepat membuat kulit gosong sekaligus cepat haus. Padang rumput yang tumbuh rapi tak menafikan teriknya sang mentari. Bahkan, rumput-rumput itu menjadi daya tarik tersendiri bagi dua cewek: Fitria Agustina dan Echie.

Mas cader, tolong fotoin kita-kita, kata mbak Fitria saat melihat saya baru saja selesai snorkling dan berjalan ke arah mereka. Keindahan pola rumput-rumput kenawa telah membuat mereka tak mempan dengan panasnya matahari di siang bolong. Mereka berdua seakan tak mengindahkan panasnya sang mentari di siang ini. mereka berpose secara bergantian : duduk, berdiri, bersama rerumputan hijau dengan latar belakang bukit kenawa yang kering meranggas.

Ketika mereka berdiri terlalu lama mereka berseru-seru kepanasan karena kaki-kaki yang bersentuhan langsung dengan tanah Kenawa.

Menjelang pukul 02.00 WITA, sebagian teman-teman sudah selesai snorkling. Sebagian beristirahat di berugak bolong, sebagian yang lain berjalan menyusuri padang savana Kenawa hingga ke Puncak Bukit di Ujung Utara pulau.

Mentari terbit di pulau Paserang

Mentari terbit di Padang Savana pulau Paserang

Di salah satu berugak yang langsung berbatasan dengan pantai barat Kenawa, ada seseorang yang sedang melakukan gerakan shalat. Tak jauh dari Berugak, Daffa tiduran santai di dalam hammock yang tergantung di dahan pohon Kenawa yang rindang. Saya juga belum shalat, batinku. Saya bergegas berwudhu dengan air laut tempat kami snorkling. Di seberang sana, Pulau Sumbawa bertabur rumput kering meranggas kecoklatan. Angin berhembus kencang ke segala arah. Sajadah yang sedianya digunakan untuk alas tak bisa digunakan karena angin-angin laut berhembus dengan kencangnya. Akhirnya, saya shalat di atas kayu-kayu berugak dengan tanpa alas sajadah.

Kapan berangkat ke Paserang, kata seseorang di antara kami. Trips Kenawa sudah selesai. Kami harus segera beranjak ke Paserang. Setidaknya kami bisa menikmati suasana matahari tenggelam di pulau yang penuh dengan padang rumput Paserang yang masih terjaga.

Mbak Ifath menghubungi mas agus sang boatman. Mas Agus menjadi orang yang paling kami nantikan. kami beristirahat sambil lalu menunggu. Cukup lama, tapi tak juga datang. Sudah satu jam kami nunggu. Kami sudah siap-siap. Tas backpack sudah ditaruh di pesisir pantai. Matahari bergeser semakin ke barat, awan putih menghalangi sinarnya. Pak agus datang dan langsung menyandarkan perahunya. Kloter pertama berangkat. saya tertinggal dari Kloter pertama. Harapan untuk hunting sunset di Paserang pun menguap bersama hembusan angin laut.

Begadang di Cottage Paserang (terima kasih bu Tendri yang ngasih tumpangan gratis)

Begadang di Cottage Paserang (terima kasih bu Tendri yang ngasih tumpangan gratis)

Perkiraan kami, Paserang bisa ditempuh dalam waktu satu jam PP. ternyata dugaan saya meleset. Sudah satu jam kami menunggu. Perahu itu juga belum juga datang. Matahari semakin bersembunyi dalam awan putih kelabu. Awan putih kelabu tidak selalu membawa nasib kelabu. Setidaknya untuk saat ini. walaupun pak Agus yang kami tunggu belum datang, kami mendapatkan tawaran makanan dari rombongan lain. Mereka memanggil-manggil kami agar bergabung ikut begibung-makan bersama di salah satu berugak.

Kami seperti anak ayam yang dipanggil induknya. Dalam sekejap kami berlarian menuju berugak yang bagian belakang terbuka langsung berhadapan padang savana Kenawa . Saya, Jefry, Tendou, Philips ikut-ikutan makan sambil berdiri. Menu ikan sarden menjadi bumbu penyemangat. Kurang lebih 15 orang yang ikut begibung. Berugak kelebihan muatan. Sebagian duduk, sebagian berdiri di luar berugak.

Perahu yang kami tunggu belum juga muncul. Kami menyempatkan untuk shalat asar terlebih dahulu di salah satu berugak. Selesai sembahyang, kami melihat kapal wisatawan yang hendak bersandar. Dermaga kayu di Kenawa hilang diterjang ombak. Nahkoda itu kebingungan, pengunjung keluar berhamburan lengkap dengan perlengkapan snorkling. Seorang anak buah kapal melemparkan jangkar sekenanya ke lokasi bekas dermaga. Tendou seketika menjadi geram melihat perilaku orang-orang yang katanya pecinta alam, alisnya beradu.

Three Cottage under the Hill of Paserang

Three Cottage under the Hill of Paserang

Mulutnya mengeluarkan kata amarah yang sangat kepada kami. “katanya mereka pecinta alam, tapi kug mereka malah merusak alam.” Dia seakan tidak terima, amarahnya masih meluap-luap. Saya hanya mengangguk “ya begitu lah mereka. Kemudian, Saya dan Jefry hanya terdiam menunggu apa-apa yang akan diucapkannya. Namun, amarah itu seakan sirna dibawa oleh gadis-gadis jepang berbikini. Pandangan matanya tertuju pada gadis jepang yang berbikini. Mas cader, ayo difoto, katanya. “Males akh, kamera saya udah tak masukkan ke dalam tas, sanggahku.” Dia tak mendebatku.

Saya berjalan menyusuri pesisir pantai, dua orang mendekati saya hendak meminjam perlengkapan snorkling. “Mas, boleh pinjam alat snorklingnya untuk kawan saya, dia datang dari Jawa tapi kami ngak membawa alat snorkling,” katanya kepada saya. “Maaf mas, saya sedang menunggu jemputan kapal ke Paserang mas. Ya sayang sekali, kalau sudah ke sini tapi tidak membawa alat snorkling. Di kenawa tak ada penyewaan alat snorkling, kataku sambil berjalan ke arah pantai.

Perahu kecil yang kami tunggu-tunggu akhirnya muncul juga dari arah Barat daya. Pulau Paserang terletak di arah barat daya jika dilihat dari pulau Kenawa. “Waktu tempuh ke Paserang satu jam karena melawan arus,” katanya menjawab kebimbangan kami.

Paserang adalah tujuan kami. Awan kelabu berjalan beriringan menggelantung di langit selat alas. Perahu kami sudah mengaung. Paserang terlihat dekat. Perahu berjalan dengan suasana ombak yang bergelombang. Semakin ke tengah, semakin bergelombang. Kalau dilukiskan Paserang berada di tengah-tengah selat alas yang memisahkan Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Untuk mencapainya. Kami harus melawan arus laut yang ganas.

The Cottage

The Cottage

Begitu tiba di tengah laut, saya mulai ketakutan. Pulau Kenawa dan Sumbawa tak lagi jadi penghalang ganasnya ombak di sore hari. Saya berada di tengah. Mbak Echie di samping saya. Philips dan seorang Nahkoda di ujung depan perahu. Tendou, Daffa dan jefry di ujung yang lain. Perahu terombang-ambing. Mesin meraung-raung. Laju kapal melambat menyesuaikan irama sang ombak. Saat ombak besar datang, perahu melambat agar tidak langsung melawan ombak. Ikuti iramanya. Nikmati permainannya. Semakin lama semakin terombang ambing.

Paserang yang dekat terasa jauh. Air laut tumpah sebagian ke dalam perahu. Philips panik. Philips bergegas memakai pelampung. Saya juga takut. Pelampungku sempat ku lirik yang tergeletak di lambung kapal. Mbak Echie juga melirik pelampung. Kami bertiga adalah termasuk rombongan yang tak bisa berenang.

Ku berusaha untuk bersikap sok tenang. Di dalam hati saya mengumpat “mengapa saya ikut petualangan yang seperti ini, bagaimana kalau perahu ini terbalik di tengah laut. Saya seakan menyesal ikut petualangan yang mempertaruhkan nyawa. Ku bershalawat. Istriku yang sedang hamil muda terngiang-ngiang. Orang tuaku terlintas di dalam fikiranku. Kenapa aku tak pamit. Kenapa aku harus ikut ini, kenapa kenapa?. Semua pertanyaan pertanyaan muncul seketika.

terumbu karang paserang yang muncul saat air surut

terumbu karang paserang yang muncul saat air surut

Kalau kami terhempas gelombang pasang. Ntah apa jadinya kami. Yang pasti saya dan mbak Echie akan rebutan pelampung. Kekawatiran-kekawatiran itu muncul hinggap di fikiranku. Di kejauahan sana, Paserang diliputi oleh rumput kecoklatan yang ditaburi senja. Cantik. Sayang, kecantikan semburat senja bercampur dengan percikan ombak yang menggoyang-goyang perahu kami.

Mendekati pulau Paserang, perahu kami semakin jinak, ombaknya berangsung-angsur tenang. Kamera yang sedari tidur terbungkus rapat di tas anti air menyeruak. Matahari hampir tenggelam. Akh senang rasanya. Setelah melewati dahsyatnya ombak selat alas, kami bisa menikmati indahnya matahari tenggelam dari tengah laut Selat Alas. Seketika hatiku senang tak terkira. Tak mungkin saya bisa menikmati keindahan ini tanpa melalui badai. Badai berlalu dan alam pun semakin indah.

Menyusuri Padang Savana Pulau Kenawa

Hiruk pikuk Poto tano yang terhenti

Hiruk pikuk Poto tano yang terhenti

Jembatan Pelabuhan Poto Tano

Jembatan Pelabuhan Poto Tano

Pagi ini kami harus segera beranjak menuju perjalanan selanjutnya yaitu Kenawa dan Paserang. Kalau tadi malam kami melewati jalan setapak, maka pagi ini kami akan berjalan menyusuri pesisir pantai yang membentang dari Mercusuar hingga ke Pelabuhan Tano, melewati padang rumput bunga berwarna kuning kecoklatan. Padang rumput berduri yang biasanya tumbuh di pesisir pantai. Langit pagi ini begitu cerah dengan lembayung senja. Awan terbang rendah di atas pelabuhan Poto Tano.

Pelabuhan Poto Tano berada di kawasan teluk Tano yang dikelilingi perbukitan-perbukitan berwarna kecoklatan. Poto Tano pagi ini terdiam, ombak pun tenang dengan diliputi pagi yang tenang. Pelabuhan Poto Tano nampak sepi dan lengang menawarkan pesona tersendiri. Kalau dilihat dari atas bukit, Poto tano akan menawarkan panorama indah di kawasan teluk yang berbentuk seperti bulan sabit separuh lingkaran. Matahari terbit muncul di balik bukit-bukit sumbawa dengan temaram warna jingga .

Bunga-bunga yang berbunga di bulan Oktober- Desember mulai bermunculan dengan aneka warna. Kebanyakan didominasi warna merah sepadan dengan tiang-tiang koridor jalan yang dicat berwarna merah. Di kejauhan sana, Desa Poto tano lengkap lanscape bukit kecoklatannya terlihat asri. Saya menyukai Pelabuhan Poto tano di waktu pagi pada bulan oktober. Di saat bunga itu sedang bermekaran. Saat air laut sedang surutnya. Hiruk pikuk pelabuhan tak kami jumpai di pelabuhan ini. ini lah pelabuhan terapik yang pernah saya liat dengan lanscape yang memanjakan mata.

 

Melintasi selat alas

Melintasi selat alas

Seeorang lelaki setengah baya dengan badannya yang tegap mendekati saya yang berjalan seorang diri dengan setengah buru-buru mengejar kawan yang sudah tiba duluan di sebuah warung di pojokan terminal pelabuhan. “mas, ojek mas, katanya. Dia kemudian meninggalkan saya setelah melihat gelengan kepalaku. Kami akan menyeberang ke Pulau Kenawa dan Paserang menggunakan satu kapal untuk mengangkut rombongan kami yang berjumlah 17 orang. Daya tampung perahu tak cukup mengangkut kami sekaligus. Sehingga kami diangkut secara bergantian. Rencananya kami akan menginap di Pulau Paserang. Tujuan pertama kami adalah Kenawa. Si Pulau Tikus itu.

untuk mencapai Pulau Kenawa satu-satunya cara adalah menyewa perahu. Tarif sewa perahu biasanya tergantung banyaknya penumpang. Bisa Rp150.000 hingga Rp350.000 dengan waktu tempuh sekitar 50 menit. Sepanjang perjalanan dari pelabuhan hingga pulau Kenawa, saya hanya melihat bukit-bukit gersang kecoklatan, pasir-pasir putih dan air laut yang berwarna biru dengan gradasi warnanya. Dari kejauhan, Pulau Kenawa menawarkan pesonanya dengan gradasi warna air lautnya. Meneduhkan.

Menginjakkan kaki di Pulau Kenawa, pulau ini seakan memperjelas tentang keberadaannya. Gersang dan tak berpenghuni. Bukitnya gundul berwarna kecoklatan. begitu kontras dengan pemandangan alamnya. Pulau Kenawa seperti pulau telah lama ditinggal pemiliknya. Beberapa berugak berdiri di sepanjang pesisir pulau. Bahkan, hampir mengelilingi pulau ini. Berugak-berugak itu katanya dibangun oleh pemerintah kemudian dibiarkan begitu saja. sebagian atapnya sudah banyak yang bolong. Terbang bersama angin. Satu-satunya tower penampung airnya karatan. Penampung airnya tak ada sama sekali. Kosong tak berbekas.

Pulau Kenawa sudah disewakan kepada perusahaan asal Swedia yang bernama PT. Eco Solutions Lombok (ESL) selama 30 tahun. Tapi, hingga saat ini Perusahaan Swedia ini juga belum beroperasi. Pulau dengan luas 13,8 hektar ini memiliki panorama alam yang indah menjadi incaran para investor: Bukit yang berada di sisi utara pulau, pasir putih dengan terumbu karang yang masih alami.

 

Bersiap-siap landing di pulau Kenawa

Bersiap-siap landing di pulau Kenawa

Investor-investor anyar dalam dunia pariwisata di Provinsi Nusa Tenggara Barat memang banyak. Pariwisata di Lombok dan Sumbawa sedang tumbuh-tumbuhnya. Target satu juta wisatawan yang ditergetkan oleh Gubernur sudah tercapai beberapa tahun yang lalu. Pemerintah-pemerintah daerah belum siap. Investor yang datang, langsung diberikan hak pengelolaan. Ijin-ijin diobral. Conflict of interest pun tak terelakkan. Perwakilan daerah pun ikut-ikutan meradang. “Bupati sebaiknya tidak mengobral obral perijinan pengelolaan pulau, kata perwakilan rakyat di salah satu media lokal. Lihat pulau-pulau ini ijin sudah dikeluarkan tapi tak ada aktivitas sama sekali, tambahnya.” Dan hari ini, saya menyaksikan geliat Pulau Kenawa yang jalan di tempat.

Jika kita berada di tengah-tengah pulau Kenawa atau berada di atas bukit. Kita akan memandangi rerumputan kering berwarna kecoklatan bercampur dengan warna hijau. Bukit Kenawa itu gersang Meranggas bercampur dengan teriknya panas mentari. Tak ada rumput sekalipun. Pulau kenawa pernah terbakar tiga bulan lalu sekitar tanggal 3 agustus 2014. Ntah lah terbakar oleh proses kimiawi alam karena gesekan gesekan rerumputan kering atau sengaja dibakar oleh orang-orang yang tak berkepentingan.

Padang Savana Kenawa di musim kemarau tergantikan oleh bukit gundul bulat laksana rambut kepala yang dicukur plontos. Tiga bulan telah berlalu. Rerumputan itu mulai tumbuh lagi. Berpola dan berbentuk sedemikian rupa. Berbentuk satu ikatan rumput laksana padi dengan jarak yang seragam. Keajaiban yang saya saksikan dengan mata kepala sendiri. Heran bercampur takjub. Bingung hingga pertanyaan-pertanyaan liar mengalir begitu saja di fikiranku. Kug bisa?, Biarlah pola dan bentuk rumput rumput ini menggelayut di otakku. Sebagai kenangan dari pulaunya padang Savana.

terkapar kecapean di berugak

terkapar kecapean di berugak

Nama Pulau Kenawa berasal dari Pohon Kenawa yang tumbuh subur di sisi barat pulau. Pohon Kenawa ini hanya tumbuh di salah satu sisi pulau ini. Dan saya tidak menemukannya tumbuh di sisi lainnya dari pulau kenawa ini. saya tidak tahu kenapa hanya tumbuh di sisi baratnya saja. Apakah di sisi barat pulau ini relatif subur, saya juga belum bisa memastikannya, ataukah Pohon Kenawa sendiri memiliki karasteristik tersendiri sehingga hanya tumbuh bagian tertentu saja?. Pertanyaan-pertanyaan liar ini akhirnya terjawab oleh kawan saya, Baktiar Sontani namanya. Itu lah satu pengetahuan survival der-mengenal lingkungan untuk bertahan hidup, katanya saat memberikan komentar di salah satu statusku.

Di sisi barat pulau Kenawa, langsung berbatasan dengan pulau Sumbawa dengan jarak lumayan dekat. sedangkan di sisi lainnya, tak ada pulau-pulau yang berbatasan secara langsung. Pohon-pohon biasanya tumbuh subur di daerah yang lebih terlindungi seperti karena di depannya ada pulau atau gugusan atol yang menyebabkan pepohonan terlindungi dari gelombang besar.

Pulau Kenawa ini banyak dikenal dengan sebutan Pulau Tikus. Masyarakat sekitarnya lebih familiar dengan sebutan Pulau Tikus. Sebutan itu bukan karena pulau kenawa banyak dihuni oleh tikus-tikus besar. Tapi karena Pulau Kenawa terlihat seperti seekor tikus jika dilihat dari kejauhan. Baik dari Pelabuhan Poto Tano maupun dari Pulau Paserang.

Tiba di pulau ini, kami langsung tepar di Berugak salah sudut di bagian barat laut pulau Kenawa. Berbatasan langsung dengan pepohonan Kenawa di sisi barat pulau. Di Luar, Panas begitu menyengat di pulau yang hanya ditumbuhi rerumputan ini. Angin sepoi-sepoi berhembus kencang dari pepohonan Kenawa membuat kami males beranjak dari berugak yang sebagian atapnya bolong. Atapnya terbuat dari rumah adat khas Sumbawa yaitu: Bambu yang dibentuk sedemikian rupa.

 

Rerumputan Kenawa yang terlihat dari Bukit Kenawa

Rerumputan Kenawa yang terlihat dari Bukit Kenawa

Perjalanan malam dari Mataram ke Kayangan kemudian menyeberang ke Poto Tano. Di sana lah kami terdampar di sekitar Mercusuar Poto Tano dengan beralaskan pasir dan beratapkan langit dengan taburan bintang. Kami baru bisa sedikit berisitirahat jam 03.00 pagi. Capek tak terperi. Siang ini adalah pembalasannya. Istirahat melepaskan penat. Perutku mulai keroncongan, rasa kantukku terkalahkan oleh rasa lapar. Bekal satu bungkus nasi seharga Rp10.000,00 yang dibeli di Pelabuhan Poto tano. Hampir semuanya membawa bekal nasi kecuali om Jefry. Om Jefry sudah siap backpacking dengan cara survival. Wajan, kompor gas, lengkap dengan makanan dan bumbunya sudah dibawanya. Makanan-makanan itu sekarang sudah siap diracik oleh Chef Jefry.

Istirahat bergeser menjadi permainan. Permainan lebih seru daripada sekedar tidur istirahat di berugak. Entah siapa yang memulai di antara kami, Permainan kartu dimulai secara bergantian: Jendral dan 7up. Yang kalah, wajahnya dicoret-coret menggunakan arang hitam oleh yang lain. Wajah yang awalnya bersih bercampur lesu menjadi belang-belang hitam dengan menanggung malu. Yang paling sering kalah adalah Tri Prasetyo. Wajahnya paling banyak coretannya. tak lupa Sandy, kawan sepermainannya mengabadikannya dalam kamera Hp, untuk kemudian diupload di sosial media. Begitu lah kami meluapkan rasa capek. Bercanda, bermain, kemudian tertawa lepas bersama. Saling ejek adalah hal biasa, tak perlu Saling mengular benci dan memupuk kedengkian. Yang kalah maupun yang menang sama-sama tertawa. itu lah kami dan Itulah tujuannya.

IMG_0137

Pose terbaik

Pose terbaik

Di tengah-tengah berugak, Satria Ahmadi memetik-memetik gitar kesayangannya melentingkan suara emasnya dengan referensi lagu-lagu yang segudang. Di antara kami, satria adalah vokalis sekaligus gitaris dan paling banyak hafal lagu-lagu. Dangdut hingga barat, India hingga Jepang. Lagu cinta atau lagu lucu-lucu. Itulah Satria dengan segala keunikannya.

Hampir satu jam, kami beristirahat. Jefry dan Daffa sudah snorkling sejak tadi. Kami masih terkapar di salah satu berugak bolong dengan muatan manusia lebih dari selusin. Tak afdal rasanya, jauh-jauh ke Kenawa tapi tak menyicipi indahnya taman laut di Pulau Kenawa. Satu persatu di antara kami akhirnya turun nyebur ke laut lengkap perlengkapan snorkling. Hanya beberapa saja yang memang tak hobi dan tak bisa berenang. Perlengkapan snorkling kami bawa sendiri. Di Kenawa tak ada penyewaan alat snorkling. Jangan kan penyewaan alat snorkling. Pulaunya saja tak berpenghuni.

 

Begibung alias makan bersama

Begibung alias makan bersama

Keindahan varietas terumbu karang yang beranika ragam dengan corak warna warni, baik yang hard corals maupun yang soft corals seperti karang meja-table corals, Brain Corals, dan Cabbage Corals.Varietas terumbu karang yang saya temui adalah soft corals laksana pepohonan dan dedauanan yang melambai-lambai saat ada arus air atau ada ikan-ikan berenang-renang di sekitarnya. berbagai jenis ikan terumbu karang dengan warna-warna cerah memperindah taman-taman laut di sisi selatan pulau Kenawa. Ikan-ikan badut yang bersembunyi di balik anemon-anemon yang melambai-lambai. Yang mengagetkan saya adalah ini: sekumpulan ikan-ikan kecil yang jumlahnya ratusan bahkan ribuan berenang ke sana ke mari menabrakkan tubuhnya dengan tubuhku.

Ada rasa takjub saat melihatnya. Heran sekaligus bingung. Ikan apakah ini?. sayang, saya tak punya kamera underwater untuk merekam gerak-gerik ikan-ikan kecil yang menggodaku. Menabrakkan diri dengan betis, kaki dan tubuh serta pelampungku yang masih kuat menempel di tubuh ku.

Semua keindahan itu terekam dalam ingatan kami. Tak cukup itu, Indrayana juga mengabadikan momen bawah air itu. Di antara kami, ada dua orang yang membawa kamera anti air. Kanjeng Mami Rahma dan Indrayana. Mereka berdualah yang bertugas untuk mengabadikan. Baik video maupun capture foto.

Semoga ikan-ikan kecil yang menggodaku bukan karena alasan pelampungku yang masih menempel kuat di tubuhku!!!.

siap-siap meninggalkan Kenawa

siap-siap meninggalkan Kenawa

Terdampar di Pelabuhan Poto Tano

 

IMG_0046

Terdampar

Terdampar

“Mas Cader tidak ikut ke Kenawa?”, tanya Indra saat snorkling di Kecinan siang itu. Sejak dulu, saya memang pengin ke Kenawa tapi setiap kali rombongan Lombok Backpacker ke sana, saya selalu berhalangan -lebih banyak pulang kampung ke Malang. Menjenguk istri tercinta yang masih tinggal di sana. Keluarga kecilku memang sudah terbiasa LDR sejak awal mula hubungan kami.

Pertanyaan itu tak mampir sebentar saja dalam fikiranku. Mulut saya langsung reflek mengiyakan ajakan itu. “Bilang ke Mbak Ifath kalau emang mau ikut,” kata indra lagi. Maklum untuk trips Lombok Backpacker kali ini akan dipimpin Mbak Ifath, salah satu anggota Lombok Backpacker yang punya nama alias sebagai “Om Ifath”.

Lombok Backpacker, akhir-akhir ini memang sering rutin snorkling yang lokasinya tak jauh dari seputar Kota Mataram. Kalau tidak di Senggigi pasti lah di Kecinan. Minggu ini, di Kecinan, Minggu depan lagi di Senggigi. Begitu seterusnya secara bergantian. Dua tempat ini memang sama-sama memiliki terumbu karang yang cantik dengan berbagai jenis terumbu karang dan ikan. dan ini: keduanya sama-sama menjadi habitat penyu. tapi keduanya sangat berbeda dalam hal ketenangan air lautnya. Pantai Kecinan yang pantainya relatif landai identik dengan ombaknya yang tenang. Sedangkan Pantai Senggigi, Ombaknya besar dan agak dalam. karena ombak Senggigi yang besar, Senggigi sering menjadi tempat surfing. sehingga jangan heran, jika anda menjumpai para surfer dan snorkeler hidup berdampingan. semacam ada batas kasat mata antara surfer dan snorkler. ya begitu lah Senggigi

Telah disepakati bahwa rombongan akan berangkat jam 10.00 dari Mataram, Jumat Malam tanggal 24 Oktober 2014. Kita akan berkumpul di hotel Lombok Plaza, General Managernya juga salah satu anggota Lombok Backpacker, Rahma FDP. Rombongan akan dibagi dua: Grup Mobil dan Grup Motor. Total rombongan kami sebanyak 17 orang. Rombongan kami seperti para pendaki gunung. Ransel kami penuh dan besar-besar.

Kami berangkat lebih cepat dari rencana semula. Kami akan menempuh kurang lebih dua hingga tiga jam perjalanan menuju Pelabuhan Kayangan, Lombok Timur. Ini lah pertama kali saya berjalan pada malam hari dengan jarak tempuh yang lumayan jauh. Siap menembus melawan hawa dingin angin malam. Saya dan mas Yeng boncengan menggunakan sepeda motor bersama lima sepeda motor lainnya.

Saya dan Yeng didaulat untuk memimpin rombongan. Alhamdulillah, tak ada halangan sama sekali dalam perjalanan. Melipat jalan berlebur bersama sang waktu. Kami akan bertemu dengan kawan kami di Aikmel , Lombok Timur. Satria Ahmadi namanya.

wake up

wake up

pukul 11.00 kami sudah tiba di Pelabuhan Kayangan. Tri Prasetyo adalah seorang anggota polisi langsung mendekati salah satu anggota kepolisian dan terjadi obrolan singkat. Saya tidak mengerti apa yang mereka obrolkan, saya hanya melihat obrolan sesama anggota kepolisian itu terasa akrab. Sedangkan kami, Kami langsung dipersilahkan untuk parkir kendaraan di komplek polres tersebut.

Salah satu anggota kepolisian bersama Tri bergegas meninggalkan kami menuju pelabuhan. Sedangkan kami, kami sibuk berpose bersama dengan latar belakang Pelabuhan Kayangan. Mungkin rombongan kami sangat menarik perhatian. 17 orang lengkap dengan Tas Backpack. Penampilan kami seperti seorang pendaki Gunung Rinjani yang akan menghabiskan beberapa hari di perjalanan. Tas Backpack itu seakan mengisyaratkan bahwa kami adalah para pejalan.

Tiba di pintu masuk ke Pelabuhan, beberapa petugas mencegat. “kalian sudah punya tiket, kalau belum silahkan beli tiket dulu di pojok sana”, kata salah petugas kepada kami. Baru beberapa langkah kami berjalan, seorang muncul dari dalam arah pelabuhan berteriak-teriak memanggil kami. “ayo ayo lewat sini, katanya. Dalam sekejap kami berlarian menuju pintu gerbang. Petugas pelabuhan itu tak bisa melarang kami. Kami balik kanan dan langsung slonong boy tanpa ada petugas yang menegur kami.Bayangkan 17 orang masuk dengan peralatan lengkap ala Backpacker. Dalam hati saya berfikir untung teman kami ada yang anggota polisi.

IMG_9995 IMG_9986

Pintu masuk pelabuhan itu heboh dengan aksi-aksi kami. Setiap kesempatan, setiap saat, kami menyempatkan diri untuk bernarsis ria di berbagai tempat, di Pintu masuk kapal Ferry, di tangga kapal ferry, di ruang tunggu kapal ferry, di mana saja kami akan selalu rebutan untuk selalu eksis.

Kami siap meninggalkan pelabuhan Kayangan Lombok menuju Pelabuhan Poto tano di Sumbawa saat tengah malam teng 00.00.waktu yang misterius se misterius kami malam ini. Penyeberangan ini akan memakan waktu kira-kira satu hingga dua jam. Alhamdulillah, akhirnya kami bisa beristirahat dengan ditemani film Harry Potter “SORCEREER STONE-Batu Bertuah-Film pertama Harry Potter”. Suasana kapal malam itu nampak sepi, hanya beberapa nyanyian sumbang para pengamin berharap belas kasihan dari pelintas pulau. Kami asik sendiri dengan kenarsisan ala anak-anak alay. Indra dan Ifath didaulat sebagai tukang rekam kami. Bang Satria, sang Maestro di Lombok Backpacker juga terkesan acuh padahal gitar sudah dibawanya.

Peluit berbunyi sebagai tanda bahwa kapal Ferry akan merapat ke Pelabuhan Poto tano. Peluit itu sebagai tanda ketidakjelasan kami malam ini: Menginap di manakah kita?. Sebelum berangkat, saya sudah tahu kalau kita akan menginap di Mercusuar. tapi, saya tidak tau seperti apa lokasi mercusuar itu, apakah di sana ada rumah penduduk yang bisa kami tumpangi, atau sejenis homestay yang bisa kami sewa, ataukah sekedar Mercusuar aja-sebuah bangunan menara tak berpenghuni dengan sumber cahaya di puncaknya untuk membantu navigasi kapal laut.

Tujuan kami hanya satu: sumber cahaya itu. Malam sudah berganti pagi sejak kami masih di atas Kapal Ferry. Sekarang kami akan menyusuri jalanan berdebu di pinggiran bukit Poto tano. Gelap dan tak ada penerangan jalan. Beberapa tahi kerbau terlihat dari cahaya senter kawan kami. Rasa capek berbaur dengan bau keringat yang mulai bercucuran.

Siap menyeberang ke Poto Tano

Siap menyeberang ke Poto Tano

Saya hanya terpaku ketika tiba di sumber cahaya itu, menyaksikan bangunan setinggi ratusan meter dari dekat. Tak ada bangunan lain selain pasir dan Bongkahan batu besar. batu-batu itu sebagai penghalang kami sehingga tak terlihat dari pelabuhan. Ada rasa kecewa, capek, laper sekaligus mengantuk. Mbak Rahma sang GM salah hotel juga sontak kaget dengan mengusulkan untuk balik ke Pelabuhan Tano. Semua diam.

Jangankan mbak Rahma yang dah biasa di kasur empuk hotel berbintang, saya juga merasa kaget. kami tak membawa perlengkapan sedikitpun. Tas Backpack saya penuh dengan baju dan perlengkapan mandi saja. Tak ada matras, sleeping bag.

Semua langsung berinisiatif untuk mengambil posisi masing-masing. Mas Tri langsung menghamparkan materasnya di sampingku. Capek, saya mau istirahat, katanya. Sedangkan Saya, saya langsung mendelosor beralaskan pasir putih dengan beratapkan langit yang bertaburkan bintang-bintang. Ini Kamar saya, kata mbak Echie untuk menunjukkan eksistensi bahwa setiap petak pantai seukuran tubuh manusia itu punya pemilik. Begitulah kami, saling mengakui batas-batas pantai malam itu. Batas kamar adalah garis semu yang tak jelas dan gelap.

Di Pinggir pantai ini, di balik batu-batu ini, di bawah mercusuar kami mulai aktivitas. Mbak Riza membidikkan kamera untuk merekam Milky way dan taburan bintang-bintang yang membentuk pola cahaya laksana sang singa yang hendak menerkam. Yang lain mengambil posisi tidur masing-masing dengan beralaskan pasir, Matras, Kain, Sleeping Bag, sajadah dan apa saja yang bisa dijadikan alas sebagai tidur kami malam ini. Sleeping Bag Bang Satria adalah yang paling banyak muatannya, empat orang: Yeng, Philips, Fitria Agustina, dan dan Bang Satria sendiri. Sleepig bag masih cukup muat untuk nampung saya, pikirku. Ku beranjak. Mas Yeng bergeser sedikit. Saya tidur di ujung utara. Tak lama kemudian Mbak Echie ikut-ikutan tidur bersama di ujung sleeping di ujung selatan. Satu sleeping bag dengan muatan enam orang. Dua cewek dan empat cowok.

Kebersamaan dan berbagi adalah kunci perjalanan kami ini. ini motto Lombok Backpacker. Berbagi perjalanan. Mengajak bersama orang-orang yang ingin mencari keakraban dalam kebersamaan. Dalam perjalanan kami kali ini, juga ada seorang pejalan yang berasal Dari Bandung, Daffa namanya. Sudah sepuluh hari dia mengembara dengan berjalan darat dari Bandung hingga Lombok.

Di Pantai ini, di balik batu-batu, di bawah Mercusuar yang tinggi menjulang. Dalam keheningan dan kegelapan malam di tepi pantai Poto Tano, dengan ditemani lagu-lagu pengantar tidur dan petikan gitar dari Sang Maestro, Bang Satria. Lantunan musik pukul 03.00 pagi itu terbang bebas bersama hembusan angin pantai. Kami menikmatinya hingga kami semua tidur nyenyak. Dari balik batu besar itu di pinggir pantai itu, terang benderang lampu pelabuhan Poto Tano yang diselimuti oleh gelap dan pekatnya malam.

Bagi Bang Satria, music ada soulmate-nya, Perjalanan adalah urat nadinya, dan gitar adalah jantungnya. Gitar adalah pemicu kehidupannya. gitar lah yang selalu menemaninya dalam keadaan sunyi maupun ramai. Jam 03.00 di pagi hari, di dunia antah berantah dia masih setia dengan gitarnya. Tak perduli sunyi senyap atau di depan halayak ramai. Mungkin hanya ombak laut yang selalu setia mendengarkan nyanyiannya. beginilah malam yang kami lalui di pesisir pantai Poto Tano.

Pukul 05.00, Semburat cahaya jingga kemerah-merahan membangunkan kami. Mataku masih berat tapi sang awan senja membuatku bersemangat tuk melawan rasa kantuk. Di tengah laut, perahu nelayan berbunyi menderu-deru memecah kesunyian pagi ini. Sejak pagi buta, para nelayan sudah mengais rejeki. sedangkan kami, Ya kami masih tidur terlelap oleh pelukan angin laut yang dingin.

Bangun langsung mengelilingi api unggun

Bangun langsung mengelilingi api unggun

Di ujung sana, terlihat Jefry sedang menghampar kain sajadahnya mendirikan shalat subuh. Jefry adalah paling “Backpacker” dengan celana robek di bagian dilutut dan betis kakinya. Modelnya seperti celana model terbaru anak jaman sekarang. Tapi, warna kusamnya tak bisa terkamuflase . Teringat kata-katanya saat aku mengomentari celananya yang terlihat lebih “gaul” itu. “Bukan mas cader, ini bukan celana gaul, tapi emang robek sendiri dan tak dibuat-buat, katanya saat hendak berangkat dari Lombok Plaza.

Jefri, tak bisa dilihat secara kasat mata. Jefry dengan penampilannya yang “biasa”. Tapi luar biasa dalam ketaatannya kepada Penciptanya. Dia tak menomorduakan Tuhan dalam perjalanan. Tak jarang, kita akan menjumpai shalat di pinggir pantai, di atas berugak atau dimana pun itu saat tiba waktu shalat. Dia selalu mendahului shalat saat teman-teman santai dan tidur terlelap. Saat semua beranjak tidur, Jefry dan Daffa sibuk membuat perapian di pinggir pantai. Mereka begadang di depan perapian. tak tanggung-tangung, mereka begadang semalaman.

Pagi ini, semburat senja berada di balik perbukitan. Memendarkan warna merah ke segala arah. Kami sibuk melakukan aktivitas pagi seperti pipis, sikat gigi dan berwudhu untuk shalat. Ada yang berwudhu dan sikat gigi dengan bekal air tawar yang dibawanya dan ada yang menggunakan air laut. tak jarang yang tak sikat gigi pagi ini termasuk saya. Pagi ini, kami lebih banyak menikmati mentari pagi memutari perapian, bernyanyi bersama serta teriakan-teriakan keheningan pagi itu. packing-packing untuk melanjutkan perjalanan ke pulau seberang, Kenawa dan Paserang.

di sini lah kami terdampar di Mercusuar Pelabuhan Tano

di sini lah kami terdampar di Mercusuar Pelabuhan Tano

Hal yang paling susah yang saya alami selama di Pelabuhan Poto Tano adalah tempat Pipis. Laki-laki maupun perempuan sama saja. Kami melampiaskan hasrat kami di semak-semak, di balik batu. Untungnya kebiasaan buang hajat setiap pagi tak terhasratkan pagi ini. Mungkin alam sedang bersahabat dengan saya. Pagi ini, di antara kami ada yang sikat gigi dan ada yang tidak. Dan dipastikan diantara kami tidak ada yang mandi kecuali Om Jefry yang memang bersahabat dengan air laut. Dan pagi ini juga siap-siap berangkat menuju Kenawa dan Paserang.